MENGASIHI DUNIA YANG SALAH

(LOVING THE WRONG WORLD)

 

Dr. W. A. Criswell

 

11-23-58

2 TIMOTIUS 4:10

 

           

Judul dari khotbah malam hari ini ialah, MENGASIHI DUNIA YANG KELIRU. Dan nas bacaan kita berada di dalam kitab 2 Timotius 4:10. 

 

            Marilah kita baca bersama-sama pasal yang keempat kitab Timotius dari ayatnya yang pertama sampai dengan ayat yang ke 11. Kitab 2 Timotius 4:1 sampai dengan 11. Hampir di penghujung Alkitab anda, 2 Timotius 4:1 sampai 11. Apakah semua kita sudah melihatnya?

 

            Nah, marilah kita membacanya bersama-sama. Kitab 2 Timotius 4:1 sampai dengan 11,

 

“Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi pernyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya.

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Berusahalah supaya segera datang kepadaku,

Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.

Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku,”

 

           

 

Dan nas kita diambil dari 2 Timotius 4:10, “Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku.” Mencintai dunia yang keliru.

 

            Orang yang bernama Demas itu, kedua orang tuanya pasti telah merasakan berkat serta talenta di dalam kelahiran dari putra yang begitu tampannya, yang telah dibuktikannya serta memberikan sebuah nama dengan menggunakan bahasa Yunani kepadanya yang bermakna terkenal, Demas

 

            Dan di dalam pemeliharaan Tuhan Allah, disebabkan oleh bakatnya yang ajaib, anugerah yang diterimanya dari sorga, dia telah bergabung dengan Paulus di tengah-tengah pelayanan orang-orang Kristen ini. 

 

            Sebagai contoh, ketika Paulus menyebutkan nama-nama para pahlawan iman Kristen, gembala dan misionaris besar iman itu, di dalam kitab Kolosse 4, di dalam pasal yang keempat 4 ayat yang keempat belas, dia mengatakan, “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.”

 

            Dari rumah penjaranya di sana dia mendapatkan dorongan semangat, didukung oleh pengabdian, keberanian dari kedua orang Yunani ini. “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.”

 

            Ketika saya membalik-balik halaman Kitab itu, di dalam surat Paulus kepada Filemon, yang tinggal di dalam kota Kolose, saya membaca demikian,

 

“Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus,

Dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku.”

           

Di tengah-tengah persahabat itu – Markus, Lukas, Timotius, Aristarkhus, Epafras, Tikhikus – di tengah-tengah kelompok tersebut berdirilah seorang anak laki-laki yang cakap dan berbakat serta diberkati yang bernama Demas, terkenal.

 

            Oleh karena itu, dapatkah saudara-saudara membayangkan, keterkejutan dan kejutan dengan mana Timotius – yang bersama dengan orang-orang ini telah membahayakan nyawanya karena Injil – dapatkah saudara-saudara membayangkan keterkejutan serta kejutan ketika Timotius membuka surat yang berasal dari rasul besar Paulus dan membaca, “Demas - Demas, yang telah berhadap-hadapan dengan singa-singa, yang telah melalui penganiayaan orang-orangnya Nero – Demas telah meninggalkan aku,” dan memberikan alasannya mengapa.

 

            Saya dapat membayangkan Timotius, ketika dia melihat surat tersebut, memalingkan wajahnya kepada kumpulan orang-orang Kristen kecil yang teraniaya yang telah mengenal kekuatan orang tersebut, yang telah mengenal tenaga orang itu, seorang anak laki-laki yang berbakat, dan berkata, “Lihatlah, bacalah sendiri. Saya hampir-hampir tidak mempercayainya. `Demas, Demas telah meninggalkan aku, karena telah mencintai dunia ini,’” dan alasannya mengapa. 

            Bukan karena dia merasa gentar menghadapi singa-singa itu. Bukan karena adanya penganiayaan itu, atau kekerasan atau pencobaan atau kemelaratan hidup. Demas, berdiri di hadapan rasul Paulus ketika dia menuliskan dua surat dari penjara, dan tidak diragukan lagi merupakan teman sepenjara yang berada di sampingnya.

