PEMENANG JIWA

THE WINNER OF SOULS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

2 Timotius 1:12

01-12-75

 

 

Bukankah itu yang telah saya katakan kepada saudara-saudara? Nyanyikanlah untuk Tuhan sebuah lagu baru sekali dalam lima tahun. Hal itu benar adanya. Itu benar. Saudara-saudara hanya tetap melakukan setiap hari Minggu dan segera kita akan menyanyikannya seperti tidak ada seorang pun yang pernah mendengarnya. Dan Clendon menang atas dirinya sendiri. Oh, terima kasih. Tuhan Allah akan dipuji karena engkau. Di radio, kami menyambut saudara-saudara; dan di televisi, kami menyambut saudara-saudara sekalian. Ini adalah gereja First Baptist di kota Dallas, dan ini adalah pendeta yang menyamaikan warta yang berjudul Seorang Pemenang Jiwa. Warta ini merupakan sebuah penjelasan yang lebih terperinci dari ayat yang terakhir dari kitab Yakobus. Di dalam pelajaran kita melalui Kitab Yakobus, kita telah sampai kepada pasal yang terakhir dan ayat yang terakhir. Pada hari Minggu yang akan datang kita akan menyelesaikan rangkaian panjang kita pada surat dari pendeta gereja di Yerusalem, dan warta itu akan diberi judul dengan “Kedatangan Tuhan.”

 

Di dalam pasal yang terakhir ini, gembala itu menuliskan, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan!” Itulah yang akan menjadi warta untuk hari Minggu yang akan datang. Dan saat-saat yang suci ini akan disampaikan dengan judul And this sacred hour it is entitled Seorang Pemenang Jiwa. Bacaan dari nas ini adalah:

 

“Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,

Ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” 

 

Bukankah itu cara yang tajam dan kuat untuk menempatkan kebenaran Tuhan Allah? Orang itu, pemenang jiwa itu, menyelamatkan jiwa orang itu dan menutupi banyak dosa. Dia melakukannya. Kitab Suci yang mengatakannya. Kitab Suci mengakui apa yang dengan segera kita setujui, bahwa hanya Tuhan Allah yang dapat menyelamatkan. Adalah Tuhan Yang membalikkan kita. Bagaimana kita bisa melakukannya? Kitab Suci berkata, “Dari TUHAN datang pertolongan.” [Mazmur 3:9]. Tuhan Allah melakukannya, dan dengan segera kita semua akan berkata, Saya dapat memahaminya. Hanya Tuhan Allah yang mampu menyelamatkan kita. Dia sendiri dapat membangkitkan kita dari kematian. Dia sendiri dapat mengampuni dosa-dosa kita. Dia sendiri dapat menuliskan nama kita di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba. Adalah Tuhan Allah yang menjelmakan jiwa. “Dari TUHAN datang pertolongan.”

 

Akan tetapi pada waktu yang sama, Kitab Suci juga mengakui bahwa kita, juga melakukannya. Di dalam tangan Tuhan kita adalah alat-alat dari pertolongan Tuhan. Kita melakukannya. Sebagai contoh, Paulus menulis kepada anaknya dalam tugas pelayanan yang masih berusia muda, Timotius, yang sekarang menjadi seorang gembala di gereja di kota Efesus. Paulus menuliskan surat kepadanya,

 

“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengarkan engkau.” 

 

Timotius, jika engkau setia kepada imanmu dan menyebarkan ajaran itu – pengajaran akan Tuhan – engkau akan menyelamatkan dirimu sendiri. Tapi apa yang lebih, engkau akan menyelamatkan mereka yang telah mendengarkan engkau. Sungguh suatu dorongan semangat yang mulia kepada seorang gembala dan kepada seorang pemberita. Jika seorang akan setia kepada iman, kepada ajaran tersebut, kepada pengajaran dan memberitakan Tuhan, dia akan menyelamatkan dirinya sendiri dan dia akan menyelamatkan yang lainnya – mereka yang telah mendengarkan dia.

