TULISAN DI DINDING

(THE HANDWRITING ON THE WALL)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Daniel 5:5-24

04-04-71

 

         

Khotbah di pagi hari ini adalah: Tulisan Tangan Di Dinding. Di dalam pelajaran kita melalui kitab Daniel, kita berada di dalam pasal yang ke 5. Dan saya mulai membaca pada ayatnya yang ke 5 di dalam pasal yang ke 5 dari Kitab Daniel:

 

Pada waktu itu juga tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, di depan kaki dian, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu. Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia, sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan. Kemudian berserulah raja dengan keras, supaya para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum dibawa menghadap. Berkatalah raja kepada para orang bijaksana di Babel itu: “Setiap orang yang dapat membaca tulisan ini dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, kepadanya akan dikenakan pakaian dari kain ungu, dan lehernya akan dikalungkan rantai emas, dan di dalam kerajaanku ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga. Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja. Sesudah itu sangatlah cemas hati raja Belsyazar dan ia menjadi pucat; juga para pembesarnya terperanjat.

 

Latar belakang dari dmadakannya pesta ini telah diuraikan pada hari Minggu pagi yang lalu. Nabonidus, raja itu, yang berperang untuk hidupnya, dan untuk takhtanya, serta untuk kerajaannya menentang Koresy dan bangsa Media serta Persia. Mereka telah terlebih dahulu menghancurkan tentara Nabonidus. Dan raja itu sendiri dibungkam di kota Borsippa. Akan tetapi putranya yang tidak bermoral dan tidak berharga yang bernama Belsyazar, yang memerintah bersama-sama dengan ayahnya, memerintah di ibukota Babilon. Akan tetapi sementara ayahnya sedang bertempur demi nyawanya, berjuang untuk takhtanya serta kerajaannya, Belsyazar sedang berada di dalam sebuah pesta bersama dengan para gundiknya dan penari-penari wanitanya, dan para pembesarnya yang rakus di dalam sebuah aula perjamuan yang besar di dalam istana Nebukadnezar. Untuk satu alasan ia melakukannya sebagai sebuah penghinaan kepada musuhnya yang berada di luar. Koresy bersama dengan tentara Media dan Persianya yang hebat yang telah mengepung kota Babel selama berbulan-bulan, dan beberapa orang mengatakan mereka sudah mengepung kota itu selama dua setengan tahun lamanya. Akan tetapi dinding itu begitu hebatnya, tiga ratus limapuluh meter tingginya serta delapan puluh tujuh kaki tebalnya, dikellingi oleh sebuah parit yang besar, diisi dengan air yang dipasok dari sungai Efrata.

 

Kota itu begitu besarnya sehingga kota itu dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan kelimpahan air. Tidak tergoyahkan dan tidak terkalahkan. Tidak ada peralatan mesin pada saat itu yang mampu menembus dinding-dinding tersebut, tidak ada pasukan tentara yang mampu menerobos pintu-pintu gerbangnya. Dan sebagai bentuk penghinaan, Belsyazar, di dalam keamanan kota itu yang dapat dikepung selama-lamanya itu namun tidak akan pernah jatuh, mengadakan festival pesta pora, sebuah pesta yang tak terkatakan besarnya. Akan tetapi apa yang tidak diketahui oleh raja pemabuk itu adalah kekuatan dari sebuah kerajaan dan kekuatan dari sebuah kota dan kekuatan dari sebuah bangsa tidak pernah berada di luar, akan tetapi selalu berada di dalam. Ia tidak mengetahui bahwa sebuah kerajaan, yang dimenangkan dari sebuah peperangan, harus digabungkan oleh keadilan dan kebenaran.

