LYCANTHROPY

 

Dr. W. A. Criswell

 

Daniel 4:1-29

02-28-71

 

Dan ini adalah Pendeta yang sedang menyampaikan warta yang diberi judul: Lycanthropy.  Saya tidak tahu entah sudah berapa kali saya ditanya di dalam minggu ini, “Dari dunia sebelah mana anda mendapatkan kata itu? Kata itu tidak terdapat di dalam kamus.” Baiklah, berarti saudara tidak memiliki sebuah kamus yang bagus. Dan jika saudara akan mencarinya di dalam “Encyclopedia Britannica, Ensiklopedia Inggris, ada sebuah artikel yang panjang mengenai kata “lycanthropy.” 

 

Apa yang saya lakukan adalah, setelah dua tahun, saya kembali berkhotbah untuk menyambung sisa dari kitab Daniel. Kelompok yang pertama dari warta yang telah saya sampaikan tersebut pada mimbar ini adalah mengenai sejarah serta latar belakang sejarah yang mengkisahi kitab Daniel, dan hal tersebut merupakan isi dari buku pertama yang telah diterbitkan. Lalu kemudian isi dari buku yang kedua diterbitkan adalah kumpulan-kumpulan dari khotbah yang telah saya khotbahkan tentang tiga pasal yang pertama dari kitab Daniel. Sekarang, pada hari ini, kita memulai dari pasal yang ke 4, dan kemudian melalui hari-hari Tuhan yang berturut-turut pada saat ini, saya akan memberikan khotbah dari kitab Daniel. Dan khotbah-khotbah ini akan dipublikasikan di dalam buku jilid yang ke tiga. Kemudian setelah itu, kita akan memulai pada buku jilid yang keempat.

 

Sekarang, pasal yang akan kita bahas adalah pasal yang keempat. Izinkanlah saya meringkaskan dengan singkat tentang pesan serta kata "lycanthropy." Pasal yang keempat dari kitab Daniel merupakan sebuah buku kecil yang dituliskan oleh Daniel pada saat didiktekan oleh sang raja. Oleh karena hal itulah saudara-saudara akan menemukan gambaran-gambaran mitologi tentang penyembahan berhala di dalam buku-buku kecil itu, dan pada waktu yang sama, saudara akan menemukan kaum Ibrianisme serta gambaran spiritual Allah seturut dengan bagaimana seorang nabi akan menggambarkanNya. Saudara akan mendapatkan kedua-duanya di dalam buku kecil ini. Saudara akan menemukan mitologi dari penduduk Babilonia serta istilah-istilah dari pemujaan terhadap berhala; dan pada waktu yang sama saudara akan memperoleh gambaran sebenarnya dari Allah, seturut dengan bagaimana seorang nabi akan menguraikannya. Alasannya ialah, buku kecil tersebut dituliskan oleh raja Nebukadnezar sendiri melalui Daniel.

 

Sekarang, buku kecil itu merupakan suatu penggambaran, suatu penjelasan mengenai perubahan sang raja yang luar biasa. Dan ia menuliskannya di dalam bahasa Aram, bahasa yang dipergunakan dalam kerajaannya, serta bahasa yang dipakai di dalam dunia perdagangan. Ia menuliskan buku kecil itu dengan memakai bahasa Aram dan mengirimkannya kepada seluruh orang di dunia ini, kepada seluruh bangsa, kepada seluruh bahasa yang mendiami seluruh permukaan bumi ini. Sekarang, ketika ia menulis perihal regenerasi ini, hal ini merupakan suatu pengantar kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Benar, dan ia berkata bahwa hal itu terjadi oleh karena suatu pengalaman yang dahsyat yang dikenal di dalam ilmu psikologi serta di dalam ilmu kejiwaan serta di dalam ilmu pengobatan sebagai suatu lycanthropy; yaitu, monomania, suatu gangguan jiwa yang disebabkan oleh suatu perasaan, sebuah penyakit ketidak warasan di mana seorang manusia berfikir bahwa dirinya itu seperti seekor hewan serta bertingkah laku seperti seekor hewan. Sekarang, begitulah isi buku kecil tersebut, yang saudara tahu sebagai pasal yang keempat dari kitab Daniel

 

Ketika pada saat kita memulainya, yang pertama, kita melihat tentang kebaikan serta kemurahan hati dari Allah kepada sang raja penyembah berhala ini. “Saya fikir alangkah baiknya menunjukkan pertanda serta bertanya-tanya bahwa Allah yang Maha Tinggi itu telah membuat suatu penciptaan terhadap saya.” Lalu Ia bukan hanya Tuhan Allahnya bangsa Israel saja, Ia juga merupakan Tuhan Allahnya orang-orang yang bukan bangsa Israel. Dan Ia bukan hanya Tuhan Allahnya satu bangsa atau satu orang saja, akan tetapi Ia juga merupakan Tuhan Allah, Yang Maha Berdaulat serta Raja dari seluruh bangsa serta seluruh orang di dunia ini juga. Manusia ini, manusia yang kejam, kasar, dingin, gegabah, garang, yang suka menimbulkan huru-hara, raja Nebukadnezar yang peragu, ia merupakan seorang pemuja berhala. Ia tidak berasal dari bangsa Israel. Ia berada di luar batas dari perjanjian Israel, walaupun Tuhan menunjukkan kasih serta kemurahan hati kepadanya. Ia adalah Tuhan Allahnya semua orang di dunia ini. Bahkan ketika saudara lihat, ia mengutus nabi Yunus ke kota Niniwe. Niniwe merupakan musuh Israel yang sengit; yang menghancurkan kesepuluh suku dari utara. Dan walaupun begitu, Allah mengutus seorang nabi ke kota Niniwe. Jadi begitu juga dengan raja Nebukadnezar; Orang Kasdim yang gegabah ini, yang menghancurkan kota Yerusalem, menghancurkan Bait Suci yang didirikan oleh Raja Salomo, membawa para penduduknya menjadi tawanan, walaupun begitu Allah menunjukkan kasih sayang serta kemurahan hatiNya kepada Nebukadnezar. Maka ia menurunkan diriNya ke bawah. Dan melalui kemampuan Daniel, ia memberikan kabar ke seluruh permukaan bumi mengenai pertemuanNya yang hebat dengan Tuhan Allah.

