KETUHANAN DAN PRIBADI ROH KUDUS

 

Dr. W. A. Criswell

 

07-26-81

Ayub 22:6

 

            Selama bertahun-tahun, saya telah diminta untuk menyampaikan serangkaian kotbah mengenai doktrin-doktrin besar Injil.  Dan saat kotbah-kotbah itu disampaikan, semuanya itu akan dipublikasikan. Akan ada kurang lebih dua belas volume dalam seri doktrin iman ini. Seri-seri ini dibagi menjadi sekitar lima belas bagian. 

            Dan hari Minggu pagi kemarin, pendeta menyampaikan pesan terakhir mengenai Kristologi, yaitu doktrin tentang Kristus.  Dan hari ini, kita memulai seri mengenai pneumatology, yaitu doktrin tentang Roh Kudus.  Judul dari pesan hari Minggu berikutnya adalah: PENCURAHAN ROH KUDUS. 

            Tuhan kita menyebutnya sebagai janji Bapa.  Ini berarti bahwa saat Yesus mati bagi kita, Tuhan menjanjikan kepada-Nya bahwa bila Dia memberikan nyawa-Nya bagi kita, Dia akan mencurahkan Roh anugerah dan kasih dan keselamatan atas dunia ini. 

            Inilah kotbah hari Minggu pagi berikutnya; pencurahan, turunnya Roh Kudus dari surga di hari Pentakosta.  Kotbah hari ini berjudul: KETUHANAN DAN PRIBADI ROH KUDUS. 

            Saat kita membuka Alkitab, kita diperkenalkan pada Roh Tuhan.  Ini dimulai dengan: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita melayang layang di atas permukaan air.” 

            Situasi itu kacau. Dan Roh Tuhan bergerak di atas permukaan air. Begitulah awal mulanya. Dan Roh Tuhan bergerak di atas kegelapan yang kacau itu dan membawa kehidupan dan cahaya dan ketertiban kosmis, keindahan, keluar dari bumi yang hancur dan kacau ini. 

            Roh Kudus Tuhan itu adalah Tuhan sendiri.  Hanya ada satu Tuhan. Ketuhanan adalah satu.  Kita bukanlah politeis dan kita juga bukan triteis.  Kita tidak percaya pada tiga Tuhan. Hanya ada satu Tuhan.  Dasar dari pewahyuan Perjanjian Lama dan penegasan Yudaisme saat ini, adalah Shema

            Ulangan 6:4, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Tidak boleh ada ilah lain di hadapan-Ku.” 

            Tuhan itu esa; abadi, kekal.  Dia adalah satu dalam esensinya. Dia adalah satu dalam kuasa. Dia satu dalam keberadaannya. Dia satu dalam kemuliaan. Dia satu dalam atribut. Hanya ada satu Tuhan.  Tetapi ada tiga perbedaan dalam Pribadi Tuhan.  Anda lihat bahwa dalam ucapan syukur yang menutup surat kedua Paulus kepada Korintus:  “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus, menyertai kamu sekalian, amin.” 

            Tetapi ada Allah Bapa, di atas segalanya, terberkati selamanya; ada Allah Putera, Juru Selamat penebus kita; dan ada Allah Roh Kudus, yang berdiam di hati kita. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus, menyertai kamu sekalian, amen.  Kita mengenal Tuhan sebagai Bapa kita dan sebagai Juru Selamat kita dan sebagai kegerakan Roh Yesus di hati kita. Anda melihat hal ini lain dalam Amanat Agung, mandatnya kepada para murid, untuk memenangkan murid bagi Kristus dan untuk membaptiskan. 

