PAULUS DI HADAPAN KAISAR

(PAUL BEFORE CAESAR)

 

Dr. W. A. Criswell

 

11-16-58

2 TIMOTIUS 4:6-18

 

           

Sekarang kita membuka halaman dari surat yang kedua kepada Timotius, pasal yang keempat. Pasal yang terakhir dari kitab 2 Timotius, dimulai dari ayatnya yang keenam, dibaca sampai ayat yang ke delapan belas. Di bagian tengah pasal yang ke empat itu, Kitab 2 Timotius 4:6 sampai dengan 18. 

 

            2 Timotius 4, pasal yang keempat dari kitab 2 Timotius, dimulai dari ayat yang ke 6, dibaca sampai dengan ayatnya yang ke 18. Apakah kita semua telah melihatnya?

 

            2 Timotius hampir menuju akhir dari Alkitab saudara-saudara, 2 Timotius 4, Kitab 2 Timotius 4. Jika orang yang di sebelah saudara-saudara tidak memiliki Alkitab ini, saling berbagilah dengan dia. Kita semua akan membaca bagian ayat dari Kitab Suci ini. Kita semua. Kitab 2 Timotius 4, ayat yang ke 6 sampai dengan ayat yang ke 18. Sekarang, biarkanlah semua orang membacanya bersama-sama.

 

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Berusahalah supaya segera datang kepadaku,

Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.

Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku,

Tikhikus telah kukirim ke Efesus.

Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.

Aleksander, tukang tembaga itu, telah berbuat banyak kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya.

Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita.

Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka -,

Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.

Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.”

 

            Di dalam kitab Kisah Para Rasul 27:23-24,

 

“Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku,

Dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.” 

 

            Dan di dalam beberapa terjemahan saudara-saudara sekalian akan melihat disebutkannya nama Kaisar. “Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Nero.”

 

            Di dalam pasal yang keempat dari kitab 2 Timotius, Paulus menggambarkan kejadian tersebut dan mengarahkan kepadanya sebagai pencobaannya yang pertama ketika dia berdiri di hadapan kaisar Romawi tersebut. Dia diselamatkan oleh kuasa Tuhan Allah dari pada mulut singa-singa itu.

 

            Sejak saat tanya jawab itu, sejak saat pencobaan pertama itu, dia telah dibawa kembali, vonis telah diputuskan, dan Paulus menjadi seorang martir bagi iman kepercayaan. Biar bagaimanapun juga, kita mengetahui bahwa kedua orang itu, kaisar Nero dan Paulus Saulus, pada suatu ketika dan suatu hari berdiri saling berhadapan. Itu merupakan hari yang telah ditakdirkan oleh Tuhan Allah. Itu adalah waktu yang telah ditunjuk oleh Tuhan Allah. 

 

            “Paulus! Engkau harus menghadap Nero.” Saya tidak dapat memikirkan sebuah kejadian yang lebih dramatis lagi atau suatu kejadian yang memberikan perbedaan spiritual yang lebih dalam daripada membayangkan suatu saat ketika Paulus, pekabar Injil itu dan tahanan karena Kristus, akhirnya berdiri di hadapan Nero, kaisar dari kekaisaran Romawi kuno.

 

            Kita banyak mengetahui tentang Nero. Dia adalah orang yang terakhir dari para kaisar: Kaisar Julius, Kaisar Augustus, Kaisar Tiberius, Kaisar Caligula, Kaisar Claudius, dan Kaisar Nero. Garis darah itu berhenti padanya. Dia diperanakkan oleh Augustus dari kedua sisi keluarganya.

 

            Ketika kaisar Nero diberhentikan sebagai seorang kaisar dari kekaisaran Romawi, Galba telah dinyatakan sebagai pemimpin kekaisaran itu oleh pihak tentara. Dengan segera Galba tewas dibunuh. Lalu saudara-saudara melihat garis keturunan Flavia: Vespasianus, Titus, Domitianus.

 

            Yang terakhir dari keturunan Caesar adalah Nero. Nero memiliki banyak penulis biografi orang-orang terdahulu dan penulis biografi dari zaman modern,

 

            Saudara-saudara dengan lebih baik lagi dapat mengenal Nero dari pada mengenal Presiden Amerika Serikat atau mengenal Ratu dari Inggris. Takitus menuliskan sesuatu tentang dia, Suetonius menuliskan sesuatu tentang dia, Theofrastus menuliskan sesuatu tentang dia, Zanarus menuliskan sesuatu tentang dia. Sungguh banyak ahli-ahli sejarah kuno yang menuliskan biografi yang begitu panjang tentang keluarga Caesar yang terakhir ini. 

