KITA MENGUNJUNGI PENDETA TIMOTIUS

(WE VISIT PASTOR TIMOTHY)

 

Dr. W. A. Criswell

 

2 Timotius 1:4

05-21-95

 

DR. HAROLD RAWLINGS, GEMBALA DARI BAIT SUCI BAPTIST LANDMARK, CINCINNATI, OHIO:

 

 

Itu adalah putri kami yang bungsu, dan lagu itu adalah salah satu dari lagu kesukaan saya. Sebelum saya memperkenalkan pembicara kita pada malam hari ini, saya juga ingin menyampaikan kepada saudara-saudara sekalian suatu permintaan doa atas nama bapa saya. Persis sebelum kebaktian pada malam hari ini di mulai saya baru saja diberitahukan bahwa bapa saya itu telah di bawa ke rumah sakit siang hari tadi karena penyakit batu ginjal. Tetapi dia sudah pulang ke rumah, sehingga saya tidak tahu dengan persis apa yang menjadi situasi sepenuhnya di sana, dan ketika kami mendapatkan informasi yang lebih lanjut lagi, kami akan menyampaikan kabar berita tersebut kepada saudara-saudara sekalian. Akan tetapi pastikanlah untuk mengingat beliau di dalam doa-doa saudara-saudara sekalian.

 

Autobiografi Dr. W. A. Criswell – dan saya berharap supaya saudara-saudara sekalian dapat membeli buku itu, paling tidak memesannya malam hari ini setelah kebaktian usai – saya memiliki sebuah kisah yang menarik yang ingin saya sampaikan kepada saudara-saudara sekalian. Kisah itu berhubungan dengan sebuah pengalaman dengan tugas kependetaannya di Muskogee, Oklahoma. Dan hal ini terjadi sebelum dia bertugas di gereja First Baptist di kota Dallas. Dr. Criswell mengembangkan suatu kasih yang nyata untuk suatu perasaan kasih terhadap bangsa Indian suku Cherokee. Dan dia menceritakannya di dalam buku tersebut bagaimana sehingga kadang kala dia akan berbicara kepada kaum Indian Cherokee Baptist yang dekat dengan kota Muskogee ketika mereka akan bertemu di musim gugur.

 

Dan mereka tidak memeiliki sebuah gedung yang cukup untuk memondokkan seluruh kaum Indian Cherokee yang akan berkumpul untuk maksud pertemuan besar tersebut. Jadi Dr. Criswell merasakannya di dalam hatinya untuk mulai mengumpulkan dana untuk sebuah Kemah Tuhan, sebuah gedung raksasa, sehingga orang-orang Indian Cherokee ini dapat memiliki sebuah tempat untuk pertemuan. Maka dia pergi ke depan jemaatnya dan dia manyampaikan permohonannya, dan dia berbicara kepada gereja-gereja lainnya di seluruh wilayah Oklahoma, dan mulai mengumpulkan dana. Dan pada akhirnya mereka mengumpulkan uang yang cukup untuk mendirikan Kemah Tuhan itu.

 

Dan kemudian pertemuan itu diadakan dengan kaum Cherokee itu, dan kepada mereka diserahkan uang untuk mendirikan Kemah Tuhan itu. Dan mereka berkata, “Kami akan mendirikannya.” Baiklah, minggu-minggu berlalu, dan kemudian bulan demi bulanpun berlalu, dan tidak banyak kemajuan yang telah diperoleh untuk membuat kemah Tuhan itu berdiri. Dr. Criswell kemudian melakukan perjalanan ke sana, dia telah memperhatikan hanya secuil dinding yang telah berdiri, lalu dia memanggil dan berkata, “Apakah ada yang keliru? Mengapa kita tidak dapat membuat gedung ini berlangsung?”  Lalu kemudian beberapa bulan lagi berlalu dan akhirnya genap setahun.

 

Dr. Criswell memanggil ketuanya dan meminta jika saja dia dapat berbicara pada pertemuan dan mungkin memberikan mereka sedikit dorongan semangat untuk membuat pembangunan itu berlangsung. Dan demikian mereka berkata, “Pasti, anda dapat tampil dan berbicara kepada kami.” Dan kemudian dia datang, dan beberapa ratus orang dari suku Cherokee Indian berkumpul di kesempatan yang hikmat itu dan di sana sudah ada beberapa orang pembicara, akhirnya ketua sidang memperkenalkan Dr. Criswell. Tetapi sebelum dia menyelesaikan perkenalannya, dia mengatakan sesuatu kepada mereka dengan menggunakan bahasa Cherokee yang tidak dipahami oleh pendeta Criswell. Dan ketika dia menyelesaikan kisah kecilnya itu, tawa dari jemaat itu meledak.

 

Dan kemudian dia menyerahkannya kepada Dr. Criswell, dan dia berkata, “Sekarang, beritahukan kepada saya, apa yang anda tertwakan tadi?” 

 

Ketua sidang itu berkata, “Saya khawatir, saya tidak dapat menceritakannya kepada anda. Saya merasa malu untuk menceritakannya kepada anda.”

 

Dan Dr. Criswell di dalam caranya yang tidak dapat ditiru itu berkata, “Baiklah, Saya tidak akan berbicara kepada saudara-saudara sekalian sampai anda memberitahukan saya apa yang telah anda katakan kepada mereka.”

 

Dan dia berkata, “Baiklah, kisahnya adalah seperti ini.” Dia berkata, “Kakek saya menjalani kembali  Jalan Kecil Air Mata dari Carolina Utara di sepanjang jalan menuju Oklahoma ketika pemerintah memindahkan suku Indians dan memaksa mereka untuk tinggal di sana di dareah penampungan di Oklahoma.” Dan kepadanya telah diberikan sebuah alur tanah yang kecil untuk bertani, dan kemudian dia mulai untuk mengolah alur tanah yang kecil tersebut.