 

Sekarang, pada saat kita mulai membaca apa yang ia katakan, saya akan berfikir bahwa setiap orang pasti akan tertarik mendengarnya. Apa gerangan yang dikatakan oleh raja Nebukadnezar? Mengapa, orang ini menjadi raja yang pertama dari zaman orang-orang bukan Yahudi. Ia yang dinubuatkan menjadi kepala dari emas itu. Ia seorang raja yang mutlak dari dunia yang memiliki  peradaban. Dan ia telah berbicara, apa gerangan yang telah dikatakannya? Kita merasa tertarik pada apa yang telah dikatakan olehnya.

 

Seperti pada saat ia memulai, pertama saudara harus mencermati bahwa ia bukanlah anggota dari apa yang disebut dengan komunitas kaum beragama secara sembunyi-sembunyi. Ia berani mengemukakan pendapatnya. Ia memiliki sesuatu untuk dinyatakan serta untuk dipublikasikan kepada seluruh ciptaan Allah. Ia telah melihat suatu terang yang datang dari surga. Dan ia akan memberitahukan kita mengenai hal itu. Ia ingin agar kaum Elamit mengetahui hal tersebut; beserta dengan orang-orang dari Armenia dan orang-orang dari Syria serta Mesir, dan semua orang yang tinggal di sekitar Laut Mediterania, dan kepada semua orang yang tinggal di sekitar Teluk Persia, dan semua orang yang tinggal di sekitar Lembah Mesopotamia, semua ciptaan Allah. Ia menujukan semua perkataannya kepada semua orang dan seluruh bangsa beserta dengan bahasa yang turut mendiami bumi ini. 

Orang ini berkata: “Ada lebih banyak terang di dalam penciptaan daripada yang selama ini aku pikirkan. Dan saya ingin menunjukkan kepada saudara serta menggambarkan kepada saudara tentang ilmu sihir dari warnanya dan dari bayangannya serta dari isinya, kemuliaan yang saya temukan di dalam Allah, Allah yang nyata.” Jadi ketika ia mengumumkannya, saya mulai membaca, dan saya akan berfikir, ah, sungguh suatu ucapan yang pantas untuk diikuti. Daripada, ia hanya memenuhi nya dengan seruan-seruan, hanya itu. “Betapa agung pertanda dariNya! Dan betapa hebat mukjizatNya!”

 

Sekarang, itulah kebenaran dan agama yang benar. Saudara tidak dapat menggambarkannya. Ketika saudara berbicara mengenai sebuah pertemuan dengan Tuhan Allah, saudara memasuki sebuah keadaan yang tidak dapat diungkapkan dan saudara menyentuh suatu hal tanpa batas dan kata-kata saja tidak mampu mengungkapkannya. Perasaan itu tidak dapat disusun dalam suku-suku kata. Tidak ada sebuah tata namapun di dalam pembicaraan atau bahasa manusia untuk mengungkapkan pertemuan jiwa dengan Allah. Respon yang sama yang saya temukan pada rasul Paulus ketika ia mencari cara untuk menggambarkan keagungan serta kedaulatan dari Allah Yang Maha Kuasa. Setelah ia melakukan hal itu dalam tiga pasal dalam kitab Roma dalam pasal yang ke 8, 9, 10 dan pasal yang ke 11, akhirnya ia terhempas ke bawah di dalam suatu kemuliaan. Ia diliputi dengan suatu hal yang tiada batas dan ia menutupnya dengan, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” Jadi, hal itu terjadi ketika seseorang berusaha untuk menggambarkan kemuliaan dari pada Allah, ia tidak memiliki kata-kata yang cukup dan ia hanya mengeluarkan suatu ujaran dan seruan, “Betapa besarnya tanda-tandaNya dan betapa hebatnya mujizat-mujizatNya!”

 

Saya dapat memberitahu saudara tentang kejahatan dari agama di zaman modern ini sebagaimana yang sebenarnya. Seluruhnya telah saya golong-golongkan. Semuanya telah saya uraikan. Dan kepadanya telah saya bubuhkan keterangan-keterangan. Saya menemukan Allah di dalam sebuah buku mengenai ilmu keagamaan dan Dia berada di sana. Saya telah menempatkanNya pada suatu susunan sebuah rak. Dan ketika saya menginginkanNya, saya dapat mengambilNya, membersihkan debu yang menempel padanya, membuka buku tersebut dan Allah berada di sana. Seolah-olah Allah Yang Maha Kuasa dapat dimuat di dalam sebuah buku yang dapat saudara tempatkan di dalam sebuah perpustakaan. Karena sebuah langit dari langit tidak dapat memuatNya, seseorang tidak mampu menggambarkan kemuliaan dari sebuah pertemuan dengan Tuhan. Suatu bahasa juga tidak mampu melakukannya. Bukankah kejadian itu suatu hal yang memalukan  dan suatu penglihatan yang telah sampai pada kebudayaan kita serta dalam kemasyarakatan kita di mana untuk segala hal untuk dapat diterima, harus dapat di demonstrasikan secara logis? Harus mampu diekspresikan. Harus dapat dibuktikan. Harus dapat dituliskan. Harus dapat diuraikan, seolah-olah kemuliaan Allah dapat di ekspresikan di dalam persamaan matematika serta rumus-rumus ilmu pasti. Bukankah ada sesuatu di dunia ini di samping apa yang dapat saudara lihat di dalam sebuah tabung percobaan atau di bawah lensa mikroskop atau teleskop? Bukankan ada sebuah kemuliaan serta keagungan yang dapat membersihkan jiwa seorang manusia di dalam Allah yang tidak dapat dilukiskan? Tidak ada hal yang masuk akal di dalamnya. Hanya seperti itu saja. Hanya sebuah kemuliaan. Bukankah merupakan hal yang aneh bahwa Allah harus membuat kita mampu menjangkau langit serta memberi makan jiwa kita dengan segenggam penuh debu dari bulan? Data statistik serta ilmu pengetahuan sains yang tumpul, kering dan gelap, ada sesuatu yang di depan serta disampingnya yang tidak mampu untuk digambarkan. Dan saudara tidak dapat mengatakannya dengan logis. Dan saudara tidak mampu menguraikannya. Itulah hal yang menakjubkan serta keajaiban dari hadirat Allah yang meliputi jiwa manusia. Itulah agama kepercayaan yang sebenarnya. Dan hal itulah yang dicoba untuk digambarkan oleh raja Nebukadnezar. Ia memasuki kekudusan dari hal yang tak dapat diucapkan serta tak dapat diekspresikan, ketidak terbatasan hadirat dari Allah Yang Maha Kuasa. Jadi, ketika ia memulainya, ia hanya berkata: “Betapa besarnya tanda - tandaNya dan betapa hebatnya mujizat -mujizatNya!” Raja itu harus mengatakannya. 

