Come Back

PERJANJIAN-PERJANJIAN KESELAMATAN

(The Covenants of Salvation)

 

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini sebelumnya dikhotbahkan di First Baptist Church in Dallas

pada tanggal 23 Mei 19 82

 

 

           

Paulus menulis kepada jemaat-jemaat di Galatia demikian:

 

“Katakanlah kepadaku, hai kamu yang mau hidup di bawah hukum Taurat, tidakkah kamu mendengarkan hukum Taurat? Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji. Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar-- Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab--dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya. Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita. Karena ada tertulis: "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami." Dan kamu, saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji. Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini. Tetapi apa kata nas Kitab Suci? "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu." Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka” (Galatia 4:21-31).

 

 

ANAK PERJANJIAN

 

            Mari kita mengingat kembali kisah di dalam Kitab Kejadian di mana Allah telah berfirman kepada Abraham bahwa ia akan memiliki seorang anak laki-laki yang akan lahir dari rahim Sara yang merupakan buah cinta mereka. Namun setelah bertahun-tahun lamanya dan bahkan ketika Abraham sudah menjadi tua dan begitu juga dengan Sara, anak itu belum juga dilahirkan, maka kemudian Sara melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan dan anugerah Allah. Ia membawa budaknya, yaitu budak dari Mesir, dan menyerahkan budak itu ke dalam pelukan suaminya. Akhirnya budak itu melahirkan seorang anak laki-laki dan budak itu, yaitu Hagar memberikan seorang anak laki-laki bagi Abraham sebagai hasil hubungan Abraham dan dirinya dan kemudian mereka menamakan anak itu Ismael.

 

            Kemudian Allah di dalam kasih dan rahmatNya yang agung tetap memelihara janji yang telah Ia buat dengan Abraham dan Sara. Ketika Abraham berumur seratus tahun dan ketika Sara berumur sembilan puluh tahun, anak perjanjian itu dilahirkan dan mereka menamai anak itu Ishak.

 

            Ketika hari-hari telah berlalu dan ketika Ismael berumur 13 tahun ia mengejek Ishak anak perjanjian itu dan ketika Sara melihat hal itu ia berkata, “Budak ini dan anaknya tidak boleh tinggal di rumah ini atau juga tidak akan menjadi bagian ahli waris bersama dengan anak perjanjianku.” Sehingga budak wanita Mesir itu dan anaknya atau Ismael di usir dari keluarga Abraham.

 

 

KIASAN PERJANJIAN KESELAMATAN

 

            Paulus menggunakan kisah ini sebagai alegori atau kiasan dari perjanjian keselamatan. Di dalam kisah metaforikal ini, Paulus menjelaskan bahwa ada kebenaran Rohani di dalam kisah ini dan apa yang Paulus maksudkan adalah bahwa wanita dan dua anak laki-lakinya itu merepresentasikan atau merupakan metaforikal atau kiasan dari dua perjanjian. Yaitu yang pertama adalah Perjanjian Lama atau Perjanjian Taurat. Di dalam II Korintus 3, Paulus menghubungkan itu sebagai he palia diatheke atau Perjanjian Lama atau Old Contract atau Old Covenant atau Perjanjian Taurat.

 

Kemudian Paulus berkata, tetapi Sara dan anaknya yang adalah anak perjanjian itu merupakan representasi dari Perjanjian Baru atau New Covenant atau He Kaine Diatheke yang berhubungan dengan kontrak yang baru, atau New Covenant atau Perjanjian Baru. Jika anda memiliki Alkitab Perjanjian Baru bahasa Yunani, pada sampul kitab itu tertulis He Kaine Diatheke atau Perjanjian Baru.

 

 

PERJANJIAN LAMA ATAU PERJANJIAN TAURAT

 