 

Dan pada suatu hari dia sedang membajak tanah itu dengan seekor lembu jantan. Dan ketika dia sedang membajaknya, hari begitu panasnya, dan lembu jantan itu sepanjang pagi itu benar-benar berhenti sama sekali dan berbaring di atas salah satu alur tersebut. Nah, orang tua Indian dari suku Cherokee itu mencoba semampunya untuk membuat lembu jantan itu berdiri. Dia berteriak dan dia menendang lembu itu. Dia mengambil sebilah tonggat dan memukulnya. Dan seluruh usahanya itui tidak bermanfaat. Dan pada akhirnya dia pergi ke bagian belakang lembu jantan itu dan menarik ekornya dan mengikatnya pada sebuah tambatan, dan dan dia mengikatkannya sekeras apa yang dapat ditariknya. Dan lembu jantan itu melompat keluar dari alur tersebut dan mulai membajak dan membajak sepanjang sisa hari tersebut tanpa ada kejadian. Dan kemudian orang dari suku Cherokee, ketua sidang itu berkata kepada jemaat itu, “Malam hari ini Dr. Criswell berada di sini untuk mengikat ekor kita dan mendapatkan perhatian kita.”

 

Nah, saya percaya saya dapat berkata sama baiknya dengan Dr. W. A. Criswell itu, dari gereja First Baptist yang agung di pusat kota Dallas, yang malam hari ini berada di sini untuk mengikatkan sebuah simpul di ekor kita untuk membuat kita bergerak menuju Tuhan Allah. Marilah kita memberikan tepuk tangan sebagai sambutan atas kedatangannya.

 

DR. W. A. CRISWELL:

 

Ah, anda sungguh lucu. Anda sungguh lucu. Diberkatilah hatimu. Wah, saya harap saya memiliki sekitar satu jam atau dua atau tiga jam dan memberitahukan hal-hal yang terjadi dengan orang-orang Indian suku Cherokee itu kepada saudara-saudara sekalian. Wow!  Salah satu hal yang paling luar biasa adalah, kembali ke belakang sana – anda lihat, kita berbicara tentang lima puluh lima tahun yang lalu – pada saat itu, rambut istri saya masih berwarna sangat hitam, dan dia memiliki kulit yang begitu mulus dan sepasang mata yang berwarna coklat tua. Dan kepadanya telah saya jelaskan ketika saya meminta dia untuk membawanya ke daerah dari suku Cherokee itu, saya katakan, “Sekarang, saya ingin supaya kamu memahami bahwa mereka tidak akan berbicara kepada kamu, mereka tidak akan mengenal kamu, mereka tidak akan memperhatikan kamu sampai kamu menjadi mengerti tentang mereka. Akan tetapi jika kamu adalah orang asing, mereka hanya akan melewati kamu saja.”

 

Maka ketika saya membawanya ke sana, yang menjadi kekaguman saya, astaga, ketika dia berjalam memasuki tempat perkemahan itu, mereka menyambut dia. Mereka berbicara dengan dia. Mereka mengunjungi dia. Mereka merangkul dia. Mereka memeluk dia. Ah, saya begitu terkesima. Dan saya berpaling kepada kepala suku Cherokee itu dan saya berkata, “Apa yang terjadi di sini? Mereka telah memberitahukan saya seandainya saya membawa istri saya di sini, dan dia menjadi orang asing di sini, tidak akan ada yang berbicara kepadanya sampai waktu yang tidak diberitahukan mereka.”

 

Dan dia menunjukkan tangannya kepada istri saya, dan dia berkata, “Dia Cherokee. Lihatlah rambut itu. Dia Cherokee. Lihatlah kulit itu. Dia Cherokee. Lihatlanh tulang pipi yang tinggi itu. Dia Cherokee. Lihatlah pada kedua mata itu. Dia Cherokee.”  Dan saya mendapatkan sebuah jalan masuk yang luar biasa ke dalam bangsa itu dan dengan memperhitungkan istri saya yang berambut hitam, corak kulit yang agak gelap.

 

Baiklah, saya hanya suka berada dekat dengan orang-orang yang terkasih itu. Dan mereka semua adalah jemaat gereja Baptist. Hal itu membuat segala apa yang pernah saya lihat menjadi terpukul. Mereka semua adalah jemaat gereja Baptist. Dan kami mendirikan Kemah Tuhan yang besar itu yang berkapasitas tempat duduk sebanyak kira-kira tiga ribu lima ratus orang itu. Dan luar biasanya, saya begitu bangga terhadap suku bangsa Cherokee itu, saya hampir tidak dapat melukiskannya.

 

Baiklah nak, seharusnya anda harus bangga dengan anak gadis pirang yang cantik di sebelah sana itu yang barusan saja menyanyi itu. Manusia hidup. Dan dia beru saja menikah. Bukankah itu benar? Dia baru saja menikah. Sungguh beruntung anak laki-laki itu. Sudah pasti tidak rugi memiliki istri yang demikian cantiknya. Tuhan memberkatinya dengan suaranya yang indah yang telah dikaruniakan Tuhan Allah kepadanya.

 

Baiklah, di sini, saya telah satu harian berada di sini, dan saya belum menyampaikan salam kepada saudara-saudara sekalian dari seluruh wilayah negara bagian Texas. Texas adalah suatu tempat, sebuah negara bagian, di mana setiap gundukan tanah ialah sebuah ggunung, dan setiap oasis kering adalah sebuah sungai, dan setiap lubang di tanah merupakan sebuah sumur minyak, dan setiap orang adalah pendusta. Itulah Texas. Heh, heh, heh! Ah, pendeta, sungguh merupakan hal yang patut disyukuri untuk bersama-sama dengan anda dan orang-orang yang menyenangkan, menghargai serta yang memberikan harapan.