            Beberapa saat lalu, anda mendengarkan rumusan amanat agung itu, membaptiskan mereka dalam nama – tunggal, satu Tuhan; dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.  Hanya ada satu Tuhan, tetapi ada tiga perbedaan dalam pribadi Tuhan dan kita mengenal Tuhan dan dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus

            Roh Kudus adalah Tuhan.  Dia memiliki semua atribut Tuhan.  Dia abadi menurut Ibrani 9.  Dia maha kuasa, menurut Kejadian 1.  Dia maha tahu; Dia mengetahui segala sesuatu, menurut I Korintus 2.  Dan dia maha hadir; Dia ada di mana-mana, sesuai dengan Mazmur 139.  Dalam karya Trinitas Kudus, Roh Kudus melakukan ini: Dia adalah penulis Injil. 

            Ada lebih dari empat puluh penulis yang menulis selama kurun waktu lebih dari 1600 tahun; tetapi penulis Alkitab adalah Roh Kudus Tuhan.  Ini sesuai dengan pengakuan II Timotius 3:18 dan I Petrus 1:20-21.  “Anak Tuhan menulis saat mereka digerakkan Roh Kudus Tuhan.” 

            Alkitab adalah produk Roh Tuhan.  Penulis Alkitab adalah Roh Tuhan.  Dia adalah penerang besar dan guru Alkitab.  Dia membawa kalimat-kalimat Alkitab dan membuatnya hidup dalam hati kita.  Menurut Yohanes 14 dan menurut Yohanes 16, Dia membawa firman Tuhan dan Dia mengungkapkannya bagi kita. 

            Kita membaca literatur yang baik; karya Homer,  karya Dante,  karya Shakespeare, karya Milton, bahkan literatur modern yang berharga, dan kita terberkati olehnya, dihibur olehnya. Ini menarik. Tetapi adalah Alkitab yang dibawa dan diperbincangkan Roh Kudus ke hati kita, dan Dia mengajari kita tentang pikiran Allah.  Dan hidup kita diperkaya, dengan tidak terbatas, tanpa batas oleh kebijaksanaan yang diajarkan Roh Kudus.  Guru terbaik untuk Alkitab adalah Roh Tuhan. 

            Roh Kudus juga, atas nama Bapa dan Anak, Seseorang yang mengerjakan mujizat kelahiran kembali.  Roh Kudus Tuhan menginsyafkan kita dalam hati kita. Dia membuat kita menyadari terhilangnya kita, menyadari dosa kita. Secara moral kita menjadi peka karena adanya Roh Kudus Tuhan.  Dia menginsyafkan kita, kemudian karya berikutnya adalah memimpin kita kepada Kristus.  Dia menyingkapkan Tuhan Yesus kepada kita. Menurut Pasal 16 Kitab Yohanes, Dia tidak pernah membicarakan diri-Nya sendiri, tetapi Dia selalu memuliakan Kristus.  Dia memimpin kita kepada Tuhan. 

            Bila anda melihat seseorang yang memuliakan Roh Kristus, saya tidak punya sesuatu yang menentang doktrin sedemikian.  Bukan sekedar apa yang dilakukan-Nya..  Roh Kudus tidak pernah menarik perhatian kepada diri-Nya sendiri. Dia selalu memuliakan Tuhan.  Dia membawa kita kepada Yesus.  Dia memuliakan Juru Selamat kita yang indah.  Dan Dia membawa perkataan Kristus dan membuatnya hidup dalam kita. Dia menginsyafkan kita akan dosa-dosa kita.  Kemudian Dia menuntun kita kepada-Nya yang bisa menebus kita dari dosa.  Kemudian Dia melakukan karya-Nya yaitu penciptaan kembali, kelahiran kembali. 

            Menurut Pasal 3 Yohanes, ini adalah sebuah kelahiran dari Roh yang membuat kita menjadi anggota keluarga Tuhan dalam kerajaan Tuhan kita.  Dalam Pasal 1 Injil Lukas, kita diberitahu bahwa Maria hamil – yaitu dalam kandungan Maria, Yesus dikandung dari Roh Kudus.  Tubuhnya terbentuk dan ditenun oleh Roh Kudus Tuhan. 

