BERTERUS TERANG MEMBERITAKAN PERKATAAN KEBENARAN ITU

(RIGHTLY DIVIDING THE WORD OF TRUTH)

 

Dr. W. A. Criswell

 

10/19/58 b

2 Timotius 2:15

           

           

Teks itu merupakan sebuah ayat yang terkenal. Teks itu merupakan motto dari Training Union - Serikat Pelatihan, dan telah menjadi tahun-tahun perkembangannya.

 

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 

 

Dan kita mengambil teks itu dari anak kalimat yang terakhir tersebut, “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 

 

            Saya kira saya sudah melihat ribuan kali pada teks yang ditulis di dalam bahasa Yunani tersebut. Ribuan kali.

 

            Ketika saya menimba ilmu di sebuah seminari di kota Louisville, salah satu institusi yang paling indah di seluruh Amerika. Norton Hall merupakan aula utama dari seminari tersebut, dan sejenis pohon besar yang indah berada di depannya, dan rumput yang laksana karpet yang bertabur zamrud, dan jalan masuk kenderaan yang berbentuk setengah lingkaran dari jalan Lexington Avenue sampai ke depan Norton Hall lalu kembali lagi ke jalan Lexington Avenue. 

 

            Dan saya mengemudi melalui jalan masuk tersebut ketika umur saya masih dua puluh satu tahun untuk mendaftar ke seminari tersebut. Dan di seberang beranda di atas pilar-pilar itu ada tertulis kata-kata yang menggunakan bahasa Yunani yang berbunyi: orthotomounta ton logon tes aletheias, berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 

 

            Dan selama enam tahun saya menimba ilmu di sekolah itu, tak terhitung jumlahnya saya telah melihat pada teks Yunani itu.

 

            Saya tidak pernah berkhotbah tentang isi dari kalimat tersebut. Sudah sering saya memikirkannya. Memikirkan untuk memberitahukan salah satu anggota kita yang setia bahwa ketika kita sampai pada Kitab 2 Timotius 2:15, terlebih dahulu saya telah menetapkan di dalam hati saya untuk mempersiapkan sebuah khotbah tentang teks tersebut. Dan khotbah itu akan kita dengarkan pada malam hari ini.

 

BERTERUS TERANG MEMBERITAKAN PERKATAAN KEBENARAN ITU.

           

Kalimat itu sesungguhnya, setulusnya, sebenarnya, merupakan salah satu kelompok kata yang paling penuh arti di dalam Kitab Perjanjian Baru karena kalimat itu mengandung begitu banyak pengertian dengan warna yang berbeda. 

            Dan beberapa dari antaranya akan saya ambil pada malam hari ini. Penguraian mendalam yang saya perbuat tanpa disertai dengan maksud yang lain.

 

            Setiap komentator, setiap sarjana Yunani, setiap ahli-ahli ilmu agama besar akan memiliki pandangan yang berbeda, memiliki penafsiran yang berbeda, ketika mereka melihat pada ungkapan ini, mencoba untuk mencari tahu pemikiran dari Roh yang berada di dalamnya, dan kemudian menguraikannya di dalam sebuah permukaan yang baru.

           

            Saya pikir, semua orang ada benarnya. Semua orang berharga. Setiap orang memiliki suatu jasa dan nilai yang menyenangkan. Maka, di dalam waktu yang sedikit yang kita miliki untuk warta tersebut di malam hari ini, kita akan mengikuti beberapa dari pengertian-pengertian yang berbeda yang telah diberikan kepada teks yang ajaib serta indah ini, BERTERUS TERANG MEMBERITAKAN PERKATAAN KEBENARAN ITU.

 

            Ada beberapa orang yang berfikir bahwa perumpamaan yang diikuti oleh Paulus di dalam berbicara bahwa berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu merupakan pemandangan yang telah dilihatnya, yang telah dilihat oleh seluruh bangsa Israel, di dalam bait suci.

 

            Apabila saudara-saudara kembali dan membaca peraturan dari Suku Levi terhadap kurban ukupan, berkali-kali saudara-saudara akan menemukan, bahwa para imam telah diperintahkan untuk membagi kurban-kurban ukupan itu dengan begitu indahnya dan begitu hati-hati serta begitu cermatnya.

 

            Ketika seorang penyembah datang dengan seekor anak domba atau seekor domba atau seekor kambing jantan atau seekor banteng atau seekor kambing, setelah hewan kurban tersebut dibunuh dan darahnya dituangkan di dasar dari altar atau dipercikkan ke atas altar dan kadang kala di bawa masuk ke dalam tempat yang paling suci.

