KITAB SUCI, DOA, DAN PUASA

(THE BOOK, THE PRAYER, THE FAST)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Daniel 9:1-4

02-20-72

 

 

Sebelum saya mulai, dapatkah saya yang memberikan pengumuman yang ditaruh di Sunday Reminder milik saudara, dan mendorong semua pemimpin dari gereja, sekolah minggu, lingkup-gereja agar hadir besok malam di gymnasium? Kita mulai melayani dari pada pukul 17:15. Kita mengadakan pertemuan di sana dan kemudian kita akan pergi ke Sekolah Minggu kita kelompok bagian Senin malam, besok malam, selasa malam, rabu malam, ketiga malam ini. Pertemuan itu dirancang sedemikian rupa, untuk mendorong semangat kita untuk menolong kita dalam penerusan penyebaran agama yang lebih besar dari apa yang kita harapkan terhadap bangsa kita. Di akhir bulan April, kita berdoa untuk bisa mendapatkan lebih dari sepuluh ribu orang yang didaftarkan dalam Sekolah Minggu.

 

Saya pernah diwawancarai oleh harian New York Times yang menelepon saya pada hari Jumat. Dan itu berlangsung cukup lama, saya kira, mereka memiliki banyak uang di sana. Mereka tidak mempersoalkan tentang sambungan telepon jarak jauh selama berjam-jam. Percakapan itu berlangsung begitu lama, saya katakan: “Dengar, saya memiliki pekerjaan lain yang harus saya lakukan disamping hanya berbicara dengan saudara.” Akan tetapi wartawan tersebut terus menanyakan sepuluh ribu pertanyaan mengenai sekolah minggu kita. Ke atas dan ke bawah, ke dalam dan ke luar, ke segala arah, begitu jelasnya, kami sedang membuat suatu kesan yang sedemiakian rupa, terhadap mereka-mereka kaum kafir yang sedikit banyak tinggal di sana. Akan tetapi kami telah hampir memulainya. Masih banyak lagi orang yang belum dimenangkan. Dan itulah yang menjadi maksud dari pertemuan ini. Kita akan membuat rencana-rencana dan mengimplementasikannya di dalam berkat dan kebaikan dari Allah untuk menjangkau lebih banyak orang untuk Tuhan kita. Dan Tuhan akan menguatkan kita untuk melakukannya.

 

Judul dari khotbah ini adalah: Kitab, Doa dan Puasa. Dan ini merupakan suatu penjelasan dari bagian yang pertama dari pasal yang kesembilan dari Kitab Daniel yang lebih terperinci. Dan ini merupakan salah satu pasal yang paling agung, pasal yang paling agung dari Alkitab. Pasal itu merupakan dasar iman yang paling sungguh-sungguh terhadap wahyu yang dinubuatkan yang tertulis di dalam Kitab Suci tersebut. Tanpanya, begitu banyak bagian dari nubuat dari Injil yang Kudus yang akan digelapkan serta membuat kita menjadi bingung. Dan sebelum kita sampai pada wahyu yang dinubuatkan, di bagian terakhir dari pasal tersebut, dimulai dengan suatu  perantaraan yang baik sekali , suatu doa tentang pengakuan dosa. Dan saya akan membaca sebagian dari bagian yang pertama dari kitab Daniel, yaitu pasal yang kesembilan:

 

Pada tahun pertama pemerintahan Darius, anak Ahasyweros, dari keturunan orang Media, yang telah menjadi raja atas kerajaan orang Kasdim, pada tahun pertama kerajaannya itu aku, Daniel memperhatikan dalam kumpulan kitab jumlah tahun yang menurut firman Tuhan kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun. Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu: maka aku memohon kepada Tuhan, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: “Ah, Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang kepada perintahMu! Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturanMu. Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini. …

Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hambaMu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudusMu yang telah musnah ini dengan wajahMu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telingaMu dan dengarlah, bukalah mataMu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan namaMu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapanMu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayangMu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kotaMu dan umatMu disebut dengan namaMu.

