Daftar Isi

 

FILIPUS SEORANG PENGINJIL

(PHILIP THE EVANGELIST)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diterjemahkan Made Sutomo, M.A.

 

Kisah Para Rasul 8:5-8

07-31-77

 

Kepada para paduan suara, saya mengucapkan terima kasih atas pelayanan Anda. Anda sekalian telah menyanyi dengan baik, dan itulah cara yang terbaik untuk menyanyi.  Anda tahu apa yang akan saya lakukan jika saya mengatur paduan suara ini?  Saya akan mengadakan makan malam, dan akan menikmati makanan yang lezat dengan mereka yang telah mengajar selama dua puluh lima tahun lebih.  Dan jika mereka tidak mau, saya akan mendesak mereka khususnya untuk staf paduan suara.  Tahukah Anda bahwa Anda sekalian adalah orang-orang yang laur biasa.  Saya mencoba mengatur hal ini dengan baik sehingga saya dapat kelonggaran untuk berkhotbah.  Saudara mungkin mengesampingkan pelayanan seperti itu.  Tetapi saya tidak akan karena sebentar saya akan menyinggungnya.  Saudara yang mengambil buku-buku himne dari mimbar tadi, saya tidak tahu apakah Anda ingin menjauhkan buku-buku itu dari saya.  Saya tidak tahu apa maksudnya. Sebenarnya saya membutuhkan buku-buku tersebut karena saya ingin memberitahukan sesuatu tentang lagu Himne.

Baiklah, kepada saudara-saudara pendengar Radio lewat Stasiun KRLD yang mendengarkan Bible Institute kami melalui stasiun KCBI, dengan rasa gembira saya menyambut Anda.  Saya adalah gembala sidang dari gereja The First Baptist Church di Dallas.  Saya akan menyampaikan berita fiman Allah dengan judul FILIPUS SEORANG PEMENANG JIWA – FILIPUS SEORANG PENGINJIL.  Dan kita akan membaca bersama-sama Kisah Para Rasul pasal delapan dari ayat kelima hingga ayat delapan. Pagi tadi kita telah melihat ayat keempat dan malam ini kita akan mulai ayat kelima.  Dan saya akan mengkhotbahkan seluruh pasal.  Tetapi kita akan membaca bersama-sama dari ayat lima hingga ayat delapan.  Dan saudara-saudara yang mendengarkan radio saya mengajak Anda untuk membuka Alkitab setelah itu kita akan membaca bersama.  Firman Tuhan tertulis sebagai berikut:

 

Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.  Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.  Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang disembuhkan.  Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu (Kis. 8:5-8)

 

Ada satu alasan mengapa Filipus pergi ke Samaria.  Sebagaimana saya telah mengkhotbahkannya hal-hal ini pada minggu-minggu sebelumnya, di mana di Yerusalem terjadi penganiayaan yang hebat terhadap gereja di sana.  Dan orang-orang Kristen Yahudi yang berbahasa Yunani (Kristen Helenistik), mereka tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.  Saulus yang memimpin penganiayaan itu, membawa malapetaka yang hebat bagi gereja.  Kemudian kita menemukan bahawa dalam peristiwa itu Filipus dikatakan meninggalkan Yerusalem dan pergi ke Samaria.  Ada dua alasan kebangunan rohani besar di bawah pelayanan Filipus di Samaria.  Alasan pertama adalah karena orang-orang Samaria memandang orang-orang Yahudi dengan jijik dan penuh kebencian.  Imam agung di Yerusalem tidak ada yurisdiksi atau hak hukum atas Samaria.  Ketika Filipus pergi ke Samaria, ia memiliki kesempatan terbuka secara penuh untuk memberitakan Injil Kristus kepada mereka.  Alasan kedua yang menyebabkan terjadinya kebangunan rohani besar di Samria adalah karena pelayanan mula-mula dari Tuhan Yesus di daerah tersebut.  Anda mungkin ingat Yohanes berkata tentang Yesus, “Ia harus melintasi daerah Samaria” (Yoh. 4:4).  Di Samaria Yesus berbicara kepada perempuan Samaria dan seluruh penduduk Sikhar datang menemui Dia dan percaya kepadaNya.  Jadi, dengan demikian, Filipus memperoleh pintu terbuka untuk memberitakan Injil Yesus Kristus di daerah Samaria.

