Daftar Isi

KRISTUS, KORBAN ALLAH

(CHRIST, THE SACRIFICE OF GOD)

 

Dr. W. A. Criswell

Yohanes 19:7

04-05-85

 

Selamat datang ke dalam seri khotbah tentang keilahian dari Tuhan kita, menurut kesaksian Rasul Yohanes. Pada hari Senin kita telah membahas: Yesus Firman Allah. Hari Selasa: Yesus, Kuasa Allah. Hari Rabu: Yesus, Kasih dan Anugerah Allah. Pada hari Kamis kemarin: Yesus, Jalan Kepada Allah.

Dan hari ini, hari Jumat, hari dimana Dia telah disalibkan: Yesus, Tebusan Allah, Korban Allah.

          Pembacaan Alkitab kita terambil dari Kitab Yohanes pasal sembilan belas mulai dari ayat satu:

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.

Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu,

Dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya.

Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."

Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: " Idou ho anthropos!”

 

Atau dalam bahasa Latin, “Ecce homo!”  atau dalam bahasa Indonesia, “Lihatlah Manusia itu!”  Dan sekalipun itu dalam bahasa Yunani, atau sekalipun dalam bahasa Latin, atau sekalipun dalam bahasa Inggris dan bahasa modern di dunia, seruan itu telah ditangkap oleh bayangan umat manusia. 

            Sepanjang seluruh galeri-galeri di bumi ini anda akan menemukan “ecce homos”—Yesus berdiri dengan mahkota duri, sebuah jubah ungu di bahuNya dan sebuah buluh untuk sebuah tongkat lambang kekuasaan di tanganNya. Dan Pilatus, di hadapan rakyat banyak yang haus darah, menunjuk ke arah figur yang menderita itu dengan sebuah penjelasan,  “Idou ho anthropos!”  Ecce homo, Lihatlah Manusia itu!

           Di dalam ruang belajar saya di rumah, di dinding sebelah kiri ada sebuah lukisan besar, sebuah lukisan Pilatus yang melihat ke bawah dari atas balkonnya ke dalam kumpulan banyak orang yang marah dan dengan tangannya yang menunjuk ke arah Yesus.   “Ecce homo!”  Lihatlah Manusia itu! 

            Tujuan dari Pilatus, tentu saja, adalah untuk memberi kesan—jika dia dapat—untuk memperoleh simpati dari orang banyak yang haus darah itu. Dia telah mencambuk Yesus, dan cambukan seorang Roma dapat menghasilkan kematian sama seperti penyaliban itu sendiri

           Kemudian Pilatus berpaling kepada Yesus dan kepada Prajurit dan memerintahkan mereka untuk menyalibkanNya. Dan mereka—di dalam sikap yang meremehkan dan ketidak sukaan terhadap orang Yahudi, prajurit-prajurit itu mengejek Dia, memakaikan sebuah mahkota duri di atas kepalaNya, meletakkan buluh, tongkat di tanganNya, dan menemukan di suatu tempat di istana sebuah jubah ungu yang usang. Dan mereka memakaikannya di atas bahuNya, dan menunduk dengan sikap mengejek dan berkata, “Hidup, raja orang Yahudi!”  

            Pilatus kebetulan melintas pada momen itu. Dan ketika dia melihat figur yang menyedihkan dan gelisah serta tidak berdosa itu, maka sesuatu datang ke dalam pikirannya sekiranya mungkin jika dia menggambarkan Dia, orang-orang banyak itu di dalam rasa belas kasihan mereka, mereka memiliki kemurahan atas Dia. Jadi Pilatus membawa Yesus ke depan balkon dari ruang pengadilannya, memperlihatkan kepada orang banyak itu dan membuat seruan yang sangat terkenal itu bagi dunia: Lihatlah Manusia itu!

            Dan kita juga akan melakukannya pada hari ini. Pertama kali kita akan melihat Dia, di dalam pre-seksistensi keilahianNya. Berpikir tentang kemuliaan Tuhan kita sebelum dunia dijadikan. Yohanes telah menulis : “Pada mulanya adalah Kristus; Firman Allah, dan Dia adalah Allah. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”

            Paulus menegaskan keilahian yang sama dari Kristus: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, dan oleh Dialah segala sesuatu telah diciptakan, yang ada di sorga, dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, dan Dia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”

            Bayangkan kemuliaan dari praeksistensi Tuhan, di hadapan Dia, berlaksa-laksa  mailakat bersujud dan meninggikan serta menyembah Dia. Dan sekarang lihat ke arah Dia, dimahkotai dengan duri, dihina dan dicambuk. Bayangan yang sangat berbeda dan membingungkan.

