Daftar Isi

APA YANG SALAH DENGAN KEBERADAAN ATHEIS?

(WHAT’S WRONG WITH BEING AN ATHEIST?)

 

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diadaptasi oleh Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini dkhotbah di Kebaktian Minggu, 2 Januari 1981

First Baptist Church of Dallas, Texas

 

Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah.” (Mazmur 14:1)

 

Salah satu fenomena yang kuat yang dapat Anda temukan adalah bahwa Alkitab dari permulaan sampai akhir, tidak pernah memberikan argumentasi, pembelaan, presentasi atau diskusi forensik yang berhubungan dengan eksistensi dan realitas dan pribadi Allah. Allah mempresentasikan ini; “Pada mulanya Allah…” Ini adalah pengumuman Perjanjian Lama. Perjanjian Baru memulai dengan cara yang sama: “Pada mulanya adalah Logos”; akal, manifestasi Allah yang  telah menciptakan segala sesuatu. “Logos itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran… sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”  

 

            Tidak pernah ada pembelaan, atau pun argumentasi, pengakuan terbuka yang seperti itu tentang kemuliaan dan kehadiran Allah. Hanya orang bodoh lah yang berkata dalam hatinya bahwa Allah tidak ada.

 

            Dalam presentasi tentang Allah dalam Alkitab, itu hanya dikatakan: “Dia ada di sini. Pandanglah Dia. Dengarkan Dia.” Anda pernah menyaksikan ketika seseorang memperkenalkan presiden Amerika Serikat. Namun ketika presiden Amerika Serikat itu datang, biasanya demikian perkenalannya: “Saudara-saudari, ini adalah presiden Amerika Serikat.” Seperti itu lah cara Alkitab memperkenalkan Allah; tanpa perlu argumentasi eksistensinya; tanpa perlu pembelaan realitas-Nya, itu hanya “ini adalah Allah.”

 

            Saya mengajak Anda untuk merenungkan mengapa tidak pernah ada penjelasan lebih lanjut atau argumentasi tentang eksistensi Allah di dalam Alkitab; hanya ini obeservasi saya: “Orang bodoh berkata bahwa Dia tidak ada.” Jadi saya berpikir mengapa Alkitab tidak memberikan apologi lebih luas dalam Alkitab yang membela realitas Allah.  Dan ini menurut saya sangat masuk akal mengapa Allah berkata: “Hanya orang bodoh yang berkata dalam hatinya bahwa tidak ada Allah.” 

 

PERTANYAAN-PERTANYAAN MEREKA

BODOH DAN TIDAK RELEVAN

 

            Pertama; pertanyaan-pertanyaan orang bodoh adalah pertanyaan bodoh dan tidak relevan. Dunia Athena kuno sangat menyanjung pemikir dan filsuf besar yang bernama Plato. Ia mengajar di Akademia. Di sanalah Plato mengumpulkan murid-muridnya. Dan saya dapat membayangkan Plato ketika ia berdiri di sana di depan para muridnya, dikelilingi oleh karya-karya agung, gulungan-gulungan yang telah ia tulis, misalnya buku  Socratic dialogues, termasuk karya literaturnya yang agung yang berjudul The Republic.

 

            Atau saya berpikir tentang pemikir Athena kuno lainnya, Aristoteles yang sedang berdiri di ruang kuliah atau lyceum, sekolah yang didirikannya. Dan murid-muridnya duduk di depannya. Dan Aristoteles dikelilingi oleh karya-karya agung, gulungan-gulungan yang telah ia tulis, misalnya berhubungan tentang fisika dan metafisika. Metafisika adalah apa yang melampaui apa yang dapat disentuh oleh manusia.

 

            Dan saya juga dapat membayangkan di dunia Athena kuno ketika Zeno berdiri di Stoa (serambi) sedang berbicara kepada murid-muridnya yang mereka sebut dengan orang-orang Stoa. Dan ia dikelilingi oleh karya-karya literatur yang agung.

 

            Ketika Plato berdiri di antara karya-karya tulisnya itu, mungkinkah seorang murid di Akedemia itu akan berdiri dan bertanya, “Apakah kamu ada?” Atau ketika Aristoteles berdiri di tengah-tengah Lyceum-nya, akankah ada seorang muridnya yang akan berdiri dan bertanya, “Apakah kamu ada?” Atau ketika Zeno mengajar di stoa/serambi, akankah salah seorang muridnya akan memandang Zeno dan bertanya, “Apakah kamu ada?” Hanya orang bodoh yang mengajukan pertanyaan demikian. 

