PARA MALAIKAT DAN SINGA-SINGA

(ANGELS AND LIONS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Daniel 6:16-24

05-16-71

 

Para Malaikat dan Singa-Singa: Di dalam khotbah kita melalui kitab Daniel kita berada di dalam pasal yang keenam. Akan ada satu warta lagi yang akan diberikan pada hari Minggu yang akan datang – lalu kemudian rangkaian warta yang panjang itu akan berhenti dahulu untuk sementara waktu. Pada saat kita sampai kepada Kitab Daniel, pasal yang ke tujuh, kita memasuki suatu bagian yang sama sekali berbeda daripada kitab tersebut. Bahkan kita membahas suatu bahasa yang lain. Kita kembali ke bahasa Ibrani dari bahasa Aram ketika kita sampai pada pasal yang ke tujuh. Jadi khotbah pada hari Minggu yang akan datang akan menutup rangkaian khotbah mengenai Kitab Daniel. Jadi, warta yang akan disampaikan pada hari ini merupakan sebuah penjelasan yang lebih terperinci tentang ayat 11 sampai pada ayat yang 23 di dalam pasal yang ke enam dari kitab tersebut.

 

            Pertama-tama, kita melihat pada Darius yang terperdaya, yang menemukan dirinya di dalam kandangnya sendiri – sebuah kandang daripada sebuah dilema dan suatu penderitaan atas keputus-asaan. Ia telah menandatangani serta memeteraikan sebuah titah bahwa tidak ada seorangpun di dalam kerajaannya yang dapat berdoa atau membuat suatu permohonan kepada seorang dewapun kecuali kepada dia sendiri. Dan jika ada seseorang didapati melanggar hukum ini, maka ia akan dimasukkan ke dalam sebuah kandang yang penuh dengan singa. Jadi, “Daniel ini” ditemukan, ketika “pada suatu waktu kemudian”, berdoa kepada Tuhan Allah yang benar di surga. Dan ayat ke 11 dimulai dengan pembukaan itu, suatu komitmen Daniel yang tidak perlu merasa malu kepada Tuhannya:

 

Orang banyak yang berkumpul itu, menemukan Daniel sedang berdoa dan membuat permohonan di depan Tuhan.

Kemudian mereka mendekat dan berbicara ke hadapan raja berkenaan dengan titah sang raja (dan mereka berkata); “Bukankan baginda telah menandatangani titah tersebut, bahwa setiap orang yang akan memohon kepada Tuhan dalam waktu tiga puluh hari, ya baginda raja, akan dimasukkan ke dalam kandang singa? Dan sang raja harus menjawab, (Ya, ya!). Hal itu memang benar, menurut hukum dari Media dan Persia, yang tidak dibedakan.

(Lalu mereka membawa pulang rencana tersembunyi mereka itu). Lalu menjawab mereka dan berkata di hadapan raja tersebut. Daniel ini, yang merupakan tawanan dari suku Yehuda, tidak tunduk padamu, ya raja, ataupun kepada titah yang sudah engkau materaikan, akan tetapi sebaliknya ia membuat permohonan (kepada Tuhannya) tiga kali dalam satu hari. 

 

Kemudian sang raja, ketika mendengar pembicaraan ini, merasa sangat tidak senang kepada dirinya.…

 

