MENGGERAKKAN AMERIKA KEPADA TUHAN

(MOVING AMERICA TOWARD THE MASTER)

 

04-07-82

Mazmur 9:17, Amsal 14:34

 

            Sungguh sangat menyenangkan dapat berada dalam sebuah keluarga yang dapat bernyanyi. Allah mengasih anda dan saya sangat berterimakasih. Saya sangat memuji kebiasaan yang baik dan perhatian yang penuh hormat dari orang-orang muda, pemuda dan pemudi yang berada di akademi kita. Anda adalah penyembah yang sejati di dalam sikap dan semangat anda sama seperti orang-orang dewasa yang berada di lantai bawah ini. Saya sangat berterimakasih untuk anda semua dan pujian yang telah anda kumandangkan.

            Ini adalah waktu makan siang bagi anda semua yang bekerja di pusat kota. Dan jika anda memang harus pergi meninggalkan ibadah ini untuk sebuah urusan penting, anda bebas melakukannya setiap saat dan kami semua dapat memahaminya. Dan jika anda hanya bisa mengikuti ibadah hanya sampai kepada pertengahan atau seperempatnya, kami tetap menyambut anda.  

            Tema tahun ini seperti yang sudah disampaikan oleh Tuan Bristol adalah: AMERIKA BERTEMU TUHAN. Dan judul-judul khotbah kita adalah; Ada Apa Dengan Amerika, Ada Apa Dengan Saya, Hal-Hal Apa Yang Menggerakkan Amerika Kepada Allah, Menggerakkan Saya Kepada Tuhan Saya dan Pesan Yang Agung Dari Yesus. Dan pada pertengahan minggu pra-Paskah ini, judul khotbah kita adalah: MENGGERAKKAN AMERIKA KEPADA TUHAN.

            Ada dua teks yang akan menjadi latar belakang khotbah kita. Yang pertama terdapat dalam Mazmur 9: 18: “Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati, ya, segala bangsa yang melupakan Allah.” 

            Dan kitab selanjutnya yaitu Amsal 14:34, “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.”

            Menggerakkan Amerika kepada Tuhan. Kita memandang Amerika dengan rasa bangga dan penuh syukur, tanah kelahiran kita yang terbentang luas, yang memiliki daratan yang lebar; sebuah bangsa yang indah. Negara yang permai dengan kota-kota yang padat penduduknya dan sungai-sungai yang berliku-liku, padang rumput yang luas serta puncak pegunungan yang ditutupi salju yang menjangkau Allah di sorga. 

            Beberapa tahun yang lalu saya mengadakan sebuah perjalanan misi dan saya pergi selama empat bulan penuh. Saya sangat mengingat perasaan yang ada di dalam hati saya ketika pulang, ke daerah bagian barat. Pada tengah malam waktu pagi, kapten pesawat berbicara melalui pengeras suara di pesawat dan berkata, “Lampu-lampu yang anda lihat berikutnya yang berada di sebelah kanan anda merupakan lampu-lampu yang berasal dari Kalifornia.” Dan setelah bepergian selama berbulan-bulan, hal itu rasanya seperti sebuah pengumuman yang berasal dari sorga kepada saya.

            Ini adalah semangat dari  Sir Walter Scott dalam sebuah syair yang ditulisnya:

 

Ada seseorang yang bernafas di sana dengan jiwa yang mati

Yang tidak pernah berkata kepada dirinya sendiri

Ini adalah milikku, tanah kelahiranku

Yang hatinya tidak pernah berkobar-kobar

Seperti jejak langkahnya yang letih dalam  perjalanan pulang

Dari pengembaraan yang terdampar di negri asing

Jika ada sebuah nafas di sana

Menjadi tanda yang baik bagi dia

Sebab baginya tidak ada yang hebat dari hal itu

 

            Dan jika kita melihat dunia ini dari masa lalu hingga sekarang ini, tidak ada negara lain yang dapat dibandingkan dengan  negara kita yang tercinta ini yaitu Amerika. Saya dapat merasakan hal itu melampaui setiap suku kata atau kalimat yang dapat saya ungkapkan di dalam kunjungan saya yang pertama ke Rusia.

            Kami mendarat pada waktu tengah malam di Leningrad. Kami menginap di Hotel Eropa dan pagi berikutnya kami berkeliling untuk melihat-lihat kota itu, saya berjalan keluar pintu menelusuri jalan-jalan kota itu, dan kemudian saya pergi ke sebuah taman besar pada blok berikutnya. Dan ketika saya berdiri di sudut jalan, di seberang jalan itu saya melihat sebuah bangunan gereja yang sangat indah, bangunan yang sangat indah. Dan bangunan itu telah dialihfungsikan menjadi sebuah stasiun kereta.