 

Judul dari khotbah untuk malam hari ini ialah “Kita Mengunjungi Pendeta Timotius.” Dan nas bacaannya berada di dalam surat Paulus yang kedua kepada anaknya dalam tugas pelayanan, Timotius, yang dimulai dari pasal yang pertama:

 

“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,

Kepada Timotius, anakku yang kekasih; kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kau curahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”

 

Sekarang di dalam ayat yang keempat, apakah saudara-saudara memperhatikan anak kalimat itu, “aku ingin melihat engkau kembali”? Maka saya berfikir bahwa kita akan mengunjungi pendeta Timotius. Gerejanya berada di kota kuno Yunani yaitu di kota Efesus. Dan dari segala hal yang dapat saya gali dan segalanya yang dapat saya ingat dari kunjungan saya ke sana, melihat pada apa saja yang telah digali oleh para arkeolog selama dua ratus tahun lamanya, hampir dapat dipastikan bahwa kota Efesus merupakan kota Yunani yang paling indah yang pernah dilihat dunia ini. Kota itu bertempat di sebelah timur laut Mediterania dan pada waktu itu kota Efesus merupakan sebuah kota pelabuhan.

 

Sungai Kaister mengalir melalui pertengahan kota tersebut, dan selama berabad-abad endapan batuan sedimennya terbawa oleh arus sungai tersebut sehingga memenuhi pantai sehingga sisa-sisanya di zaman sekarang ini berada sepanjang enam mil sampai ke pedalaman. Tetapi ketika Paulus berada di sana dan Timotius ditunjuk sebagai pendeta di gereja tersebut di sana, kota itu merupakan sebuah kota pelabuhan laut yang besar.

 

Seperti yang telah saya katakan, para arkeolog ini telah mengadakan penggalian di sana selama beberapa dekade lamanya. Dan ketika saudara-saudara sekalian melihat kepadanya, saudara-saudara hampir-hampir tidak dapat mempercayai bahwa kota seperti itu benar-benar pernah ada. Saudara-saudara dapat berjalan di jalan raya yang begitu lebar, dan pada masing-masing sisinya terdapat barisan tiang-tiang Yunani dari Korintus. Saya tidak pernah melihat sesuatu hal yang seperti itu di dunia ini, jalanan kotanya, jalan raya di kota metropolisnya, dibatasi dengan tiang-tiang Korintus yang indah.

 

Kemudian ketika kita meneruskan perjalanan melalui sepanjang kota, kita sampai ke panggung pertunjukan itu, panggung yang di pahat dari batu padat, yang berkapasitas tempat duduk sebanyak dua puluh empat ribu orang. Dan di puncaknya anda dapat mendengar seseorang berbisik di pentas. Saya sudah pernah berkhotbah di dalamnya. Panggung itu merupakan sebuah tempat yang mengagumkan untuk drama dan kebaktian.

 

Lalu kemudian ketika kita melanjutkan perjalanan berjalan di sepanjang jalan di dalam kota tersebut, kita sampai ke tempat dari salah satu dari tujuh keajaiban di dunia, kuil Artemis, atau di dalam bahasa Latin disebut juga dengan Diana. Selama hidup saya, saya tidak pernah melihat apapun yang dapat diperbandingkan dengan sekeping kecil strukutur bangunan yang sangat besar itu yang telah digali dan dilindungi itu. Kuil itu empat kali lebih besar dari pada Parthenon di kota Athena dan kuil itu merupakan keajaiban dunia. Jika saudara-saudara pernah berkunjung ke museum di kota London yang bernama British Museum, ada sebuah dasar dari tiang-tiang dari kuil Artemis itu yang dapat saudara-saudara lihat. Itu merupakan kepingan pualam yang terbesar yang pernah saya lihat di dalam hidup saya. Dan di sekelilingnya ada patung-patung yang dipahat, seukuran dengan tubuh manusia. Ada sebanyak 274 tiang seperti itu di dalam bangunan yang tiada bandingannya itu, di dalam salah satu bangunan dari tujuh keajaiban di dunia ini.

 

Dan kemudian, tentu saja, akhirnya kita sampai di rumah dari Timotius. Dan kita menegtuk pintu rumah itu, dan dia mendatangi pintu tersebut dan kemudian kita memperkenalkan diri kita: “Kami datang dari Gereja Baptist Landmark di kota Cincinnati, Ohio.” Dan kemudian kita dipersilahkan masuk. Maka ketika saya duduk dan melihat-lihat ke sekitar saya, saya memperhatikan wanita yang berada di sana. Di sana ada neneknya, di sana ada ibunya, dan di sana ada Ny. Timotius. Dapatkah saudara-saudara sekalian mempercayainya? Di sana ada istrinya. Kemudian saya berkata kepada Timotius muda, “Yang kamu maksudkan memberitahukan saya bahwa kamu telah menikah, bahwa kamu memiliki seorang istri?”

 

Dia berkata, “Tentu saja, ya. Amsal berkata bahwa dia yang mengambil seorang istri akan mendapatkan hal yang baik. Dan rasul Paulus menuliskan surat kepada saya di dalam suratnya yang pertama, pasal yang ketiga, ayat yang pertama, episcopas, presbuteros, poimen, pendeta haruslah menjadi seorang suami bagi satu orang suami. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Kitab Suci tersebut.”

 

Baiklah. Kegembiraan saya meluap-luap dan terkagum-kagum! Gereja Katolik Roma berkata bahwa “kami adalah gereja yang orisinil. Kami adalah gereja yang disebut-sebut di dalam Alkitab, dan kami adalah gereja yang sudah ada sejak semula, dan demikian juga dengan zaman sekarang ini, kami adalah gereja yang orisinil.” Meskipun demikian gereja Katolik menolak untuk menerima apabila salah seorang dari penilik jemaat mereka menikah!

