Daftar isi

OMONG KOSONG ILMU ANTHROPOLOGI

(THE HOAXES OF ANTHROPOLOGY)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

diadaptasi oleh Dr. Eddy Peter Purwanto1

 

Kejadian 1: 26

2-24-57

           

           Ini adalah gembala First Baptist Church yang sedang membawakan khotbah pagi pukul 8:15. Beberapa minggu ini kita telah berkhotbah dari Kejadian pasal pertama, minggu ini kita akan membahasa Kejadian pasal pertama ayat dua puluh enam dan dua puluh tujuh:

 

“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Dan dalam Kejadian 2:7) ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

 

Kesaksian dari wahyu pasal-pasal permulaan Kitab Kejadian ini sangat jelas dan sederhana. Allah telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah dan kemudian menghembuskan nafas hidup dan demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Tidak ada pertanyaan, tidak ada keraguan berhubungan dengan penciptaan ini, penciptaan manusia maupun ciptaan yang lain. Seperti yang kita baca dalam Alkitab manusia berbeda dengan bintang, bintang yang satu dengan yang lain juga memiliki perbedaan. Allah menjadikan manusia terpisah dan bukan menjadi bagian dari binatang. Setelah Tuhan Allah menciptakan ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan bintang-binatang melata di darat, kemudian Tuhan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya.

Mahkluk-mahkluk hidup yang kita lihat di sekitar kita telah diciptakan oleh Tuhan Allah. Segala sesuatu yang kita lihat dijadikan oleh Firman Allah. Dari tidak ada menjadi ada, Ia menciptakan alam semesta kita ini. Dan di dalam alam semesta itu Ia menciptakan mahkluk-mahkluk hidup yang kita lihat; dikelompokkan menurut “jenisnya.” Allah menciptakan setiap “jenis” secara terpisah, dan Allah membentuk setiap “jenis” dalam spesies yang tidak dapat hancur. Setiap dari “jenis” ini adalah kesatuan dalam jenisnya sendiri. Menurut “jenisnya” masing-masing. Allah menjadikan semua itu dengan cara itu.

Salah satu unit atau “jenis” yang diciptakan adalah manusia. Allah menciptakan manusia terpisah  dari mahkluk-mahkluk hidup lainnya. Alkitab mengajarkan bahwa Allah menciptakannya sempurna. Semua kemampuannya – intelektual, fisikal, spiritual – semua kemampuannya diberikan kepada manusia pada hari ketika Allah menciptakannya. 

 

Oleh karena dosa manusia jatuh dari keadaannya yang sempurna dan agung. Beberapa keturunan Adam semakin rusak dan rusak sampai diturunkan dalam kerusakan yang paling rusak. Anak-anak Adam yang lain membangun suatu masyarakat yang maju, namun jalan mereka tersesat dalam kebingungan agama palsu, filosofi dan takhyul yang palsu.

Namun Allah memiliki belas kasihan atas semua keturunan Adam, yang telah kehilangan status mulia mereka dan menjadi seperti binatang. Dan Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan mereka, dan membawa mereka kembali kepada kemuliaan dan status yang tinggi dari keadaan mereka yang telah jatuh. Itulah cara Alkitab berbicara tentang ras manusia yang Allah telah ciptakan.

Ada beberapa orang yang mengaku sebagai pengajar-pengajar tersohor, dan para ilmuwan yang tidak mungkin salah, yang mengatakan bahwa pewahyuan Alkitab jelas bertentangan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka berkata bahwa dari tidak ada menjadi ada, dari suatu ruang hampa yang besar, alam semesta kita berasal. Mereka berkata bahwa tidak ada pribadi yang telah menciptakannya. Tidak ada yang merencanakan, tidak ada yang mendesain. Itu jadi dengan sendirinya. Dari tidak ada menjadi ada, semua itu terjadi. 

Mereka berkata bahwa dari sesuatu, yang datang dari ketiadaan, kehidupan melahirkan dirinya sendiri. Tidak ada yang menciptakannya. Itu terjadi begitu saja. Itu suatu accidental, dengan spontan melahirkan dirinya sendiri. Kemudian, mereka berkata, dari ketidaksengajaan kecil ini kemudian menghasilkan setitik protoplasma yang kemudian berevolusi, melalui berabad-abad, semua dari berbagai mahkluk hidup yang kita lihat di sekitar kita hari ini; berevolusi, kata mereka,  semua mahkluk hidup itu, sampai manusia sendiri merupakan hasil dari evolusi itu.     

