Daftar Isi

 

IMAN YANG MENYELAMATKAN

(SAVING FAITH)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini sebelumnya dikhotbahkan di Kebaktian Munggu, 18 Juli 1982

di First Baptist Church in Dallas, Texas

 

 “Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran” (Romans 4:1-5).

 

 

MANUSIA DATANG KEPADA ALLAH

DENGAN KEBENARANNYA SENDIRI

 

Pertama Rasul Paulus berbicara tentang cara keselamatan, yaitu bahwa harus ada pembayaran hutang dosa manusia. Manusia datang kepada Allah dengan mengenakan kebenarannya sendiri, dan ia menghadap Tuhan seakan ia sendiri yang mengubah karakternya. Ia sedang berbicara tentang tanggungjawab pribadinya berhubungan dengan tujuan akhir hidupnya, sekarang dan selama-lamanya.  Dan ia menghadap Tuhan dengan perbuatan kebajikan dan kebenarannya sendiri, dan ia menawarkan semua itu kepada Tuhan sebagai pembayaran hutangnya dan meminta Allah untuk menyelamatkannya setelah ia mengajukan semua perbuatan baik dan kebenaran dirinya sendiri.

 

Seakan-akan ia telah berhasil berkenan kepada Tuhan. Seakan-akan ia telah menyelamatkan dirinya sendiri. Seakan-akan Allah memiliki kewajiban terhadap dia, dan keselamatannya adalah upah dari pembayaran hutang dosa, yaitu dengan perbuatan kebajikan dan kebenarannya sendiri. Ia memuliakan dirinya sendiri. Ia menghadirkan dirinya sendiri di hadapan Allah dengan kesucian dan kebajikannya sendiri.

 

 

SESUNGGUHNYA MANUSIA TIDAK DAPAT DISELAMATKAN

OLEH KEBENARANNYA SENDIRI

 

Namun, Rasul Paulus berbicara dengan terus terang kepada mereka bahwa  manusia tidak dapat diselamatkan dengan semua itu, ada cara lain agar manusia dapat diselamatkan, karena tak seorangpun dapat dibenarkan di hadapan Allah dengan kesucian dan perbuatan baiknya sendiri, karena sesunggugnya manusia tidak dapat mencapai kesucian dan kebajikan menurut standard Tuhan. Untuk mengilustrasikan kebenaran ini Paulus memberikan contoh tokoh besar dalam Alkitab yang ia kenal, yaitu Abraham, sahabat Allah, bapa dari semua orang beriman, dan bapa dari bangsa Israel.

 

Dan Paulus menulis, “Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah,” karena Allah mengenal dia.  Abraham dapat menyombongkan diri di hadapan kita. Ia dapat menyombongkan diri di hadapan teman-temannya dan semua orang yang ia kenal, namun ia tidak dapat menyombongkan diri di hadapan Allah. Allah mengenal betul kehidupannya secara intim. Lihatlah bahkan perbuatan baik dari orang kudus terbesar ini pun tidak dapat membuatnya berkenan di hadapan Allah, sehingga berdasarkan itu Allah harus menyelamatkannya.

 

Sebagai contoh dalam Kejadian 12 diceritakan tentang Abraham ketika ia berbohong kepada Firaun berhubungan dengan Sara, istrinya. Empat pasal berikutnya, dalam kejadian 16 diceritakan bahwa Abraham menikahi Hagar, budaknya yang dibawa dari Mesir. Dan dari hubungan ini melahirkan Ismael, pendiri dari bangsa-bangsa Arab. Kemudian, empat pasal berikutnya diceritakan kisah tentang Abraham yang berbohong lagi kepada Abimelekh berhubungan dengan Sara, istrinya. Jika Abraham dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya, ia dapat memuliakan dirinya sendiri dan membual: “Lihatlah aku. Aku yang telah melakukan semuanya ini.”