 

            Setelah penuangan dan persembahan darah tersebut, imam tersebut, berdasarkan perintah-perintah yang sangat hati-hati itu, mengambil korban pengorbanan itu, dan dengan hati-hati dia memotongnya, memisah-misahkannya, memasang-masangkan setiap potongan persis dengan pasangannya masing-masing secara berhadap-hadapan.

 

            Pada saat saudara-saudara membaca pasal penuh arti yang tiada bandingannya itu, pasal ke 15 dari kitab Kejadian, saudara-saudara akan menemukan bahwa Abraham mengambil potongan-potongan yang terpisah dari kurban yang telah dipersembahkannya kepada Tuhan dan meletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain. 

 

            Dan Tuhan sendiri berjalan di antara potongan-potongan kurban tersebut dan mengambil keputusan di sana tentang nasib dari keturunan. 

 

            Untuk hal ini, beberapa orang berpendapat, merupakan suatu reaksi dan sebuah kenangan. Mencontoh dari sebuah simbolisme yang telah dilihat oleh Paulus di dalam bait suci tersebut, berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 

            Berkata kepada Timotius muda, “Engkau tidak boleh memotong-motongnya. Engkau tidak boleh memaksanya. Engkau tidak boleh mengoyakkannya. Engkau tidak boleh mematahkannya. Akan tetapi berdasarkan pikiran serta perintah dari Roh, kurban tersebut harus dipisah-pisahkan dengan hati-hati dan dipersembahkan kepada Tuhan dan di hadapan oleh orang banyak.

 

            Sekarang, izinkanlah saya menerapkannya untuk waktu yang singkat. Dengan mengikuti perumpamaan tersebut, “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Bukan dengan cara memotong-motongnya. Bukan dengan cara mematahkannya. Bukan dengan cara mengoyakkannya. Akan tetapi mempersembahkannya. Di dalam pembagian, sama seperti yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan.

 

            Sebagai contoh, berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu untuk menjernihkan perbedaan serta pemisahan diantaranya, katakanlah, di antara perjanjian dari Kitab Suci yang telah disingkapkan. 

 

            Sebagai contoh, perjanjian kasih karunia dan perjanjian atas perbuatan dari Hukum Taurat. Secara keseluruhan keduanya merupakan perkara yang berbeda. Dan di dalam penjelasannya, seharusnya mereka harus dibagi dengan benar.

 

            “Karena Hukum Taurat diberikan oleh Musa akan tetapi kasih karunia dan kebenaran datang bersama Yesus Kristus.” Dan setiap pemberita Firman yang sejati yang benar-benar memberitakan perkataan kebenaran dari pada Tuhan itu niscaya akan selalu menjelaskan perjanjian dari Hukum Taurat sebagai suatu penyelidikan akan hati manusia.

 

            Sebagai seorang pembuka pikiran seluruh umat manusia, termasuk kita semua, sebagai seorang orang-orang yang berdosa di hadapan Tuhan. Sebagai seorang kepala sekolah yang membawa kita kepada Yesus. 

 

            Tak seorangpun yang mampu mentaati Hukum Taurat tersebut. Tak seorangpun yang diselamatkan oleh perbuatan Hukum Taurat tersebut. Akan tetapi Hukum Taurat bersama-sama dengan perjanjiannya serta maksud-maksudnya telah menyingkapkan dosa-dosa kita kepada kita semua,bahwa dosa kemungkinan akan menjadi penuh dosa yang kelebihan dan kemungkinan kita akan diarahkan kepada Kristus. Dan kemudian ini merupakan perjanjian kasih karunia itu.

 

            Kita telah dibersihkan dari dosa-dosa kita di dalam darah Anak Domba. Gunung Sinai, begitu menakutkan dan begitu gelap dan begitu mengancam. Bahkan andaikata seekor binatang buas menyentuhnya, niscaya binatang buas tersebut akan mati. Akan tetapi berbeda dengan Gunung Kalpari, di mana tempat Juru Selamat kita meninggal, semua orang dapat mendatanginya.

 

            Setiap orang dapat berlutut. Setiap orang dapat menyentuh. Setiap orang dapat melihat. Kedua perjanjian tersebut berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 

            Izinkanlah saya mengambil contoh yang lain lagi. Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Membuat suatu perbedaan serta pemisahan besar antara sebab dan akibat antara akar dengan buah. Sungguh seorang ahli tumbuh-tumbuhan yang buruk yang merasa bingung untuk membedakan umbi dengan pucuk. 

