Daftar Isi

 

FIRMAN ALLAH YANG MENGHIDUPKAN

(God’s Quickening Word*)

 

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diterjemahkan Dr. Eddy Peter Purwanto

 

            Oleh karena pemeliharaan Tuhan, seorang laki-laki tua dengan sangat menakjubkan diselamatkan di salah satu acara kebaktian di gereja kami. Ia pernah menjadi orang yang sangat berdosa.  Sepanjang tahun-tahun hidupnya ia belum pernah mengenal hal-hal lain selain cara kehidupan duniawi. Namun ia menikah dengan wanita Kristen yang sangat mengasihi Tuhan yang kemudian membawanya ke jemaat kami, di mana, di sana ia mendengarkan Firman Allah dan menemukan Tuhan. Perubahan terjadi dengan sangat cepat. Ia menjadi manusia baru dan orang yang berbeda. Ia setia datang ibadah ke gereja di mana kami mempelajari Kitab Suci bersama dan di mana saya mengkhotbahkan Firman dari Alkitab ini. Baik di rumah atau pun di tempat kerjanya, ia secara konstan membaca Alkitab, karena ia ingin menebus tahun-tahunnya yang telah ia sia-siakan dalam dunia ini.

 

            Akhirnya hari dukacitapun datang. Ia terkena serangan jantung dan kemudian langsung meninggal. Saya pergi melayani pemakamannya dan mengucap syukur kepada Allah yang telah mempertobatkan orang ini menjadi orang Kristen sejati.  Bersama dengan ratusan teman-teman yang lain, saya melihat ia seperti sedang tidur nyenyak dalam peti mati itu. Yang membuat saya terharu adalah, tangan kanannya memegang Alkitab dan meletekkannya di atas dadanya. Saya mendekati istrinya dengan hati penuh keharuan.

 

            “Ini adalah hal yang tidak biasa,” kataku, “bahwa ia memegang Alkitab di tangannya! Mengapa Anda melakukan ini?”

 

            “Oleh karena beberapa alasan,” sahutnya, “bahwa ia sangat menyukai Alkitabnya itu. Kami membaca Alkitab di gereja; kami membacanya bersama di rumah. Ia membacanya di kantornya. Sepantasnyalah bila Alkitabnya ada di tangannya sebagai kesaksian terakhirnya tentang kuasa Firman Allah yang telah menyelamatkannya.”

 

            Dan kemudian kami menguburkan dia bersama dengan Alkitab itu dalam peti mati di mana ia dibaringkan sambil menunggu hari kebangkitan, ketika hari Tuhan tiba dan ketika Allah dari Buku ini membawa penggenapan dari setiap janji yang tertulis dalam setiap halamannya. Bila aku percaya Alkitab, maka “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:6). Alkitab adalah buku yang layak baik untuk orang hidup maupun orang mati. Itu layak diterima sebagai penuntun yang tidak akan pernah gagal menuntun kita ke sorga. Alkitab adalah benar dan patut dipercaya. Alkitab adalah Firman Allah yang dapat dijamin kebenarannya.

            Ketika tukang post menyerahkan sepucuk surat dari seorang anak muda yang ingin mengucapkan terimakasih kepada saya yang telah memimpin pelayanan kebaktian penguburan ayahnya yang terkasih itu, ia menutup surat itu dengan kalimat berikut ini: “Ayah saya sangat senang mendengar Anda berkhotbah dari Alkitab dan sangat bahagia mengetahui bahwa Anda ada bersama dengan kata-kata yang memberikan jaminan serta damai ketika kami membutuhkan Anda. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati Anda untuk menjadi gembala yang senantiasa memberikan makanan rohani dari Firman Allah kepada jemaat yang Anda gembalakan.”

 

            Ini adalah salah satu alasan mengapa saya percaya bahwa Alkitab secara literal benar, yaitu karena efek yang luar biasa atas orang-orang yang mendengarkannya dan membacanya. Ini berisi Injil yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan.

