Daftar Isi

KESAKSIAN KRISTUS UNTUK FIRMAN TUHAN

(Witness of Christ to the Word)

 

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diadaptasi oleh Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” (Lukas 24:25-26)

 

Dalam ayat 44: “Yesus berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat." Ini adalah bagian pertama yang agung dari Alkitab bahasa Ibrani Perjanjian Lama. Penggenapan dari segala sesuatu tertulis dalam Torah, hukum Musa.  “Dan dalam kitab nabi-nabi” (nebi-im). Itu adalah bagian kedua yang agung dari Alkitab orang Ibrani. “Dan kitab Mazmur.” Bagian ketiga yang agung dari Alkitab orang Ibrani atau Perjanjian Lama ini adalah kethubim, atau dalam orang Yunani Hagiographa. Dan dalam bahasa Inggris, “the Writings.” Dan nomer satu dari bagian kethubim ini adalah kitab Mazmur. Sehingga Ia menggunakan kata “Mazmur” untuk mengacu kepada keseluruhan kethubim. 

Yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Torah, dalam nebi-im, dalam kethubim.”  “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Lukas 24:45).

Sikap dan kesaksian Kristus terhadap Firman Allah ditegaskan kepada kita semua yang memandang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Penghargaan orang Yahudi Orthodoks terhadap Kitab Suci Perjanjian Lama adalah salah satu dari banyak pemandangan yang indah dan memberikan semangat yang pernah Anda lihat.

 

 

PENGHORMATAN ORANG YAHUDI TERHADAP PERJANJIAN LAMA

 

Saya pernah berada di Yerusalem untuk waktu yang singkat setelah perang tahun 1948 yang menyebabkan terciptanya negara Israel modern, dan mereka telah menaklukkan Bukit Zion, yang di puncaknya adalah lokasi di mana secara tradisional terdapat kuburan Raja Daud. Dan mereka memugar kuburan itu, dan membangun sinagoge di situ.  Tempat itu dipenuhi para peziarah dan dijadikan tempat untuk berdoa, terutama bagi para rabi Orthodoks. Dan setelah membaca Torah, Hukum Musa, mereka menciumi gulungan kitab itu. Kemudian mereka menciumi jumbai gulungannya. Dan selanjutnya mereka menciumi sarung atau pembungkus gulungan yang indah itu dan meletakkannya dengan lemah lembut dan hati-hati. Kemudian dengan penuh hormat mereka meletakkan itu ke atas tabut. Seperti yang pernah saya lihat pada orang-orang Yahudi dan para rabi, mereka sangat menghargai dan mengasihi Alkitab Perjanjian Lama.

Alkitab yang Yesus kasihi adalah Kitab Suci Perjanjian Lama kita, kitab demi kitab, kata demi kata. Dan kasih yang Ia miliki untuk Kitab ini adalah kasih yang kita abadikan dalam hati kita, terhadap Kitab yang sama, dan Firman yang sama. 

Jemaat saya telah mengenal saya bertahun-tahun dan mereka tahu bahwa saya adalah orang yang begitu memperhatikan dan mempertahankan Firman Allah yang tidak akan gagal (infallibility) dan tanpa salah (inerrancy). Beberapa jemaat kami setelah lima tahun akan memiliki pandangan yang persis sama dengan saya yang menggembalakan jemaat itu. Mereka merefleksikan persuasi dan konviksinya. Sehingga  jemaat ini telah mendengar khotbah dari gembalanya sampai hari ini sudah tiga puluh tujuh tahun (di sini Dr. W.A. Criswell berbicara pada tanggal 16 November 1980) jadi jemaat ini seharusnya sudah menjadi begitu hormat dan mengasihi Firman Allah.

Ketika Anda melihat dunia Kekristenan lebih luas, dan khususnya apa yang diekspresikan dalam kalangan akademisi mereka, dunia teologi pernah terperosok begitu dalam ke dalam skeptisme berhubungan dengan infallibility dan inspirasi Firman Allah. Dan sebaliknya, sikap yang ditunjukkan Tuhan kita menentang pemikir-pemikir modern ini, yaitu komunitas teologi arus utama ini. Kita telah melihat cara Tuhan memandang Alkitab berbeda dengan apa yang mereka katakan dan cara mereka memandang Alkitab. 