            Saya terus berjalan di sepanjang jalan utama, dan menemukan sebuah bangunan gereja yang lain. Dan gedung itu telah berubah menjadi sebuah lumbung. Dan saya tetap berjalan pada jalan yang sama, dan melihat sebuah gedung gereja lain yang sangat indah, dan telah berubah menjadi sebuah gudang. Saya tetap berjalan menelusuri jalan utama itu dan sampai ke Katedral Kazon yang sangat terkenal. Ketika saya masuk ke dalam bangunan yang indah itu, di dalamnya telah diubah menjadi sebuah ruangan yang menampilkan  gambaran tentang atheisme.           

Hari berikutnya, saya mengunjungi St. Isaac’s Cathedral, tempat dimana Tsar Rusia beribadah. Salah satu katerdal yang paling besar dan paling megah di Eropa Selatan. Dalam katedral itu, tempat di mana dulunya altarnya yang tinggi berada, di sebelah sisinya ada foto Tetlaph. Dan di atas sisi yang lain ada sebuah foto dari Gargarin, gambar dari dua orang astronot mereka yang pertama.

            Dan dibawahnya ada sebuah tulisan dalam bahasa Rusia, Jerman, Prancis dan Inggris yang berbunyi: Kami telah menyelusuri sorga dan tidak ada Allah.  

            Ketika saya melihat itu dan mengingat negara saya, yang tidak hanya memiliki keindahan dari sungai-sungainya, pegunungannya, padang rumputnya dan kota-kotanya, akan tetapi juga merupakan sebuah negara yang memiliki gereja-gereja yang terbuka, jemaat yang bebas beribadah, institusi-institusi Kristen, sekolah-sekolah Kristen, yang di dalamnya terdapat putra-putri anda yang hadir pada siang ini; saya merasakan sebuah hati yang terangkat ketika saya mengingat negara kita dan kebebasan serta kemerdekaan yang kita nikmati di sini. 

Penghormatan terhadap Amerika kita

Sepanjang jalan di sana, terdengar sebuah bunyi terompet

Bunyi drum yang riuh

Cahaya warna-warni memenuhi udara

Penghormatan terhadap bendera yang berkibar

Tanda dari sebuah bangsa yang kuat dan besar

Terhadap rakyatnya dari orang asing yang salah

Kuasa dan kemuliaan dan kekuatan

Hidup dalam warna-warna untuk berdiri atau jatuh

Berikanlah penghormatan

Sepanjang jalan di sana

Bunyi terompet dan drum yang riuh

Hati yang loyal terangkat tinggi

Berikan penghormatan, terhadap bendera yang berkibar.

 

            Amerika kita yang tercinta; koloni kita telah berjuang untuk mendirikan bangsa ini dan menulis konstitusinya dengan pertolongan dari Allah Yang Mahatinggi. Pada tahun 1787, ada 55 orang negarawan yang gagah berani yang mengadakan pertemuan di Balai Kemerdekaan di Philadelphia untuk menulis Konstitusi dari 13 koloni itu.

            Di atas meja yang berada di depan mereka terdapat satu kitab yaitu Alkitab. Dan pada pertemuan itu, seorang pengunjung dari Inggris bertanya yang manakah George Washington? Dan jawaban yang diperolehnya adalah, “Seseorang yang berlutut ketika Kongres berdoa adalah George Washington.”

            Dan mereka telah melupakan sebuah istrumen yang telah mendidik putra dan putri mereka dan generasi yang lalu hingga generasi yang sekarang. Mereka mencari sebuah instrument yang akan memberikan jaminan terhadap hak-hak dan kemerdekaan bagi rakyat Amerika. Dan menjadi sebuah pertahanan terhadap tirani dan penjajahan.       Untuk sebuah model, pertama sekali mereka berpaling ke Spanyol dan menemukan bahwa di sana hak-hak dan kebebasan dijamin oleh sebuah monarki. Akan tetapi, kata para pendiri negara ini, jika sebuah monarki dapat menjamin hak-hak dan kebebasan rakyat maka monarki yang sama dapat menyingkirkannya.

            Selanjutnya mereka berpaling ke Inggris untuk menemukan sebuah model bagi pemerintahan kita; dan di sana mereka menemukan bahwa hak-hak dan kemerdekaan dari rakyat dijamin oleh sebuah parlemen. “Tetapi,” kata mereka, “jika sebuah parlemen dapat memberikan jaminan terhadap hak-hak dan kemerdekaan rakyat, maka parlemen yang sama dapat menyingkirkan hal itu.”

            Mereka kemudian berpaling ke Prancis untuk sebuah model bagi pemerintahan kita, dan menemukan bahwa di Prancis, hak-hak dan kemerdekaan rakyat dijamin oleh sebuah keputusan sebuah mayoritas. “Tetapi,” kata mereka, “jika sebuah suara mayoritas dapat memberikan jaminan terhadap hak-hak dan kemerdekaan, maka mayoritas yang sama itu dapat menyingkirkannya.”