 

Dan di bagian dalam dari kota Babel itu adalah ras yang bercampur yang telah diambil paksa oleh Nebukadnezar dari rumah-rumah mereka dan dari negeri mereka, menjarah dan merampas negeri mereka mereka dan memberikan tempat yang baru kepada mereka di Babilon, di Babel. Mereka merasa gelisah dan resah. Dan tidak ada seorangpun dari para buangan itu, yang tanah airnya telah dihancurkan, yang lebih gelisah lagi daripada mereka yang dari Yehuda. Mereka menolak pembauran dengan orang-orang yang menyembah berhala itu, dan mereka menyembah seorang Tuhan yang aneh yang bernama Yahwe, Tuhan itu. Dan sebagai bentuk penghinaan kepada mereka raja pemabuk itu berfikir: “Aku akan membawa guci-guci keramat yang dibawa oleh Nebukadnezar keluar dari bait suci raja Salomo dari kota suci Yerusalem,” ternyata tersimpan dengan aman selama tujuh puluh tahun lamanya di kota Babel. “Aku akan mengambilkannya untuk mereka. Dan kami akan minum dari piala-piala minuman yang terbuat dari emas dan perak itu. Dan kami akan mencemarkan Allah. Dan kami akan menodai namaNya. Dan kepada orang-orang Yahudi, orang-orang Yehuda dan Israel ini akan kami tunjukkan kepada mereka penghinaan kami serta penghinaan yang penuh dengan kesombongan terhadap iman dan agama mereka.”

 

Maka, ia penyebab dikeluarkannya perkakas-perkakas itu dari tempat yang disucikan di dalam mana telah disimpan selama tujuh puluh tahun lamanya, seluru perkakas suci dari Bait Allah di Yerusalem yang dibangun oleh raja Salomo itu. Dan mereka berpesta pora serta menari dan minum serta memuji-muji dewa-dewa berhala mereka yang terbuat dari emas dan perak serta besi dan batu dan kayu. Hanya dengan membuat sebuah pesta saja, merupakan kelancangan terhadap Tuhan Allah semesta alam. Saudara tahu, manusia yang lemah dibawa menuju kekuatan oleh sikap kesombongan dan kelancangan. Dan khususnya demikian ketika hal itu menyentuh bagian yang paling sensitif dari seorang manusia – agama dan kepercayaan dalam Tuhan Allah.

 

            Dan di tengah-tengah pesta pora itu di sana muncul di depan kaki dian, tempat lilin bercabang yang besar itu, bersinar terhadap warna putih, di dinding berkapur, kata-kata tajam yang yang dituliskan oleh jari-jari itu ke dalam batu itu sendiri. Bukankah itu hal yang ganjil? “Belsyazar, raja itu – kisah itu dimulai – mengadakan sebuah perjamuan kepada seribu pembesarnya dan meminum anggur di hadapan keseribu pembesar itu.”  Yaitu, saya duga, ia berada pada langkah yang terangkat. Dan di sana di hadapan seribu pembesar beserta para gundik mereka dan rombongan mereka dan para pengawal – paling sedikit di sana sudah ada sekitar sepuluh ribu orang paling tidak yang hadir – dengan tegas ia menunjukkan rombongannya dan penistaannya terhadap perkakas-perkakas tersebut. Mereka diundang untuk menyaksikan kekurang ajarannya itu. Dan di dalam sikap yang tegas, penuh penghujatan dan peragaan, ia melakukan seluruh penghinaan yang kejam, tak dapat dipercaya dan tak dapat dikatakan itu kepada Tuhan Allah di surga.

 

Dan ditengah-tengah pesta pora itu, sementara ia minum dan memuja-muja dewanya dengan cara-cara berhala yang tak terkatakan, tiba-tiba, tiba-tiba saja, piala itu terjatuh dari tangannya. Kedua matanya ditetapkan pada sebuah kengerian yang keji di dinding itu. Sendi-sendi pangkal pahanya menjdi lemas serta lututnya memainkan lagu yang tragis ketika tatapan matanya penuh dengan ketakutan menatap ke dinding itu. Saya dapat melihat mata dari semua rombongan yang sangat banyak itu mengikuti tatapan mata dari raja itu. Dan mereka juga, melihat tangan yang menorehkan huruf-huruf itu pada batu tersebut. Keadaan menjadi sunyi seperti kematian. Hiruk pikuk pesta berubah menjadi suatu kengerian.