 

 

YESUS DAN PENGHARGAANNYA TERHADAP ALKITAB

 

Sebagai contoh, bagi mereka (yaitu komunitas akademik dari teologi liberal, dan dengan cara itulah saya menjelaskan praktek di kebanyakan kalangan Kekristenan saat ini) bagi mereka, Adam dan Hawa adalah tokoh mitologi belaka. Mereka [Adam dan Hawa] itu tidak nyata. Tidak pernah benar-benar ada apa yang dinamakan dengan Taman Eden itu. Karena kebanyakan dari mereka lebih tertarik dengan penjelasan teologi Darwin tentang dari mana kita berasal. Ras kita ini merupakan hasil pertumbuhan dari lumpur primordial, dan nenek moyang kita adalah chimpanzee, orang hutan, manusia kera dan monyet.

Bertentangan dengan pendirian teologi ini, Tuhan Yesus, dalam Injil Matius pasal sembilan belas, akan mendasarkan dasar rumah tangga, dasar pernikahan, dan dasar keluarga di atas Adam dan Hawa, yaitu bahwa Allah telah menjadikan satu laki-laki untuk satu perempuan, Adam untuk Hawa, dan Hawa untuk Adam, dan bahwa ia (Hawa) diambil dari tulang rusuk Adam, dan daging dari dagingnya, dan tulang dari tulangnya. Dan itu adalah dasar dari tujuan Allah, yang adalah dasar dari stabilitas pernikahan dan rumah tangga. Itu lah Tuhan. Dan itu adalah sikap Tuhan terhadap Alkitab.

Lihat kembali. Bagi semua komunitas akademisi liberal – dan seperti saya katakan, saya sedang berbicara tentang apa yang dipraktekkan dalam kebanyakan kalangan Kekristenan – Kitab Ulangan, kitab kelima dari Kitab Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) bagi seluruh komunitas akademisi liberal, Kitab Ulangan adalah palsu. Ini ditulis untuk bangsa Yahudi pada zaman Raja Yosia seribu tahun setelah Musa yang dianggap telah menulisnya. Itulah sikap komunitas akademisi.  

Tetapi Tuhan Yesus, Ia mengutip Kitab Ulangan lebih banyak dari pada kitab-kitab lain di dalam Alkitab dan mengatakan bahwa itu adalah tulisan Musa. Itu lah kesaksian Yesus.

Lihat kembali. Tidak ada teolog liberal di dunia ini yang percaya keotentikan Kitab Daniel. Bagi mereka, ini adalah dokumen yang palsu dan tidak ditulis seperti yang telah diakui ditulis pada tahun 600 SM, tetapi menurut mereka sebenarnya kitab ini ditulis pada tahun 165 SM. Dan semua nubuatan agung dalam Kitab Daniel pada kenyataannya lebih berhubungan dengan penulisan kembali sejarah walaupun kitab itu adalah kitab nubuatan. Seluruh akademisi, dunia liberal, tanpa terkecuali, percaya bahwa Kitab Daniel adalah dokumen gadungan dan palsu.

Tetapi Tuhan Yesus, dalam Injil Matius 24 akan berbicara tentang Daniel sebagai seorang nabi, nabi besar yang menyampaikan apa yang Allah nyatakan tentang kesudahan zaman yang akan datang. Itu cara Yesus memandang Alkitab.

Lagi. Saya tidak yakin jika ada teolog liberal di dunia yang tidak mengejek dan mentertawakan ide bahwa Yunus pernah ditelan ikan besar. Bagi mereka ini hanyalah lelucon. Dan ketika Anda membaca tulisan-tulisan mereka, fakta seperti itu dapat merusak pikiran yang masih lemah dan belum dewasa imannya.  

Tetapi bagi Tuhan Yesus, seperti yang tertulis dalam Injil Matius 12, Ia mendasarkan fakta kebangkitan-Nya yang agung di atas keluarnya Yunus dari perut ikan paus. Itulah cara Tuhan Yesus menghargai Alkitab.