Sungguh suatu perubahan! Pada hari sebelum ia mencapai sebuah ambisi yang paling memusingkan dirinya. Ia telah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang dewa. Ia telah mendewakan dirinya di hadapan orang-orang dari Media, Persia dan Babilonia. Dan sekarang, ia telah ditipu. Pegawainya sendiri telah menipu dirinya. Mereka telah membuatnya kelihatan seperti sesuatu yang menggelikan. Bukankah hal itu merupakan penggambaran dari ras manusia kita? Dari seorang dewa turun menjadi seorang korban penipuan, jatuh ke dalam sebuah perangkap yang ditujukan untuk kita oleh lawan-lawan dan musuh-musuh utama kita. Saudara mendapatkan satu ilustrasi lagi di dalam sang raja ini, atas kemurtadan yang luar biasa dan menyeluruh. Kita adalah orang-orang yang telah terperosok – kita semuanya! Di dalam benak kita, di dalam hati kita, di dalam pemikiran kita, di dalam visi kita, di dalam impian-impian kita, di dalam ambisi-ambisi kita, semua mengenai kita telah terjatuh. Kita telah murtad dan tersesat. Jika dalil-dalil seperti itu yang diterangkan di dalam sebuah buku, kemungkinan kita akan membuat suatu perdebatan terhadapnya dengan dengan sangat berapi-api, akan tetapi semua masalah kita terbentang di dalam kepahitan dari pengalaman kita sendiri. Tidak ada seorangpun yang mendengar suara dari pendeta ini kecuali menemukan tempat-tempat di dalam hidupnya yang ternyata teramat memalukan. 

 

Tidak ada lagi kisah yang lebih dramatis di dalam Alkitab daripada kisah tentang Tuhan Allah yang mengutus Nabi Elisa untuk mengurapi Hazael, untuk menjadi raja di seluruh wilayah Siria. Dan setelah mengurapi Hazael, Elisa sang nabi melihat kepadanya, melihat kepadanya lagi dan melihat kepadanya lagi. Dan ketika Elisa melihat kepadanya, nabi itu mulai menangis. Dan Hazael, menjawab Elisa sembari berkata: “Mengapa Tuanku mengangis?”

 

Lalu Elisa menjawab: “Karena aku melihat apa yang akan tuanku lakukan kepada bangsa Israel.” Lalu Elisa menggambarkan apa yang terjadi. Dan setelah Elisa selesai menggambarkannya, Hazael menjawab Elisa dan berkata: “Akan tetapi tuanku, apakah hambamu seekor anjing, yang mampu melakukan hal yang sedemikian?” Akan tetapi, ia melakukannya. Ia melakukannya! Dan kita semua melakukannya. Tidak ada seorangpun dari kita kecuali yang menemukan dirinya telah diperangkap. Kita telah dibohongi. Kita telah terperosok. Kita telah dimurtadkan. Akhlak kita sudah dirusakkan. Kita adalah pendosa. Kita telah tersesat. Kita semua!

 

Jadi, Darius ini, merupakan sebuah jiwa yang paling agung dan seorang raja, akan tetapi ia merupakan mangsa dari mereka yang mencari-cari cara untuk menjerat kakinya. Dan ia mendapati dirinya di dalam sebuah lubang,  di dalam sebuah kandang – sangat menderita dan sangat berputus asa.

 

Kemudian sang raja, ketika mendengar perkataan-perkataan ini, merasa sangat tidak senang akan dirinya sendiri – (dan kita semua yang memiliki pengalaman yang sama di dalam kehidupan) dan mendapatkan dirinya merasa sakit hati yang sangat tidak menyenangkan terhadap dirinya sendiri, dan ia telah menetapkan hatinya pada Daniel untuk mengantarkannya: dan ia merasa susah hati sampai pada terbenamnya matahari untuk menyampaikan hal ini kepadanya.

 

Akan tetapi orang-orang ini merupakan pengacara - pengacara konstitusional. Mereka itu kepala batu. Mereka paham artinya hukum sampai kepada detil-detilnya. Dan Alkitab berkata: ”Adalah sebuah jiwa yang membawa sebuah kehidupan”. Dan di semua pengadilan kita saudara akan menemukan pengacara-pengacara yang lihai, yang membuat semua perincian, dan melanggar maksud dan jiwa dari para pembuat konstitusi yang mencari tahu bagaimana menyampaikan mekanisme tersebut kepada kita. Orang-orang ini sangat lihai dan berada dalam konstitusi. Mereka itu keras kepala dan tak dapat dibantah. Dan mereka berkata, ketika sang raja mencoba melepaskan Daniel: “Ketahuilah, wahai raja, bahwa hukum dari Media dan Persia tidak berubah. Tak satu titah ataupun undang-undang yang telah ditetapkan oleh raja dapat diubah.”