 

            Yang saya katakan datang dari garis keturunan Caesar dari Augustus. Augustus Caesar memiliki seorang putri yag bernama Julia, dan pengurus besar dari seluruh kekaisaran di zaman Augustus itu adalah Agrippa, dan Agrippa – dari siapa nama Herodes Agrippa dinamakan - Agrippa menikah kepada Julia, putri dari Augustus Caesar,  dan kemudian mereka mendapatkan seorang putri yang diberikan nama Agrippina I. 

 

            Agrippina menikah kepada Germanikus yang hebat dan terkenal itu. Agrippina dan Germanikus memiliki seorang putri yang diberi nama Agrippina II. Agrippina menikah dengan seseorang yang berhati mulia dari rumah tangga Augustus, dan putra mereka diberi nama dengan Nero Caesar. Di zaman Tiberius, sembilan bulan setelah Tiberius meninggal dunia, anak kecil ini, bayi ini, Caesar Nero, lahir pada tahun 37 SM.

 

            Dan ibunya Agrippina II, merupakan seorang wanita yang sangat cakap dan bersifat ambisius, dan menurut kepada para ahli nujum, suatu hari nanti putranya akan berkuasa di seluruh kekaisaran Romawi.

 

            Nah, kelanjutannya Tiberius dan Caligula hanya memerintah sebentar saja, dan Claudius menjadi Caesar. 

 

            Claudius adalah orang yang lemah dan bimbang, akan tetapi dia memiliki seorang istri yang cakap serta berkat yang luar biasa yang bernama Messalina. Dan mereka memiliki seorang putra yang bernama Britannikus yang merupakan salah seorang yang paling cakap dan paling berbakat serta paling terkenal dari seluruh bangsa Romawi yang pernah dilahirkan

 

            Akan tetapi tidak ada suatu apapun yang mampu menghentikan Agrippina II serta ambisinya yang tak terbendung untuk menjadikan putranya Caesar dari kekaisaran Romawi. Dia merancang perceraian serta pembunuhan Messalina, istri dari Claudius Caesar. Dan kemudian dia menikah dengan Claudius Caesar, pamannya, pamannya sendiri dan menjadi ratu dari kekaisaran tersebut.

 

            Setelah dia menikah dengan Claudius Caesar pada tahun 48 SM, di tahun 54 SM dia meracuni suaminya Claudius, dan Nero menjadi kaisar. Dan dalam rangka untuk memastikan takhta itu kepada putranya Nero, dia meracuni Britannikus ketika dia sedang duduk di sebuiah kursi. Maka Nero, putranya itu – ptra dari Agrippina, putranya diangkat menjadi Caesar dan berkuasa atas seluruh kekaisaran Romawi.

            Caesar ini, di depan siapa Paulus datang, sekarang berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia telah menjadi seorang kaisar selama empat belas tahun. Dan ketika kedua orang itu berdiri saling berhadapan, Paulus, tahanan itu, melihat pada kaisar dari kekaisaran tersebut. Kira-kira apa yang telah dilihatnya ketika dia melihat kepada Caesar. 

 

            Dia melihat pada seorang anak muda yang sebagai seorang anak kecil merupakan salah satu anak yang paling luar biasa ganteng dan manis dari seluruh anak kecil di kota Roma. Tetapi pada usia yang ketiga puluh, sudah pasti dia membuat kerisauan. Dan hal ini tertulis di dalam setiap garis tangan dan garis serta roman dari raut wajahnya.

 

            Rambutnya berwarna coklat dan keriting teratur di sekitar kepalanya. Kedua matanya berwana kelabu uban. Lehernya sangat tebal dan bibirnya melengkung sinis.