Kata mereka teori itu adalah fakta yang menyakinkan. Mereka memperlihatkan semacam kera tak berekor di museum-musium di seluruh dunia, dan kelihatannya berharap bahwa itulah nenek moyang manusia.

Kita semua telah melihat gambaran mereka tentang apa yang disebut evolusi manusia, misalnya manusia berasal dari “manusia-monyet” (“ape-man”) anthropoid yang berevolusi hingga sampai pada bentuknya saat ini. Kita telah melihat gambar-gambar dan pameran-pameran seperti itu di musium-musium. Mereka telah mengkonstruksi hubungan-hubungan anthropoids dan manusia-monyet, dan akhirnya berkata bahwa manusia berevolusi, hingga sampai pada bentuknya hari ini. Mereka melakukan itu dengan sangat menyakinkan, dan kita telah diselimuti dan dibuat kagum oleh dugaan bukti-bukti “saintifik” mereka untuk evolusi manusia itu.

Khotbah ini berjudul “Omong Kosong Ilmu Anthropologi.” Inilah thesis kita yaitu bahwa semua ciptaan, kera tak berekor yang buas dan aneh itu tidak ada, namun itu hanya merupakan imajinasi, model-model plester yang dikonstruksi, sehingga semua itu hanyalah omong kosong; bahwa semua itu tidak berarti mengambarkan fakta-fakta yang sesungguhnya dan aktual.

Kita tidak harus berperang melawan kebenaran. Namun inilah faktanya: Teori hanyalah teori, dan hipotesis hanyalah hipotesis, dan dugaan hanyalah dugaan. Sebutan “ilmuwan” dalam mendukung teorinya ini dapat menjadi sebuta dan sebias kebanyakan suku penganut animis yang percaya takhyul dan fanatik. Dan, kebanyakan, nama dari sebutan “ilmuwan,” mereka telah mempertunjukkan kepada kita sebuah omong kosong atau olok-olok yang paling luar biasa dan tidak dapat dipercaya dalam sejarah manusia.

Pameran-pameran di musium-musium besar mengklaim membuktikan evolusi manusia dari jenis binatang yang lebih rendah. Namun apa yang disebut dengan bukti-bukti ini secara murni hanyalah teoritikal, lahir dari imajinasi, semata-mata hanyalah apa yang terbuat dari model-model plester, dengan sangat sedikit, jika ada, untuk mengatakan semua itu adalah suatu fakta. Namun mereka mempresentasikan secara saintifikal, factual, seolah-olah benar. Reputasi saintifik  digunakan untuk mempromosikan suatu penipuan dan olok-olok atau omong kosong yang akan membuat P. T. Barnum cemburu.

Model-model plester yang dipresentasikan itu, apa yang disebut manusia setengah moyet, tidak didasarkan pada fakta. Semua itu tidak benar. Semua itu hanyalah isapan jempol imajinasi liar, dan ditemukan melalui penggunaan plester dari Paris. Itulah tujuan kami mendemonstrasikan omong kosong anthropolohi ini.

Apa yang disebut “manusia-monyet,” yang dianggap sebagai nenek moyang ras manusia, telah dinamai menurut tempat di mana mereka ditemukan. Ada Manusia Nebraska (Nebraska Man), Manusia Jawa (Java Man), Manusia Peking (Peking Man), Manusia Heidelberg (the Heidelberg Man), Manusia Piltdown (the Piltdown Man) dsb.

 

MANUSIA NEBRASKA

 

Manusia yang dianggap paling tua adalah Manusia Nebraska – “Hesperopithecus haroldcookii” – itu adalah nama yang diberikan oleh para ilmuwan kepadanya. Hesperos  adalah kata kata bahasa Yunani yang berarti “barat” (“western”). Pithecus adalah kata bahasa Yunani untuk “monyet.” Harold Cook adalah orang yang menemukan fosil terkenal itu. Jadi “Hesperopithecus haroldcookii”adalah nama yang diberikan – “Manusia Monyet Barat penemuan Harold Cook” – Manusia Nebraska.

