Daftar Isi

 

DINYATAKAN BENAR

(DECLARED RIGHTEOUS)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini dikhotbahkan pada kebaktian Minggu Pagi, 29 Oktober 1972

di First Baptist Church in Dallas

Teks: Galatia 3:24

 

 

Dimputasikan kebenaran, dinyatakan benar, atau apa yang Alkitab sebut dengan pembenaran atau justifikasi.

 

Dalam seri khotbah kita dari Kitab Galatia, sekarang kita sudah sampai pada pasal tiga. Dan Minggu lalu saya telah berkhotbah dari Kitab ini dengan tema “PAIDAGOGOS, PENUNTUN” – pengasuh anak yang bertugas mengantar dan menjemput anak tuannya ke sekolah. Dan Paulus berbicara bahwa “Taurat – Perjanjian Lama – adalah paidagogos kita atau “penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Galatia 3:24). Paulus menggunakan pernyataan senada berkali-kali dalam suratnya ini, misalnya dalam Galatia 2:16 ia berkata, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat” (Galatia 2:16). Lagi dalam pasal tiga ayat enam ia berkata, “Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Galatia 3:6). Atau juga dalam pasal tiga ayat sebelas ia berkata, “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman’” (Galatia 3:11). Dan kemudian teks kita ini berkata, “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Galatia 3:24).

 

 

ETIMOLOGI KATA “PEMBENARAN”

 

Baik dalam bahasa Ibrani maupun bahasa Yunani atau baik dalam bahasa Perjanjian Lama maupun bahasa Perjanjian Baru, akar kata untuk “kebenaran” dan “justifikasi” adalah sama. Kata Ibrani ‘tsedeq’ berarti “menjadikan benar.” Ini juga berarti “dinyatakan benar, dibenarkan.” Sebagai contoh, dalam Kejadian 15:6 yang dikutip dalam Galatia 3:6, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (tsedeqah)” (Kejadian  15:6). Kata Yunani ‘dikaios’ dapat diterjemahkan “tulus hati, adil,” atau ini dapat juga diterjemahkan “benar.” Dan dalam Alkitab ini diterjemahkan baik “tulus hati, adil” maupun “righteous” atau “benar, berbudi.” Dalam Matius 1:19, ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria mengandung, Kitab Suci berkata, “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati (dikaios) dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Matius 1:19). Dalam Matius 5:45, kita membaca, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar (dikaios) dan orang yang tidak benar (adikos). Dalam Matius 9:13 kita membaca Tuhan berfirman, “karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar (dikaious), melainkan orang berdosa untuk bertobat” – cetak miring dalam KJV (Matius 9:13). Dalam Kisah Rasul 10:22, Kornelius, sang kepala pasukan itu dijelaskan sebagai orang dikaios – diterjemahkan di sana “tulus hati.” Dalam Roma 1:17, “Orang benar (dikaios) akan hidup oleh iman.” Kemudian dalam Roma 3:10, berbunyi, “Tidak ada yang benar (dikaios), seorangpun tidak.” Jadi kata “benar” dan “tulus hati atau adil” dan kata “kebenaran” serta kata “justifikasi” adalah kata yang sama.

Selanjutnya kata dikaioo berarti “mengumumkan atau memperlakukan sebagai orang benar” – ini adalah “membenarkan” atau “to justify.” Dalam Lukas delapan belas ayat empat belas, Tuhan berkata bahwa pemungut cukai – orang berdosa yang berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini,” dan di ayat 14 Ia berkata, “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan (dikaioo) Allah dan orang lain itu tidak” (Lukas 18:14).  Dalam Roma 8:30 berbunyi, “Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya (edikaioosen). Dan mereka yang dibenarkan-Nya (edikaioosen), mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30).

