Daftar Isi

KEBAKTIAN PEMAKAMAN

(The Funeral Service)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Alih bahasa Wisma Pandia, Th.M.

Editor Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Ketika Kematian  Menghampiri Sebuah Keluarga

 

 Kebutuhan Terhadap Pendeta

 

Pelayanan yang berhubungan dengan kematian berlangsung dengan sedih, dan pedih, lembut dan kadang-kadang bersifat tragis, suatu tangisan umat Allah. Dimanakah dia? Dimanakah dia dapat ditemukan? Apakah dia memiliki firman Allah? Apakah ada suatu harapan di balik kesuraman yang mengerikan itu? Adakah di sana sebuah kehidupan di balik kegelapan yang tidak dapat dimasuki? Oh, bagi umat Allah siapakah yang dapat menawarkan pertolongan dan kelegaan dalam kesedihan ini, waktu yang menyedihkan!

Orang itu adalah pendeta. Anda akan menemukan dia di gereja. Dia memiliki sebuah pesan dari surga. Kehadiran dan doanya merupakan sebuah berkat yang tidak ternilai. Tanpa dirinya kita telah terhilang seperti orang buta yang meraba-raba dalam kegelapan malam tanpa akhir. Tetapi bersama dengan dia, kita diangkat kepada Cahaya kehidupan. Kita dihibur dan dibuat nyaman dengan kata-katanya yang berasal dari Juruselamat kita yang berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:25-26).

 

Pesan dari Surga yang Ditunggu Setiap Hati

 

Tidak ada pelayanan pastoral yang memiliki pintu yang paling  terbuka terhadap kesempatan rohani yang ditawarkan  daripada apa yang dilakukan oleh kehadiran kematian dalam sebuah keluarga. Kematian sangat bersifat universal. Wujudnya sangat dingin dan suram. Kehadirannya sangat gelap dan menakutkan. Dan jalur ombaknya merupakan lautan dukacita dan sungai airmata. Ini merupakan sebuah momen ketika kasih dan perhatian seorang pendeta sangat dibutuhkan. Di sini biarlah dia menjadi yang terbaik, baik dari segi kerohanian maupun sesuai dengan Alkitab. Kehadiran dalam sebuah pelayanan yang berhubungan dengan pemakaman, banyak sekali dipenuhi oleh orang-orang yang sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan. Harus ada keberanian untuk memimpin kepada sebuah kepastian dan pengharapan yang tak pernah gagal dalam Kristus Yesus. Ada begitu banyak orang terhilang untuk dapat diselamatkan. Ada orang-orang percaya yang harus diteguhkan dalam iman. Ada keluarga dan sahabat-sahabat yang butuh untuk diubahkan, untuk memalingkan pandangan mata mereka terhadap hal-hal yang bersifat temporal, momen yang fana dari nafas kehidupan ini kepada kebenaran yang kekal, janji dan realitas yang kita ketahui dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus menulis tentang jaminan dan kejayaan yang menakjubkan dalam kata-kata ini:

 

Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!” , Ia juga yang membuat terang-Nya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;

Kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami.

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari kesehari.

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, Karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.

Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyatakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,

Sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.

Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh yang hidup.

Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.

Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-

Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan (2 Kor. 4:6-10, 16-18, 5:1-8)

 

 

Bukan  Kata-Kata Penghiburan yang Kosong—Tetapi Mengkotbahkan Injil

 

Pendeta harus menerima pelayanan pemakaman sebagaimana Allah membuka pintu baginya untuk berbicara kepada orang banyak tentang hal-hal yang bersifat fundamental, kebenaran yang paling dasar dari hidup, kematian, dunia, surga, waktu, dan kekekalan. Menghabiskan waktu dalam pembicaraan yang sia-sia dengan kata-kata penghiburan yang murahan dan lagak yang kosong merupakan sebuah dosa yang bertentangan dengan kehadiran Roh Kudus. Berbicaralah tentang pesan Allah. Mereka akan mendengarkan hal itu sebagaimana mereka belum pernah mendengar sebelumnya ketika mereka duduk dalam ibadah di hadapan anda.

Saya tidak akan pernah dapat melupakan pelayanan saya yang berhubungan dengan pemakaman ketika saya dipanggil untuk memimpin pada penggembalaan saya secara penuh waktu setelah lulus dari seminari. Seorang pemabuk di kota itu, seseorang yang tidak dihargai dan penceroboh yang tidak berguna dan yang gagal dalam segala-galanya. Yang meninggal dunia akibat ditabrak oleh sebuah mobil ketika dia berjalan dengan terhuyung-huyung di jalan raya. Apakah yang akan disampiakan oleh seorang pendeta yang baru tentang hidup dan kematian seseorang yang tidak dihargai diantara keluarga manusia seperti itu? Terlihat oleh saya bahwa setengah penduduk kota itu duduk disana untuk mendengarkan apa yang akan saya sampaikan.

Saya mengambil kesempatan dalam ibadah pemakaman itu untuk membuat suatu seruan pada orang-orang yang menyaksikan dan yang berdoa dalam ibadah itu, satu hal yang tetap hidup di dalam hati orang-orang selama tahun-tahun yang telah berlalu adalah hal ini. “Anda kenal orang malang ini? Berapa banyak dari anda yang telah berdoa untuknya dan menyebutkan namanya? Berapa banyakkah dari anda yang berusaha untuk memenangkannya kepada Kristus? Berapa banyakkah dari anda yang berusaha untuk membawanya datang ke gereja? Berapa banyakkah dari anda yang telah mengingat dia saat hari Pengucapan Syukur atau saat Natal? Berapa banyakkah dari anda yang bersuha menjangkau dengan mengulurkan tangan yang penuh kasih untuk membantu dia datang kepada Allah? Berapa banyakkah dari anda yang mengetahui bahwa dia terhilang atau sudah selamat, yang sekarang berdiam bersama Kristus di surga ataukan terlempar dari kekekalan di hadapan Allah? Sungguh, hal itu membuat sebuah perubahan yang besar bagi orang-orang ketika mereka meninggalkan ibadah pemakaman  daripada sebelumnya mereka menghadiri ibadah itu. Keyakinan yang dalam telah menggerakkan hati dari orang-orang kepada sebuah hari yang baru di dalam usaha memenangkan jiwa secara pribadi, hal itu secara keseluruhan disebabkan oleh ibadah penguburan dari seorang pemabuk.

Ibadah peringatan seharusnya tidak menjadi sebuah pelayanan dari kesengsaraan tetapi sebuah pesan yang menakjubkan dari Kristus yang penuh makna. Berkotbahlah tentang injil. Bukalan Kitab dari segala kitab dan sampaikan firman Allah. Anda tidak akan pernah mendapat kesempatan yang berharga untuk membuat sebuah seruan bagi iman di dalam Kristus, yang dapat menyelamatkan seseorang dari kematian kepada hidup yang kekal.

 

Pendeta yang Simpatik

 

Ketika kematian menghampiri sebuah keluarga, seorang Kristen yang percaya harus menjadi orang pertama yang hadir disana untuk menguatkan keluarga yang sedang membutuhkan, akan lebih baik lagi jika yang berkunjung adalah pendeta. Pendeta atau asisten pendeta harus dihubungi segera agar dapat hadir secepatnya di rumah keluarhga yang berduka tersebut.  Bacalah Alkitab, dan berdoa bersama dan keluraga dan memberikan pertolongan yang dibutuhkan. Pelayanan kasih tidak akan pernah dilupakan.

Untuk kenyamanan yang lebih baik dan hal yang akan selalu diingat adalah jika pendeta dapat menangis bersama dengan keluarga yang kehilangan. Hati seorang gembala akan memimpin dia kepada sebuah rasa simpati yang dalam dan penuh kasih.  Simpati dan kasih yang diberikan akan jauh lebih berharga daripada kata-kata yang dapat diberikan.  Hal itu seperti seorang gadis kecil yang baru pulang dari sekolah dan memberitahukan ibunya bahwa teman kecilnya duduk berdekatan dengan mejanya kelihatan sangat sedih. “Mengapa?” kata ibunya. “Karena,” jawab gadis kecil itu, “karena ibunya telah meninggal.” “Dan apa yang kamu lakukan untuk membantu gadis kecil itu?” tanya ibunya. Anaknya menjawab, “Saya hanya duduk disampingnya dan ikut menangis.” Hal itu sudah cukup. Allah telah memberikan penghiburan. “Menangislah dengan orang yang menangis,” (Roma 12:15). Hal itulah yang kita lakukan pada saat dibutuhkan—memberi, peduli dan berbagi dalam kasih Kristus—pertolongan yang tepat waktu dari dukacita yang diekspresikan.