Sejumlah literatur yang luar biasa telah menulis tentang fosil dari ras Amerika Utara ini. Umur dari Manusia Nebraska ini diperkirakan satu juta tahun.

Apa yang ditemukan oleh Mr. Harold Cook di Negara Nebraska itu? Ia menemukan sebuah gigi! Ia menemukan hanya satu gigi! Gigi yang terkenal ini diuji oleh para ilmuwan tersohor di Amerika Serikat. Mereka berkata bahwa itu adalah bukti positif dari manusia pra sejarah di Amerika dan, tanpa diragukan, Manusia Nebraska hidup di sini paling kurang satu juta tahun yang lalu.

Sir Grafton Elliott Smith membujuk editor dari Illustrated London News untuk mengirim seorang reporter untuk mempelajari semuanya tentang ras manusia yang telah punah ini dan menuliskannya untuk artikel surat kabarnya. Dalam artikel yang telah diterbitkan itu terdapat gambar yang dibuat untuk gambaran manusia laki-laki dan perempuan dari ras yang telah menjadi fosil ini yang hidup di sini di Amerika satu juta tahun yang lalu. Namun gambar-gambar yang ditampilkan di halaman depan Illustrated London News itu digambar berdasarkan penemuan satu gigi!

Dr. William K. Gregory, curator dari American Museum of Natural History, dan professor paleontologi di Columbia University, menyebutkan “gigi seharga satu juta dollar,” dan ia menguraikannya bahwa mengatakan gigi itu adalah milik manusia purba yang berumur satu juta tahun adalah suatu perkiraan yang terlalu berani untuk itu.

Dr. Fairfield Osborn, paleontolog tersohor Amerika pada zamannya, mengalamatkan kepada the American Philosophical Society di Philadelphia, meletakkan “Hesperopithecus Haroldcookii” lukisan nenek moyang manusia itu di bawah pohon.  

Pada pengadilan tentang evolusi (Scopes evolution trial) di Dayton, Tennessee, William Jennings Bryan dilawan oleh sejumlah besar tokoh-tokoh saintifik ternama yang dipimpin oleh Dr. H. H. Newman dari University of Chicago. Di antara “bukti-bukti” untuk evolusi yang Dr. Newman dan para koleganya presentasikan adalah “Manusia Nebraska.”

Bryan tidak membuat jawaban apapun, kecuali mengatakan bahwa ia berpikir bukti itu terlalu terbatas untuk mendasarkan kesimpulan di atas sesuatu yang jauh dari kenyataan, dan Bryan meminta waktu dan bukti yang lebih banyak lagi.

Namun para ahli itu mengejeknya. Mereka mentertawakan dia. Mereka membuat lelucon untuk itu. Para ahli saintifik tersohor di dunia tahu bahwa Manusia Nebraska berumur satu juta tahun. The Scopes Trial telah berakhir. Bryan telah tiada. Namun kisah itu tidak pernah berlalu.

Pada tahun1927, dua tahun setelah Scopes Trial itu, seluruh kerangka tulang dari mana gigi itu tercabut ditemukan. Kemudian itu menyingkapkan rahasia gigi itu, yang di atasnya Manusia Nebraska didasarkan, yang pada kenyataannya adalah fosil seekor babi! Itu adalah gigi seekor babi! Itu adalah jenis babi yang telah punah di Amerika Serikat, namun dulu pernah ditemukan di seluruh kontinen ini dalam jumlah besar.

Itulah orang-orang yang mentertawakan William Jennings Bryan!  Itulah orang-orang yang menghubungkan seluruh ras manusia dari sebuah gigi babi! Itulah orang-orang yang bahkan menanggalkan umur ras manusia itu sekitar satu juta tahun, berdasarkan bukti dari satu gigi seekor babi! Manusia Nebraska. Itu adalah salah satu dari omong kosong ilmu anthropologi.

Saintifik tersohor kemudian menemukan apa yang disebut dengan Southwest Colorado Man. Itu telah terbongkar bahwa “penemuan” baru itu didasarkan pada penemuan gigi seekor kuda.

“Berikan kami sebuah gigi,” seru para ahli, “dan kami akan menciptakan seluruh fosil ras manusia.” 