 

            Membaca bagian ini kita bisa mengerti dan merasakan denyut jantung dari orang kudus yang dikasihi oleh Allah ini. “Aku belajar,” katanya, “dengan mempelajari Kitab Suci.” “Untuk firman Tuhan yang datang kepada nabi Yeremia,” Ia telah membaca pasal yang ke dua puluh lima dan dua puluh sembilan dari nubuat Yeremia. Dan di dalam nubuat-nubuat tersebut, Yeremia berkata bahwa Tuhan membiarkan bait suci dan kota itu jatuh sia-sia di dalam kehancuran selama tujuh puluh tahun. Akan tetapi di akhir dari masa tujuh puluh tahun tersebut, sekali lagi Tuhan akan mengingat umatNya di dalam kemurahan. Dan mereka mendapatkan kesempatan untuk kembali ke tanah air mereka. Jadi, ia mempelajari nubuat-nubuat tersebut. Ia tidak menyadari, bahwa ia tidak mampu menentukan waktu yang tepat, tahun yang pasti dimana masa tujuh puluh tahun itu dimulai. Tuhan telah memperhitungkannya dari waktu ke waktu bahwa Daniel sendiri akan masuk ke dalam pembuangan Babilonia, kemudian masa tujuh puluh tahun itu terjadi sampai pada tahun pertama pemerintahan Darius, ketika Daniel menetapkan dirinya untuk mencari pemikiran Tuhan. Karena Daniel dibawa ke sebagai tawanan pada tahun 605 SM, dan tahun pertama dari pemerintahan Darius dari Media adalah tahun 536 atau 535 SM. Jadi Daniel telah ditawan selama masa tujuh puluh tahun.

 

Dan ketika ia membaca di dalam Alkitab bahwa diakhir masa tujuh puluh tahun itu, Allah akan mengunjungi umatNya dan membiarkan mereka pulang ke negeri mereka, masa pembuangan itu berakhir, ia tidak menyadari apakah masa itu dimulai pada tahun dimana ia ditawan atau dimulai pada sekitar tahun 598 SM, ketika Joakhim sang raja di masukkan ke dalam tahanan. Atau masa tujuh puluh tahun itu sudah dimulai pada saat penghancuran bait suci, yang mana terjadi pada tahun 587 SM. Akan tetapi Daniel mengetahui dari nubuat di dalam kitab Yeremia bahwa waktu berakhirnya pembuangan segera akan datang dan bangsa terpilih Allah dapat pulang kembali ke negeri mereka.

 

Jadi di dalam keyakinan bahwa Tuhan akan memegang teguh janjiNya, dan di dalam kepercayaan bahwa Ia tetap bermurah hati kepada umatNya, ia berkata:

 

Karena aku telah membacanya di dalam kumpulan kitab tersebut, lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu: maka aku memohon kepada Tuhan, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: “Ah, Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat.

 

Bukan hanya saudara dapat merasakan denyut jantung nabi itu ketika ia berdoa kepada Allah, akan tetapi bukankah saudara juga dapat merasakan kerendahan diri serta kesedihan yang mendalam dan perasaan hormat yang ditunjukkannya di hadapan Tuhan Allah? Karena Daniel bukan hanya sekedar belajar, membaca dan mempelajari kitab-kitab suci, akan tetapi ia juga mempelajari penafsiran dari doa, dari permohonan, dari membungkukkan badan serta dari pengakuan dosa. Saya sering berfikir jika ia tidak berdoa dengan begitu gigihnya, ia akan kurang didukung dengan wahyu-wahyu Tuhan yang berada di masa sekarang serta di masa yang akan datang, yang begitu jelas di depan matanya. Akan tetapi karena telah mempelajari kitab-kitab suci tersebut, dan karena telah berdoa dengan segala kerendahannya, ia membawa terang dari langit kepada setiap pengertian firman tersebut. Di bawah penjelasan dari surga, cahaya, firman itu telah berubah, mereka hidup, mereka berbicara dan Daniel memahami mereka. Dengan doa, sebagaimana dengan belajar dan membaca, jadi, karena sudah belajar, ia sampai kepada Allah, mengarahkan wajahnya kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.

