YANG LANJUT USIA

(THE ANCIENT OF DAYS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

01-30-72

Daniel 7:9-14

 

            Di radio dan di televisi, anda sedang mengikuti kebaktian bersama dengan kami di gereja First Baptist Church di Dallas. Ini adalah Pendeta yang membawakan renungan yang diberi judul “Yang Lanjut Usia” atau “Penyembahan terhadap Kristus.”

 

            Di dalam pelajaran kita mengenai kitab Daniel, kita telah sampai pada bagian pertengahan dari pasal yang ketujuh. Dan di dalam pasal ini, ada dua penglihatan di bagian pertengahannya. “Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaianNya putih seperti salju dan rambutNya bersih seperti bulu domba; tahta yang ada di bawahNya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar.” Di zaman dahulu kala, sebuah tahta sering kali dibuat diatas roda-roda sehingga kursi itu dapat dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan roda-roda itu sendiri seperti kobaran api yang menyala-nyala. “Suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapanNya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapanNya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-Kitab.” Dan kemudian datanglah penglihatan yang kedua, “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan Ia dibawa kehadapanNya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadaNya. KekuasaanNya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaanNya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” 

           

            Itulah kedua penglihatan yang dilihat oleh Daniel menuju akhir zaman. Kita akan membicarakannya di dalam khotbah di hari Minggu yang akan datang, tetapi hari ini, kita akan memikirkan pada dan memohon kepada Tuhan untuk memberkati kita ketika kita mencari kebenaran di dalam kedua pribadi yang dihadirkan di sini. Penglihatan yang pertama, Yang Lanjut Usianya; dan penglihatan yang kedua, Anak Manusia. Pengenalan terhadap orang di dalam penglihatan yang kedua adalah yang paling terang. Ia merupakan penjelmaan dari Kristus. “Saya melihat . . . seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit.” Dn di dalam pasal penyingkapan, dalam Kitab Mateus pasal 24, serta di dalam nats pengungkapan di dalam Kitab Wahyu 1:7, Anak dari seorang manusia itu dikenali dalam kedatangannya yang agung, pada akhir zaman, Ia datang di dalam Shekinah, kemuliaan Tuhan. Ia datang di awan-awan. Jadi, penglihatan yang kedua itu jelas. Anak dari seorang manusia itu adalah penjelmaan dari Allah. Dia adalah Kristus, Yahwe, Yesus. 

           

            Akan tetapi siapa Yang Lanjut Usianya ini? “Aku melihat sampai Yang Lanjut Usianya itu datang.” Kemudian Dia digambarkan. Dan sebuah hal yang kedua, Ia datang untuk pengadilan. “Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-Kitab.” Ketiak saudara-saudara membaca bagian itu, tanggapan alamiah saudara yang pertama adalah bahwa Yang Lanjut Usianya itu adalah tidak lain dan tidak bukan selain Tuhan Allah itu sendiri. Allah, Bapa. Akan tetapi, di dalam penglihatan itu Dia digambarkan, digambarkan secara pribadi, bagaimana rupa wajahNya. Dan di dalam penglihatan itu Ia datang untuk sebuah pengadilan. “Dan dibukalah Kitab-Kitab.” Kedua hal tersebut dijanjikan dan secara ketegoris disangkal di dalam Alkitab. Tidak ada satu keterangan mengenai Allah di dalam Alkitab.

 

            Dalam Kitab 1 Timotius 6, ayat yang ke 16 mengatakan bahwa Allah bersemayam di dalam terang yang tidak seorang manusiapun dapat menghampiri. “. . . Seorangpun tak pernah melihat Dia, atau dapat melihat. . . .”  Kitab Kolose 1:15 mengatakan bahwa Tuhan itu tidak kelihatan.  Disana Ia dinamai dengan “Allah yang tidak kelihatan.” Di dalam pasal yang pertama dari Kitab Yohanes ayat yang ke 18, di dalam pasal yang keenam juga dari kitab Yohannes serta di dalam Kitab 1 Yohannes pasal yang keempat, kalimat-kalimat seperti ini tiga kali diulangi: “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah.” Adalah tidak memungkinkan untuk mata dari seorang manusia untuk melihat kepada isntisari dari keilahian. Oleh karena itu, tidak ada suatu gambar, tidak ada sebuah foto, tidak ada sebuah gambaran di dalam Alkitab.