Namun, Paulus berkata, “Tidak di hadapan Allah.” Allah mengenal Abraham dengan baik. Ia mengetahui semua kelemahan dan pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan serta semua kegagalan hidupnya. Perhatikan, bahkan Abraham, tokoh terbesar ini pun tidak dapat berkenan di hadapan Allah dengan usahanya sendiri.

 

Oleh sebab itu Rasul Paulus berbicara dengan terus terang bahwa harus ada jalan lain agar manusia dapat diselamatkan. Dan ia menemukan jawaban bagaimana Abraham diselamatkan. Dalam Kejadian 15:6 dikatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ia diselamatkan di dalam anugerah dan rahmat Tuhan. Ia diselamatkan oleh karena ia percaya kepada Tuhan. 

 

 

KESELAMATAN HANYA OLEH

KARENA IMAN DI DALAM KRISTUS

 

Seperti Rasul Paulus menuliskan ini dalam Roma pasal empat, “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Roma 4:20) – ia tidak memuliakan dirinya sendiri, tetapi ia memuliakan Allah, dan tanpa bimbang ia mempercayai apa yang Allah telah janjikan kepadanya, dan malah ia diperkuat dalam imannya, dan oleh imannya itu, kebenaran diimputasikan kepadanya. Kebenaran yang ia kenakan bukanlah kebenarannya sendiri, bukan kebenaran yang ia usahakan sendiri, tetapi itu adalah kebenaran Allah yang diimputasikan atau dikenakan kepadanya oleh karena imannya: yaitu bahwa dia diselamatkan oleh iman, oleh karena percaya. Dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, dan dia diselamatkan di dalam anugerah dan pengampunan Allah.

 

Demikian juga Rasul Paulus berkata terus terang kepada kita. Kita tidak dapat diselamatkan dengan usaha kita sendiri atau membayar hutang dengan perbuatan-perbuatan kebajikan dan kebenaran kita sendiri, karena sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat memenuhi standard kebajikan dan kebenaran yang dituntut oleh Tuhan. Kita bukanlah orang suci, bukanlah orang baik, bukanlah orang benar. 

 

Tuhan menuntut kesempurnaan jika kita mau masuk ke kota suci nan indah, yaitu sorga dan memandang wajah-Nya. Namun, jika kita pernah melakukan pelanggaran dan dosa di suatu waktu dalam hidup kita, kita sudah kehilangan kesempurnaan itu. Yakobus, saudara Tuhan Yesus, yang menjadi gembala di Yerusalem menuliskan itu di dalam suratnya, yaitu Yakobus 2:10: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Ia telah bersalah terhadap seluruhnya, artinya ia kehilangan dan tidak akan mencapai kesempurnaannya.

 

Ini sama seperti lampu atau kandil yang digantung pada rantai. Anda tidak perlu memutuskan setiap mata rantai. Jika Anda memutuskan salah satu mata rantai saja, maka lampu itu akan jatuh dan hancur. Demikian juga dengan hidup kita. Kita dapat hidup benar dan suci dalam setiap area hidup kita, namun jika kita berdosa, kita telah berada di bawah penghukuman maut: “Jiwa yang berdosa pastilah mati,” dan “upah dosa adalah maut.” Rasul ini berkata terus terang bahwa tak seorangpun yang dapat dibenarkan – diperhitungkan benar, dapat diselamatkan dengan pencapaian pekerjaan atau perbuatan kebajikannya sendiri.

 

Ada orang yang sangat kuat di kota ini. Ia mampu menghancurkan hidup orang lain berkeping-keping. Saya pergi menemui dia dan mengundang dia untuk memberi diri dilahirbarukan di dalam Kristus Tuhan kita, dan menemukan kekuatan di dalam Dia.

 

Ia menjawab saya, “Saya dapat menolong diri saya sendiri. Saya tidak perlu Tuhan, dan saya tidak membutuhkan Kristus, dan saya tidak membutuhkan gereja. Saya akan menemukan jawaban di dalam diri saya sendiri.” Akhirnya, ia menyerahkan dirinya sendiri untuk minuman keras, dan akhirnya ia mati bunuh diri.