 

Saya dapat melihat semua mata mereka terpusat kembali pada sang raja karena penafsiran, karena dorongan semangat. Akan tetapi daripada mencari seseorang, seorang raja dengan kekuasaan yang besar, mereka melihat dia begitu menyedihkan dan lemah serta takut dan lumpuh karena kengerian. Apa yang terjadi padanya? Mengapa, sesaat sebelumnya, wajahnya merona karena anggur dan kekurang ajaran dan sekarang ia begitu pucat, ia begitu memucat, ia begitu pucat. Ia harus memegang sebuah meja untuk menahan dirinya supaya ia tetap dapat berdiri. Apa yang terjadi dengannya?  Beberapa mengatakan bahwa ia menjadi gemetar dan mengigau. Beberapa mengatakan ia melihat tulisan kono yang diukirkan ke dalam tembok itu pada beberapa buah batu bata dan kata hati akan rasa bersalahnya membawa rasa kengerian itu. Tidak! Karena setelah tangan itu selesai menulis, huruf-huruf itu masih tetap berada di dinding itu.

 

Di suatu malam ketika mereka berada di dalam sebuah istana yang besar, ketika mereka sedang mencaci-maki, disanalah muncul tangan itu. Dan hal tersebut membawa kengerian kepada raja itu. Itulah yang paling mengagumkan di dalam hidup manusia jika saja saudara-saudara sekalian dapat melihatnya. Dan itu berlaku untuk kita semua, semua dari kita. Kita menafsirkan hal-hal menurut suara hati kita, menurut apa yang berada di dalam jiwa kita. Mengapa, tidakkah saudara memiliki suatu pemikiran ketika raja itu mengadakan pesta penghujatan yang akan membuat Tuhan akan menyerangnya sampai mati? Ah, Ia pasti akan melumpuhkannya. Tuhan tidak melakukan sesuatu seperti hal tersebut. Perjamuan itu berlangsung terus. Dan minuman itupun berlanjut terus. Dan penghujatan itupun berlangsung terus. Lalu kemudian, puncaknya, di sana datang sesosok hantu, santu dari tangan manusia. Betapa Tuhan bekerja! Sungguh sebuah campur tangan dari Tuhan! Mengapa, saudara dapat menghalangi dan mengunci para pencuri dan perampok serta para penerobos dan tamu-tamu yang tak diundang, akan tetapi bagaimana saudara dapat menghalangi hantu? Saudara-saudara sekalian dapat meminum serta menarik pemikiran Allah serta membungkamNya sepanjang hidupmu. Akan tetapi bagaimana saudara dapat membungkam hantu itu, suara hati itu? Bahwa ada orang lain yang berbicara kepada saudara-saudara sekalian dari dalam? Bagaimana saudara dapat melakukannya?

 

Mengapa ia tidak menafsirkan tulisan itu di dalam cara yang menakjubkan serta dengan jalan yang luar biasa? Mengapa, ia yang telah dikepung dan kerajaannya berada di ambang lembah kehancuran. Dan mengapa ia tidak menafsirkannya sebagai sesuatu dari Tuhan Allah, atau dari kekuasaan dan semangat serta kemenangan dan kejayaan? Mengapa ia tidak melakukannya?

 

Mengapa, saya ingat telah membaca di dalam Alkitab mengenai nabi Elia, yang berlutut dan berdoa, di di atas langit ia melihat sebuah awan dengan ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dan nabi Elia bangkit dan mengumumkan kemenangan. Hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Mengapa Belsyazar tidak mengartikan tangan itu serta tulisan itu sebagai salah satu kemenangannya? Alasannya berada dalam diri kita dan hal itu nyata. Kita mengartikan apa yang terjadi di dalam hidup kita menurut suara hati kita. Dan “suara hati membuat kita semua menjadi pengecut.” Seorang manusia yang berada di dalam dosa merasa takut akan sesuatu yang tidak dikenalinya. Ia ditakut-takuti. Saya pernah membaca tentang seorang penjahat yang menyerahkan dirinya sendiri kepada kepala polisi dan berkata: “Karena selama beberapa tahun ini saya begitu putus asa dengan ketakutan akan setiap ketukan di pintu serta ketakutan akan setiap bunyi langkah.” Suara hati – hantu itu!

