Daftar isi

ALLAH DAN AKAL SEHAT

(GOD AND THE REASONING MIND)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini sebelumnya dikhotbahkan di First Baptist Church in Dallas

pada tanggal 18 Januari 1981

 

Salah satu karakteristik Rasul Paulus, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Lukas yang telah bekerja bersama dengannya, menemani dia, mendampingi dia dalam perjalanan pelayanannya, adalah seperti apa yang kemudian Lukas tuliskan mengenai pengalamannya dan tentang Paulus dalam Kitab Kisah Para Rasul. Paulus berdiskusi di Agora, di pasar, di rumah ibadat, bahkan ketika ia berdiri di hadapan seorang penguasa Romawi, yaitu Feliks. Sebagai contoh kita akan membaca Kisah Rasul 17:1-3:

 

“Paulus dan Silas mengambil jalan melalui Amfipolis dan Apolonia dan tiba di Tesalonika. Di situ ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi. Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci. Ia menerangkannya kepada mereka dan menunjukkan, bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: "Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu” (Kisah Rasul 17:1-3).

 

Perhatikanlah klausa deskriptif ini, ia “membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci.”

 

            Kita membaca dalam Kisah Rasul 18:

 

“Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus; … Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani…. Lalu sampailah mereka di Efesus. Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan berbicara dengan orang-orang Yahudi” (Kisah Rasul 8: 1, 4, 19).

 

Sekarang mari kita baca Kisah Rasul 24:

 

“Dan setelah beberapa hari datanglah Feliks bersama-sama dengan isterinya Drusila, seorang Yahudi; ia menyuruh memanggil Paulus, lalu mendengar dari padanya tentang kepercayaan kepada Yesus Kristus. Tetapi ketika Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang, Feliks menjadi takut dan berkata: "Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau” (Kisah Rasul 24:24-25)

 

Apakah yang Feliks pikirkan sebelumnya ketika ia memanggil Paulus untuk mendengar kesaksiannya? Akankah ini menjadi sesuatu yang tak terbayangkan, atau bukan seperti yang diharapkan oleh pejabat itu? Alkitab menjelaskan bahwa Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang.

 

MENGAPA KITA MENCARI JAWABAN?

 

Plato, sang filsuf rasionalis Yunani, memberikan pernyataan seperti ini: “Manusia harus berusaha memberikan berbagai jawaban karena ia adalah manusia, bukan semata-mata kerena ia adalah orang Yunani.” Karakteristik dari orang Yunani adalah suka meneliti dan suka bertanya. Namun Plato mengobservasi bahwa filosofi ini bukan hanya karakteristik orang Yunani melainkan juga karakteristik setiap manusia. Hati kita dipenuhi dengan keingin-tahuan atau menemukan jawaban. Dan lagi ini bukan hanya karakteristik kita yang ingin selalu mencari jawaban yang memuaskan, namun ketika orang lain bertanya kepada kita, kita harus siap sedia untuk memberikan jawaban (band. 1 Petrus 3:15).

 

Tidak lah benar mencemooh argumentasi dan pertanyaan-pertanyaan humanis, materialis, sekuleris, atau pun atheis. Kita harus memberikan jawaban kepada mereka. Atau juga tidak benar mencemooh jemaat kita yang memiliki keraguan dan memiliki pertanyaan. Sungguh mengejutkan karena para gembala dan guru pada abad pertengahan diliputi dengan keraguan dan harus mencari jawaban mengenai pemikiran tentang Allah. Ini tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan kita. Simon Petrus menulis dalam suratnya yang pertama demikian,

 

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15).

 

            Anda semua sudah familiar dengan Yudas ayat tiga yang menasehatkan kita untuk “berjuang mempertahankan” (epagonizesthai) iman. Kita harus membela, bukan tidak menganggap ini penting, atau acuh tak acuh, tetapi dengan perjuangan yang keras. Ini berarti mencari jawaban yang rasional, intelejen, dan dapat diterima sesuai dengan kehendak Allah.