 

Tak seorangpun, sekalipun ia mungkin orang yang kuat, yang mampu menghadapi penghakiman. Apa yang ia dapat lakukan pada hari kematiannya? Dan apa yang ia dapat lakukan ketika ia berdiri di depan tahta pengadilan Allah yang Mahatinggi?  Seperti Yesaya berkata, bahwa kebenaran kita adalah “seperti kain kotor” atau “kain lap yang dekil” dalam pemandangan Allah (Yesaya 64:6).  

 

Harus ada cara lain agar kita dapat diselamatkan, dan cara atau jalan keselamatan itu dapat kita atau Abraham temukan melalui percaya kepada Tuhan. Ia percaya kepada Tuhan. Ia menghempaskan dirinya sendiri ke atas rahmat Allah, dan Allah menyelamatkan dia oleh anugerah, oleh karena iman, oleh karena percaya.

 

Allah memperhitungkan imannya sebagai kekudusan, kebenaran, dan oleh anugerah kita semua diselamatkan melalui iman dan bukan kebenaran atau usaha kita sendiri. Itu adalah karunia atau pemberian Allah, bukan hasil pekerjaan kita, sehingga tak seorangpun dapat berkata atau membual, “Aku telah melakukan semua itu” dan memuliakan dirinya sendiri.

 

Dan Rasul Paulus menulis bahwa pengampunan, rahmat itu, anugerah itu ditemukan dan didasarkan dalam kasih dan rahmat penebusan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia menulis dalam Roma pasal 5:

 

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--.

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya…(Roma 5:6-9)

 

Di dalam rahmat dan kematian serta penderitaan Tuhan kita, kita akan diselamatkan melalui Dia, kita diperdamaikan dengan Allah melalui kematian-Nya, kita diselamatkan oleh hidup-Nya yang telah bangkit dari antara orang mati dan pelayanan-Nya sebagai perantara untuk kita dalam kemuliaan. Oleh Dia kita sekarang telah menerima penebusan atas dosa-dosa kita. Bukan lagi “aku.” Tetapi “Dia.” Bukan karena kekuatanku, tetapi di dalam Dia aku diselamatkan melalui percaya, menyerahkan hidupku kepada Dia, menerima dan memandang Dia. Kita diselamatkan oleh karena apa yang Yesus telah lakukan bagi kita!  

 

Paulus menulis surat polemik kepada jemaat-jemaat di Galatia. Mereka telah menemukan keselamatan melalui percaya di dalam Kristus. Mereka telah menerima Roh Kudus, melalui percaya di dalam Yesus. Dan mereka telah hidup dalam hadirat Anak Allah.  Kemudian datanglah orang-orang Yahudi yang berkata kepada mereka, “Baiklah oleh iman. Baiklah oleh karena percaya. Namun kalian tidak dapat diselamatkan hanya oleh iman dan percaya itu. Jika kalian ingin diselamatkan, kalian dapat diselamatkan melalui memelihara dan melakukan hukum Taurat, melaksanakan berbagai aturan, ritual dan seremonial dari Taurat.”

 

Oleh karena itu lah, maka Paulus menulis surat yang polemik ini kepada orang-orang Galatia itu. Itu adalah surat yang sangat keras.  Dan dengan hanya satu hentakan saja, Rasul Paulus menyapu semua konsep keselamatan yang diduga merupakan hasil dari ketaatan terhadap Taurat atau legalism atau oleh usaha manusia atau oleh karena memelihara upacara-upacara lahiriah atau seremonial lahiriah. Jika manusia diselamatkan, itu hanya oleh karena kasih dan anugerah serta rahmat Yesus Kristus “yang mengasihi saya dan memberikan nyawa-Nya sendiri sebagai tebusan bagi saya.”