 

MANUSIA-KERA DARI JAWA

 

Selanjutnya kita sampai pada anthropoid (kera tidak berekor yang menyerupai manusia) yang paling terkenal yang diduga sebagai nenek moyang kita – Manusia-Kera dari Jawa (Java Ape-Man), Pithecanthropus Erectus.  Anthropus – kata bahasa Yunani yang berarti manusia. Erectus – berdiri tegak. Jadi, “Pithecanthropus Erectus” – manusia-kera yang berdiri tegak, berdiri tegak. Manusia-Kera dari Jawa (Pithecanthropus Erectus)  adalah yang paling terkenal dari semua “penemuan” anthropologikal ini.

Pada tahun 1891, Dr. Eugene Dubois, seorang penganut evolusi yang sangat bersemangat, seorang dokter di Angkatan Perang Belanda yang ditempatkan di Jawa, di Jawa Tengah ia menemukan potongan-potongan kecil dari bagian atas tengkorak kepala, potongan-potongan fosil tulang paha, dan beberapa gigi geraham. Fosil-fosil itu tidak ditemukan di tempat yang sama pada waktu yang sama. Fosil-fosil itu ditemukan di sungai kuno bercampur dengan banyak peninggalan dan fosil tulang-tulang binatang yang telah punah. Para ahli evolusi berkata bahwa mahkluk itu hidup tujuh ratus lima puluh ribu tahun yang lalu.

Dr. F. Stuart Chapin, dalam bukunya, Social Evolution (Century Company, 1913) berkata, “Itu adalah suatu keberuntungan dimana kebanyakan dari bagian kerangka manusia yang berbeda seharusnya masih terpelihara, karena dari spesiesmen ini, kita dapat merekonstruksi seluruh keberadaannya. Manusia ini berdiri di persimpangan antara anthropoid [seekor kera tak berekor yang menyerupai manusia] dan manusia sekarang.” Dalam bahasa yang umum, Dr. Chapin menyebut “Manusia-Kera dari Jawa” adalah mata rantai yang hilang antara manusia dan kera, antara keberadaan manusia sekarang dan anthropoid. 

Namun sejak dari semula para ilmuwan saling berselisih pendapat berhubungan dengan tulang-tulang ini. Beberapa orang berkata bahwa tulang-tulang itu berasal dari tulang manusia, beberapa berkata itu tulang kera (an ape), beberapa berkata itu tulang kera baboon (a baboon), dan beberapa berkata itu tulang monyet (a monkey). Seseorang yang berotoritas menulis, “Tidak lama setelah penemuan ini, dua puluh empat ilmuwan terkemuka mengadakan pertemuan di Eropa. Sepuluh orang berkata bahwa itu adalah tulang kera; tujuh orang berkata, itu tulang manusia; dan tujuh orang berkata tulang-tulang itu adalah mata rantai yang hilang.”  Professor Virchow dari Berlin berkata, “Tidak ada bukti sama sekali bahwa tulang-tulang ini merupakan bagian-bagian dari satu mahkluk yang sama.” Bahkan H. G. Wells, sejarahwan yang sangat percaya tentang evolusi, mengakui bahwa tulang-tulang itu adalah tulang-tulang kera, atau kemungkinan besar adalah dua kera. Dan, akhirnya, Dr. Dubois sendiri, orang yang menemukan tulang-tulang itu dan mengidentifikasikan tulang-tulang itu sebagai tulang-tulang dari mata rantai yang hilang, membalikkan pendapatnya dan menyimpulkan bahwa tulang-tulang itu adalah tulang dari beberapa macam siamang [sejenis kera]. 

Itu adalah dasar “Pithecanthropus Erectus” yang terkenal sampai ke seluruh dunia yang ditemukan di musium-musium dan buku-buku yang mengklaim menguraikan evolusi manusia.

Segera setelah itu pencarian dimulai lagi untuk menemukan “Pithecanthropus” lainnya di Jawa. Artikel surat kabar yang menulis tentang “Pithecanthropus” yang kedua menulis demikian: “Tengkorak yang Masih Utuh dari Manusia Pra-Sejarah, Mata Rantai yang Hilang kini Ditemukan. Professor Heberlein, dari Netherlands Government Medical Service, telah menemukan tengkorak kepala yang masih utuh dari suatu mahkluk semacam kera yang diakui oleh beberapa orang dan oleh ilmu pengetahuan sebagai ‘mata rantai yang hilang,’ yaitu ‘Pithecanthropus Erectus.’ Penemuan Professor Heberlein, yang lengkap dan benar, harus ditahan di Dutch East India, sebagai barang peninggalan yang terlarang.”        