Sekarang marilah kita mengikuti apa yang Paulus katakan dalam mengkontraskan dua perjanjian ini. Perjanjian Lama adalah Perjanjian daging atau Perjanjian Taurat yang direpresentasikan oleh budak itu, yaitu Hagar. Sementara Perjanjian Anugerah direpresentasikan oleh Sara dan anaknya, yaitu anak yang diberikan oleh Allah, Ishak. Yang pertama Paulus menulis tentang perjanjian daging, Perjanjian Taurat atau Perjanjian Sinai atau Perjanjian Lama. Paulus berkata bahwa Hagar adalah seorang budak dan sebagai seorang hamba ia harus melayani. Jadi Perjanjian Lama atau Perjanjian Taurat adalah perhambaan dan perjanjian itu memiliki pelayanan untuk dilakukan. Paulus menulis itu di dalam Galatia 3:24-25: “Jadi hukum Taurat adalah penuntun (paidagogos) bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun (paidagogos).”  Kata Yunani yang digunakan di sini adalah ‘paidagogos’. Kata ‘paidagogos’ adalah kata yang mengacu kepada budak orang Romawi yang tinggal di rumah tuannya dan yang memiliki tugas untuk mengantar anak tuannya pergi ke sekolah dan setelah sekolah bubar maka budak itu harus menjemput anak itu untuk dibawa pulang. Jadi arti dasar ‘paidagogos’ adalah pemimpin anak. Paulus berbicara tentang Perjanjian Lama atau Perjanjian Taurat yang membawa kita kepada Yesus. Ketika Paulus menuliskan dalam Roma 7 dengan menunjukkan kepada kita bagaimana kita adalah manusia yang penuh dosa “oleh karena hukum Taurat kita mengenal dosa.” Hukum Taurat adalah hukum tertulis di dalam Alkitab. Hukum yang ditulis di atas lempengan batu. Hukum yang tertulis di atas tugu-tugu peringatan, hukum yang dibuat semua kongres di seluruh dunia. Kita sadar akan dosa oleh karena Taurat. Taurat adalah cermin yang berdiri di depan kita dan ketika kita melihatnya kita melihat betapa kita telah jatuh ke dalam dosa dan jauh dari Allah.

 

Hukum Taurat adalah hamba, sama seperti Hagar, untuk membawa kita kepada Yesus. Selanjutnya Paulus berkata bahwa Perjanjian Lama membawa bersamanya kutuk dan penghukuman yang sangat mengerikan. Taurat mengajar berbuat maka kamu akan hidup. Ini adalah Perjanjian Taurat. Anda harus melakukan sesuatu jikalau anda ingin hidup. Saya katakan bahwa ini sungguh mengerikan, karena dengan melanggar Taurat, maka anda sudah pasti mati. Anda akan mengahadapi kutuk dan penghukuman yang sangat mengerikan. Anda dapat menemukan itu seperti yang digambarkan di Taman Eden. Allah berkata kepada orang tua kita yang pertama, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2: 16-17).

 

Hanya satu pelanggaran bukan empat puluh lusin, tetapi hanya satu pelanggaran saja kamu pasti mati. Ketika Yakobus menulis dalam Yakobus 2:10, Yakobus yang adalah gembala di Yerusalem dan saudara laki-laki Tuhan Yesus ini berkata: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Sebuah vas porselin yang indah jikalau memiliki satu keretakan pada dirinya maka porselin itu tidak sempurna, dan maka porselin yang tidak sempurna itu sudah pasti akan dihancurkan. Jadi anda melihat di sini betapa Perjanjian Lama itu mengerikan, yaitu perjanjian yang dibuat Allah dengan manusia. Lakukan itu, taati itu, maka engkau akan hidup. Tetapi jikalau engkau tidak mampu menaatinya pastilah engkau mati. Dan tak seorangpun yang dapat mentaatinya.

 

Ibrani 12 menjelaskan tentang ancaman dari hukum Taurat. Di gunung Sinai Musa menerima hukum itu dari tangan Allah dan ketika ia menerimannya ia menerima dengan sangat ketakutan. Itulah yang diberikan oleh hukum Taurat. Hukum Taurat mendatangkan ancaman yaitu penghakiman dari Allah yang Mahatinggi, seperti dalam Yehezkiel 18 Allah berfirman: “Jiwa yang berdosa haruslah mati.”

 

Allah menulis kembali dalam Roma 6: “Upah dosa adalah maut.” Jika anda melanggar hukum Taurat walaupun sebagian kecil dari hukum itu, anda akan menghadapi penghakiman yang sangat mengerikan dan kematian yang kekal. Pada waktu saya menjadi seorang gembala di sebuah desa pada umur yang masih muda, di sana ada seorang anak laki-laki yang sangat cerdas dan brillian dan ia bekerja di sebuah Bank yang ada di daerah itu. Dengan kepandaianya anak muda itu memanipulasi accounting di Bank itu selama bertahun-tahun dan menggelapkan uang dari bank itu. Ketika kejahatannya itu terbongkar maka anak muda itu didakwa di hadapan sidang pengadilan dan dinyatakan bersalah.