 

            Sungguh seorang ahli penunggang kuda yang buruk untuk meletakkan kereta sebelum kudanya.

 

            Jadi demikianlah adanya, pelayan Tuhan yang sejati. Dia harus berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Dan ketika orang-orang berkata, “Oh, Aku ingin menjadi seorang Kristen. Dan andaikata aku bisa mendapatkan sukacita yang besar itu di dalam hatiku, aku akan yakin kepada Yesus, dan percaya.”

 

            Dan orang yang lainnya akan berkata, “Apakah anda tahu, jika aku dapat memiliki perasaan yang hebat di dalam jiwaku, aku akan turun ke lorong itu dan akan kuberikan tanganku kepadamu, dan aku akan mengikut Yesus.” Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.

 

            Saudara-saudara telah memutar balikkannya. Saudara-saudara sudah memaksakannya. Saudara-saudara telah membelitnya. Saudara-saudara telah menjadi bingung membedakan antara buah dengan akarnya. Akibat bertukar dengan sebabnya. Sukacita besar yang berkelimpahan yang sampai kepada orang Kristen, datang dari kepercayaannya kepada Tuhan.

 

            Yang pertama, kita yakin, kita percaya dan kemudian Tuhan memberkati kita. Masuk bersama ke dalam hati kita dengan kegembiraan dan bernyanyi serta memuji dan semua janji-janji indah yang tertulis jelas di dalam Kitab Suci tersebut. berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.

 

            Marilah kita lihat contoh yang lain. Kita bisa menghabiskan sepanjang malam hanya berada di dalamnya. Marilah kita lihat satu atau dua contoh yang lain lagi, dengan singkat saja. Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Membuat pemisahan serta perbedaan antara reformasi dengan regenerasi.

           

            Reformasi merupakan suatu usaha percobaan dari manusia alami untuk dapat diselamatkan dari perbuatan baiknya. Karena jasa. “Aku akan merubah jalanku. Aku akan berbuat lebih baik lagi. Aku akan meninggalkan hal-hal yang begini. Dan aku akan mulai untuk melakukan hal-hal yang lain ini.”

 

            Dan dia berfikir untuk menjadi seorang manusia yang lebih bagus dan lebih baik sehingga dengan cara demikian dia akan mempercayakan dirinya sendiri kepada Tuhan. Dia akan diselamatkan di dalam dirinya sendiri. Demikianlah pengertian dari reformasi itu.

 

            Regenerasi merupakan sesuatu yang secara keseluruhan terlepas dan terpisah. Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Regenerasi adalah memberikan seorang pendosa tersesat yang malang kepada kasih karunia Tuhan.

 

            “Tuhan. Tuhan.” Yang tidak layak akan Tuhan, orang yang penuh dengan dosa, orang yang sekarat. “Tuhan, bermurah hatilah kepadaku.” Dan Tuhan melakukan sesuatu di dalam jiwa seseorang yang seperti itu. Hal itu yang diperbuat oleh-Nya itu, adalah regenerasi atau lahir kembali. Tuhan menjadikan dia sebagai penciptaan baru. Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.

 

            Dapatkah saya menagmbil hanya satu contoh lain saja dan kemudian melanjutkannya kepada penafsiran yang lain tentang hal tersebut. berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Memisahkan. Membuat perbedaan yang diciptakan Tuhan di dalam penyingkapan itu. Perbedaan antara pembenaran dengan pensucian.

 

            Begitu banyak hal. Pensucian membawa kita kepada pembenaran kita. Yaitu, andaikata saya baik, dan jika saya benar, dan seandainya saya sempurna, dan suci di dalam hidup saya, kemudian pada suatu hari saya dapat dibenarkan di hadapan Tuhan.

           

            Hal itu tidak bisa terjadi. Mereka melakukan penebusan dosa. Mereka bertekuk lutut. Mereka pergi melalui semua jenis pekerjaan yang tidak berakhir dengan demikian  mengharapkan akan dibenarkan di hadirat-Nya. Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. Membuat suatu pemisahan yang benar dan hati-hati di antara mereka.

 

            Yang pertama, Tuhan berfirman, ada pembenaran. Kristus menghubungkan keadilan-Nya kepada kita. Kita adalah makhluk asing yang tersesat yang dihalangi dari Tuhan. Mati di dalam pelanggaran serta di dalam dosa. Akan tetapi di dalam Kristus, “kita yang jauh sekali telah dibuat menjadi dekat.”

 

            Kita, orang berdosa yang bersalah telah dicuci menjadi bersih dan murni. Kita, yang telah durhaka telah diundang kembali ke rumah Bapa.