 

Saya kira kejadian itu terjadi sebelum peristiwa jendela yang terbuka itu yang mengarah ke Yerusalem dan tanah suci. Dan ia berdoa kepada Tuhan Allah dan mengaku dosa serta berkata: “Ah, Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat,” Bagaimana tanggapan saudara terhadap hal tersebut? Atau dapatkah saya membalikkanya di dalam cara yang negatif? Bagaimana tanggapan saudara mengenai orang yang datang ke hadapan Allah dan berbicara kepada Allah di dalam hubungan yang akrab? “Orang yang di atas,” “Sahabat lamaku, sahabat” - Tuhan! Teman baik saling memanggil - Tuhan!  “sahabat lamaku,” seperti anjing saya dan kuda saya - Tuhan! Bagaimana perasaan anda mengenai hal tersebut? Saya tidak pernah memiliki seseorang yang berbicara tentang hal tersebut dengan saya, juga saya tidak pernah mempelajari secara khusus atau membaca mengenai hal itu, akan tetapi ada sesuatu mengenai seorang manusia yang terbuat dari debu dari tanah yang memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan Allah dan itulah melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan jiwa saya.

           

            Ada jurang yang sangat luas antara seorang manusia yang meninggal dengan Kedaulatan yang besar dan kuat serta dahsyat dari surga di langit, dan untuk kelihatan bagi saya bahwa ketika seseorang mendekati Allah, maka sebaiknya selalu berada di dalam kerendahan hati, rasa hormat yang mendalam dan perasaan berdosa. Persis seperti Daniel,  “maka aku memohon kepada Tuhan, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: “Ah, Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat.” Bukankah ha tersebut yang menjadi jiwa dari semua orang-orang kudus yang disebut di dalam Alkitab? Ketika mereka datang ke hadirat Allah, mereka begitu hina dan penuh dengan kerendahan hati.

 

·        Ketika Abraham berdiam di hadapan Allah, ia berkata, ”Lihatlah, aku sudah memberanikan diriku untuk berbicara denganMu. Aku yang hanya debu dan abu.”

·        Ketika Yesaya melihat Tuhan yang tinggi dan menjulang ia berkata, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah selihat sang raja, yakni Tuhan semesta alam.”

·        Rasul Paulus mengatakan: “Untuk alasan ini, aku menekukkan lututku di hadapan Allah, Bapa kita.”

·        Dan ketika Rasul Yohannes di dalam kitab Wahyu melihat Tuhan, yang abadi, dipermuliakan, ia berkata, “Aku tersungkur di bawah kakinya seperti orang mati.”

 

Begitu luar biasa keagungan itu dan begitu menakjubkan dan kemuliaan yang tidak terhingga, yang dapat membuat seseorang yang terbuat dari debu mendekat kepada Allah yang Agung dari surga, hendaknya ia selalu melakukannya di dalam pengakuan dosa yang paling dalam serta dalam kesedihan dan kerendahan hati. Hal tersebut benar-benar ada di dalam Daniel: “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu: maka aku memohon kepada Tuhan, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: “Ah, Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat.

 

Sekarang, apakah saudara memperhatikan bahwa ia benar-benar berdoa, dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu? Sungguh hal yang ganjil bahwa saya menemukannya dengan melihat melalui Alkitab. Tidak ada firman di dalam Alkitab, baik itu di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru untuk berpuasa atau mengenakan kain kabung dan abu. Pendekatan yang paling dekat terhadapnya di dalam Perjanjian Lama berada di dalam pasal yang kedua puluh tiga dari Kitab Imamat di mana Musa memberikan Hari Penebusan Dosa kepada bangsa Israel, yang disebut di dalam komunitas bangsa Israel, Yom Kippur. Akan tetapi bahkan di sana, apa yang dikatakan oleh Musa adalah bahwa pada hari tersebut, mereka akan “menyusahkan jiwa mereka.” Ia sama sekali tidak menyinggung  apapun tentang berpuasa.