 

            Allah memberikan kita kebebasan dalam pikiran, hati, kehendak dan jiwa kita. Ia telah melakukan itu sejak semula kepada orang tua kita yang pertama.  Mereka memiliki kebebasan memilih. Ini adalah kebebasan roh dan kehendak. Itu adalah kebebasan pikiran dan jiwa yang tidak dapat kita ingkari. Kita dapat menekan atau membatasi tubuh, namun kita tidak dapat membatasi pikiran. Ada potongan syair dari lagu yang mengatakan,

 

Nenek moyang kami terbelenggu dalam penjara-penjara yang gelap

                Namun pikiran dan nurani mereka tidak terbelenggu.

 

            Tubuh saya mungkin bisa dibatasi, namun pikiran saya tidak dapat dibatasi! Jika saya dapat memenangkan pikiran dan hati orang, itu artinya saya telah memenangkan semua orang. Itu lah sebabnya mengapa Allah mengalamatkan Injil-Nya kepada pikiran, hati dan jiwa Anda. Allah adalah kebenaran dan Dia menyatakan dirinya sendiri dalam Yohanes 1:1 sebagai Logos. Apakah Logos itu? Itu adalah pikiran Allah, intelejen Allah. Yohanes 1:1 banyak mengejutkan semua pernyataan filosofi dalam literature manusia. “Pada mulanya adalah Firman,”… akal, pikiran, aktivitas intelejen Allah.  Firman atau Pikiran itu bersama-sama dengan Allah dan Allah adalah Firman. Itu adalah hal yang sungguh menakjubkan ketika Anda memperhatikannya dengan seksama, bukan dengan sikap sinis dan curiga, bahwa Firman Allah melihat bahwa Tuhan kita mengalamatkan berita Injil-Nya kepada intelejen manusia. Lihatlah, perhatikan, telitilah untuk diri Anda sendiri. Ini adalah Injil yang masuk akal, dan bahwa menjadi orang Kristen itu sangat masuk akal.

 

KESAKSIAN DUNIA INTELEKTUAL

 

Sekarang kita sampai pada ketika Paulus ada di Athena sebuah kota pusat universitas dari dunia kuno. Ia berdiri di depan Areopagus, yaitu Mahkamah Agung dari Attica (Supreme Court of Attica), di ibu kota Atena. Ia berdiri di depan orang-orang pintar dan pejabat Athena. Paulus berdiri di depan orang-orang terpelajar Yunani di pusat universitas itu dan menyampaikan argumentasinya. Ia berdiri di depan banyak orang, dan salah satu kelompok yang ada di sana adalah para penyembah berhala politeistis.  Mereka tidak keberatan untuk menerima apa yang mereka sebut “dewa-dewa asing,” yang Paulus sedang beritakan.

 

Ketika Paulus berdiri di depan mereka, mereka tertarik dengan khotbahnya berhubungan dengan “dewa-dewi baru” karena Paulus memberitakan Yesus (dalam bahasa Yunani menggunakan bentuk maskulin yang mereka pikir mengacu kepada seorang dewa) dan anatasis (dalam bahasa Yunani menggunakan bentuk feminim yang mereka pikir mengacu kepada dewi). Paulus berkhotbah tentang “Yesus” dan “kebangkitan.” Orang-orang Athena telah menggantungkan hidup mereka kepada pasangan dewa-dewi. Ada beberapa pasangan dewa-dewi: Jupiter (Jove) dan Juno, Isis dan Osiris, dsb. Jadi ketika Paulus berkhotbah, mereka tertarik dengan “Yesus dan anastasis,” yang mereka asumsikan sebagai pasangan dewa-dewi. Namun demikian Paulus berkhotbah bahwa mereka tidak boleh berpikir tentang pasangan dewa-dewi, keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Paulus berkata bahwa Allah tidak mungkin dapat dipahami dengan pengetahuan terbatas manusia, namun sekarang Dia memerintahkan semua manusia di mana pun juga untuk kembali kepada kebenaran. Para penyembah berhala politheis yang ada dalam kerumunan orang yang mendengarkan khotbah Paulus itu menolak untuk menerima eksklusifitas Yesus sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar.

 

Kelompok lain yang juga ada di sana di tengah kerumunan orang ketika Paulus berkhotbah di Athena adalah filsuf-filsuf yang melihat bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Filsuf-filsuf ini terutama adalah para materialis. Mereka adalah materialis atheistik. Dua kelompok di antaranya disebut dalam Kisah Rasul 17:18,

 

“Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: "Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?" Tetapi yang lain berkata: "Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing." Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya.”