 

Inilah dia, tertulis, ditandatangani serta dimateraikan. Anda tidak dapat menolak kecuali berhenti sejenak jika berhadapan dengan sesuatu seperti hal tersebut. Mengapa sang raja harus melakukan kebodohan seperti itu? Baiklah – mari kita coba menjelaskan situasinya – kemungkinan hal itu terjadi karena mereka pikir hal itu dapat menghentikan sang raja sejenak sebelum ia mengeluarkan titah tersebut, jika ia menyadari bahwa titah tersebut tidak dapat diubah lagi. Tentu saja, merupakan suatu anugerah kepada banyak orang karena hal tersebut menyelamatkan mereka dari perubahan yang tetap. Apa yang telah terjadi, mereka dapat berpegang padanya serta hidup dengannya. Tetapi ada juga sesuatu di dalam ini mengenai kebenaran dari seseorang. Harga diri yang dapat diperdebatkan yang membuatnya terlena di dalam suatu tindakan yang keliru, hanya karena ia telah bersumpah atau telah berikrar untuk melakukannya. 

 

Saudara mendapatkan cotoh yang serupa terhadapnya di dalam Herodes Antipas. Ketika Salome menari di hadapan sang raja, ia begitu terpikat dengan tarian tersebut, ia merasa begitu gembira, sehingga kemudian ia berkata: “Aku akan memberikanmu segalanya bahkan setengah dari kerajaanku.”

 

Dan, Herodias, ibunya, berkata: “Mintalah kepala dari Johannes Pembaptis.” Dan ketika Herodes mendengar permintaan tersebut, ia begitu bersedih. Ia memiliki rasa hormat yang besar kepada nabi yang mulia itu. Akan tetapi demi janjinya, dan demi orang-orang yang berada disekelilingnya, ia memberikan perintah tersebut dan algojo kemudian memenggal kepala dari Pembabtis itu. 

 

Hal seperti itu tidaklah asing dalam alam manusia. Sampai pada hari-hari terakhir ini, sampai pada hari-hari belakangan ini, tidak ada perwira di dalam angkatan bersenjata, dan tidak ada manusia yang mulia, yang dapat hidup dengan dirinya sendiri jika ia menolak untuk menerima suatu tantangan untuk bertarung. Alexander Hamilton, salah seorang pria yang paling brilian dari Amerika, sekretaris bendahara pertama di bawah George Washington, orang yang benar-benar melalalui – benar-benar melalui – surat kabar federalisnya, menciptakan pemerintahan, pemerintahan Amerika yang secara konstitusional. Ia terbunuh di dalam sebuah perkelahian dengan yang tak dapat disebut, Aaron Burr. Bukankah hal itu sangat ganjil? Sesuatu di dalam seorang manusia, di dalam suatu kebanggaan untuk melakukan sesuatu yang keliru daripada kehilangan muka. Semua itu ada pada keseluruhan negeri – pergi berperang, pergi menuju adanya kobaran api daripada kehilangan muka.

 

Maka Darius, ketika para pengacara yang berdiri di hadapannya serta memastikan poin-poin konstitusional tersebut, redaksi dari hukum tersebut, sang raja tunduk di dalam sikap yang berpura-pura menyetujui. Merasa tidak bahagia dengan dirinya sendiri, menetapkan hatinya untuk membebaskan Daniel – akan tetapi tidak dapat melakukannya. Lalu sang raja meberikan perintahnya dan kemudian mereka membawa Daniel dan memasukkannya ke dalam kandang singa. Dan sebuah batu yang besar kemudian diletakkan di depan mulut kandang lalu sang raja memateraikan kandang tersebut dengan stempelnya sendiri, dengan stempel dari para penguasa dengan tujuan agar tidak dapat diubah lagi. Akan tetapi ia melakukan sesuatu hal yang lain lagi, Tuhan memberkatinya: “Sekarang sang raja telah bersabda dan berkata pada Daniel, Tuhanmu yang telah engkau layani secara terus menerus, Ia akan membebaskanmu.”