 

Tentang Filipus, saya ingin mencatat beberapa pokok penting.   Pertama, tentang berita yang ia khotbahkan.  Lukas menulis, “Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ” (Kis. 8:5).  Dalam pasal yang sama, Roh Kudus yang mengutus Filipus ke jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza, dan ketika berdiri di sana, tiba-tiba lewatlah sida-sida dari Etiopia dengan mengendarai keretanya.  Kemudian Allah berkata kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”   Dan pada saat itu Filipus mendapai bahwa sida-disa itu sedang membaca kitab nabi Yesaya 53:7-8.  Setalah Filipus mendengar sida-sida itu membaca kitab Yesaya tersebut, ia bertanya kepadanya, “Mengertikah tuan apa yang tuan baca?”  Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?”  Setalah selesai membaca kitab Yesaya 53 itu, sida-sida itu bertanya kepada Filupus, “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya atau tentang orang lain?”  Menjawab pertanyaan itu, “Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Inji Yesus Kristus kepadanya” (Kis. 8:26-35).  Bukankah itu satu cerita yang menarik tentang seseorang yang bertugas menyampaikan berita Injil?  Apakah dia di atas mimbar atau sedang bersaksi di pinggir jalan, atau bersaksi kepada temannya.  Dua kali dicatat oleh Lukas tentang Flipus memberitakan Yesus Kristus (Kis. 8:5; 35).  Memberitakan Injil Yesus Kristus adalah satu perkara yang indah dan mulia.

Sebagai pemberita Injil, satau pertanyaan penting yang perlu kita tanyakan diri kita adalah, “Apakah seharusnya isi berita yang disampaikan oleh seseorang yang diutus oleh Allah?”  Sekarang ada banyak topik-topik yang menarik yang dibahas.  Misalnya: penelitian buku-buku, diskusi-diskusi tentang kejadian-kejadian yang masih hangat, yakni hal-hal yang sering terjadi, situasi-situasi politik, situasi-situasi ekonomi, situasi kemasyarakatan, situasi-situasi nasional dan internasional.  Jadi, ada banyak isu-isu kontemporer di dunia yang tanpa akhir, dan hal-hal tersebut akan menarik minat para pelayan Tuhan untuk mengkhotbahkannya di atas mimbar gereja.  Untuk memperoleh informasi-informasi tersebut, ia bisa berlangganan majalah Reader’s Digest atau United News and World Report, dan di sana mereka akan memperoleh bahan khotbahnya minggu demi minggu.  Tetapi, apakah Anda sadar bahwa bukan hal-hal seperi itu yang dibutuhkan oleh orang yandang ke gereja.  Anda bisa bertanya siapa kira-kira orang yang mau pergi ke gereja untuk mendengarkan ulasan tentang hal-hal yang sudah dibicarakan oleh para komentator di radio, di televisi, dalam semua majalah, dan bahkan kita juga bisa membacanya di surat-surat kabar setiap hari?  Apa yang kita rindukan dan cari adalah firman Allah.  Orang yang datang ke gereja ingin tahu apakah ada Allah yang diberitakan oleh seorang pengkhotbah Injil?   Apakah Tuhan berbicara tentang sesuatu kepada kita? Apakah ia berbiacara tentang berita dari sorga?  Dan berita pokok utama dari berita yang harus diberitakan adalah tentang Kristus.  Yakni: Yesus, yang lahir dari seorang wanita perawan.  Pelayanan Yesus di Galilea, Samaria, Yudea.  Yesus mati di atas kayu salib menanggung dosa-dosa manusia.  Yesus dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ketiga, naik ke sorga.  Di sorga, Ia berdoa syafaat di tahta anugerahNya, dan Ia akan kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.  Jadi, sekali lagi, beritanya harus tentang Yesus.