            Lihat juga ke arah Dia ketika Dia lahir di Betlehem. Kisah termanis yang pernah disampaikan. Natal. Datang dari Allah, dari sorga. Berinkarnasi dalam daging manusia. Dan para malaikat bernyanyi. Para gembala datang. Dan orang-orang bijak membawa hadiah mereka.

            Betapa sebuah kisah yang indah! Sekarang lihat ke arah Dia—dimahkotai dengan duri, dicambuk, bersimbah darah, diejek dan dicemooh. Karunia dari Allah di Betlehem diserahkan oleh Tuhan Allah yang sama dalam tusukan lembing orang Roma.

            Pikirkan tentang Dia sekali lagi: yang manis dan lembut, Tuhan Yesus yang penuh kasih, lemah lembut dan terhormat, memberitakan injil pengharapan bagi orang-orang miskin, membuka mata orang-orang buta, membersihkan penyakit kusta, menyembuhkan yang sakit. Karunia Allah bagi umat manusia yang menderita.

            Sekarang lihat ke arah Dia: dihina, dilambaikan, bersimbah darah dan akhirnya disalibkan. Saya berusaha untuk membayangkan, bagaimana perasaan seorang buta yang matanya telah dicelikkan oleh Tuhan ketika dia melihat ke arah lapisan mata Tuhan kita yang tertutup saat Dia meninggal. Atau orang yang telah Dia sembuhkan, dan beberapa orang yang telah Dia bangkitkan dari kematian, sebagaimana mereka melihat penderitaan dan penyaliban Tuhan kita Yesus. Sungguh, ini adalah tragedi terbesar dalam sejarah manusia! Tidak dapat dibandingkan dengan semua yang ada di literatur dan kehidupan manusia.

            Apakah ini? Apakah ini sebuah permainan drama seperti dalam Agamemnon dari Aeschylus atau seperti Shakespeare's King Lear atau Hamlet?  Atau seperti Eugene O'Neill’s Strange Interlude.  Apakah ini? Apakah ini sebuah tragedi sejarah seperti Sokrates meminum cemara beracun? Atau seperti Julius Kaisar yang dibunuh di bawah kaki bangsawan Pompey. Atau seperti Abraham Lincoln, yang dibunuh di Teater Ford di Washington, D C? 

            Apakah ini? Atau di atas semua hal itu, siapa yang telah melakukannya? Siapa yang menyebabkan peristiwa itu? Siapakah yang bersalah terhadap sebuah kesalahan yang luar biasa ini? Ada  suatu bunyi hiruk pikuk yang secara berulang-ulang berkata, “Siapa yang telah melakukan hal itu? Siapa yang telah membawa hal yang memalukan dan penderitaan serta kematian atas Tuhan yang hidup?”

            Ada beberapa orang yang akan berkata: “Allah yang telah melakukannya. Dia yang telah melakukannya. Dia yang bertanggung jawab. Apakah Dia tidak berdaulat? Apakah Dia tidak mengatur dan memerintah seluruh alam semesta ini? Allah yang telah melakukannya. Dialah yang Satu-satunya yang dapat mengizinkan dosa, penderitaan dan kematian. Siapa yang telah melakukan hal itu? Allah yang telah melakukannya.”

            Akan ada orang yang akan berkata: “Dia yang melakukannya. Dia yang bertanggungjawab, Tuhan sendiri. Dia harus memiliki manejer yang lebih baik. Dia harus membuat perdamaian dengan orang Saduki dan imam-imam dan gubernur sebagai juru damai. Dia telah membawa diriNya sendiri kepada hal yang asing, tragis dan menghancurkan kehidupanNya sendiri. Itu adalah kesalahanNya. Dia yang telah melakukannya.”

            Salah satu sarjana terkemuka dalam dunia teologi dari generasi terakhir ini adalah Dr. Albert Schweitzer.  Dia menulis sebuah buku teologi yang sangat terkenal yang berjudul The Quest For The Historical Jesus.  Dan tema dari buku itu adalah hal ini: Bahwa Yesus berharap pada masa hidupNya, kerajaan mesianik dari Allah datang dari sorga ke dunia. Dan ketika hal itu tidak terjadi, Dia mati dalam keputusasaan dan kekecewaan serta patah hati. Dia yang telah melakukannya. Itu adalah kesalahannya.

Akan ada orang yang akan berkata: “Pilatus yang telah melakukannya. Dia yang bertanggungjawab. Dia adalah prokurator Roma dan Gubernur propinsi saat itu. Itu adalah tanggungjawabnya. Itu adalah kesalahannya.”