 

            Sama juga halnya tidak ada gambaran dari Roh Kudus. Bagaimana engkau akan menggambarkan di dalam bahasa Roh Kudus? Subyeknya, orangnya, intisarinya tidak bisa diterangkan. Ia tidak dapat ditempatkan di dalam perkataan. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah, tidak pernah, sampai kapanpun.

 

            Di dalam pasal yang ke 24 dari Kitab Keluaran, Musa berkata kepada Tuhan Allah, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaanMu kepadaku.” Dan Tuhan menjawab, “Tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup. Tapi Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung batu; apabila kemuliaanKu lewat dan Aku akan menudungi engkau dengan tanganKu sampai Aku berjalan lewat.” Lalu Tuhan menempatkan Musa di lekuk gunung batu dan menudunginya di sana dengan tanganNya. Dan ketika kemuliaan Tuhan telah berlalu, Tuhan menarik tanganNya dan Musa melihat cahaya yang tertinggal, senja dari hadirat Tuhan. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah dapat hidup.

 

            Hal kedua yang dilarang oleh Firman itu ada di dalam Injil. Yang Lanjut Usianya ini tidak hanya dilukiskan secara pribadi, bagaimana rupa wajahNya, akan tetapi juga mengatakan bahwa Ia datang untuk suatu pengadilan dan kitab-kitab akan dibuka. Di dalam Kitab Injil Yohannes pasal yang ke 5 kembali dikatakan dengan tetap bahwa “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.” Siapa Yang Lanjut Usianya ini? Ia telah dilukiskan dan Allah tidak pernah dilukiskan. I datang untuk suatu penghakiman. Akan tetapi penghakiman adalah milik Kristus itu sendirian. Seperti dikatakan di dalam Kitab 2 Korintus pasal yang ke 5 yang menyatakan, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus.” Dan beberapa dari saudara-saudara yang telah pernah berkunjung ke Korintus telah berdiri di tempat dimana rasul Paulus berkata, “Saya berdiri dihadapan takhta. Takhta pengadilan Kristus. Jadi siapa Yang Lanjut Usianya ini? Siapa yang dilukiskan di sini dan yang datang untuk penghakiman? Jawaban yang seturut dengan Firman Tuhan sangat sederhana. Penglihatan terhadap Yang Lanjut Usianya ini merupakan sebuah Theophany, sebuah Ephiphany, sebuah manifestasi dari masa sebelum penjelmaan Kristus.

            Inilah wahyu yang sering kali diulang-ulang di dalam Kitab Perjanjian Lama. Di dalam    bab yang ke 6 dari Kitab Yesaya, nabi itu mengatakan bahwa di dalam tahun matinya raja Uzia, ia juga melihat Tuhan, Yahwe,  tinggi dan menjulang. Ujung jubahNya memenuhi Bait Suci, dan kemuliaanNya memenuhi seluruh bumi. Dan di sebelah atasNya berdiri para Serafim berseru-seru: “Kudus, Kudus, Kudus.” Pasal yang ke 12 dari Injil Yohannes mengatakan bahwa Yesaya melihat Yahwe Yesus ketika ia melihat Tuhan begitu tinggi dan diangkat ke atas. Dengan bahasa yang tegas, ia mengenali bahwa Yahwe adalah penglihatan sebagai manusia sebelum penjelmaan dari Yesus Kristus. 

           

            Di dalam pasal yang pertama dari Kitab Yehezkiel, Nabi Yehezkiel melukiskan Tuhan Allah. Kembali di sana, ia melukiskan sebuah pra-perwujudan, sebuah Theophany dari Kristus. Di dalam pasal yang ke 3 dari kitab Daniel, ketika raja Nebukadnezar melihat ke dalam tungku perapian yang terbakar dan menyala-nyala itu, dimana ketiga pemuda Ibrani telah dimasukkan ke dalamnya, ia melihat orang yang keempat. Dan ia berkata bahwa raut wajah, raut muka dari orang yang keempat itu seperti Anak Allah, sebuah Theophany, sebuah pra-perwujudan dari penjelmaan Kristus.