 

            Saya berpikir tentang Raphael. Raphael adalah pria tampan dan menawan. Dan setiap orang kagum dengan karya-karyanya yang menawan. Ia adalah salah satu pelukis yang sangat berbakat di sepanjang masa. Ia membangun rumahnya di depan St. Peters. Dan di sana ia memiliki lima puluh murid. Dan saya dapat membayangkan Raphael berdiri di tengah karya agungnya seperti “The Coronation of the Virgin,”  “The Adoration of the Magi,”  “The Sistine Madonna.” Dan saya dapat membayangkan salah satu dari murid-muridnya berdiri dan memandang Raphael yang berdiri di antara karya-karya agungnya dan bertanya, “Apakah Anda ada?”

 

Atau Rembrandt yang membangun rumahnya di Bredastraught, di Amsterdam, yang dikelilingi oleh karya-karya agungnya: lukisan tentang Israel atau Yakub yang sedang memberkati dua anak Yusuf; Yohanes Pembaptis; Plato dan kemudian seorang muridnya berdiri dan memandang Rembrandt kemudian bertanya, “Apakah Anda ada? Apakah Anda riil? Apakah Anda hidup?”

 

            Atau saya dapat membayangkan Thomas Alva Edison di laboratorium besar yang dibangun untuknya di West Orange, New Jersey. Yang berdiri di antara karyanya, yaitu lampu listrik yang memberkati banyak orang hari ini. Dan salah satu muridnya bertanya kepadanya, “Edison, apakah Anda ada?”

 

            Orang bodoh berkata dalam hatinya: “Allah, Engkau tidak ada.” Namun Tuhan berdiri di depan kita, berbicara, berjalan, hidup, memberkati dan Ia berdiri di tengah-tengah karya-karya-Nya yang agung; langit menyatakan kemuliaan Allah. Hari demi hari, seluruh dunia menunjukkan pekerjaan tangan-Nya yang ajaib. Dan orang bodoh masih bertanya, “Apakah Engkau ada?” Apa yang salah dengan keberadaan Atheis? Pertanyaan-pertanyaannya tidak relevan dan kurang ajar dan kadang-kadang menghina.

 

            Francis Bacon, adalah pengarang terbesar di Inggris menulis kalimat singkat ini: “Tahu sedikit filsafat cenderung membawa pikiran manusia kepada Atheism, namun pemahaman yang dalam tentang filsafat membawa pikiran manusia berpikir tentang Allah.”  

                       

Manusia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Izinkan saya untuk memberikan ilustrasi yang menunjukkan kecerdasan manusia itu. Ada seorang skeptik datang dan berbicara kepada anak kecil, katanya, “Nak, saya akan berikan apel merah yang besar ini jika kamu bisa menjelaskan kepada saya dimana Allah ada.” Anak kecil itu langsung menjawabnya: “Tuan, saya akan memberikan kepada Anda satu tong apel jika anda dapat menunjukkan kepada saya dimana Dia tidak ada.”

 

Mengapa Allah berkata, “Orang bodoh berkata dalam hatinya tidak ada Allah.” Jawaban pertama yang datang dalam hati saya bahwa pertanyaan-pertanyaan bodoh mereka tidak relevan. Dan jawaban kedua yang berhubungan dengan diskusi tentang atheis ini adalah bahwa spekulasi-spekulasi mereka kosong dan hampa.

 

 

SPEKULASI-SPEKULASI MEREKA

KOSONG DAN HAMPA

 

            Spekulasi-spekulasi mereka kosong dan hampa. Perhatikan dalam Alkitab baik dalam Mazmur 111:10; Amsal 1:7; 9:10, Anda akan membaca di sana “Takut akan Tuhan adalah permulaan dari hikmat.” Permulaan dari hikmat adalah ketika kita menghormati Allah yang mahakuasa. Permulaan hikmat adalah ketika kita menundukkan diri di depan Allah Sang Pencipta dan yang mahakuasa itu.

 

Seorang kakak tingkat di Perguruan Tinggi berkata kepada adik tingkatnya yang baru mendaftar menjadi mahasiswa baru. “Apa yang akan kamu pikirkan jika dalam sepuluh menit saya memberikan kamu argumentasi yang jelas bahwa Allah itu tidak ada.” Mahasiswa baru itu menjawab: “Tuan, saya akan pikir hal yang sama seperti jika seorang anak kecil berkata: ‘Lihat aku akan menghancurkan gunung ini dengan kaki kiriku dalam sepuluh menit.’” Argumen-argumen atheis adalah hampa dan kosong.

 

Atheis memberikan argumen-argumen yang tidak dapat dijelaskan. Mereka tidak pernah bisa memberikan jawaban-jawaban yang intelek tentang misteri dari alam semesta di sekitar kita. Mereka atau yang sekarang sering kita sebut sebagai kaum Humanis tidak pernah memberikan jawaban yang intelek tentang maksud dari kehidupan manusia dan segala sesuatu yang manusia kerjakan dalam bumi ini.