            Kemudian akhirnya bapa-bapa pendiri negara ini dalam menuliskan konstitusi negara kita berpaling kepada Allah dan menemukan bahwa hak-hak dan kebebasan dari sebuah rakyat dapat dijamin di dalam karakter dari Allah yang Mahatinggi. Dari firman Allah mereka menemukan dan merumuskan konstitusi dari negara Amerika.

            Dan negara kita serta bangsa kita ini dibangun atas dasar kehidupan orang Kristen, keluarga Kristen dan karakter Kristen.

            Ketika saya masih muda seperti anak-anak muda yang ada di sini, saya sangat menyukai deklamasi. Deklamasi merupakan sebuah pidato kepahlawanan yang indah dan luar biasa yang disampaikan oleh orang-orang terkemuka Amerika. Dan kemudian kita mengenangnya serta menyampaikan hal itu. Saya pernah mendapat sebuah piala perak dalam sebuah lomba deklamasi. Beberapa dari antaranya masih tetap saya ingat hingga hari ini sama seperti pada saat saya menyampaikannya. 

            Salah satu dari antaranya yang paling berkesan bagi saya berasal dari Henry W. Gradey, editor dari  Atlanta Constitution, seseorang yang memiliki lidah perak yang berasal dari bagian selatan. Berikut ini merupakan ringkasan dari apa yang telah dia sampaikan:

Orator yang ulung itu berkata, “Saya telah berdiri di Hampton Roads di Teluk Chesapeake di bulan Juli pada peringatan kemerdekaan Amerika dan di sana saya melihat pemandangan dari kekuatan Angkatan Laut Amerika. Dan kemudian di sepanjang pantai, ada parade kekuatan pasukan kita. Ketika saya melihat angkatan laut itu dan juga ketika saya melihat ke arah pasukan itu, saya berkata, ‘Sungguh kekuatan Amerika terdapat di dalam militernya dan kemampuan angkatan lautnya.”’

Kemudian orator yang terkemuka itu berkata bahwa beberapa waktu kemudian dia berdiri di bawah kubah dari Capitol Building di Washington, D.C.  Dan ketika dia melihat proses demokrasi, dia berkata, “Sesungguhnya kekuatan dan kemampuan dan kemuliaan Amerika terletak di dalam institusi demokrasinya, di dalam majelis pemerintahannya.” 

Kemudian di dalam sebuah kesan yang mendalam, dia berkata selanjutnya dia diundang menjadi tamu di sebuah rumah di Georgia, di pertanian salah satu teman lamanya yang telah dia kenal semenjak masih kanak-kanak. Dan di penghujung hari, setelah seluruh pekerjaan selesai dilakukan, sang ayah mengumpulkan seluruh anggota keluarganya bersama-sama dan dia membuka Alkitab dan membacanya. Kemudian dia berlutut dengan istrinya dan anak-anaknya di dalam doa.

Dan  Henry W. Grady berkata, saat dia melihat dan berlutut bersama dengan temannya itu beserta dengan keluarganya di depan sebuah Alkitab yang terbuka, sesuatu muncul dalam pikirannya, dia berpikir kebesaran dari angkatan laut Amerika dan kemampuan militer Amerika akan lenyap. Bahkan Gedung DPR AS dan institusi-institusi pembuat hukumnya akan lenyap. Yang tersisa hanyalah orang saleh ini yang berlutut di depan sebuah Alkitab.

            Kemudian dia berkata, “Saya telah belajar bahwa kekuatan Amerika terletak di dalam kehidupan rakyatnya yang saleh. Di dalam keluarga Kristen, dan para ayah yang berdoa.”

            Kita akan berhenti sejenak untuk melihat ke masa depan, dan kita akan berpaling ke sejarah masa lalu. Sekalipun kita hidup atau sekalipun kita mati, kita akan menghadap Allah Yang Mahatinggi, hakim dari semua bangsa-bangsa. Sejarah bertebaran di sepanjang pantai dari kisah umat manusia yang secara literal ditutupi oleh rongsokan imperium-imperium besar pada masa lalu, bangsa-bangsa yang telah melupakan Allah.      Di bawah pandangan mata kita dan di bawah tatapan kita, kita telah melihat keruntuhan dan perpecahan imperium besar yang terdapat di dunia. Salah satunya adalah Britania Raya atau Inggris Raya. Kekuasaan mereka terbentang luas.

            Pada perayaan Jubelium Permata yang kedua dari Ratu Viktoria di akhir abad kesembilan belas ini, ada sebuah parade di depan dunia, sebuah parade dari kekuasaan dan kekuatan yang besar yang pernah dilihat dunia. Dan diakhir dari perayaan itu, salah satu penyair mereka yaitu Rudyard Kipling menulis syair ini.