 

Demikian juga dalam Perjanjian Baru. Tidak ada sebuah firmanpun di dalam Perjanjian Baru untuk berpuasa. Boleh jadi pendekatan kepadanya yang paling memungkinkan adalah ketika murid-murid dari Yohannes mendatangi murid-murid Tuhan Yesus serta mengkritik mereka karena mereka tidak berpuasa. Dan Tuhan menjawab, “Bagaimana mereka dapat berpuasa ketika pengantin pria sedang bersama-sama dengan mereka? Akan tetapi ketika pengantin pria tersebut sudah pergi, maka mereka akan berpuasa.” Akan tetapi tetap tidak ada firman. Tidak satu firman pun juga di dalam kitab Mateus pasal yang keenam ketika Tuhan menguraikan tentang menjadi apa yang seharusnya engkau, bagaimana seharusnya engkau bertindak, jika engkau berpuasa. Jika engkau berpuasa, seharusnya engkau tidak tampak kusut dan rambutmu tidak bersisir, akan tetapi engkau seharusnya menyisir rambutmu dan mandi dan berpakaian serta mengenakan pakaianmu yang terbaik dan tersenyum, tidak berpuasa untuk dilihat manusia, akan tetapi berpuasalah hanya untuk Tuhan.. Dengan kata lain, kekuasaan serta anugerah dari sebuah doa syafaat puasa tidak terbentang di dalam upacara keagamaannya, atau perayaannya atau tindakan eksternalnya akan tetapi berada di dalam suatu penderitaan dari jiwa yang tidak dapat menemukan ekspresi lainnya yang lebih pantas kecuali, ”Saya tidak dapat makan, saya tidak dapat makan”.

 

Satu ketika, ketika saya menilainya, salah satu dari masalah dan salah satu kekeliruan dari gereja-gereja yang terdahulu setelah zaman dari para rasul, dan tentu saja pada masa gereja dari abad pertengahan, adalah kepercayaan pada bagian dari orang-orang Kristen beserta dengan pemimpin-pemimpin mereka yang berada dalam pengoyakan serta penistaan jasmani yang bagaimanapun juga ada penghargaan terhadap kebaikan, kesenangan dan bermanfaat. Saya fikir bahwa tidak lain dari ilmu pengetahuan klenik lama yang mengajarkan di dalam tubuh di sana yaitu kejahatan yang melekat. Dan satu-stunya cara untuk membebaskannya serta memerdekakan dan untuk menguraikan kualitas yang lebih baik dari jiwa yang terperangkap di dalam tubuh yang akan menyiksa dan mencabik-cabik serta mencambuk dagingnya. Bagaimanapun juga, mereka percaya bahwa di dalam penyiksaan terhadap tubuh itu, ada peningkatan terhadap tubuh tersebut. Tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran. Dan itulah kenyataan dari ilmu pengetahuan klenik. Dan untuk gereja Kristen untuk menerimanya serta melihat akan penyiksaan jasmani seprti yang dimaksudkan oleh pendekatan secara kebajikan kepada kesucian, bagi saya tidak kurang dari klenik. Karena Injil telah mengakui hal yang sebaliknya.

 

Di dalam pasal yang ke empat belas dari kitab Roma, misalnya, Rasul Paulus akan berkata: “Karena Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman.” Dan di dalam pasal yang kedelapan dari surat kepada jemaat di Korintus yang pertama di dalam ayatnya yang kedelapan, rasul Paulus menuliskan: “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah; kita tidak rugi apa-apa kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa kalau kita makan.”

 

Kita tidak dibawa kedalam hidup dalam kesucian dan kebaikan oleh tindakan perasaan luar. Kaum Farisi berdiri sendirian berdoa serta berkata, “Dua kali setiap minggu saya berpuasa.” Akan tetapi perbuatan itu tidak membawanya ke dalam kesucian atau kekudusan. Dengan berpuasa seperti itu, harus diasosiasikan dari suatu tindakan perasaan bagian luar. Karena bukan berjalan tanpa makanan yang membawa kepada kesucian, pendekatan yang menyenangkan kepada Allah, akan tetapi jiwalah yang akan membawa saudara untuk tidak memakannya.

 

Tidak pernahkah saudara merasakan hal seperti itu? Tidak pernahkah saudara berperilaku dengan cara seperti itu? Mungkin beban hati yang sedemikian rupa, mungkin penderitaan jiwa, saudara hanya tidak makan – hanya tinggal di hadapan Tuhan? Itulah kebenaran dari prang-orang kudus dari Perjanjan Lama. Itulah kebenaran dari para rasul dari Perjanjian Baru. Jika mereka berpuasa, selalu hal itu tidak merupakan alat perasaan saja seperti dipinjamkan atau seperti Selasa Shrove atau seperti Rabu Abu, akan tetapi selalu bangkit dari sebuah pencobaan yang dalam di hadapan Allah.