 

            Kira-kira apa yang telah dilihat oleh Nero ketika dia melihat pada wajah rasul Paulus. Di sini, dia adalah seseorang yang sudah tua, wajah yang jauh lebih tua dari umurnya, dihentikan melalui beban yang sangat berat yang telah dipikulnya selama bertahun-tahun lamanya. Dia agak lebih tinggi dari rata-rata rang lain. Bahkan Nero, yang di bawah ketinggian pertengahan, melihat pada seorang tahanan yang kurang tinggi dibandingkan dengannya. Kedua matanya sudah buruk sekali. Ketika dia menuliskan sebuah surat, dia hampir-hampir tidak dapat melihat untuk menuliskan namanya sendiri.

 

            Dan dia berdiri di sana, yang ditahan karena nama Kristus ini, di dalam kehadiran dari pengadilan tertinggi dan raja lalim yang paling absolut di dunia ini. Marilah kita membanding-bandingkan kedua orang ini ketika mereka berdiri dan masing-masing melihat pada kedua mata mereka. Marilah kita bedakan mereka, yang pertama di dalam posisi mereka.

 

            Paulus adalah seorang yang sering di tahan di dalam penjara. Dia telah menghabiskan bertahun-tahun dari hidupnya di dalam penjara bawah tanah yang dingin dan lembab dan yang memiliki dinding yang terbuat batu padat. Berdiri di sana dipukuli oleh tongkat-tongkat para petugas penjara Romawi, dipukuli oleh cambuk-cambuk para penganiaya Yahudi, di lempari dengan batu sehingga meninggalkan bekas yang besar berwarna kelabu di wajahnya dan di sekujur tubuhnya, Paulus, tahanan itu, berdiri di hadapan Nero. 

 

            Di mana Nero tinggal?  Nero tinggal di istana emasnya, mungkin yang dibuat karena terbakarnya kota Roma, untuk mana ia menghubungkannya dengan orang-orang Kristen.

 

            Istana emas milik Nero itu memiliki tiga serambi yang panjangnya sekitar satu mil. Istana emas itu begitu tingginya sehingga istana itu dengan mudah menempatkan patung emas dirinya sendiri, dengan tinggi seratus dua puluh kaki.

 

            Paulus, tahanan itu, merasa kenyang dengan memakan makanan dari penjara di sana, yaitu roti dan air. Makanan yang lezat-lezat di meja makan Nero dibawa dari seluruh penjuru dunia ini. Mereka menghancurkan mutiara dalam rangka untuk menghiasi makanan penutup yang mahal-mahal untuk disediakan.

 

            Paulus, tahanan itu, berdiri ditempat itu, dan saya menduga, dia mengenakan pakaian yang masih kotor selama perjalanannya, satu-satunya pakaian yang dimilikinya. Di sini di dalam surat ini dia memohon sehingga Timotius membawakannya sebuah jubah yang ditinggalkannya di rumah Karpus di kota Troas.

 

            Nero, Nero tidak pernah mengenakan sebuah pakaian lebih dari satu kali. Kemanapun dia pergi, seribu kereta yang ditarik oleh keledai akan membawakannya penuh dengan kopor-kopor pakaiannya.

 

            Nero akan menjudikan satu kali lemparan dadu dengan empat ratus ribu pembesar istana. Bahkan keledai-keledainya menggunakan ladam yang terbuat dari perak.

 

            Nero, pangeran dari sebuah kekaisaran dengan Paulus, tahanan dalam Kristus.

 

            Marilah kita membandingkan mereka di dalam sifat alami mereka, di dalam gairah kasih sayang mereka, di dalam hati mereka, di dalam perasaan mereka. Paulus adalah seorang yang berhati sungkan, seorang yang berhati lembut. Dia adalah seorang manusia yang memiliki kepekaan yang hebat. Dia adalah seorang manusia yang cakap, mampu memberikan kasih sayang yang besar. Dia akan menangisi gerejanya. Dan ketika dia akan menuliskan surat kepada jemaat di gerejanya, dia akan mengirimkan kepada dua atau tiga bahkan kadang-kadang sampai dua lusin sahabat.

 

            Ketika dia membungkukkan badan dan berdoa dengan sebuah gereja, mereka akan tertunduk dan menangis dan mencium dia. Mereka akan menemani Paulus sampai bermil-mil jauhnya ketika dia dipaksa untuk melariikan diri. Mereka akan mengirimkannya hadiah-hadiah sepanjang tujuh ratus mil jauhnya. Jemaat-jemaat gereja itu begitu mengasihi rasul Paulus, dan Paulus mengasihi jemaat-jemaat dari gereja-gerejanya itu.