            Dengan cara yang sama ajaibnya, kelahiran alami kita adalah satu mujizat dari Tuhan. Penciptaan sebuah kehidupan, seorang bayi, dengan tubuh dan jiwanya masuk ke rongga hidungnya, diberi Tuhan nafas kehidupan. Ini adalah suatu mujizat penciptaan alami. Ini tidak kurang dari sebuah mujizat penciptaan kembali saat kita dilahirkan ke dalam kerajaan Tuhan. Dan penciptaan kembali itu, adalah karya Roh Tuhan. 

            Kita juga diajarkan dalam Alkitab bahwa Roh lah yang membaptiskan kita ke dalam tubuh Kristus.  Dr. Patterson beberapa masa lalu bertanya bahwa dia mungkin melihat daftar kotbah yang akan disampaikan mengenai doktrin Roh Kudus dan salah satu darinya adalah baptisan Roh Kudus.  Baptisan Roh Kudus adalah saat kita dilahirkan kembali dan diubahkan, kita ditambahkan kepada tubuh Kristus. 

            I Korintus 12:13: “Oleh satu Roh kita semua dibaptiskan ke dalam tubuh Kristus.”  Kita dibuat menjadi bagian dari keluarga Tuhan.  Kita dimiliki oleh Nya.  Kita merupakan bagian dari-Nya dan Roh Kudus menempatkan kita saat kita diselamatkan, ke dalam tubuh Kristus.  Lagi-lagi, Roh Kudus menuntun kita dalam ziarah Kekristenan kita.  Dia mengajar kita. Dia menerangi kita. Dia berbicara kepada kita. Dia membantu kita dalam kelemahan kita. Dia membantu kita untuk berdoa dan Dia berdoa syafaat bagi kita.  Dan merupakan karya Roh bahwa kita berbuah bagi Tuhan. Buah Roh adalah, dan Galatia 5 menyebutkannya: kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kepenuhan dari sebuah kehidupan yang indah dan kudus dan surgawi; ini adalah karya Roh Tuhan. 

            Kemudian lagi-lagi, Dia membuat rumah-Nya, kediaman-Nya, istana-Nya, tempat tinggal-Nya, di hati kita. Tidakkah ini keajaiban dari keajaiban?  Bahwa Dia, surga di atas segala surga pun tidak dapat memuat Dia, Tuhan mau tinggal di hati manusia, betapa ajaibnya!!!  Betapa heran apa yang telah dilakukan Tuhan!  Firman ini merujuk kepada Roh dengan mengatakan,

dalam Matius 3: sebagai Roh Tuhan, 

dalam  Roma 8: sebagai Roh Kristus, 

dalam Filipi, Pasal 1: sebagai Roh Yesus.

 

            Entah Dia disebut Roh Tuhan atau Roh Kristus atau Roh Yesus, Dia lah yang tinggal dalam hati kita. Yesus ada di surga. Yesus adalah seorang manusia. Yesus memiliki tubuh. Dia memiliki daging dan tulang. Roh Yesus lah  yang berdiam di hati kita. Dan kita memiliki Dia seluruhnya dan Tuhan seutuhnya dalam Roh Kudus Kristus.  Dan ajaib yang saya katakan, bahwa dunia ini, ciptaan itu sendiri, tidak dapat memuat kebesaran dan kemuliaan dan keagungan Tuhan.  Tapi bait Roh Tuhan ada dalam kita; kita adalah bait Tuhan. 

            Sekali lagi, adalah Roh Tuhan yang merupakan meterai dan kesungguhan dari kemenangan akhir dan kebangkitan kembali kita. Roh Tuhanlah yang merupakan uang muka, janji bahwa kita pada akhirnya akan diselamatkan; dibangkitkan dari antara orang mati; akan berjalan menuju gerbang kemuliaan; akan memandang wajah Bapa dan hidup.  Roh ini adalah janji dan meterai dan kesungguhan dari kemenangan tertinggi. 