 

Tepai Kitab Suci mengatakan bahwa pendeta itu haruslah sebagai seorang suami untuk satu orang istri. Dan saudara-saudaraku, apakah anda pernah menikah di luar diri anda sendiri? Saudara-saudara sekalian telah memiliki salah seorang istri yang paling manis dan paling dikasihi di dunia ini. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Gembala itu haruslah menikah.

 

Beberapa hari yang lalu, datanglah ke gereja kita di kota Dallas sana, salah seorang pemuda yang terbaik datang setelah kebaktian selesai, seorang pemuda yang tampan dan tinggi. Wow! Dan dia memperkenalkan dirinya sendiri dan berkata, ”Saya baru saja lulus dari universitas dan saya sudah siap untuk memasuki seminari.” 

 

Di sampingnya, berdirilah seorang gadis yang sangat cantik. Dan pemuda itu berbalik dan memperkenalkan gadis tersebut kepada saya dan dia berkata, “Gadis ini adalah tunangan saya dan kami merencanakan untuk segera menikah.” Kemudian dia berkata, “Oh, betapa saya menginginkan untuk dapat menikah sekarang juga dan saya akan membawa dia bersama-sama dengan saya ke seminari tersebut.”

 

“Baiklah,” saya berkata, “Hal itu sungguh menyenangkan. Nikahilah dia dan bawalah dia bersama-sama dengan kamu ke seminari tersebut.”

“Tapi,” katanya, “Saya tidak memiliki uang.”

“Baiklah,” kata saya, “Walaupun demikian, nikahi saja dia.”

“Tapi,” katanya, “dapatkah dua orang hidup semurah biaya satu orang?”

 

Saya berkata, “Tentu saja. Menikahlah dengan dia dan bawalah dia ke seminari itu. Dua orang dapat hidup seperti satu orang jika yang satu merasa lapar dan yang lain tidak berpakaian. Nikahi saja dia. Menikahlah dengan dia. Nikahilah dia.”

 

Dan kemudian saya berkata kepada Timotius muda, “bagaimana kabar gereja anda?”

Dan dia berkata kepada saya, “Bagai mana kabar apanya saya?”

Dan saya berkata, “Bagaimana dengan kabar gereja anda?”

Dan dia berkata, “Gereja?  Saya tidak pernah mendengar hal tentang gereja. Apakah gereja itu?”

Saya katakan, “Selamat bersedih, engkau adalah seorang pendeta dari sebuah gereja.”

“Oh,” katanya, “Maksud anda, ekklesia saya.”

Saya berkata, “Ya, gereja.”

 

Kemudian saya ingat. Selama tiga ratus tahun yang pertama nama dari sebuah kongregasi Tuhan adalah sebuah ekklesia, ek kaleo, orang-orang terpanggil Tuhan, mengacu kepada orang- orang. Dan hal tersebut terjadi hanya setelah pertobatan Konstantinus pada tahun 300 SM, bahwa mereka telah mengganti namanya dari kata ekklesia, mengacu kepada orang-orang, menjadi kuriakos [“kepunyaan Tuhan Lord”], - kurios, Tuhan; oikos, rumah – Rumah Tuhan. Mereka telah mengganti nama tersebut dari mengacu kepada orang-orang, ekklesia, menjadi kuriakos - kirkus, kirk; di dalam bahasa Inggris menjadi “church - gereja” – mengacu kepada sebuah rumah. Akan tetapi saya katakan kepada saudara-saudara, salah satu hal yang paling mengagumkan yang saya lihat di dalam sejarah adalah demikian, bahwa yang paling dinamis selama berabad-abad akan iman seorang Kristen adalah yang selama tiga ratus tahun yang pertama itu, ketika tidak ada sesuatu benda yang dinamakan sebagai sebuah rumah gereja. 

 

Orang-orangmelakukan pekerjaannya di sana di mana orang-orang itu berada, di pusat atau di luar jalanan kota, di pasar-pasar, di dalam rumah, dari rumah ke rumah. Dan anda tahu, saya berfikir akan hal tersebut. Yesus tidak disalibkan di dalam sebuah Katedral di antara dua kaki dian yang terbuat dari emas, akan tetapi Tuhan kita disalibkan di luar sana, di luar tembok-tembok kota di sisi dari jalan raya, dan di mana orang banyak dapat melihat Dia dan memandang-Nya. Dan Dia telah disalibkan dalam keadaan telanjang! Saya tidak pernah melihat seorang pelukis menggambar lukisan Tuhan sebagaimana Dia yang sebenarnya. Mereka selalu mengenakan pakaian kepada-Nya. Tetapi Tuhan kita telah disalibkan dalam keadaan telanjang. Demikianlah kehendak serta maksud Tuhan Allah bahwa Anak-Nya akan disingkapkan!

 

Dan pak Pendeta, anda tidak dapat terlalu banyak menyingkapkan Tuhan Yesus. Anda tidak memberitakan tentang Dia terlalu banyak. Para penyanyi, anda sekalian tidak dapat bernyanyi terlalu banyak tentang Dia. Pemain musik, anda sekalian tidak boleh bermain musik terlalu banyak untuk Dia. Dan, orang banyak, anda sekalian tidak boleh bersaksi terlalu banyak tentang Dia atau menyaksikan Dia terlalu banyak atau menyebutkan nama-Nya terlalu banyak atau menyanyikan nama-Nya terlalu banyak. Maksud Tuhan Allah terhadap Anak-Nya adalah untuk disingkapkan supaya seluruh dunia dapat melihat Dia.

 

“Baiklah, pendeta Timotius, bagaimana anda melakukan pekerjaan anda?”