 

Itulah mengapa hal itu begitu tidak dapat terpikirkan saya bahwa seorang pelayan akan berdiri di atas mimbar dan memberitakan hal yang lain lagi – berkhotbah tentang ekonomi, berkhotbah tentang peristiwa-peristiwa sekarang ini; berkhotbah tentang politik; berkhotbah tentang semua persoalan sosial yang membingungkan kita. Saudara-saudara dapat mendengarkan seorang komentator di radio. Dia akan berbuat akan hal yang sama. Saudara-saudara sekalian dapat membaca sebuah tajuk rencana. Tajuk rencana itu akan menyinggung hal yang sama. Akan tetapi pelayan itu dipanggil oleh Tuhan Allah untuk menyampaikan Firman Tuhan yang dapat menyelamatkan kita dari maut dan dapat mengampuni dosa-dosa kita dan dapat membawa kita suatu hari nanti kepada Tuhan Allah di sorga. Apakah ada firman dari Tuhan di sana? Apakah ada ajaran atau pengajaran dari Dia? Bahwa itu merupakan sebuah panggilan dan mandat serta tugas pelayanan yang agung dari Kristus, “Karena dalam melakukan hal ini” – rasul itu mengakui - “engkau harus menyelamatkan dirimu sendiri, dan mereka yang telah mendengarkan engkau.” Datang untuk mendengar kepada mereka yang menyatakan Firman Tuhan, orang yang mendengarkan itu telah diselamatkan karena iman yang disampaikan melalui pendengaran dan mendengarkan firman Allah. Jadi Tuhan menyelamatkan kita. Akan tetapi kita juga melakukannya. Lihatlah kembali di dalam Kitab Suci, “Apa yang paling engkau ketahui” – berbicara kepada seorang pria yang menikah dengan seorang wanita yang belum diselamatkan, dan berbicara kepada seorang wanita yang suaminya belum diselamatkan – jangan hancurkan rumah tanggamu. Jangan lakukan perceraian. “Karena apa yang paling engkau ketahui, ya, istri, apakah engkau akan menyelamatkan suamimu? Ya, suami, apakah engkau akan menyelamatkan istri kamu?” Anda harus melakukannya. Kita harus melakukannya. Suami itu menyelamatkan dia, istrinya itu, dan istri itu, harus menyelamatkan suaminya. Ini merupakan keseluruhan Firman Tuhan. Tuhan melakukan sebagian dan kita melakukan sebagian lagi. Tuhan melakukannya dan kita melakukannya.

 

Hal itu seperti seseorang yang berjalan menuju sebuah jurang yang dalam. Dan tepat pada saat dia akan melangkahi karang yang terjal itu, seseorang melihat dia, memanggil dia dan menyelamatkan dia dari kematian. Dan di dalam bersaksi, orang itu berkata sepada seorang sahabat, “Orang ini menyelamatkan saya dari sebuah kematian yang mengerikan.” Lalu kemudian, pada suatu kebaktian doa – di dalam sebuah kebaktian kesaksian, orang itu berdiri dan dia berkata, “Saya telah diselamatkan dari kematian oleh pemeliharaan serta kebaikan yang indah dari Tuhan Allah.” Mereka berdua yang melakukannya. Saya ingat seorang dokter, dokter yang belum diselamatkan, yang bergabung di sebuah klinik, dan dokter yang lebih tua di klinik tersebut adalah seorang Pengikut Kristus yang benar-benar beriman. Dan dia telah berdoa untuk anak muda itu dan memenangkan dokter muda itu untuk Tuhan. Dan di dalam sebuah kebaktian di gereja, dia berdiri dan di dalam kesaksiannya, dia berkata, “Saya telah diselamatkan oleh khotbah gembala itu yang diambil dari kitab Yohannes 6:37: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Ku-buang.” “Saya telah diselamatkan oleh khotbah gembala tentang Yohannes 6:37 dan diselamatkan oleh air mata dari dokter ini.” Tuhan melakukannya dan kita melakukannya. Kita berdua melakukannya. Tuhan Allah dan kita bersama-sama memenangkan jiwa, menyelamatkan jiwa. Maka bagian ayat itu dibaca seperti itu, “Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, Ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” 

 