 

Jadi ia kembali kepada mimpinya:  “Saya, Nebukadnezar, diam dalam rumahku dengan tenang, hidup dengan senang dalam istanaku,” yang berarti pasukannya berada dalam suasana damai. Ia bukan seorang jendral lagi. Ia tidak sedang berbaris di depn gerombolan kaum Kasdim yang rakus dan perusak itu. Semua musuh-musuhnya yang berada di luar sana telah ditaklukkannya. Dan semua kecemasan yang berada di dalam dirinya telah menjadi sirna. Ia sedang beristirahat. Ia memiliki benteng-benteng pertahanan yang begitu hebat – salah satu dari keajaiban dunia, telah mereka dirikan – dan ia memiliki pasukan perang yang perkasa yang siap bangkit pada saat tiupan terompet untuk mempertahankannya. Ia sedang berdiam di dalam rumahnya dan hidup senang dalam istananya. Tidak ada kekurangan apapun. Setiap piala minuman dipenuhi dengan anggur. Setiap sudut dari setiap ruangan dipenuhi dengan gema dari suara musik. Setiap istana merupakan tempat perlindungan dari rasa takut dan dan kengerian. Dan ia membaringkan kepalanya pada sebuah bantal. Serta berharap untuk memimpikan impian tentang kemuliaan, kekayaan, kemewahan serta kemakmuran. Ia sedang berdiam di dalam rumahnya dan hidup senang dalam istananya. Monumen-monumen yang ada, kota-kota, benteng-benteng pertahanan, keagungan dari kota emas yang hebat yang pernah diketahui, yaitu, Babilon.

 

Dan yang mengagumkan, “Aku melihat sebuah mimpi yang membuatku merasa ketakutan.” Apa itu gerangan? Baiklah, pertama-tama, jangan membiarkan bahasa itu mengganggu kita. marilah kita membiarkan ia mengatakannya. “Saya melihat sebuah mimpi.” Hal itu sudah menjadi bagian dari dirinya walaupun hal itu berada di luar dari dirinya. Ia melihatnya sebagai seorang manusia yang memiliki jarak serta terpisah. Ia melihatnya. Ia melihat kepadanya. “Saya melihat sebuah mimpi dan mimpi itu membuat saya ketakutan.” Saya tidak tahu bahwa perkataan itu ada di dalam perbendaharaan bahasanya. Dan di sana ada raja yang berbaris seperti Nebukadnezar, ia yang tidak pernah mengalami kekalahan perang selama hidupnya. Menentang kesulitan-kesulitan yang sukar diatasi, ia menundukkan Niniwe dan seluruh kekaisaran Syria, raja Nebukadnezar melaukannya bersama - sama dengan ayahnya, Nabopolassar. Dan raja Nebukadnezar, anaknya, melakukannya. Rasa takut?  Mengapa, ia memiliki kereta kuda dari besi dan ia memiliki pasukan kavaleri serta penunggang kuda. Ia memiliki pasukan bersenjata yang tidak pernah mengalami kekalahan. Dan ia merasa ketakutan?

Ha! Bukankah hal itu sangat aneh, bersumber dari Allah? Ia menjamahnya. Allah menjamah sampai ke dalam lingkaran ketakutanNya serta apa yang dapat dicabutNya. Baiklah, Ia dapat saja mengirimkan petir. Akan tetapi kita mampu menangkisnya. Kita memiliki peralatan untuk menjinakkannya. Ia mengirimkan angin puyuh. Kita mampu mengerjakan sebuah bangunan dari batu granit yang berat, akan tetapi sama sekali tidak mampu mempengaruhinya. Tuhan Allah mampu menjamah sampai ke dalam lingkaran ketakutannya dan Ia mampu mengirimkan gempa bumi. Dan kita mampu mendirikan bangunan yang akan bergerak seiring dengan gerakan seimograf. Dan Ia mampu mengirimkan api. Mengapa, kita mampu mendirikan bangunan yang tidak habis terbakar api. Saudara tidak dapat membakarnya habis dengan memakai sebuah obor. Akan tetapi, oh, suatu hal yang datang dari Allah. Ia menjamah sampai ke dalam lingkaran ketakutan dengan sebuah mimpi. Sebuah mimpi. “Aku melihat sebuah mimpi yang membuatku merasa ketakutan.” Mengapa, raja yang paling agung sepanjang masa dari berubah menjadi seorang penakut, benar-benar pengecut. Ia merasa ketakutan. 