 

Di dalam Taman Eden, kita tidak tahu sudah berapa lama, sudah berapa hari, sudah berapa millenium, Tuhan Allah datang dan mengunjungi pria dan wanita yang Ia ciptakan. Dan betapa agung, mengangkasa, surgawi mulia dan berharganya bagi Tuhan Allah untuk datang serta mengunjungi pria itu beserta dengan istrinya – indah, sungguh indah persekutuan itu. Berharga, kerukunan yang berharga antara manusia dengan Tuhan. Akan tetapi sampai dengan hari ini, sampai dengan hari ini, mereka mendengar suara Tuhan Allah berjalan di taman itu, dalam kesejukan hari itu. Lalu mereka ketakutan. Lalu mereka menyembunyikan diri. Ada penuntut balas yang akan datang. Penuntut balas. Sebuah penghakiman. Mengapa? Apa yang terjadi? Mereka telah jatuh ke dalam dosa dan mereka mengartikan suara dari Tuhan di dalam sosok hantu yang tidak dapat saudara bungkam, perasaan bersalah dari dalam hati.

 

Herodes Antipas, raja dari Galilea, dan ia mendengar pekerjaan Yesus dari Nazareth. Mengapa, bukankah saudara tidak berfikir bahwa ia akan turut bergembira? Ia adalah seorang raja dan pembuat mujizat itu berada di dalam kerajaannya. Dan Herodes mendengar pekerjaan Yesus dari Nazareth itu dan ia ketakutan. Ia merasakan bahaya. Ia takjub dalam kengerian. Ah, mengapa Herodes, apa yang telah engkau lakukan? Inilah yang telah dilakukannya, ia pernah membunuh, ia telah memenggal kepala Yohannes Pembabtis. Lalu ketika ia mendengar tentang pekerjaan dari Kristus, Herodes berkata: “Ini tak lain dari Yohannes Pembabtis yang telah bangkit dari kematian.” Ia mengartikannya di dalamapi dari rasa bersalahnya. Mengapa, Herodes Antipas adalah orang Saduki, ia merupakan anggota kelompok penguasa Palestina. Ia adalah orang Saduki. Ia tidak percaya tentang kebangkitan kembali. Kematian! Dengarkanlah, ilmu agama saudara itu tidak ada apa-apanya. Hanya tentang bagaimana segala hal diartikan oleh suara hati saudara. Dan di sini, Herodes Antipas, yang tidak mempercayai adanya kebangkitan kembali, merasa ketakutan: “Dia adalah Yohannes Pembabtis yang bangkit dari kematian.” 

 

Felix – Tidakkah engkau berfikir bahwa ketika rasul Paulus, rasul yang tiada tandingan itu berdiri di hadapan Felix serta berkhotbah kepadanya tentang kekayaan yang tak dapat ditemukan dari kemurahan di dalam Yesus Kristus yang mana dia seharusnya turut bergembira? Mengapa, Alkitab berkata bahwa Felix gemetar seperti Belsyazar. Lututnya berantukan ketika Paulus menerangkan tentang kebenaran dan kesederhanaan serta hukuman yang akan menimpa.

 

Kita menterjemahkan segala hal, segalanya di dalam terang dari rasa bersalah kita. Dan ketika Belsyazar melihat kata-kata yang ditorehkan pada dinding dari batu itu, hal itu membuatnya ketakutan. Juga menakutkan kita. Ia memanggil kaum Magi. Akan tetapi tidak ada jawaban. Dan kemudian, saudara-saudara sekalian dapat menterjemahkannya dengan dua cara – ibu suri, karena alasan dari kata-kata ini atau suara hiruk pikuk di aula perjamuan itu, atau yang lain karena seseorang memberitahu ibu suri itu mengenai teror dan kecemasan besar dari raja tersebut, ibu suri tersebut meninggalkan kamar tidurnya dan muncul di aula penghakiman tersebut, di dalam aula perjamuan yang besar itu. Sekarang, di dalam dunia poligami, seorang istri tidak berharga. Ia adalah salah seorang dari selir saja. Akan tetapi seorang ibu suri (seperti yang dapat saudara baca di dalam 1 raja-raja) memiliki tempat yang bermartabat dan pengaruh. Ibu suri ini, hampir dengan pasti adalah Nitocris, putri dari Nebukadnezar.