 

Ini adalah suatu konfrontasi yang menarik antara Paulus dan para filsuf Yunani, yang banyak belajar di sepanjang hidup mereka, yaitu Epikuros dan Stoa.

 

Pada zaman dulu ada filsuf Yunani yang bernama Demokritos yang mati pada tahun 370 SM. Ia mengusulkan teori tentang alam semesta yang merupakan kumpulan atom-atom. Dalam bahasa Yunani kata temno  berarti “memotong.” Tomos, adalah bentuk adjektif dari kata ini yang memiliki arti “dapat dipotong” (cutable) atau “dapat dibagi” (devisible). Tambahan huruf “alpha” di depan kata tomos ini atau menjadi “atom”  mengubah arti menjadi “tidak dapat dipotong” (uncutable) atau “tidak dapat dibagi” (indivisible). Demokritos mengusulkan bahwa segala sesuatu berasal dari atom. Ia juga mengajarkan bahwa jiwa manusia juga terdiri dari atom-atom, yaitu atom-atom bundar yang tidak mengait atom-atom lain dan dengan gampang masuk antara semua atom lain. Ketika manusia itu hidup atom itu berkumpul menjadi satu, dan ketika ia mati atom itu terpencar. Seluruh alam semesta terbuat dari partikel-partikel yang “tak dapat dipotong” atau “tak dapat dibagi” ini yang mana Demokritos menyebutnya dengan sebutan “atomos.”

 

Epikuros, yang mati pada tahun 270 SM, persis seratus tahun setelah kematian Demokritos, mengambil filsafat materialistik Demokritos dan mengusulkan pandangannya tentang dunia ini. Kehidupan ini tidak lain selain kumpulan dari atom-atom; ini tidak memiliki arti, tidak memiliki tujuan. Oleh sebab itu, Epikuros mengajarkan bahwa kita harus mencari kesenangan diri kita sendiri selama masih hidup.  Bersenang-senanglah, dapatkan semua yang kamu inginkan untuk memuaskan dirimu. Kalimat yang terkenal, “makan-minumlah sepuasnya, dan nikmatilah perkawinan karena besok kita mati” adalah filsafat Epikuros.

 

Zeno mati kira-kira enam tahun setelah epikuros, yang sedikit berbeda dengan materialis dan atheis. Zeno mengajar di  “stoa” (serambi). Orang-orang yang datang untuk belajar filsafat di sekolah filsafatnya dikenal dengan sebutan orang-orang “Stoa” Zeno mengajarkan bahwa Allah adalah dunia dan dunia adalah Allah. Ia adalah Pantheis murni. Pantheism menyatakan bahwa segala sesuatu adalah Allah. Pengajaran dasar dari Zeno dan aliran Stoa-nya serta Epikuros dan aliran Epikurian-nya selalu bersifat materialistic dan atheistik.

 

KESAKSIAN HATI MANUSIA

 

            Paulus berdiri di depan orang-orang terpelajar dan para politheis juga berkumpul di sana, dan Paulus berkhotbah tentang berita yang berbeda baik secara karakter maupun macamnya dengan apa yang mereka percaya sebelumnya. Paulus berbicara tentang pribadi Allah yang hidup yang kita dapat kenal, rasakan, raba, sembah, muliakan dan layani. Ketika Paulus menyampaikan khotbahnya, pertama-tama ia menyatakan suatu kebenaran universal: hati manusia bersaksi untuk keberadaan atau realitas Allah yang hidup dan berpribadi.

 

“Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.” (Kisah Rasul 17:23-29).

 

Ia berbicara tentang Allah yang tidak jauh, yang tinggal dalam hati kita yang rindu mencari dan menemukan Dia. Semua filsafat dunia tidak dapat  memuaskan kelaparan pikiran dan jeritan hati manusia untuk menemukan Allah. Ini adalah penyataan yang bersifat universal.

 

            Baru-baru ini saya membaca kembali Pengakuan Iman Agustinus (Augustine’s Confession). Dalam paragraf pertamanya adalah kalimat yang sudah sering saya dengar, “Oh, Tuhan, Engkau menjadikan kami semua untuk Engkau sendiri, dan kami resah sampai kami menemukan perhentian di dalam Engkau.” Ada kelaparan untuk menemukan Allah yang bersifat universal.