 

Bukankah itu hal yang luar biasa? Raja penyembah berhala ini berubah menjadi seorang pendeta, seorang penghibur dan pemberi semangat. “Daniel, Tuhanmu yang secara terus menerus telah engkau layani, Ia akan membebaskanmu.” Oh, bukankah itu hal yang luar biasa bahwa seorang raja pemuja berhala berdiri dengan menjinjit pada ujung jarinya untuk melihat terbitnya kabar sukacita? “Tuhanmu akan membebaskanmu.” Hatinya berada di dalam setiap suku kata yang diucapkannya: “Tuhanmu, Tuhan pribadi, Tuhan yang engkau sembah secara terus menerus …” Sungguh sebuah pengaruh dan kesan yang hebat dan mendalam yang telah diperbuat oleh Daniel terhadap sang raja pemuja berhala itu. “Tuhan yang telah engkau sembah secara terus menerus …” Ia begitu yakin, raja itu sudah begitu yakin, bahwa Tuhan Allah dari Daniel tidak akan meninggalkan bahkan akan membebaskannya, begitu penuh dengan keyakinan, dan begitu agung dan seorang hamba yang begitu setia. 

 

Saya bertanya-tanya kesan apakah yang telah kit berikan terhadap orang lain? Saya membayangkan ketika mereka menaruh harapan kepada kita, serta komitmen yang telah kita buat kepada Tuhan, mereka akan berpikir bahwa kita merupakan pengambilan yang menyedihkan bahkan untuk diberikan kepada singa. 

 

Maka mereka menjemput Daniel dan mereka memasukkannya ke dalam penjara bawah tanah. Hal inilah yang secara diam-diam telah dipikirkan oleh orang-orang istana yang licik itu akan terjadi – persis sekali! Daniel menolak untuk mengubah kebiasaan penyembahannya. Ia menolak untuk mengubah kebiasaan berdoanya kepada Tuhan. Ia menolak untuk menutup jendelanya menghadap ke Yerusalem. Dan ia menolak untuk mematuhi titah tersebut yang dapat memisahkannya dengan Tuhan Allah yang di surga.

 

Saya dapat melihat orang tua tersebut. Usianya sudak lebih dari sembilan puluh tahun sekarang. Saya dapat melihat orang tua tersebut dengan rambutnya yang sudah begitu putihnya. Di dalam kepastian diri yang tenang dan bermartabat, Saya dapat melihat orang tua tersebut berada di bawah suatu titah kematian. Saya dapat melihatnya di dalam kediaman dirinya dan di dalam ketabahan berjalan memasuki kandang singa dan penjara bawah tanah tersebut. Dapatkah saudara melakukannya? Dapatkah saudara? Orang yang takut hanya kepada Tuhan saja, tidak membutuhkan ketakutan akan hal yang lain. Dan dengan jiwa rela berkorban yang sama, hal tersebut yang menjadi hal yang paling dihormati serta menjadi kemarahan dari kekaisaran Romawi, menganiaya kaum Kristen. 

 

Tidak, Daniel berjalan di dalam kandang dengan singa. Dan Tuhan Allah mengutus seorang malaikat dan menutup mulut dari singa-singa tersebut. Dan Daniel kemudian menghabiskan malam tersebut di dalam istrirahat yang hening. Mengapa, Daniel lebih banyak istirahat di dalam kandang singa itu daripada istirahat Darius yang berada di dalam istana dengan segala kenyamanan dan kemewahan! Karena bukankah malam adalah waktu untuk beristirahat? Di siang hari kia bekerja; di malam hari kita beristirahat. Di siang hari kita pergi ke luar, di malam hari kita berada di dalam rumah. Di siang hari, Tuhan mengisinyadengan cahaya dan dengan aktifitas yang membangkitkan semangat. Akan tetapi di malam hari Tuhan mengheningkan suara-suara. Tuhan memberhentikan nyanyian burung-burung. Dan Ia menarik tirai-tirai kelembutan, kegelapan yang lembut. Dan Ia berkata: “Ssst.” Dan di dalam Kitab Mazmur pasal yang ke 127 mengakui: “Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur.” 