 

 

 

 

 

Pelaksanaan dan Tatacara dalam Ibadah Peringatan

 

Pelaksanaan dalam ibadah pemakaman harus berlangsung dengan sederhana. Hal itu dapat berlangsung seperti ini:

 

Nyanyian

Pembacaan Alkitab

Doa

Nyanyian

Khotbah oleh pendeta

Doa Permohonan

 

Nyanyian dapat dilakukan dengan solo, duet atau kuartet, paduan suara, atau secara berjemaat. Jika disana ada beberapa pelayan, seseorang dapat membaca Alkitab, yang lain dapat menaikkan doa dan yang lain dapat menaikkan doa permohonan.

Ibadah harus dilaksanakan di gereja. Jika saya meninggal, saya ingin dimakamkan dari gereja. Ini tidak berarti bahwa sebuah pelayanan pemakaman tidak dapat dilakukan dalam sebuah kapel. Saya haya berpikir bahwa akan lebih baik jika umat Allah harus dimakamkan dari gereja, sebagai sebuah kesaksian terakhir terhadap komitmen kita terhadap Tuhan kita Yesus.

Pesan yang akan disampaikan oleh pendeta tidak perlu terlalu panjang. Roh Kudus akan memimpin dia untuk menyampaikan kata-kata yang harus dia sampaikan, menempatkannya dengan hikmat dan saat yang kudus. Lima belas hingga dua puluh lima menit merupakan waktu yang cukup untuk menyampaikan wahyu Allah dan pengharapan bagi kita yang tetap tinggal dalam dunia ini.  Keseluruhan ibadah harus tercakup dalam waktu yang berlangsung sekitar empat puluh lima menit.

 

Pandangan Pribadi Tentang Ibadah Pemakaman

 

Ada beberapa hal yang saya pikir dapat diperhatikan dalam ibadah pemakaman:

 

1.      Jenazah lebih baik ditutup selama ibadah berlangsung. Mengapa beberapa keluarga tetap menginginkannya tetap terbuka selama ibadah berlangsung di depan mimbar hal itu tidak pernah saya ketahui. Sebuah jenazah yang ditempatkan secara terbuka di hadapan pengkhotbah yang sedang terlihat menyampaikan khotbah merupakan pengalihan yang mengerikan.

 

2.      Jenazah sebaiknya tidak dibuka setelah ibadah selesai. Biarkan orang-orang untuk pergi kerumah pemakaman untuk melihat orang yang meninggal, atau biarlah mereka datang lebih awal untuk memberikan penghormatan, tetapi untuk selanjutnya biarkan jenazah tertutup selamanya. Adalah lebih baik untuk tidak membukanya kembali baik di dalam gereja, kapel atau di pemakaman.

 

3.      Keluarga yang kehilangan harus duduk di depan gereja atau kapel dihadapan mimbar atau pengkotbah. Keluaga yang terlindung dalam sebuah layar bahkan pendeta tidak dapat melihat mereka harus keluar dari sebuah rasa malu karena mereka berduka. Seluruh dunia termasuk keluarga dipenuhi dengan kedukaan. Mengapa hal itu menjadi sebuah keanehan atau sesuatu yang harus disembunyikan bahwa mereka sedang berduka. Tidak ada yang salah dengan airmata. Setelah semuanya, ibadah bersifat umum dan bukan bersifat pribadi dan tujuan dari ibadah adalah menawarkan kepada keluarga dan sahabat sebuah kesempatan untuk menyampaikan ucapan syukur atas berkat dari pengharapan yang diberikan oleh Kristus Yesus.

 

4.      Jika ibadah adalah untuk seseorang yang percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat pribadinya, pelayanan  harus memiliki catatan keberhasilan dalam hidupnya.  Kristus telah mati dan juga bangkit kembali. Jika kita mati bersama dengan Dia, kita juga akan dibangkitkan bersama dengan Dia. Kematian adalah pintu masuk bagi kita kepada kemuliaan. Paulus mengekspresikan kemuliaan ini dalam sebuah kebangkitan yang agung dalam 1 Korintus 15:

 

Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.

Karena sama seperti orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.

Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.

Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.

Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa darah dan daging tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.

Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,

Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.

Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.

Dan sesudah yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah Firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan.

Hai maut dimanakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu?”

Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.

Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia ( 1 Kor. 15:20-25, 50-58).

 

5.      Jika ibadah pemakaman adalah bagi seseorang yang bukan orang Kristen, pendeta seharusnya tidak mengingkari pesan mimbarnya tentang penghukuman dan penhakiman Allah.  Dia seharusnya tidak berusaha untuk memberi kesan bahwa “Orang yang terhilang masuk surga”. Dia harus berbicara dengan doa yang sungguh-sungguh dan penuh kasih kasih tentang hidup yang singkat, kepastian dari kematian, dan kebutuhan akan seorang Juruselamat, dan kekekalan yang akan datang, membuat sebuah permohonan yang tetap bertahan untuk untuk memberikan hatinya dan hidupnya untuk beriman kepada Tuhan Yesus. Tidak ada kesempatan untuk membuat sebuah permohonan yang sungguh-sungguh kepada Kristus seperti dalam ibadah pemakaman. Kita sungguh-sungguh kemurahan Allah dan diselamatkan oleh anugrah.

 

 

Setelah Ibadah Pemakaman Selesai Dilaksanakan

 

Setelah ibadah pemakaman telah selesai, setelah beberapa hari berikutnya, sebuah kunjungan berikutnya harus dilakukan terhadap keluarga yang kehilangan. Pertolongan ini akan menjadi sesuatu yang bermakna.  Dan kadang-kadang akan menjadi sauh bagi sebuah keluarga dalam gereja.

Saya juga akan mengirimkan sebuah booklet kecil kepada keluarga yang kehilangan yang berjudul “Rumah Kita di Dalam Surga.” Dalam beberapa tahun belakangan ini saya telah memiliki sebuah kebiasaan untuk mengirimkan sebuah booklet kepada setiap rumah dimana ada kerabatnya yang telah meninggal. Ini merupakan sebuah cara untuk mengungkapkan bahwa kami peduli dan mengasihi mereka.

Mengingat anggota keluarga setelah ibadah pemakaman selesai atau tidak sama sekali akan memiliki arti yang sangat mendalam seperti sebuah perbedaan antara sebuah kemenangan dan kekalahan.

Seorang janda berkata, “Jika saya tahu sebelumnya terlebih dahulu betapa saya sungguh-sungguh akan membutuhkan bantuan selanjutnya, maka saya seharusnya menempatkan buku tamu di rumah pemakaman dengan sebuah kelender, menanyakan setiap pengunjung untuk menandai suatu hari yang akan datang dimana dia akan dapat menghibur dengan sebuah kunjungan, kartu simpati atau dengan menelpon.” Dia dapat disamakan dengan seseorang telah mendapat curahan simpati sesaat dan kemudian akhirnya dilupakan.

Kadang-kadang pengabaian seperti ini seperti ini membuat orang yang berkabung menjadi kecewa terhadap gereja lokal mereka. Seorang janda dapat saja memiliki gambaran bahwa gereja merupakan instrument dasar terhadap perwujudan belas kasihan dan kasih. Dan ketika kemudian dia ingin berbagi tentang semua bebannya, berminggu-minggu setelah pemakaman, gerejanya tidak ada disana untuk membantu.

Semoga Allah menjamin bahwa kesalahan seperti itu tidak akan pernah kita lakukan. Sebagaimana sebelumnya, kita harus tetap mengasihi, mengingat, dan peduli terhadap jemaat kita yang telah kehilangan.