 

            Di sana ada sebutan orang-orang Timur yaitu “nasi orang-orang Kristen.” Mereka berada di sana ketika makanan itu terkenal dan beruntung berada di sana. Tetapi ketika penganiayaan itu bangkit, mereka menghilang.

 

            Tidak demikian dengan Demas. Berhadap-hadap dengan api yang diputuskan di bawah perintah Nero, Demas berdiri di samping Paulus, menghadapi bahaya serta resiko dan kemartiran.

 

            Pembelotannya tidak berkaitan dengan ketakutan pribadinya untuk dirinya sendiri atau kemungkinan apa yang menjadi hasil di dalam semua pencobaan yang boleh dia hadapi, maupun terhadap pembelotannya yang berkaitan dengan keragu-raguan intelektual.

 

            Banyak, begitu banyak dari para pendukung besar dari iman orang Kristen telah meletakkan tugas mereka, telah menutup Alkitab mereka, telah meninggalkan gereja mereka, karena meluapnya keragu-raguan intelektual tersebut.

 

            Mereka telah sampai pada suatu tempat di mana mereka tidak dapat lebih lama lagi percaya dalam keilahian Kristus. Mereka tidak dapat percaya lebih lama lagi di dalam ilham dari Kitab Suci tersebut. Mereka tidak dapat lebih lama lagi percaya di dalam realitas sorga. Mereka telah menyamping dari semua janji-janji agung Tuhan Allah serta menghadapi suatu keputus-asaan yang terakhir kalinya.

 

            Keragua-raguan intelektual, salah satu hal yang paling menjijikkan yang menetap di dalam bayangan setiap manusia yang pernah mempelajari. Pemuda yang paling brilian yang pernah datang di Seminari Theologi Baptist Selatan di kota Louisville, Kentucky, bernama Crawford H. Toy. Dia merupakan seorang pemuda Yahudi yang mendapatkan beasiswa dan telah mendapatkan suatu berkat yang luar biasa. Di dalam perpustakaan saya, saya memiliki beberapa jilid buku karangannya.

 

            Crawford H. Toy, mengajar di seminari tersebut ketika usianya masih muda di bawah pendidik yang brilian dan diberkati seperti John A. Broadus dan James Petigru Boyce dan William N. Whitsitt, Crawford H. Toy memulai untuk mempelajari kritik rasionalis Jerman. Dan ketika hari-hari telah berlalu, imannya menjadi terkikis.

 

            Akhirnya pihak fakultas - Dr. Broadus, Dr. Boyce – memanggil dia masuk untuk berunding dan memecat dia dari seminari tersebut. 

 

            Ketika John – ketika James Petigru Boyce dan John A. Broadus menemani pemuda itu ke sebuah stasiun untuk menaikkannya ke dalam sebuah kereta api untuk mengenyahkan dia, Dr. Boyce, pemimpin dari seminari tersebut, menderita sebuah penyakit pada kedua kakinya, dan dia melangkah dengan sebuah tongkat.

 

            Dan ketika kondektur itu berkata, “Semua penumpang naik,” dan Crawford H. Toy melihat pada papan pengumuman kereta tersebut, sang pemimpin seminari, James Petigru Boyce, dari bawah lengan kirinya dia melepaskan salah satu tongkat berjalannya, dan kemudian bersandar pada Crawford H. Toy, melingkarkan lengannya kepadanya dan mengangkat lengannya yang lain ke arah langit seraya berkata, “Crawford, saya akan memberikan tangan kanan ini seandainya engkau kembali seperti ketika kami melihat engkau di dalam seminari tersebut.”  [Ed, “Oh, Toy, dengan senang hati aku akan memberikan lengan itu untuk dipenggal jika saja engkau tetap di tempat mana engkau lima tahun yang lalu, dan tetap berada di sana.” - John A. Broadus, Riwayat Hidup James Petigru Boyce (N.Y.: A.C. Armstrong, 1893; dicetak ulang di Louisville, MS: Mounts, n. d.), 264.]