 

            Nero juga berharap untuk mendapatkan kasih sayang. Ketika dia menawarkan kasih sayangnya kepada seorang wanita, seandainya wanita tersebut menolaknya, maka pada hari itu wanita itu telah menandatangani surat perintah atas kematiannya. Ketika seorang yang kelihatannya begitu melankolis di dalam penampilannya, seolah-olah berada di hadapannya tidaklah lebih baik daripada berada di dalam taman paradiso, jika dia terlihat melankolis, dia langsung dibunuh di tempat.

 

            Ketika Burrus, kepala pengawal yang hebat dan terkenal dari Pasukan Pengawal Kaisar, yang mengeluh karena memiliki suatu penyakit kerongkongan, Nero berkata, “Aku dapat mengobatinya dengan suatu pengobatan yang benar-benar.” Kirimkan kepadanya minuman yang beracun dan perintahkan dia untuk dibunuh.

 

            Ketika Seneka, seorang filsuf yang hebat dan gurunya sendiri, menjadi semakin dikasihi oleh para pelajar di kota Roma daripada mengasihi kaisar itu sendiri, Nero mengirimkan Seneka sebuah catatan yang sopan, memberitahukan dia, meminta dia agar melakukan bunuh diri. Seneka mematuhinya, karena apabila tidak mematuhinya berarti akan menghadapi sebuah kematian yang mengerikan juga.

 

            Bibinya yang sedang menderita sakit, yang begitu mengasihi pemuda itu, berkata kepada Nero, ketika bibinya itu menggerakkan wajahnya yang lembut dan mulus itu, “Jika saja Tuhan Allah mau membiarkanku hidup untuk melihat wajahmu yang dicukur untuk pertama kalinya, aku akan berjuang.”

 

            Dan Nero menjawab, “Maka dengan segera aku akan mencukur wajahku.”

             

            Dia lalu melakukannya dan memerintahkan tabib-tabibnya untuk mengirimkannya minuman yang beracun. Dan ketika nafasnya masih berada di tubuhnya, Nero merampas rumahnya.

 

            Nero menceraikan istrinya Octavia dan membunuhnya.

 

            Dua belas hari setelah dia menikahi istri keduanya, Nero mencampakkannya kepada kematiannya tanpa alasan yang lain, kata Seutonius, karena istri keduanya itu membantah dia ketika Nero terlambat datang sepulang dari mengendarai kereta kudanya.

 

            Sebanyak tiga kali Nero mencoba untuk meracuni ibunya namum selalu gagal. Lalu kemudian dia membuat sebuah mesin mekanis di atas tempat tidrnya sehingga ketika wanita itu sedang tertidur, benda itu boleh – atap itu boleh terjatuh ke atas wanita itu dan menimpanya.

 

            Ketika wanita itu selamat dari pencobaan itu, dia membangun sebuah kapal dan memasukkan ibunya ke kapal tersebut dan mengusirnya pergi. Dan ketika kapal itu meninggalkan pelabuhan tersebut, kapal itu pecah berantakan sampai berkeping-keping.

 

            Dengan ajaib sang ibu suri selamat dari peristiwa itu, dan kemudian Nero menyewa pembunuh bayaran yang dengan pisau-pisaunya membunuh ibunya sendiri di kamar tidurnya.

 

            Sungguh suatu perbedaan antara kasih sayang yang dimiliki oleh Paulus, tahanan karena Kristus, dengan Nero, kaisar Romawi itu. Marilah kita memperbandingkan mereka di dalam ambisi mereka.

 

            Nero memiliki sebuah ambisi yang besar. Dia memiliki sebuah ambisi untuk menjadi seorang pemain drama dan menjadi seorang penyanyi dan menjadi seorang aktor serta seorang penunggang kereta kuda. Ketika Nero akan bertanding di sebuah perlombaan dan dia terjatuh, mereka telah diperintahkan untuk dengan cepat dan tergesa-gesa untuk membantu mengangkat dia, dan menempatkannya kembali di tempat duduknya, dan memegangi dia di sana. Dan dia selalu menang. Dia selalu mendapatkan mahkota kemenangan. 

Ketika kadang-kadang Nero dia mengikuti lomba dengan menyamar, senator yang menghajar dia, tanpa mengetahui siapa yang telah didahuluinya, malam itu juga akan dipenggal kepalanya.