 

            Dalam Kitab Keluaran pasal yang ke 24, dikatakan bahwa para tua-tua itu melihat Allah. KakiNya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam. Dan melukiskanNya serta dengan tegas berkata: “para tua-tua itu memandang Allah lalu makan dan minum.” Mereka mengadakan di depan hadiratNya, dan mereka berpesta di dalam kemuliaan atas penglihatan itu. Akan tetapi dalam Kitab Ulangan pasal yang keempat, Musa bahwa tidak ada kiasan terhadap Tuhan Allah yang terlihat di dalam gunung mulia yang berapi-api itu. “Oleh karena itu” katanya, “engkau tidak dapat membuat suatu patung yang menyerupai Tuhan di surga di atas ataupun di bawah bumi ini.” Baiklah, apa yang terjadi kemudian, bahwa para tua-tua itu melihat ketika mereka mengatakan bahwa mereka melihat Allah? Yang mereka lihat adalah suatu Epiphany, suatu Theophany. Mereka memandang kepada suatu pra-perwujudan dari pra-penjelmaan, pra-keberadaan dari Kristus.

           

            Dan inilah gambaran dari apa yang kita temukan di dalam pasal yang ke 7 dari Kitab Wahyu, di dalam pasal yang ke 7 dari Kitab Daniel, dan dengan persis diulangi kembali di dalam pasal yang pertama dari Kitab Wahyu, penglihatan tersebut adalah penglihatan kepadaNya yang mana Tuhan menjelma di dalam tubuh dan daging, dibenarkan di dalam Roh Kudus, dilihat oleh para malaikat, dipercayai di dalam dunia ini, dikhotbahkan kepada kaum kafir, dan diterima ke dalam kemuliaan. Yang Lanjut Usianya, yang pakaianNya putih seperti salju, rambutnya bersih seperti bulu domba, dan dari hadiratNya, sungai yang terbuat dari api membakar dan menyala-nyala. Sama seperti gambaran dari Pasal pertama dari Kitab Wahyu. Mendengar suara yang nyaring dari belakangnya, Yohannes berpaling untuk melihat siapa yang berbicara. Dan apa yang dilihatnya di tengah-tengah tujuh kaki dian, di tengah-tengah gereja-gereja itu, seseorang yang serupa dengan Anak manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadaNya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambutNya putih bagaikan bulu yang putih metah, mataNya bagaikan nyala api. KakiNya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian. DaripadaNya, suaraNya bagaikan desau air bah. Dan dari mulutNya keluar sebilah pedang tajam bermata dua. Dan raut wajahNya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. Inilah penjelmaan dari Kristus yang telah dimuliakan. Di dalam pasal yang pertama dari Kitab Wahyu, dari apa yang telah saya baca, dan ini adalah penjelman pra-theophany dari Kristus di dalam pasal ke 7 dari Kitab Daniel.  Adalah Tuhan itu sendiri, Yang Lanjut Usianya, Tuhan Yesus Kristus di dalam pra-perwujudan keilahianNya yang paling mendasar.

 

            Dan di dalam penglihatan yang kedua, Tuhan Yesus Kristus sebgai Anak dari seorang manusia, menjelma, dimuliakan, datang dengan awan-awan dari surga. Apakah Kristus atau keilahian? Dan kita menyembahNya sedemikian rupa? Apakah Tuhan Yesus Kristus mewujudkan diri dalam daging? Untuk itu, Injil telah menambahkan sebuah persetujuan akan kepastian. Ya, Kristus dihadirkan di dalam Firman Tuhan sebagai Keilahian itu sendiri, memakai jubah di dalam tubuh dan daging manusia dan di dalam hidup manusia. 