 

            Dia kemudian menjadi seorang dosen ilmu Yahudi di Universitas Harvard. Dia menjadi anggota gereja Unitarian Church. Pada akhirnya dia sampai pada sebuah tempat di mana dia sama sekali tidak pernah pergi mengunjungi sebuah gereja. 

 

            Ketika Lottie Moon, misionaris di China, yang kemudian telah jatuh cinta kepada profesor muda yang cerdas itu, kembali dari cuti dari China, dia pulang untuk kemudian menetap. Dia pulang untuk menikah dengan dosen muda itu. Crawford H. Toy. 

 

            Dan setelah wanita itu mengunjungi dia dan berbicara dengan dia serta melihat bagaimana keragu-raguan intelektual telah mengikis imannya, di dalam penderitaan serta kesedihan yang hebat, dia meninggalkan perkawinannya dan dia meninggalkan pemuda tersebut dan pergi kembali ke China untuk menghabiskan sisa hidupnya di sana sebagai seorang wanita yang tanpa pasangan, seorang perawan tua, dan tinggal di sana sampai akhirnya dia meninggal dunia.

 

            Keraguan intelektual telah menhancurkan beberapa orang raksasa dunia di dalam Iman orang Kristen serta di dalam gereja orang-orang Kristen.

 

            Akan tetapi Demas tidak membelot karena iman serta kepercayaan intelektual yang mustahil. Tidak dikatakan bahwa dia telah menyerahkan imannya atau bahwa dia telah menyangkalnya atau dia telah meninggalkannya, ataupun dikatakan bahwa dia telah meninggalkan Tuhan dan telah meninggalkan rasul itu karena kebejatan serta kehancuran moral. Hal itu memungkinkan di dalam kehidupan beberapa hamba Tuhan yang paling cerdas dan cakap.

 

            Ada orang yang datang menemui saya ketika penelitian saya berada di balik aula ini, ada orang yang datang menemui saya, salah seorang pemuda yang terbaik dan terganteng yang pernah saya lihat. Saya telah mendengar kabar tentang dia. Dia orang yang memiliki karir yang melejit dengan pesat. 

 

            Dr. Dodd, yang mana kemudian merupakan pendeta di gereja First Church di kota Shreveport, Louisiana, telah memakai pemuda itu sebanyak dua atau tiga kali di dalam pertemuan kebangunan kembali dan telah berkata di mana saja bahwa dia merupakan seorang pendeta yang paling berbakat dari generasi ini. Tidak seorangpun yang seperti dia.

 

            Dr. Powell, pendeta di gereja First Baptist Church di kota Nashville, Tennessee, berkata, “Saya belum pernah mendengar seorang pemuda dengan kefasihan berbicara yang begitu menggerakkan di dalam hidup saya seperti pemuda ini.”

 

            Dan ketika dia mampir untuk bertemu dengan saya, kesenangan saya menjadi dua kali lipat untuk bertemu dengannya. Saya berbincang-bincang dengannya mengenai hari itu serta kemungkinan akan waktu bagia dia untuk berkunjung ke gereja kita yang kita kasihi ini di kota Dallas ini dan memimpin kita di dalam salah satu seruan akan kebangunan kembali yang agung itu yang mana seperti ketika dia telah membuat kota Shreveport, Louisiana, dan Nashville, Tennessee menjadi diberkati.

 

            Setelah bertahun-tahun sesudahnya, ketika dia sedang melintas, dia masuk ke dalam gereja kita. Saya tidak mengetahui kalau dia berada di sana. Setelah kebaktian tersebut usai dan saya berjalan menuju ke belakang berjabatan tangan dengan orang-orang ketika mereka hendak pulang ke rumah mereka, datanglah kepada saya seorang gelandangan, seorang gelandangan yang kotor, bau dan dekil. Dia menjabat tangan saya dan berkata, “Apakah anda kenal dengan saya? Apakah anda ingat kepada saya?”