Sekarang kita melihat pada nas itu sepotong demi sepotong. Yang pertama, di sini merupakan sebuah referensi yang dibuat kepada tragedi terbesar yang dapat meliputi serta mengambil alih hidup manusia: Biarkanlah jiwanya binasa dan sehingga dia akan dikuburkan di bawah banyak dosa. Saudara-saudara lihat, hidup di dalam Alkitab itu tidak mengacu kepada eksistensi, akan tetapi kepada persekutuan kita dengan Tuhan Allah. Hidup di dalam Alkitab itu adalah penggabungan diri kita dengan Tuhan. Dan kematian di dalam Alkitab itu adalah bukan tidak kehadiran, bukan menjadi, akan tetapi kematian di dalam Alkitab mengacu kepada perpisahan kita dari Tuhan, menjauh adanya dari Tuhan. Paulus akan mengatakan di dalam kitab Efesus 2:1: “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Akan tetapi orang itu berjalan di tengah-tengah kita. Kitab Suci berkata dia sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran serta dosa-dosa; yaitu, dia sudah berada jauh dari Tuhan. Jiwa orang tersebut sudah mati. Kita mengambil contoh lain lagi, di dalam satu Timotius, Paulus menyebutkan hal ini, “Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan – di dalam dosa - ia sudah mati selagi hidup.” Mengapa? Karena janda itu hidup dalam suatu kesundalan. Dia berada di dalam sebuah rumah prostitusi. Dia benar-benar hidup; akan tetapi Kitab Suci mengatakan bahwa dia sudah mati. Mati di dalam kemewahan dan berlebih-lebihan, di dalam dosa. Dia terpisah dari Tuhan. Kematian yang pertama di dalam Alkitab adalah perpisahan antara jiwa dan raga. Akan tetapi kematian yang kedua adalah perpisahan antara jiwa dengan Tuhan. Dan hal itu merupakan tragdei terbesar yang dapat meliputi hidup seseorang: kehilangan jiwanya, tertutup dari Tuhan.

 

Oh, kata-kata yang mengagumkan dan menyedihkan serta mengerikan yang dipakai untuk melukiskan tingkat kehidupan dari seseorang yang jiwanya tertutup dari Tuhan. Hal itu disebut, “Di mana panasnya tidak mati dan apinya tidak padam.” Tempat itu disebut dengan tempat di mana, “Asap dari penyiksaan mereka membubung ke atas untuk selama-lamanya.” Hal itu digambarkan sebagai sebuah penderitaan dimana seseorang berseru demi setetes air untuk menyejukkan lidah mereka yang telah disiksa di dalam nyala api tersebut. Itulah mengapa kita bernyanyi “Layaklah Anak Domba Yang telah mati dibunuh Yang telah menebus kita.”; yaitu, Yang telah menebus kita, membawa kita, menyelamatkan kita dari sebuah tragedi yang mempesona. Kita tidak akan pernah mengetahui kemurkaan Tuhan. Kristus telah turut campur tangan. Kita tidak akan terpisah dari Tuhan. Dia telah mempersekutukan kita dengan Tuhan. Kalau tidak kita tidak akan pernah mengetahui penderitaan dari kesengsaraan dalam penyiksaan serta hukuman yang abadi karena Dia telah wafat untuk menyelamatkan kita. Tragedi yang terbesar yang dapat meliputi seseorang adalah bahwa jiwanya telah mati dan dia akan dikuburkan di bawah banyak dosa.

 

Tetapi kita lihat lagi. Di sini adalah pekerjaan yang terbesar, “Ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” Ketahuilah, lihatlah, renungkanlah, pertimbangkanlah akan hal tersebut. Ini adalah tugas yang terbesar yang dapat diterima oleh seseorang, pencapaian yang terbesar yang dapat diinginkan oleh seseorang, pekerjaan terbesar yang pernah dilakukan oleh seseorang, untuk menyelamatkan satu jiwa dari kematian. Jika kita berada di atas sebuah kapal yang sedang tenggelam, dan seseorang mengawaki sekoci penolong itu, oh, betapa diberkatinya mereka yang berada di dalam sekoci penolong itu. Jika sebuah rumah sedang terbakar dan seseorang dan seseorang berlari dengan cepat ke dalam nyala api itu untuk menyelamatkan yang binasa, betapa indahnya, betapa diberkatinya aksi orang tersebut. Akan tetapi tidak ada yang dapat diperbandingkan kepada seseorang yang telah menyelamatkan jiwa dari kematian. Di abad yang lalu, ada seorang pelajar serta pemberita yang terkenal sampai di mana-mana yang bernama Lyman Beecher. Pada suatu ketika, seseorang telah bertanya kepada dia, “Tuan Beecher, apakah yang menjadi hal terbesar yang dapat dilakukan seorang manusia untuk orang lain?” Dan pemberita-pelajar itu menjawab, “membawa yang lain kepada Yesus.” Yaitu berdasarkan Firman Tuhan. Di dalam penghakiman Tuhan Allah, tidak ada yang lebih menakjubkan dari paa membawa seseorang kepada Yesus.” Orang yang paling bijaksana yang pernah hidup menuliskan amsal ini: “Dia yang telah memenangkan jiwa adalah bijaksana.” Jika seseorang menjadi bijaksana di dalam kesombongan mereka sendiri, ia adalah tercela. Jika seseorang bijaksana dalam hikmat dunia, dia itu dapat diterima. Akan tetapi jika seseorang itu bijaksana di dalam penilaian Tuhan, dia adalah orang yang diberkati oleh sorga, dari semua orang yang mengucapkan syukur.

