Daftar Isi

UPACARA PERNIKAHAN

(The Wedding Ceremony)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Alih bahasa Wisma Pandia, Th.M.

Editor Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Sebuah Kesempatan bagi Seorang Pendeta

 

Ada beberapa peristiwa penting dalam kehidupan sebuah keluarga yang memiliki makna yang dalam dan potensi besar untuk kebaikan termasuk sebuah pernikahan. Pengaturan bagi kesempatan yang indah itu akan membuka pintu bagi pendeta untuk masuk ke dalam hati yang paling dalam terhadap orang yang dimaksud. Dia merupakan seorang pendeta yang bijaksana yang mengambil keuntungan dalam pemeliharaan untuk mengkonseling pasangan Kristen yang akan membentuk keluarga dan untuk mendorong sejumlah kumpulan orang agar menempatkan Kristus dan gerejaNya sebagai pusat dari hidup mereka.

 

Sesi Konseling Sebelum Pernikahan

 

            Setiap pasangan yang akan dinikahkan oleh pendeta harus memiliki waktu secara pribadi untuk bertemu dengannya dari hati-ke hati sebelum hari pernikahan. Dalam sesi ini pendeta harus melakukan tiga hal:

1.      Berbicaralah kepada pasangan tersebut tentang Tuhan. Jika mereka bukan orang Kristen, usahakanlah untuk memenangkan mereka kepada Kristus. Jika mereka bukan anggota gereja, usakan untuk memenangkan mereka ke dalam gereja. Dengan maksud yang utama tekankan agar mereka harus mengunjungi dan menjadi anggota gereja yang sama. Hidup dalam gereja yang terpisah bukan merupakan sesuatu yang ideal.

2.      Pendeta harus memberitahukan pasangan tersebut bagaimana membangun sebuah keluarga Kristen yang akan Allah berkati selamanya. Saya memberitahu mereka hal seperti ini:

 

“Lihat saya memiliki lima jari di tangan ini. Setiap jari memiliki arti bagi anda untuk membangun sebuah keluarga Kristen.

Yang pertama, ucapakan syukur sebelum kalian makan. Babi dan anjing tidak melakukan hal itu, tetapi kalian harus melakukannya. Berterimakasihlah kepada Tuhan atas berkat yang telah diberikan olehNya.

Kedua, kadang-kadang selama setiap hari, bacalah Alkitab secara bersama-sama (seperti saat makan pagi di meja makan) dan berdoa.

Tiga, sebelum kalian pergi tidur, berlututlah bersama-sama dan berdoa dengan keras agar pasangan yang lain dapat mendengar anda berbicara dengan Allah. tidak ada yang sempurna; kita semua manusia. Itu berarti kita dapat membuat kesalahan, salah menilai dan kadang-kadang jatuh ke dalam salah pengertian. Jika kita memiliki temperamen yang pendek, gegabah, tidak simpatik atau brutal, atau sesuatu yang lain yang tidak membuat bahagia selama hari itu, semua hal itu harus dihilangkan di dalam doa pembukaan. Firman Allah berkata sebelum matahari terbenam kita harus meredakan semua kemarahan kita (Ef. 4:26). Tidak ada pasangan yang seharusnya pergi ke tempat tidur saat malam dan menjadi asing satu sama lain, menyakiti satu sama lain. Buatlah hal itu baik di hadapan Allah dan satu sama lain sebelum beranjak tidur.

Keempat, berpakaianlah dengan baik dan pergi ke gereja setiap hari minggu. Menghadap Allah di hadapan orang-orangNya harus dengan pakaian terbaik yang anda kenakan.

Kelima, milikilah satu bagian di dalam kehidupan gereja. Lakukan sesuatu untuk Allah.

 

3.      Pendeta harus memberitahukan pasangan untuk menemui seorang dokter sebelum mereka menikah. Saya berpikir bahwa tidak pada tempatnya jika memanggil seorang pendeta dalam membicarakan keintiman mereka sebagai pasangan suami istri yang bertanggung-jawab. Dokter dapat melakukan hal itu dengan lebih baik.