            Salah satu doktrin hebat dari Rasul Paulus adalah ini: bahwa Roh Kudus lah yang membangkitkan Yesus dari kematian.  Dan dia mengatakan bahwa Roh Kudus yang sama dalam kita yang juga membangkitkan kita dari kematian.  Dalam Roma 8:11, Paulus menyatakan bahwa Roh lah yang membangkitkan Kristus dari kematian dan yang juga membangkitkan kita.  Ini lah sebabnya mengapa kita meraih kemenangan dalam alam kubur. Bagaimana anda bisa mengubuh Roh Tuhan?  Maha Kuasa dalam kuburan?  Bagaimana anda bisa menjaga Dia?  Bagaimana anda bisa mengumumkan Dia mati?  Ini tidak terpikirkan. Demikian jugalah dengan kita yang memiliki Roh Tuhan.  Kita tidak bisa mati, abadi, langgeng, selamanya diselamatkan dengan penuh kemenangan. 

            Kita baru saja menikmati hari penebusan akhir kita, pemilikan yang dibayar lunas, kebangkitan kembali, pengabadian, pemuliaan tubuh kita. Dan kesungguhan dari janji itu, uang muka yang dipakai Tuhan untuk memelihara kontraknya, adalah Roh yang hidup dalam hati anda. 

            Jadi, Ketuhanan Roh; kita sekarang berbicara mengenai pribadi Roh.  Dalam Pasal 15 dari Kisah Para Rasul adalah salah satu ayat yang paling tidak biasa bagi saya di dalam Injil.  Jika anda ingin membukanya, silahkan buka Kisah Para Rasul Pasal 15.  Dan kita akan melihat ke ayat 28.  Kejadiannya adalah konferensi Yerusalem dan para rasul dan tua-tua Gereja dan saudara-saudara sedang mempertimbangkan apakah seorang Yunani kafir bisa menjadi seorang Kristen dan tidak disunat; tidak memelihara hukum Musa; tidak seorang Yahudi. 

            Jadi dikatakan di dalam Injil ini, dalam Pasal 15 Kisah Para Rasul, bahwa mereka mempertimbangkan hal itu dan sampai pada satu konsensus. Orang kafir, orang Yahuni, penyembah berhala, bisa langsung keluar dari penyembahan berhalanya berpindah ke iman Kristen, hanya dengan mempercayai Yesus.  Kemudian mereka mengatakan hal aneh ini: “Kami telah mengirimkan Yudas dan Silas kepada kamu yang akan memberitahukan hal-hal yang sama dari mulut ke mulut.”  Sekarang lihat ke ayat 28.  Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu ini – dan kemudian mereka menyebutkan empat hal yang mereka ingin lakukan. 

            Bisakah anda lihat hal itu?  Di konferensi di Yerusalem, saat mereka sampai pada kesimpulan, kemudian dalam surat itu mereka menuliskan: “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.”  Roh Kudus adalah salah satu dari kita.  Dia ada di sana dalam pertemuan itu. Dia ambil bagian dalam diskusi itu. Dia berbicara. Dia memberikan kebijaksanaan Tuhan dalam pertimbangan yang mendalam dan saat kesimpulan sedang diambil, mereka menulis: “Merupakan keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.”  Kami adalah rekan sekutu, rekan sekutu dalam rumah iman, dalam pertimbangan, dalam pertemuan.  Ini sulit untuk disadari oleh saya.  Roh Kudus adalah sebuah pribadi.  Dia adalah Seseorang, dan Dia ambil bagian dalam diskusi dan pekerjaan kita, komitmen kita pencapaian kita, atau kegagalan kita.  Dia adalah salah satu dari kita, Dia adalah Seorang Pribadi.  Nah, saat saya memikirkan hal itu, Roh Kudus adalah seorang Pribadi; Dia adalah Seseorang, saya pikir, saya tidak bisa tersandung mengenai ini.  Roh Kudus adalah seorang Pribadi. 