 

Di sisi lain, hal-hal ini dapat dijelaskan dari kaca mata rohani kita, yaitu tentang kebenaran yang kekal dan misteri Allah serta ciptaan-Nya. Rasul Paulus menulisnya di dalam Roma. “Karena apa yang dapat kita ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1:19, 20). Ini adalah penjelasan yang begitu agung dan luar biasa dari Alkitab.

           

Jawaban-jawaban atau pemikiran metafisika dari orang Atheis adalah kosong dan hampa. Itu seperti seseorang minum namun tidak pernah puas. Seperti seseorang sudah makan namun tidak pernah kenyang. seperti membaca buku namun tidak pernah mengerti. Seperti membangun rumah tanpa rencana, seperti mengendarai kereta tanpa kemudi, seperti menghidupi kehidupan tanpa tujuan dan tanpa arti. Allah berkata orang bodoh berkata tidak ada Allah.

 

 

KARAKTERNYA RUSAK

 

Manusia telah mengalami kerusakan dan kebobrokan. Karakternya sebagai orang berdosa telah rusak. Ketika saya mempelajari Alkitab dalam mempersiapkan bab ini, saya sadar pertama kali ketika Paulus menyampaikan tentang kebenaran berhubungan dengan kerusakan atau kebobrokan manusia dalam Roma 3, ia mengutip dari Mazmur. Seluruh manusia telah jatuh ke dalam dosa, pikiran kita telah jatuh ke dalam dosa, kehendak kita telah jatuh ke dalam dosa, keinginan-keinginan kita telah jatuh ke dalam dosa, hidup kita telah jatuh ke dalam dosa. Kita memiliki ras yang telah jatuh ke dalam dosa. Apa yang Allah katakan kepada kita seperti yang Rasul Paulus nyatakan kepada kita, ketika ia berkata: Ketika manusia mengingkari Allah, ia membanjiri dunia ini dengan kejahatan dan kelaknatan. Itu adalah kebenaran yang bersifat universal, kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan lagi atau tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa ketika manusia mengingkari Allah kejahatan membanjiri dunia ini. Ketika manusia membiarkan Allah keluar dari hidupnya dan menginkari keberadaan Allah, karakternya menjadi rusak.

 

            Itulah Atheis! “Orang bodoh berkata dalam hatinya tidak ada Allah.”

 

 

AKHIR HIDUPNYA SANGATLAH HINA

 

Saya akan masuk ke dalam alasan yang keempat, mengapa Alkitab mengatakan bahwa Atheis itu bodoh. Alasan yang keempat adalah bahwa akhir hidupnya sangatlah hina.

 

Pada tahun 1899 di London, Inggris “Society for the Advanced of Atheism” dibentuk. Beberapa tahun yang lalu salah satu dari anggotanya, yaitu presiden perkumpulan ini berbicara berhubungan dengan rasul Paulus. “Untuk rasul Paulus yang buta dalam perjalanan ke Damsyik dan orang-orang yang mengikuti kebutaannya.” Para hadirin yang hadir pada waktu itu tertawa terbahak-bahak sampai presiden yang membuat pernyataan atau lelucon itu jatuh. Kemudian asistennya mendatanginya dan dia sudah mati.

 

Pendahulu saya The First Baptist Church di Muskogee, Oklahoma, dijuluki dengan nama “the George W. Truett of Oklahoma.” Ia terlihat dan berbicara seperti Dr. Truett. Ia adalah hamba Tuhan yang luar biasa dan ia adalah gembala gereja di Muskogee selama 28 tahun. Ia berkata kepada diakonnya, “Ketika saya meninggalkan kehidupan ini saya ingin anda memanggil Dr. Criswell sebagai pengganti saya.” Pada Natal tahun 1940 ia meninggalkan dunia ini dan pergi ke surga. Ketika mereka menemukan khotbah di mejanya yang ia dipersiapkan di saat-saat kematiannya, khotbah itu berjudul “My First Five Minutes in Heaven” (Lima menit Pertama Saya di Surga). Pada Minggu pertama di bulan Januari mereka mengumumkan itu jam 12.30 siang dan pada jam 1.00 mereka memanggil saya untuk menjadi gembala. Kematian para hamba Allah adalah suatu kemenangan. Itu adalah permulaan dan bukan akhir segalanya.

 

Allah berkata bahwa hanya orang bodoh yang mengingkari Tuhan dan menolak iman. Dan itu berarti bahwa orang yang diberkati adalah orang yang memberikan hatinya kepada Allah yang mengasihi Tuhan, yang menjadi anak-anak-Nya di dalam kasih Yesus Kristus. Oh, betapa agungnya berkat Tuhan bagi kita yang memimpin kita kepada Tuhan untuk memperoleh berkat yang ajaib.