Saya ingat suatu kali, saya duduk mendengarkan khotbah Lee Scarborough, Rektor Southwestern Seminary dan dia adalah salah satu hamba Allah yang luar biasa. Dan ia pernah berbicara tentang kisah Yunus. Dan ia berkata suatu kali anak lelakinya yang masih kecil pulang dari sekolah Minggu dan berkata, “Ayah, saya telah mendengarkan sebuah cerita di Sekolah Minggu pagi ini yang saya belum bisa percaya.”

Dr. Scarborough berkata, “Baiklah, nak, apa itu?”

Dan anak kecil itu berkata, “Yah, cerita tentang seseorang yang bernama Yunus, dan bahwa ia ditelan oleh ikan besar, dan bahwa ia hidup di dalam perut ikan besar itu selama tiga hari, dan kemudian ikan itu memuntahkannya keluar, dan ia masih hidup. Dan saya tidak bisa percaya hal seperti itu.”

Sehingga sang ayah itu, Dr. Scarborough, memanggil anak itu untuk duduk di sampingnya dan berkata, “Baiklah, nak, marilah ke sini, duduk di sini, kita akan pelejari bersama, karena saya juga memiliki kesulitan dengan cerita Yunus.

Kemudian mereka duduk bersama dan pengkhotbah besar itu berkata kepada anaknya itu, “Sekarang, kamu katakan, apa sebenarnya masalahmu?”

Dan si anak itu berkata, “Yah, Ayah, saya tidak bisa percaya hal seperti itu, bahwa ikan besar itu menelan orang yang bernama Yunus, dan ia hidup di dalam perut ikan itu selama tiga hari, dan kemudian ikan itu memuntahkannya dan orang itu masih hidup. Saya tidak bisa mempercayainya.”

Dan pengkhotbah besar itu berkata, “Baiklah, nak, saya juga memiliki masalah yang sama dengan cerita ini, hanya saja masalah saya sedikit berbeda dengan masalah kamu. Apa yang saya tidak dapat mengerti adalah bagaimana Tuhan dapat menciptakan manusia itu. Saya tidak mengerti itu. Dan saya tidak mengerti bagaimana Tuhan bisa menciptakan ikan besar itu. Saya tidak dapat memahami itu. Jika saya dapat memahami bagaimana kok Allah bisa menciptakan manusia dan ikan besar itu, maka akan menjadi lebih mudah bagi saya untuk memahami bagaimana Ia dapat mempertemukan mereka.”

Bagi Yesus, mujizat Allah yang luar biasa itu adalah sesuatu yang sewajarnya dan ketika Anda melihat sekeliling Anda, jika Anda mau melihat dengan pikiran tidak memihak, Allah menandai nama-Nya pada segala sesuatu bahwa Ia melakukan: “mujizat, hal-hal supranatural, hal-hal yang tak dapat dijelaskan.” Kita tidak mengerti apapun atau kita tidak dapat menjelaskan apapun.  Kita hanya mengobservasinya dan heran. Dan jika Anda berpikir bahwa Anda orang Kristen, tunduklah dalam hadirat sang Pencipta yang agung dan pujilah nama-Nya, itulah Yesus.

Lihat kembali sikap Tuhan kita terhadap Firman Allah ketika Ia berkata, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota (ini adalah huruf yod) atau satu title pun (ini adalah tanduk pada huruf ‘t’, tet alphabet Ibrani), “tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”  (Matius 5:18).

Ini adalah pernyataan yang sangat mengejutkan! Langit dan bumi ini mungkin saja lenyap, hancur, terbakar, namun Firman Allah akan tetap ada untuk selama-lamanya. Ini lah alasan saya mengapa menyukai ayat favorit saya ini: “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Itulah cara Tuhan Yesus memandang Alkitab.

 

 

YESUS BERKHOTBAH DARI ALKITAB

 

Pandanglah Tuhan kita kembali, dalam sikap-Nya, dalam cinta-Nya terhadap Firman Allah. Ia datang untuk berkhotbah. Jika saya dapat mengutip Injil Markus, Ia datang berkhotbah dengan Alkitab di tangan-Nya. Dalam perikop yang indah yang Anda baru baca, Ia memulai pelayanan Mesianik-Nya di sana di Nazaret di tempat di mana Ia tumbuh besar, seperti kebiasaan-Nya, Ia pergi ke sinagog. Dan kelihatannya, seperti kebiasaan-Nya, Ia menyampaikan kepada mereka berita dari Tuhan.