 

Dan ia teringat ketika seorang nabi besar dari Tuhan Allah yang membimbing ayahnya melalui kegilaan-kegilaan yang luar biasa, dan membawanya kepada pengetahuan dari Yang Maha Tinggi. Maka ia berdiri di hadapan putranya yang tidak bermoral dan tidak berharga dan mengingatkannya tentang suara agung yang mulia dari Yehuda, yang dapat memberitahunya pesan dari Tuhan Allah yang telah dituliskan di dinding itu. Maka dipanggillah Daniel

 

Bukankah hal yang aneh terjadi kembali tentang manusia? Semua orang di sini hanya mendengung dan mendengung serta gumaman percakapan dan hal yang luar biasa tentang kehidupan, dan mereka semua kelihatannya hampir serupa, berbicara yang hampir sama,tertawa yang sama, membawa beban, yang besar, yang kecil, yang terkenal, yang tidak terkenal, yang baik, yang jahat, semuanya di sini. Akan tetapi ketika sebuah krisis datang, saudara tahu bahwa ada hukum yang tidak dapat diekspresikan bahwa entah bagaimana caranya manusia menerima tempat yang lebih baik. Dan kemudian orang yang memiliki kunci dari kerajaan itu akan berdiri serta keluar.

 

            Dan di dalam krisis yang mengerikan, Daniel berdiri, nabi Tuhan Allah. Mengapa, mereka hampir saja melupakan namanya. Saudara dapat melihatnya, ketika Nebukadnezar meninggal, putranya Bel-Merodak menerima kerajaan tersebut, memerintah selama tiga tahun lamanya dan Neriglissar membunuhnya. Dan di dalam persekongkolan tersebut dan di dalam perebutan kekuasaan tersebut, pendeta tua itu telah dikesampingkan dan dibuang. Dan diantara mereka, tentu saja, terdapat Daniel. Dan untuk sebuah generasi, selam ini ia hidup di dalam ketidak jelasan. Akan tetapi di dalam kemelut yang besar ini, nabi yang tua, dan sudah berumur ini, ia sedang menuju umur sembilan puluh tahun sekarang, ia dipanggil dan ia berdiri di hadapan sang raja.

Apapun yang dikatakannya akan berakibat pada hidupnya. Akan tetapi ia seorang nabi Tuhan. Ia menyampaikan pesan kebenaran dari Tuhan Allah. Dan dia mengisahkan kepada putra sang lycanthropy, Nebukadnezar yang tidak bermoral dan tidak berharga itu; dan bagaimana di dalam tujuh tahun kegilaan itu, ia datang untuk menyatakan serta membuat sebuah pernyataan terhadap  Tuhan Yang Maha Besar di surga. Kemudian membawanya pulang kepada sang raja. “Akan tetapi engkau telah berdosa melawan terang. Dan bukannya engkau merendahkan dirimu sendiri, dan mengikuti jejak ayahandamu, lihatlah, pesta pora ini, dan malam tidak bertuhan dan penuh dengan penghujatan ini,” Baiklah, bukankah begitu jalannya ketika kita menolak untuk mendengarkan peringatan dari Tuhan? Dan ketika kita menolak untuk mengindahkan firman Tuhan? Maka datanglah suatu campur tangan yang tal terelakkan lagi dari langit.

 

Jika kita tidak mendisiplinkan diri kita sendiri, maka seseorang akan mendisiplinkannya untuk kita. Karena tangan Tuhan mampu menjangkau dan sampai kepada yang luas, kaki tangan dari perlawanan kita. Ah, tapi ini sudah malam. Sudah malam ketika tangan tersebut menulis di dinding itu. Tidak pada waktu terbit, menunggu sampai matahari terbit, karena malam adalah sama seperti siang bagi Tuhan Allah.