 

 

Kuasa Firman yang Mempertobatkan

 

Alkitab bekerja. Kebenaran-kebenaranya mengubah hati serta hidup manusia. Ia mempertobatkan manusia untuk hidup lebih baik, baik bagi orang kecil maupun orang besar. Baik bagi pengemis di jalanan maupun seorang raja di tahtanya, bagi wanita miskin yang menyapu di loteng atap rumah maupun para filsuf  di kursi kehormatannya. Bagi para pemikir yang hebat maupun orang-orang awam. Mereka semua diubah oleh kuasa Alkitab ini. Para pemabuk, pencuri dan preman meninggalkan dosa mereka untuk melangkah ke dalam terang pengajaran Allah. Orang atheis yang sombong menjadi orang percaya yang rendah hati di dalam Kristus oleh karena kebenaran-kebenaran Alkitab.

 

Seorang misionaris Kristen mau mendarat di kepulauan orang-orang yang masih liar. Penduduk di sana tidak memiliki bahasa tertulis dan mereka tidak memiliki tulisan-tulisan apapun. Mereka mengganggap orang asing sebagai musuh. Mereka tidak ingin mengubah cara hidup mereka yang liar dan menganggap orang asing sebagai musuh itu. Latar belakang mereka yang adalah cannibal (memakan daging manusia) dan lebih mirip binatang buas dari pada mirip manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun orang Kristen atau misionaris ini, yang telah sampai di tepi pantai tanpa uang dan tentara itu, mengerjakan mujizat yang luar biasa dalam kehidupan orang-orang di sana. Senjatanya hanyalah Alkitab. Harta milik satu-satunya hanya keselamatan dari Kristus. Ia memberitakan Injil. Ia memberikan undangan. Kemudian mujizat terjadi. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja, orang-orang liar yang dulunya tidak pernah mengenakan pakaian (telanjang) itu kemudian mulai mengenakan pakaian yang pantas. Para pembunuh yang tak bermoral itu akhirnya berubah menjadi orang Kristen yang sangat bersahabat. Kekejaman mereka yang sungguh tragis itu sekarang berubah menjadi kebaikan yang luar biasa. Semua ini bisa terjadi tidak lain dari pada apa yang dihasilkan oleh Firman Allah.

 

Mujizat serupa berulang kali terulang di berbagai belahan bumi. Suatu sukacita yang tiada batasnya bagi saya bisa mengunjungi pekerjaan misi di antara orang-orang Indian Auca di hutan Amazon Amerika Selatan. Selama banyak generasi orang-orang Indian dari Zaman Batu ini telah memandikan tangan mereka dengan darah manusia. Mereka bahkan telah membunuh lima misionaris kulit putih yang mendarat dengan pesawat kecilnya di sana untuk memberitakan Injil. Namun itu tidak melemahkan semangat dua misionaris wanita untuk mempertaruhkan nyawanya masuk ke perbatasan hutan yang dihuni suku liar Auca itu. Setelah beberapa bulan lamanya mereka berhasil membawa orang-orang itu kepada Kristus, dan suku liar yang kejam dan telanjang ini, yaitu orang-orang Indian Zaman Batu itu telah berubah menjadi rendah hati, menjadi murid Kristus yang setia. Perubahan seperti itu tidak dapat saya bayangkan. Saya pernah pergi ke hutan Amazon tersebut untuk melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Ini benar-benar salah satu mujizat terbesar di zaman modern ini. Penciptaan pesawat-pesawat kita adalah mujizat, radio-radio kita adalah mujizat, namun tidak ada mujizat yang seagung ini, yaitu perubahan atau transformasi orang Kristen yang didemonstrasikan dalam kehidupan orang-orang primitif di Auca di Amerika Selatan ini.

 

Kisah perubahan yang ajaib oleh karena pertobatan ini dapat terulang di seluruh dunia. Suatu kali di sebuah gereja di pedasaan yang saya gembalakan, ada seorang Deaken yang saleh dan ia adalah seorang petani dalam suatu persekutuan, ia diberi Alkitab dalam bahasa Spanyol. Ia tidak dapat membacanya dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan itu. Kemudian inilah yang terjadi, yaitu bahwa ia akhirnya memberikan Alkitab itu kepada keluarga yang berbahasa Spanyol yang tinggal beberapa mil jauhnya dari tempat tinggalnya. Ia melakukan perjalanan menuju keluarga orang Mexico itu dan memberikan Alkitab bahasa Spanyol itu kepada mereka.  Tidak lama kemudian kepala keluarga orang Mexico itu datang mengunjungi Deaken saya yang saleh tersebut. Ia berkata bahwa ia dan keluarganya telah membaca Buku itu, dan mereka telah menemukan Tuhan, dan untuk mentaati perintah Kristus, mereka memberi diri dibaptis. Saya membaptiskan mereka “di dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.” Mereka benar-benar telah berubah dan diselamatkan.