Namun apa hebatnya penemuan itu? Ternyata itu adalah tulang lutut dari jenis gajah yang telah punah – salah satu dari omong kosong ilmu anthropologi!

 

MANUSIA HEIDELBERG

 

“Manusia-Kera” yang terkenal lainnya yang telah dipamerkan di musium-musium dan gambar-gambar buku biologi adalah yang dikenal sebagai  Heidelberg Man (Manusia Heidelberg). Ini disebut “manusia purba” yang dikonstruksi dari tulang rahang, yang ditemukan oleh Dr. Schoetensack di dekat daerah Heidelberg, Jerman. Pertama-tama dikatakan bahwa itu berumur tujuh ratus ribu tahun. Namun kemudian, mereka berkata bahwa itu hanya berumur tiga ratus tujuh puluh lima ribu tahun. Beberapa dugaan asal-asalan harus dilakukan. Siapapun boleh menduga sendiri-sendiri!

Tulang rahang ini juga menyebabkan perpecahan di antara para ahli anthropologi. Beberapa berkata tulang itu adalah yang mata rantai yang menghubungkan antara manusia dan kera. Yang lain berkata bahwa tulang itu tidak berharga. Seorang ilmuwan berkata, “Tulang ini masih tidak menunjukkan penghubung mata rantai antara manusia dan kera anthropoid.” Ilmuwan yang lain berkata bahwa itu memiliki kesamaan dengan tengkorak kepala orang Eskimo modern. Ilmuwan yang lain berkata Anda dapat berjalan-jalan di sepanjang jalanan kota dan akan melihat orang-orang di manapun yang memiliki rahang yang bentuknya sama dengan “Heidelberg Man.” 

Semua itu, kemudian, adalah kreasi plester, pembentukan, dari sepotong tulang rahang, tubuh seperti kera, yang diciptakan oleh imajinasi belaka, dan ditempatkan di musium-musium, di mana itu dikatakan, “Ini membuktikan evolusi manusia.” Itu adalah omong kosong lainnya dari ilmu anthropologi – Heidelberg Man! 

 

MANUSIA PILTDOWN

 

“Bukti” teori evolusi yang terkenal selanjutnya adalah “Piltdown Man” (“Manusia Piltdown”). Pada tahun 1912, seorang ahli fosil amatir yang bernama Charles Dawson membawa beberapa tulang dan peralatan-peralatan primitif kepada Dr. Arthur Smith Woodward, seorang paleontolog terkenal di British Museum. Dawson berkata bahwa ia menemukan tulang-tulang itu di Piltdown, di bagian selatang Inggris. Ia membawa potongan-potongan rahang, dua gigi geraham, dan potongan tengkorak kepala.  Tulang-tulang itu diumumkan oleh para ahli anthropologi kira-kira berumur satu juta tahun.

Sejumlah besar literatur saintifik telah menulis tentang “Piltdown Man” ini. Mereka membuat gambar-gambar plester dari keseluruhan tubuh dari penemuan-penemuan ini. Mereka membuat gambar model manusia itu untuk buku-buku biologi. Encyclopedia Britannica menyebutnya “Piltdown Man” penemuan penting kedua setelah “Pithecanthropus Erectus.”  Dr. Henry Fairfield Osborn, ahli paleontologi Amerika yang terkenal dari American Museum of Natural History, berkata bahwa “Piltdown Man” adalah “tidak perlu dipertanyakan lagi sebagai manusia dari zaman Upper Pilocene dan menunjukkan umur geologikal yang lebih besar dari pada Pithecanthropus, Manusia-Kera dari Trinil (Trinal Ape-Man).”   

Kemudian lelucon ini tersingkap: Pada bulan Oktober 1956 Reader’s Digest meringkaskan artikel dari Popular Science Monthly, yang berjudul “The Great Piltdown Hoax” (Omong Kosong Piltdown Tersohor). Akhirnya ditemukan bahwa tulang rahang itu adalah milik seekor kera yang telah mati hanya sekitar lima puluh tahun sebelum ditemukan. Gigi itulah yang telah membuat perbedaan bentuk aslinya, dan kedua gigi dan tengkorak kepala itu ternyata diberi warna palsu dengan bikhromat kalium karbonat (bichromate of potash) agar terlihat berasal dari zaman purba! Dari penemuan itu mereka menciptakan “Piltdown Man” dan menempatkannya di British Museum dan memasukkan gambarnya dalam buku-buku yang anak-anak pelajari selama beberapa generasi. Dan itu adalah penipuan yang diciptakan yang digunakan untuk melawan Bryan di Scopes Trial.  Itu adalah satu lagi sebuah omong kosong dari ilmu anthropologi!