 

 

Khotbah Saat Ibadah Pemakaman

 

Didalam menyampaikan kotbah pada saat pemakaman, saya selalu membaginya ke dalam dua bagian. Yang pertama berkenaan dengan orang yang telah meninggal. Saya dengan sungguh-sungguh berusaha untuk melaksanakan setiap ibadah dengan penekanan terhadap pribadi orang yang meninggal. Saya tidak melakukannnya hanya sebagai sebuah ritual yang bersifat secara umum saja. Pertama-tama saya akan berbicara tentang pribadi orang yang telah meninggal, tentang kehidupannya, kasihnya, pekerjaannya, kebaikannya, dan pengaruhnya. Bagian yang kedua dari kotbah meliputi firman dan janji Allah. hal ini disampaikan dari Alkitab dan disampaikan dengan seluruh keyakinan yang ada di dalam jiwa saya.

Disini ada beberapa teks, garis besar, dan pesan yang sungguh-sungguh yang pernah saya gunakan dalam ibadah pemakaman dimana Allah sungguh-sungguh memberkatinya untuk memberikan sebuah kenyamanan dan menguatkan iman terhadap orang-orang yang telah kehilangan.

 

Mati adalah Keuntungan

 

Filipi 1:21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

 

1.      Kita beruntung karena mendapat sebuah tubuh yang lebih baik, tubuh kemuliaan, tubuh kekekalan dan tubuh kebangkitan. Di dalam tubuh kedagingan kita yang sekarang ini, kita merupakan subjek terhadap semua kedukaan dan air mata. Pertambahan usia, kesakitan, dan kematian merupakan hal yang tidak dapat dielakkan yang menyertai kediaman yang terbuat dari debu tanah ini. Tetapi di dalam kematian dan kebangkitan kita memperoleh sebuah tubuh yang lebih baik, tubuh yang tidak akan mengalami proses penuaan,  yang tidak mengenal penyakit, rasa sakit, dan tidak akan pernah mati. Kita beruntung karena memperoleh tubuh yang lebih baik.

 

2.      Kita beruntung karena mendapat rumah yang lebih baik. Betapapun indahnya serta penuh dengan hiasan sebuah rumah yang mungkin kita bisa miliki di dunia ini, hal itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kediaman kita yang ada di kota Allah. berdasarkan janji yang telah disampaikan oleh Yesus Kristus dalam Yohanes 14:1-3, Tuhan kita selama bertahun-tahun dan berabad-abad telah menyiapkan bagi kita sebuah tempat tinggal di surga. Kita tidak akan memiliki hal itu di dalam hidup ini. Hanya dengan kematian kita dapat berpindah ke dalam rumah kita di surga. Kerinduan rasul Paulus terhadap kediamannya di surga diekspresikan dalam Filipi 1:23 yang merupakan pengharapan yang mendalam bagi perasaan setiap orang Kristen jika perjalanan hidupnya telah berakhir. Bapa-bapa leluhur kita telah menggunakan hal itu untuk menyanyikan lagu lama ini:

 

Aku merupakan seorang asing disini

Surga adalah rumahku

Dunia hanyalah sebuah padang yang suram

Surga adalah rumahku

 

Dukacita dan bahaya berdiri mengancam

Mengitariku dalam setiap sisi

Surga adalah tanah airku

Surga adalah rumahku

 

3.      Kita akan memperoleh warisan yang lebih baik. Warisan terkahir kita tidak berada disini. Hadiah terakhir kita tidak ada disini tetapi berada di surga. Hili itu hanya terdapat dibalik jembatan kematian sebagaimana yang selalu kita dengar dari firman Tuhan yang sungguh-sungguh berharga,”Baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung-jawab dan perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21).

 

4.      Kita akan memperoleh sebuah persekutuan yang lebih baik. Semua kita yang hidup di dalam dunia ini berada dalam lingkaran keluarga yang tidak utuh. Ibu kita pergi, ayah kita pergi, atau seorang anak pergi,  kakek kita yang terkasih pergi, dan sahabat-sahabat kita pergi. Jika kita berumur panjang maka kita akan menjadi seorang yang asing di dunia ini. Setiap orang yang kita kenal dan kita kasihi akan pergi. Tetapi lingkaran itu tidak akan putus di surga sampai selama-lamanya. Di sana tidak ada kematian, tidak ada lagi dukacita, airmata dan kesakitan, semua hal ini akan lenyap. Tetapi yang terbaik dari semua, bahwa dibalik itu kelurga kita dan sahabat-sahabat kita akan menunggu untuk menyambut kita, kita akan melihat Juruselamat kita muka dengan muka. Kita akan duduk bersama-sama dengan Abraham, dan Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Allah dan selamanya bersama dengan Tuhan kita melewati setiap kekekalan yang akan datang.

 

5.      Jika “Bagiku hidup adalah Kristus,” lalu kematian adalah keuntungan.” Jika bagiku hidup adalah uang, maka kematian adalah sebuah kehilangan. Jika bagiku hidup adalah kesenangan, maka kematian adalah sebuah kehilangan. Jika bagiku hidup adalah dosa, maka kematian adalah sebuah kehilangan. Jika bagiku hidup adalah dunia ini, maka kematian adalah sebuah kehilangan. Tetapi jika bagiku hidup adalah Kristus maka kematian adalah keuntungan.

 

Apa yang Allah Sediakan Bagi Kita yang Mengasihi Dia

 

Ibrani 11:40 “Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita….”

 

1.      Kematian bukanlah sesuatu yang diharapkan ketika Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dan menempatkan mereka di Taman Eden. Allah menciptakan mereka dengan kekal, sempurna, dalam rupa dan gambar Allah untuk memiliki persekutuan dengan Dia. Dosa dan penghukuman atas kematian telah menghancurkan hubungan yang suci dan indah itu. Kematian adalah sebuah penghalang, pengacau, dan malapetaka yang mengerikan. Tetapi kisah itu belum terlaksana sepenuhnya dan cerita belum berakhir dengan hukuman kematian. Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita. Kuburan bukanlah tempat peristirahatan terakhir kita dan kerusakan bukanlah perwujudan akhir dari hidup kita. Ada pasal lain yang harus ditulis sebelum kitab akhirnya ditutup. Kesimpulan dari pasal itu adalah salah satu kemenangan dan kejayaan di dalam Kristus.

 

2.      Pasal 11 dari surat kepada orang Ibrani mendaftarkan tokoh-tokoh iman. Mereka digambarkan satu demi satu. Kisah mereka berisi tentang kedukaan, air mata, penganiayaan, pengorbanan dan kematian. Lihatlah ke dalam pasalnya dan daftar dari penderitaan mereka. Dari penumpahan darah Habel hingga orang-orang kudus yang mendapat pencobaan yang berat dan mengerikan yang digambarkan dalam Ibrani 11:33-38, kisah ini merupakan salah satu tragedi. Tetapi Allah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Ada sebuah kehidupan yang jauh lebih baik dari pada penderitaan yang kita saksikan dan yang kita pikul di dalam dunia ini. Allah telah menyediakan surga sebagai sebuah warisan bagi umatNya.

 

3.      Paulus dalam 1 Korintus 2:9 berbicara tentang keindahan dan hal yang lebih baik itu yang telah Allah sediakan bagi mereka yang mengasihi Dia. Dia mengakui bahwa mata tidak pernah melihat dan telinga tidak pernah mendengar bahkan hati tidak pernah bisa membayangkan hal-hal surgawi yang telah disediakan bagi anak-anak Allah. tetapi di dalam ayat 10 rasul Paulus berkata, “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh.” Apa yang tidak dapat kita lihat atau dengar atau rasakan oleh perasaan natural kita, kita dapat mengenalnya melalui kebenaran, melalui fakta, melalui realitas, dan melalui kenyamanan oleh Roh Yesus di dalam hati kita. Oh kebenaran surgawi! Betapa melimpah semua janji yang kita miliki di dalam Kristus Yesus yang akan menjadi milik kita untuk dipegang, menjadi jaminan, yang, melegakan, dan diperlukan sebuah kesabaran untuk menunggu seluruh penggenapan dari semua hal itu. Ini yang harus kita capai dalam menerjemahan segala kekhawatiran dunia ini untuk kehidupan surgawi yang akan datang.