 

Selanjutnya kata lain yang dibangun dari akar kata ini adalah “dikaiosis,” dan kata “dikaiosis” ini berarti “pembebasan” atau “pelunasan.” Ini juga berarti “justifikasi” atau “justification” dalam bahasa Inggris. Jika seseorang diadili di pengadilan dan ia dibebaskan, berari ia dikaiosis, ia dibebaskan, ia dinyatakan tidak bersalah. Sehingga dalam Roma 4:25 berbunyi, “Yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran (dikaiosis) kita” – itu berarti “menyatakan kita tidak bersalah atau benar.” Tujuan agung dari kebangkitan tidak hanya membuktikan keillahian Kristus, untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Allah, namun Ia juga bangkit agar sorga dan bumi menyatakan kita “dikaiosis” atau “tidak bersalah, benar, dibenarkan.” Selanjutnya Paulus menggunakan kata ini lagi dalam Roma 5:18, “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran (dikaiosis) untuk hidup” (Roma 5:18). Menyatakan kita benar, justifikasi.

 

 

DOKTRIN PEMBENARAN

 

Selanjutnya perhatikan bahwa “hukum Taurat adalah penuntun bagi (paidagogos) kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Galatia 3:24).  Justifikasi atau pembenaran adalah tindakan yudisial Allah, yang oleh karena atau melalui perantaraan Kristus, menyatakan kita yang adalah orang-orang berdosa yang bersatu oleh iman kepada Dia sebagai pribadi yang dinyatakan tidak bersalah lagi atau dibenarkan atau dibebaskan. Kita dinyatakan sebagai orang benar. Bukan karena kita benar, karena tidak ada di antara kita yang benar, namun Allah menerima kita sebagai orang benar. Ia memandang kita sebagai orang benar. Kita dibenarkan atau dinyatakan benar dalam pemandangan Dia. Kita tidak lagi berada di bawah penghakiman dan penghukuman, namun kita telah diperbaharui di dalam Kristus kepada anugerah dan kebaikan-Nya.

 

Ini adalah hal yang sangat jelas yang anda akan temukan di seluruh Alkitab, bagaimana Tuhan akan memandang anak-anak-Nya, umat-Nya, tidak sebagai orang berdosa, walaupun sesungguhnya mereka adalah orang berdosa dan terhilang. Ia tidak akan memandang mereka seperti itu, bahkan walaupun mereka sebenarnya adalah seperti itu. Namun Tuhan akan memandang umat-Nya di dalam anugerah, di dalam kebaikan, di dalam kebenaran, di dalam justifikasi. Dalam pemandangan-Nya, mereka tidak melakukan kesalahan. Dalam pemandangan Allah mereka sempurna. Coba anda perhatikan berikut ini. Dalam Bilangan dua puluh tiga, kita menemukan kisah tentang Balak, raja Moab yang menyewa Bileam, seorang nabi, untuk mengutuki Israel, “Lalu Bileam mengucapkan sanjaknya, katanya: "Dari Aram aku disuruh datang oleh Balak, raja Moab, dari gunung-gunung sebelah timur: Datanglah, katanya, kutuklah bagiku Yakub, dan datanglah, kutuklah Israel. Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN? (Bilangan 23:7, 8). “Lalu berkatalah Balak kepada Bileam: ‘Apakah yang kaulakukan kepadaku ini? Untuk menyerapah musuhkulah aku menjemput engkau, tetapi sebaliknya engkau memberkati mereka’” (Bilangan 23:11). Kemudian kepada raja itu Bileam berkata, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel. TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka, dan sorak-sorak karena Raja ada di antara mereka” (Bilangan 23:11). Sekarang apa yang anda pikirkan tentang itu? Ini adalah kisah pengembaraan di padang gurun sebelum mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Dan kisah pengembaraan Iseael di padang gurun ini adalah   kisah tentang betapa keras kepalanya mereka, kisah tentang dosa-dosa, pemberontakan dan ketidakpercayaan mereka. Namun Allah berfirman, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel.” Ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Bagaimana Tuhan memandang umat-Nya tidak seperti kenyataan mereka, namun di dalam kasih dan kebaikan-Nya Ia memandang mereka sebagai orang benar atau mereka sempurna. Allah berfirman, “siapa yang menjamah kamu (Israel), berarti menjamah biji mata-Nya” (Zakharia 2:8). Mungkin tidak ada orang yang lebih keras kepala, tegar tengkuk dan suka memberontak dari pada orang Israel. Namun dalam pemandangan Allah, mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka adalah orang benar.