 

Ketika saya membaca Kitab Suci, ada banyak bukti dalam lembaran-lembaran suci ini ketika saya mempelajari dan berusaha memahami pikiran dan rencana Allah bagi kita. Manusia dapat berdoa dan berdoa di sepanjang hidupnya. Namun ketika ia mati, ia masih terhilang. Dalam Matius enam, catatan tentang Khotbah di Bukit, Tuhan mendeskripsikan orang-orang seperti orang Farisi yang suka berdiri di sudut-sudut jalan dan semua orang melihat mereka sedang berdoa. Dan dalam Injil yang sama ini, Tuhan  kita mendeskripsikan orang-orang Farisi yang masuk ke dalam rumah ibadat kemudian berdoa dan mengucap syukur kepada Allah atas semua ketaatannya terhadap semua perintah Allah dalam hidupnya. Dan pada saat yang sama Tuhan juga menceritakan seorang pemungut cukai, orang berdosa, yang pada waktu itu juga sedang berdoa, yang bahkan tidak berani mengangkat wajahnya kepada Allah, namun ia memukul-mukul dadanya dan berkata, ‘Tuhan, ampunilah aku, orang berdosa ini.”

 

Dan Tuhan berkata, “Orang ini – pemungut cukai yang berdosa ini, pulang ke rumahnya dengan membawa pembenaran – ia dipandang benar oleh Allah, karena ia menyerahkan jiwanya di dalam iman dan percaya kepada Tuhan yang dapat menyelamatkan dia.”

 

Ambilah Alkitab anda dan mari lihat orang-orang baik yang menghadap Tuhan dan rasul-rasul-Nya. Nikodemus adalah orang baik. Ia adalah anggota dari Sanhedrin. Ia adalah pemimpin bangsa Yahudi. Namun Tuhan berkata kepada dia, “Jika kamu tidak dilahirkan kembali, kamu tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.”

 

Kisah Rasul pasal sepuluh menggambarkan Kornelius sebagai orang yang saleh dan takut akan Tuhan dan senantiasa berdoa kepada Allah. Namun seorang malaikat datang kepadanya dan berkata, “Suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon,” untuk menjelaskan bagaimana dia dan keluarganya dapat diselamatkan.

 

Saya tidak dapat diselamatkan oleh karena kebenaran dan kebajikan saya sendiri. Saya begitu kecil dan kotor di hadapan kemuliaan Allah. Saya harus menghempaskan diri saya sendiri ke atas rahmat Yesus. Dan hanya oleh Dia, hanya Dia sajalah yang dapat memperbaharui dan mengampuni serta menyelamatkan saya.

 

 

 

TIDAK ADA CARA LAIN  UNTUK DAPAT DISELAMATKAN SELAIN HANYA

MELALUI IMAN DI DALAM KRISTUS

 

Paulus berbicara dengan terus terang bahwa selain percaya kepada Yesus tidak ada apapun yang dapat kita lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan kebenaran saya sendiri atau perbuatan baik yang saya lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan seremonial-seremonial atau ibadah yang saya pelihara dan jalankan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan baptisan saya, atau percaya Yesus ditambah dengan memelihara hari Sabat, atau saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan tangisan dan penyesalan saya. Saya tidak diselamatkan oleh apapun kecuali hanya oleh Yesus saja – hanya oleh Yesus, Yesus secara eksklusif, Yesus untuk selama-lamanya, Yesus satu-satunya.

 

Dan ketika saya berdiri di hadapan Yang Mahatinggi di sorga, inilah lagu yang akan saya nyanyikan, “Segala kemuliaan hanya bagi Anak Domba. Segala kemuliaan hanya bagi Kristus yang telah menyucikan kita dari dosa-dosa kita di dalam darah-Nya sendiri. Bagi Dia kemuliaan dan hormat dan kuasa sampai selama-lamanya dan selama-lamanya. Amin.”