Dan dia menjawab, “Dengan kegembiraan yang sangat besar. Paulus menulis kepada saya, ‘Bersukacitalah di dalam Tuhan, dan sekali lagi aku katakan, bersukacitalah.’ Kita harus melaksanakan pekerjaan kita di dalam kegembiraan, dengan keberhasilan, dengan kemuliaan, dengan gairah yang sangat besar.” 

 

Ada sebuah kelompok kata di dalam bahasa Yunani en theos, di dalam Tuhan. Kata dengan menggunakan bahasa Yunani untuk Tuhan ialah theos - en theos, di dalam Tuhan. Dan mereka mengambil kelompok kata tersebut en theos dan membuat sebuah kata benda dari padanya, yaitu enthousiazo [kata kerja; kata benda enthousiasis]. Dan kita telah menerima kata dengan menggunakan bahasa Yunani tersebut enthousiazo dan mengejanya persis menjadi bahasa Inggris dengan kata:  “enthusiasm - entusiasme” Entusiasme tak lain tak bukan artinya adalah “di dalam Tuhan,” Tuhan berada di dalam kamu. Dan ketika Tuhan berrada di dalam kamu, segalanya merupakan keberhasilan yang gemilang. Tidak ada sukacita seperti sukacita dan kegembiraan dan entusiasme di dalam pekerjaan Tuhan. Astaga, sungguh sebuah hak istimewa untuk bergembira di dalam Dia! 

Anda mengetahui bahwa hal entusiasme itu adalah suatu komponen yang mengagumkan. Di dalam kota Dallas ada Kejuaraan Sepak Bola yang bernama Cotton Bowl. Dan ketika berlangsungnya Pekan Raya Negara Bagian, setiap tahun di musim gugur, Klub Sepakbola The Longhorns dari Universitas Texas dan Klub Sepakbola The Sooners dari Oklahoma datang dan saling menubrukkan kepala di dalam kejuaraan Cotton Bowl tersebut. Mereka memainkan pertandingan sepakbola tahunan mereka. Baiklah, hal itu sudah berlangsung selama hampir sembilan puluh tahun lamanya. Setiap tahunnya mereka datang di musim gugur dan memainkan pertandingan sepakbola tahunan mereka tersebut.

 

Jadi, salah seorang dari jemaat dari gereja meminta untuk pergi bersama-sama dengannya ke sana ke pertandingan Cotton Bowl tersebut dan menyaksikan pertandingan sepakbola tahunan antara Texas Longhorn - Oklahoma Sooner tersebut. Jadi saya pergi bersama-sama dengannya, dan kami berdua duduk di sebelah pertandingan Cotton Bowl itu dengan lima puluh lima ribu penggemar Cotton Bowl Texas Longhorn yang fanatik, lima puluh lima ribu orang banyaknya.

 

Dan saudara-saudara sekalian tidak akan mempercayainya. Persis di sebelah depan saya ini, duduklah seorang penggemar Sooner, duduklah seorang “Okie” (julukan penggemar dari kota Oklahoma), persis di sebelah sini, hanya satu orang di antara lima puluh lima ribu orang. Di sana dia duduk. Persis di depan saya. Baiklah, pada saat itu merupakan masa kejayaan dari Bud Wilkerson, ketika klub The Sooner dari Oklahoma memukul when the Oklahoma Sooners mengalahkan Texas selama lebih dari sepuluh tahun yang penuh, selama tahun demi tahun. Waktu itu merupakan saatnya.

 

Maka ketika mereka baru mulai, orang aneh itu berdiri dan dia melambai-lambaikan uang pecahan seratus dollar di atas kepalanya dan berkata, “Katakan, hai penduduk Texas, aku akan memberikan tujuh angka kepadamu semua dan mempertaruhkan uang seratus dolar ini kepada kamu semua bahwa kami akan mengalahkan kamu.” Tapi, tak seorangpun menggubris dia, maka diapun duduk kembali. Dan ketika pertandingan berlangsung, untuk yang kedua kalinya dia berdiri, melambai-lambaikan uang pecahan seratus dollar itu di atas kepalanya, dan berkata, “Katakan, hai penduduk Texas, aku akan memberikan empat belas angka kepadamu semua dan mempertaruhkan uang seratus dolar ini kepada kamu semua bahwa kami akan mengalahkan kamu.” Tidak ada yang menggubris dia, jadi diapun duduk kembali. Dan apakah saudara-saudara sekalian tahu, untuk yang ketiga kalinya orang aneh itu berdiri, melambai-lambaikan uang pecahan seratus dollar itu di atas kepalanya, dan berkata, “Katakan, hai penduduk Texas, aku akan memberikan dua puluh satu angka kepadamu semua dan mempertaruhkan uang seratus dolar ini kepada kamu semua bahwa kami akan mengalahkan kamu.” Tidak ada yang memperdulikan dia kemudian, dan dia kembali duduk, persis di depan tempat duduk saya. 

 

Dan ketika saya melihat padanya, saya berkata, “Wah, saya ingin memiliki orang aneh itu di dalam gereja saya. Dia begitu penuh dengan gairah yang besar, dia percaya dengan timnya, dan dia meletakkan uangnya di mana mulutnya berada.” Hah, hah, hah! Ah, tidak ada di dunia ini yang begitu antusias dan bersukacita serta merasa senang dan bergembira di dalam Tuhan, di dalam iman kepercayaan.

 

Hah, hah, Saya mengatakan kepadamu, menjadi begitu optimis, menjadi begitu antusias, merupakan suatu komponen iman yang indah yang kita dapatkan di dalam Tuhan. Apakah saudara-saudara pernah mendengar tentang orang tua yang eksentrik, orang tua yang aneh sifatnya, di saat usianya yang ke delapan puluh tujuh tahun, dia menikahi seorang gadis dan dengan segera mulai mencari rumah yang lebih besar yang dekat dengan sebuah sekolah dasar? Tuhan memberkati dia. Antusiasme, bergembira di dalam Tuhan, hanya memuji-muji nama-Nya.