Seorang pasangan tidak seharusnya memiliki anak dengan segera setelah pernikahan mereka. Akan lebih baik bagi mereka jika mereka berusaha memiliki waktu untuk belajar mengetahuai tentang semua hal yang berkaitan dengan hal itu. Ambillah waktu, lalu jadilah ayah dan ibu dari semua anak-anak yang untuknya anda berdoa dan yang Allah berikan kepada anda.

 

Penekanan Orang Kristen dalam Sebuah Pernikahan

 

Dalam sebuah pernikahan akan banyak bantuan yang dapat diperoleh berkenaan dengan hal itu, sebuah pernikahan yang dapat dipilih dan diikuti berdasarkan selera dan pilihan dari keluarga, seperti undangan pernikahan, latihan-latihan dan latihan makan malam, program yang telah dicetak untuk diikuti pada saat pernikahan itu sendiri, dekorasi dari gereja atau kapel, musik yang akan dimainkan dan yang dinyanyikan. Semua hal-hal ini diatur dan dipilih sepenuhnya dalam keinginan keluarga.

Akan tetapi yang paling utama adalah satu observasi yang harus dibuat tentang semua itu: semua yang berhubungan dengan pernikahan harus ditekankan dan mengekspresikan nuansa Kristen. Termasuk musik yang akan dimainkan dan lagu yang dinyanyikan.

 

Format dari Ibadah Pernikahan

 

Format dari pernikahan itu sendiri harus berlangsung seperti ini:

 

  1. Setelah lilin dinyalakan, dan orangtua wanita telah duduk, dan musik telah dimainkan, biarkan pendeta berjalan pertama kali di awal mars pernikahan, mengambil tempat ditengah kapel atau ruangan gereja.

 

  1. Mengikuti pendeta, pengantin pria dan oranng yang terbaik masuk ke dalam, berdiri di depan, disamping sang pendeta.

 

  1. Selama mars pernikahan berlangsung, pengiring pengantin, pembawa cincin, dan semua orang yang mengambil bagian dalam pernikahan maju ke depan mengambil tempatnya masing-masing.

 

  1. Yang terakhir dari semua, pengantin wanita masuk didampingi oleh seseorang yang akan menyerahkannya kepada pengantin pria.

 

Kata-kata yang Disampaikan oleh Pendeta sebelum Janji Pernikahan

 

Setelah ibadah berlangsung, kata-kata pembukaan yang disampaikan oleh pendeta sebelum upacara pernikahan dimulai dapat mengambil bentuk yang diinginkan oleh pengkotbah itu sendiri dan doa yang dia panjatkan dapat diikuti oleh suatu permohonan agar Roh Kudus memimpinnya. Ini adalah contoh dari kata-kata pembukaan yang dapat disampaikan:

 

Karena citra Allah berdiam di dalam kita, kita dapat mengenal dan mengalami kasih secara pribadi. Hal itu telah dikatakan,”Dia yang berdiam di dalam kasih, berdiam di dalam Allah.” ini merupakan sebuah perwujudan yang dirayakan dalam ibadah. Dimana ada kehadiran dari kasih, disana seharusnya ada penyembahan, sebagaimana Allah adalah penulis kasih dan Dia adalah Kekudusan satu-satunya yang kita sembah. Oleh karena itu, merupakan hasrat dari hati yang paling dalam dari ________ dan ______ untuk menyambut anda – untuk menyambut anda untuk berbagi dan untuk merayakan janji mereka dan komitmen dari kasih mereka selama waktu ibadah ini.

Dalam waktu yang lalu (periode waktu), _________ dan _________  telah belajar untuk saling mengenal dan untuk saling mencintai satu sama lain. Sekarang mereka telah memutuskan untuk menghidupi hidup mereka secara bersama-sama sebagai suami dan istri.

