PERANTARA ANTARA ALLAH DAN MANUSIA

(THE MEDIATOR BETWEEN GOD AND MAN)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

 

1 Timotius 2:5

7-6-58

 

 

Dan teks bacaannya adalah, kitab 1 Timotius 2:5: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Kalimat itu merupakan pernyataan yang bersifat pengajaran. Demikianlah kalimat itu, ketika kalimat itu dituliskan, yang mana – menyangkut tentang apa, pengarangnya seharusnya telah mengetahui bahwa di sana, akan menjadi suatu opini yang sangat berbeda jauh. Ayat tersebut telah menjadi sebuah badai kontroversi di sepanjang abad sesudahnya.

 

Khotbah yang telah dipersiapkan untuk yang berikutnya akan berbicara sedikit banyaknya tentang tahun-tahun amukan perdebatan yang menyangkut tentang teks ini. Malam hari ini, kita akan melihatnya dengan secara tegas, secara terbuka, hak-hal yang mana diakui oleh rasul tersebut: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Dinyatakan dengan sederhana! Kita boleh saja tidak setuju dengan hal tersebut, kita boleh saja tidak mempercayainya, kita boleh saja tidak menerimanya. Akan tetapi tidak seorangpun yang dapat membacanya di dalam bahasa ini, atau dengan menggunakan bahasa yang lain, yang dapat membaca ayat yang biasa, sederhana, masukan-masukan ajaran dari ayat ini.

 

Karena hanya ada satu Allah, satu Allah atas segala suku bangsa, dan keluarga, dan bangsa manusia. Bagaimanapun juga manusia dapat dibagi-bagi ke dalam suku-suku bangsa dan ke dalam kelompok-kelompok ras, bagaimanapun mereka dapat dibagi berdasarkan perilaku, dan karakter, dan kebiasaan, bagaimanapun mereka boleh dipisahkan oleh batasan-batasan secara fisik, dan oleh tiruan, batasan-batasan sosial, bagaimanapun manusia dan bahasa-bahasa dan keluarga-keluarga serta bangsa-bangsa boleh berbeda di dalam permusuhan, di dalam sejarah, di dalam latar belakang, di dalam pandangan, di dalam pengharapan, di dalam aspirasi, ini merupakan kebenaran yang kekal – karena Allah itu esa meliputi seluruh manusia di mana saja berada. Dan ini merupakan sebuah kesimpulan: Karena hanya ada satu saja Allah yang sejati.

 

Ras manusia yang merusakkan akhlak telah menciptakan banyak tuhan. Mereka telah memberikan penghormatan serta pemujaan dalam kaitannya dengan Bapa Surgawi kepada banyak sekali keilahian. Mereka membuat surga manusia dengan dewa-dewa, banyak sekali dewa – suatu rombongan yang besar. Mereka telah membungkukkan badan di hadapan dewa-dewa yang sangat banyak dan dahsyat di muka bumi ini; dewa-dewa diciptakan dengan tangan-tangan mereka sendiri. Mereka telah membungkukkan badan di depan hasil kerajinan tangan mereka sendiri. Mereka bahkan telah mempersiapkan sebuah kuil pemujaan, dewa-dewa saingan. Akan tetapi yang ini merupakan suatu kebenaran yang kekal dan kebenaran yang telah dinyatakan: “Dengarkanlah, Hai Israel, Tuhan Allah kita adalah Allah yang Esa!” Sebuah pernyataan yang datar dan sederhana,  kebanaran akan sebuah ajaran. Hal itu merupakan agama di dalam Alkitab: Karena Allah itu Esa. Kesimpulan itu dan pernyataan itu: “Dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Kalimat itu juga dinyatakan dengan sederhana, dipahami dengan sederhana. Tidak diperdebatkan adanya masukan-masukan daripadanya, pengertian-pengertiannya: “Dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia.”