 

            Ketika Nero berdiri untuk berdansa di sebuah panggung drama, atau sedang bermain drama di sebuah panggung Yunani, bersama-sama dengan dia ada lima ribu orang pemuda yang sehat dan kuat, mengenakan pakaian mewah, yang digaji untuk bertepuk tangak baginya dan untuk menandai setiap orang di dalam kumpulan manusia itu, setiap orang dari para penonton itu, yang memiliki rasa yang tidak baik untuk tidak bertepuk tangan. Merupakan sebuah kejahatan besar untuk menyebut Nero sebagai seorang penunggang kereta kuda yang buruk atau seorang penyanyi yang buruk atau seorang aktor yang buruk.

 

            Paulus juga memiliki sebuah ambisi yang besar. Ambisinya adalah untuk membuat Injil Kristus dikenal di dunia ini. Ambisinya adalah untuk mengatakan hal-hal yang megah tentang Yesus. 

 

            Dia tidak memiliki ambisi untuk menjai seorang aktor sedemikian; walaupun tragedi hidupnya membuat dia sebagai sebuah tontonan kepada para malaikat dan kepada kaum manusia. Dia tidak memiliki ambisi untuk menulis puisi dan lagu-lagu sedemikian, akan tetapi puisi yang paling indah dan lagu untuk mengasihi yang pernah dituliskan adalah apa yang dituliskannya di dalam pasal yang ke 13 dari kitab 1 Korintus.

 

            Paulus tidak memiliki ambisi untuk diidolakan dan dihargai oleh manusia, dan walaupun demikian, bagi siapa yang mengenal serta mengasihi dia, tidak ada yang lebih dihormati dengan disertai kasih yang lemah lembut daripada kepada Paulus, yang dipenjara karena Kristus.

 

            Sungguh suatu perbedaan yang nyata. Nero yang begitu ingin untuk menjadi terkenal; setiap orang begitu membencinya; Nero yang begitu ingin untuk menjadi bahagia, dan hidupnya menyedihkan. Nero yang begitu ingin untuk menjalani hidup yang mewah, dan dia terperosok ke dalam keadaan hina.

 

            Rasul Paulus merendahlan pujian manusia dan memenangkannya dari mereka dan dari Tuhan Allah. Rasul Paulus memberikan hidupnya untuk menyelamatkan mereka yang tersesat, dan memenangkan mahkota yang kekal serta kebahagiaan yang luar biasa untuk dirinya.

 

            Sungguh sebuah perbedaan antara kedua orang itu, antara Nero dan rasul Paulus.  Kita dapat membandingkan mereka dalam cara yang lain, yaitu dalam komitmen spiritual mereka. 

           

Nero adalah orang fasik. Nero menyatakan dirinya sebagai seorang dewa. Altar-altar telah didirikan bagi dirinya dan kurban-kurban dipersembahkan di dalam namanya. Dengan remeh Nero menolak pendapat bahwa terdapat suatu kekuatan yang lebih tinggi dari yang dimilikinya. Nero merupakan sebuah produk yang khas dari sebuah dunia kefasikan.

 

            Dia mendapatkan pengajaran dari keajaiban terbesar dari segala masa, seorang filsuf yang bernama Seneka. Nero dibesarkan di dalam kekaisaran yang terbesar di zaman dahulu. Dia dididik di dalam kursus-kursus yang paling baik sekali. Dia mewujudkan semua pendapat serta pemikiran dan karakteristik dunia kefasikan. Nero merupakan sebuah produk kefasikan, materialisme, hawa nafsu, dan kesenangan.

 

            Bukanlah sebuah kebetulan bahwa dia merupakan keluarga Caesar yang pertama yang menganiaya para pemeluk agama Kristen. Ketika kota Roma dilanda kebakaran yang hebat, dan penduduk meyakini bahwa dia yang menyulut kebakaran tersebut dalam rangka untuk membersihkan jalan untuk pembangunana istana emasnya, dalam rangka untuk mengalihkan kecurigaan terhadap dirinya, dia mengatakan bahwa para pemeluk agama Kristenlah yang melakukannya. Di dalam penganiayaan terhadap para pemeluk agama Kristen, Nero tidak melakukannya dengan cara yang biasa; dia melakukannya dengan cara yang luar biasa.