 

Selanjutnya perhatikan doktrin yang sama dalam Zakharia 3. Zakharia akan berbicara tentang Yosua, ketika bangsa Israel keluar dari pembuangan di Babilonia dan kembali ke tanah air mereka di Yehuda dan Yerusalem. Zerubabel adalah pemimpin pemerintahan sedangkan Yosua adalah pemimpin rohani. Yosua menjabat sebagai imam besar. Selanjutnya anda perhatikan ini, “Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia. Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: "TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?" Adapun Yosua mengenakan pakaian yang kotor, waktu dia berdiri di hadapan Malaikat (Allah Kristofani) itu” (Zakharia 3:1-3). Imam besar Yosua, orang yang berdiri di hadapan Allah itu adalah orang berdosa, terhilang, mengenakan pakaian kotor. Dan Ketika Yosua berdiri di hadapan Allah sebagai imam besar untuk mempersembahkan korban bagi umat kepada Allah, Setan berdiri di sebelah kanannya. Dan Setan itu berkata, “Lihatlah dia. Lihatlah dia, orang berdosa yang hina ini. Lihatlah pakaiannya yang dekil. Lihatlah pakaiannya yang kotor. Lihatlah hatinya. Lihatlah jiwanya. Ia adalah orang berdosa baik dari penampilan luar maupun dalam hatinya.” Setan berdiri di sana, di sebelah kanan imam Yosua, imam besar Allah itu, dan mendakwa dia. “Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: "TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis!… Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?” (Zakharia 3:2). Bukankah Tuhan telah menyelamatkan saya, yang telah memilih saya, manusia terhilang yang telah ditebus? Seperti itu jugalah Yosua. Dan Tuhan menjawab, dan berkata, “’Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya.’ Dan kepada Yosua ia berkata: ‘Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta.’ Kemudian ia berkata: “Taruhlah serban tahir pada kepalanya!" Maka mereka menaruh serban tahir pada kepalanya dan mengenakan pakaian kepadanya, sedang Malaikat TUHAN berdiri di situ” (Zakharia 3:4-5). Yosua berdiri di hadapan Allah sebagai orang berdosa, dan Setan juga berdiri di sana sambil mendakwa, “Lihatlah dia. Ia mengenakan pakaian kotor. Ia adalah orang berdosa yang terhilang.” Namun Tuhan Allah menghardik Setan di dalam nama-Nya sendiri, dan berkata, “Namun Aku telah menyelamatkan dia. Sekarang tanggalkan pakain kotor itu dan dandani dia dengan jubah kebenaran dan Taruhlah serban tahir pada kepalanya agar ia dapat berdiri di hadapan-Ku sebagai orang yang telah dibenarkan, dinyatakan benar – benar dalam pemandangan Allah.”