            Injil dari Yohannes dimulai dengan sebuah pernyataan atas sebuah pengajaran yang luar biasa. En arke en ho logos, kai ho logos en pros ton theon, kai theos en ho logos Setiap satu dari ketiga kalimat itu penuh dengan pengertian yang abadi. En arke en ho logos – “Pada mulanya adalah Firman.” Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dan hal tersebut mengidentifikasikan bahwa pada mulanya Firman itu sebagai Pencipta yang Agung. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” En arke en ho logos, “Pada mulanya adalah Firman.” Segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Bait teologi agung yang kedua adalah, kai ho logos en pros ton theon. Di dalam Alkitab saudara yang merupakan versi yang telah diterjemahkan, “Dan Firman itu bersama-sama dengan Allah.” Pros ton theon mengartikan secara aktual berhadapan muka langsung dengan Allah. Hal yang sama yang diberikan di sini di dalam pasal yang ke 7 dari ramalan Daniel.  “Dan disana duduklah Yang Lanjut Usianya. Dan di sana telah dibawa ke dekatNya Anak dari seorang manusia yang datang dengan awan-awan dari kemuliaan.” Keduanya saling berhadapan, pros ton theonYang satu adalah Yang Lanjut Usianya, pra penjelmaan dari Allah, Yahwe Yang Agung dari raut wajah yang tua, dan yang lainnya adalah perwujudan pra-penjelmaan Tuhan pros ton theon, saling berhadapan. Sama, seimbang. Dan bait yang terakhir, kai theos en ho logos – tidak ada artikel untuk kata theos. Oleh karena itu, kalimat itu merupakan sebuah predikat. En ho logos, “Dan Firman itu adalah Allah.” Suatu pernyataan yang pasti. “Dan Firman itu adalah Allah.” Inilah permulaan dari Injil Yohannes. Dan ekspresi tersebut berlanjut dan di dalam penggambaran atas keilahian dari nabi yang berasal dari Nazareth sampai menemukan penyempurnaannya yang hebat di dalam deklarasi dan pengakuan dari rasul Thomas, “Tuhanku dan Allahku.” Apa yang dimulai dengan ajran tentang keagamaan serta pernyataan di dalam ayat yang pertama dari pasal yang pertama, di dalam seruan hebat yang menyimpulkan di dalm pasal yang ke 20 dari Injil Yohannes, penegasan yang agung dari pengalaman orang-orang Kristen. Tidak lagi hanya sebuah pengajaran, tidak lagi hanya kata-kata, akan tetapi sekarang berada di dalam hati manusia, di dalam pengalaman manusia, dan di dalam kehidupan manusia, Tuhanku dan Allahku. 

           

            Sesudah itu, mengikuti kisah injil terhadap perwujudan Allah di dalam daging, kemudian di sana mengulangi apa yang telah ditetapkan, dengan tegas, doktrin yang terang dan jelas dari keilahian Kristus. Misalnya, di dalam Kitab Kolosse 2:9, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepanuhan keAllahan.” Yang kedua, di dalam Kitab Titus 2:13, sebuah pernyataan yang telah dipelajari, “Dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah Yang Maha Besar dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus.” Dan lagi, di dalam pasal yang pertama dari Kitab Ibrani di dalam ayatnya yang ketiga, “karena Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Ketika Tuhan berkata kepada Filipus, “Ia yang telah melihat Aku telah melihat Bapa.” Bagaimana rupa dari Allah? Bagaimana gambar rupa dari Allah? Seperti apa perwujudan dari Allah? Karena Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Ia adalah Allah yang menjelma di dalam jasmani. 

           

            Sekarang, hal ini telah membayangi seluruh kisah yang ada di dalam Kitab Perjanjian lama. Ada begitu banyak yang saudara dapat temukan di dalam perjanjian lama itu, di dalam Kitab Perjanjian Lama, bayangan dari seseorang, tidak dapat dilukiskan, beberapa kali hanya menyebut namanya saja. Akan tetapi selalu hanya satu yang menerima pemujaan seperti Allah dan berbicara seperti Allah. Kadang kala, Ia muncul di dalam sosok malaikat, kadang kala dalam sosok manusia, akan tetapi Ia selalu ada. Membayangkan penjelmaan akhir Allah di dalam tubuh dan daging, di dalam Kristus Ia menjelma. Lihatlah sebentar. Di dalam pasal yang ke 22 dari Kitab Kejadian, sebagai kepatuhan terhadap perintah Allah, Abraham berada di gunung Moria, tempat di mana Salomo membangun Bait Suci itu. Ia melihat ke wajah dari putranya Ishak. Dan sebagai kepatuhan kepada Firman Allah, ia telah mengangkat tangannya untuk menikamkan pisau persembahan itu ke dalam jantung dari pemuda tersebut. Sekarang simaklah Firman Tuhan itu: “Tetapi berserulah malaikat Tuhan dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham” lalu kemudian dikisahkan hal tersebut menghentikan pengorbanan itu. Lalu kemudian ikutilah ke bawah dan saya akan mengutip kembali: “Untuk kedua kalinya berserulah malaikat Tuhan dari langit kepada Abraham kataNya: “Aku bersumpah demi diriKu sendiri – demikianlah firman Tuhan – bahwa di dalam berkat Aku memberkati engkau. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi ini akan mendapatkan berkat.” Siapa malaikat Tuhan yang bersumpah demi diriNya sendiri karena Ia dapat bersumpah demi yang tidak lebih agung, dan yang menyebut dirinya Allah? Siapakah orang lain itu, yang selalu berada di sana, membayangi latar belakang itu?