 

Sudah pernah terjadi sebuah pasukan yang menghentak-hentak di pintu-pintu gerbang, ia akan menikmati pertemuan tersebut. Ia akan memanggil pasukannya pada suatu gerakan pembersihan. Dengan segera, ia akan memecah mereka seperti mencairkan salju di bawah terik panasnya matahari. Akan tetapi ia merasa ketakutan. Sebuah mimpi. Bagaimana saudara dapat melawan menentang sebuah mimpi? Persis seperti bagaimana saudara akan berperang melawan mimpi? Ia ketakutan. Saudara tahu, kembali ke sana, ke masa-masa sebelum zaman wahyu serta penyajian nubuat telah digenapi, Allah berbicara demikian seringnya kepada mereka melalui mimpi. Ia berbicara dengan Abimelek dalam sebuah mimpi. Dan Ia berkata kepada Abimelek, “Engkau adalah seseorang yang sudah mati, Abimelek.” Ia berbicara kepada pembuat roti dan pelayan dari Firaun dalam sebuah mimpi. Ia berbicara kepada Firaun sendiri dengan sebuah mimpi. Saudara ingat kisah tentang Gideon? Tuhan Allah mengutus Gideon untuk melihat kepada gerombolan dari kaum Midian bahwa mereka berjumlah seperti pasir di lautan. Dan berkata: “Berdiri saja di sini.” Dan disana di waktu malam hari, ia mendengar seorang pria, seorang tentara dari pasukan Midian menerangkan sebuah mimpi, tentang sebuah roti dari gandum jatuh ke bawah menimpa segerombolan besar dari Midian. Sebuah mimpi. Saudara masih mengingat, ketika Pontius Pilatus duduk di sana ketika hari penghakiman terhadap Yesus Kristus? Istrinya membisikkan sesuatu kepadanya dan berkata, “Aku melihat sebuah mimpi tadi malam dan aku telah menderita oleh karena orang ini.”

 

Sebuah mimpi membuatnya ketakutan; hanya sebuah mimpi. Dan ia mengisahkan kembali mimpi tersebut. “Ada sebuah pohon yang sangat tinggi, pohon yang sangat tinggi. Dan pohon tersebut bertambah besar, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi. Pohon itu begitu besar, begitu tinggi, menjulang tinggi sehingga seluruh dunia dapat melihatnya.” Sekarang, begitulah kebudayaan dari Syria dan Babilon. Pada permata-permata mereka, mereka mengukirkan Pohon Surgawi tersebut. Pada perhiasan-perhiasan mereka, ada Pohon Surgawi di sana. Di gedung-gedung yang hebat, ada Pohon Surgawi terukir di sana. Lukisan itu ada di mana-mana. “Dan ia melihat pohon besar yang menjulang tinggi tersebut. Daun-daunnya yang begitu indah serta buahnya berlimpah-limpah dan bayangannya sebagai tempat bernaung bagi burung-burung serta binatang-binatang dari dasarnya.” Dan kemudian ketika saudara melihat kepadanya, kepada pohon besar yang menjulang tinggi itu, raja dari hutan rimba tersebut, ketika saudara melihat kepadanya, bertambah besar, bertambah besar, dan bertambah besar sampai seluruh permukaan bumi ini dapat melihatnya; ada seorang penjaga, Seorang Yang Kudus yang datang dari langit.

 

Sekarang, ingatlah bahwa ini adalah sesuatu yang dituliskannya. Hal ini merupakan mitologi dari orang-orang Babilon, yang mana kita tidak memiliki waktu untuk membahasnya. Seorang penjaga, seorang Yang Kudus yang datang dari langit dan berseru dengan nyaring, demikian katanya, “Tebanglah pohon itu dan potonglah dahan-dahannya, gugurkanlah daun-daunnya dan hamburkanlah buah-buahnya. Dan kemudian pohon tersebut sama sekali dihancurkan: seluruhnya kecuali tunggul dari akarnya. Dan mereka mengikatnya dengan menggunakan pita yang terbuat dari besi dan kuningan untuk melindungi akarnya tersebut. ”Saudara lihat, ada beberapa pohon yang telah ditebang, akan tetapi tidak akan tumbuh kembali, seperti pohon cedar, seperti pohon cemara, seperti pohon yang berbulu, kebanyakan dari pohon yang telah ditebang, akan ada sebuah tunas dari tunggul akarnya apabila ada tersisa, dan tunas itu akan tumbuh kembali. Lindungilah tunggul tersebut. Buatkan pengikat dari besi dan kuningan di sekelilingnya sampai tujuh kali. Tujuh tahun. Dan kemudian perubahan dari kata “itu” menjadi “dia”. “Dan diberikan kepadanya hati binatang. Agar supaya ia boleh belajar bahwa Allah yang berada di atas langit itu hidup dan bahwa Allah itu memerintah dan Ia adalah Tuhan yang benar dari seluruh permukaan bumi ini.”

 

Kologa-koleganya, koleganya sesama penasehat kerajaan datang, beserta dengan para ahli perbintangan, serta para ahli nujum, tukang-tukang sihir, para pendeta Kasdim, mereka tidak mengetahui artinya. Dan pada akhirnya, Daniel dipanggil untuk masuk. Begitulah yang terjadi, penasehat dengan urutan yang lebih rendah mampu memberitahukan sang raja tentang mimpi itu, mengapa terjadi mimpi tersebut, mengapa, karena sudah ditetapkan seperti itu. Akan tetapi tidak seorangpun mampu menggambarkan ataupun melukiskan ataupun menafsirkan pengertiannya. Dan akhirnya, ia memanggil penasehat emasnya, Daniel sendiri, dan ia memberi tahu Daniel tentang mimpi tersebut serta ketakutan akan mimpi itu. “Dan ketika Daniel mendengarnya, ia terheran-heran (astonished) – begitulah kata-kata dalam bahasa Inggris yang sudah tidak dipakai lagi sekarang – “ia terheran -heran selama satu jam.” Yang artinya, ia terduduk dengan perasaan susah dan pusing dan kebingungan serta penuh dengan rasa takut. Perkataannya berubah dan raut wajahnya juga berubah. Dan ketika raja Nebukadnezar melihat kepadanya, hal tersebut membawa kengerian di dalam hatinya. “Bicaralah, Daniel, bicaralah. Apakah mimpi itu? Apa yang dikatakan oleh mimpi tersebut? Apakah gerangan arti dari mimpi itu?” 