 

Contoh yang lain lagi ada dalam Surat Roma, di mana Rasul Pauslus menulis, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya…. Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?” (Roma 8:30, 33). Biar saja Setan berbicara untuk selamanya. Karena memang dia adalah musuh utama dan musuh besar kita,” dan namanya disebut “pendakwa.” Biarkan saja Setan berdiri di sana dan mendakwa umat Allah untuk selamanya dengan terus berkata, “Lihatlah dia! Lihatlah hatinya. Lihatlah hidupnya. Lihatlah pikirannya. Lihatlah apa yang ia telah lakukan. Lihatlah apa yang ia lakukan sekarang. Lihatlah apa yang akan ia lakukan. Ia mengenakan pakaian kotor. Ia tidak pantas masuk sorga. Ia tidak layak berjalan di kota kudus, atau bergabung dengan umat tebusan Allah. Lihatlah dia.” Itulah kata Setan, musuh utama dan pendakwa kita. Namun Tuhan Allah berkata, “Di dalam Kristus, di dalam darah-Nya, di dalam Yesus, di dalam kebaikan Anak-Ku, ia telah disucikan. Ia telah menjadi bersih. Jubahnya putih tak bernoda. Ia telah dibenarkan. Ia telah dinyatakan sebagai orang benar.” Allah mengemukakan kematian Anak-Nya dan darah Anak-Nya dan salib Anak-Nya dan penderitaan Anak-Nya. Allah mengemukakan anugerah penebusan Kristus antara kita dan murka serta penghukuman Allah atas dosa-dosa kita. Dan dalam pemandangan Allah, Ia melihat kita melalui anugerah dan darah Yesus, kita bersih dan suci dan putih dan telah diselamatkan.

 

Ijinkan saya menunjukkan sesuatu yang pernah saya copy. Anselm adalah salah satu teolog besar di sepanjang masa. Ia menjadi Uskup di Canterbury kira-kira tahun 1100 A.D. Dan Anselm menulis traktat untuk menghibur jemaatnya yang akan meninggal, karena ketika waktu kematian itu datang, begitu banyak dari mereka yang diperingatkan akan dosa-dosa mereka. “Saya belum siap untuk mati. Saya adalah orang berdosa yang masih terhilang. Apa yang harus saya lakukan?” Dan Anselm, sang teolog tersohor ini, menulis traktat kecil untuk orang yang sedang sekarat dan saya ingin membacakannya untuk anda. Bagian pertama dari traktat ini adalah pertanyaan katekisme kecil kepada orang yang mau meninggal,

 

Pertanyaan: “Apakah engkau percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus telah mati untuk engkau?”

Dan jawabnya, “Ya saya percaya.”

 

Pertanyaan: “Apakah engkau telah mengucap syukur untuk penderitaan dan kematiannya?”

Jawab: “Ya saya mengucap syukur kepadanya.”

 

Pertanyaan: “Apakah engkau percaya bahwa engkau tidak akan diselamatkan kecuali oleh kematian-Nya?”

Jawab: “Saya percaya.”

 

Kemudian Anselm, di dalam traktat yang dialamatkan kepada orang yang akan meninggal ini, ia berkata:

 

“Tetaplah hidup di dalam Dia, Kristus yang adalah satu-satunya tempat dimana engkau menaruh seluruh kepercayaanmu. Tiada tempat lain yang dapat engkau percaya. Dan jika Tuhan Allah akan mengadili engkau maka engkau dapat berkata, ‘Tuhan antara penghakiman-Mu dan aku, aku membawa kematian Tuhan Yesus Kristus.’ Dan jika Allah akan berkata bahwa engkau adalah orang berdosa, maka engkau dapat berkata, ‘Tuhan aku membawa kematian Tuhan Yesus Kristus antara dosaku dan Engkau.’ – “Jikalau Allah berkata engkau harus dihukum, katakan, ‘Tuhan aku membawa kematian Tuhan Yesus Kristus antara kejahatanku dan Engkau.’ – “Jikalau Ia berkata bahwa Ia murka terhadap Engkau maka katakan, ‘Tuhan saya mau melakukan pembelaan oleh karena kematian Tuhan Yesus Kristus, antara murka-Mu dan aku.’

“Dan ketika engkau telah menjelaskan semua ini katakan lagi ‘Tuhan aku telah membawa kematian Tuhan Yesus Kristus antara aku dan Engkau.”