Untuk saya, memberitakan Kristus adalah satu kehormatan yang luar biasa mulianya.  Lihat orang-orang di sekitar saudara.  Lihat begitu banyaknya orang-orang yang hadir di gereja ini pada hari minggu malam, pada musim panas bulan Juli.  Kalau saya berdiri di mimbar ini dan mengkhotbahkan tentang ekonomi, tentang politik, atau tentang pembaharuan-pembaharuan kultur, atau tentang peninjauan buku-buku, atau tentang kejadian-kejadian yang sedang terjadi, maka saya percaya orang-orang akan datang hanya sekali.  Beberapa di antara mereka mungkin hanya datang dua kali. Tetapi, tidak beberapa lama, sama sekali tidak ada orang yang akan datang, dan itu berarti tempat ini akan kosong.  Tetapi, seperti Filipus, Kristus harus menjadi inti berita mimbar.  Dengan demikian, orang-orang yang datang ke gereja akan datang dan terus datang lagi.  Berita itu akan menjadi manna (roti) untuk jiwa yang lapar, dan merupakan air hidup bagi hati yang dahaga.

Kedahsyatan dari Roh Allah yang bekerja dalam khotbah yang meninggikan Yesus Kristus, luar biasa untuk di lihat. Sebagai contoh tentang John Newton.  Itulah sebabnya tadi saya menaruh buku-buku himne di dekat mimbar karena saya mau mencari lagu Himne yang dikarang oleh John Newton.  Saya telah menemukan bahwa keseluruhannya Ada lima buku himne yang ditulis oleh beliau.  Dia dan William Cowper, seorang penyair Inggris yang menulis lagu-lagu himne, seperti lagu “Ada mata Air Penuh dengan Darah” (There Is a Fountain Filled With Blood).  Lagu himne yang terakhir dari John Newton yang telah diterbitkan berjudul “Sangat Besar AnugerahNya: Yang bri aku selamat” (Amazing Grace: How sweet the sound that saved a wretch like me).  John Newton lahir pada tahun 1725, dan ia seorang anak yatim.  Ibunya meninggal ketika ia masih kecil.  Ayahnya adalah seorang kapten pelaut.  Dalam kehidupan sebagai anak yatim, John Newton makin lama makin jauh terhilang dan kondisinya sangat menyedihkan.  Selanjutnya dikatakan bahwa ia tertarik kepada pelaut Inggris, namun akhirnya ia ditinggal dan didera.  Kemudian, ia menjadi seorang pedagang budak di Afrikan dan ia terjerumus ke dalam kondisi yang paling rendah dalam hidupnya. Barangkali tidak ada seseorang pun yang mengalami hidup seburuk yang dialami oleh John Newton.  Ia jatuh ke dalam dosa yang sangat kotor dan najis.  Namun, dalam kondisi seperti itu ia menemukan anugerah Allah di dalam Kristus yang tidak ada bandingannya.  Berikut ini adalah syair tentang pertobatannya yang luar biasa itu.

 

Aku melihat Seseorang tergantung di atas kayu salib,

Dalam kepedihan dan berlumuran darah,

Dengan mata lesu Ia menatap aku,

Sedekat mungkin aku berdiri dekat salibNya.

 

Sesungguhnya, sampai akhir nafasku,

Tidak akan kulupakan tatapan itu;

Kelihatannya membayar aku dengan kematiaNya,

Walaupun Ia tidak berbicara sepatah kata pun.

 

Dalam kesadaranku aku merasa dan memiliki rasa bersalah,

Dan menerjunkan aku ke dalam kesedihan,

Aku melihat dosa-dosa-dosaku darahNya telah tercurah,

Dan telah menolong untuk memaku Dia di sana.

 

Aduh! Aku tidak tahu apa yang aku lakukan,

Tetapi sekarang air mataku telah sia-sia:

Menuju kemanakah jiwaku yang gemetar?