             

            Saya berkata, “Tidak, saya belum pernah melihatmu sebelumnya. Saya tidak mengenal engkau.”

 

            Lalu kemudian dia berkata, “Saya adalah...” dan dia menyebutkan namanya. Orang yang sama.

 

Seminggu sesudahnya, saya menerima telepon dari Al Badger yang menjalankan usaha Golden Pheasant Cafe. Dan dia berkata kepada saya, “Pendeta, saya sangat tidak suka meletakkan beban lainnya kepada anda, akan tetapi saya memiliki seorang gelandangan yang merupakan seorang pendeta dari gereja Baptist yang telah saya beri makan selama berhari-hari dari dapur saya. Dan saya hanya berfikir bahwa beberapa orang dari antara kalian harus datang untuk melihat apa yang anda dapat perbuat terhadapnya.”

             

            Saya terkejut. Saya berusaha semampu saya untuk berteman dengannya. Saya menelepon dia di St. Louis, Missouri, untuk mengetahui di mana saya harus mulai dan apa yang dapat saya perbuat. Dan dia menuraikan program tersebut kepada saya adan saya telah melakukannya. Dan dia telah mendapatkan perawatan, dan tak lala kemudian dia meninggal dunia. Apa yang dapat dilakukan oleh bermabuk-mabukan serta kebejatan serta kehancuran moral terhadap anak Allah yang begitu diberkati itu. 

 

            “Demas telah meninggalkan aku.” Bukan karena penganiayaan itu, bukan karena keraguan intelektualisas, dan bukan karena kehancuran moral. Tetapi Paulus mengatakan alasan mengapa Demas telah meninggalkan aku, “Demas telah mencintai dunia ini.”

 

            Apa yang tidak dapat dilakukan oleh singa-singa itu, apa yang tidak dapat dilakukan oleh penganiayaan itu, apa yang tidak dapat dilakukan oleh serangan intelektual itu, apa yang tidak dapat dilakukan oleh kebejatan itu, dapat dilakukan oleh kemegahan, panggilan, kesombongan dan kemuliaan dunia ini. Dunia telah mengambil dia. Dia menjadi budak perasaan dan waktu dan benda dan budak dari dunia ini.

 

            Sudah dipersembahkan kepada Yesus. Saudara-saudara tidak perlu bermabuk-mabukan, bermoral bejat, saudara-saudara tidak perlu menjadi orang fasik, saudara-saudara tidak perlu membungkukkan diri saudara-saudara di hadapat suatu pencobaan dan penganiayaan yang besar untuk menyangkal iman.

 

            Tuan, saya dapat melihatnya. Ada sebuah kemegahan terdapat di dunia ini. Ada suatu kemewahan terdapat di dunia ini.

 

            Dan semuanya itu terorganisir dan teruraikan dengan sempurna. Semuanya itu memiliki suatu seruan. 

 

            Istri Lot meninggalkannya, hatinya tertinggal di sana. Perhatiannya berada di tempat itu. Dia tidak dapat menahan diri untuk tidak melihat ke belakang ke arah kota itu.

 

            Semua telah dipersembahkan kepada Yesus. Kerajaan dunia dan kemuliaan dari padanya hanya “membungkukkan badan dan menyembah kepada-Ku”. Dia menolaknya.

 

            Demas menerimanya, dia telah mencintai dunia ini. Seperti roda roulette, hal itu menjanjikan sebuah hadiah. Hal itu menjanjikan sebuah penghargaan. Tidak ada penyangkalan dari kepentingannya dan seruan permohonannya. Akan tetapi akhir darinya adalah gelap dan sama sedih serta ketidak berdayaan dengan kematian dan kelam dan makamnya sendiri.

 

            “Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku.” Apakah saudara-saudara memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus says, “telah mencintai dunia ini.” Segala hal dari waktu dan tempat ini.