 

Setelah beberapa waktu berlalu, rumah mereka terbakar. Ketika saya pergi untuk mengunjunginya dan untuk memberi bantuan kepada mereka yang ditimpa bencana tersebut, mereka memberikan Alkitab itu kepada saya. Alkitab itu sebagian telah terbakar dan telah terendam air. Kepala keluarga orang Mexico itu berkata kepada saya, “Ini adalah satu-satunya yang dapat kami selamatkan dari kebakaran rumah kami. Firman Allah telah banyak memberkati kami maka yang pertama kali kami cari untuk diselamatkan adalah Alkitab ini.” Oh, betapa ajaibnya kuasa dari Kitab Allah ini!

 

Kesaksian tentang perubahan hidup yang disebabkan oleh kebenaran-kebenaran Firman yang hidup ini terjadi di sepanjang abad. Mulai dari Saulus dari Tarsus sampai Yustinus Martyr sampai Agustinus sampai John Bunyan, sampai John Newton, sampai John Wesley, sampai B.H. Carrol, sampai Jerry McCauley – sampai kesaksian umat Allah hari ini, kesaksian itu selamanya tetap sama. Ada kuasa di dalam Firman Allah yang mempertobatkan.

 

Seorang dokter dimenangkan bagi Kristus ketika mendengarkan khotbah Dwight L. Moody. Seseorang berkata kepadanya bagaimana itu bisa terjadi dan ia menjawab: “Saya pergi untuk mendengarkan Mr. Moody berkhotbah dengan tanpa ide lain selain untuk mentertawakan dia. Saya tahu bahwa ia bukanlah seorang sarjana dan saya merasa yakin bahwa saya dapat menemukan banyak kekurangan dalam argumentasinya. Namun saya tidak menemukan itu pada orang itu. Ia berdiri di sana di balik Alkitab dan penjelasan Kitab Suci itu membakar saya dan menembus hati saya bagaikan peluru yang melesat dari senapannya, dan akhirnya saya dipertobatkannya.” Kuasa Moody terletak dalam cara ia menjelaskan Alkitabnya dengan kefasihan bicaranya dan Allah yang memberkati khotbah-khotbahnya yang berasal dari Firman yang kekal itu.

 

Ini juga ada bersama para pengkhotbah Firman Allah di sepanjang abad. Charles Haddon Spurgeon adalah seorang hamba Tuhan yang sangat terkenal di London. Ia adalah seorang pengkhotbah Alkitab. Ia percaya setiap yang tertulis dalam Buku ini. Ia pernah membawakan lebih dari empat ribu khotbah dari Alkitab mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu. Bila khotbah-khotbahnya ini dikumpulkan menjadi satu hampir menjadi commentary atau buku tafsiran lengkap Alkitab. Ia percaya setiap kalimat dalam Alkitab. Ia mengkhotbahkan Perjanjian Lama. Ia mengkhotbahkan Perjanjian Baru. Ia berkhotbah dari Kitab Kejadian. Ia berkhotbah dari Kitab Wahyu. Ia berkhotbah dari Imamat. Ia berkhotbah dari Efesus. Ia berkhotbah dari Kitab Ester. Ia berkhotbah dari Kisah Para Rasul. Apakah hasilnya? Bukankah sejak zaman Rasul Paulus begitu banyak orang telah berbalik kepada Tuhan.