 

Allah dari leluhur kami yang dikenal dari dulu

Tuhan dari  garis pertempuran kami yang sangat luas

Yang dibawah tanganNya yang dahsyat kami bernaung

Yang berkuasa atas pohon-pohon palem dan pinus

Tuhan balatentara sorga, sertailah kami selalu

Jangan pernah sampai kami lupakan-jangan pernah sampai kami lupakan

Yang memanggil dari jauh, angkatan laut kami yang menghilang

Atas pesisir dan tanjung yang tenggelam dalam api

Tuhan, segala kebesaran masa lalu kami

Adalah sama dengan Niniwe dan Tirus

Hukuman terhadap bangsa-bangsa, menyerakkan kami kemudian,

Jangan pernah sampai kami lupakan-jangan pernah sampai kami lupakan

….

Jika mabuk dengan tanda kekuasaan, kami akan terhilang

Lidah yang liar yang tidak memegang engkau dalam keterpesonaan

Sama seperti mulut besar yang digunakan oleh orang kafir

Atau generasi tanpa hukum—

Tuhan balatentara sorga, sertailah kami selalu

Jang pernah sampai kami lupakan—jangan pernah sampai kami lupakan.

 

            Dan seluruh Inggris berpaling dari Allah. Salah satu dari pendeta mereka berkata kepada saya, “Satu dari seratus orang di kota London tidak pernah mengunjungi gereja.” Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati, ya, segala bangsa yang melupakan Allah. Begitu juga Amerika tidak akan mendapat pengecualian terhadap hukuman dari Allah yang Mahatinggi. 

            Kita sedang melihat keruntuhan yang menakutkan serta mengerikan di dalam negara kita. Kita memiliki obat-obat terlarang yang mengoyakkan bagian tubuh kita. Perzinahan yang mengoyakkan hubungan keluarga. Kejahatan yang merobek-robek kota kita. Humanisme yang mengoyak sekolah-sekolah kita. Sekularisme yang mengoyakkan warisan kekristenan kita. Bidat-bidat yang mengoyakkan gereja-gereja kita. Dan negara kita mulai berdarah, sakit, terluka dan sedang runtuh.     

            Ketika saya masih kecil, kami tinggal dalam sebuah daerah pertanian yang terletak di dekat sebuah kota kecil di Panhandle Texas; daerah yang kering, panas, dan berangin keras. Dan saya mengingat ketika saya sedang berdiri di belakang pintu pertanian kami bersama dengan ayah saya dan saya mendengar saya berteriak dengan suara yang nyaring. Ayah saya adalah salah seorang yang sangat tenang dan pendiam, dan hampir pemalu. Dan untuk mendengar dia berteriak adalah sesuatu yang menakjubkan bagi saya sebagai seorang anak yang masih kecil.

Dan saya melihat ke arah wajahnya dan berkata, “Ayah, mengapa engkau berteriak demikian? Mengapa?” Dan dia menjawab, “Nak Lihat. Hujan turun, hujan telah turun! Allah telah mengirim hujan kepada kita.” Itu berarti makanan bagi mulut kita yang lapar. Roti bagi jiwa kita kita yang lapar. Pakaian bagi ketelanjangan kita. Kaos bagi kaki kita. Itu adalah kehidupan bagi keluarga kita. “Nak, Allah telah mengirim hujan kepada kita.” 

Oh, datanglah banjir atas negri yang kehausan

Oh, untuk sebuah kebangunan rohani yang besar

. Oh, untuk sebuah rasa tidak takut, bagi manusia yang kudus

Yang bersiap untuk hujan kedatanganNya

Kebutuhan dari negri ini adalah kebangunan rohani

Sebuah anugerah yang segar yang berasal dari atas

Pertobatan kepada Allah dan pengampunan

Semakin lebih percaya kepada Kritus dan kasihNya

Kebutuhan dari gereja adalah kebangun rohani

Semakin lebih banyak berdoa untuk orang yang terhilang

Semakin dipenuhi roh dan kesaksian

Semakin bersemangat tanpa harus memperhitungkan harga yang harus dibayar

.

            Allah telah mengirimkan hal itu pada masa kita dan biarkan mata kita memandang ke atasnya. 

            Da ya Tuhan kami, di dalam roh yang penuh dengan doa permohonan atas campur tanganMu, biarlah setiap orang dari kami menemukan di dalam dirinya sendiri sebuah kekuatan untuk membuka hati dan jiwa serta hidupnya ke dalam tangan Allah dan kehendak sorga. Lawatlah kami Tuhan dari atas, di dalam namaMu yang menyelamatkan, dan yang memelihara kami. Amin.