 

Betapa indah himne yang ditulis oleh Ellen H. Gates:

 

Aku akan menyanyikan sebuah lagu bagimu tentang negri yang indah itu

Jauh disana, kediaman bagi jiwa

Dimana badai tidak akan pernah menghempas diatas hamparan pantai yang berkilau

Dimana tahun-tahun keabadian menggelinding

 

Oh, betapa manisnya jika berada di negeri yang indah itu

Terbebas dari semua kedukaan dan kesakitan

Dengan lagu diatas bibir kita dan pengharapan diatas tangan kita

Untuk bertemu kembali antara satu dengan yang lain

 

Ibadah Penguburan bagi Seorang Ibu

 

Amsal 31:10,20,25-31

            Istri yang cakap siapakah yang akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata.

            Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

            Pakaiannya adalah kekutan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

            Ia membukakan mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

            Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

            Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:

            Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

            Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji.

            Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatan tangannya memuji-muji dia di pintu-pintu gerbang.

Bukan tanpa sebuah arti yang mendalam dan sangat signifikan bahwa pria yang paling berhikmat di dunia menutup Kitab Amsal yang diisnpirasikan dengan sebuah penghormatan bagi seorang ibu. Kita juga akan bergabung dengannya dalam kata-katanya yang penuh kasih dan pujian kepada ibu.

Pelayanan yang penuh kasih dari ibu kita dan mengorbankan dirinya sendiri bagi kita menjadi sebuah kekuatan dan penghargaan bagi kita. Mereka sangat peduli terhadap kita ketika kita membutuhkan pertolongan. Mereka mengawasi kita sebagai malaikat penjaga kita. Mereka berdoa bagi kita sebagaimana kita bertumbuh dari anak-anak hingga dewasa. Mereka mengasihi kita saat kita tidak memiliki kasih. Mereka merupakan gambaran Allah yang sempurna dari seseorang yang tidak pernah kita kenal.

Ada begitu banyak rangkaian-rangkaian kemenangan di dunia ini yang dapat dimenangkan, ada begitu banyak mahkota yang dapat diraih, tetapi kemenangan yang paling besar yang menjadi prestasi dan kejayaan terbesar yang dapat diraih adalah limpahan kasih dari ibu kita. Begitu sederhana, manis, dan indah, tetapi juga menjadi Batu Karang tempat kita berpijak dari pelayanan mereka yang manis terhadap kita.

 

Perjuangan yang terbesar selamanya telah diperjuangkan

Haruskah aku memberitahu engkau kapan dan dimana?

Dalam peta dunia, engkau tidak ajarkan menemukannya

Ia telah diperjuangkan oleh Ibu dari manusia

 

Bukan dengan meriam atau sebuah tembakan

Dengan pedang atau tulisan dari orang yang terhormat

Bukan oleh kefasihan berbicara atau perkataan

Dari pikiran manusia yang menakjubkan

 

Tetapi jauh di dalam dinding hati seorang wanita yang tertutup

Seorang wanita yang mungkin tidak kelihatan menghasilkan

Tetapi dengan keberanian, melahirkan bagiannya

Lihat! Di sana ada sebuah pertarungan

 

Tanpa iringan tentara dan lagu yang gemuruh

Tanpa panji-panji yang berkibar dan bergelombang

Tetapi, oh! Perjuangan ini, akhir mereka sangat panjang

Dari bayi yang kecil hingga ke pemakaman

 

Hingga sekarang, kesungguhan tetap seperti jembatan bintang-bintang

Dia bertarung dalam tembok kota yang tertutup

Bertarung terus dan terus hingga pertempurannya yang terakhir

Lalu hening, tak terlihat dan beranjak pergi

 

Oh! Engkau dengan panji-panji dan tembakan meriam

Dengan tentara yang menembak dan bersorak

Aku akan memberitahukan engkau kemengan perjuangan yang terbesar

Diperjuangkan dalam keheningan ini

 

Oh, wanita yang tak bernoda, dalam sebuah dunia yang memalukan

Dengan mati-matian dan cemooh yang diam

Engkau telah kembali kepada Allah sebagaimana engkau telah datang

Yang terlahir sebagai ratu pahlawan

 

                                                                                                --JOAQUIN MILLER

 

Kematian dari Seorang Manusia yang Baik

 

Kisah Rasul 11:24 “karena Barnabas adalah orang yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.”  Barnabas merupakan, “anak penghiburan” yang sangat mungkin telah meninggal ketika Lukas menulis ayat ini, karena tabib yang agung itu menggunakan kata past tense (waktu lampau) ketika menunjuk kepada dia. Sebagai seorang penulis yang menceritakan kisah dari orang Kristen pertama di Antiokhia, dia kembali untuk menulis catatan tentang orang-orang kudus dan pemimpin-pemimpin yang baik, yang datang untuk mengunjungi pelayanan di ibu kota Siria, yang bersukacita dalam tangan Allah yang menaungi mereka. Setiap orang yang baik bersukacita di dalam kekuatan dan perkembangan dari injil, dan para jemaat tidak kurang sukacitanya di dalam kuasa dan kehadiran dari oaring yang baik di tengah-tengah mereka. Orang yang baik adalah menyaksikan tentang Allah sejauh yang dia dapat lakukan. Bukan sebuah bintang, atau planet, atau lautan atau daratan, tetapi seorang yang baik. Dia merupakan kebanggaan dan kekuatan bagi jemaat dan menjadi berkat bagi komunitas dan dunia.

Ada beberapa hal sehubungan dengan kematian dari orang yang baik ini yang membuat kita menyesal dan bersedih.

Kita berduka karena perpisahan mengambil dia dari kita

Kita berduka karena kehilangan pekerjaannya yang penuh dedikasi dari tugas-tugas kita secara umum.

Kita berduka karena rasa sakit dan duka yang kita lihat dalam kehidupan keluarga dan teman-teman yang dia tinggalkan.

Tetapi disini ada beberapa hal yang dapat kita syukuri melalui kata-kata yang diekspresikan kepada mereka.

Kita berterima kasih terhadap keluarga yang dia tinggalkan.

Kita berterima kasih kepada jemaat yang telah dia kasihi dan selamatkan

Kita berterima kasih kepada Allah yang sungguh-sungguh memberkati dia dan di dalam namaNya dia tinggal dan berdoa setiap hari dalam hidupnya.

Kita berterima kasih terhadap rumah surgawi tempat dimana dia pergi dan menunggu kedatangan kita ketika tugas kita juga telah selesai. Dia tidak meninggal tetapi mendahului kita lebih dahulu. Dia hanya pergi ke tempat yang lain, ke ruangan yang lain. Robert Freeman menulis tentang hal itu di dalam baris-baris ini:

 

Di Rumah Bapaku

 

Bukan, bukan di bawah rerumputan yang dingin

Tidak ditutup oleh tembok didalam kuburan

Tetapi, di dalam rumah Bapa kita yang besar

Tinggal, di ruangan yang lain

 

Tinggal seperti manusia yang mencintaiku

Seperti bocah kecilku dengan kumpulan bunga di pipinya

Hilang dari pandangan, di atas meja tulis atau buku pelajaran

Sibuk, dalam ruangan yang lain

 

Lebih dekan dari purtaku yang memperoleh keberuntungan

Memberi isyarat dari bayangan negri asing yang samara-samar

Hanya dibalik tirai yang tergantung

Terhidang, di ruangan yang lain

 

Haruskah aku meragukan kemurahan Bapaku?

Haruskah aku berpikir bahwa kematian sebagai malapetaka

Atau batu loncatan ataukan ambang pintu

Kepada sesuatu yang lebih besar, ruangan yang bercahaya

 

Haruskan aku menyalahkan kebijaksanaan Bapaku?

Haruskah aku duduk dalam kemuraman

Ketika aku mengetahui bahwa orang yang kukasihi berbahagia,

Menunggu di ruangan yang lain?