Dan Tuhan Allah tidak hanya mengutus malaikat untuk menjagai Daniel, akan tetapi Ia juga berbisik ke dalam telinga binatang buas yang liar, marah dan pemakan daging tersebut, Ia berkata:

 

Dengarkanlah, salah seorang hambaKu sedang turun ke bawah untuk menghabiskan waktu malam denganmu. Sambutlah ia dengan ramah tamah, penuh dengan kemurahan; buatlah ia merasa nyaman. Jangan melukai sehelai rambutpun dari kepalanya. Dan bentangkanlah bulu-bulu tengkukmu sehingga ia boleh menggunakannya sebgai pengganti sebuah bantal.

 

Pada bagian akhir dari pasal ini, singa-singa tersebut dengan sangat rakus menghancurkan musuh-musuh dari Daniel, akan tetapi sebaliknya Daniel dijagai oleh mereka, dan diperhatikan, dikawal dan dilindungi. Para malaikat dan singa. Para malaikat dengan singa, dan saya dapat melihat Daniel ketika ia membaringkan kepalanya di atas bulu-bulu tengkuk salah satu dari raja-raja rimba raksasa tersebut. Dan menyanyikan lagu nina bobo ketika ia mau tidur, “Malaikat-malaikat dan singa-singa menjagai aku. Malaikat-malaikat dan singa-singa menjagai aku. Malaikat-malaikat dan singa-singa menjagai aku.” Dan hamba Tuhan itupun tertidur.

 

Saya tidak tahan memikirkan Simon Petrus di dalam pasal yang ke dua belas dari Kitab Kisah Para Rasul. Herodes Agrippa terlebih dahulu telah memenggal kepala dari Yakobus, saudara dari Yohanes, rasul itu. Dan karena ia melihat bahwa hal tersebut menyenangkan hati dari para pemimpin di Yerusalem, ia menahan Simon Petrus dan memasukkannya ke dalam penjara besi untuk kemudian mengeksekusinya pada keesokan harinya. Kemudian menyusil kisah dari malaikat yang turun ke bawah serta melepaskan belenggu dan rantai dari tangannya serta jeruji yang mengurung Simon Petrus, dibukakan olehnya pintu gerbang dari besi itu serta membuatnya keluar menuju ke jalan dan membebaskannya. Ketika malaikat itu turun untuk membebaskan Simon Petrus, apa yang dilakukan oleh Simon Petrus? Apakah saudara mengingatnya? Ia terlelap dalm tidurnya di antara dua orang pengawal, dalam keadaan terbelenggu. Terlelap dalam tidurnya, dan begitu terlelapnya ketika Alkitab mengatakan bahwa malaikat itu datang dan menepuknya dan berkata: “Bangunlah, Simon, tidakkah engkau tahu bahwa kepalamu akan dipenggal di pagi hari? Bangunlah.”

 

“Malaikat-malaikat dan singa-singa menjagai aku.” Dan iapun tertidur di dalam kasih sayamg, serta keyakinan, dan perhatian dari penjagaan yang digembalakan oleh Tuhan. Sekarang, Saya katakan bahwa itulah khotbah yang benar. Semua anda yang ada di dalam paduan suara, orang-orang suci, katakan: “Amen!” Itu benar. Semua anda para anggota jemaat berteriak katakan: “Amen!”  Baiklah. Astaga, “Tuhanku telah mengutus malaikatNya dan menutup mulut singa itu.” 