 

Ketika ia disidang di pengadilan federal di kota besar di daerah itu, keluarganya meminta saya untuk pergi menemani anak muda itu. Jika saya bisa hidup seribu tahun lamanya saya tidak dapat melupakan apa yang saya rasakan ketika saya berdiri di hadapan hakim federal, di samping anak muda itu. Hakim itu berkata, “Silahkan anda berdiri.” Dan saya berdiri di sebelah kanan anak muda itu dan serasa saya kecil sekali di sampingnya dan hakim federal itu mengambil berkas-berkas dan menunjukkan kepada mereka dan kemudian membacakan untuk anak muda itu beberapa hal yang telah ia lakukan. Kemudian ketika ia selesai membacakan pelanggaran-pelanggaran itu ia memandang wajah anak muda itu dan berkata, “Bersalah atau tidak bersalah?” dan anak muda itu menjawab “Bersalah.”

 

Semua umat manusia seperti itu ketika kita berdiri di hadapan Allah yang Mahatinggi. Ia akan membacakan pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan yang kita lakukan dalam hidup kita dan yang kita pikirkan dalam hati kita. Segala sesuatu yang kita pikirkan, segala sesuatu yang kita lakukan, semua yang kita putuskan dalam hidup kita dibukakan dan kemudian Allah bertanya kepada kita bersalah atau tidak bersalah? Di hadapan Allah yang Agung yang mengetahui segala sesuatu tentang kita, kita tidak memiliki alternatif lain selain menjawab, “Yang Mulia saya bersalah.” Tidak ada orang yang dapat berdiri di hadapan Allah dan berkata, “Pendidikan telah menyelamatkan aku dari dosa-dosaku.” Tidak peduli anda orang yang berpendidikan atau orang tidak berpendidikan. Jikalau anda orang berdosa maka anda terhilang di hadapan Allah. Atau dapatkah orang berdosa dapat berdiri di hadapan Allah, hakim dari alam semesta ini dan berkata, “Aku sudah mengadakan seremonial, aku sudah disucikan oleh ritual-ritual yang aku lakukan dan semua itu telah menyucikan aku dari dosa-dosaku”? Bagaimanapun juga semua ritual, ketaatan agamawi yang anda lakukan dinyatakan bersalah di hadapan Allah dan di hadapan Allah anda tetap masih terhilang.

 

Anda tidak dapat berdiri di hadapan Allah dan berkata, “Rekonstruksi sosial ini telah menyelamatkan saya dan berbagai kegiatan sosial yang saya lakukan telah menyelamatkan saya.” Apapun yang kita lakukan, kita semua tetaplah orang berdosa di hadapan Allah. Dan karena kita berharap bahwa perbuatan baik kita dapat membawa kita ke sorga dan menyelamatkan jiwa kita dari kematian, maka justru oleh karenanya maka anda akan dihakimi oleh Allah dan dihukum oleh-Nya. Firman Tuhan berkata dalam Galatia 3:10: “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk.” Oleh sebab itu, kita semua harus berdiri di hadapan Allah dan berkata, “Aku bersalah”

 

Perjanjian kerja antara Allah dengan kita selalu kita langgar. Taurat berkata, “Lakukan itu maka engkau akan hidup.” Tetapi aku tidak dapat melakukanya. “Pada saat engkau melanggarnya pastilah engkau mati.” Dan saya akan menjelaskan tentang penghukuman atau penghakiman maut ini. Ini menunjukkan bahwa tubuh kita mati begitu juga dengan roh kita, tubuh kita mati dalam kubur dan roh kita terpisah dari Allah dan Alkitab menyebut jiwa yang terpisah ini sebagai “kematian yang kedua” atau neraka.

 

Neraka adalah tempat di mana kita jauh dari Allah, terpisah dari Allah, dihukum di dalam api untuk selama-lamanya. Inilah perjanjian yang sangat mengerikan itu. perjnjian Lama atau Perjanjian Taurat atau perjanjian yang membawa kita kepada kematian. Taurat adalah hakim yang memutuskan bahwa kita layak dihukum. Allah tidak pernah menciptakan manusia untuk tujuan itu, Ia tidak pernah merencanakan itu. Hagar, hamba itu, bukanlah rencana Allah. Kelahiran Ismael menurut daging tidak pernah ada dalam rencana Allah.