 

Dan bagaimanapun juga dosa, selalu, merupakan kemajuan yang tak terelakkan lagi. Nebukadnezar akan menjarah serta menghancurkan, akan tetapi putranya akan membawanya di sepanjang pesta yang menggairahkan semangat itu, dan pada akhirnya menuju pada ketidak bertuhanan dan penghujatan.

 

Apa yang ditulis oleh James – rasul itu, saudara dari Tuhan Yesus – apa yang dituliskan oleh James di dalam pasal yang pertama dari Bukunya kepada jemaat gereja di Yerusalem:

 

Jangan biarkan siapapun juga ketika ia tergoda untuk mengatakan bahwa ia tergoda akan Tuhan. Karena Tuhan Allah tidak apat digoda dengan dosa. Begitu juga Dia tidak akan menggoda sesorangpun. Akan tetapi setiap orang tergoda ketika ia terbawa nafsunya sendiri dan terpikat. Dan keinginan ketika ia dikandung, membawa kita kepada dosa, dan berdosa ketika telah usai, membawa kita kepada kematian.

 

“Ah, Pak Pendeta, bukankah hal ini terjadi kembali ke sana pada beberapa orang yang terlupakan di Babilon?” Tidak! Peristiwa itu terjadi tadi malam. Peristiwa itu terjadi setiap malam. Ketika rumah-rumah dari Belsyazar dikosongkan dan orang-orang pulang dalam keadaan sempoyongan. 

 

Ketika pabrik-parik besar dari kota kita

Telah menghasilkan pekerjaan mereka yang terakhir diselesaikan,

Ketika para pedagang telah menjual yar terakhir sutera mereka

Dan meliburkan pegawai mereka yang terakhir kecapaian,

Ketika bank telah menghabiskan dollar merka yang terakhir

Dan membayar dividen mereka yang terakhir. 

Dan Hakim dari dunia ini berkata: “Sudah ditutup untuk malam ini,”

Dan menanyakan jurnalnya – apa yang selanjutnya terjadi?

 

“Tetapi, pak Pendeta, engkau tidak percaya di dalam kisah mitos gaib tentang tulisan di dinding ini? Engkau tidak mempercayainya? Saudaraku, sementara kita membahas hal-hal supernatural, kekuatan gaib dari Tuhan Allah membentuk seluruh hidup dan keberadaan di sekitar kita. uhan Allah sedang menimbang, Tuhan sedang menilai, dan Tuhan sedang menetapkan, dan Tuhan Allah sedang membangun, dan Tuhan Allah sedang memasukkan. “Tulisan tangan di dinding.” Saya ingin membaca dari sebuah puisi dari bait yang pertama dan yang terakhir. 

 

Di saat perjamuan Belsyazar

Dan seribu pembesarnya,

Sementara mereka minum dari perkakas emas itu,

Kitab Kebenaran mencatat,

Di malam hari ketika mereka bersuka cita

Di dalam aula istana kerajaan,

Mereka dilumpuhkan oleh ketakutan

Dengan tangan di dinding itu. 

Maka perbuatan kita akan dicatat;

Ada sebuah Tangan yang sedang menulis sekarang.

Orang-orang yang berdosa, berikanlah hatimu kepada Yesus,

Pada mandat kerajaanNya membungkuklah;

Karena hari itu sedang mendekati,

Mendatangi seseorang dan semua orang,

Ketika penghukuman para pendosa

Akan dituliskan di dinding itu. 

 

Tuhan Allah yang terkasih, apa yang akan terjadi kepada kami di dalam ketakutan yang hebat ketika kami berdiri di balik jeruji hukuman dari Tuhan Allah Yang Maha Kuasa dan dosa kami tertulis dengan sebuah penunjuk dari berlian dan mereka diukirkan ke dalam bebatuan mereka sendiri? Ketika kami berdiri di hadirat Allah seperti yang diserukan oleh Pemazmur, “Ya Tuhan, jika Engkau akan menandai ketidak adilan, maka siapa yang berdiri?”