 

            Nero membungkus orang-orang Kristen tersebut, mengenakan pakaian bagi mereka dengan kulit hewan dan kemudian melepaskan anjing-anjing yang kelaparan kepada mereka untuk keriangan dan menjadi penghiburan bagi para penduduk. Dan Nero akan melumuri mereka dengan ter dan mengikat mereka ke atas tonggak di tepi-tepi jalan. Dan untuk memandangi tubuh-tubuh mereka yang menggeliat menderita, dia akan mengemudikan kereta kudanya di jalanan kota Roma dengan cara yang menggila.

 

            Tidak ada Tuhan, tidak ada sorga, tidak ada kehidupan yang selanjutnya, tidak ada kekuasaan yang tertinggi, tidak ada apapun kecuali Nero serta materi-materi yang berhubungan dengan dunia hawa nafsu di sekitarnya.

 

            Betapa berbedanya dengan kepercayaan spiritual dari rasul Paulus. Ada Tuhan Allah kepada Siapa suatu hari nanti kita harus menjawab. Ada seorang Juru Selamat, Raja kita, Penasehat di waktu yang besar dan terakhir itu.

 

            Ada perintah yang harus dijalankan. Ada kepercayaan yang harus diterima. Ada Firman yang harus dipatuhi. Ada Tuhan Allah yang harus disembah, harus dikasihi, dihormati serta diikuti.

 

            Betapa berbedanya Nero Caesar yang berada di atas takhta kekaisaran itu dengan orang yang dipenjara karena Kristus, Paulus rasul itu. 

 

            Dan saatnya telah tiba, ketika yang tidak dapat dielakkan itu datang. Waktu untuk meninggal telah tiba.

 

Dan menjadi aneh untuk memikirkan, bahwa mereka meninggal dengan jarak beberapa minggu antara satu dengan yang lainnya, pertama yang meninggal adalah Paulus dan sesudah itu Nero menyusul. 

 

            Bagaimana cara Nero meninggal? Dia masih berada pada tahun yang ke tiga puluh satu dari hidupnya, memulai tahun yang ke lima belas dari pemerintahannya terhadap Yunani, mencoba untuk memikirkan setiap cara baru untuk menikmati kesenangan dan kebahagiaan hawa nafsu. 

 

            Dan sementara dia sedang berolah raga, sedang berakting, sedang menyanyi, sedang berdansa, seorang kurir pesan datang, mengabarkan, “Sebuah propinsi telah memberontak.”

 

            Dia tertawa dan dia berdansa dan dia berakting dan dia bernyanyi, lebih dari segalanya. Dan seorang pembawa pesan datang, “Propinsi lainnya telah memberontak, diikuti dengan yang lainnya juga.”

 

            Nero bergegas kembali ke Roma. Dan ketika dia kembali ke Roma, pasukannya telah terbukti tidak setia dan jenderalnya telah mengkhianati dia. Dan dia mendengar suara orang banyak ketika mereka menjerit, “Galba adalah kaisar.”

 

            Dia pingsan. Ketika dia tersadar, terdengar seruan dari mulutnya, “Apa yang harus kuperbuat, dan kemana arah yang harus kutuju? Aku akan tampil di hadapan rakyat banyak dan memohon akan dukungan mereka.”

 

            Nero tidak berani. Mereka akan mencabik-cabik dia. “Aku akan menenggelamkan diriku sendiri.” Suatu tindakan kepahlawanan yang harus dilakukan. Akan tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.

 

            Terdengar suara langkah-langkah kaki yang berbaris menakutkan dari seluruh kekaisaran, dan kemudian Nero melarikan diri. Empat mil jauhnya di luar kota Roma, merangkak masuk ke dalam rumah dari salah seorang budaknya. Dia tidak mengenakan kasut kaki, begitu cepat dan tergopoh-gopoh langkah kakinya. Matanya merah seperti darah.

 

            Kepadanya diberikan dua bilah belati. Kemudian dia mengeluarkan kedua belati itu dari dalam sarungnya. Dengan tingkah laku yang dibuat-bua, Nero mengangkat kedua belati tersebut ke atas. Dia tidak memiliki keberanian untuk itu. Lalu dia menyarungkan keduanya kembali. Dia terjatuh, dia menangis mengejang.