 

Dan di sinilah masalah yang dihadapi di dalam kehidupan seorang pendeta. Dan oleh setiap orang-orang Tuhan dan oleh setiap nabi dan oleh setiap rasul. Apakah saudara akan menyampaikan kebenaran dari Allah atau tidak? Akankah saudara mengatakannya atau tidak? Akankah saudara memberitahukannya atau tidak? Apa yang akan saudara lakukan? Karena pesan tersebut merupakan salah satu hal yang mengancam jiwa dari raja tersebut. Dan Daniel merupakan seorang budak. Ia merupakan seorang budak pelayan. Ia dapat saja dihancurkan hanya karena kerutan di kening sang raja. Ia merupakan seorang tahanan di dalam istana. Ia berdiri di hadapan seorang raja perkasa yang pernah diketahui oleh dunia, seorang raja lalim yang mutlak serta seorang diktator. Akan tetapi pesan itu merupakan suatu bencana. Pesan itu merupakan satu hukuman. Pesan itu merupakan satu kutukan. Apakah ia akan menyampaikannya? Apa yang akan dilakukannya? Apakah yang akan dikatakannya? Ah, bagian yang hampir setiap pendeta akan menghindarinya. Memberitahukan hukuman yang datang dari Firman Tuhan. Saudara tidak perlu merasa terancam dengan hukuman. Saudara tidak boleh mengucapkan kata-kata kutuk serta neraka. Saudara tidak boleh berbicara tentang api yang tidak akan pernah padam. Saudara tidak boleh berkata tentang zaman orang-orang jahat. Buatlah hal itu menjadi lembut dan dan manis dan mulus serta ringan. Menjadi kaki tangan kesombongan mereka. Ucapkan selamat serta sanjungan kepada kehidupan mereka yang sesat. Jangan beritahukan orang setengah kutuk tersebut jika ia tidak akan berbalik dan tidak bertobat, maka prosesnya akan dilanjutkan. Akan tetapi katakanlah bahwa bagaimanapun juga ia akan diselamatkan. Mengapa, ia akan di bawa ke surga dan akan menjadi seraf, atau paling sedikit akan menjadi seorang malaikat. Penuhilah lubang neraka itu dengan bunga-bunga yang indah. Akan tetapi jangan sampaikan pesan tentang sebuah kutuk atau penghukuman. Jangan gambarkan akhir dari dunia kejahatan ini serta penyempurnaan dari dosa yang terakhir. Sembunykanlah hal-hal yang seperti itu di bawah bahasa yang indah serta kebohongan dan kata-kata yang memperdaya.

 

Ketika rasul Paulus berdiri di hadapan Felix dan Drusilla – dua orang yang paling patut untuk dicela, pasangan yang tercela di dalam kisah kekaisaran Romawi – ketika ia berdiri di hadapan mereka, nyawanya berada di dalam genggaman tangan Felix. Ia merupakan seorang Wali Negara dari Yudea yang dihunjuk langsung oleh kaisar Romawi sendiri. Apakah ia akan mengatakan tentang kebenaran serta kesederhanaan dan penghakiman yang akan datang? Akankah ia melakukannya? Dan ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada orang banyak, akankah Ia mengatakan hal-hal yang tidak populer yang akan membawa mereka kepada kemarahan serta kemurkaan, dan pada akhirnya akan mengakibatkan kematianNya di kayu salib? Tidak, lakukanlah dengan lembut. Buatlah kalimat-kalimat yang demikian manis. Sembunyikanlah hukuman serta hari yang mengerikan yang akan datang karena kemarahan Allah Yang Maha Kuasa itu. Jangan katakan hal itu.

 

Maka Daniel berdiri di hadapan sang raja yang agung tersebut. Dan dia melihat ke wajah sang raja. Artinya boleh berupa kandang singa. Boleh saja berarti tungku perapian yang bernyala-nyala. Akan tetapi ia berdiri di sana serta menyampaikan pesan dari Allah. “Tuankulah itu, ya raja.” Bukankah hal itu mengingatkan saudara akan sesuatu? Apakah saudara ingat kepada Nathan nabi itu yang berdiri di hadapan raja Daud dan berkata,” Engkaulah orang itu. Engkaulah orangnya.”

 

“Tuankulah itu, ya raja.” Lalu kemudian ia menyampaikan pesan tentang kutuk tersebut. Itulah yang saudara sebut dengan lycanthropy. Begitulah caranya dituliskan di dalam buku-buku. Lycanthropy. Yaitu, suatu monomania; di mana seorang manusia kehilangan keseimbangannya, keseimbangan mentalnya hanya dalam satu daerah di dalam hidupnya. Ia seorang monomaniak. Ia memiliki semua kemampuan untuk merasakan yang lainnya. Ia memiliki seluruh kenangan lainnya serta latar belakang dari hidupnya. Seluruhnya tetap tidak berubah kecuali satu hal. Ia adalah seorang monomaniak. Ia menderita suatu ketidak warasan yang menjamah satu daerah saja di dalam hidupnya. Semua proses intelektualnya selalu sama, kecuali satu hal. Dan yang satu ini yang diancam oleh Allah terhadap raja yang agung itu, yaitu lycanthropy.

 

Selama tujuh tahun, kegilaannya akan mengarahkannya menjadi orang yang berfikir bahwa dirinya adalah seekor binatang, sebagai seekor hewan. Di dalam studi saudara tentang monomania itu, mengenai ilusi psikologis, mengenai penyimpangan tersebut, kadang kala saudara menjumpai bahwa hal seperti itu disebut juga dengan boanthropy.  Ada hal disamping itu yang disebut dengan boanthropy. Bos, kata di dalam bahasa Latin untuk lembu atau sapi, dan anthropos, kata dalam bahasa Yunani untuk menyebut orang, manusia. Untuk yang pertama kalinya saya menyeberanginya. Mungkin sudah sering, akan tetapi saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Biasanya sebuah kata akan dibuat di dalam bahasa Latin atau di dalam bahasa Yunani. Akan tetapi di sini, mereka menempatkan kata Latin dan kata Yunani bersama-sama. Boanthropy, yaitu, seseorang merasakan dirinya sebagai seekor sapi atau lembu dan bertingkah laku sepertinya. Yang lainnya adalah avianthropy - Avi, adalah bahasa latin untuk burung dan seperti yang diatas anthropos, adalah bahasa Yunani untuk menyebut orang, manusia - avianthropy. Dalam hal ini, seseorang akan berfikir bahwa ia adalah seekor burung dan berperilaku seperti seekor burung. Di dalam studi saya dalam minggu ini, secara kebetulan saya menemukan sebuah contoh di mana seseorang berfikir bahwa ia adalah seekor ayam jago, dan lebih memilih untuk bertengger di atas pohon setiap malam daripada tidur di atas sebuah kasur; dan yang seperti itu disebut dengan avianthropy.