                                                           

ROBERT FREEMAN

 

Tidak juga berarti bahwa dia telah berhenti dari kehidupan kita karena dia telah berpindah. Dia tetap hidup bersama kita di dalam keindahan dan kenangan yang berharga. F. L. Hosmer mengekspresikan hal itu bagi kita dalam sajak yang sangat bermakna ini:

 

Sahabat Alam Baka

 

Aku tidak berpikir tentang mereka sebagai kematian

Yang tidak lagi berjalan bersamaku

Sepanjang jalan hidup yang pernah tertapaki

Mereka hanya pergi lebih dahulu

……………………………………

Dan tetap pelayanan mereka yang hening

Dalam hatiku telah memiliki tempat

Sebagaimana mereka telah berjalan bersamaku ketika berada dalam dunia

Dan bertemu denganku muka dengan muka

 

Kehidupan yang telah mereka buat menjadi milikku selamanya

Apa yang telah mereka buat padaku

Telah tertinggal hingga sekarang dan seterusnya menjadi materai dan tanda

Terukir jauh di dalam

 

Milikkulah mereka dengan sebuah hak kepemilikan

Baik waktu maupun kematian dapat membebaskan

Tetapi Tuhan telah memberikan kasih untuk dijaga

Menjadi milik yang kekal

 

                                                                                                --F.L. Hosmer

 

Kematian dari Seorang anak Kecil

 

2 Samuel 12:15-23

 

Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan Tuhan menulahi anak yang di lahirkan bekas istri Uria bagi Daud,sehingga sakit.

Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring ditanah.

Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.

Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!”.

Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah”.

Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk kedalam rumah Tuhan dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia kerumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti lalu ia makan.

Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: “Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!”

Jawabnya: “ selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu Tuhan mengasihi aku, sehingga anak itu tetap hidup.

Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.”

 

Di dalam menjelaskan dengan sepenuhnya tentang kebenaran bahwa anaknya telah bersama dengan Allah, Daud bangkit dari abu kedukaan untuk tinggal dalam cahaya dan pengharapan dari kebaikan Allah. Anak kecil itu dalam tujuan Allah tidak dapat kembali kepada daud, tetapi Daud dalam tujuan Allah dapat pergi kepada anak kecil itu. Lalu di dalam surga Allah menjaga mereka bagi kita yang mengasihi mereka dan yang kehilangan hanya untuk sementara.

Ini yang disampaikan oleh Yesus ketika dia mengambil anak kecil dan menempatkannya di pangkuanNya dan berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, ….datang kepadaKu; sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat.19:14). Di dalam pangkuan Juruselamat kita mereka terlindung dan aman dan diberkati. Kita dapat mempercayai Allah yang terkasih untuk menjaga mereka bahkan lebih baik dari apa yang dapat kita lakukan. Apa yang Allah telah tetapkan itu merupakan hal yang terbaik.

 

Itu Yang Terbaik

 

Ibu, Aku melihat engkau dengan cahaya kanak-kanakmu

Memimpin semua bayi-bayimu dalam kemurnian

Kepada peristirahatan mereka yang manis

Kristus Gembala yang Baik, menjaga milikku malam ini

Dan itu yang terbaik!

 

Aku tidak dapat menahan air mata ketika melihat mereka berangkulan

Jari-jari mereka di dalam milikmu dan lingkaran cahaya mereka yang bersinar

Diatas dadamu yang hangat

Tetapi Juruselamat lebih murni dari milikmu dan milikku

Dia dapat mengasihi dengan yang terbaik!

 

Gemetarmu setiap waktu disebabkan oleh lenganmu

Begitu lemah; hatimu berbunyi dengan alarm

Dan luka yang tertekan

Yang kukasihi selamat, jauh dari jangkauan mara bahaya

Dan itu yang terbaik

 

Engkau tahu bahwa milikmu adalah seorang yang lemah

Dan yang kukasihi dapat berumur beberapa tahun sendirian

Tanpa kasih, tanpa berkat

Milikku merupakan kegembiraan orang-orang kudus yang berkeliling di takhta Allah

Dan itu yang terbaik

 

Engkau harus takut terhadap tahun-tahun rasa bersalah yang membakar

Kegelapan yang jahat tidak dapat dibersihkan dengan air mata penyesalan

Dan yang tak termaafkan

Milikku telah masuk tanpa kedalam tahun-tahun kekekalan

Oh, betapa itu yang terbaik!

 

Tetapi kedukaan adalah keegoisan, dan saya tidak dapat melihat

Selalu mengapa aku harus menderita

Lebih daripada perhentian

Tetapi aku tahu itu, yang terbaik bagi mereka, bagiku

Allah telah melakukan yang terbaik!

 

                                                                                                --HELEN HUNT

 

Dibalik perhatian, air mata dan kedukaan dari dosa-kedagingan dunia ini, anak-anak kecil kita bersama dengan Juruselamat kita di surga. Para malaikat menyambut anak-anak ini di tengah-tengah mereka.

 

Jembatan emas telah terbuka

Dan malaikat surgawi tersenyum

Dan dengan nada harpa mereka

Menyambut anak kecil

 

Mereka meneriakkan “tinggi dan kudus,

Seorang anak telah masuk ke dalam

Dan aman dari semua pencobaan

Jiwanya telah tertutup dari dosa.”

 

Mereka membimbing dia melewati jalan yang terbuat dari emas

Kehadapan Raja segala raja

Dan kemulian bernaung atasnya

Dari gersik sayap-sayap mereka

 

Juruselamat tersenyum keatasnya

Senyuman yang dunia tidak pernah memilikinya

Dan kemulian surgawi yang besar bersinar di sekelilingnya

Bocah dari dunia, anak yang lahir

 

Di atas dunia mereka telah kehilangan bocah kecil itu

Mereka berkeluh kesah dan menangis dan mendesah

Dan berharap jika seperti yang lain

Seakan mereka telah pernah mati

 

Oh! Pernahkah mereka melihat melalui jembatan yang tinggi itu

Sambutan yang diberikan kepadanya

Mereka tidak akan pernah berharap kepada anak mereka

Kembali dari rumahnya di dalam surga

 

                                                --PENULIS TIDAK DIKETAHUI

 

Pelayanan kami disini tidak hanya dilakukan dengan pengalaman yang penuh sukacita dari anak-anak kecil di surga. Puisi yang ditulis oleh Mary Burroughs sebgaiamana yang dia lihat dari lukisan Paul Thurman, The Pitcher of Tears (Bejana Air Mata), mengekspresikan kebenaran dengan begitu hidup dan pedih.

 

Hari-hari dari seorang ibu yang menderita

Terhadap rasa kehilangannya yang tak dapat dipulihkan

Tangisan yang keras, air mata kepahitan,  dan keluhan

“Kematian yang Kejam telah mencuri anakku.”

 

Tetapi suatu malam ketika dia telah tertidur

Datang sebuah penglihatan kepada jiwanya

Dan dia melihat putri kecilnya

Dalam ladang Elysian yang penuh berkat.

 

  Dan anaknya berdiri sendirian

Memegang sebuah bejana yang berat

Dengan bergegas ibunya menghampiri putrinya

Menahan sekitar lengannya  yang goyah

 

“Mengapa begitu sedih dan sendirian sayang?”

Dia bertanya sambil membelai rambutnya,

Lihat begitu banyak anak kecil yang bergembira

Bermain di kebun raya

 

Lihat mereka memberi isyarat dan memanggil,

Pergi dan bantu mereka memetik bunga

Masukkan kedalam bejana yang berat

Berdansa dengan bebas dalam waktu yang cerah”

 

Dari bibir yang lembut dan memggigil

Jatuh sebuah jawaban diatas telinganya

“Di atas bumi ibuku menangis,

Dan bejana ini menampung air matanya

 

Air mata yang menyentuh kumpulan bunga surgawi

Merusak bunga sehingga mereka akan gugur

Jadi selama dia terus menangis

Saya harus berdiri dan menampung semua air matanya”

 

“Tunggu tidak lama lagi,” jerit ibunya

“Lari dan bermainlah anak kecilku yang manis;

Tidak akan ada lagi air mata kedukaan

Yang merusak kebahagiaanmu luhur.”