 

Namun apa lagi selanjutnya? Berkat-berkat ini ditambahkan bagi rumah-rumah para janda dan panti asuhan anak-anak yatim piatu, dan para misionaris memberitakan Injil keselamatan ini dengan mengarungi samudera-samudera. Melalui khotbah dari Alkitab yang luar biasa dari satu orang ini, pengaruh yang luar biasa telah mengalir ke keseluruh dunia. Seseorang ditemukan mati membeku di pegunungan es Alpen. Ia sedang menggenggam salah satu dari khotbah-khotbah Spurgeon. Ketika David Livingstone meninggal, ditemukan salah satu dari khotbah-khotbah Spurgeon ditopinya. Pengaruh dari khotbah-khotbah Spurgeon dari Alkitab di Metropolitan Tabernacle di London secara literal telah menggerakan seluruh dunia berbalik kepada Allah.

 

Alkitab adalah buku yang menyatakan kepada kita kebenaran yang membawa kita ke dalam hidup bersatu dengan Allah. Ilmu pengetahuan dan kata-kata pengetahuan yang disampaikan tidak memiliki kuasa untuk mengubah karakter kita atau memberikan pengharapan hidup sorgawi bagi kita. Namun Firman Allah memiliki di dalamnya kuasa itu. Ketika menerima itu dengan ketulusan ke dalam hati dengan pengertian rohani, itu dapat menyelamatkan kita. Alkitab adalah alat atau instrumen Roh Kudus untuk melahirbarukan kita. Firman Allah adalah firman yang hidup yang di dalamnya terdapat kehidupan Allah sendiri (Yohanes 5:24).

 

Kehidupan Allah ada di dalam Firman-Nya; Firman ini hidup dan berkuasa (Ibrani 4:12-13). Firman Allah adalah cermin (Yakobus 1:23); Firman itu menyatakan kepada kita tentang diri kita sendiri. Firman Allah adalah benih (Lukas 8:11); ini berisi kehidupan dan vitalitas dari Tuhan. Firman Allah adalah pedang (Efesus 6:17); ini menembus hati dan menelanjangi jiwa kita yang penuh dosa di hadapan Dia satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita dari kematian. Alkitab adalah firman yang memberikan kehidupan (1 Petrus 1:23); itu adalah sarana untuk memberikan kehidupan kepada kita yang ada di dalam Kristus Yesus, Firman yang menjelma. Memberikan hidup kekal bagi jiwa setiap orang yang percaya pada kesaksian Allah.

 

 

Ketertarikan Terhadap Alkitab Bersifat Universal

 

Ketertarikan terhadap Alkitab bersifat universal. Sesungguhnya tidak ada literatur yang seistimewa Alkitab. Semua ras mengklaimnya sebagai milik mereka sendiri. Saya pernah mendengar seorang misionaris dari Afrika yang berkata bahwa seorang dari suku Hottentot datang kepadanya dan menjelaskan kepadanya bahwa ia merasa sedih karena tidak dapat membaca Yohanes 3:16 dalam Hottentot. Orang kulit hitam itu berkata bahwa tidak ada sesuatu yang lebih indah di dalam dunia ini yang seperti kisah Kristus dalam Alkitab. Ketertarikan terhadap Alkitab benar-benar bersifat universal bagi semua orang di sepanjang masa dan di segala tempat dan tingkat status kehidupan. Alkitab memiliki daya tarik untuk dibaca oleh semua orang dari segala umur, baik anak-anak maupun orang-orang percaya yang telah memutih rambutnya. Anak-anak kita membaca dan mempelajarinya di rumah dan Sekolah Minggu; dan para sarjana seperti Newton dan Faraday, negarawan besar seperti Gladstone dan Lincoln, dan para tentara/prajurit besar seperti Robert E. Lee dan Douglas MacArthur telah mengambil Alkitab ini sebagai kebanggaan dan penuntun kehidupan mereka.

 

Seorang misionaris yang melakukan suatu perjalanan di Timur Dekat mampir semalam  di tenda penggembala yang ia pernah kunjungi beberapa tahun sebelumnya. Gembala atau pengembara itu menyambutnya dengan memberikan pertanyaan, “Apakah Anda membawa kembali buku domba itu?” Untuk beberapa saat misionaris itu tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu. Sebenarnya inilah yang terjadi, ketika terakhir kali ia berjumpa dengan gembala yang sudah tua itu, ia pernah membacakan bagi orang itu dalam bahasa gembala itu sendiri dari Mazmur dua puluh tiga. Penjaga kawanan domba atau gembala yang bukan orang terpelajar itu menyebut Alkitab sebagai “buku domba.”