Karena aku Tuhanku telah mati.

 

Tatapan kedua Ia berikan, di mana Ia berkata,

“Aku secara bebas mengampuni semuanya;

Darah ini adalah harga tebusanmu;

Aku mati agar engkau memiliki hidup.”

 

                        O, dapatkah di atas salib

                        Juruselamat mati untuk aku?

                        Jiwaku bersukacita, hatiku penuh,

                        Untuk berpikir Ia mati untuk aku!

                                    [Jihn Newton, “Aku Melihat Seseorang Tergantung di atas Salib”]

 

Betapa manisnya kesaksian itu.  Hanya menatap pada Tuhan Yesus.  Saya menyelidiki perpustakaan saya dan saya menumkan satu prasasti di atas kuburannya di sebuat kota kecil di Inggris yang bernama Olney. Berikut ini adalah kata-kata tersebut:

 

“John Newton, pernah sebagai orang kafir dan orang yang jangak (tidak menghormati wanita), seorang pelayan dari para budak di Afrika karena kekayaan anugerah dari Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus, telah menyelamatkan, memulihkan, mengampuni dan akhirnya ditunjuk untuk memberitakan iman yang telah lama dengan rela untuk dihancurkan.”

 

            Bukankah itu seperti sorga.  Tidak heran kalau seorang seperti dia bisa menulis, “Sangat Besar AnugerahNya, yang telah kuterma.”  Dalam syair yang begitu indah itu saya telah membaca kesaksian keselamatannya.  Ia juga memberitakan Yesus.  Saya melihat ada kuasa dalam Injil.  Ada kesanggupan Allah dalam pertobatan di dalam nama Yesus, Tuhan kita.  Itulah berita yang dikhotbahkan oleh Filipus, seorang diakon awam itu.

 

Kedua, tentang amanat yang Allah mau agar umatNya menaatinya.  Pokok ini  terdapat dalam Kisah Para Rasul 8:12, yang dikatakan sebagai berikut: “Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang kerajaan Allah, dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.”  Dan sekarang pada bagian terakhir, kita membaca: “Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di satu tempat yang ada air.  Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”  [Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.”  Jawabnya: Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”]  Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filpus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi.  Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita” (Kis. 8:36-39).  Perintah yang Filipus harus taati terdapat dalam kata-kata: “Lihat di situ ada air; apa halangannya, jika aku dibaptis?”  Saya telah berpikir tentang hal itu selama lima puluh tahun menggembalakan, dan saya percaya itu hal yang benar yang harus dilakukan oleh setiap petobat yang benar.  Ia akan berkata, “Aku telah menemukan Tuhan, dan aku mau dibaptis.”

Bila kita membaca tentang pelayanan Yohanes Pembaptis, ia berkata bahwa ia menerima perintah itu dari sorga.  Hal itu diadakan oleh Allah. Pertama kali kita melihat dalam Alkitab sorang pria melihat seorang pria lainnya dan selanjutnya membasuh dia, mencelup dia, membaptis dia, adalah Ioanes ho baptistes – Yohanes Pembaptis.  Pada saat itu ada banyak orang benama Yohanes, seperti halnya sekarang ini.  Tetapi Yohanes Pembaptis melakukan sesuatu yang luar biasa yang pernah di lihat oleh dunia. Orang Yahudi banyak melakukan acara pembersihan – mereka mencuci kaki mereka, mereka mencuci tangan mereka, mereka mencuci kepala mereka, mereka mencuci badan mereka, mereka mencuci jambangan mereka, mereka mencuci panci mereka – tetapi mereka melakukannya sendiri. Tetapi, dalam cerita Yohanes, pertama kali kita menemukan dunia  ada seseorang mengambil seseorang dan membasuh dia, mencelupkan dia, membaptis dia, dan orang itu adalah Yohanes Pembaptis.  Ia berkata bahwa ia mendapat perintah dari sorga.  Dan Tuhan Yesus memerintahkan hal itu dalam Amanat AgungNya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Dan para murid Yesus dengan setia dan penuh ketaatan menjalankan perintah itu.  Dalam Alkitab, kita membaca bahwa mereka yang percaya dikatakan memberi diri dibaptis.  Pada hari Pentakosta, orang-orang Yahudi, baik pria maupun wanita, mereka bertanya kepada Petrus, “Apakah yang harus kami perbuat?”  Petrus menjawab, “Bertobat, dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis. 2:37, 38).  Itulah respon pertama sida-sida dari Etiopia itu, “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” (Kis. 8:36).  Jadi seseorang yang telah berjumpa dengan Tuhan Yesus, mereka harus berkata, “Aku telah menerima Kristus, dan sekarang aku mau dibaptis, karena itu adalah perintah Allah dalam Alkitab.