 

            Dan pembenaran merupakan pernyataan dari sikap kita di hadirat Tuhan. Tuhan melihat kepada saya seperti Dia melihat kepada Anak-Nya sendiri, dan demi Yesus, saya telah diajak masuk ke dalam keluarga iman.

 

            Saya telah dibenarkan oleh darah-Nya. Oleh kematian-Nya. Oleh hidup-Nya. Oleh kebangkitan-Nya. Oh, kemuliaan bagi Anak Domba!

 

            Pensucian merupakan komitmen dari hidup saya kepada Yesus akan kasih dari jiwa saya untuk apa yang telah dilakukan-Nya kepada saya.

 

            Dan saya berdoa agar kita boleh menjadi lebih terikat dan lebih berserah karena kita menjadi lebih tua dan dewasa di dalam seluruh kebaikan serta kasih karunia yang indah dari Iman kepercayaan Kristen. Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 

 

            Bagaimana supaya bisa dibenarkan, dinyatakan benar, demi Yesus dan bagaimana bisa untuk disucikan, mengabdi kepada Tuhan akan kasih dari hati kita. Hal itu merupakan suatu pengertian yang terkandung dari ungkapan yang indah ini, “Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”

 

            Sekarang, kita akan beralih kepada hal yang lainnya. Di dalam Versi Amerika yang telah direvisi tahun 1901, dan di dalam banyak studi, saudara-saudara akan menemukannya telah diterjemahkan, “Berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu.” Dan kalimat itu merupakan penafsiran yang baik dan penuh arti, “berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu.” Memberikan perkataan kebenaran itu. Di dalam kitab Efesus pasal yang ke 6, disebut dengan pedang. “Terimalah pedang Roh, yaitu firman Allah.” Memberikan perkataan kebenaran itu. Memberikan pedang Roh itu.

 

            Sebuah pedang, tidak untuk dimain-mainkan, tidak untuk merusak, harus dipegang dengan lembut. Sebuah pedang diperuntukkan untuk sebuah perang. Pedang itu berguna untuk memotong. Pedang itu berguna untuk menyerang. Pedang itu berguna untuk menyerbu. Pedang itu diperuntukkan bagi sebuah kemenangan. Pedang Roh Allah.

 

            Kita tidak boleh terpesona dengan kemegahannya, ataupun terkesima dengan emas permata yang ada di pangkal pedang itu. Akan tetapi mirip dengan sebuah pedang, mirip dengan pedang pendek bermata dua yang keluar dari mulut Tuhan kita yang telah bangkit dan naik ke surga.

 

            Dan oleh karenanya, Tuhan Allah menembus sampai kepada bagian hati yang remuk dan terpecah berkeping-keping, dan menyatakan pemikiran dan perhatian hati di hadapan Tuhan. “Berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu.”   

 

            Adalah sebuah pedang yang ditusukkan sampai kepada gagangnya ke dalam hidup seorang yang berdosa, sehingga dia boleh mengetahui bahwa dia telah binasa di dalam pelanggarannya serta di dalam dosa-dosanya. Bahwa dia boleh dibangkitkan ke sebuah kehidupan yang baru di dalam Kristus Yesus.  “Berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu.”

 

            Adalah suara dari sangkakala. Adalah suara panggilan untuk bangun. Bangun. Bangkit. Saya mengenal seorang pria yang datang ke gereja setiap hari Minggu pukul delapan-lima belas dan dia nampaknya tertidur. Selama dua setengah jam lamanya. Dan dia tidak pernah melewatkannya.

 

            Dan saya melihatnya pada setiap hari Minggu. Dan walaupun saya berkhotbah dengan suara yang kuat, dia tetap tertidur. Dan ketika saya berkhotbah dengan suara yang pelan, dia tetap tertidur. Dan saya memberikan khotbah yang lama, dia tetap tertidur. Dan ketika saya memberikan khotbah yang singkat, dia tetap tertidur.

 

            Dan selama dua setengah jam saya telah berusaha memikirkan tentang sesuatu – di samping melempar dia dengan sebuah buku nyanyian – yang akan membangunkan orang suci itu. Meskipun demikian saya belum dapat memikirkan sesuatu. Akan tetapi saya tetap berusaha mendapatkannya.

 

            Firman Allah merupakan sebuah sangkakala. Itu adalah sebuah panggilan. Itu adalah sebuah perintah untuk berbaris. Itu adalah suara dari hentakan-hentakan kaki orang-orang kudus Tuhan Allah yang berbaris di belakang Pangeran Immanuel. Bangunlah. Bangkitlah.