 

Kembali, kemanusiaan yang merusak akhlak telah memenuhi surga dengan para pelamar yang meminta dengan gigih, memohon dan mengemis untuk meminta bantuan serta pertolongan dari Alla Yang Mahatinggi. Mereka telah memenuhi gereja-gereja dan altar-altar serta biara-biara dengan banyaknya patung sdi hadapan siapa mereka akan membungkukkan badan mereka, memohon layaknya mereka memanjatkan doa syafaat dengan Allah yang Mahabesar di surga. “Perantara, perantara, doa perantaraan kepada-Ku:” Meminta dari patung-patung tersebut, dan dari orang-orang kudus, serta dari perantara ini suatu pertolongan dari Allah Mahabesar dari surga. Betapa ringkasnya, betapa sungguh-sungguhnya, betapa sederhananya Firman Tuhan mengatakan: “Esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”

 

Tuhan Allah menolak semua peminta-minta dan pemohon yang banyak sekali jumlahnya itu. Dan Tuhan Allah menunjuk satu Perantara antara Dia dan kemanusiaan, manusia Kristus Yesus. Karena ada satu takhta. Karena ada satu perantara di hadapan takhta itu. Dan semua orang yang pernah mendekati anugerah dan kasih Allah harus menerimanya melalui satu perantara, manusia Kristus Yesus.

 

Sekarang, dapatkah saya berhenti sejenak? Saudara-saudara sudah jauh mendalami ilmu agama, dan saudara-saudara telah mendapatkan kemajuan di dalam hal-hal ketuhanan lebih jauh lagi jika saudara-saudara mampu menerima satu pernyataan itu tanpa adanya tambahan, ataupun pengurangan ataupun perubahan. “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus:” Satu akses menuju Allah dan satu perantara antara Tuhan Allah dengan kita, Juru Selamat kita, Tuhan Yesus.

 

Sekarang, marilah kita melihat dengan lebih jelas lagi, dengan lebih mendalam lagi, kedalam pengertian dari kata-kata ini. Yang pertama judulnya Perantara itu: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Ada empat tempat di dalam Alkitab di mana kata perantara disangkut-pautkan dengan Tuhan Yesus Kristus. Salah satu dari mereka berada di dalam nats ini; yang tiga lainnya berada di dalam Kitab Ibrani. Dan nats-nats serta pembahasan-pembahasan mengenai mereka ini di dalam Firman Tuhan yang suci membawa ke dalam pikiran kita kedua jabatan yang termasuk di dalam kata “perantara.” Yang pertama adalah: Seorang perantara adalah seorang Juru Damai. Dia berdiri di antara dua pihak yang berlainan – yang terpisah - dan perantara itu mencari untuk mengadakan suatu perdamaian di antara kedua pihak yang saling bertentangan tersebut. Di dalam contoh ini, kedua pihak yang saling berlawanan itu adalah Tuhan Allah yang kudus yang kemarahan-Nya berkobar menentang dosa setiap hari; Siapa yang memiliki perdebatan dengan umat manusia yang hina dan jahat; Siapa yang akan menghakimi umat manusia sehubungan dengan kekudusan serta kebenaran-Nya. Dan di dalam penghakiman itu menyadari bahwa dirinya sendiri telah tersesat, serta dihukum, dan mendapatkan kutuk. Tuhan Allah yang Mahatinggi, Mahabesar, Mahakudus berada di satu sisi: Di sisi yang lainnya adalah orang yang berdosa, berakhlak yang buruk, serta sekarat. Keduanya ini – dan Kitab Suci berkata bahwa Tuhan Allah berada di dalam Kristus, mendamaikan dunia untuk diri-Nya sendiri. Di kayu salib, perdamaian telah melakukannya di dalam di sana ada sebuah jembatan antara Tuhan yang kudus dan benar dengan yang tersesat, yang dihukum, dan yang dikutuk serta orang yang sedang menemui ajalnya. Jadi, demikianlah pengertian yang pertama dari jabatan serta gelar perantara tersebut: Adalah Kristus yang mendamaikan Allah dengan manusia, dan manusia dengan Allah.

 

Pengertian yang lain dari gelar perantara mengacu kepada seorang media, seorang pemberi jalan, saluran komunikasi antara Tuhan Allah di atas; dengan manusia, yang tidak memiliki arti yang penting dan tak bermoral, berada di bawah. Di dalam pasal yang ketiga dari Kitab Galatia, Paulus mengacu kepada sesuatu hal: Hukum Taurat, dia mengatakan telah diberikan melalui seorang perantara – melalui Musa. Di dalam pasal yang kelima dari Kitab Ulangan, Musa berkata: Ketika Tuhan – di dalam api, di dalam gemuruh, dan di dalam awan, serta di dalam kegelapan – menampakkan diri di gunung Sinai, orang itu berkata: “Janganlah kita melihat kepada wajah-Nya. Janganlah kita membicarakan tentang Allah, kalau tidak kita akan mati.”