 

 

PERJANJIAN BARU ATAU PERJANJIAN

ANUGERAH ATAU PERJANJIAN PENEBUSAN

 

Allah memiliki perjanjian yang lain, kontrak yang lain dengan kita, yaitu perjanjian anugerah yang diberikan hanya oleh rahmat dan kasih Tuhan kita. Allah tidak pernah merencanakan atau memiliki tujuan untuk membinasakan kita. Rencana dan tujuan Allah selalu untuk menyembuhkan dan menyelamatkan kita. Pemberian kasih penebusa-Nya di ilustrasikan oleh Paulus ketika ia berbicara berhubungan dengan kiasan kisah Sarah dan anaknya Ishak.

 

Abraham berumur seratus tahun dan Sara berumur sembilan puluh tahun, dan jika mereka bisa memiliki anak itu semata-mata hanya oleh karena kasih kemurahan Allah. Anak itu lahir dari anugerah dan janji Allah. Daging tidak dapat melakukan itu, karena ia sudah terlalu tua dan bahkan Sara sudah mati haid. Tetapi Allah berfirman kamu akan memiliki seorang anak laki-laki yang tidak diperanakkan menurut daging tetapi menurut roh kasih dan rahmat anugerah Allah. Dan Allah memelihara janji-Nya itu sampai Abraham berumur seratus tahun dan Sara berumur sembilan puluh tahun, dan lahirlah bagi mereka anak perjanjian itu. Anak dari anugerah Allah. Itu adalah sesuatu yang Allah kerjakan.

 

Rasul Paulus berkata: “Kita sama seperti Ishak yang adalah anak-anak janji.” Seluruh Efesus pasal 2 menjelaskan bahwa kita lahir di dalam kesalahan, di dalam dosa, di dalam berbagai pelanggaran, namun kemudian Paulus menjelaskan sebab oleh karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri, karena keselamatan kita datang dari tangan kasih dan karunia Allah. Itu adalah sesuatu yang Ia lakukan bagi kita. Keselamatan bukan karena apa yang kita lakukan, tetapi karena apa yang telah Ia lakukan bagi kita.

 

Kemudian Rasul Paulus mengilustrasikan itu dalam kiasan peristiwa Sara. Sara adalah wanita merdeka yang tidak pernah menjadi budak dan ia adalah istri Abraham sebelum Hagar masuk dalam kehidupan Abraham dengan Sara. Ia adalah istri yang asli  atau sah dan wanita merdeka.

 

Jadi yang dikiaskan di sini adalah bahwa perjanjian anugerah adalah kovenan atau perjanjian yang sah atau perjanjian yang asli atau original contract. Itu dimulai di surga sebelum dunia dijadikan dan disampaikan berulangkali dalam Kitab Suci. Sebelum dasar-dasar bumi didirikan Alkitab berkata Yesus telah ditetapkan untuk dibunuh. Sebelum dasar-dasar bumi didirikan kita telah dipilih di dalam Dia: “Datanglah kepada-Ku orang-orang yang telah dipilih Bapa-Ku yang menjadi ahli waris kerajaan yang telah dipersiapkan untuk-Ku sebelum dunia dijadikan.”

 

Perjanjian yang orisinil atau yang ada terlebih dahulu adalah Perjanjian Anugerah, Perjanjian Penebusan. Perjanjian rahmat atau perjanjian keselamatan, yaitu perjanjian yang telah dibuat sebelum dunia dijadikan dan sebelum dasar-dasar bumi diletakkan. Tidak ada cara lain untuk diselamatkan selain oleh karena kasih penebusan dan anugerah dan rahmat Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus Tuhan kita. Dari taman Eden ke taman Yerusalem baru, dari kekekalan masa lampau kepada kekekalan yang akan datang, namun cara keselamatan tidak pernah berubah, yaitu keselamatan hanya oleh karena kasih penebusan dan rahmat di dalam Kristus Yesus. Perjanjian telah dibuat sebelum dunia jatuh ke dalam dosa dan dengan setia perjanjian itu disimpan dan dipelihara sampai selama-lamanya.

 

Anda melihat di seluruh Alkitab hikmat yang tanpa salah. Di taman Eden, ketika orang tua kita yang pertama melangkah dan jatuh ke dalam penghukuman maut, Allah mengambil binatang yang tanpa dosa dan kemudian menyembelihnya di taman Eden itu. Bumi menghisap darahnya dan Allah mengambil kulit dari binatang itu untuk menutupi ketelanjangan ayah dan ibu kita yang pertama. Daun pohon ara, pekerjaan-pekerjaan daging tidak akan menutupi ketelanjangan kita. Hanya darah yang tanpa dosa yang dapat menutupi ketelanjangan kita. Oleh karena itu, Allah menyembelih binatang yang tanpa dosa dan membuat pakaian dari kulit binatang itu untuk menutupi ketelanjangan orang tua kita yang pertama.