Kita telah diundang untuk mendengar ___________ dan __________ sebagai janji mereka untuk menghadapi masa depan, menerima apapun yang mungkin terbentang di depan. Keadaan ini tidak dipilih oleh suatu kebetulan, hanya sebagaimana _________ dan _________ percaya bahwa mereka tidak dipertemukan oleh suatu kebetulan.  Mereka percaya bahwa Allah memimpin mereka dalam tempat yang sama dalam waktu yang sama untuk bertemu satu sama lain. Untuk keindahan yang mengelilingi kita, untuk menguatkan tawaran itu, dan untuk kedamaian yang dibawanya, kita sangat bersyukur.

(___________) dan (___________), tidak ada yang lebih mudah dari sekedar menyampaikan kata-kata dan tidak ada yang lebih sulit untuk menghidupinya hari demi hari. Apa yang anda janjikan sekarang harus di perbaharui dan diputuskan secara ulang pada hari esok. Saat akhir dari perayaan ini, secara resmi anda akan menjadi suami dan istri, tetapi anda harus tetap memutuskan setiap hari apa yang terbentang di depan anda, yang anda inginkan untuk menikahinya.

Cinta yang sejati adalah sesuatu yang ada dibalik sebuah kehangatan dan berpijar, kegembiraan dan romantisme yang semakin dalam di dalam kasih. Hal itu harus dijaga dengan baik tentang perjuangan dan kegembiraan dari pasangan pernikahan anda sebagaimana terhadap milik anda sendiri.  Tetapi cinta yang sejati bukan sebuah penerapan total dari satu sama lain; hal itu adalah melihat keluar di dalam arah yang sama—secara bersama-sama. Kasih membuat beban menjadi ringan, karena anda menanggungnya bersama-sama. Ia membuat sukacita makin dalam, karena anda membaginya bersama-sama. Ia membuat anda lebih kuat, sehingga anda saling mengulurkan dan menjadi saling terlibat dalam hidup pada jalan yang anda tidak takut untuk mengahadainya sendirian.

 

Pendeta lalu berkata, “Keluarga dan sahabat terkasih, yang telah berkumpul dalam tempat yang indah ini untuk tujuan dari sebuah upacara yang suci dari ikatan pernikahan, apakah anda dengan tulus bersedia memberikan wanita ini kepada pria ini dalam kunci pernikahan?”

Ayah dari pengantin wanita lalu menjawab,”ya kami bersedia, ibunya dan saya” (atau sesuatu jawaban lain yang tepat)

Lalu sang ayah mengambil tangan kanan pengantin wanita dan menempatkannya ke dalam tangan kanan pengantin pria, lalu dia kembali duduk disamping istrinya.

Pendeta lalu mengambil tempat di depan mimbar, memberi isyarat kepada pengantin untuk datang kehadapannya, memberi isyarat kepada pendamping pria dan wanita untuk mengambil tempat mereka di sisi yang lain, lalu upacara pernikahan dimulai.

Perayaan pernikahan dapat diikuti oleh salah satu dari banyak pola lainnya: upacara ini ditulis diluar dari bentuk Episkopal, Presbiterian, Metodis, baptis, atau denominasi lainnya. Ini merupakan upacara yang telah saya gunakan selama bertahun-tahun, semua atau bagian yang ada didalamnya berdasarkan tipe dari pernikahan (sekalipun dilaksanakan dalam auditorium yang besar, di salah satu kapel, di kelas saya, atau di dalam rumah saya).

 

Upacara itu Sendiri

 

Upacara pernikahan itu sendiri berlangsung seperti ini:

 

Kesucian dan kebahagian waktu yang kudus dalam pencurahan dua hati yang bergabung ke dalam ikatan tali perkawinan. Di sini di dalam dada yang bergemuruh kita telah diingatkan dari beribu-ribu pesona magis keluarga, dari tempat duduk di depan perapian yang tenang, dimana Kristus dan kedamaianNya yang memberikan seluruh pengertian kepada kita dan Ia merupakan kehormatan, penghargaan, dan tamu yang tetap. Disini kita diingatkan tentang panjangnya hari-hari ketika bayangan senja berjuntai dengan perak dari curahan rekan yang memiliki simpati yang murni.