            Ada orang yang akan berkata: “Orang-orang Yahudi yang telah melakukannya. Mereka membenci Dia dan menolak Dia dan menyerahkanNya untuk disalibkan. Itu adalah kesalahan orang-orang Yahudi. Mereka yang telah melakukannya.”

            Ada yang akan berkata: “Itu adalah kesalahan Yudas. Yudas adalah orang yang mengkhianatiNya dan menjualnya dengan tiga puluh keping perak. Adalah Yudas yang telah membawa prajurit dan penjaga Bait Allah untuk menangkapNya dan menahan Dia. Itu adalah kesalahan Yudas. Dia yang telah melakukannya.”

            Dan ada orang yang tentu saja akan berkata: “Itu adalah kesalahan prajurit-prajurit. Bukankah mereka yang telah menyalibkanNya? Yang memakukan paku pada tangan dan kakiNya? Dan siapa yang telah menikam lambungnya dengan tombak orang Roma? Mereka yang telah melakukannya. Prajurit-prajurit yang telah melakukannya. Itu adalah kuasa dari Imperium Roma yang telah melakukannya. Mereka yang mengadakan penyaliban. Dan mereka yang mengangkat Dia antara langit dan bumi.” 

            Ketika anda melihatnya dengan teliti, setiap orang dari mereka akan menyangkal kesalahannya. Jika anda pernah berada di Lucerne, sebuah gunung yang besar di sana dengan sebuah kota yang bernama Gunung Pilatus, Gunung Pilatus. Dan jika anda bertanya: “Mengapakah gunung ini dinamai dengan Pilatus?”

            Mereka akan menjelaskan kepada anda bahwa di dalam sejarah, Pilatus kemudian akhirnya bunuh diri. Dan salah satu versi, bahwa dia datang, dengan putus asa, pergi ke Switzerland, dan dari gunung yang tinggi itu, dia melakukan bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya ke dalam laut. Dan mereka akan bertanya kepada Pilatus dari dalam debu pada saat dia bangkit, dan  dari bawah air yang jernih itu, dia mencuci tangannya, dan berkata: “saya tidak bersalah terhadap darah Manusia ini. Saya tidak melakukannya. Saya tidak bertanggungjawab,” kata Pilatus.

            Orang-orang Yahudi menangis dan melakukannya pada hari ini: “Maukah anda membawa darah  orang ini atas kami dan atas anak-anak kami? Kami tidak melakukannya. Itu bukan tanggungjawab kami.”

           Dan jika anda, pada suatu hari berada di sana untuk bangkit bersama-sama dengan orang mati dan bertanya kepada prajurit-prajurit Roma: “Apakah anda telah melakukannya? Apakah itu tanggungjawab anda?”

Dan mereka akan menjawab: “Kami adalah orang-orang yang berada di bawah kekuasaan. Kami hanya melakukan perintah dari Gubernur Roma. Kami tidak bersalah.”

            Siapa yang telah melakukannya? Siapakah yang memakukan tangan dan kakiNya? Siapakah yang memakaikan mahkota diri dan memasukkan ke dalam keningNya? Kita semua yang telah melakukannya! Bahwa dosa-dosa kita yang telah memakukanNya ke atas kayu salib? Perbuatan salah kita yang telah meremukkan wajahNya dan lambungnya dan membuat darah mengalir dari luka-luka yang berasal dari tangan dan kakiNya. Kita yang telah melakukannya. Kita semua telah melakukannya! Perbuatan salah kita, dan dosa-dosa kita, yang menyebabkan penderitaan dan kematianNya.  

            Dan hal itu yang memimpin kita untuk membuat permohonan dari bagian ini dalam Injil Yohanes:“Idou ho anthropos!”  Ecce homo!  Lihatlah Manusia itu! Lihatlah ke arah Dia. Dan jika anda melakukannya, ada dua hal yang akan terjadi. Salah satunya adalah hal ini: Bagiamana mungkin saya membuat  sebuah kesalahan dan ketidakadilan dan mengabaikan Dia, hanya dengan melewati jalan saya? Bagaimana mungkin saya melakukan hal itu? Bagiaman mungkin saya terlibat dalam hal-hal dari dunia ini yang tidak pernah terpikirkan atau berhenti atau mengingat tentang hal yang telah saya lakukan kepada Tuhan saya? Bagaimana mungkin saya melakukan hal itu?” 