 

Sekarang, untuk kata lycanthropy: Dan biasanya, kata lycanthropy lebih digunakan kepada mereka yang memiliki penyimpangan kejiwaan, sebuah kekacauan di dalam pikiran. Di dalam bahasa Yunani, kata lycus, artinya serigala, dan kata anthropos Maka apabila digabungkan kata-kata tersebut menjadi Lucusanthropy. Untuk kata Ly, di dalam bahasa Yunani, huruf “u” diucapkan menjadi huruf "y" di dalam bahasa Inggris. Jadi, pengertian kasar dari kata Lycanthropy - “seperti serigala.” Dan kata "lycanthropy" biasanya digunakan untuk menunjukkan mereka yang memiliki ilusi jiwa di mana seseorang itu akan merasa bahwa ia sendiri adalah seekor binatang buas. Hal seperti ini tidak lazim kita temukan di dalam sejarah umat manusia. Sejauh mana kita kembali ke catatan sejarah umat manusia, tidak pernah ada contoh kasus untuk keadaan seperti itu. Hal seperti itu sangat jarang terjadi. Hal seperti itu tidak terjadi di manapun. Akan tetapi ada sebuah contoh kasus selama bertahun-tahun terhadap ilusi lycanthropis. Seseorang berfikir bahwa ia sendiri adalah seekor binatang.

 

Di dalam studi saya minggu ini, saya membaca habis sebuah buku yang berjudul The Introduction to the Old Testament, Pengantar kepada Perjanjian Lama, yang dikarang oleh R. K. Harrison, seorang guru besar yang hebat dari Universitas Toronto di Kanada. Dan pada tahun 1946 ia berkata, “Saya menyaksikan sebuah contoh dari lycanthropy di dalam rumah sakit jiwa di Inggris Raya.” Dan ia menggambarkan bagaimana rupa dari seorang pria dan bagaimana ia bertingkah laku. Ia berfikir bahwa ia adalah seekor lembu, ia sering tertidur di luar gedung, dan para penjaga di rumah sakit jiwa tersebut membiarkan dia mendekati tanah, ia memakan rumput, dengan rambut yang dibiarkan tumbuh memanjang. (Dan begitulah datangnya kaum hippies. Secara ilmu jiwa mereka itu mengalami penyimpangan – mereka tidak normal – rambut yang dibiarkan tumbuh memanjang serta kuku-kuku jari yang dibiarkan tumbuh memanjang. Mereka hidup seperti binatang seperti di luar sana, di daerah Taos, New Mexico. Melarikan diri dari suatu tempat – jauh dari masyarakat. Mereka ingin meniadakan mereka sendiri dari masyarakat. Penyimpangan kejiwaan).

 

Dan hal seperti itu terjadi di sepanjang sejarah. Misalnya, kembali ke sana, saudara-saudara akan menemukan pada hampir seluruh dewa-dewa memiliki kekuatan untuk mengubah manusia menjadi binatang. Dan kemudian, ketika hal tersebut berlanjut, saudara kemudian mendapatkannya dari Ensiklopedia Inggris tersebut. Kekuatan untuk mengubah orang lain menjadi binatang buas bukan hanya menjadi sifat dari ahli-ahli ilmu sihir, akan tetapi juga pada orang-orang Kristen yang kudus. Sebuah kisah dari Rusia menceritakan bagaimana rasul Petrus dan rasul Paulus mengubah sepasang suami istri yang tidak berTuhan menjadi sepasang beruang. Santo Patrick – seorang kudus yang diteladani dari Irlandia - Santo Patrick mengubah bentuk Vereticus, raja dari Wales, menjadi seekor serigala. Dan Santo Natalis mengutuk satu keluarga dari Irlandia yang termashyur yang mengakibatkan bahwa setiap anggota keluarga tersebut dikutuk menjadi seekor serigala selama tujuh tahun. Hal itu sudah biasa terjadi.

 

Hal ini juga membangkitkan legenda dari daratan Eropa mengenai manusia serigala. Ada seseorang di sini, di sini, di sini, disetiap generasi sepanjang abad ini, di mana seseorang merasa bahwa dirinya adalah seekor binatang, dan hal tersebut juga membangkitkan kisah tentang legenda manusia serigala. Yaitu, adanya seseorang yang dengan kehendaknya sendiri, dan menurut legenda tersebut bahwa seseorang itu berada di bawah sebuah kutuk, dan menurut beberapa legenda, ia mengubah dirinya menjadi seekor serigala dan ia memakan daging dari manusia lainnya serta meminum darah manusia dan ia tinggal di dalam kandang-kandang – manusia serigala!

 

Dan hal tersebut ada di dalam kebudayaan kita pada zaman sekarang ini. Mengapa, pada suatu ketika, ketika saya akan menonton sebuah film maka film itu akan diberi judul, “Si Cantik dan Buruk Rupa.” Dan ada beberapa spesimen yang mirip dengan seekor gorilla, yang hanya dengan memandang wajahnya saja bisa membuat saudara ketakutan setengah mati. Dan di dalam genggaman tangannya ada seorang gadis cantik yang menggairahkan. Sama saja! Sudah ada di sepanjang sejarah kebudayaan umat manusia serta dalam masyarakat – sebuah lycanthropy! Dan saya tidak akan menggunakan waktu kita untuk melakukannya.

 

Saya harus memotong kebaktian ini sebagian-sebagian menjadi dua bagian, akan tetapi pada hari minggu yang akan datang, kita akan melihatnya di dalam diri para penguasa gila di dunia ini. Dan di dalam bangsa-bangsa yang memiliki hati seekor binatang - lycanthropy: kutuk dari penyimpangan kejiwaan.