 

“Jadi, Timotius, bagaimana anda melakukan pekerjaanmu?” 

 

“Baiklah, Di dalam Kitab Kisah Para Rasul pasalnya yang ke dua puluh, Paulus berkata, ‘Perhatikan dan ingatlah, bahwa oleh jarak tiga tahun lamanya di sana di kota Efesus Aku tidak berhenti siang dan malam, bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan kepada orang-orang Yunani, dari rumah ke rumah, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.’”

 

“Jadi, bagaimana kamu melakukan pekerjaanmu, Timotius?”

“Paulus telah menuliskan yang mengatakan ‘dari rumah ke rumah,’ mengetuk pintu-pintu rumah itu.”

 

Ketika saya berada di seminari itu, saya dulunya adalah seorang pendeta dari sebuah desa yang sangat kecil. Dan di dalam desa itu terdapat sebuah gereja Baptist yang kecil. Dan yang paling banyak yang pernah mereka dapatkan di Sekolah Minggu adalah sebanyak enam puluh orang. Suatu ketika, saya berkata kepada mereka, “Pada hari-hari minggu seperti itu, marilah kita dapatkan seratus orang di Sekolah Minggu tersebut.”  Wow, saya disambut dengan perasaan tidak senang dan semua jenis keheranan lainnya.

 

Mereka berkata, “Dalam sejarah gereja ini kita tidak pernah mendapatkan lebih dari enam puluh orang, dan anda menginginkan sebanyak seratus orang. Hal itu tidak masuk akal, mustahil, tak terjangkau, tak dapat diperoleh.”

 

Memang, pada saat itu saya masih muda, dan hal itu membuat saya menjadi marah. Dan pada hari minggu paginya saya mengadakan sebuah konferensi di dalam gereja tersebut, dan saya berkata, “Pada hari-hari minggu seperti itu, kita akan mendapatkan seratus orang di dalam Sekolah Minggu, dan secara formal saya ingin agar supaya saudara-saudara mengusulkan bahwa saudara-saudara sekalian tidak akan melakukan apapun untuk mencapai hal tersebut. Dan saya akan mengajukan pemungutan suara. Saya meminta agar setiap orang yang merupakan anggota jemaat dari gereja ini memberikan suara bahwa saudara-saudara tidak akan melakukan apapun ketika kami mendapatkan seratus orang di Sekolah Minggu pada hari-hari minggu.”

 

Maka saya mengadakan pemungutan suara, dan setiap setiap orang dari mereka mengangkat tangan mereka:  “Bagus. Bagus.” 

Jadi apa yang saya lakukan, pak Pendeta, saya memiliki beberapa lembar kertas dan sebuah pensil, dan saya berjalan hilir mudik di sepanjang setiap jalan, setiap jalan yang kecil. Saya berjalan hilir mudik di jalan raya yang saya lewati. Saya mengetuk setiap pintu, setiap pintu rumah, dan saya memperkenalkan diri saya sebagai seorang pendeta di sebuah gereja. Dan saya berkata, “Dapatkah saya masuk dan membaca Alkitab bersama-sama dengan anda dan berdoa? Dan mereka akan mempersilahkan saya masuk, dan saya akan berlutut serta berdoa bersama-sama dengan keluarga tersebut. Lalu kemudian saya akan mengatakan, “Jika anda akan berada di sekolah Minggu di setiap hari-hari Minggu, bolehkah saya menuliskan nama anda?” Dan saya menuliskan nama dari keluarga tersebut. Dan, orang-orang yang terkasih, ketika hari Minggu itu datang, kami menghitung ada 365 orang yang hadir di sekolah Minggu tersebut.

 

Dan saya belum melupakan hal tersebut. Ketika saya bertugas di kota Dallas, tidak ada sebuah gerejapun di dunia ini, tidak ada sebuah gerejapun di permukaan bumi ini, yang mendapatkan kehadiran sebanyak dua ribu orang di sekolah Minggu – tidak akan ada di dunia ini. Tidak ada di seluruh permukaan bumi ini. Dan saya memulai dengan orang-orang terkasih tersebut. Dan kami mendapatkan dua ribu orang, dan kami mendapatkan tiga ribu orang, dan kami mendapatkan empat ribu orang, dan kami mendapatkan lima ribu orang, dan kami mendapatkan enam ribu orang, dan kami mendapatkan tujuh ribu orang, dan kami mendapatkan deapan ribu orang. Dan sesekali, kami mendapatkan lebih dari dua belas ribu orang di sekolah Minggu. Pengkhotbah, saya Preacher, saya percaya bahwa tidak ada batasan kepada jumlah orang yang dapat engkau raih untuk Yesus Kristus seandainya engkau akan melakukan seperti yang dikatakan di dalam Kitab Suci, “dari rumah ke rumah,” kepada mana orang-orang berada.

 

Maka, salah satu dari Diaken saya menelepon saya, dan dia berkata kepada saya, “Pak Pendeta, persis di sebelah rumah saya telah pindan satu keluarga, dan saya fikir, seandainya anda mau datang dan mengajak mereka ke gereja, mereka akan menanggapinya.” Maka, saya mengetuk pintu rumah mereka dan diperlakukan demikian menyenangkannya. Saya bertemu dengan seorang bapa dan seorang ibu, seorang gadis yang berusia tujuh belas tahun, seorang anak laki-laki yang berusia lima belas tahun, dan seorang anak laki-laki yang berusia dua belas tahun. Saya bercerita kepada mereka tentang Tuhan, menjelaskan tentang jalan keselamatan pada mereka, berlutut bersama-sama dengan mereka, dan mereka menanggapinya begitu indahnya, dan mereka berkata, “Kami akan berada di sana hari Minggu yang akan datang.” Hari Minggu yang akan datang itupun tiba; mereka tidak ada di sana.