Dimulai dalam kebaikan dan kebaikan ilahi, dirancang untuk mengembangkan kebahagiaan dan kesucian manusia, upacara ini merupakan fondasi dari hidup rumah tangga dan pelayanan sosial, dan harus tetap hingga akhir waktu. Hal ini telah disetujui dan dihormati dengan kehadiran dalam kuasa Juruselamat kita dalam pesta perkawinan di Kana, Galilea, dan ditandai dengan pelayananNya yang menakjubkan.

Pernikahan berasal dari Allah. Hal ini ditetapkan dari surga. Ini merupakan institusi yang pertama yang yang paling suci diantara manusia.  Allah sendiri memberikan pengantin pertama. Allah sendiri menyelenggarakan  upacara pernikahan pertama. Di Taman Eden Bapa Surgawi sendiri menyucikan dan menguduskan keluarga pertama. Di dalam kebijakan Yang Mahabesar, hal pertama yang didirikan bukan sebuah gereja, bukan sebuah negara, bukan sebuah sekolah, hal itu adalah keluarga dari Tuhan Allah yang pertama berbicara:

Kejadian 2:15, 18-24, ‘Tuhan Allah mengambil manusia dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu….Tuhan Allah berfirman: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia….Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan sebab ia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.’

Dari hal yang indah itu, hari-hari Eden penuh dengan kemurnian dan tanpa dosa hingga momen ini hadir, dalam kasih yang kuat dari manusia untuk istrinya, dan di dalam kasih dan penghormatan dari seorang istri kepada suaminya, kita telah menemukan pengharapan kita yang tertinggi dan janji kita yang manis untuk sebuah hari yang besar.

Pernikahan dan keluarga dibangun di atas fondasi yang luhur, dedikasi pengenalan kepada hati manusia - cinta yang tidak egois dan kasih surgawi. Dengan banyak air mata dan pencarian yang dalam dari hati, meninggalkan rumah asalnya, Negara dan orang-orangnya, Rut telah berbicara tentang dedikasi ini dalam kata-kata kekal ini : “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab kemana engkau pergi, kesitu jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.”

Rasul Paulus telah berbicara tentang kesetiaan itu seperti ini: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak memiliki kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku; bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidak-adilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap…. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih.

Hal yang sama menginspirasikan rasul Paulus yang telah ditulis dalam bagian yang kudus: Efesus 5:22-32; “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, , karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya…. Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri…. Karena kita adalah anggota tubuhNya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia ini besar….”

Dan ini adalah sebuah “rahasia” besar—bagaimana Allah dapat mengambil dua hati dan dua kehidupan dan membuat mereka menjadi satu adalah sebuah “rahasia besar”—misteri dari surga, tetapi kesatuan itu akan menjadi sebuah kekuatan dan berkat kepada mereka berdua selama mereka hidup hingga akhir.

Perwujudan dari kekudusan dan kesucian dari perjanjian kudus yang anda buat antara satu dengan yang lainnya, jika anda tahu bahwa tidak ada rintangan terhadap kesatuan diantara diri anda sendiri, anda akan ditandai dengan sukacita dari tangan kanan anda.

Saudara,___________, bersediakah anda, dihadapan Allah dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, wanita di sebelah kanan anda yang sekarang sedang anda pegang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda? (Pengantin pria menjawab,”Saya bersedia”).

Apakah anda bersedia untuk mengambil dia sebagai istri yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda? (Pengantin pria menjawab, “Saya bersedia”).

Saudari, _____________, bersediakah anda, dihadapan Allah dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah dan senang, pria di sebelah kanan anda yang sedang anda pegang sekarang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama, menjadi istri yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda? (Pengantin wanita menjawab, “Saya bersedia.”)

Apakah anda bersedia untuk menerima dia sebagai suami yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda? (Pengantin wanita menjawab, “Saya bersedia.”)