 

            Lagi, di dalam Kitab Kejadian pasal yang ke 31, dan saya kutip: “Dan Malaikat Tuhan muncul di hadapan Yakub dan berkata, Akulah Allah yang di Bethel itu.” Dan kemudian menyuruhnya untuk pulang ke sanak saudaranya dan ke Negeri yang telah dijanjikan itu. Siapakah malaikat yang muncul di hadapan Yakub dan menyebut diriNya sebagi Allah dari Bethel? 

 

            Atau sekali lagi, di dalam kitab Keluaran pasal yang ke 3, mengapa Musa menggembalakan ternak dari Yitro di seberang padang gurun. Ketika ia melewatkan tahun-tahun tersebut, selama empat puluh tahun di dalam kesunyian, muncul di sana dihadapannya, dan saya akan mengutipnya: “Dan malaikat dari Tuhan, malaikat Allah munculmenampakkan diri kepadanya di dalm nyala api yang keluar dari semak duri, yang terbakar tetpi tidak dimakan api, dan berkata kepadanya, Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat dimana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.” Dan malaikat Tuhan itu berkata kepadanya: “Aku adalah Allah dari Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” Siapakah malaikat Tuhan ini yang menyebut dirinya Allah?

 

            Kita lihat lagi, di dalam kitab Keluaran pasal yang ke 23, Tuhan Allah berkata kepada Musa: ”Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat milikKu, milikKu! Berhati-hatilah untuk mendengarkan perkataannya, sebab namaKu ada di dalam dia.”  Yaitu, pokok dari Allah, realita dari Allah, kekuatan Allah berada di dalam malaikat itu. Saiapakah malaikat itu gerangan? Tidak lain dan tidak bukan ialah prainkarnasi dari Kristus dan kepada Abraham, kepada Musa, kepada Yesaya, kepada Yehezkiel, kepada Nebukadnezar, dan kepada Daniel, Ia menunjukkan dirNya sendiri. Ia mewujudkan diriNya sendiri di dalam penjelmaan. Beberapa kali di dalam sosok seorang malaikat, kadang kala di dalam sosok tubuh seorang manusia, akan tetapi Ia selalu berada di sana. Ia disembah sebagai Allah. Dan Ia menyebut dirinya sendiri dengan Allah. Dan di dalam penjelmaan yang terakhir, Ia adalah Allah di dalam daging, Tuhan Yesus. Kita telah diajarkan untuk mengharapkannya di dalam Kitab Perjanjian lama itu sendiri.

 

            Sekali lagi, sebuah bagian di dalam Yesaya pasal yang ke 43 dari ayat yang ke empat, bernyanyi dengan begitu meriahnya di dalam sang Juru Selamat. Dengarkanlah: “Suara dari seseorang yang berseru-seru di hutan belantara, engkau persiapkan jalan untuk Tuhan, engkau persiapkan jalan untuk Allah. Di padang gurun, buatlah jalan untuk Allah kita. Setiap lembah akan dimuliakan, setiap gunung akan direndahkan. Yang melengkung akan diluruskan, dan yang kasar akan diratakan. Karena kemuliaan Tuhan akan disingkapkan, dan semua orang akan melihatnya bersama-sama.” Dan di dalam pasal yang ke 3 dari Injil Mateus di dalam ayatnya yang ke 3, rasul itu berkata bahwa hal ini adalah suatu nubuat yang agung mengenai kedatangan sang Immanuel, sangaRaja Kemuliaan. 