 

Saya menunggu, oh, sekitar tiga atau empat minggu, dan saya pergi mengunjungi mereka kembali, dan mengetuk pintu itu lagi. Dan sekali lagi saya diperlakukan dengan ramah. Saya bertemu dengan keluarga itu, berbicara dengan mereka tentang Tuhan Yesus, bagaimana Dia telah mati karena dosa-dosa kita menurut kepada Kitab Suci, bangkit demi pembenaran kita, datang kembali, dan kita semua diajak untuk menerima Dia sebagai Juru Selamat kita. Wow, mereka begitu menanggapinya. Dan ketika selesai memanjatkan doa, mereka berkata, “Pak Pendeta, hari Minggu yang akan datang, kami akan berada di sana.” Hari Minggupun tiba, dan mereka tidak ada di sana.

Dan pada hari Selasa malam setelah hari Minggu itu, pada hari Selasa malam, telepon berdering sekitar pukul dua subuh di dalam rumah pendeta. Dan ketika saya menjawab telepon itu, salah seorang dari perawat pengikut Kristus kita yang berada di Rumah Sakit Baptist ada di ujung telepon yang satu lagi. Dan perawat itu berkata, “Pak Pendeta, saya minta maaf karena telah menelepon pak Pendeta pada waktu yang aneh ini. Tetapi ada seorang pria di rumah sakit ini, dan putranya benar-benar terluka parah akibat suatu kecelakaan mobil yang mengerikan. Dan putranya sedang sekarat.” Dan perawat itu berkata, “Saya bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu mengenal seseorang di kota ini?’ Dan dia berkata bahwa dia mengenal anda. Dan saya berfikir bahwa pak Pendeta boleh datang dam berdiri di sampingnya ketika tubuhnya meninggal.”

 

Dengan tergesa-gesa saya berganti pakaian, pergi ke rumah sakit, sampai pada lantai demi lantai dan kamar demi kamar, masuk, dan di sana duduk bapa itu, dan anak laki-laki yang berusia lima belas tahun itu di hadapannya. Pulang ke rumah sambil mengemudikan kenderaannya dalam kemarahan yang hebat, mengalami sebuah kecelakaan yang mengerikan,dan remuk dari kepala sampai ke kakinya. Tanpa menunggu waktu yang lama setelah saya tiba, perawat itu membawa kain putih itu untuk menutupi wajah anak laki-laki itu dan melihat kepada bapa anak tersebut dan berkata, “Putra anda sudah pergi.” Dan perawat itu pergi, dan bapa anak itu berdiri di sana di sampingnya.

 

Bapa itu menarik kain putih tersebut dan menjauhkannya dari wajah anak laki-lakinya itu dan melihat wajahnya lama dan serius ke dalam raut wajah yang sudah diam itu, menaikkan kedua tangannya ke langit, dan berlutut serta berseru, “Oh Tuhan, putraku telah pergi. Apa yang akan kukatakan dan apa yang akan kulakukan?” 

 

Setelah kebaktian pemakaman usai, hari Minggu yang berikutnya, di lorong itu, keseluruhan keluarga itu, bapanya, ibunya, putrinya yang berusia tujuh belas tahun dan putranya yang berusia dua belas tahun, memberikan hati mereka kepada Yesus dan bergabung dengan gereja melalui pembaptisan. Saya akan berdiri di bagian belakang gereja dan berjabatan tangan dengan orang-orang ketika mereka pulang. Dan setiap orang dari mereka semua yang menyalami saya, setiap orang dari mereka, berkata kepada saya, “Pak Pendeta, bukankah itu merupakan suatu pemandangan yang mengagumkan, melihat keseluruhan anggota keluarga tersebut mandatangi Yesus dan bergabung dengan gereja melalui pembaptisan?” 

 

Dan saya akan menyetujuinya tanpa disertai dengan protes, “Oh, ya, sebuah pemandangan yang ajaib.” Saudara-saudara tahu apa yang sebenarnya saya fikirkan? Ketika saya melihat pada keluarga itu, duduk di baris depan di sana, di dalam hati saya berkata, “Itu merupakan pemandangan yang paling menyedihkan yang pernah saya lihat di dalam hidup saya.” Anda lihat, saya tidak memberitahukan gereja. Saya berfikir bahwa saya tidak seharusnya memberitahu gereja, bahwa di sana, seorang anak laki-laki yang berusia lima belas tahun yang menjadi anggota keluarga tersebut, dan dia terbaring di dalam sebuah kubur dalam keadaan tanpa Kristus di Texas. 

 

Dan pada suatu hari yang besar nanti, pada tiang hukuman dari Tuhan Allah Yang Mahakuasa itu, ketika Kitab-kitab itu dibukakan dan gulungan-gulungan itu mengingatkan akan masa yang lampau, dan Tuhan memanggil nama sang bapa itu, dan dia menjawab, “Di sini,” Tuhan memanggil nama sang ibu tersebut dan ibu itu menjawab, “Di sini,” Tuhan memanggil putri mereka yang berusia tujuh belas tahun itu dan dia menjawab, “Di sini,”dan Tuhan memanggil anak laki-laki yang berumur dua belas tahun itu, dia menjawab, “Di sini,” dan Tuhan melihat pada wajah bapa itu dan berkata, “Dan apakah sudah semuanya?” 

 

Dan bapa itu menjawab, “Tidak, Yang Mulia, masih ada satu orang anak lagi, seorang anak laki-laki yang berumur lima belas tahun.” 