 

Apakah anda menyukainya? Itulah justifikasi. Ketika Tuhan menyatakan kita sebagai orang benar, walaupun sesungguhnya kita adalah orang berdosa, namun Allah memandang kita bukan sebagai orang berdosa dan mengenaikan pakaian kotor, melainkan Allah memandang kita dalam kasih dan anugerah dan rahmat Yesus dan menyatakan kita sebagai orang benar oleh karena pembenaran-Nya, penyataan-Nya bahwa kita tidak bersalah.

Pukul 08:15 pagi ini, saya akan menyampaikan khotbah tentang ini, dan saya berharap jemaat mau agar saya tidak pernah berhenti membicarakan hal ini. Ini adalah salah satu doktrin yang sangat mengagumkan dan mulia di bumi ini. Dan saya akan mengambil waktu beberapa menit  -- saya berharap saya memiliki waktu itu karena saya harus memberikan undangan di televisi. Dan saya ingin menunjukkan kepada anda tentang kontras doktrin ini dalam waktu yang singkat ini.

 

 

YANG PERTAMA TUHAN BERKENAN KEPADA ORANGNYA

SEBELUM PERBUATANNYA

 

Pertama: Kontras antara cara dunia memandang manusia dan cara Allah memandangnya. Cara dunia memandang manusia selalu sama. “Anda harus membuktikan diri anda sendiri dengan hasil kerja anda, maka kami akan memutuskan untuk menerima atau menolak anda.” Ini adalah cara dunia. Mereka selalu melihat apa yang anda lakukan, baru kemudian menerima atau menolak anda. Namun cara Allah jelas bertentangan dengan cara dunia ini. Ia akan memandang manusianya terlebih dahulu dan kemudian Dia baru akan menerima atau menolaknya. Jadi yang pertama Ia melihat manusianya dan bukan pekerjaan atau perbuatannya. Allah selalu melihat pertama-tama adalah manusianya atau orangnya dan kemudian Ia menerima pribadi orang itu dan baru kemudian Ia akan melihat pekerjaannya. Baiklah. Saya ingin menunjukkan kepada anda kebenaran tentang ini. Mari kita mengingat kembali kisah Kain dan Habel. Alkitab berkata,

 

“Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan (minchah); Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya (minchah) itu, tetapi Kain dan korban persembahannya (minchah) tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram” (Kejadian 4:3-5)

 

Jadi pertama-tama Allah mengindahkan atau respek terhadap Habel, kepada manusia itu sendiri dan kemudian barulah Ia menerima persembahan Habel. Allah mengindahkan atau respek terhadap pekerjaan atau korban persembahannya oleh karena sebelumnya Allah telah respek atau menerima Habel. Dan Allah telah melihat hati Kain, dan Ia pertama-tama menolak Kain, dan baru kemudian menolak persembahan Kain dan perbuatan atau pekerjaan Kain. Pertama-tama Allah selalu memandang orangnya dan menerima orangnya.

 

Selanjutnya, doktrin ini ada di seluruh Alkitab. Kita telah belajar dari Mazmur 23 ketika kita masih anak-anak,

 

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mazmur 23:1-3)

 

Di sini dikatakan, pertama, “Ia menyegarkan jiwaku” – Ia melahirbarukan aku. Ia menyemalatkan aku, dan kemudian  Ia memimpin aku ke jalan yang benar – pekerjaan baik – oleh karena nama-Nya. Yang pertama Allah melakukan sesuatu untuk hati saya, dan baru kemudian Ia menerima pekerjaan atau perbuatan baik saya. Jadi selalu demikian. Itu adalah seperti Samuel yang diutus pergi ke keluarga Isai untuk mengurapi seorang raja baru bagi Israel.

 

“Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku." Tetapi Samuel berkata: "Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku." Firman TUHAN: "Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu." Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?" Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu. Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya." Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." 9Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN." Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari." Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia." Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama” (1 Samuel 16:1-13)

 

Pertama Allah menerima orangnya, dan baru kemudian Allah menerima pekerjaan atau perbuatan baiknya.