 

Seperti itulah perjanjian darah, perjanjian anugerah, perjanjian penebusan. Anda melihatnya lagi di dalam apa yang Allah Firmankan kepada orang tua kita yang pertama yaitu tentang benih perempuan. Perempuan tidak memiliki benih, tetapi laki-lakilah yang memiliki benih. Tetapi Allah berfirman benih perempuan akan meremukkan kepala Setan.

 

Ada lagi janji penebusan. Anda melihatnya lagi di dalam penerimaan korban yang dipersembahkan oleh Habel, yang datang di hadapan Allah dengan domba dan mempersembahkan korban itu di hadapan Allah. Anda melihatnya lagi di dalam kisah yang indah dari Abraham ketika ia mengangkat pisaunya dan akan menghujamkannya ke jantung anaknya yang tunggal, namun kemudian Allah menahan tangannya dan Allah telah menyediakan anak domba untuk dikorbankan.

 

Ada lagi perjanjian korban atau perjanjian darah, yang anda dapat lihat dalam nubuatan Yesaya 53: “Ia menanggung beban dan dosa-dosa kesalahan kita, Ia diremukkan karena kejahatan kita, supaya oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Ini adalah Perjanjian Penebusan ini adalah Perjanjian Baru.

 

Anda juga dapat melihat dalam kehidupan Tuhan kita. Ini adalah darah Perjanjian Baru yng dicurahkan untuk pengampunan dosa. Anda juga dapat melihat dalam kitab Wahyu 6 sehubungan dengan meterai ke 5. Di sana dikatakan: “Ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena Firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.” Mengapa dikatakan di bawah mezbah? Karena mereka berada di bawah darah. Mereka berada di bawah korban, karena mereka di tebus di dalam darah Tuhan Yesus. Mereka ditebus oleh karena kasih karunia Allah. Ini adalah karena perjanjian yang unconditional atau tidak bersyarat.

 

 

PERJANJIAN BERSYARAT DAN PERJANJIAN TIDAK BERSYARAT

 

Yang pertama adalah perjanjian yang bersyarat, yaitu Allah berfirman kepada manusia, “Lakukan ini dan kamu akan hidup dan jikalau kamu melanggarnya kamu pasti mati.” Itu adalah perjanjian conditional atau perjanjian yang bersyarat. Tetapi Perjanjian Anugerah adalah perjanjian yang unconditional atau yang tidak bersyarat. Itu adalah perjanjian antara Allah Bapa dengan Allah Putra, dan itu telah ditandai dan dimeteraikan oleh Allah. Dalam perjanjian yang kedua ini Allah berkata kepada Yesus, “Engkau harus mati bagi dosa-dosa umat manusia, Engkau harus membayar harga dari kejahatan mereka, Engkau harus menanggung semua hukuman atas dosa-dosa dan kejahatan mereka dan Aku akan menetapkan untuk memilih suatu umat bagi-Mu. Engkau tidak akan mati sia-sia, pengorbanan-Mu dan kasih penebusan-Mu di kayu salib serta pencurahan darah penebusan akan membawa umat-Ku kepada-Mu.” Allah telah menjanjikan itu kepada Tuhan Yesus dan itu telah dilakukan di dalam kekekalan. Janji itu tidak bersyarat. “Engkau mati bagi dosa-dosa umat manusia dan Aku akan memberikan kepada-Mu umat yang akan mengasihi Engkau, memuji Engkau dan melayani Engkau dan mengikuti Engkau.” Itu adalah janji Allah kepada Yesus. “Jika Engkau mau menderita itu tidak akan sia-sia dan akan Kuberikan kepada-Mu umat yang akan mengasihi dan memuji dan melayani Engkau.”

 

Di sini Alkitab menyebutnya sebagai orang pilihan dan ketika saya berbicara tentang perjanjian yang telah dibuat di sorga antara Allah Bapa dan Allah Putra, yaitu Yesus Kristus yang berisi bahwa Allah berkata kepada Yesus, “Engkau harus mati bagi dosa-dosa dunia maka akan kuberikan kepadamu suatu umat.” Di sini saya sedang berbicara tentang bahasa sorgawi. Allah telah menjanjikan kepada Yesus suatu umat, jikalau Ia mau mati bagi dosa-dosa dunia. Itu adalah bahasa sorgawi.