 

            Semua orang yang mencoba untuk menarik sebuah garis pemisah seperti antara yang bersifat rohaniah dan yang bersifat tidak rohaniah di dalam segala hal, tidak pernah dapat mencapainya. Semua benda di dalam dirinya, dunia ini di dalam dirinya sendiri, apakah itu bermoral atau tidak, atau tidak bermoral. Semua itu hanya dikatakan sebagai benda. 

           

Keadaan itu merupakan kecintaan akan benda-benda. Kecintaan terhadap dunia ini. Hati yang berada di dalamnya yang membuat saudara-saudara menjauh dari Tuhan Allah. Semua benda di dalam dirinya sendiri adalah kesia-siaan saja. Tidak ada sama sekali.

 

            Lihatlah, betapa mudahnya seorang pria yang tidak mengenakan alas kaki sambil berjalan berfikir bahwa orang yang sedang mengemudikan sebuah mobil yang bermerek Buick atau Chrysler adalah orang yang sudah bersifat duniawi. Betapa mudahnya bagi seseorang untuk mengenderai mobil bekas tangan kedua ataupun tangan ketiga untuk berfikir bahwa orang yang sedang mengemudi di dalam sebuah Rolls Royce merupakan orang yang sudah bersifat duniawi. Begitu mudahnya bagi seseorang yang hidup di dalam sebuah gubuk untuk percaya bahwa orang yang tinggal di sebuah griya tawang itu adalah seorang yang bersifat duniawi. 

 

            Sebenarnya, hal itu tidak memiliki suatu hubungan apapun. Ada orang yang mengendarai mobil yang besar, yang tinggal di perumahan-perumahan yang indah, yang memiliki banyak kemudahan berkat yang dapat diberikan oleh harta kekayaan kepada mereka, yang melihat akan benda-benda tersebut seperti melihat kepada sampah dan sekedar sebuah benda, yang hatinya telah diserahkan kepada Tuhan Allah, yang mengasihi Yesus. 

 

            Dan banyak orang yang tinggal di dalam gubuk-gubuk yang berjalan tanpa menggunakan alas kaki, atau mengemudikan mobil kelas tiga, yang di dalam hatinya benar-benar memiliki sifat keduniawian. Keduniawian dapat tinggal di bawah naungan topi wanita sama seperti ketika berada di bawah mahkota.

 

            “Telah mencintai dunia ini.” Itu merupakan sifat kecintaan akan benda-benda. Itu merupakan sifat kecintaan akan waktu. Itu merupakan sifat kecintaan akan dunia ini yang membujuk kita serta menjauhkan kita dari Tuhan Allah.

 

            Apakah saudara-saudara memperhatikan ketika dia berkata “dunia ini”? Lalu kemudian ada satu hal lain lagi.

 

            “Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku.” Lalu, pasti ada dunia yang lain lagi. 

 

            Dan di dalam kedua orang ini, bagaimana mereka melambangkan yang satu dan yang lainnya. “Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku,” dan kembali ke ibu kota dari Tesalonika, hatinya berada di dunia ini, hidupnya terperangkap di dalam dunia ini, hidup di dalam kemuliaan dan kemewahan serta seruannya.

 

            Sudah berapa lama, saya tidak mengetahuinya. Tetapi biar sudah berapa tahun berjalan, sedemikian kecilnya pun berada di dalam dunia ini. Dan Paulus hidup untuk dunia yang akan datang nanti, dan dia berkata “Saat kematianku sudah dekat.”

           

            “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

 

            “Dan aku sudah siap untuk dipersembahkan.” Akan tetapi ada sebuah dunia yang lain lagi.

 

            “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”

 

            Ada hari yang lain lagi, ada zaman yang lain lagi; ada waktu yang lain lagi, ada dunia yang lain lagi. Dan Demas telah memilihi dunia yang ini dan menjadi binasa di dalamnya.

 

            Dan Paulus membuka kedua matanya di balik dinding-dinding batu utu dan di balik jeruji-jeruji besi itu dan telah melihat langit telah digulung kembali seperti sebuah gulungan dan hari kejayaan yang mulia ketika Dia akan datang untuk menjadi Tuhan dan Juru Selamat terhadap mereka yang telah percaya di dalam Dia.