 

Tuhan Allah, akankah kami yang harus berseru kepada batu-atuan dan gunung-gunung pada mana dosa kami dicatatkan? Haruskah kami berseru ada batu-batuan tersebut serta gunung-gunung akan menimpa kami dan untuk menyembunyikan kami dari wajahNya yang duduk di atas takhta dan bersembunyi dari wajah anak domba itu? Karena hari yang besar dari penghakimanNya dan kemarahan telah datang dan siapakah yang mampu untuk berdiri? Tuhan Allah, apakah yang akan terjadi kepada kami?

 

            Itulah sebabnya kita membutuhkan seorang Jru Selamat. Itulah sebabnya kita memerlukan Tuhan Yesus. Tuhan, di sini ada orang-orang yang berdosa. Tuhan, kami adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuan, karena kami akan menyembunyikannya dari wajahMu, kedunguan dan kebodohan semata – karena Tuhan Allah mencari kita dan mengenali kita. Dan tuan, saya seorang yang berdosa. Tuhan, kami adalah orang-orang yang berdosa. Dan apa yang akan kita lakukan? Dan apa yang akan kita katakan pada saat kemunculan kita di hadapan Tuhan Allah? Tuanku, saya membutuhkan Yesus. Saya membutuhkan Tuhan Allah. Saya membutuhkan Juru Selamat. Dan Tuanku, saya tidak akan menyembunyikannya dariMu, tidak suatu apapun juga. Engkau mengetahui bahwa saya tersesat dan terbuka. Dan saya membutuhkan pertolongan, pengampunan, pemutihan, penjagaan serta penyelamatan. Dan Tuhanku, karena tidak ada orang lain lagi untuk berpaling kepada, aku datang kepadaMu.

 

Siapa yang dapat menyelamatkanku? Ayah dan ibuku? Mereka adalah orang-orag yang berdosa juga. Dan kedua-duanya sudah meninggal. Mereka-mereka yang paling menyayangi saya tidak mampu menyelamatkan saya. Jika saya meninggal sebelum mereka, semua yang dapat mereka lakukan adalah menguburkan saya keluar dari pemandangan mereka. Jika saya meninggal dihadapanmu, semua yang dapat saudara-saudara sekalian lakukan adalah membawa tubuh dari Pendeta dan meletakkannya di sini.  Dan aku akan meninggal tidak berdaya. Hanya menguburkannya untuk keluar dari penglihatannya. Ah, betapa lemahnya, Tuhan, betapa tidak punya pengharapan dan betapa tidak berdayanya mereka yang berdosa, begitu tersesat. 

 

Itulah sebabnya Ia datang ke dunia ini – untuk wafat karena dosa-dosa kita, untuk dibangkitkan karena pembenaran kami dan suatu hari nanti untuk menjelaskan kami dengan tanpa cacat di hadapan dari kemuliaanNya di langit. Itulah kabar gembiranya. Itulah Injil itu. Itulah Kabar gembira bahwa Tuhan Allah erada di dalam Kristus menggabungkan kita dengan diriNya sendiri. Tidak menyalahkan kita atas dosa-dosa kita, akan tetapi memberikan kita pemberitahuan penggabungan yang agung: “Kami berdoa untukMu, oleh karena itu, engkau harus bergabung dengan Allah.” 

 

Datanglah, datanglah. Dan datanglah. Sebentar lagi kita akan menyanyikan lagu puji-pujian kita. Dan sementara kita menyanyikannya, engkau, engkau sendiri, di bawah dari anak-anak tangga ini  atau masuk ke dalam lorong dari sini sampai ke depan:  “Pada hari ini, aku membuka hatiku kepada Tuhan yang diberkati, dan aku datang.” Engkau sekeluarga, letakkanlah hatimu ke dalam lingkaran gereja ini atau hanya Tuhan yang akan melesakkan permintaan itu masuk ke dalam hatimu.

 

            Lakukanlah sekarang juga. Di nada yang pertama bait yang pertama, datangkah. Ambillah keputusan itu di dalam hatimu sekarang juga. Dan sebentar lagi ketika engkau berdiri, berdiri dan datanglah. Tuhan Allah memberkati dan menjaga engkau di dalam perjalanan ketika engkau percaya padaNya untuk melihat ke dalam dirimu, sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.