 

Bukankah Daniel juga menuliskan hal tersebut seperti itu “Kemudian mereka yang akan menjadi bijaksana itu seperti terangnya cakrawala; dan mereka yang telah membalik yang lain menjadi beriman seperti bintang-bintang untuk selama-lamanya.” Demikian juga dalam Firman Kudus. Demikian juga dalam contoh dari Kristus dan para rasul itu. Perkara yang terbesar yang telah mereka perbuat ialah membawa jiwa bagi Yesus. Yohannes, seorang pemberita Baptis yang agung, menunjukkepada Juru Selamat itu, “Lihatlah Anak Domba Allah yang telah menghapuskan dosa-dosa dunia.” Lihatlah kepada-Nya. Dan dengarkanlah Dia, Yohannes, putra dari Zebedeus, bersama dengan Andreas mengikut Tuhan. Dan karena telah menemukan Dia, Andreas membawa serta saudaranya Simon kepada Yesus, dan Yohannes membawa saudaranya Yakobus kepada Yesus. Dan ketika Filipus diperkenalkan kepada Tuhan, dia membawa sahabatnya Natanael kepada Yesus. Ini merupakan cara apostolik. Rasul Paulus berkata,

 

“Untuk bangsa Yahudi, aku, sebagai seorang bangsa Yahudi, sehingga aku beoleh memenangkan bangsa Yahudi; kepada mereka yang berada di bahwa hukum Taurat, sebagai seorang yang berada di dalam hukum Taurat, sehingga aku boleh memenangkan mereka yang berada di dalam hukum Taurat; 

Kepada mereka yang berada di luar hukum Taurat, sebagai seseorang yang di balik hukm Taurat, . . . sehingga aku boleh memenangkan mereka yang tidak berada di bawah hukum Taurat.. . .  . 

Saya menjadi semua hal kepada semua orang, jika dengan segala pengertian, saya boleh memenangkan beberapa orang.

 

Ini merupakan semangat serta menjadi perilaku yang seharusnya kita semua memilikinya di dalam nama Tuhan kita. Kadang kala kita cenderung untuk mengumpulkan jubah kebaikan kita di sekeliling kita dan mengatakannya kepada mereka yang berada di luar, “Engkau orang yang berdosa, jangan sentuh aku. Jangan datang mendekat kepadaku, jangan pernah, karena saya berada di dalam suatu kelas tersendiri dan engkau orang yang berdosa di sana tidak mengetahui seluruh hal yang ajaib yang saya telah ketahui. Di hukum dan di kutuk serta tersesat, engkau tetap berada di sana dan saya akan tetap berada di sini. Saya tidak menyangkal bahwa bahkan Tuhan Allah membuat perbedaan yang besar antara kaum Mesir dengan kaum Israel, antara orang-orang yang telah diselamatkan dan yang tidak diselamatkan, antara orang-orang yang tersesat dan mereka yang menjadi kepunyaan Tuhan Allah. Saya tahu itu. Akan tetapi pada waktu yang sama, saya juga mengetahui bahwa ketika Tuhan melihat kepada perbedaan tersebut, Dia menangis. Dan melihat kota yang telah dibanjiri-Nya dengan air mata dan berkata, “O, Yerusalem, Yerusalem, engkau yang telah melempari nabi-nabi itu dengan batu, dan membunuh mereka yang telah diutus kepadamu, seberapa sering Aku akan mengumpulkan anak-anakmu bersama-sama, bahkan seperti seekor induk ayam yang mengumpulkan anak-anaknya di bawah kedua sayapnya dan engkau tidak mau!” Apakah itu sebagai penyebab sukacita atau keunggulanatau kegembiraan yang sombong? Itu merupakan sebuah penyebab dari kegembiraan dan tangis serta ratapan. Saya fikir bahwa seharusnya kita menjaga perilaku kita terhadap dunia. Tidak pernah salah satu keunggulan, “Engkau seorang pendosa yang hina,” dan tidak pernah ada penghukuman, “Engkau telah tersesat dan dikutuk;” tetapi selalu salah satu dari simpati dan pemahaman serta pengampunan yang paling dalam, “Inilah aku hanya karena kasih karunia dari Tuhan Allah; itu saja. Orang berdosa seperti kamu, yang tersesat sama seperti kamu, tetapi Tuhan telah bermurah hati kepadaku. Dan aku berdoa supaya Tuhan Allah boleh bermurah hati juga kepada kamu.” Seperti tujuh puluh kali tujuh kali itu yang diarahkan oleh Pat Zondervan di dalam Kitab Suci. Tidak pernah berupa Roh Penghukuman atau Roh Keunggulan atau Roh yang lebih kudus dari kamu; akan tetapi selalu salah satu dari simpati serta pengertian dan pengampunan yang mengasihi. Ini merupakan Roh dari pada Allah. Tidak pernah ada perkara yang lebih agung lagi yang telah dilakukan oleh seseorang dari pada membawa seseorang kepada Yesus. Saya mengetahuinya secara pasti karena dari apa yang membuat sorga bergembira. Apa yang membuat menjadi teringat akan kemuliaan? Pasal yang ke lima belas dari Injil Lukas berkata bahwa: “Ada suka cita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat, dibandingkan dengan keseluruhan orang banyak, yang berfikir bahwa mereka tidak memerlukan pertobatan. Apa yang membuat sorga bernyanyi? Apa yang membuat jalan kemuliaan bernada? Itu terjadi ketika seseorang datang menuruni lorong ini seraya berkata kepada gembala itu, Aku berbalik, pada hari ini. Aku menyerahkan hatiku kepada Kristus. Aku menerima Tuhan sebagai Juru Selamatku.