 

Apakah Anda tahu bahwa kadang-kadang Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam perkara-perkara yang luar biasa.  Namun, ketika kita melihatnya secara teologis, hal itu akan sangat sulit untuk membelanya.  Akan tetapi, dalam keadaan darurat dan dalam keadaan empiris, merupakan berkat Allah.  Salah satu dari gereja kami di desa, ada seorang bapak memiliki toko umum.  Ia bukan seorang Kristen.  Saya mengunjungi dia dan berdoa kepadanya, bebicara dengannya, membaca Alkitab dengannya, mengundang dia untuk menerima Kristus.  Pada satu hari Minggu, ia meresponi undangn untuk menerima Tuhan.  Ketika saya memberi undangan kepada jemaat untuk menerima Tuhan, saya melihat ia berdiri di bagian belakang kursi gereja.  Saya akhirnya turun dari mimbar dan memberi salam kepadanya.  Dan ia berkata kepada saya, “Saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat saya.  Saya memohon Yesus mengampuni dosa-dosa saya.  Dan saya mau menjadi orang Kristen.”  

Menanggapi pernyataannya, saya berkata “Indah sekali.”  Setelah itu saya mengundang dia untuk duduk di kursi depan.  Akan tetapi ia menolak dan berkata, “Tidak.  Sebagai orang berdosa, saya telah memutuskan bahwa sepanjang hidup saya, saya tidak akan duduk di kursi depan, dan saya tidak akan mau dibaptis.”

Lalu saya berkata kepadanya, “Kalau begitu Anda tidak akan diselamatkan.”  Sekarang, secara teologis, hal tersebut sulit untuk dimengerti.  Apakah duduk di kursi bagian depan akan menyelamatkan Anda?  Apakah baptisan air akan membasuh dosa-dosa Anda?  Tentu saja tidak.  Karena hanya Kristus sendiri yang menyelamatkan kita.  Dan hanya darahNya yang akan membasuh dosa-dosa kita.  Lalu kemudian saya berkata kepadanya, “Jika Anda tidak mau datang maju ke depan dan duduk di depan dan memberi diri dibaptis, maka Anda tidak akan selamat. Dan bila Anda berpaling dan Anda pulang, Anda tetap sebagai orang berdosa.”  Mendengar kata-kata saya itu, dia kaget dan heran.  Saya melihat di wajahnya ada satu peperangan terjadi dalam jiwanya.  Saya berpikir, kalau seandainya dia berpaling dan tidak menerima anjuran saya, maka dia akan menjadi orang yang terhilang.  Tetapi, Tuhan telah membuatnya demikian.  Bila seseorang memiliki hati yang tulus di hadapanNya dan memberikan hatinya kepada Yesus, dan datang ke depan di hadapan jemaat, di hadapn para malaikat, dan mau menerima baptisan, itu adalah sesuatu yang dirindukan hatinya, dan hal itu satu mujizat.  Setelah beberapa saat bergumul, akhirnya bapak itu mau maju kedepan, dan Tuhan Yesus telah memenangkan jiwanya.  Selanjutnya saya berdoa untuk dia dan sesudah itu saya memperkenalkan dia kepada jemaat sebagai petobat baru dan calon baptisan.  Kali terakhir saya bertemu dengannya, ia sudah menjadi pemimpin Sekolah Minggu di gereja tersebut.  Dan juga sebagai pemimpin dari Rukun Tetangga / Brotherhood dari desa tersebut.  Tadi saya telah berkata bahwa adalah sulit memberi pembelaan secara teologis.  Tetapi, secara empiris, secara praktis, bila Allah berbicara kepada seseorang, maka orang tersebut akan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, dengan demikian ia akan diselamatkan. Dan itu satu kehormatan yang penuh sukacita.  Dengan demikian, adalah satu hal yang sangat penting untuk memperkenalkan Yesus kepada orang-orang yang belum percaya di mana saja di dunia ini.  Untuk saya, saya menemukan Yesus sangat mulia dan sebagai kekasih jiwa saya.  Oleh sebab itu, setiap orang yang meresponi undangan Yesus harus berkata, “Aku mau dibaptis!”, “Lihat di situ ada air, apakah halangannya jika aku dibaptis” (Kis. 8:36).