 

            Mencintai dunia yang keliru. Bukan karena saudara-saudara pemabuk, bukan karena saudara-saudara bermoral bejat, bukan karena saudara-saudara adalah orang fasik, bukan karena saudara-saudara tidak memiliki suatu keberanian serta pendirian; itu hanyalah dunia yang telah membuat permintaan kepada saudara-saudara, dan saudara-saudara telah memilih dunia yang sekarang serta melupakan kekekalan. Engkau telah memilih sorak-sorai – manusia – dan saudara-saudara telah melupakan kemurahan Tuhan Allah. Saudara-saudara telah memilih dunia ini dan telah melupakan dunia yang mau datang nanti.

 

            Oh, oh, oh, dan setiap waktu saya telah melihatnya. Kita telah kehilangan mereka.

 

            Mengapa? Bukan karena mereka itu jahat, bukan karena mereka itu pemabuk, akan tetapi mereka berada di dunia sana, dan dunia itu telah memiliki mereka, dan mereka sudah kehilangan minat kepada Tuhan dan kehilangan minat kepada Kristus dan kehilangan minat kepada kita, karena mereka telah mencintai dunia ini.

 

            Oh, oh, oh, maukah Tuhan Allah meletakkan kata-kata yang lancar itu di dalam mulutku, di dalam lidahku. Maukah Tuhan Allah ada di dalam tanganku yang jenius dan bertenaga untuk mengembalikan mereka?

           

            Oh, Demas, Demas, Demas. Lihatlah, di sorga sana berada rasul itu dan di sorga sana berada Tuhan kita, dan disini terdapat banyaknya saksi-saksi.

 

            Tuhan menolong kita untuk jujur kepada iman.Tuhan menolong kita untuk mencapai garis akhir. Tuhan akan menolong kita untuk mengakhiri pertandingan yang baik.

 

            Di dalam seruan yang diperbuat di dalam nama Juru Selamat kita malam hari ini, seseorang dari antara saudara-saudara, yang akan memberikan hatinya kepada Tuhan, maukah saudara-saudara datang?

            Di dalam kerumunan massa ini, di dalam sekeliling balkon ini, berikah hidupmu kepada Yesus. Di bawah anak-anak tangga yang di depan ini atau yang ada di belakang, maukah saudara-saudara datang? Di dalam kerumunan orang-orang yang besar pada lantai yang lebih rendah ini, seseorang dari anda, masuk ke dalam lorong itu dan di sini sampai ke depan, maukah saudara-saudara datang?

 

            “Malam hari ini, aku menyerahkan hatiku di dalam kepercayaan kepada Kristus,” atau “Malam hari ini, kami menyerahkan hidup kami di dalam persekutuan dari gereja yang diberkati ini.”

 

            Mungkin seseorang dari anda terhanyut dan masuk ke dalam dunia ini. Maukah saudara-saudara datang pada malam hari ini?

 

            “Di sini, Tuhan Allah melihat kepadaku, disini aku mempersembahkan kembali dan mengabdikan kembali hidupku kepada Yesus. Aku melakukannya sekarang juga.”

             

            Seperti Tuhan Allah yang akan meminta saudara-saudara, seperti Tuhan yang akan berfirman, seperti Roh Kudus yang akan memimpin di depan, turunilah salah satu anak-anak tangga ini, masuklah ke dalam lorong itu, dan masuk ke bagian depan., “Inilah aku, pak Pendeta, dan inilah aku yang datang.. Tuhan melihat kepadanya. Aky menyerahkan hatiku kepada-Nya. Aku mempersembahkan hidupku kepada-Nya.” Atau “Kami menyerahkan hidup kami di dalam persekutuan dari gereja yang luar biasa ini.”

 

            Maukah saudara-saudara melakukannya sekarang juga? Maukah saudara-saudara melakukannya pada malam ini juga, pada nada yang pertama dari bait yang pertama, sembari kita semua berdiri dan berdoa dengan sepenuh hati menyanyikan seruan ini?