(Kepada Pengantin pria) __________ apakah anda memiliki sesuatu yang anda bawa sebagai bukti kasih dan sayang anda untuk diberikan kepada pasangan anda, sebuah tanda bagi perjanjian yang kudus ini? (Dia menjawab, “Ya, “saya membawanya.”)

Apakah itu? (Dia menjawab, “Sebuah cincin.”)

Di segala zaman dan diantara semua manusia, cincin telah menjadi sebuah symbol yang sangat berarti, lalu, pada waktu yang suci ini, sebuah symbol dari tindakan anda, kesetiaan yang tiada batas.  Cincin ini berbentuk lingkaran, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir; sehingga sampai masa tua anda, hingga kematian dan sampai selamanya anda harus mempertahankan janji yang tidak dapat digugat ini yang telah ditandai dan dimateraikan oleh sebuah cincin. Sebagai sebuah ingatan yang terus-menerus dari makna yang dalam ini, maka tempatkanlah cincin ini pada jari pasangan anda dan ulangilah apa yang akan saya ucapkan.

Saya, ____________, mengambil engkau, ________________, sebagai istriku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seteruusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama kita masih hidup. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia saya memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baik saya akan saya bagi bersama denganmu, di dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, memberkati sampai selama-lamanya. Amin.

(Kepada pengantin wanita) ___________ apakah anda memiliki sesuatu yang anda bawa sebagai bukti kasih dan sayang anda untuk diberikan kepada pasangan anda, sebuah tanda bagi perjanjian yang kudus ini? (Dia menjawab, “Ya, “saya membawanya.”)

Apakah itu? (Dia menjawab, “Sebuah cincin.”)

Mensahkan dengan signifikasi yang sama sebagaimana dengan cincin yang telah anda terima, sebuah lingkaran emas yang berharga yang mengindikasikan dari kedalaman kasih anda dan kesetiaan yang sungguh-sungguh, tempatkanlah cincin ini pada jari pasangan anda dan ulangilah apa yang akan saya ucapkan.

Saya, ____________, menerima engkau, ________________, sebagai suamiku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seteruusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama masa kita hidup berdua. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia saya memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baik saya akan saya bagi bersama denganmu, di dalam nama Allah Tritunggal berkat dari Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus,  Amin.

Dan sekarang, melalui kebajikan yang dikuasakan kepada saya sebagai seorang pelayan dari Injil Yesus Kristus Tuhan kita, dan sebagai pendeta dari jemaat yang terkasih ini, dihadapan Allah dan disaksikan oleh jemaat, Saya mengumumkan anda sebagai suami dan istri, bukan lagi dua melainkan satu, satu dalam perhatian, dalam takdir, dalam kasih, dan dalam hidup, sampai selamanya.

Dan atas anda, _________ serta anda, __________ yang akan membantu dia dalam segala pekerjaannya, semoga berkat dari surga berdiam selamanya, yang membuat anda berdua menjadi sebuah berkat bagi setiap orang yang mengenal anda dan mengasihi anda. Untuk tujuan itu mari kita berdoa: (Disini pendeta berdoa, sebuah doa yang telah ditempatkan Allah di dalam hatinya)

Dan akhir dari permohonan dapat dilakukan seperti ini:

 

Semoga Allah yang Mahakuasa, dengan berkat dari FirmanNya, menyatukan hati anda berdua tanpa henti dalam ikatan kasih yang murni.

Semoga anak-anak anda membawa  kebahagiaan, dan semoga kasih dari pendahulu anda ada pada mereka hingga akhir waktu.

Semoga damai dari Kristus berdiam dalam hati anda dan keluarga anda. Semoga anda memiliki sahabat sejati yang berdiri bersama anda, baik di dalam suka dan duka. Semoga anda bersiap dan bersedia untuk menolong dan memberi rasa nyaman, kepada setiap orang yang membutuhkan yang datang kepada anda. Semoga janji berkat yang menghiburkan orang lain menjadi milik anda dalam segala kelimpahannya.