 

Kita harus melihat sekali lagi. bukan hanya tragedi terbesar ketika satu juwa mati dan dikuburkan di bawah banyak dosa; dan bukan hanya kegembiraan serta pekerjaan dan perbuatan yang terbesar, Biarkanlah dia mengetahui, bahwa Dia yang melakukannya. Oh, betapa diberkati oleh Tuhan. Sekarang yang ketiga; Siapakah orang ini yang begitu diisyaratkan diberkati? Siapa? Lihatlah pada nas itu, “Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut.” Apakah saudara-saudara memperhatikan penekanannya? Di sana disebutkan dalam bentuk tunggal, tidak pernah dalam bentuk jamak. Setiap kata ganti dan setiap sebutan dari setiap kata benda di dalam nas itu berbentuk tunggal. Tidak ada yang berbentuk jamak di dalamnya. Setiap kali demikian, “Jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa.” Setiap kata ganti dan setiap kata benda di dalamnya berbentuk tunggal. Baiklah, siapakah orang yang demikian diberkati tersebut? Apakah dikatakan, “Jika seorang pelayan membalikkan dia,” atau “Jika seorang yang fasih berbicara tentang keilahian membalikkan dia,” atau “Jika seorang ahli ilmu agama yang hebat membalikkan dia;” atau “Jika seorang pendeta yang cemerlang membalikkan dia;” atau “Jika seorang gembala”? Tidak. Jawaban itu bahkan tidak mendekati. Dikatakan di sana, “satu.” Ada satu orang, satu anda, satu anda, hanya seseorang, satu orang saja.

 

Sekarang, kepada siapa yang satu itu mengalamatkan usaha penyelamatan jiwanya itu? Tetap satu demi satu. Jawabannya tetap “satu.” Bentuk tunggal itu tetap berada di sana, “Jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa.” Satu, hanya satu saja. Oh, sudah berapa kali mungkin salah satu dari antara kita telah memberitahukan Tuhan Allah, “Seandainya saja saya memiliki kelancaran berbicara seperti John Chrysostom; seandainya saja saya dapat berkhotbah seperti George Whitefield; seandainya saja saya merupakan seorang pemenang jiwa seperti D.L. Moody – seperti Dwight L. Moody atau seperti Billy Sunday atau seperti Billy Graham; seandainya saja saya dapat mempengaruhi ribuan orang – betapa megahnya di hadapan Tuhan Allah. Saya tidak menyangkal kemegahannya. Saya akan menemui Tuhan supaya kita memiliki kekuasaan untuk memenangkan jiwa seperti para pemberita yang luar biasa itu. Akan tetapi nas itu bahkan tidak menyebutkannya. Nas itu menyebutkan satu; hanya satu saja adanya, anda, hanya satu yang memenangkan setiap orang berdosa, setiap orang yang tersesat – hanya satu saja, di mana saja, di mana saja.

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.”