            Seperti yang anda tahu, sepuluh tahun saya telah menjadi seorang gembala wilayah. Saya masih bujangan. Saya tinggal bersama jemaat, dan mengenal mereka dengan sangat dekat. Dan di dalam salah satu pedesaan yang terbuka, daerah yang terbuka, gereja yang terbuka ada sebuah keluarga yang sangat luar biasa. Beberapa orang, dari mereka merupakan orang-orang yang saleh dan saya sering berada dalam rumah yang ramah, suatu kali saya bertanya kepada saudara laki-laki yang tertua: “Bagaimana anda bisa menjadi seorang Kristen?” 

            “Jadi,” katanya, “hal itu terjadi seperti ini.” (Dan saya sedang berbicara tentang suatu hal—satu abad yang lalu.)

            Dia berkata: “Hal itu terjadi seperti ini. Setiap hari Sabtu malam, semua anak laki-laki yang berada di dalam rumah kami, akan mengambil senjata dan sebotol Wiski yang ditaruh dalam kantong yang lain. Dan kami akan menunggang kuda untuk pergi berdansa pada sabtu malam, dan mengadakan sebuah pesta yang besar. Pada suatu hari salah satu pria—yang kemudian berada di gereja itu—salah satu pria, sahabat muda kami, mengadakan pertarungan dengan sahabat karibnya dan membunuh dia, menembak dia dan melarikan diri dari hukum—menjadi seorang pelarian.”

            “Dan ibu saya yang saleh, katanya, “berdoa seakan-akan sebuah tragedi menaungi salah satu anak laki-lakinya. Jadi dia meminta kami untuk tidak lagi pergi ke pesta itu, tidak mengunjungi pesta dansa itu, untuk tidak membawa botol minuman serta pistol kami. Dan kami hanya tertawa dan menolaknya.”

            Kemudian ibu saya berkata: “Nak, saya akan berlutut untuk berdoa pada saat kamu pergi dan hingga kamu kembali. Saya akan tetap berdoa buat kamu.”

            Dan Pria itu berkata: “Kami hanya menertawainya. Menunggang kuda dengan senjata kami dan botol minuman kami, dan kembali ke rumah saat pagi, dan di sana, di dalam kamarnya, lampunya akan tetap menyala. Dan dia tetap berlutut untuk berdoa bagi kami.”

            Dia berkata kepada kami: “Anda tahu untuk sesaat, saya pergi ke tempat dimana  semuanya hal menghasilkan kekecewaan bahwa saya dapat memberi perintah dan menunggang  kuda serta pergi, sementara saya mengetahui ibu saya sedang berlutut dan berdoa untuk saya sehingga saya kembali dengan selamat.”

            “Akhirnya,” katanya, “Pada suatu malam. Saya pergi ke ruangan di mana ibu saya telah menyalakan lampu dan dia sedang berlutut.” Dan saya berkata, “Ibu, saya tidak dapat lagi bertahan lebih lama. Saya tidak akan lagi pergi pada Sabtu malam dengan sebuah senjata dan sebotol Wiski. Ibu, apa yang kamu inginkan dari saya untuk saya lakukan?”

            Dan Ibu berkata: “Nak, Aku ingin supaya kamu memberikan hatimu kepada Kristus dan menjadi orang Kristen serta mengasihi Yesus.”

            Dan dia berkata: “Pada malam itu, di sisi ibu saya, saya berlutut dan memberikan seluruh hidup saya kepada Tuhan Yesus. Dan saudara saya melakukan hal yang sama. Dan pada hari ini kami berada di gereja ini untuk melayani Allah.”

            Itu adalah sebuah visi dari apa yang Yesus lakukan terhadap kita. Untuk melewatkanNya, untuk melupakan adalah sesuatu yang sulit untuk dipikirkan. Untuk mengasihi Yesus dan melayani Dia dengan semua kekuatan dalam hari-hari kita adalah hak yang paling manis yang telah Allah berikan kepada kita dan dianugerahkan ke atas kita.

 

Apakah itu untuk semua kejahatan

Yang telah aku lakukan

Dia mengeluh kepada pohon-pohon?

Belas kasihan yang luar biasa, anugerah yang tak dapat dipahami

Dan kasih dibalik derajat yang tinggi

Tetapi meneteskan kedukaan

Yang takkan pernah dapat terbalas

Hutang kasih yang aku miliki

Di sini, Tuhan

Aku memberikan hidupku seluruhnya

Hanya ini semua yang dapat kulakukan

            Jadi, milikilah kami Tuhan. Berkatilah kami ya Allah. Gunakan kami Tuhan. Dan buatlah kami berharga dan menjadi pelayan yang menguntungkan di dalam kerajaanMu, di dalam jemaatMu yang terkasih dan demi namaMu.

Dan Tuhan kami….

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.