Ketiga, dan sebagai penutup, saya mau Anda melihat tentang roh dari para orang-orang yang bertobat.  Lukas melaporkan, “Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi.  Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita” (Kis. 8:39).  Dan hal itu juga terjadi di seluruh kota – “Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.  Dan “... mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu... Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis. 8:5-8).  Secara universal hal itu sangat benar.

 

Tidak ada orang yang dapat menipu kita seperti Setan.  Saya sungguh-sungguh kagum akan kesanggupannya untuk menipu.  Mengapa ia harus mengambil anak muda, ia bahkan mengambil anak laki-laki dan anak wanita. Dan Setan senantiasa berbisik ke telinga mereka dengan berkata, “Jangan engkau berikan hatimu kepada Yesus.  Pikirkan baik-baik bahwa engkau akan kehilangan waktu-waktumu yang indah, kenikmatan dan kebahagiaan di duni ini. Jika engkau menjadi orang Kristen, maka engkau akan kehilangan semua itu.”  Tahukan Anda bahwa tidak ada kebohongan sehebat dan selicik itu.  Namun demikian, kita harus tahu bahwa tidak sukacita dan kebahagiaan seperti yang kita peroleh dalam Yesus.  Di dalam Yesus tidak ada kepahitan, tidak ada kegelapan, tidak ada penyesalan, tidak ada keputus asaan.  Kalau saya mencari calon orang-orang yang akan bunuh diri, saya akan mencari di luar gereja, dan bukan di dalam gereja, di antara umat Tuhan.  Mengapa?  Karena orang-orang yang paling bahagia di dunia adalah umat Tuhan.  Mereka adalah orang-orang yang telah menemukan kebahagiaan dan hidup yang berkelimpahan. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang bahagia.  Itu adalah kehidupan orang Kristen.  Hal itu tampak jelas dalam hidup sida-sida stelah ia menerima Kristus.  Itulah sebabnya dikatakan: “Ia meneruskan perjalannya dengan penuh sukacita” (Kis. 8:39).

Sebagaimana Anda ketahui bahwa minggu lalu saya pergi ke Sekolah Alkitab Musim Liburan (Vacation Bible Shool) kita.  Saya senang sekali melakukan hal itu.  Orang-orang berkata kepada saya, “Pendetaku, bukankah ada banyak hal yang Anda telah lakukan, mengapa Anda masih melakukan hal itu.”  Pertnayaan itu saya jawab bahwa terus terang saya memiliki waktu yang terbaik di dunia.  Ketika saya ada di situ, saya mengambil sebuah kursi kecil, dan saya duduk dengan anak laki-laki dan anak-anak perempuan yang masih kecil dan mereka menyanyi untuk saya.  Mereka memabaca ayat Alkitab dan mereka memberikan saya hadiah kecil.  Saya teringat ketika saya masih mengajar anak-anak SMP, saya mengajar mereka menyanyi.  Salah satu lagu itu adalah sebagai berikut.