 

            Begitu sering terjadi bahwa sebuah khotbah merupakan obat penenang. Kita telah diselamatkan. Kita telah diselamatkan. Kita hanya duduk dengan tangan yang terlipat. “Saya butuh waktu untuk tidur sebentar lagi saja. Tolong jangan ganggu saya.” Tidak. “Berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu.”

 

            Sudah berbunyi sangkakala. Bangkitlah. Berbarislah padanya dan diluar dan di atas dan di belakang. “Berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu.”

 

            Hal itu merupakan batu pondasi dari gereja. Kita tidak berurusan dengan pasir hisap. Kita membangun dengan kebenaran serta penyingkapan pokok yang hebat dari pada Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Dan jiwa kita berada pada pondasi tersebut, pada gereja tersebut, pada nyawa kita, serta pada pengharapan kita berada di atas batu kebenaran yang besar dari Anak Allah itu. “Berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu.”

 

            Sekarang, teks saya itu sendiri. Yang mana kata yang sebenarnya ialah orthotomounta ton logon tes aletheias. Orthotomounta.  Orthos adalah lurus, langsung.  Ortodoks.  Bersifat seperti tulang.  Orthos

 

            Begitu banyak kombinasi dari ketamakan tersebut – Kata yang berada dalam bahasa Yunani itu orthos. Orthos, lurusOrthos, langsung.

 

            Tomeo adalah untuk memotong.  Atom adalah tidak dapat dipotong. AnatomAtom. Tomeo adalah untuk memotong. Orthotomounta adalah – merupakan bentuk partisip dari kata dengan menggunakan bahasa Yunani orthotomeo. Dan sebenarnya, apa yang benar-menar dimaksudkan oleh kata tersebut adalah untuk memotong dengan lurus

           

Paulus merupakan seorang pembuat tenda. Dan saya menduga bahwa tidak salah untuk mengatakan bahwa Asudah sering sekali dia menggunakan kata tersebut, yaitu kata orthotomounta, memotong dengan lurus. Membuat tenda. Seandainya dia menjadi seorang petani dia pasti telah mengatakan membajak sebuah alur yang lurus.

 

            Sekarang, apa yang dimaksudkannya ketika dia mengacu pada kenyataan ini? Bahwa ketika kita sampai kepada Firman Allah dan Firman Kebenaran, seharusnya kita membajak sebuah alur yang lurus. Kita seharusnya memotong dengan sebuah garis yang lurus. Orthotomounta ton logon, firman itu.

 

            Baiklah, saya fikir bahwa yang dimaksudkannya ialah demikian: Begitu banyak gembala dan penterjemah dan para pengurai yang membajak sebuah alur yang bengkok di sekita banyak doktrin-doktrin iman yang hebat. Bolehkah saya menyinggung beberapa dari antara mereka?

 

            Berapa banyak pendeta dan berapa banyak para penyelidik dan berapa banyak komentator alkitabiah dan orang-orang yang gemar berpropaganda serta juru bicara dan para penulis di zaman sekarang ini? Berapa banyak dari antara mereka yang tetap percaya serta menjelaskan doktrin-doktrin lama tentang jumlah total kejahatan? Berapa banyak dari antara mereka yang melakukannya?

           

Dapatkah saya mengulanginya? Seperti yang telah sering saya katakan, jumlah seluruh kejahatan bukan merupakan sebuah doktrin bahwa seorang manusia sama hinanya dengan yang dapat dia perbuat. Akan tetapi doktrin tentang kejahatan total, doktrin di masa yang lalu, doktrin tentang zaman dahulu tentang orang-orang kudus ialah, bahwa seorang manusia merupakan seorang makhluk yang gagal dan bahwa kita tinggal di dalam dunia yang gagal pula.

 

            Dan bahwa penderitaan itu, pencarian itu, kejahatan itu, ketidak-adilan itu, kekurangan itu, kekeliruan itu, ketiadaan itu telah masuk ke dalam setiap kemampuan dari pikiran dan tubuh serta jiwa seseorang. Tidak satu bagianpun dari seorang manusia yang dapat melarikan diri.

 

            Setiap kemampuan yang dimilikinya, setiap perasaan yang dimilikinya, setiap perbuatan yang telah dilakukannya, memiliki unsur akan kekurangan dan ketiadaan di dalamnya, bahwa kita adalah orang-orang yang berdosa.