            Saya hidup di sebuah dunia maut; sejak saat itu saya menjadi seorang pendeta remaja. Saya tidak tahu berapa banyak kebaktian dan memorial yang telah saya layankan; dan biasanya saya adalah kepada dari acara penguburan dan mencoba, hanya dengan berada disana, mungkin, bisa memberikan penghiburan atau rasa tenang bagi seorang ibu atau ayah atau istri atau anak yang sedang meratap. 

            Dan saya melihat ke peti mati itu, dan berkata inilah diaken tercinta di Gereja kita dan seorang saleh, dan merupakan teman akrab saya selama bertahun-tahun, dan saya melihatnya, apa yang saya lihat adalah debu dan abu; dan akan menjadi demikian di depan mata saya, jika saya menunggu cukup lama. Itu adalah tanah. Itu adalah debu. Itu adalah abu. Itulah yang saya lihat di hadapan saya. 

            Itukah diaken saleh yang saya kenal?  Mitra doa selama bertahun-tahun?  Tidak pernah terlintas di benak saya bahwa itu adalah debu dan abu. Diaken saleh saya telah pergi. Dia adalah roh. Dia ada di sorga. Oleh karena itu, orang itu bukanlah debu dan abu; roh orang itu telah pergi kepada Tuhan. Itu adalah pribadi. Orang itu roh. 

            Dan jika saya ada di kebaktian mengenang anda, saya tidak memikirkan anda sebagai debu dan abu, dikuburkan di sana dalam tanah. Saya akan memikirkan anda sebagai seseorang, roh yang telah pergi kepada Bapa, menantikan penebusan pemilikan yang dibayar-lunas. Kebangkitan kembali, pengabadian tubuh, satu pribadi. 

            Nah, jika aku melihat hal itu, maka – saya tidak tersungkur pada roh, orang itu, dan Roh Kudus Tuhan adalah seorang Pribadi. Dia adalah seorang Pribadi. Sekarang, saya ingin menguraikan sejenak secara rinci – maukah anda kembali ke Roma 8?  Roma 8, Pasal 8; lihat di Pasal 16; Roma 8:16.  Di sini, saya memiliki Criswell Bible, saya memiliki versi King James.  Dan ini dia. Roh itu sendiri memberi kesaksian dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Tuhan. 

            Sekarang, Pendeta, jika engkau mengatakan bahwa Roh adalah seorang pribadi, mengapa Injil mengatakan Roh adalah benda (it)?  Roh itu sendiri – itu adalah sebuah benda (it) – memberi kesaksian dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Tuhan. Sekarang, di dalam nats ini, dalam Alkitab, ada sebuah penjelasan yang sangat baik mengenai ini. Bahasa-bahasa berbeda-beda dan kadang-kadang sulit untuk menerjemahkan pesan dari nomenklatur ini ke nomenklatur lain; dan ini adalah salah satu contoh bagus mengenai hal ini.  Dalam bahasa Inggris, kita memiliki gender alami, dan itu saja.  Kita tidak berpikir dalam pengertian lain apapun. Kita juga tidak berbicara dalam pengertian lain apapun, selalu gender alami.  Seekor kuda jantan adalah "he."  Seekor kuda betina adalah "she."   Yang belum dilahirkan adalah "it."  Dan and atidak berbicara dengna cara lain dalam bahasa Inggris; itu adalah gender alami.  Tetapi tidak demikian halnya dalam bahasa-bahasa lain.  Ada bahasa-bahasa yang memiliki gender gramatis. Bahasa Jerman adalah salah satunya. Kata untuk seorang anak perempuan dalam bahasa Jerman adalah dossnueter, dossmitchen, bukan dermitchen seolah-olah adalah maskulin atau demitchen seolah-olah adalah femini, tetapi dossmitchen.  Sifatnya netral. Seorang anak perempuan dalam bahasa Jerman adalah gender netral. Bagi saya itu adalah cara tergila untuk berbicara yang pernah saya dengar dalam hidup saya.  Tetapi begitulah cara mereka berbicara. Mereka memiliki gender gramatis. Itu persis sesuai dengan bahasa tersebut. 