 

MANUSIA NEANDERTHAL

 

Saya tidak memiliki waktu untuk membahas tentang Neanderthal Man (Manusia Neanderthal). Di dekat Dusseldorf, Sungai Dussel melewati suatu ngarai kecil yang curam nan indah yang disebut Neanderthal Gorge. Pada salah satu sisinya terdapat karang batu gamping. Dan di atas karang batu gamping itulah, di sana ditemukan beberapa tulang dan kemudian hal yang sama segera dimulai kembali. Akhirnya, salah satu ilmuwan tersohor berkata, bahwa terjadi perdebatan di antara para ilmuwan sendiri baik berhubungan dengan umur fosil maupun apakah itu tulang mansia atau binatang.

 

            Berikut ini beberapa pendapat dari para ilmuwan tersohor tentang “mata rantai yang hilang”:

   Professor Branco, Berlin University: “Manusia muncul tiba-tiba dalam suatu periode Quaternary. Ilmu paleontologi tidak menjelaskan apapun kepada kita tentang subyek ini. Ilmu itu tidak dapat membantu untuk mengetahui nenek moyang manusia.”

   Erich Wassmann dalam Modern Biology and the Theory of Evolution: “Seluruh hipotesa asal usul manusia tidak didukung oleh satu jenus tunggal dari satu fosil sepesies.” 

   Seorang Professor tersohor yang bernama Virchow dari Berlin: “Manusia –Kera tidak memiliki eksistensi dan mata rantai yang hilang masih semu.”

   Austin H. Clark, seorang ahli biologi dari Smithsonian Institution: “Mata rantai yang hilang adalah suatu misrepresentations (kesalahan dalam mempresentasikan).

   Professor William F. Straus, Jr.  dalam Quarterly Review of Biology: “bentuk-bentuk masa transisi antara monyet dengan manusia, yang popular dengan sebutan “mata rantai yang hilang”, adalah sesuatu yang mencolok oleh karena tidak hadirnya mereka pada hari ini sebagaimana keberadaan mereka ratusan tahun yang lalu.”

   Dan Professor Rendle Short: “Dari pada kembali mencari manusia purba, lebih baik lihatlah penampilan kita sendiri hari ini.” 

 

Ribuan tahun yang lalu Anda sudah mengenal Aristoteles dan Anda sudah mengenal Plato, dan Anda sudah mengenal Socrates, dan Anda sudah  mengenal Perikles dan Pheneus. Rubuan tahun yang lalu Anda sudah mengenal  Euripides, Aristophanes, Sophocles, Herodotus, Democritus, dan Thucydides. Ribuan tahun yang lalu Anda sudah mengenal orang-orang bijak, para intelektual tersohor dari Yunani yang hidup pada zaman Periode Keemasan atau Golden Period of Pericles dan itu sudah ribuan tahun yang lalu. Dan ribuan tahun yang lalu kita juga sudah mengenal orang-orang yang memiliki kerohanian yang luar biasa seperti Daud, Yesaya. Dan hal ini sungguh bertentangan dengan ilmu evolusi yang mengatakan bahwa ribuan tahun manusia adalah kera yang kemudian berevolusi menjadi manusia yang memiliki inteltual dan kerohanian. Evolusi mengatakan bahwa keberadaan yang terus berkembang menjadi baik dan lebih baik. Mereka mengatakan bahwa kita berasal dan binatang dan sekarang kita adalah manusia dan besok kita menjadi malaikat.  Tuhan Yesus Kristus hidup sekitar dua ribu tahun yang lalu, begitu juga dengan Yohanes, Petrus dan Paulus. Maka nampak bagi saya bahwa jika kita bandingkan dengan manusia sekarang manusia bukan makin berkembang menuju yang lebih baik.


 

[1] Diringkaskan oleh Dr. R. L. Hymers, Jr