 

Dunia menghakimi dunia dengan melihat semua perbuatan baik seseorang. Namun Allah melihat hati dan Allah pertama-tama menerima orangnya, dan baru kemudian menerima perbuatannya. Karena Allah berfirman, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Dengan perbuatan tau pekerjaan Taurat justru menumpuk hutang dosa. Karena segala sesuatu yang kita lakukan di hadapan Allah memiliki kecacatan atau ketidaksempurnaan. Bahkan doa-doa kita saja tidak sempurna, pujian kita tidak sempurna, hidup kita tidak pernah sempurna. Dan semakin kita berusaha berbuat baik, kita tahu semakin banyak kelemahan dan hutang dosa kita, lagi dan lagi dan lagi. Kita tidak akan pernah menjadi cukup baik. Namun di dalam Kristus kita dibenarkan, dibebaskan, dinyatakan tidak bersalah. Kita diterima terlebih dahulu dan baru pekerjaan atau perbuatan kita dalam memuji dan mengasihi dan memuliakan Allah diterima oleh Allah. Perbuatan-perbuatan baik ini merupakan perbuatan yang lahir dari rasa syukur dan terimakasih kita kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita.

 

 

BUKAN HAMBA, TETAPI ANAK

 

Sebelum saya menutup khotbah ini saya ingin menunjukkan satu hal lagi kepada anda. Dalam Galatia 4, Paulus memberikan kontras antara budak dan anak. Dan Paulus menjelaskan bahwa seorang hamba di rumah tuannya adalah orang yang harus bekerja. Ia akan diselamatkan melalui pekerjaannya, ia akan dibenarkan melalui pekerjaannya, ia akan dipuji berdasarkan pekerjaannya. Paulus menjelaskan bahwa seorang budak di rumah tuannya harus bekerja dan bekerja dan terus bekerja untuk selama-lamanya. Ia bekerja untuk suatu upah. Ia bekerja untuk mendapat gaji. Ia adalah hamba upahan. Dan setelah ia bekerja bertahun-tahun lamanya dan akhirnya ia tetap masih seorang budak atau hamba upahan. Namun seorang anak adalah ahli waris. Ia memiliki garis keturunan dan darah yang mengalir dari keluarga itu. Ia dilahirkan ke dalam keluarga itu. Dan Paulus mengaplikasikan ilustrasi itu untuk kita yang telah dilahirkan ke dalam keluarga Allah. Kita bukan lagi hamba upahan, yang harus bekerja dan bekerja dan terus bekerja. Namun kita telah diadopsi atau diangkat menjadi anak dan telah dilahirkan kembali ke dalam keluarga Allah dan kita adalah ahli waris dari semua kekayaan Allah di dalam Kristus Yesus.

 

Apakah anda tahu ini persis seperti kisah tentang anak yang hilang? Ketika ia makan ampas bersama babi-babi yang dijaganya, kemudian ia merenungkan keberadaan dirinya sendiri, ia berkata,

 

Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Luakas 15:17-19)

 

“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya” (Lukas 15:20-22)

 

Perhatikanlah di sini, bapa itu berkata, “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” Kemudian apakah anda tahu apa yang bapa ini katakan?

 

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Lukas 15:32).  

 

Itu adalah justifikasi. Bukan oleh apa yang kita lakukan atau kerjakan. Bukan oleh pekerjaan tangan kita, melainkan di dalam kasih dan kebaikan Allah. Ia menerima kita, mengampuni kita, menyatakan kita tidak bersalah, dan kita diadopsi atau diangkat menjadi anak-Nya, dilahirkan kembali ke dalam keluarga Bapa sorgawi kita. Oh, puji Tuhan. Muliakanlah nama Tuhan Kita, oleh karena apa yang telah Ia kerjakan bagi kita.