 

Bab yang pertama dari Kitab Samuel dimulai dengan kisah Hana. Ia tidak mau makan. Dan suaminya, Elkana, berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa engkau tidak mau makan? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?” Ah, betapa banyak arti perkataan Elkana kepada Hana! Akan tetapi hana memiliki sebuah beban di hatinya dan ia tidak mau makan. Ia berpuasa dan berdoa di hadapan Tuhan. Dan anak laki-laki itu, bayi yang mungil yang ditempatkan Tuhan ke dalam tangannya, bayi yang dinamakannya Samuel, “Diminta dari Tuhan,” ketika kemudian ia menjadi nabi di Israel, ia memanggil seluruh orang untuk berkumpul bersama-sama. Mereka telah bekerja di bawah kuk besi bangsa Filistin selama dua puluh tahun. Dan mengajak untuk melakukan puasa yang menakjubkan dan mereka meminta dengan sangat kenangan kepada Allah. Tidak ada upacara keagamaan yang seperti itu. Tidak ada penemuan perasaan seperti itu, akan tetapi datang dari penderitaan bathin, meminta sebagai kenangan kepada surga.

 

Inilah kisah mengenai Ester. Ia memberitahukan Mordekhai, pamannya dan berkata, “Kumpulkanlah semua orang Yahudi untuk bersama-sama di Susan, janganlah mereka makan dan minum kecuali berdoa. Dan Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja untuk memohon keselamatan jiwa bangsa kita.” Begitulah desakan yang keluar dari perasaan menderita yang dialami oleh jiwa yang benar-benar melakukan puasa – dan tidak ada jalan yang lain.

 

Dan begitulah juga dengan Daniel.  “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” Saya tidak akan mengira kita akan pernah melihat hal yang seperti itu. Akan tetap isering terlintas di dalam benak saya, pemikiran tentang kota Niniwe ketuka Yunus datang dan berkhotbah seraya berkata: “Sebelum empat puluh hari, dan kota Niniwe akan dihancurkan” Lalu sang raja turun dari takhtanya, dan melepaskan jubah kebesarannya, dan mengenakan kain kabung dan duduk di atas debu. Dan dari sang raja sampai ke pelayan yang paling rendah di dalam istana itu, semua orang berpuasa dan berdoa. Lalu Tuhan Allah berpaling serta mengampuni Niniwe. Pikirkanlah jiwa dari kejadian itu. Kadang kala ketika saya membacanya, saya memikirkan tentang apa yang kemungkinan terjadi kepada orang Amerika jika jiwa yang seperti itu melanda bangsa kita. Mulau dari presiden Amerika Serikat yang sebentar lagi akan berada di Peking, sampai kepada opas kantor yang paling rendah serta penanggung jawab dari gedung-gedung seperti ini; jika keseluruhan bangsa menyerahkan diri ke dalam doa dan permohonan dengan berpuasa serta mengenakan kain kabung, dan abu. Itulah semangat daripada Daniel ketika ia sampai di hadapan Allah dan berdoa.

 

Sekarang, biarkanlah saya mengatakan dengan singkat mengenai doa tersebut. Bolehkah saya mengatakan sesuatu yang tidak benar, dan kemudian beberapa hal yang tidak ada? Ini adalah salah satu doa yang paling menakjubkan dibanding dengan semua tulisan dalam seluruh kesusasteraan, dari seluruh isi Alkitab. Doa dari Daniel dilakukan atas nama bangsanya di akhir masa tujuh puluh tahun, yang menurut nabi Yeremia, Tuhan Allah akan mengingat di dalam kemurahan hatiNya terhadap bangsaNya.