    

Wow. Tujuh tahun lamanya, walaupun hal ini tidak biasa terjadi, kegilaan dari seorang raja. Saya baru saja mengatakan bahwa hal tersebut tidak biasa terjadi, walaupun jarang terjadi - lycanthropy.  Kekacauan dalam kejiwaan. Walaupun tidak biasa terjadi pada seorang raja untuk menjadi gila. Membaca seluruh buku-buku sejarah ini, setiap suatu kali, saudara akan menemui suatu karakter yang menderita penyakit schizophrenia. Menjadi seseorang yang lain dari hari ke hari dan ke hari yang lainnya. Di suatu waktu ia menjadi sesuatu di sini dan menjadi sesuatu yang lain lagi di sebelah sana. Ia memiliki sebuah kepribadian ganda, pribadi yag mengidap penyakit schizophrenia.

 

Kegilaan, kekacauan dari seorang raja, seperti raja Charles VI dari Perancis, seperti raja Christian VII dari Denmark; seperti kegilaan raja George III dari Inggris, yang membuat Revolusi Amerika. Ia mengalami gangguan kejiwaan, raja George III dari Inggris; serta raja gila dari Bavaria juga; dan teman-teman terdekat dari penulis opera yang termashur Richard Wagner. Kegilaan di dalam diri seorang raja, serta hukuman yang mengancam jiwanya. Tujuh tahun masa kegilaan lycanthropy insanity. Oh, tujuh tahun menjadi seekor binatang.

 

Yang terakhir – dan kita harus bergegas mengambil kesimpulan – pasti ada sebuah pengaruh yang dalam pada diri Daniel, hamba Allah dan nabi yang benar. Pasti ada pengaruh yang mendalam pada diri Daniel terhadap raja Nebukadnezar. Lihat bagaimana ia menutup kalimatnya. Setelah ia mengucapkan ancaman mengenai hukuman serta kutukan tersebut, kegilaan yang luar biasa itu, dengarkanlah bagaimana ia memohon dengan sangat, “Jadi, ya raja, biarlah nasehatku berkenan pada hati tuanku.” Dan dengan harfiah saya dapat mendengar air mata yang menetes di lantai yang terbuat dari pualam tersebut ketika Daniel memohon dengan sangat kepada orang yang menangkapnya. “Jadi, ya raja, biarlah nasehatku berkenan pada hati tuanku – izinkanlah saya memohon dengan sangat – lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!” Berubahlah, raja, Bertobatlah.” 

 

Dan saya ingin menunjukkan salah satu kebenaran theologi yang luar biasa kepada saudara-sauadra sekalian, kebenaran atas waktu dan keabadian di dalam permohonan yang dilakukan oleh nabi Daniel. Di sini ia hanya mengutarakan kepada raja bahwa selama tujuh tahun yang berkelanjutan, ia akan mengalami kegilaan. Ia menjadi tidak waras. Ia akan memakan rumput seperti seekor lembu jantan. Ia akan tinggal di padang di antara binatang-binatang. Padang rumput akan menjadi rumahnya. Memiliki rasa takut terhadap seorang manusia. Liar dan ketakutan. Tidak waras. Selama tujuh tahun. Lalu kemudian, setelah selesai mengucapkannya Daniel berkata: “Oh raja, biarkanlah saya memohon. Semoga perkataanku dapat diterima di hadapanmu. Berubahlah, bertobatlah, tinggalkan dosa-dosamu, hentikanlah ketidak adilanmu, karena Allah adalah Allah yang mengampuni dan dalam namaNya ada kasih dan kemurahan hati.” Jadi, apakah yang disebut dengan kebenaran theologis? Inilah dia. Tidak ada hal seperti takdir atau nasib di dunia ini. Dunia ini tidak dijalankan oleh suatu mekanisme, atau juga oleh hukum mekanikal, atau juga oleh titah-titah yang tak terelakkan dan tak dapat ditawar-tawar lagi. Dunia ini berada di dalam tangan Allah Yang Maha Pengasih dan Allah dapat merubahnya. Inilah hukumannya. Inilah kutukannya. Inilah titahnya. Tetapi, wahai Nebukadnezar, jika engkau akan berubah, jika engkau akan berbalik, maka Allah akan berubah. Bukankah itu merupakan suatu Injil dari Alkitab itu?

 

Allah mengutus Yunus ke kota Niniwe, lalu ia berkhotbah di sana dan berkata, “empat puluh hari, dalam empat puluh hari kota Niniwe akan dibinasakan.” Tuhan Allah yang mengatakan itu. Dan Tuhan Allah melihat ke bawah dari langit dan pada raja dari Niniwe, ia terduduk dengan mengenakan kain kabung serta duduk di atas abu. Dan Allah melihat ke bawah dari atas langit kepada kaum bangsawan dari Niniwe, beserta dengan penasehat-penasehat kerajaan mereka, anggota-anggota dewan mereka, para pemimpin mereka, mereka meneteskan air mata penyesalan dan pertobatan. Dan Tuhan Allah melihat kebawah pada Niniwe bahkan binatang-binatang sekalipun ditutupi dengan kain kabung. Dan Tuhan berkata, “Aku telah berubah. Aku telah berubah.” Dan Ia tidak jadi melakukannya. Ia tidak jadi menghancurkan kota tersebut. Karena ketika Niniwe telah berubah, Allah juga berubah. Ketika kota Niniwe merasa menyesal, Allah juga menyesalinya. Ketika kota Niniwe menjadi benar, Allah mengabaikan kemarahanNya serta kemurkaanNya. Tidak ada hal yang dikatakan sebagai nasib di dalam dunia ini. Allah memimpin di depan, dan semuanya berada di dalam tanganNya yang penuh dengan kemurahan hati. Dan ketika seorang manusia menjadi benar, maka Tuhan Allah akan berubah. Dan ketika seseorang menyesal, maka Tuhan Allah menyesal. Dan apabila seseorang berseru memohon kemurahan hati dan pertolongan, maka Tuhan Allah akan melimpahkan mujizat yang datang dari kasih, kebaikan dan kemurahanNya kepada orang itu. 