Semoga anda menemukan kebahagiaan dan kepuasan di dalam pekerjaan anda. Semoga masalah sehari-hari tidak akan pernah menyebabkan anda menjadi gelisah, juga semoga hasrat duniawi yang kuat tidak mendominasi hidup anda. Semoga hasrat hati anda mengutamakan hal-hal yang baik yang menunggu anda di kehidupan surgawi.

Semoga Allah memberkati dengan kebahagian yang lebih dari tahun-tahun yang akan anda hidupi bersama sehingga anda dapat menikmati hadiah dari sebuah kehidupan yang baik. Dan setelah anda melayani Dia dalam kerajaanNya di dunia secara taat, maka Dia akan menyambut anda dalam KerajaanNya yang kekal di surga.

Dan semoga Allah memberkati anda semua, di dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

 

Alternatif Lain yang Dapat Diberikan dalam Upacara Pernikahan

 

Ada begitu banyak variasi yang dapat ditambahkan dalam sebuah upacara pernikahan. Sebagai contoh, pada bagian awal upacara pernikahan, sebuah soneta yang sangat indah, yang ditulis oleh Elizabeth Barret Browning kepada suaminya Robert Browing dapat ditambahkan:

 

Betapa aku mencintaimu? Biarlah aku menghitung caranya.

Betapa dalam, dan luas serta tingginya cintaku padamu

Jiwaku dapat meraih, ketika perasaan bersinar keluar

Hingga akhir dari keberadaan dan anugrah yang sempurna

Aku mencintaimu hingga puncak yang tertinggi setiap hari

Dibutuhkan keheningan yang dalam, oleh mentari dan cahaya lilin.

Aku mencintaimu dengan bebas, seperti manusia bergantung pada kebenaran

Aku mencintaimu dengan gairah yang siap untuk digunakan

Dalam duka tuaku dan dengan iman kanan-kanakku

Aku mencintaimu dengan sebuah pencarian cinta yang terhilang bagiku

Dengan membawa keputus-asaanku,-- aku mencintaimu dengan nafasku

Senyuman, air mata, dan seluruh hidupku!-dan, jika Allah mengambil

Aku, akan tetapi cintaku akan tetap hingga akhir hayatku

 

Janji pernikahan saat tukar cincin dapat dilakukan dengan banyak cara. Ini merupakan salah satu cara lain yang dapat digunakan:

 

“Dengan cincin ini kita memngingkrarkan cinta kita bersama-sama—kepada Kristus dan kepada jemaatNya—sebagaimana dia mengasihi jemaatNya dan memberikan nyawaNya kepadanya.”

“Kami memohon berkat dari Dia atas keluarga yang akan kami bangun diatas namaNya dan ditandai serta dimateraikan dari komitmen hidup orang Kristen, yang diikat oleh ikatan emas penikahan yang akan mengikat kami kepada seorang terhadap yang lain dan kepada Juruselamat kami sampai selama-lamanya.”

“Di dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, Amin.”

 

Penyatuan Lilin

 

Dengan semakin bertambahnya pengalaman yang telah saya lihat tentang pasangan yang saling berbagi dalam penyatuan sebuah lilin, hal itu merupakan sebuah tindakan simbolik yang memiliki makna yang indah.

Salah satu cara yang dapat digunakan dalam melaksanakan penyatuan lilin adalah dengan menempatkan tiga buah lilin disamping pendeta dengan sebuah lilin di tengah yang belum dinyalakan. Setelah pendeta mengumumkan pasangan tersebut sebagai suami istri maka mereka mengambil lilin yang menyimbolkan diri mereka masing-masing kemudian secara bersama-sama menyalakan lilin yang di tengah serta meniup lilin yang masing-masing mereka pegang, dan membiarkan lilin yang ditengah tetap menyala. Pendeta kemudian meminta suami untuk mencium istrinya, lalu mereka beranjak pergi sementara resepsi akhirnya dilaksanakan.