           

            Nubuat mengenai kedatangan Tuhan di dalam daging, di dalam penjelmaan, di dalam sosok tubuh dan kehidupan manusia, telah digenapi di dalam kedatangan Yesus, Kristus. Benarkah kemudian, bagi kita untuk menyembah Dia sebagai satu-satunya Allah yang benar? Penjelmaan Allah di dalam daging? Ini merupakan intisari dari keAllahan yang dapat dilihat di dalam sosok tubuh manusia dan di dalam kehidupan manusia. Hidup di Perjanjian Lama sebagai malaikat Tuhan, hidup di Perjanjian Baru sebagai Yesus Kristus, dan kemudian datang kembali sebagai Anak seorang manusia dengan menaiki awan daripada kemuliaan untuk kemudian menerima kekuasaan untukNya, serta kemuliaan dan kekuatan untuk selama-lamanya. Apakah benar kita harus menyembahNya sebagai Tuhan dan sebagai Allah? Ini sudah menjadi jantung dari iman kepercayaan orang-orang Kristen dan jantung dari peribadatan orang-orang Kristen dari mulanya. Di dalam pasal yang ke 24 dari Injil Lukas, dari ayatnya yang ke 51, setelah Tuhan diterima di surga, Injil itu berkata dan saya akan mengutipnya: “Dan murid-murid itu menyembah kepadaNya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat  pasal bersukacita.” Dan mereka menyembahNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat, sebab Tuhan Immanuel, sebab Tuhan dengan kita. Karena Allah menjelma di dalam daging. Mereka menyembah Dia.

 

            Dan kisah itu belum pernah gagal dalam pengembangan selama berabad-abad semenjak masa orang-orang Kristen. Pliny menulis sebuah surat, Pliny Muda, seorang gubernur, Gubernur Romawi di daerah Bithynia. Di tahun 100, ia menuliskan sebuah surat kepada Trajan, Kaisar Romawi. Dan di dalam surat kepada Trajan itu, ia menggambarkan sekte baru yang bernama Kristen. Dan di dalam peribadatan mereka, katanya, kata Pliny, bahwa mereka berkumpul bersama-sama pada hari Minggu pagi, dan menyanyikan lagu puji-pujian dan penyembahan kepada Yesus. Diguratkan pada tembok di istana Palestina di Roma, merupakan sebuah karikatur yang bertanggal kembali ke abad-abad permulaan orang-orang Kristen yang pertama. Pada tembok itu, secara kasar disketsakan sesosok manusia dengan kepala seekor keledai tergantung pada sebuah salib. Di depannya ada orang lain yang membungkuk di dalam sikap menyembah dan menyembah. Dan ada teks dibagian bawahnya yang secara kasar dapat dieja, “Alexamenos menyembah Tuhannya.” Dari awalnya, jantung dari iman kepercayaan orang-orang Kristen telah menyembah kepada Yesus. 

 

            Dan ke dalam tanganNya sebagai Allah kita mempercayakan dan memberikan jiwa kita ketika sampai ajal kita nanti. Di dalam pasal yang ke 7 dari Kitab Kisah Para Rasul, menceritakan kisah tentang kemartiran Stefanus. “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Orang Kristen itu meninggal di dalam genggaman Yesus, selamat di dalam tangan Yesus. Selamat di dadaNya. Kita meninggal di dalam kemuliaan, di dalam pengharapan, di dalam pengurapan, di dalam pengampunan, di dalam keagungan, di dalam janji Allah, yaitu Tuhan Yesus Kristus. 

 

            Dan ini seharusnya menjadi perilaku tetap serta semangat dari murid-murid Kristen. Berlutut, memuja, dan menyembah di hadiratNya. Seperti dikatakan di dalak Kitab Ibrani 1:6, “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia” Dan seperti dikatakan juga di dalam Kitab Filipi pasal yang ke 2 dari ayatnya yang ke 10, “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah Bapa.” Ini merupakan perilaku penyembahan dan peribadatan dari murid-murid Kristus. Ia adalah Tuhan kita yang Agung dan Juru Selamat, Raja kita yang akan datang. 

           

            Robert Browning, di dalam salah satu suratnya, melukiskan sebuah insiden literatur yang terkenal di dalam kehidupan Charles Lamb di London. Mereka dulunya selalu bersama-sama, para intelektual, orang-orang yang bergelut di dalam dunia kesusasteraan dan kaum jenius di bidang literatur. Dan Charles Lamb mulai berbicara mengenai apa yang akan mereka perbuat jika orang hebat dari masa lalu bangkit kembali dan tiba-tiba muncul di depan pintu. Dan seseorang berkata jika Shakespeare yang akan datang itu, semua mereka akan berdiri dengan rasa hormat dan kekaguman terhadap kejeniusan Shakespear, yang tidak tertandingi di dalam dunia literatur. Lalu kemudian seseorang berkata, “Akan tetapi jika ternyata Yesus Kristus yang datang dan muncul, semua kita akan berlutut di dalam sikap bersujud dan menyembah di dalam kerendahan.”  Allah menjelma dalam daging, malaikat Tuhan, inkarasi dari Kristus, Allah yang berjalan diantara manusia. 