 

            Almarhum Will Durant, pendiri dan pemimpin departemen filsafat di Columbia University dan penulis volume buku terkenal Story of Philosophy menulis,

 

“Pertanyaan tebesar di zaman kita ini bukan komunisme vs. individualisme, atau Eropa vs Amerika, atau bahkan Timur vs. Barat, namun itu adalah apakah manusia dapat hidup tanpa Allah.”

 

Secara universal ada teriakan berbeda-beda dalam hati manusia membutuhkan Allah. Bahkan pemerintahan komunis Rusia pun tidak dapat menghentikan itu.

 

Misalnya saja dunia kita lebih dekat sedikit dengan matahari, maka kita semua akan terbakar. Kita semua akan mati hangus terbakar. Seluruh alam semesta memiliki tujuan dan desain. Sirip pada ikan memiliki tujuan. Sayap pada burung memiliki tujuan. Tangan manusia yang didesain sedemikian rupa memiliki tujuan. Allah menempatkan jiwa yang lapar akan Dia, dan Ia telah mendesain seperti itu. Hati manusia tidak dapat menyangkal keberadaan Allah.

 

KESAKSIAN REALITAS KRISTUS

 

            Kesaksian yang teragung dari semua bukti eksistensi dan realitas yang Mahatinggi adalah wahyu Allah di dalam Yesus Kristus. “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” ( Yohanes 14:9). Kristus adalah Allah yang dapat dilihat, Allah yang dapat disentuh, Allah yang hidup, Allah yang berinkarnasi. Yesus adalah Tuhan kita.

 

            Satu fakta terbesar yang tidak dapat disangkal di sepanjang masa adalah Yesus Tuhan kita. Dunia tidak dapat menguburnya, bumi tidak cukup dalam untuk mengubur-Nya, awan tidak cukup lebar untuk menyelimuti-Nya, dan batu karang tidak cukup besar untuk menutupi kubur-Nya. Ia bangkit, Dia hidup, Dia naik ke Sorga.

 

            Dia adalah agung. Dia berdiri di antara sejarah manusia. Sebelum Dia disebut tahun-tahun B.C. (Before Christ atau sebelum Kristus), dan setelah Dia datang disebut tahun-tahun A.D. atau anno Domini, atau tahun Tuhan kita. Kelahiran dan kematian-Nya merupakan pusat dari alam semesta. Bangsa-bangsa di Barat menulis dari kiri ke kanan, namun bangsa-bangsa Timur menulis dari kanan ke kiri, dan di tengah adalah Dia, Dia adalah pusatnya. Ia adalah Allah yang menyatakan diri-Nya.

 

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,…” (Kol. 1:15)

 

“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9)

 

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah….” (Ibr. 1:3).

 

“….Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yohanes 14:9).

 

            Mengenal Yesus sama dengan mengenal Allah; mengasihi Yesus sama dengan mengasihi Allah; menyembah Yesus sama dengan menyembah Allah; bersujud kepada Kristus sama dengan bersujud kepada Allah. Ia adalah Allah yang dapat dikenal dan diraba. Ia adalah manifestasi Allah yang berpribadi kepada kita. Penyataan penuh Allah ditemukan di dalam Dia.

 

            Paulus menulis dalam 2 Korintus 4:6,

 

“Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

 

            Kapan Allah memberikan terang pengetahuan kemuliaan-Nya kepada manusia? Apakah itu melalui alam semesta di sekitar kita? Tidak, walaupun semua itu menyatakan kemuliaan-Nya. Apakah melalui pemeliharaan-Nya atas hidup kita dalam sejarah? Tidak, walaupun Dia lah yang memungkinkan sejarah ini terjadi dalam tujuan dan rencana-Nya. Melalui bintang-bintang yang memancarkan cahayanya untuk menyinari kita? Bukan! Ia memimpin kita untuk menemukan Yesus Kristus.

 

            Thomas ketika melihat Tuhan kita yang telah bangkit dan penuh kemuliaan berkata, “Tuhanku dan Allahku!”

 

            Yohanes menulis,

 

Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut’ (Wahyu 1:17-18).

 

            Dia adalah Tuhan kita dan Allah kita! Allah dan akal sehat – kebenaran ini tidak asing, namun sangat masuk akal. Menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah kebenaran sempurna baik di dunia maupun di sorga.