 

Sekarang, sebelum saya menutupnya – saya tidak dapat memotong khotbah ini disini dengan begitu saja – di sinilah saya akan menghentikannya. Dan Allah memberikan waktu selama dua belas bulan kepada raja Nebukadnezar, dua belas bulan lamanya, tertulis di dalam ayat 29, selama dua belas bulan. Tuhan tidak akan pernah melaksanakah hukumanNya dengan cepat, sesegera mungkin. Selalu ada periode waktu sebagai masa percobaan. Ia memberikan waktu serta kesempatan kepada saudara untuk berubah. Ia tidak pernah menjatuhkan kutuk atas seseorang, Ia tidak pernah membinasakan seseorang sebelum pertama memberikan kesempatan kepada seseorang itu untuk berubah. Yang terjadi di Taman Eden - “engkau dapat memiliki semua pohon di dalam taman ini kecuali yang satu ini.” Dan Ia memberikan waktu untuk Adam untuk memutuskan. Mengenai Air bah itu – mereka mendapatkan waktu selama seratus dua puluh tahun lamanya, bayangkanlah, seratus dua puluh tahun lamanya, Nabi Nuh menyerukan, akan tetapi tidak pernah mendapatkan seseorang yang mau beralih, tak seorangpun. Tak ada seorangpun yang mau bertobat dalam waktu selama seratus dua puluh tahun lamanya. Dapatkah saudara membayangkan saya memberikan khotbah di atas mimbar ini selama seratus dua puluh tahun lamanya dan tak satu orangpun yang mau berubah? Tuhan Allah memberikan waktu selama seratus dua puluh tahun lamanya kepada mereka.

 

Tuhan Allah berkata kepada Eli mengenai Hofni and Fineas, “Jika engkau tidak menghukum kedua anak tersebut, maka Aku akan menghancurkan rumah ini selamanya.” Dan di dalam pasal yang ke dua dari kitab 1 Samuel, ia mengutus seorang nabi. Dan di dalam pasal yang ke tiga dari kitab yang sama 1 Samuel, ia mengutus Samuel muda. Dan Eli tidak juga berubah. Tuhan Allah telah memberikan waktu selama bertahun-tahun kepada Eli sebagai masa percobaan.

 

Tuhan Allah berkata kepada Yudea, “Bertobatlah.” Lalu Tuhan Allah mengutus nabi Yeremia untuk berseru kepada orang-orang itu tentang keadilan dan pertobatan. Lalu kemudian pada tahun 605 SM datanglah raja Nebukadnezar. Nabi Yeremia meninggikan suaranya dan berseru: “Bertobatlah.” Kemudian raja Nebukadnezar datang kembali pada tahun 598 SM. Dan nabi Yeremia menaikkan suaranya serta berseru, “Bertobatlah dan menjadi benar dengan Tuhan Allah.” Dan kemudian raja Nebukadnezar datang kembali untuk yang ketiga kalinya pada tahun 587 SM dan ia tidak perlu lagi untuk datang kembali. Ia telah menguruk kota tersebut, membawa penduduknya menjadi tawanannya, serta menghancurkan kerajaan tersebut.

 

Tuhan Allah berkata, “Berubahlah maka Aku akan berubah.” Ia berbicara kepada orang di Amerika hari ini. Dan jika kita tidak berubah, maka akan datanglah hari penghakiman itu; Maka akan datang suatu penghancuran. Akan ada kematian yang menyeramkan yang datang dari langit dan angkasa yang akan menghujani kita di bawah ini dengan kehancuran seperti yang dilakukan oleh bom atom jika kita tidak menjadi benar.

 

Suatu masa percobaan dan itu benar-benar terjadi dengan kita. Tuhan Allah tidak membinasakan seseorang dengan segera. Ia selalu memberikan waktu kepadanya. Ia selalu memberikan waktu kepada kita. Dan kita akan memutuskannya. Dua belas bulan. Ada waktu selama dua belas bulan. Dan itulah alasannya mengapa Roh selalu memohon  pada hari ini. Marilah menjadi benar pada hari ini. Datanglah kepada Tuhan Allah hari ini. Dataglah kepada Tuhan Yesus sekarang. Karena pengarang dari kitab Ibrani mengaakan, “Pada hari ini, jika engkau akan mendengarkan suaranya, janganlah keraskan hatimu hari ini.” Dan ketika rasul Paulus menuliskan, “Kami memohon kepadamu untk tidak menerima kemurahan hati dari Allah di dalam kesombongan, karena ia telah mengatakan di dalam waktu yang dapat diterima, Aku telah mendengarkan engkau. Dan pada hari penebusan, Aku telah menderita demi engkau. Lihatlah, sekaranglah waktu itu. Lihatlah, sekaranglah hari penebusan tersebut.” Sekarang, sekarang. Dan jika kita datang sekarang, maka Tuhan Allah akan menyelamatkan kita sekarang. Tuhan Allah akan mengampuni kita sekarang dan akan melihat melalui kita sekarang. Datanglah. Datanglah. Datanglah! 

 

Di sekitar balkon, engkau, di lantai yang lebih rendah, engkau, sekeluarga, engkau dengan pasanganmu, atau hanya engkau sendirian. Sembari kita menyanyikan lagu puji-pujian serta permohonan ini, pada nada yang pertama dari bait yag pertama, turunilah anak tangga itu atau masuklah ke dalam gang itu dan maju kedepan, sembari mengatakan: “Inilah aku, pak Pendeta, Aku telah melakukannya pada hari ini.” Karena Rih daripada Tuhan Allah akan membisikkan permohonan itu ke dalam hatimu, datanglah sekarang juga, lakukanlah sekarang juga, ambillah keputusan itu sekarang juga. Dan sebentar lagi ketika engkau berdiri, berdiri dan datanglah dan katakan: “Aku datang kepada Tuhan dan Aku percaya kepadaNya untuk melihat melalui diriku.”