 

Dan fakta bahwa bila seseorang percaya kepada Yesus ditambah dengan yang lain-lain menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya menyerahkan dirinya sendiri kepada Yesus. Ia masih mempertahankan sesuatu yang lain. Saya belum mempercayakan uang saya disimpan di Bank bila saya masih memegang atau mempertahankan uang itu. Saya belum memberikan surat saya kepada tukang post selama surat itu masih ada di tangan saya. Saya belum mempercayakan diri saya sendiri agar pilot itu menerbangkan pesawatnya sebelum saya masuk ke dalam pesawat dan duduk dan membiarkan pilot itu menerbangkan pesawatnya. Saya belum mempercayakan hidup saya sepenuhnya kepada Kristus sebelum saya menghempaskan atau melemparkan diri saya sendiri -- yang miskin, yang tidak mampu melakukan apapun, yang tidak layak, dan orang berdosa yang terhilang ini – di bawah kaki-Nya dan berseru, “Jika aku binasa, aku binasa di sini. Jika aku mati, aku mati di sini, percaya di dalam kasih dan rahmat Yesus.”

 

Dan Anda tahu apa yang terjadi? Ketika saya melakukan itu, Yohanes 6:37 berkata, “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Saya diselamatkan. Saya dilahirkan kembali. Saya menjadi ciptaan baru. Saya disucikan dan dijadikan putih dan suci, oleh karena percaya. Itu lah cara Allah menyelamatkan kita.

 

 

MENGAPA TIDAK ADA CARA KESELAMATAN

LAIN SELAIN DI DALAM

ANUGERAH DAN RAHMAT ALLAH?

 

Ijinkan saya sekarang berbicara tentang mengapa Allah memilih cara iman ini untuk keselamatan kita?

 

Pertama, karena tidak ada cara lain yang memungkinkan kita dapat diselamatkan.  Jika saya menggantungkan keselamatan saya atas kesucian dan kebenaran saya sendiri, bagaimana dengan dosa-dosa masa lalu saya?

 

 Apa yang harus saya lakukan dengan dosa-dosa saya yang telah lalu? Dapatkah saya kembali ke masa lalu dan membatalkan semua pelanggaran dan dosa itu? Jelas saya tidak dapat. Jika tidak ada cara lain yang diberikan Allah untuk menyelamatkan saya, pastilah saya binasa oleh karena dosa-dosa masa lalu saya.

 

Dan apa yang saya harus lakukan di masa depan? Dapatkah saya menjamin pada saat ini bahwa di masa mendatang saya tidak akan pernah melakukan pelanggaran, tidak akan pernah berbuat dosa, tidak akan pernah melakukan kesalahan?

 

Saya sedang menghukum diri saya sendiri untuk hidup dalam kebinasaan dan ketanpa-pengharapan, jika saya mencoba untuk menemukan cara lain untuk dapat diselamatkan selain di dalam anugerah dan rahmat serta pengampunan Allah. Saya tidak akan dapat menolong diri saya sendiri kecuali saya menyerah kepada-Nya. Tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan saya kecuali di dalam kebaikan dan rahmat Allah bagi saya.

 

Kedua, karena tidak ada jaminan keselamatan jika keselamatan saya bergantung pada pekerjaan saya, kebajikan saya. Bagaimanapun saya tidak pernah tahu apakah saya sudah cukup bertobat atau seruan dan tangisan saya cukup atau cukup menyesal atau  cukup tulus hati?  Ketika saya mencari keselamatan saya di dalam diri saya, saya dipenuhi dengan kecemasan dan kegentaran serta ketidakpastian. Dan semakin saya mencobanya, saya semakin merasa terhilang, kesia-siaan dan keputusasaan meliputi saya.