Tidak akan senangkah Anda bila berada di gereja pada waktu itu, memuji Tuhan, dan mendengarkan pengkhotbah yang adalah Yesus dari Nazareth? Dan Ia membuka gulungan kitab Yesaya 61:1-2, dan kemudian Ia mengkhotbahkannya kepada orang-orang yang ada di sana dengan Alkitab di tangan-Nya. Itulah Yesus. 

Dan ketika Ia menyampaikan khotbahnya Ia membuat aplikasi khotbah itu tentang bagaimana Allah menyembuhkan para tawanan dan hati yang terluka, Ia berbicara tentang kasih Tuhan untuk seluruh dunia. Itu adalah Anda, kita semua.

Dan Ia memberikan ilustrasi dari Alkitab di zaman Elia dan bencana kelaparan yang mengerikan. Ia mengutusnya ke Sarfat, kepada janda di Sidon, kepada penyembah berhala. Dan Ia memberikan ilustrasi lagi. Pada zaman Elisa, Naaman, orang Syria, penyembah berhala yang mengalami sakit kusta. Itulah cara Yesus menyampaikan Firman.

Dalam Matius 12, Ia berbicara tentang Ratu Syeba yang datang untuk melihat hikmat Salomo. Dan kemudian mengimplikasikan, “Ada yang lebih besar dari Salomo di sini.” 

Dalam Yohanes 3:14-15, Ia menggunakan kisah yang indah tentang ular yang ditinggikan di padang gurun, sehingga orang yang digigit dan sekarat dapat melihat ular yang ditinggikan itu dan menjadi sembuh dan hidup. Dan Ia berkata, “Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Tak ada sedikitpun syarat kecuali hanya percaya dan kemudian beroleh hidup. Cara ini sangatlah sederhana bagi orang yang mau meresponinya.

Atau dalam Injil Yohanes 6: Ia adalah manna, makanan dari sorga, yang diturunkan dari sorga agar kita boleh memakannya dan hidup.  “Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun. Aku adalah manna itu, orang yang memakannya tidak akan pernah mati.” Itulah Yesus ketika menyampaikan Firman Allah.

Secara terus menerus Ia menggunakan Alkitab untuk memberikan peringatan. Dalam Lukas 10, ini berhubungan dengan Sodom dan Gomorah, kota-kota di lembah itu dan Tirus dan Sidon yang dihakimi oleh Tuhan Allah. Dalam Injil Lukas 17, Ia mengingatkan tentang Nuh dan penghukuman Allah pada zaman Air Bah. Ia juga mengingatkan tentang Lot, ketika kota-kota di lembah itu dihanguskan dengan api. Itulah cara Tuhan menyampaikan Firman. Alkitab.

Dan Ia menggunakan Firman Allah sebagai senjata dalam menghadapi serangan Setan dan para pemimpin Bait Allah yang sinis terhadap Dia dan yang sangat membenci Dia.

Firman Tuhan adalah senjata-Nya untuk menyerang dan bertahan (lihat Markus 12). Markus 12 mulai dengan kisah tentang para penggarap kebun anggur yang jahat yang ketika pemilik kebun anggur mengirim hamba-hambanya untuk mengambil uang sewa: Namun mereka memukuli hamba-hamba itu dan membunuh mereka. Kemudian pemilik kebun anggur ini mengirim anaknya. “Mereka mungkin akan menghormati anaknya.” Ternyata mereka juga membunuh dan melemparkannya keluar dari kebun itu.

Catatan Editor: Demikianlah dengan jelas Yesus memberi kesaksian bahwa Alkitab Firman Allah. Dan Ia bukan hanya memberi kesaksian itu, namun Ia juga sangat menghargai Firman Allah dan selalu menggunakan Firman Allah yang menjadi dasar pengajaran-Nya dan dasar untuk menyerang serta melawan para pengritik Firman Allah.