 

            Agak jauh di luar sana terdengar pecutan dari para penunggang kuda yang telah sampai untuk menyeret dia kembali ke kota Roma untuk mengulitinya hidup-hidup. Nero mengambil salah satu belati tersebut. Dia menikkannya sampai ke tenggorokannya. Dia menyarungkannya kembali.

 

            Dia memohon kepada salah seorang budak itu. Dan untuk membebaskannya dari kesengsaraannya, budak itu membantunya menekan belati tersebut. 

 

            Dan ketika para penunggang kuda itu menggedor pintu lalu masuk ke dalam, di sana mereka menemukan dia di dalam penderitaannya akan pembunuhan terhadap dirinya sendiri, melihat kedua matanya begitu menggelembung. Suatu ketakutan di dalam kematian. Semuanya itu telah dituliskan oleh teman-teman sezamannya yang melihat kejadian itu.

 

            Demikianlah akhirnya dan harganya serta hukumannya dan upahnya serta algomot dari kefasikan serta materialisme dan keberhalaan dan hawa nafsu. Dan Tuhan Allah mendengarkan.

 

            Betapa kahsnya sebuah produk di dalam diri Nero, Kaisar Romawi itu.

 

Paulus mendapat hukuman mati. Sungguh sebuah kematian yang berbeda.

 

“Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.”

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya

 

                        “Oh, Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu.”

 

            Dan sang algojo menajamkan kapaknya. Dan gembala dan tahanan karena Kristus itu meletakkan kepalanya di atas balok kayu itu, dan dalam sekejap, semuanya telah selesai.

 

            Entah di mana mereka sekarang. Entah di mana mereka sekarang. Dan pengaruh yang telah mereka tinggalkan.

 

            Jika saudara-saudara memiliki seorang anak laki-laki yang begitu saudara-saudara kasihi, beberapa dari antara saudara-saudara akan memberikan nama Paulus kepadanya. Jika terdapat seorang pemberita yang besar bangkit, seseorang akan selalu menyebutkannya sebagai gembala Kristus yang terbesar sejak Paulus. Jika saudara-saudara memiliki seekor anjing untuk dinamai, saudara-saudara akan menamai anjing tersebut dengan nama Nero. Semua hal ini bukanlah terjadi secara kebetulan, tidak pula karena keadaan mereka yang kebetulan saja.

 

            Produk kefasikan serta sensualisme dan materialisme selalu merupakan manifestasi di dalam pandangan mata, ditandai dari wajah, di dalam kata-kata serta tekanan suara, di dalam setiap sikap berjalan serta berbicara.

 

            Dan pelayan Kristus, dengan rendah hati, dengan menawan hati, dengan percaya, melihat kepada Yesus. 

            Jika hal itu adalah kehendak, kita akan berjalan sampai dengan hari itu. Seandainya Dia memberikan waktu seminggu untuk kita, semoga minggu itu boleh menjadi kemuliaan bagi Dia. Dan ketika saatnya tiba dan Tuhan mengatakan sudah cukup, dia akan menjawab, “Dan saya sudah siap. Meskipun demikian, datanglah, Tuhan Yesus.”

 

            Oh, Saya tidak melihat bagaimana seorang manusia dapat menjadi ragu ketika dia membuat pilihannya. Saya tidak melihat mengapa seseorang bahkan akan berperang tentang keputusan yang telah diambilnya.

 

            Karena bagi saya, demikianlah Allah. Karena bagi saya, demikianlah Tuhan. Karena bagi saya, demikianlah Juru Selamat itu. Maukah saudara-saudara melakukannya sekarang juga, seseorang, saudara-saudara yang akan memberikan hatimu kepada Yesus?  Datang dan berdirilah di samping saya.

 

            “Pada hari ini, malam ini juga, saat ini juga, aku menerima Kristus sebagai Juru Selamatku. Di dalam iman, di dalam kepercayaan, melihat kepada Dia, inilah aku, dan inilah aku datang.”

 

            Seseorang yang akan memberikan hidupnya dengan kami di dalam persekutuan gereja ini, maukah saudara-saudara datang dan berdiri di samping saya? Engkau dan sekeluargamu, satu orang, seseorang dari antara saudara-saudara.

 

            Seperti Tuhan Allah yang akan mengucapkan firman, yang akan membukakan pintu-pintu, mohonkanlah, maukah saudara-saudara datang dan melakukannya sekarang juga sembari kita semua berdiri dan bernyanyi?