 

Martin Luther berasal dari monk Augustinian di biara Wittenberg di Jerman.   Dan ia pernah memandang dirinya sendiri benar di hadapan Allah. Ia telah berpuasa sampai lemas dan pingsan. Ia telah memukuli dirinya sendiri sampai darah mengalir dari tubuhnya. Akhirnya dalam pengharapan mencari damai sejahtera, ia melakukan perjalanan suci ke Roma. Dan ketika ia sedang menaiki tangga dengan lututnya di Scala Santa di depan Gereja St. John Lateran, mencari keselamatan melalui perbuatan atau pekerjaan baiknya, ia menaiki setiap anak tangga dengan lututnya, dan pada waktu itu seakan ada suara gemuruh dari sorga yang berkata, “Orang benar hanya akan hidup oleh Iman, hanya melalui percaya di dalam Allah.” Kemudian Luther berdiri, dan berbalik, pulang ke Jerman, dan di sana lahirlah Reformasi.

 

Ketika saya melihat diri saya sendiri – usaha-usaha dan perbuatan baik saya untuk menemukan pengampunan dosa dan kesucian dan kebenaran, justru saya masuk ke dalam keputusasaan. Namun ketika saya memandang Yesus, saya dikuatkan dan dihiburkan dan diangkat keluar dari lumpur dosa saya. Saya mungkin bukanlah orang baik, namun Ia adalah benar. Saya boleh lemah, namun Ia kuat. Saya mungkin saja jatuh menghadapi serangan dosa, namun Ia tidak pernah gagal dan tidak pernah kalah dalam peperangan.

 

Dan keselamatan saya bukanlah subyek di dalam diri saya, tetapi obyek di dalam Dia. Seperti Bahtera, seperti darah Paskah, seperti ular tembaga yang ditinggikan di padang gurun, saya memandang Dia dan memperoleh pembenaran, dan pengampunan serta diselamatkan. Saya disucikan di dalam anugerah dan kasih dan rahmat-Nya. Tidak ada jaminan keselamatan yang lain, selain diselamatkan di dalam Dia.

 

Ketiga, karena tidak ada cara lain bagaimana Allah dapat menunjukkan Diri-Nya sendiri yang penuh murah hati dan rahmat, selain keselamatan melalui percaya kepada Dia.

 

Dalam Kejadian pasal pertama dan kedua, Allah sang Pencipta hanya mengucapkan kata maka alam semesta ini menjadi ada. Ia menempatkan planet-planet dalam ruang angkasa. Ia menciptakan gunung-gunung dan samudera. Ia meletakkan bintang-bintang dan membuat cakrawala dan dunia yang begitu indah. Allah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai sang Pencipta. Namun itu sebelum masuk kejadian pasal tiga dan empat dan semua pasal yang mengikutinya di dalam Alkitab kita melihat bahwa Ia menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Penebus yang penuh kemurahan dan Juruselamat sorgawi kita yang kudus. Segala pujian hanya bagi Allah untuk kemahakuasaan-Nya, oleh karena kasih dan kemurahan-Nya yang telah mencurahkan rahmat dan pengampunan yang tiada tara kepada kita.

 

Dan Tuhan terus mengulangi pernyataan ini di dalam setiap halaman Alkitab, yaitu suatu undangan yang penuh kasih dan rahmat, “Oleh karena nama Yesus, kamu beroleh pengampunan. Datanglah, datanglah, datanglah, semua yang haus, datanglah kepada Dia untuk memperoleh air kehidupan. Mari minumlah. Datanglah kepada-Nya tanpa perlu membawa uang dan tidak perlu membayar dengan apapun.” Itulah Allah dalam rahmat-Nya, di dalam kemurahan-Nya yang senantiasa mengingat kita.

 

Keempat, Mengapa kita harus diselamatkan melalui iman? Karena itu adalah satu-satunya cara agar setiap dari kita, kita semua, dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. 

 

Di dalam jemaat kita, ada seseorang yang begitu dekil dan kotor yang dihukum di dalam penjara. Namun Tuhan mengangkat dia. Ia disucikan. Ia dibersihkan. Bahkan ia akhirnya menjadi pemenang jiwa. Ia telah diubahkan. Dari yang paling dekil dan paling kotor, kini menjadi salah satu dari orang kudus (saint) Allah.