 

Dan ketika saya berbicara dalam bahasa manusia. Inilah apa yang saya mau katakan. Ketika saya berkotbah tentang kebenaran Injil tentang Yesus dan ketika saya duduk bersama seseorang dan berdoa bersama dia dan berbicara kepada dia tentang jiwanya, dan memimpinnya kepada Yesus dan beberapa dari mereka memperhatikan dan hati mereka digerakkan, dan beberapa di antara mereka akhirnya menangis, berlutut serta berkata “Oh, Tuhan berikanlah anugerah-Mu kepadaku, selamatkanlah aku.”

 

            Bagaimana saya menjelaskan itu? Itu adalah bahasa manusia. Ketika saya berbicara dengan bahasa sorgawi, orang-orang itu adalah orang-orang yang telah dipilih. Ada orang yang tidak diselamatkan, tidak perduli dengan apa yang dia lakukan, tetapi Allah telah berjanji. Allah telah menjanjikan itu kepada Yesus bahwa jikalau Ia mati bagi dosa dunia maka Allah akan memberikan kepada-Nya satu umat, yaitu orang-orang yang telah dipilih, bahwa ada orang-orang yang mendengar dan kemudian akan memberikan respon.

 

            Saya telah menggembalakan jemaat ini selama lima puluh tahun dan saya mengingat kembali hari ketika jiwa saya dipimpin untuk percaya kepada Tuhan. Ketika saya memikirkan itu, yaitu keselamatan saya, “Oh, Tuhan sungguh aku mengucap syukur terhadap Engkau, aku memuji Engkau karena kebenaran-Mu bahwa sebelum aku dilahirkan Engkau telah menulis namaku di dalam buku itu, yaitu dalam buku kehidupan. Sebelum dasar-dasar bumi ini Engkau letakkan Engkau telah menulis namaku dalam buku kehidupan itu.” Aku telah diselamatkan oleh darah yang tercurah dari Kristus yang disalibkan itu. Itu lah caranya ketika aku berbicara dengan bahasa sorgawi.

 

            Dan di sini, dalam bahasa manusia, aku memuji Allah karena seorang pengkotbah yang singgah di rumahku selama satu minggu dan pada suatu kebaktian pagi jam sepuluh ibuku berkata kepadaku, “Nak hari ini maukah kamu menerima Kristus sebagai Juruselamatmu?” Dan hatiku berbicara dan aku berkata, “Ibu, hari ini, aku mau menerima Kristus sebagai Juruselamatku.”

 

            Kata pemilihan adalah bahasa sorgawi, di mana Allah berjanji kepada Yesus, “Engkau harus mati bagi dunia dan Aku akan memberikan kepada-Mu suatu umat,” tetapi ketika saya melihat dan meresponi Injil dan hati saya digerakkan oleh Roh untuk menerima Injil itu, itu adalah anugerah dan rahmat Allah di dunia ini.

 

            Oh betapa bahagianya anda ketika menemukan dalam hati anda, yaitu ketika Injil diberitakan bahwa Anak Domba itu telah disembelih untuk menebus anda. Oh… pujilah Allah karena kebaikan-Nya yang luar biasa dan ajaib yang dicurahkan atas kita. Itulah Perjanjian Anugerah. Kita diselamatkan oleh darah Anak Allah yang disalibkan.

 

            Mari semua memuji Bapa, mari semua memuji Anak, mari semua memuji Roh Kudus ketiganya yang Esa dan mulia. Kita diselamatkan oleh darah Yesus yang disalibkan dan itu adalah perjanjian anugerah. Maukah kita bersama-sama memuji Juruselamat kita yang Agung, yang telah mencurahkan berkat dan keselamatan-Nya bagi kita dan saya minta anda orang berdosa yang masih terhilang yang akan menghadapi penghakiman dan kematian yang sedang berada di bawah kutuk hukum Taurat, terimalah anugerah Allah di dalam Kristus. Terimalah Perjanjian Anugerah di dalam Kristus sehingga engkau tidak lagi di bawah kutuk, tetapi engkau akan memiliki hidup yang kekal. Allah telah memberikan janji yang tidak bersyarat ini, yaitu bahwa Yesus mati bagi kita. Dalam janji-Nya yang tidak bersyarat Allah berkata kepada Yesus, “Engkau harus mati bagi mereka dan Aku akan memberikan kepada-Mu suatu umat.” Hanya Tuhan yang dapat melakukan itu, oleh sebab itu pujilah nama-Nya.