 

Seberapa sering saudara-saudara melihat hal tersebut serta membaca akan hal tersebut di zaman sekarang ini? Saudara-saudara tidak pernah mendengar – ataupun melihatnya. Dan saudara-saudara tidak pernah mendengar akan hal tersebut. Dan saudara-saudara sekalian tidak pernah membaca akan tersebut. Hal tersebut telah tersingkir dari tatanama ilmu agama modern.

 

            Apa yang saudara-saudara baca di zaman sekarang ini adalah, bahwa manusia itu baik adanya. Secara alami dia adalah seorang malaikat. Dan andaikata saudara-saudara tidak mengajarkan anak-anak saudara-saudara untuk menjadi orang-orang yang berdosa, mereka tidak akan menjadi orang-orang yang berdosa. Apabila saudara-saudara sekalian mengajarkan mereka untuk berfikir positif dan bukan berfikiran yang negatif, mereka tidak akan berfikiran negatif.

 

Dan yang harus kita lakukan ialah untuk memberikan pendidikan kepada malaikat-malaikat kecil yang telah lahir ke dalam dunia ini. Apa yang harus kita lakukan ialah mengajarkan kebaikan dari sifat alami kemanusiaan mereka dan mereka akan menjadi orang yang baik.

 

            Demikianlah doktrin pendidikan modern tentang ilmu agama pedagogis. Demikianlah doktrin modern di dalam mimbar, di bangku gereja, di dalam sekolah, di dalam ruangan kelas, di bangku profesional. Demikianlah nordstrom yang telah dienyahkan dari seluruh permukaan bumi ini.

 

            Alkitab mengatakan, ketika saudara-saudara sekalian membajak dengan sebuah alur yang lurus dan ketika saudara-saudara menjelaskan perbuatan ini secara jujur dan dengan jelas. Sama seperti dikatakannya, Alkitab berkata bahwa seorang manusia dilahirkan dengan sebuah gulungan di dalamnya.

 

            Dengan setetes noda hitam di dalam pembuluh darahnya, dan demikian secara alami dia merupakan seorang makhluk yang gagal. Dilahirkan dengan keadaan seperti itu. Saudara-saudara sekalian tidak perlu mengajari dia untuk menjadi orang yang berdosa. Dia sudah sedemikian berdosanya. Sudah dilahirkan demikian.

 

            Dan saya tidak dapat mengilustrasikan hal tersebut lebih baik lagi daripada gambaran-gambaran ini setiap kali saya lihat di dalam surat kabar tentang seekor anak harimau atau seekor anak singa yang masih keil. Oh, setiap minggu yang lainnya saudara-saudara akan menemukan seseorang, bahkan di kota Dallas ini juga, mereka mengambil seekor anak singa yang masih kecil sebagai binatang peliharaan.

 

            Memang makhluk kecil itu masih gemar bermain. Anak kucing yang masih kecil itu begitu menggemaskan dan memiliki bulu-bulu halus yang lunak. Begitu inginnya saudara-saudara untuk mendekapnya. Dan binatang yang sangat kecil itu begitu menyenangkan.

 

            Akan tetapi – berikanlah kesempatan kepadanya. Hanya sedikit saja. Saudara-saudara tidak perlu mengajari makhluk kecil yang berbulu halus itu berbagai alat-alat permainan. Saudara-saudara tidak perlu mengajari dia untuk menggigit dan menggores serta mencakar dan pada akhirnya untuk membunuh. Biar bagaimanapun juga, dia akan melakukannya.

 

            Tidak seorangpun yang mendapatkan seekor singa oleh ekornya, seekor harimau oleh kakinya, oleh telinganya, yang saya ketahui, ketika binatang itu menjadi besar.

 

            “Baiklah,” kata anak kucing yang kecil itu. Akan tetapi, apakah saudara-saudara akan mengijinkan dia mencakar dan menjadi dirinya sendiri? Dengan sengan hati saudara-saudara akan memberikannya kepada setiap kebun binatang yang dapat menyingkirkan binatang tersebut dari tangan saudara-saudara sekalian. Saudara-saudara tidak mengajarinya hal tersebut. Dia telah dilahirkan demikian.

 

            Seperti seekor tupai. Siapa yang mengajari seekor sigung untuk melakukan apa yang dapat dilakukannya? Dia sudah dilahirkan demikian.

            Sama saja seperti mengajari seekor ular berbisa untuk menggigit. Saudara-saudara tidak perlu mengajari ular-ular kecil yang baru menetas itu bagaimana caranya menggunakan taring-taring mereka. Mereka terlahir dengan pengetahuan bagaimana cara untuk menggunakan taring-taring mereka.