 

Pada hari Senin, aku bahagia

Pada hari Selasa, penuh sukacita

Pada hari Rabu, Aku ada damai dalam hati

Tidak ada yang bisa mengacurkan.
Pada hari Kamis, dan Jumaat

Aku berjalan dalam terang

Dan pada hari Sabtu ada satu hari sorgawi

Dan hari Minggu senantiasa cerah.

O, glori, glori, glori

O, glori bagi Anak Domba

Haleluya Aku selamat

Aku sungguh-sungguh bersukacita.

O, glori, glori, glori

O, glori bagi Anak Domba Allah

Haleluya, Aku selamat

Dan berjalan menuju tanah perjanjian.

Ketika saya melihat anak-anak laki-laki dan perempuan itu menyanyikan lagu tersebut, saya berpikir dalam hati, dengan pertolongan Tuhan saya ingin menjaga mereka untuk tetap dalam iman.  Sehingga mereka tidak mengenal dosa, tidak mengenal hidup yang kotor. Tetapi sebaliknya mereka akan memiliki kehidupan yang bahagia, penuuh sukacita dan cerah.  Seperti sida-sida itu, “Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita” (Kis. 8:39).  Dalam pasal yang sama hal yang sama dicatat, “Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis. 8:8).  Sebelum saya pergi ke sorga, saya ingin melihat kebangunan besar terjadi di kota.  Saat ini saya hanya melihat kota dalam keadaan demam atletik, seperti permainan sepak bola.  Saya melihat seluruh kota digerakkan oleh hal itu. Jika tim Cowboy memenangkan satu tempat dalam Super Ball dan pertandingan itu diadakan di Stadium Texas, maka seluruh orang-orang di kota akan tertarik dengan kegila-gilaan. Saya juga telah melihat kota yang terjebak dengan kampanye politik.  Betapa indahnya bila kebangunan rohani besar tiba, dan menobatkan ribuan orang bagi kerajaan Allah, dan coba bayangkan orang-orang akan berjalan di jalan-jalan dengan penuh sukacita, dan mereka akan memberitahukan kejadian itu di rumah-rumah, di kantor-kantor, disetiap taransaksi usaha.  Saya membayangkan orang-orang yang menerima Yesus akan berkata dengan penuh sukacita, “Yesus adalah kekasih jiwa kita, Juruselamatku, pengharapanku di dunia ini dan di dunia yang akan datang.”  Pengalaman itu akan persis seperti orang-orang Samaria dan sida-sida yang telah menerima Yesus (Kis. 8:8, 39).

 

Itu adalah sukacita yang kami bagikan kepada Anda semua pada jam-jam yang berharga ini. Memberikan hati Anda kepada Tuhan Yesus untuk menerima hidup yang berkelimpahan; untuk menerima baptisan sesuai dengan perintah Yesus, adalah merupakan kehormatan tertinggi yang dapat kita lakukan untuk Allah.  Ia memang tidak memerlukan kita. Tetapi, suatu hal yang kecil yang dapat kita lakukan adalah menaati perintahNya, menemima baptisan di dalam namaNya.  Saudaraku yang kekasih, berjalan bersama kami dalam kehidupan Kristen, merupakan perjalanan menuju ke sorga yang sangat mulia.  Pada akhir pekan ini, dua dari teman yang sekolah dengan saya meninggal dunia.  Keduanya gembala sidang, dan mereka adalah orang-orang yang baik.  Saya memiliki banyak kenangan dengan mereka ketika kami masih Sekolah Alakitab.  Sekarang mereka berasama Yesus di sorga. Bukankah hal itu sesuatu yang indah dan mulia untuk mengakhiri hidup di dunia ini, satu kehidupan yang diakhiri dengan penuh kemenangan ...

 

(Video: http://www.wacriswell.com/Search/videotrans.cfm/sermon/1373.cfm)