 

Baiklah. Beberapa hal bukanlah doa. Pertama, kejadian itu bukanlah suatu penghitungan kembali atas jasa-jasanya sendiri. Ia tidak membariskan kebaikan-kebaikannya di hadapat Allah. Ia lebih berkata, “Tuhan, padaMu terletak kebaikan, akan tetapi bagi kami hanya ada kebingungan di wajah kami. Aku berdoa dan mengakui dosa-dosaku dan dosa-dosa bangsaku.” Tidak ada kebaikan didalamnya. Tidak ada sifat yang baik padanya. Seperti yang dikatakan oleh Yesaya: “Semua kebaikan kami hanya secarik kain kotor di mataNya.” Dan ketika ia sampai di hadapan Allah, tidak ada pemikiran tentang kebaikan atau atau harga diri.

 

Sekali lagi, di dalam doa, tidak ada pemikiran tentang penebusan dosa atau pertobatan atau pengakuan dosa. Bukan melalui doa, walaupun kita berdoa selamanya. Bukan karena air mata atau penderitaan kita atau penyiksaan bahwa dosa-dosa kita ditebus atau dihilangkan. Selalu hanya karena kemurahan hati Allah – selalu – tidak ada jalan lain. Dan di dalam doa-doa kita, kita dapat berdoa selamanya, selama bertahun-tahun, kita boleh menangis selamanya, akan tetapi perbuatan itu tidak membersihkn dosa kita. Hanya di dalam darah Kristus, di dalam belas kasih Kristus. Dan contohnya tidak ada, khususnya, tidak disini, saudara akan menemukan suatu hubungan sebagian dari Daniel untu melihat pada doanya sebagai suatu penebusan dosa atau sebagai suatu pertobatan atau sebagai suatu pengakuan dosa. Ia hanya meletakkan dirinya di bawah kemurahan hati Allah: Oh, Tuhan Allah, kami tidak menyatakan permohonan kami dihadapanMu untuk kemuliaan kami, akan tetapi untuk kemurahanMu saja.” Hanya Tuhan Allah yang dapat mengampuni dosa-dosa kita, bukan doa kita.

 

Lalu sekali lagi apa yang tidak. Bukan suatu hikmat dari badaniah. Bukan hanya karena suatu pergumulan hebat ini bahwa Daniel berdoa ia mendoakan semua tahun-tahun yang sebelumnya. Dalam pasal yang keenam dari ktab Daniel berkata bahwa tiga kali dalam sehari, Daniel berlutut dan membuka jendela serta melihat ke arah tanah dan kota yang suci serta ke arah bait suci yang sekarang berada dalam kehancuran dan terbuang lalu ia berdoa.

 

Saya tidak tahu untuk memikirkan apa lagi mengenai doa pergumulan, doa sebagi lubang perlindungan seperti yang biasa mereka katakan untuk menyebutnya. Saya pikir untuk seorang manusia untuk berdoa setiap saat sah-sah saja.. Akan tetapi, oh, kita berada di dalam dunia yang berbeda untuk berdoa di dalam sebuah pergumulan dan kemudian mengenyampingkannya. Hal itu hanya sebuah ejekan saja. Tapi orang suci ini, dan nabi Tuhan ini, Daniel, telah berdoa dan ia tetap berdoa. Dan pekerjaan itu sudah menjadi kebiasaan hidup di dalam berdoa. Dan ketika suatu masa genting yang hebat datang di saat akhir dari masa pembuangannya selama tujuh puluh tahun, ia telah mengetahui bagaimana cara untuk membungkukkan badan di hadapan Tuhan yang maha tinggi di dalam doa syafaat. Saudara tahu tidak, betapa menyenangkan untuk berbicara akrab dengan Tuhan. Dan disaat saat kritis tersebut, Apa yang telah dilakukan oleh Daniel selama bertahun-tahun sebelumnya, ia melakukannya kembali sampai sekarang. Ia mengarahkan mukanya kepada Tuhan Allah sebagaimana yang telah dilakukannya di masa lalu.

 

Tapi cukup – hanya itu – bagaimana doa tersebut: Pertama, doa itu meliputi semuanya – menyempurnakan pengakuan terhadap semua kebutuhan. “Oh, Tuhan Allah, Kami telah berdosa telah menentang Engkau. Oh Tuhan, padamu ada kemurahan serta pengampunan.” Tidak ada kekuatan di dalam kami. Kekuatan itu harus datang dari Allah. Tidak ada kekuatan di dalam diri kita. Kekuatan itu harus datang dari Tuhan. Tidak ada jawaban daridiri kita. Jawaban tersebut harus datang dari surga. Dibutuhkan sebuah pengakuan. “Di atas lenganMu kami berada.” 