 

Ketika Baptist World Alliance mengadakan pertemuan di London, Inggris pada tahun 1955, saya hadir di sana dan memimpin doa persiapan firman Tuhan yang akan disampaikan oleh Dr. Joao Soren, gembala First Baptist Church of Rio de Janeiro, Brazil. Dalam khotbah ini saya diberkati oleh kisah yang ia ceritakan tentang pengalamannya ketika ia menjadi chaplain dalam Perang Dunia II. Dr. Soren menjelaskan dengan kata-kata yang tak terlupakan tentang pagi yang dingin pada tanggal 23 Februari 1945. Infantri Brazil bertugas di Italia bersama dengan American Fitfth Army baru saja berperang  dalam pertempuran yang paling berdarah di kaki bukit Apennine Italia di mana pada waktu itu salju musim dingin mulai turun.

 

Sebagai seorang chaplain dari Brazilian Division, ia mengumpulkan mayat korban perang dan mencari area dimana  mayat-mayat prajurit yang gugur dalam perang itu terkubur di bawah salju sepanjang musim dingin itu. Ketika ia menemukan tubuh seorang sersan muda yang pernah bertumbuh di Sekolah Minggu di First Baptist Church in Rio de Janeiro, dan tubuh prajurit itu telah terkubur dalam es selama dua bulan, namun masih utuh. Kelihatannya ia sudah kehabisan amunisinya, sehingga akhirnya ia tertembak oleh senjata musuh. Dan kelihatannya ia tidak langsung mati. Ia masih sempat merogoh Alkitab sakunya yang berisi kitab Perjanjian Baru dan Kitab Mazmur yang pernah diberikan oleh chaplain itu kepadanya dari saku celannya. Rupanya sebelum mati ia sempat membuka Shepherd’s Psalm (Mazmur 23). Ia membaca ayat-ayat itu dan secara perlahan-lahan akhirnya ia meninggal, “Tuhan adalah gembalaku; takan kekurangan aku.” Kemudian kepalanya tertunduk dan darah mengalir ke atas halaman Alkitab itu. Di tengah kondisi krisis itu, prajurit yang sekarat ini masih sempat membuka Firman Allah, yang merupakan sumber penghiburan dan kekuatan.

 

 

Pengaruh Alkitab atas Kehidupan Manusia

 

            Pengaruh yang luar biasa dari Alkitab berefek terhadap setiap segi kehidupan manusia. Isi Alkitab telah menyediakan tema-tema bagi para penyair besar, artis, dan musisi yang dunia pernah hasilkan. Hancurkan otoritas agung seperti Elijah dan Messiah dan Anda akan kehilangan sesuatu yang berharga yang tidak akan pernah tergantikan dari dunia musik. Hilangkan lagu-lagu indah yang terinspirasi dari Kitab Suci, maka Anda akan kehilangan keindahannya dan hati Anda tidak akan tersentuh sama sekali. Hapuslah setiap rujukan kebenaran-kebenaran moral dan rohani yang diajarkan dalam Firman Allah dalam tulisan-tulisan karya Dante, Milton, Tennyson, Wordsworth, dan Carlyle, maka Anda telah menghilangkan keagungan dan merusak keindahan dari karya-karya tersebut. Lepaskanlah pemandangan lukisan tentang kehidupan Israel dan kehidupan Tuhan kita yang ada di dinding-dinging galeri lukisan terbaik kita, maka Anda telah mencabut permata murni yang sangat berharga dari mahkota orang-orang jenius.

 

            Alkitab telah menjadi faktor teragung dalam pembentukan perkembangan moral dari umat manusia. Hapuskan setiap statuta buku-buku hukum kita yang telah dibangun di atas Sepuluh Perintah Allah dan Khotbah Yesus di Bukit dan itu berarti Anda telah menghilangkan batu penjuru yang diperlukan oleh masyarakat modern.