 

Baiklah, ini merupakan tipe dan sosok dari seluruh kehidupan kita. Semua kita berada di dalam beberapa kandang singa. Dan saya tidak berbicara mengenai kumpulan hewan yang memiliki nama itu dan bukan secara alamiahnya. Pencobaan dari seorang pengikut Kristus bukan bersifat sentimentil, hal itu nyata. Caranya itu tidak pernah licin dan mulus dan lembut seperti sutera. Sering sekali jalan itu sukar dan keras. Seharusnya kita tidak pernah berbicara kepada generasi muda dan kaum muda sekeras saat kehidupan pengikut Kristus tidak berarti kecuali jalan yang dipenuhi dengan bunga mawar dan kehidupan yang mewah. Sering sekali sukar. Apa yang telah dituliskan ditujukan untuk menentnag kita. Serta kemajuan dari seorang Kristen selalu harus melalui peran antagonisme, dan pengujian dan pencobaan. Lagunya:

 

Saya seorang Prajurit salib,

Seoang pengikut domba …

Haruskah aku diangkat ke langit

Pada kehidupan mewah dari kesenangan

Sementara yang lain bertarung untuk mendapatkan piala

Dan berenang melalui lautan darah?

…Pasti, Aku harus berjuang jika aku ingin memerintah;

Tumbuhkanlah semangatku, Tuhan!

 

[Isaac Watts, 1740]

 

Dan itulah cara seorang Kristen. Semua kita menemukan diri kita sendiri di dalam beberapa kandang singa. Di sini di dalam kitab Daniel, dalam pasal yang pertama, ia sedang berperang dengan minuman. Di dalam pasal yang ke dua, ia harus dimusnahkan. Di dalam pasal yang ke tiga dan ke empat, ia meletakkan nyawanya ke dalam tanganNya, berbicara dengan secara terus terang dan penuh dengan kebenaran, menyampaikan pesan dari Tuhan kepada sang raja. Di dalam pasal yang ke tiga, sahabatnya telah dilemparkan ke dalam tungku perapian. Dan di dalam pasal yang ke enam – di dalam keenam pasal tersebut semuanya sama saja. Di sini ia berada di dalam sebuah penjara bawah tanah yang dipenuhi dengan singa. Begitulah iman dari seorang Kristen!

 

Jika Abraham dipanggil untuk keluar, ia bergerak, tanpa mengetahui hendak kemana ia pergi. Mengajak serta seluruh keluarga untuk ikut dengannya, tanpa mengetahui kemanapun ia akan pergi. Ketika Musa dipanggil, ia memimpin jemaahnya melalui hutan belantara dan tungku yang terbakar. Dan ketika Elia berdiri di hadapan Jezebel dan Ahab, dengan mengenyampingkan tujuh ribu orang yang namanya tidak dicatatkan, kecuali nama-nama yang berada di surga. Ketika Rasul Paulus menuliskan: “Ya, semua yang menginginkan untuk hidup saleh di dalam Yesus Kristus, akan mengalami penderitaan, pengujian dan penganiayaan.” Rasul itu, saudara dari Tuhan kita Yakobus, saudara dari Tuhan kita, memulai injilnya dengan orang-orang Kristen yang menderita di dalam pengujian yang sangat berat. Itu semua untuk kita. Kita semua berhadapan dengan singa. Kita berada di dalam kandang.

 

Seluruh dunia berada dalam jalan itu. Mereka juga, di luar dari dunia in, juga menghadapi pengujian-pengujian serta kesukaran-kesukaran dan singa. Akan tetapi ada perbedaan antara mereka dengan kita. Dan perbedaan itu telah didapatkan, dan terhampar di sana, di dalam penguasaan di hadirat Tuhan. Ia membuat perubahan. Saudara pergi ke belakang punggung dari seorang Kristen untuk menikamnya, dan Tuhan berada di bagian belakangnya. Saudara pergi ke bagian depan dia untuk menyerangnya dan Tuhan berada di depan dia. Engkau menghalangi dia di sisi sebuah jalan, dan Tuhan berada di tangan kanannya dan Tuhan ada di tangan kirinya. Seperti ketika rasul Paulus berkata di dalam kitab Kisah Para Rasul pasal yang ke dua puluh tujuh, di dalam badai luar biasa yang menghancurkan kapal itu, ia berkata: “Karena di sana berdiri di hadapanku seorang malaikat Tuhan.” 