Cara lain yang dapat digunakan untuk melaksanakan penyatuan lilin adalah menempatkan tiga lilin yang berdiri didepan ruangan gereja. sebelum ibu dari pengantin pria duduk, dia bersama dengan suami yang menemaninya menyalakan salah satu dari lilin tersebut. Kemudian sebelum ibu dari pengantin wanita duduk, dia bersama dengan suami yang mendampinginya menyalakan lilin yang berada di sisi lainnya, meninggalkan lilin yang berada di tengah yang belum dinyalakan. Setelah upacara selesai, pengantin pria dan wanita beranjak dari mimbar dan mengambil lilin yang telah dinyalakan oleh orangtua mereka masing-masing dan menyalakan lilin yang berada di tengah-tengah, lalu meniup lilin yang telah mereka pegang masing-masing, dan mengembalikannya ke tempat yang semula dengan membiarkan lilin yang berada ditengah yang  telah mereka nyalakan tetap menyala.

Cara lain lagi yang dapat digunakan dalam melaksanakan penyatuan lilin adalah, pendeta memanggil kedua orang tua pengantin untuk berdiri dihadapannya dan dihadapan lilin yang akan dinyalakan dengan berkata:

 

Hidup tanpa kasih adalah seperti pohon tanpa bunga dan buah. Jadi sebagaimana sekarang, kita kembali kepada sebuah momen bagi orang tua dari dua pasangan ini yang telah memberikan begitu banyak cinta selama bertahun-tahun. Hal itu merupakan sebuah kebahagiaan yang istimewa dan kepuasan yang besar untuk kedua orang tua dari pasangan ini yaitu, _________ dan ________, ___________ dan_________sebagaimana mereka berdiri disini bersama _____________ dan ____________. Anda telah melihat mereka bertumbuh dewasa secara fisik dan membantu mereka bertumbuh dewasa secara rohani. Anda telah menjaga mereka dengan kasih sayang sebagaimana mereka telah masuk kedalam hubungan ini yaitu satu sama lain. Anda telah menangis, tertawa, menghibur dan telah dihibur, berharap untuk, dan mewujudkan banyak harapan yang telah terjadi dari hubungan anda sebagai orang tua. Anda telah berdoa dengan banyak doa dan membimbing mereka sehingga telah membantu mereka untuk memiliki sebuah tanggung-jawab sebagai orang Kristen dewasa pada hari ini. Anda telah mengekspresikan kasih anda begitu banyak selama bertahun-tahun dan sekali lagi anda melakukannya saat ini dengan berdiri disamping mereka sebagaimana mereka akan membangun sebuah keluarga yang akan menjadi lebih kuat karena mereka telah melihat secara pribadi sebuah keluarga Kristen yang telah anda bangun.

Sehingga kemudian, tetap memiliki sebuah tanggung-jawab dalam membantu kedua orang ini intuk menjadi pribadi mereka sebagaimana mereka adanya. Sekarang maukah anda berjanji untuk berdoa dan memberkati mereka dalam membentuk sebuah keluarga yang baru?

Orang tua merespon:”Kami bersedia.”

 

Kedua orang tua mempelai lalu menyalakan lilin mereka. Untuk selanjutnya pendeta kembali ke tempatnya ke atas mimbar.

 

Pentingnya Perjanjian Kristen dalam Pernikahan

 

Bagaimanapun, perayaan dan upacara dari ibadah pernikahan memiliki makna rohani yang dalam serta keyakinan orang Kristen yang sungguh-sungguh. Jemaat harus merasakan bahwa mereka telah menjadi bagian gereja, terutama pengantin wanita, pengantin pria dan keluarga mereka.

Ingatlah bahwa, membangun sebuah keluarga Kristen merupakan salah satu fondasi yang paling penting dalam mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Tidak ada hal lain sebagaimana sebuah jemaat tanpa sebuah keluarga Kristen, dan keluarga yang nyata dimulai dalam sebuah perjanjian ikatan pernikahan.