            Nah, Yunani juga memiliki gender gramatis.  Dan tapneuma, ta adalah kata sandang kecil untuk netral.  Ta -- pneuma adalah netral.  Dan itulah sebabnya itu diterjemahkan seperti itu, mencoba agar sesuai dengan teksnya; Roh itu sendiri, netral, pneuma, netral. 

            Tetapi dalam Alkitab, Roh selalu disebut sebagai "He."   “Saat Dia datang, Dia akan menginsyafkan dunia ini akan dosa dan kebenaran dan penghakiman, dan Dia akan membawa hal-hal dari Milik-Ku dan menunjukkannya kepadamu.”  Ini adalah masalah tata bahasa, kontruksi gramatis. Tetapi dalam Alkitab, Roh selalu disajikan kepada kita sebagai seorang Pribadi, sebagai Seseorang. 

            Bahasa tidak dapat menanggung bobot pewahyuan Tuhan. Di sekitar 200 M., ada seorang bidat, seorang brilian bernama Cebellius.  Dan dia mengumumkan doktrin bahwa Roh Kudus Tuhan adalah sebuah moda; Dia adalah sebuah manifestasi.  Dia bukan Tuhan; Dia adalah sebuah energi.  Dia adalah sebuah pengatur. Dia adalah sebuah pengarah. Dia adalah sebuah pengaruh, seperti hukum atau gerakan, tapi Dia bukanlah sebuah Pribadi. Itulah yang diajarkan Cebellius. 

            Salah satu bapa terbesar sepanjang zaman dan bapa Latin terbesar adalah Tertullian yang merupakan seorang ahli hukum yang brilian dan telah diubahkan. Dan dia mendukung pewahyuan Roh Kudus sesuatu dengan Injil. Dan dalam mencoba membela kepribadian Roh Tuhan, dia menggunakan – dan inilah kali pertama kata ini pertama kali digunakan untuk menyebut Tuhan – dia menggunakan kata "pribadi."  Ini bukan kata-kata Alkitab.  Kata-kata ini tidak ada dalam Perjanjian Baru. Kata “Pribadi” untuk menyebut Tuhan. 

            Tetapi bahasa gagal. Bahasa tidak bisa disetarakan dengan kemuliaan dan kebesaran Tuhan yang tidak bisa diterangkan, tidak terukur, dan tidak ada batasnya.  Dan itulah sebabnya mengapa sulit untuk berbicara dalam bahasa manusia seperti apa Allah sesungguhnya.  Dan kata ”pribadi” ini adalah sebuah kata penutup. Dan bagi kita, itu akan berarti satu, dua, tiga. Tidak, sama sekali tidak seperti itu. Seolah-olah ada tiga Tuhan. Anda hanya tidak tahu bagaimana mengatakannya, dan bahasa tidak mampu menjelaskan pewahyuan. 

            "Pribadi" adalah kata terbaik yang bisa digunakan Tertullian dalam menyerang Cebellius yang mengatakan bahwa Roh Tuhan adalah seperti hukum atau gerakan atau pengarah.  "Tidak, Roh Tuhan adalah Tuhan," kata Tertullian dan mengutip Injil. Dan mereka menggunakan kata "pribadi."  Tidak ada kata lain yang lebih baik yang bisa digunakan. Jadi kita hanya mengatakan ”pribadi”. Tuhan adalah seorang Pribadi. Yesus adalah seorang Pribadi. Kita bisa memahaminya karena Dia memiliki tubuh. Roh adalah seorang Pribadi. Dia adalah Tuhan; seorang Pribadi. 

            Dalam pewahyuan besar Roh Tuhan,

Dia bekerja dan Dia bergerak; dalam Kejadian 1, 2. 