 

            Kuasa kreatif dari Alkitab adalah salah satu mujizat dari sejarah. John Bunyan terkunci selama dua belas tahun dalam penjara Bedford dan hanya Alkitabnya yang senantiasa menemaninya di sana. Dalam penjara itu ia mengarang karya tentang mimpi yang tidak fana dengan gaya tulisan yang menarik dan dengan menggunakan bahasa Alkitab King James Version. Yang luar biasa adalah seorang sarjana, John Owen mengakui kecerdasan dan kerohanian pemikir yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi dari Bedford dengan bersaksi di depan Raja, “Yang Mulia, jika saya dapat menulis seperti yang dilakukan oleh pemikir dalam penjara Bedford, dengan senang hati saya bersedia untuk berhenti belajar.” Novel Perjalanan Seorang Musyafir adalah salah satu karya literatur yang paling klasik. Dari mana John Bunyan memperoleh inspirasi dari karyanya ini? Ia memperolehnya melalui persekutuannya dengan Musa dan Tauratnya, dengan Daud dan Mazmurnya, dengan Yesaya dan para nabi yang lain, dan dengan Yesus beserta rasul-rasul-Nya. Ia hidup bersama mereka, ia berbicara seperti mereka, menggunakan bahasa Alkitab.

 

            Bahasa yang indah ini diperoleh dari membaca Alkitab yang telah dikuatkan oleh observasi saya sendiri sepanjang tahun-tahun pelayanan pastoral saya. Banyak orang yang saya kenal yang berbicara dengan bahasa yang begitu indah walaupun mereka tidak pernah mengenyam pendidikan yang cukup, orang-orang ini telah menyerap bahasa Alkitab. Kita dapat membaca karya-karya literatur Homer dan Virgil, Shakespeare dan Dante; yah, kita dapat meresapi semua karya literatur terbaik di sepanjang masa, namun semua itu secara tidak terbatas akan gugur bila dibandingkan dengan kemurnian, keindahan, dan kehebatan pemikiran dan ekspresi yang ditemukan dalam Firman Allah.

 

            Beberapa tahun yang lalu seorang wartawan mencoba melakukan sesuatu dengan menulis surat kepada seratus orang dari berbagai kalangan atau posisi dan jabatan di Inggris, seperti Keluarga Istana, Keluarga Para Pejabat, orang-orang professional, para banker, para pedagang dan lain-lain. Dalam suratnya ini ia menyampaikan pertanyaan ini: “Umpamakan Anda dihukum kurungan tiga tahun di dalam penjara dan Anda hanya diperbolehkan membawa tiga buku saja. Yang mana yang akan Anda pilih? Tolong jawab yang mana yang Anda pilih.” Sungguh mengejutkan, menurut wartawan ini sembilan puluh delapan dari seratus orang ini mengurutkan Alkitab sebagai yang pertama dari ketiga buku itu. Ini sungguh mengejutkan karena sebagian besar dari orang-orang ini bukan orang Kristen. Mereka bukan hanya tidak pernah pergi ke gereja namun bahkan beberapa dari mereka benar-benar berusaha untuk menentang iman Kristen. Meskipun demikian, ketika mereka berpikir seandainya mereka ada dalam penjara selama tiga tahun, Alkitab adalah teman yang paling didambakan oleh mereka.

 

            Alkitab menjadi buku yang banyak dipelajari oleh orang-orang hebat dalam masyarakat modern ini. Dimana-mana entah itu para pengarang, negarawan yang terhormat, para ilmuwan telah bersaksi tentang betapa bernilainya dan pentingnya Firman Allah yang suci itu. Benjamin Franklin berkata, “Anak muda, nasehatku untuk kalian adalah agar kalian harus bertumbuh dalam pengenalan akan Kitab Suci.” Thomas Jefferson berkata, “Saya pernah berkata dan akan selalu berkata bahwa mempelajari buku suci ini akan membuat masyarakat lebih baik, para ayah menjadi lebih baik, dan para suami menjadi lebih baik.” Daniel Wenster suatu kali berkata, “Dari masa saya masih di pangkuan ibuku saya telah mempelajari tulisan-tulisan suci dalam pembelajaran saya setiap hari.” Benar, Kitab Allah ini adalah kuasa Allah yang menghidupkan, menyelamatkan jiwa, dan melahirbarukan umat manusia.


 

* Diterjemahkan dari Dr. W.A. Criswell, Why I Preach That the Bible Is Literally True, Nashville: Tennessee, 1965, hal. 11-18.