 

Seperti ketika ia menuliskan di dalam penjara bawah tanah Mamertine, di dalam pasal yang keempat dari suratnya yang terakhir, surat yang ke dua kepada jemaat di Timotius, ia berkata: “Ketika aku berdiri di hadapan pengadilan itu, tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapanku. Akan tetapi Tuhan berdiri di hadapanku dan membebaskanku dari mulut singa itu.”  Dan Tuhanlah yang membuat perbedaan itu!

 

Akan tetapi, segera setelah kita membaca kisah ini, adakah pertanyaan yang timbul di dalam benak kita? Bagaimana jika singa-singa itu melahapnya? Bagaimana jika mereka telah meremukkan tulang-tulangnya dan mencabik-cabik tubuhnya? Bagaimana jika singa-singa itu telah memakannya? Apakah ia tetap tersesat? Ia akan tetap menang. Ia tidak akan kalah. Ia tetap akan memperoleh kemenangan.

 

Mungkin itu merupakan keinginan Tuhan bahwa ia harus mati. Mungkin keinginan Tuhan bahwa ia akan dibebaskan. Akan tetapi, hal yang paling penting ialah bukan keselamatan atau kematiannya – hal yang paling penting adalah keinginan Tuhan. Mungkin merupakan keinginan Tuhan bahwa hamba itu akan mati. Tuhan tidak menyelamatkan Yohanes Pembabtis; mereka memenggal kepalanya sampai putus dan membaringkannya di dalam kolam dari darahnya sendiri. Bukan keinginan Tuhan bahwa Yesus akan diselamatkan; mereka memakukan tanganNya ke salib itu. Bukan keinginan Tuhan pula bahwa Yakobus, saudara dari Yohanes untuk diselamatkan; Herodes Agrippa memenggal kepalanya sampai putus. Bukan keinginan Tuhan untuk Stefanus untuk diselamatkan; mereka merenggut nyawanya dengan melemparinya dengan batu sehingga menjadi debu di tanah. Bukan keinginan Tuhan bahwa pada akhirnya Paulus diselamatkan, algojo di jalan Ostian di luar dari kota Roma, akan memenggal kepalanya. Karena ia merupakan warga negara Roma, ia tidak boleh disalibkan. Akan tetapi di samping Rasul Paulus, ada sekumpulan orang yang disalibkan.

Beberapa dari kita, di dalam beberapa hari ini, akan melihat pada koloseum yang agung di Roma. Ketika saudara masuk ke dalam koloseum tersebut dan memandang ke bawah, ingatlah bahwa di tempat itu, ada ribuan dan ribuan orang-orang Kristen yang diumpankan kepada singa. Kadangkala, bkuan keinginan Tuhan bahwa orang-orang Kristen akan diselamatkan. Akan tetapi ini merupakan keinginan Tuhan bahwa ada kejayaan dan kemenangan yang diperuntukkan buat kita. “Via Crucis, via lucis,” “Jalan salib adalah jalan kehidupan.” 

 

Orang-orang Kristen tidak pernah dikalahkan. Bagian bawah adalah bagian atas untuk orang-orang Kristen – dan hitam adalah terang, cahaya dan kemuliaan. “Jadi,” saudara katakan, “Yohanes Pembabtis dengan kepalanya yang terpisah. Bukankah itu suatu bencana?”

 

Sebuah bencana? Tidak! Itu hanya pintu masuknya saja, suatu perkenalan serta penyajiannya di dalam kemuliaan. Ia pergi menuju ke surga, hanya seperti itu. Mengapa, mungkin saudara berbicara seperti seorang manusia yang begitu membenci sebuah kapal dengan mencampakkannya ke dalam air. Ia hanya meluncurkannya saja. Akan tetapi kapal itu, walaupun kapal itu dibuat di daratan, kapal itu diperuntukkan buat di laut. Dan anak-anak Tuhan, orang-orang Kristen, belum berada di dalam rumah sebelum ia sampai ke dalam surga. Itulah rumah untuk orang-orang Kristen. 

 

Aku orang asing di sini,

Surga adalah rumahku.

Bumi adalah padang pasir yang suram,

Surga adalah rumahku.