 

Seperti burung yang terlepas dari kurungannya

Dengan bahagia bocah kecil itu berlalu dengan cepat

Dan ketika ibunya bangun, hatinya diteguhkan

Dikuatkan untuk setiap hari-hari yang sepi

 

 

Di dalam surga kehidupan yang kecil yang Allah mulai dari bawah sini akan  berkembang dalam keindahan yang sempurna dan kemuliaan di atas sana. Sebuah puisi yang ditulis oleh seseorang yang tidak dikenal mengekspresikan hal itu:

 

Aku berharap, oh, aku berharap kemana rupa yang kecil pergi

Yang datang dan tersenyum dan tinggal sesaat, dan berlalu seperti serpihan salju

Yang terkasih, bayi kecil kami yang tidak di kenal oleh dunia

Tetapi disembunyikan oleh para ibu, matanya yang lembut, dikedalaman lubuk hatinya

Aku senang untuk berpikir bahwa disuatu tempat, di negri yang kita sebut surga,

Negri yang penuh memiliki pecan raya di setiap tempat yang akan diberikan kepada mereka

Sebuah negri bagi bocah kecil—sangat kecil, sangat meriah—

Dan setiap orang akan mengenal miliknya dan tergantung kepada hal itu disana

 

Oh,  berikanlah itu, Bapa yang terkasih, kepada hati yang patah permohonan itu

JalanMu yang terbaik—oh lalu kemudian kepada peristirahatan iman yang sempurna!

Untuk mengetahui bahwa kami akan menemukan mereka—sekalipun mereka meninggal dalam kemurnian

Di tangan kananMu dalam negriMu yang bersinar, dengan pimpinan air hidup!

 

                                                --PENULIS TIDAK DIKENAL

 

Dosa awal dapat menjadi kutuk atau kedukaan yang suram

Kematian datang dengan bersahabat

Membuka kuncup yang membawa surga

Dan menawarkan rangkaian bunga disana

 

                                --SAMUEL TAYLOR COLERIDGE

 

Tangan-Tangan Kecil yang Terkasih

 

Tangan-tangan kecil yang terkasih, aku sangat merindukan mereka

Sepanjang hari, kemanapun aku pergi—

Sepanjang malam, bertapa sepinya hal itu terlihat

Untuk tangan-tangan kecilku yang membangunkan mimpi-mimpiku

Aku merindukan mereka melewati masa-masa yang sulit

Aku merindukan mereka sama seperti yang lain merindukan cahaya mentari dan bunga-bunga

Saat siang dan saat malam, kemanapun aku pergi,

Tangan-tangan kecil yang terkasih, aku sangat merindukan mereka

 

                                --PENULIS TIDAK DIKENAL

 

Anak-anak kecil dipinjamkan sementara bagi kita untuk sesaat. Kehidupan mereka selanjutnya menjadi milik Allah di surga. Penyair Edgar A. Guest menuliskan hal ini di dalam puisinya “I Lend This Child To You.” (Aku Pinjamkan Anak Kecil Ini Bagimu)

 

Saya akan pinjamkan bagimu untuk sesaat

Anak kecil milikku kataNya

Untuk engkau kasihi semasa dia tinggal

Dan berduka saat dia meninggal

 

Hal itu mungkin 10 atau 11 tahun atau 22 atau 3

Tetapi maukah engkau, hingga Aku memanggilnya pulang

Menjaganya untukKu?

Dia akan membawa pesonanya untuk melegakan engkau

Dan haruskan dia tinggal untuk sesaat

Engkau akan memiliki kenangannya yang manis

Sebagai penghiburan bagi kesedihanmu

 

Aku tidak dapat berjanji bahwa dia akan tinggal

Sejak saat dia kembali dari bumi

Tapi ada pelajaran yang disampaikan di bawah sana

Aku ingin anak ini mempelajarinya

 

Aku telah mencari keatas seluruh dunia

Dalam pandanganKu untuk mengajarkan kebenaran

Dan dari kumpulan jalur hidup orang-orang banyak

Aku telah memilihmu

 

Sekarang berikanlah semua kasihmu padanya

Tanpa berpikir bahwa usaha akan sia-sia

Tanpa membenciKu saat Aku datang untuk memanggil

Untuk mengambil dia pulang

 

Aku berharap bahwa Aku mendengar mereka berkata,

“Ya Tuhan biarlah kehendakMu yang jadi.

Untuk semua sukacita yang telah dibawa oleh orang ini

Semua resiko kedukaan akan kami larikan

 

Kami akan melindungi dia dengan kelembutan

Dan mengasihi dia semampu kami

Dan atas kebahagiaan yang telah dia bawa

Akan meninggalkan ucapan syukur selamanya.”

 

Dan jika malaikat akan datang untuk memanggil

Lebih cepat dari apa yang telah kami rencanakan

Kami dengan tabah menghadapi rasa pahit kedukaan yang akan datang

Dan mencoba untuk mengerti.

 

                                                --EDGAR A. GUEST

 

Dalam Mengenang Seorang Prajurit

 

Yohanes 15:13 “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Tidak ada sebuah hadiah yang besar dapat dibawa tanpa sebuah pengorbanan yang besar. Tidak ada pekerjaan besar yang dapat dilakukan tanpa kerja keras dan usaha. Hadian yang terbesar dibawa dalam pengorbanan yang terbesar. Pekerjaan terbesar dilakukan dengan kerja keras yang sungguh-sungguh dalam hidup.

Begitu juga dengan Negara kita. Didirikan di atas darah dan pemgorbanan hidup dari bapa-bapa pendiri kita.

Negara kita tetap hidup hingga hari ini karena tembok-tembok baja yang dibangun sekitarnya oleh angkatan bersenjata Negara kita. Tetapi dibalik dan diatas dinding-dingding baja yang dibuat oleh bayonet, meriam dan kapal penempur ada tembok-tembok dari  hidup manusia yang melindungi kita dari gempuran musuh-musuh kita. Demi rumah kita prajurit muda ini membaringkan hidupnya. Demi Negara kita telah membayar harganya dengan darahnya sendiri.

Allah telah menyediakan sebuah hadiah yang kekal di surga untuk pemuda Kristen ini. Dia telah memanggil mereka untuk hidup yang lebih besar di atas sana dan dunia yang lebih baik. Seorang penulis tidak dikenal telah menuliskan kasih kita dan prenghargaan kita diatas kata-kata ini:

 

Dalam mengenang seorang prajurit muda

Begitu kuat, berani dan benar

Oh, langit Allah, bersinarlah dengan lembut

Dan pakailah jubah biru

 

O angin sepoi-sepoi, hembuskanlah dengan perlahan

Keharuman dari bunga-bunga ini

keseluruh udara untuk mengenang

Pemuda terhormat ini, milik kami

 

Betapa beraninya barisan dari pemuda ini untuk seterusnya

Untuk bertempur dan bertarung

Betapa mulia, untuk “kepentingan dari Negara kita”

Yang telah menawarkan hidupnya dengan berani

 

Teriakan pertempurannya adalah “kebebasan”

Mottonya adalah, “untuk kebenaran.”

Dan Allah telah melihat kebawah kearah mereka disana

Begitu loyal dalam pandanganNya

 

Dan Allah telah melihat bahwa dia telah lelah

Dan telah melakukan tugasnya dengan baik

Dan kita tahu bahwa kita akan dimahkotai dengan rangkaian kemenangan

Prajurit mudaNya yang telah gugur—

 

Dalam tugasnya dan

Dia telah memanggilnya pulang untuk beristirahat

Di dalam kehangatan kedamaian abadi, diatas

Kelapangan kasih dada orang Kristen

 

                                                                --PENULIS TIDAK DIKENAL

 

Dalam Perpisahan dari Sepasang Pengantin Oleh Kematian

 

Wahyu 7:9-17

Kemudian dari pada itu aku melihat:  sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan dihadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem ditangan mereka.

Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur dihadapan takhta itu dan menyembah Allah,

Sambil berkata: “Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

Dan seorang dari tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?”

Maka kataku kepadanya: “Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan menbuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Karena itu mereka berdiri digadapan takhta Allah dan melayani Dia siang dan malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.

Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.

Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari air mata mereka.”

 

            Dimanakah orang yang kita kasihi ketika mereka dipisahkan dari kita oleh kematian? Apakah mereka akan menjadi lenyap dan hilang selamanya? Tidak, mereka meninggalkan kita dan hidup dalam daratan yang lain

 

Dibalik Horizon

 

Saat kumengarungi lautan dengan sebuah kapal

Dan kematian membentangkan layarnya

Tiada menangis untukku, karena disana akan

Seorang tuan rumah di pantai yang lain

Tuk memberi isyarat dan berteriak ,”Semua Disambut.”