 

Ia merupakan sebuah doa yang sangat bersemangat, sangat bersungguh-sungguh. Dapatkah saudara erasakannya? Dengarkanlah:

 

Ya Allahku, arahkanlah telingaMu dan dengarlah, bukalah mataMu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan namaMu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapanMu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayangMu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kotaMu dan umatMu disebut dengan namaMu.

 

Itu adalah doa yang sangat bersungguh-sungguh. Sangat bersemangat. Sekarang, kembali lagi, Saya ingin berfikir bahwa untuk berdoa dengan demikian fasihnya, demikian anggunnya, demikian menyanjungnya, akan lebih baik dari pada tidak berdoa sama sekali. Akan tetapi saya hampir tidak dapat menyebutnya benar-benar berdoa. Karena doa yang sesungguhnya harus memiliki semangat di dalam jiwanya:

 

·        Musa berdoa seperti ini. “Tuhan, jika Engkau tidak dapat menyelamatkan bangsa itu, coretlah namaku dari buku yang telah Engkau tuliskan, Jika mereka tidak dapat hidup, Saya juga tidak ingin hidup. Jika mereka harus mendapat hukuman, maka hukum jugalah aku. Jika mereka harus binasa, maka biarkanlah aku binasa juga.” Dia berdoa dengan cara seperti itu.

·        Nabi Mikha, berdoa dengan cara seperti ini: “Bagaimana aku akan sampai ke hadapan Tuhan dan membungkukkan diriku di depan Allah yang maha tinggi?”

·        Rasul Paulus berdoa seperti ini: “Untuk alasan ini aku membungkukkan lututku kepada Allah Bapa kita.” Begitu bersemangat dan bersungguh-sungguh.  Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah.” 

 

Dan sekali lagi, doa seperti itu untuk berkat-berkat sementara sebagaimana dengan berkat-berkat spiritual. Seperti yang saudara ketahui, kita memiliki pendapat yang ganjil di dalam kepala kita melakukan penggolongan-penggolongan. Di tembok sebelah sini, ada agama. Pada tembok yang di sebelah sana, ada pertimbangan keduniawian serta jasmaniah, dan kita mengatakan bahwa, saudara tahu, di sebelah sini, kita harus bersifat relijius. Inilah Tuhan. Dan disebelah sana, inilah dunia, dan kita meninggalkan Tuhan. Oh, tidak, tidak ada pendekatan, tidak ada kemiripan dari sebuah ajakan yang seperti itu di dalam Alkitab.

 

Di dalam doa yang paling, paling bersungguh-sungguh, begitu mendalam, fasih dan bersemangat yang dibuat oleh Daniel, ia tidak hanya meminta berkat-berkat untuk spiritual, kemurahan serta pengampunannya saja, akan tetapi apa yang dimintanya dari Allah adalah – sekarang, saudara lihat akan benda-benda jasmaniah ini semua. Ia meminta sesuatu terhadap pembangunan kembali rumah Tuhan di kota Yerusalem. Sebuah Bait dengan bahan yang terbuat dari batu. Ia meminta untuk pembangunan kembali kota suci itu yang sekarang terbaring dalam kehancuran. Rumah-rumah serta dinding dan jalan-jalan itu. Dan ia meminta untuk kepulangan bangsanya ke tanah suci tersebut. Dan termasuk hal-hal yang dibutuhkan nantinya di dalam suatu ziarah, sebuah keberangkatan, sebuah perjalanan, makanan, perumahan, pembawaan barang-barang. Semuanya sama, suci di dalam penglihatan Allah.