            Dia memiliki pengetahuan; dalam I Korintus 2:10. 

            Dia menyelidiki segala sesuatu; I Korintus 2:11. 

            Dia membagi-bagi karunia kepada manusia; I Korintus 12:4, 7 and 11. 

            Dia membantu kita dalam kelemahan kita dan membuat doa syafaat; Roma 8:26 dan 27. 

            Dia bisa ditentang; Kis 7:51. 

            Dia bisa dikukakan; Yesaya 63:10. 

            Dia bisa berduka; Efesus 4:30. 

            Dia menuntun orang Kristen ke dalam seluruh kebenaran; Yohanes 14:26. 

            Dia menginsyafkan dunia; Yohanes 16:8 -11. 

            Dia menunjuk pada Yesus; Yohanes 16:13-14. 

            Dia mengupayakan keselamatan kita; Ibrani 3 :7-8 dan Wahyu 22:17. 

            Dia adalah seorang Pribadi.  Dan Dia berpikir dan Dia bergerak, dan Dia punya kehendak, dan Dia bertindak, dan Dia memiliki perasaan. Dan saya ingin membuat kesimpulan karena waktu saya hampir habis.  Saya ingin menyimpulkan dengan ini:: Roh Kudus, seorang Pribadi, yang pertama, Dia berkata-kata. Dia berbicara. 

            Ibrani 3:7: Oleh karena itu, sebagaimana yang dikatakan Roh Kudus  lego – ini bentuknya present (saat ini), continuous (berkelanjutan), active (aktif).  Oleh karena itu, sebagaimana dikatakan Roh Kudus terus menerus, hari ini, jika engkau mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu. Dia berbicara. Roh Kudus berkata-kata. Dia berbicara kepada kita. 

            Saudaraku terkasih, saya tidak tahu berapa banyak yang datang ke studi pendeta kita, dan sebagaian dari mereka akan mereka akan merasa sakit atau masalah atau kedukaan atau frustrasi atau kekecewaan; dan mereka menghamparkannya di hadapan saya dan meminta saya berdoa dan membantu jika saya bisa.  Dan tahukah anda, saya tidak pernah lupa berkata kepada mereka, "Sekarang saya akan berdoa, dan saya akan memberikan pertimbangan terbaik kepada anda mengenai apa yang harus anda lakukan, tetapi kebijakan tertinggi dari sebuah jawaban adalah dari Tuhan yang tidak bisa salah serta tidak terbatas.  Taruhlah itu di hadapan Tuhan. Beritahu Dia mengenai hal itu, dan Dia akan menjawab. Dia akan berkata-kata kepadamu. Dia akan berbicara."

            Jika Dia tidak bisa berbicara kepada kita, jika Dia tidak dapat menjawab, dan jika Dia tidak dapat berbicara, berarti Dia tidak hidup. Jadi mari kita lupakan saja, tidak akan ada perbedaannya.  Tetapi Roh Kudus berbicara dan mengatakan, "Hari ini, jika engkau mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu."  Dia berkata-kata. Dia akan menjawab. Dia akan menuntun. Dia akan menunjukkan jalan, jika kita mendengar-Nya.  Roh Kudus adalah seorang pribadi dan Dia berbicara ke dalam hati kita. Dan jika saya mau, saya bisa mendengar suara surgawi-Nya dan memahami apa yang Dia katakan. 

            Satu lagi; dengan merupakan seorang Pribadi, dan seorang Pribadi yang dikasihi, dalam kitab Efesus Pasal 4, Paulus menulis: “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”  Janganlah kamu mendukakan Roh Tuhan. 

            Saudaraku, hanya seorang Pribadi yang mengasihi engkau yang bisa mendukakan engkau. Jika mereka tidak mengasihi engkau, mereka bisa membencimu atau mereka bisa memahitkan hatimu dan menciptakan permusuhan. Tetapi jika mereka mengasihimu, mereka disakiti. Mereka berduka. 