 

                                                                                                --ROBERT FREEMAN

 

                Kenangan manis dari rekan kita yang terkasih akan memberkati kita selamanya.

 

Haruskah Engkau Pergi Lebih Dahulu

 

Haruskah engkau pergi labih dahulu dan aku tetap tinggal

Tuk menjalani jalan ini sendirian

Ku akan tetap hidup dalam taman kenangan, kekasihku

Bersama hari-hari bahagia yang pernah kita jalani

Di musim semi aku akan menanti bunga mawar merah

Saat pudarnya bunga lilac biru

Dalam guguran lebih awal saat warna coklat meninggalkan sisa guguran

Aku akan mengejar pandanganmu sekilas

Haruskah engkau pergi lebih dahulu dan aku tetap tinggal

Berjuang untuk menang

Setiap hal yang pernah kau sentuh sepanjang jalan

Akan menjadi sebuah noda yang suci

Aku akan mendengar suaramu, melihat senyummu

Sekalipun dengan kebutaan aku akan merabanya

Kenangan dari pertolongan tanganmu

Akan tetap menahanku bersama harapan

Haruskah engkau pergi lebih dahulu dan aku tetap tinggal

Tuk menyelesaikan dengan gulungan

Tanpa sebuah bayangan panjang yang akan menjilat ke dalamnya

Untuk membuat hidup ini terlihat mengeluarkan air liur

Kita telah mengenal begitu banyak kebahagiaan

Kita telah memiliki cawan sukacita kita

Dan kenangan adalah salah satu karunia dari Allah

Yang mana kematian takkan dapat menghancurkannya

 

                                                                --ANONIMOUS

 

Kita akan mengenal satu sama lain di surga. Yesus berkta bahwa kita akan saling mengenal.

 

Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!”

Tetapi yang seseorang menegor dia, katanya : “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?

Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

Lalu ia berkata: “Yesus ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:39-43).

 

Dia dan penyamun yang bertobat mengenal satu sama lain.

Paulus berkata bahwa. “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samara-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Kor. 13:12).

Kita tidak mengenal dengan sempurna satu sama lain hingga kita berada di surga.

Penulis Ibrani berkata bahwa kita akan.

 

Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.

Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita: tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita. (Ibrani 11:39-12:1)

 

Begitu banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita. Kita akan mengenal mereka sebagaimana mereka mengenal kita.

Yohanes berkata bahwa kita akan.

 

Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

Dan di tengah-tengah kaki dia itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.

Kepala dan rambutNya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mataNya bagaikan nyala api.

Dan kakinya mengkilap bagaikan tembaga membara dalam perapian; suaraNya bagaikan desau air bah.

Dan di tangan kananNya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulutNya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajahNya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kananNya diatasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,

Dan Yang Hidup, Aku telah mati, namun lihatlah, aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut (Wahyu 1:12-18).

 

Rasul Yohanes mengenali Tuhan Yesus yang hidup dengan segera.

Sebuah puisi yang ditulis oleh yang tidak dikenal telah menulis:

 

 

Kemanakah orang-orang yang kita kasihi pergi

Setelah hidup berakhir “selamat tinggal”?

Adakah sebuah rumah dibalik sana

Dimana mereka tidak akan pernah mati?

Pertanyaan seperti ini timbul?

Mengubah pemikiran manusia,

Ini merupakan keyakinanku yang terpercaya

Aku akan melihat mereka lagi

Di negri Pekan Raya yang tak dikenal,

Jauh dari daratan dunia

Allah memanggil orang-orang yang dikasihinya Pulang,

Untuk tinggal selama-lamanya

Mereka akan berbahagia di sana

Berdiam bersama dengan Dia

Dan ketika Dia memanggilku, aku percaya

Aku akan mengenal mereka kembali.

 

 

Sebuah Pesan bagi Mereka yang Bertanya “Mengapa”

 

            Roma 8:28-39

 

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu,, menjadi yang sulung diantara banyak saudara.

Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga yang dimuliakan-Nya.

Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Ia, yang tidak menyanyangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?

Kristus Yesus, yang telah mati bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

Siapakah yang akan memisahkan kita dari Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?

Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan!

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,

Atau kuasa-kuasa, baik yang ada di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

 

Kehendak Allah selalu untuk mendatangkan kebaikan dan menjadi berkat bagi anak-anakNya. Dia tidak pernah membuat kesalahan. Penyair A.M. Overton dengan sangat indah menuliskannya dalam sebuah puisi:

 

 

Dia Tidak pernah Membuat Kesalahan

 

Jalan Bapaku mungkin menikung dan berliku

Hatiku mungkin berdebar dan sakit

Tetapi di dalam jiwaku aku senang tuk mengetahui

Dia tidak pernah membuat kesalahan

 

Rencana yang kuharapkan mungkin tidak sampai

Harapanku berangsur hilang

Tetapi aku tetap mempercayai Allahku tuk memimpin

Demi Dia yang secara tepat mengetahui jalan

 

Malam hari menjadi gelap dan hal itu mungkin kelihatan

Bahwa hari tak akan prernah patah

Tetapi kan datang apa yang mungkin, saya akan percaya dengan sederhana

Dan melepaskan semuanya bagi Dia

 

Berangsur-angsur kabut akan lenyap

Dan Dia akan membuat semuanya terang

Melalui semua cara, yang kelihatan gelap bagiku

Dia tidak pernah membuat kesalahan

 

                                                                --A.M. OVERTON

 

Suatu hari berdasarkan apa yang dituliskan oleh Paulus dalam 1 Korintus 13:12, kita akan mengerti tujuan dan rencana pemilihan Allah terhadap kita.

 

Suatu Hari Kita Akan Mengerti

 

Tidak sekarang, tapi dalam tahun-tahun yang akan datang

Hal itu mungkin di negri yang lebih baik

Kita akan membaca arti dari air mata kita

Dan di sana, suatu hari, kita akan mengerti

 

Kita akan mengejar segala yang patah dan meneruskan kehidupan lagi

Dan menyelesaikan apa yang telah kita mulai

Surga akan menjelaskan hal-hal yang bersifat misteri

Dan kemudian, ah, kemudian, kita akan mengerti

 

Allah mengetahui jalan itu

Dia menuntun kita dengan tangan yang tepat

Kadang-kadang dengan air mata yang bercucuran kita akan melihat

Ya, di sana, di atas sana, kita akan mengerti

 

                                                                --MAXWELL N. CORNELIUS

 

Hingga hari dimana Allah akan membuat semuanya jelas mengapa kita menderita karena perpisahan, kehilangan, berdukacita, dan kita menemukan iman dan pengharapan di dalam Yesus Kristus yang telah begitu  mengasihi kita dan John Greenleaf Whittier memuja hal itu dalam puisinya:

 

Suara Rumah tangga

 

Kerinduanku terhadap ---- yang sangat kucintai

Untuk senyuman yang telah menghilang aku rindu

Tetapi Allah telah memimpin kekasihku berlalu

Dan Dia tidak dapat melakukan kesalahan

 

Aku tidak tahu rahasia masa depan

Dari keajaiban atau kejutan

Yang menjamin hidup dan hati

Yang didasari oleh kemurahanNya

 

Dan jika hatiku dan dagingku menjadi lemah

Untuk memikul luka yang belum terasa

Luka yang kau berikan tidak membuat patah

Tetapi kekuatan dan sokongan

 

Dan juga dibalik laut yang hening

Aku menunggu bahaya mengayuh

Tiada kerusakan darinya yang dapat datang padaku

Diatas lautan dan diatas pantai

 

Aku tidak tahu dimana pantainya akan menyingsing

Daun-daun palem yang melambai di udara

Aku hanya tahu bahwa aku tidak menyimpang

Dibalik kasihNya dan perhatianNya

 

                                                --JOHN GREENLEAF WHITTIER

 

 

Pesan Tentang Surga

 

Wahyu 21:1-22:5

 

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.

Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihat Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.”

Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

Barang siapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi Anak-Ku.

Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”

Maka datanglah dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: “Marilah ke sini, aku akan menunjukan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.”

Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar tinggi dan ia menunjukan kepadaku kota yang tinggi itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah.

Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis kedua belas nama suku Israel.

Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang.

Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.

Dan ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya.

Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu mil; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.

Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.

Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni.

Dan dasar-dasar tembok kota itu dihiasi dengan segala jenis permata. Dasar yang pertama batu yaspis, dasar yang kedua batu nilam, dasar yang ketiga batu mirah, dasar yang keempat batu zambrud,

Dasar yang kelima batu unam, dasar yang keenam batu sardis, dasar yang ketujuh batu ratna cempaka, yang kedelapan batu beril, yang kesembilan batu krisolit, yang kesepuluh batu krisopras,yang kesebelas batu lazuardi dan yang kedua belas batu kecubung.

Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.

Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.

Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah menyinarinya dan Anak Domba itu adalah lampunya.

Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya;

Dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana;

Dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya.

Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.

Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih mengalir bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.

Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu diseberang-menyebrang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan Takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hambanya akan beribadah kepadaNya,

Dan mereka akan melihat wajahNya, dan namaNya akan tertulis di dahi mereka.

                Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

 

Ini merupakan gambaran dari rumah kita yang kekal. Ini adalah tempat perhentian kita yang terakhir. Di sini kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Semua hal yang pernah membuat kita takut dan cemas telah berlalu. Lagu yang kita nyanyikan sungguh-sungguh benar:

 

Tiada rasa kecewa di dalam surga

Tiada kekhawatiran, dukacita, atau rasa sakit;

Tiada hati yang berdarah dan patah

Tiada lagu yang bersuara sumbang

 

Tidak akan pernah ada gagang pintu yang rapuh

Tiada kereta pemakaman di langit

Tiada makam di atas bukit kemuliaan

Karna di sana orang-orang kudus tidak pernah mati

 

Aku sedang menuju kota yang indah itu

Tuhanku telah menyiapkan bagi orang-orang kepunyaanNya

Dimana semua orang tebusan dari segala zaman

Menyanyikan “Glory” disekeliling takhta putih

 

Kadang-kadang aku ditumbuhi perasaan rindu pulang ke surga

Dan kemuliaan yang akan kulihat disana

Betapa sukacitanya saat itu

Ketika kumelihat Juruselamatku

Di dalam kota emas yang indah itu.

 

                                                                                ---F.M. LEHMAN

Ketika tugas kita telah selesai, surga menyambut kita dan membukakan pintu kekekalan dengan kebahagiaan. Dr. Horatius Bonar menulis syair yang indah yang mengekspresikan iman surgawi. Lagu ini dinyanyikan pada saat pemakamannya:

 

Surga Pada Akhirnya

 

Suara malaikat bernyanyi dengan lembut

Gemanya melampaui dering malapetaka yang gelap

Memberitakan kelegaan yang mankjubkan

Ah, surga ini pada akhirnya!

 

Diatas kemuliaan berdiri diambang pintu

Seperti seorang pengembara mendarat dengan selamat

Lihat, orang asing berbinar melihat suasana yang mengembang

Ah, surga ini pada akhirnya!

 

Dosa selamanya meninggalkan kita

Pemandangan duniawi berhenti membutakan kita

Belenggu duniawi berhenti  membelenggu kita

Ah, surga ini pada akhirnya

 

Takkan pernah ada air mata yang terjatuh

Takkan pernah ada kesenangan yang kan membosankan

Nyanyian demi nyanyian selamanya dikumandangakan

Ah, surga ini pada akhirnya!

 

Kristus sendiri semarak yang hidup

Kristus menyinarkan kesejukan dan kelembutan

Pujian bagi anak Domba yang mengubah kita:

Ah, surga ini pada akhirnya!

 

Menghancurkan rasa takut terhadap kematian yang menjepit

Kehidupan dan kemenangan mengelilingi kita

Kristus sendiri, Raja yang telah memahkotai kita:

Ah, surga ini pada akhirnya!

 

                                                --HORATIUS BONAR

 

 

Ibadah Penguburan

 

Diatas semua itu, ibadah penguburan di sisi kuburan harus ringkas dan bernilai Kristen. Apa yang harus sampaikan oleh pendeta telah dia sampaikan dalam ibadah di gereja atau di kapel. Pada saat penguburan hanya merupakan sebuah ucapan syukur yang terakhir.

 

Doa Ucapan Syukur

Apa yang saya lakukan pada saat penguburan adalah seperti ini: Setelah keluarga duduk dan sahabat-sahabat telah berkumpul di sekeliling peti, saya membaca Wahyu 22:16-17, 20.

 

“Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.”

Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barang siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” dan barang siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barang siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!

                Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!

 

Lalu saya akan berdoa seperti ini: Tuhan Yesus, apa yang dapat kami perbuat sudah kami lakukan. Kami akan meninggalkannya padaMu untuk mengambil alih dan menjaga.  Mengawasi tempat ini dalam kenangan yang kudus hingga sangkakala berbunyi dan orang-orang yang telah meninggal dibangkitkan dalam kemuliaan. Berikan kami kembali, nanti, orang yang telah kami kasihi dan kami telah kehilangan hanya untuk sementara. Berkatilah keluarga yang menunggu di bumi hingga hari kemuliaan itu dinyatakan sehingga kami dapat bergabung bersama-sama di dalam surga. Hantarkan kami kembali kerumah kami masing-masing dan pekerjaan yang menunggu kami di dalam kasih dan anugrahmu. Di dalam namamu kami berdoa. Amin.

 

Sebuah akhir “Selamat Malam, Aku akan Bertemu Denganmu Saat Pagi Hari”

 

Biarkan saya menutup bab ini dengan ayat Alkitab ini atas air mata yang telah jatuh dan hati yang telah diangkat. Hal itu tertulis di Yohanes 14:1-3, 27.

 

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

                 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

 

Biarkan saya menambahkan sebuah pusi yang indah, ayat yang menutup kehidupan orang Kristen dan kesaksian dari penyair Inggris, Alfred Lord Tennyson:

 

Melewati Rintangan

 

Mentari telah terbenam dan bintang malam bersinar

Dan sangat jelas memanggilku

Dan mungkin di sana tiada rintangan yang akan menghadang

Saat kuarungi lautan

 

Tetapi pasang menghempas tanpa henti

Tuk bersuara dengan berisik dan berbuih

Hingga akhirnya terhempas hingga kedalaman tanpa batas

Kembali pulang ke rumah

 

Senjakala dan deringan malam

Dan setelah kegelapan itu!

Dan mungkin di sana tidak ada kesedihan dari perpisahan

Saat kunaiki kapal

 

Dari engkau, dari waktu dan tempat yang telah kita tinggali

Air yang besar mungkin membawaku jauh

Kuberharap tuk melihat pilotku muka dengan muka

Ketika aku telah melewati rintangan

 

                                                ---ALFRED LORD TENNYSON

 

Yang terakhir dari semuanya, biarlah saya mengutip himne dari Fanny J. Crosby yang juga dinyanyikan pada saat pemakaman ayah saya. Bagaimana hal itu menggerakkan hati dan memperbaharui iman ketika saya mendengarnya pada saat khidmat itu.

Aman Di Tangan Yesus

 

 

Aman di tangan Yesus, Aman di jagaNya

Rasa jiwaku damai, Dan berbahagia

Hai dengarkanlah suara para malaikatnya

Yang menyanyi disana, Di surga mulia

 

Aman di tangan Yesus, Susahku hilanglah

Dosa pun tak berdaya, Bila ku disana

Bebaslah dari duka, Dari ketakutan

Dari mara bahaya, Aku diluputkan

 

Yesus perlindunganku, Tlah mati bagiku

Ya, pada batu zaman, Ku beriman teguh

Jadikan aku sabar, Hingga gelap tiada

Sampai terbitnya fajar, Di pantai mulia

                                Reff.

Aman di tangan Yesus

Aman di jagaNya

Rasa jiwaku damai

Dan berbahagia

 

--FANNY J. CROSBY, NYAYIAN PUJIAN NO. 277