Dukacita dan bahaya menghadang,

Mengelilingiku di kedua tanganku.

Surga adalah tanah leluhurku.

Surga adalah rumahku.

 

Dan ia kemudian kehilangan nyawanya, dan para malaikat akan mengangkat jiwanya ke pangkuan Abraham. Bukankah Alkitab mengatakan demikian? Jika merupakan keinginan Tuhan untuk kita untuk hidup, maka kita akan diselamatkan – sama seperti ketiga putra Ibrani itu dan sama seperti Daniel. Jika bukan merupakan keinginan Tuhan, kita akan diangkat ke atas dengan kemuliaan Tuhan beserta kita – sama seperti Stefanus, seperti Antipas (seorang martir yang tidak dikenal di Pergamus dalam pasal yang ke dua dari Kitab Wahyu). Tapi, apakah itu untuk hidup, kita berada di bawah perlindungan, penggembalaan, kasih sayang Tuhan; atau apakah kita akan binasa, para malaikat akan menjagai kita untuk memikul kita pada sayap-sayapnya yang terkena salju menuju kepada kemuliaan.

 

Oh, datanglah rombongan malaikat,

Daang dan berdiri di sekelilingku.

Oh, pikul aku pergi pada sayapmu yang bersalju

Menuju rumahku yang abadi.

[Hascall and Bradbury]

             “Para malaikat dan singa menjagai aku.” Dalam maksud dan keinginan Tuhan untuk hidup kita, kita bersembunyi dengan Kristus di dalam Tuhan; dijagai selamanya oleh tangan-tanganNya Yang Maha Kuasa itu. Mengerjakan keinginanNya di dalam tujuan muliaNya bagi kita karena Ia akan memilih sebagai yang terbaik untuk Tuhan, maksud dan tujuan Tuhan untuk kita. 

 

Sebentar lagi saat kita menyanyikan lagu-lagu puji-pujian kita, engkau sekeluarga, engkau dan pasanganmu, atau seseorang, engkau sendiri memberikan hatimu kepada Tuhan, maukah saudara datang dan berdiri di sampingku? Buatlah keputusan itu sekarang di dalam hatimu. Dan sebentar lagi saat kita berdiri untuk bernyanyi, berdiri dan datanglah. Engkau! Ada anak-anak tangga di sisi sebelah kanan, di sisi sebelah kiri, di bagian depan, di bagian belakang. Masih ada waktu untuk berbagi. Jika engkau yang sedang duduk di barisan yang paling depan, buatlah keputusan itu sekarang dan datanglah. Pada bagian bawah dari lantai ini, masuk ke dalam gang dan dari bawah ini sampai ke depan: “Inilah aku, Pendeta, Aku telah memutuskan untuk memilih Tuhan dan inilah aku datang.” 

 

Tidak ada keputusan yang lebih mulia lagi yang pernah saudara perbuat daripada untuk menawarkan hidupmu anda ke dalam pemeliharaan Tuhan. Jadikanlah Dia sebagai rekanmu di dalam bisnismu. Undanglah Dia ke dalam rumahmu. Belakang, ke dalam kasihNya serta nasehat-nasehatNya, anak-anak Tuhan ditempatkan ke dalam tangan saudara. Itu hanya satu jalan kemuliaan saja. Itulah jalan menuju surga. Apakah itu mengarahkan kita kepada sebuah lembah atau melewati puncakl sebuah gunung, apakah akan berada di dalam kegelapan di waktu malam atau di pagi hari pada saat munculnya matahari, jika Tuhan besertamu, itulah Tuhan yang membuat perbedaan itu. 

 

Datang, datang, buatlah keputusan itu sekarang dan datang – sekeluarga, berdua, atau hanya saudara sendiri. Sebentar lagi ketika kita bernyanyi dan saudara berdiri, berdiri dan datang. Di bagian bawah anak tangga itu atau ke dalam gang dan di sini sampai ke bagian depan, katakan: “Inilah aku, pak Pendeta, Aku telah memutuskannya.”  Lakukanlah – sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.