 

            Demikianlah sifat alami manusia. Dan demikianlah doktrin tentang kejahatan total. Saudara-saudara tidak perlu mengajari anak-anak mengenai dosa atau kegelapan atau kelamnya malam. Anak itu akan jatuh ke dalam dosa dan kegelapan serta kelamnya malam. Dia telah dilahirkan seperti itu.

 

            Demikianlah doktrin tentang kejahatan total. Kita harus diselamatkan. Kita semuanya. Kita harus diselamatkan. Kita harusd lahir baru kembali. Kita harus dijamah oleh kuasa dan Roh Allah. Berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.

 

            Dapatkah saya mengatakan yang lain seperti itu? Kejahatan. Membajak pada alur yang lurus. Memotong garis secara jujur dan lurus.

 

            Sekarang, demikianlah hal yang lain lagi. Keselamatan kita berasal dari kasih karunia. Keselamatan kita bukan berasal dari seorang manusia. Keselamatan bukan datang dari seorang manusia, ataupun dicapai melalui manusia. Akan tetapi keselamatan itu merupakan sebuah berkat dari Tuhan Allah. Keselamatan itu merupakan sebuah kasih karunia di dalam pilihan. Keselamatan itu merupakan sebuah kasih karunia di dalam penebusan. Keselamatan itu merupakan sebuah kasih karunia di dalam pengaruh panggilan yang menjangkau sampai  ke dalam hatimu.

 

            Adalah kasih karunia di dalam ketekunan akhir dari orang-orang kudus. Adalah kasih karunia di dalam kesempurnaan ketika kita akan dipermuliakan – denghan mana kita akan mempermuliakan Tuhan Allah di surga. Demikianlah kasih karunia. Oleh kasih karunia saudara-saudara telah diselamatkan.

 

            Kita semuanya, karena kebaikan serta pilihan dari Tuhan, dan melalui iman, bukan berdasarkan perbuatan, bukan karena perbuatan, bukan karena perintah, bukan karena pembaharuan; akan tetapi menerimanya karena iman sebagai sebuah karunia dari pada Tuhan Allah.

 

            Lihatlah kepada Yesus. “Lihatlah kepada-Ku, engkau semua sampai ke ujung dunia, dan engkau akan diselamatkan, karena Akulah Tuhan Allahmu dan tidak ada yang lain.” Pemusatan akan Kristus Yesus. 

 

            Izinkanlah saya memberitahukan sesuatu hal kepada saudara-saudara sekalian. Ada seorang pria – dan dia bukan seorang yang datang dari tempat yangterasing. Ada seorang pria yang berpidato tentang sebuah kelompok pelajar gereja di dalam sebuah universitas tertentu. Dan karena terjadi di saat Natal, dia berpidato tentang Natal dan pengertian dari Natal itu sendiri. Tidak sekalipun dia menyebutkan nama Yesus. 

 

            Kelalaian itu sangat mencolok dan kelihatan dengan jelas dan beberapa dari kelompok pelajar itu bertanya kepada pendeta yang luar biasa itu mengenai kejadian tersebut setelah pidato itu berakhir. Sebuah pidato yang mengagumkan tentang makna dari perayaan Natal dengan tidak satu kalipun menyebut tentang Yesus dan hari kelahiran-Nya.

 

            Dan pria itu menjawab, “Tuan, hal itu mungkin saja terjadi” – dan saya mengutip dia kata demi kata – “Mungkin saja merayakan Hari Natal tanpa sama sekali menyinggung tentang Yesus.”

           

            Dan dia berbicara tentang nilai-nilai perayaan Natal serta teladan dari perayaan Natal dan pada saat yang sama, memisahkannya dari Tuhan yang membuat perayaan Natal itu bisa terjadi. Membajak di alur yang tidak lurus. Hal yang demikian seperti menggunting kain dengan cara yang tidak lurus.

 

            Ketika anda memotong sebuah mata air, maka sungai itu akan mati. Anda tidak akan dapat memiliki teladan Kristen dan nilai-nilai seorang Kristen tanpa sumber mata air yang melahirkannya, yaitu Kristus Tuhan kita.

 

            “Berterus terang memotong perkataan kebenaran itu.” Orthotomounta ton logon tes aletheias.

 

            Dalam waktu singkat yang tersisa ini – dan seharusnya saya sudah berhenti dari tadi – izinkanlah saya mengatakan yang lain lagi. Dua orang penyelidik Alkitab yang hebat sepanjang masa adalah Chrysostom dan John Calvin. 