 

Kelima, karena pintu keselamatan senantiasa terbuka bagi siapapun. Entah bagi orang-orang yang terbelakang dan tidak berpendidikan. Saya tidak pernah terharu dalam hidup saya seterharu ketika saya mendengarkan seorang pengkhotbah dari pegunungan Kentucky, yang diselamatkan ketika ia bertumbuh menjadi seorang pemuda, dan ia di baptis pada pertengahan tahun-tahun hidupnya, yang merasakan panggilan Allah untuk memberitakan Injil, berdiri di sana di sebuah gereja di pedesaan itu, tidak dapat membaca, tidak dapat mengajar, dan tidak memiliki latar pendidikan apa-apa.

 

Namun ketika saya duduk di sana mendengarkan pengkhotbah dari gunung itu sedang berkhotbah dari Mazmur 104:24, saya sungguh terharu. Ada seseorang yang membantu membacakan ayat itu untuk dia: “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.”

 

Dan ia berkhotbah dan memberikan kesaksian tentang hidupnya sebagai orang gunung atau orang desa, di mana ia hidup di sana di sepanjang hidupnya. Untuk mematahkan terjangan angin topan dari lautan, Allah menempatkan mereka, orang-orang gunung itu di sana. Pohon-pohon yang tumbuh di sana ia tebang dan digunakan untuk membangun rumah mereka dan sekaligus membuat peti mati untuk menguburkan mereka ketika mereka mati. Aliran-aliran air kehidupan memuaskan jiwa-jiwa mereka yang dahaga.

 

Ketahuilah, ketika saya duduk di sana dan mendengarkan orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan apa-apa ini berkhotbah, saya merasa jiwa saya terangkat untuk memuliakan kebesaran Tuhan. Itu lah Tuhan: Pintu senantiasa terbuka bagi siapapun, bahkan bagi orang-orang terbelakang dan orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan. 

 

Cara keselamatan melalui iman adalah karena pintu terbuka bagi semua orang yang tidak memiliki pengharapan dan tanpa pertolongan. Tidak ada kisah yang lebih indah dibandingkan dengan peristiwa yang terjadi pada saat Yesus disalibkan di antara dua penjahat dan pembunuh, dan salah satu dari penjahat itu memandang Tuhan, oleh karena sadar bahwa ia tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya sendiri, dan ia berkata, “Tuhan, ketika Engkau masuk ke dalam kerajaan-Mu, maukah Engkau mengingat aku? Maukah Engkau memanggil namaku?”

 

Dan Tuhan memandangnya dan berkata, “Hari ini juga, engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” Itulah cara atau jalan keselamatan yang terbuka bagi orang-orang yang tidak memiliki pengharapan akan pertolongan. Ia tidak dapat memberikan cara yang lain agar manusia dapat diselamatkan.

 

Pintu keselamatan senantiasa terbuka bagi kita semua.  Saya hanya dapat diselamatkan melalui iman, melalui percaya, melalui berserah sepenuhnya, melalui memandang kepada Yesus, demikian juga dengan Anda.”Tuhan, inilah hatiku, dan aku telah membuka hatiku untuk Engkau.”

 

“Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Yohanes 1:11-13)

 

Di mana Anda dapat diselamatkan? Di mana Anda dapat mendedikasikan keluarga Anda kepada Allah, mulai saat ini? Itu hanya di dalam Kristus melalui iman, melalui percaya dan bukan oleh perbuatan kebajikan kita sendiri.

 

Saya mengundang Anda sekalian untuk menyerah kepada Yesus, datang kepada Yesus dan menyerahkan seluruh hidup Anda kepada Yesus yang akan menyelamatkan Anda dari dosa dan penghukuman. Maukah Anda percaya sepenuh hati Anda kepada Dia? Dan hanya kepada Dia saja, tidak ditambah dengan yang lain-lain.