            Seperti seorang ibu yang berbicara tentang anak paling nakal yang pernah saya kenal. Di hari-hari saya melayani di daerah pedesaan kecil, mereka memiliki ladang ertanian yang luas dan berhektra daerah subur, dan mereka telah memberikannya untuk membela anak itu dengan biaya pengadilan dan biaya hukum dan pengacara. 

            Dan pada satu hari saya berkata kepadanya, "Ibu yang baik, mengapa engkau tidak memasrahkan saja anak nakal itu? Engkau telah melepaskan segala sesuatu kepadanya dan telah kehilangan semua yang engkau miliki." 

            Dan dia menjawab saya, "Kami telah memikirkan itu ribuan kali. Tetapi dia adalah anak kami dan kami tidak dapat melakukannya."  Itulah kasih. Itulah dukacita. 

            Dan adalah karena Dia adalah seseorang yang dikasihi sehingga kita bisa mendukakan Roh Tuhan.  Kita mendukakan Dia bila sebagai seorang Kristen kita kembali melakukan perbuatan lama yang tercela. Kita lalai berdoa. Kita melupakan Alkitab kita. Dan sukacita melayani Kristus telah lenyap dari kita; itu menjadi satu rutinitas dan kewajiban; bukan suatu kesenangan dan kemenangan. 

            Kita mendukakan Roh Kudus Allah saat Gereja kita mati, saat pertemuan doa kita semakin menyusut dan kita tidak bersedih karena itu; kita tidak peduli; saat orang-orang tidak diselamatkan dan mereka tidak diubahkan; saat Gereja kehilangan suara kemenangan dan kemuliaan dan kejayaan-Nya. 

            Roh dikukakan dan kita mendukakan Roh Tuhan saat kita mengeraskan hati kita; saat manusia lama berkata, "Tidak, tidak!"  Karena Roh Tuhan membujuk dalam hati manusia. Dia mengundang dalam hati manusia dan Dia menunjuk pada Tuhan Yesus. Dan bila manusia itu berkata, "Tidak, tidak," Roh itu terluka, Dia berduka. 

            Undangan terindah dalam Alkitab adalah undangan yang terakhir.  Roh itu dan mempelai itu mengatakan, "Marilah."  Roh Tuhan di hati anda berkata-kata kepada anda, marilah datang kepada Yesus.  Bisakah kita berdiri? 

            Juru Selamat dan Penebus kita yang luar biasa di surga, melihat pada kita hari ini dan hadir dalam kebaktian ini dan dalam hati kita, oh, Roh Tuhan, biarlah karya-Mu nyata.  Menginsyafkan dan membujuk dan mengrahkan dan mengajak, dan mengundang, dan memenangkannya bagi Yesus, lakukan itu Tuhan, lakukan itu. 

            Dan dalam kesempatan ini saat umat kita berdoa, dan kita berdiri di hadapan Tuhan, dari balkon dari anak tangga ini, di tempat umat di lantai bawah, di gang ini, Pendeta, saat ini kita semua menjawab panggilan Tuhan.  Entah anda sebuah keluarga, anda sendiri, pasangan, atau anda sendiri, seseorang, anda, di catatan pertama stanza pertama, mari dan sambut dan berterima kasihlah pada Juru Selamat untuk karya Roh yang memimpin kita pada-Nya dan kepada Surga, dan nama-Nya yang menyelamatkan, amin. 

            Waktu kita menyanyi, mari. Sambut. Mari. Seribu sambutan, waktu kita menyambut. Waktu kita melantunkan nyanyian kita. Ini aku Pendeta, dan ini aku. Tuhan memberkati engkau anak muda. Tuhan memberkati engkau, keluarga yang bahagia. Selamat datang, waktu kita menaikkan nyanyian kita, saat roh membuat permohonan, jawab dengan hidup anda, inilah aku, Pendeta, inilah aku.