 

            Beginilah caranya Chrysostom menginterpretasikan teks tersebut. Dia menafsirkan orthotomounta. Dia menafsirkannya sebagai “Berterus terang memotong perkataan kebenaran itu.” Dan dia menggunakan perumpamaan dari sehelai kulit yang besar.

 

            Dan orang itu menggunting kain untuk dijadikan sebuah pelana. Atau dia sedang menggunting untuk membuat sepatu tinggi, atau dia sedang menggunting untuk membuat sepatu biasa, dan dia harus memotongnya dengan menyesuaikannya dengan pola yang ada serta kebutuhan yang ada. Dan dia menggunakannya untuk mengacu terhadap pengambilan Firman Allah untuk tujuan yang suci serta penggunaan yang suci.

 

            John Calvin melakukannya seperti ini. Dia membaca ungkapan tersebut dan membuatnya mengacu kepada pelayan di dalam sebuah rumah. Dia berkata, “Pemikiran dari Roh di dalam menggunakan firman sebagai seorang pelayan di dalam sebuah rumah yang bertugas mengambilkan makanan, dan dia membagi secara adil kepada masing-masing orang yang membutuhkan.

 

            “Pelayan itu membagikan bagiannya dengan adil, dan kepada anak-anak mereka masing-masing bagian mereka, dan kepada para bayi masing-masing bagiannya, dan kepada orang-orang yang lebih tua, kepada sang bapa dan ibu. Pelayan di rumah tersebut telah ditunjuk demi sebuah tujuan, dari semua hal yang lainnya, tentang pembagian secara merata makanan mereka sehari-hari.

 

            “Dan,” demikian Calvin berkata, “Demikianlah pemikiran dari Roh tersebut di sini. Membagi dengan sebenarnya. “Berterus terang membagikan dengan adil dan merata perkataan kebenaran itu untuk setiap orang berdasarkan apa yang masing-masing butuhkan.”

           

            Ikutlah bersama saya sebentar lagi sementara saya mengambil pemikiran dari John Calvin dan John Chrysostom dan menerapkannya kepada pengertian mereka, apa yang mereka sebutkan di dalam menafsirkan hal yang seperti itu.

 

            Mereka akan mengatakan seperti ini, bahwa Firman Allah seharusnya diberikan. Seharusnya firman Allah itu dibagikan secara merata kepada mereka yang membutuhkan.

 

            Orang yang tersesat. Ada sebuah bagian di dalam firman Allah terhadap seseorang yang telah tersesat. Saudara-saudara sekalian tidak akan duduk saja – atau katakanlah para malaikat. Para malaikat tidak akan hanya duduk saja dengan Lot pada hari-hari penghukuman terhadap kota Sodom dan mendiskusikannya dengan Lot beserta dengan putri-putrinya tentang takdir atau batas and keadaan mendesak semula.

 

            Akan tetapi Firman Allah kepada orang yang sesat ialah, “Melarikan dirilah, karena kemurkaan akan datang. Lot, akan ada api, sebuah hukuman dari Tuhan, selamatkan dirimu. Berlarilah kepada Tuhan. Selamatkanlah dirimu dari hukuman dari surga.”

 

            Sekarang, demikianlah makna dari firman ini berdasarkan kepada Calvin dan Chrysostom. Kita akan dibawa kepada firman Allah. Dan ketika saudara-saudara berbicara kepada orang yang tersesat, saudara-saudara tidak membicarakan tentang doktrin pemilihan itu kepadanya, tentang kesempurnaan, tentang pensucian.

 

            Akan tetapi saudara-saudara akan membawa firman Allah dan membaginya dengan adil kepadanya sesuai dengan kebutuhan jiwanya. “Tuan, engkau telah tersesat dan engkau membutuhkan Yesus. Maukah saudara-saudara menerima Dia dan diselamatkan?”

 

            Minggu ini saya membaca dari tulisan Spurgeon tentang sebuah kisah yang paling indah. Spurgeon dan Moody adalah pendeta-pendeta besar yang menyenangkan serta mengagumkan dan saling menghormati antara satu sama lain. Moody berkunjung ke Kemah Tuhan Metropolitan di kota London dan duduk di sana dan mendengarkan Spurgeon berkhotbah.

 

            Dan Roh daripada Tuhan mendatanginya dan Moody berkata, “Oh Tuhan, maukah Engkau memberkati aku seperti Engkau telah memberkati hamba Spurgeon ini.” 

 

            Dia benar-benar disemangati oleh pelayanan yang luar biasa dari Pendeta Baptist yang luar biasa tersebut di kota London. 

 

            Spurgeon adalah seorang pengagum Moody.