            Lagu puji-pujian kita adalah suatu pernyataan teologi yang agung. Penyembahan terhadap Yang Lanjut Usianya, Anak seorang manusia, [tidak jelas], Tuhan Yesus dari Alkitab. Dengarkanlah lagu puji-pujian tersebut: 

 

Oh, sembahlah sang raja, segala kemuliaan yang diatas,

Dan bernyanyi menyukuri kasihNya yang agung. 

Yang Lanjut Usianya, Perisai dan Pembela kita

Ditempatkan di dalam kemegahan dan dipersiapkan dengan pujian. 

Yang Lanjut Usianya, Raja yang akan datang, Allah yang menjelma dalam daging. 

Datanglah, Engkau Raja Yang Maha Kuasa,

Tolonglah kami namaNya untuk bernyanyi,

Tolong kami untuk memuji: 

Bapa, seluruh kemuliaan,

Melalui seluruh kemenangan,

Datang dan memerintahlah atas kami,

Yang Lanjut Usianya.

 

            Penulis lagu puji-pujian itu memiliki perasaan dari Injil Kudus itu sendiri, wahyu agung yang abadi daripada Allah di dalam Yesus Kristus. Penjelmaan, pokok intisari daripada Yesus, malaikat Tuhan, Yang Lanjut Usianya itu. Di Bethlehem, Raja Immanuel, Tuhan beserta kita, Penjelmaan Tuhan dalam daging. Allah berjalan dan bercakap-cakap di antara manusia. Dan ia yang telah melihat Yesus, telah melihat Bapa. Mencintai Yesus adalah mencintai Allah Bapa. Menerima Yesus adalah menerima Bapa. Menyembah Yesus adalah menyembah Bapa. Menerima Yesus adalah menerima Bapa. Mengasihi kedatangan Yesus adalah mengasihi kedatangan Allah Yang Agung dan Juru Selamat kita. Satu-satunya Allah yang akan pernah kita lihat adalah Allah yang menjelma dalam daging. Yesus, Tuhan kita. Oleh karena itu, sebagai umat Kristen, ketika kita berdoa di dalam namaNya, kita meminta pertolongan di dalam namaNya, kita meninggal di dalam namaNya, kita mempercayakan jiwa kita kepadaNya di dalam namaNya, dan kita mencari kemenangan yang luar biasa, kedatangan yang agung di dalam namaNya.  Engkau hanyalah seorang manusia seperti apa Allah telah menciptakan kita untuk kita percayai di dalam setiap kalimat dari setiap kepercayaan terhadap Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. 

 

            Semua menyerukan kekuatan nama Yesus, hendaknya para malaikat jatuh dalam kepenatan. Hendaknya semua malaikat Tuhan menyembah Dia. KepadaNya akan diberikan kemuliaan dan kekuasaan serta kekuatan dan penghargaan untuk selama-lamanya. Amen. Inilah Alkitab, Firman Tuhan. 

           

            Mari kita nyanyikan lagu puji-pujian kita sekarang, dan ketika kita menyanyikannya, engkau sekeluarga datang. Engkau dengan pasanganmu menanggapinya. Atau hanya engkau seorang diri. Ambillah keputusan itu sekarang di dalam hatimu. Dan sebentar lagi, ketika kita berdiri untuk bernyanyi, ke bawah dari anak-anak tangga ike dalam gang, dari sini sampai ke depan. Inilah aku datang, pak Pendeta. Inilah aku. Inilah istriku, dan inilah anak-anak kami, semuanya kami datang pada hari ini.  Atau hanya engkau sendiri. Karena Tuhan akan melesakkan firman itu ke dalam hatimu, karena Roh Kudus akan membuat permohonan terhadap jiwamu, jawablah dengan hidupmu, lakukanlah sekarang juga, datanglah sekarang. Lakukanlah sekarang. Sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.