 

Dan Tuhan akan berkata kepadanya, “Dan di manakah dia?”

 

Dan bapa itu menjawab, “Dia terbaring di dalam sebuah kubur dalam keadaan tanpa Kristus di Texas.” “Masa penuaian telah berlalu, dan musim panas telah berlalu, dan kita tidak diselamatkan.” 

 

Ketika paduan suara selesai menyanyikan

Lagu gerejawi mereka yang terakhir,

Adan pendeta telah memanjatkan doanya yang terakhir,

Ketika orang telah mendengar khotbahnya yang terakhir, 

Dan dengungannya telah sirna di udara,

Ketika Alkitab tergeletak tertutup di atas altar,

Dan bangku-bangku gereja telah menjadi kosong akan manusia,

Dan setiap orang berdiri menghadapi catatannya,

Dan Kitab yangAgung itu dibukakan, bagaimana selanjutnya?

 

Ketika aktor telah memainkan dramanya yang terakhir.

Dan pemain pantomim telah membuat leluconnya yang terakhir,

Ketika film telah mengkilaskan cahaya untuk gambarnya yang terakhir,

Dan papan iklan telah menampiilkan tayangannya yang terakhir,

Ketika kerumunan orang yang mencari kesenangan telah menghilang,

Dan menghilang di kegelapan kembali,

Dan sangkakala zaman telah diperdengarkan,

Dan kita berdiri di hadapan-Nya, bagaimana selanjutnya?

 

Ketika panggilan terompet tanduk tenggelam dalam kesunyian

Dan pilar-pilar yang berbaris panjang tetap berdiri,

Ketika sang kapten mengulangi perintahnya,

Dan mereka telah menahan kubu dan bukit yang terakhir,

Ketika bendera telah turunkan dari tiang kapal

Dan yang terluka telah mendaftar,

Dak ucapan itu yang telah menolak Juru Selamatnya

Telah ditanya untuk sebuah alasan, bagaimana selanjutnya?

 

[“What Then – Bagaimana Selanjutnya?” oleh J. Whitfield Green]

 

Tuhan Yang Mahabesar yang berada di sorga, betapa kita membutuhkan kasih karunia dan cinta kasih dari Yesus Tuhan kita, bukan hanya di dalam kehidupan ini akan tetapi di dalam hari yang mengerikanitu yang mendekatkan waktu dengan keabadian, dan di dalam selamanya yang terhampar di baliknya. Kita perlu diselamatkan.

 

Sekarang, pak Pendeta, saya memiliki seruan dengan jenis yang lain lagi. Saya ingin supaya saudara-saudara datang, seperti yang telah anda lakukan pagi hari ini, dan saya ingin supaya anda berdiri tepat di sini menghadap kepada anggota jemaat kita. Dan pemimpin lagu saya dengan instrumennya yang terkasih, saya ingin supaya kamu semua datang ke mari. Saya ingin supaya kamu semua datang ke mari. Dan anakku, kamu melakukan hal ini biar bagaimanapun yang kamu inginkan. Seandainya kamu ingin menyanyikannya secara solo, seandainya kamu menginginkan untuk memperdengarkan sebuah himne atau menyanyikan sebuah himne, engkau lakukan seperti apa yang engkau rasakan di dalam hatimu. Seandainya kamu hanya menginginkan instrumennya saja yang memainkannya, engkau lakukan apa yang engkau inginkan.

 

Tetapi saya meminta saudara-saudara, untuk tetap duduk. Jika ada seseorang di dalam keluargamu yang tersesat, dan saudara-saudara akan membuat perjanjian dengan gembala itu, “Pak Pendeta, berdoalah bagi saya; saya akan berusaha semampu saya untuk memenangkan seseorang itu di dalam keluarga saya kepada Tuhan,” Saya ingin supaya saudara-saudara membuat sebuah perjanjian doa. Saudara-saudara sekalian tidak perlu mengatakan apapun. Datang sajalah dan berjabat tangan dengan pak Pendeta dan mebali ke tempat duduk saudara. Tetapi bahwa adalah perjanjian dari doa yang dibuatnya dengan saudara-saudara pada hari ini juga. Saya akan berdoa untuk-Mu, seperti hal yang engkau saksikan kepada seseorang itu di dalam keluargamu.

 

Apakah saudara-saudara memiliki seseorang di dalam usahamu yang menjadi teman bekerjamu yang tersesat? “Pak Pendeta, aku ingin supaya engkau berdoa untukku, dan aku akan berjuang semampu saya untuk memenangkan seseorang itu di dalam usaha saya, menangkan mereka kepada Tuhan.”

 

Apakah saudara-saudara mempunyai seorang tetangga yang tersesat? “Pak Pendeta, berdoalah untuk saya; saya akan berusaha semampu saya untuk memenangkan tetangga itu kepada Tuhan.” 

 

Apakah ada seseorang yang saudara-saudara kenal yang telah tersesat? Maukah saudara-saudara sekalian meminta kepada Tuhan Allah untuk memberikan kebijaksanaan kepada saudara-saudara ketika saudara-saudara mendekati mereka dan mengajak mereka kepada Tuhan Yesus? Maukah saudara-saudara membuat perjanjian itu dengan pendeta? “Pak Pendeta, berdoalah anda untuk saya, dan saya akan berusaha sekuat tenaga saya untuk memenangkan seseorang itu kepada Tuhan Yesus.”

 

Sekarang bangkitlah dari tempat duduk saudara-saudara itu, dan kemarilah dan berikanlah tanganmu kepada-Nya dan saudara-saudara kembali lagi ke tempat duduk saudara-saudara.  Amin.  Amin.  Amin. Diberkatilah hati saudara-saudara. Amin.  (Bernyanyi)  Ya, ya, ya, ya.