 

Karena seseorang yang berdoa untuk pekerjaannya dan tugas-tugasnya, serta untuk penempatannya, serta untuk meraih kesuksesan dan bekerja dengan baik dan diberkati oleh Allah, sama seperti seseorang yang berdoa untuk kemurahan Allah serta untuk pengampunan dari surga kepada jiwanya. Berdoa untuk seluruh kehidupan. Kita tidak mengolong-golongkan apapun di dalam hidup kita. Kita ini satu pribadi dan kita ini satu orang. Aku adalah aku ketika aku sedang bersantap. Aku adalah tetap aku, ketika aku tertidur. Aku adalah tetap aku ketika aku terbangun di pagi hari. Aku adalah tetap aku, ketika aku melaksanakan tugas-tugasku sehari-hari, sama seperti aku adalah tetap aku ketika aku sedang membaca Alkitab. Dan aku adalah aku ketika aku sedang berdoa. Semuanya berada di dalam satu kehidupan dan semuanya seharusnya ditempatkan di hadapan Allah. “Tuhan, inilah aku. Urapilah aku baik didalam dan diluar, pada hari ini, hari esok, selmua tahun-tahun dalam kehidupanku.”

 

Baiklah, saya mempunyai sebagian yang lain dari khotbah ini. Akan tetapi saya begitu ingin membuat permohonan kita ini di televisi. Sebentar lagi kita akan berhenti. Kita akan memotongnya. Saudara tahu, diperlukan banyak komitmen spiritual bagi saya untuk melakukannya. Ketika saya mempersiapkan khotbah ini, saya begitu ingin mengatakannya. Akan tetapi saya ingin kita memulai kebaktian ini, membuat orang-orang melihat pada televisi, dan ada lebih dari seperempat juta orang yang sedang menyaksikan kebaktian saat ini. Kebaktian ini disiarkan dalam lima negra bagian yang berbeda. Ada ribuan bahkan puluhan ribu orang yang sedang saling berbagi jam ini sekarang juga. Dan saya begitu menginginkan untuk menempatkan undangan kita di televisi.

 

Saya tidak mengetahui alasan lain untuk datang sampai ke dalam gang itu serta berdiri di hadapan Allah, kecuali; satu, bahwa hal tersebut mengurapi saudara ketika saudara melakukannya. Dan yang lebih lagi, hal tersebut memberikan dorongan semangat kepada orang lain lagi. Dan ketika saudara maju ke depan, dan memberikan hatimu kepada Tuhan serta menempatkan hidupmu di dalam persekutuan dari Gereja Tuhan, orang-orang yang menyaksikannya, keduanya berada di sini, semuanya kita berada di sini, di dalam hadiratNya dan kerumunan orang yang menyaksikannya melalui saluran televisi, semangat kami semua terdorong ketika saudara datang.

 

Sekarang, Allah pasti akan merendahkan saya, ketika saya selesai mengatakannya akan tetapi tidak ada yang datang. Akan tetapi saya tiak percaya bahwa Tuhan akan melakukannya. Kita mendapatkan tuaian yang luar biasa, ya, tuaian yang luar biasa sekarang, dalam kebaktian pukul 08.15 pagi ini. Dan kita akan terus percaya kepada Allah bahwa Ia akan melakukannya lagi. Sebentar lagi, kita akan berdiri dan menyanyikan lagu puji-pujian kita.

 

Dan jika saudara yang berada di sekitar balkon, saudara sendiri, jika saudara berada diantara kerumunan orang di lantai yang lebih rendah, seseorang dari saudara. Karena Roh dari Yesus akan melesakkan permohonan itu ke dalam hati saudara, maukah saudara datang sekarang? Pada nada yang pertama dari bait yang pertama, saudara dengan keluargamu, saudara dengan pasanganmu, atau hanya saudara sendiri berikanlah hatimu kepada Kristus, atau masuk ke dalam persekutuan gereja ini. Pada nada yang pertama dari bait yang pertama, ketika kita berdiri untuk bernyanyi, saudara berdiri untuk merespon. Bangkit berdiri mendatangi gang ini lalu katakan: “Inilah aku, pak Pendeta, memberikan tanganku kepadamu. Aku memberikan hatiku kepada Tuhan.” Atau: “Inilah istriku, dan inilah anak-anakku, semuanya kami datang pada hari ini.” Karena Allah akan melesakkan permohonan itu ke dalam hatimu, lakukanlah sekarang juga; datanglah sekarang. Sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.