 

Dan Musa berkata: “Aku berdiri antara engkau dan Tuhan Allah.”

 

Sekarang, Paul menyebutkan hal itu ketika dia berbicara tentang Hukum taurat yang telah diberikan melalui seorang perantara; yaitu melalui sebuah perantaraan, melalui suatu penengahan. Tuhan Allah tidak memberikan Hukum taurat itu langsung menuju kepada orang banyak itu, akan tetapi Tuhan Allah memberikan hukum taurat tersebut melalui Musa, perantara itu. Saluran komunikasi antara Tuhan dan manusia adalah Musa. Demikianlah apa yang dimaksudkan oleh Yohannes di dalam pasal yang pertama dari Injilnya, dan di dalam ayat yang ke tujuh belas: “Karena Hukum Taurat diberikan oleh Musa (Dia merupakan perantara dari Hukum Taurat dari Perjanjian Lama), tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus (yaitu, Dia adalah perantara dari Perjanjian Baru).”

 

Tidak, perantara itu adalah seseorang yang berdiri di antara – dan dia merupakan saluran melalui mana komunikasi itu terjadi. Seluruh berkat yang telah disampaikan dari Tuhan Allah telah datang melalui tangan-tangan yang diberkati serta kasih anugerah dari Kristus kita, Tuhan kita, semuanya – hidup, kekuatan, kehidupan, kesehatan, pengharapan, surga – semua hal-hal yang baik yang dilimpahkan kepada kita melalui tangan-tangan Yesus Kristus yang penuh dengan berkat.

 

Sekarang, cara yang lain disekelilingnya: Semua seruan itu, pendekatan-pendekatan itu, doa-doa itu, permintaan-permintaan itu, yang dibuat oleh orang yang penuh dengan dosa serta hina ini kepada Tuhan Yang Maha Agung di surga, haruslah disampaikan melalui perantaraan Yesus Kristus. “Dalam nama-Ku …” Dia berkata. Karena demi Yesus (di dalam nama Tuhan dan Juru Selamat kita), seluruh dari doa-doa yang kita panjatkan, seluruh pendekatan kita, seluruh seruan kita haruslah dibuat di dalam nama Yesus Kristus:  “Esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”

 

            Jadi seorang perantara kemudian adalah seseorang yang pertama mendamaikan kedua belah pihak yang berseberangan. Dan dosa telah dipisahkan antara kita dengan Tuhan Allah kita. Dia adalah Juru Damai yang Agung. Lalu Dia merupakan Perantara yang Agung melalui siapa Tuhan Allah menjangkau sampai kepada kita; dan melalui siapa kita sampai kepada Tuhan Allah.

 

Sekarang, kita akan membahas persyaratan-persyaratan Yesus untuk jabatan tinggi serta gelar perantara: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Apa yang menjadi kewajiban dari jabatan seorang perantara? Secara sederhana telah diatur di dalam Firman Tuhan:

 

Sebab setiap imam besar – (Ibrani 5) – Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.

Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan

Yang mengharuskannya untuk mempersembahakan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri

Dan tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun.

Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri (tidak memilih diri-Nya sendiri, tidak mengangkat diri-Nya sendiri) dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia (Tuhan Allah) yang berfirman kepada-Nya: Anak-Ku Engkau (Perantara itu)! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”,

 

Jadi persyaratan dari jabatan perantara itu adalah bahwa dia harus telah dipilih serta ditahbiskan oleh Tuhan Allah: “Dan tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah.” 

 

Tuhan Allah melakukannya, seperti yang telah tejadi kepada Harun, begitu pula yang terjadi kepada Kristus! Jadi, pengarang dari kitab Ibrani menunjuk kepada kependetaan Harun sebagai jenis dan simbol dari keperantaraan yang agung, keimam tinggian yang agung dari Yesus Kristus.

 

Sekarang, pengakuannya adalah bahwa tidak seorangpun yang dapat mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, dan tidak seorang pun manusia yang dapat melimpahkan kehormatan tersebut kepada orang lain. Akan tetapi perantara itu haruslah dipilih serta ditahbiskan oleh Tuhan Allah. Saudara-saudara dapat membuat sebuah citra untuk saudara-saudara serta meletakkannya di setiap bangku gereja. Saudara-saudara dapat membuat beberapa jenis dari suatu kemiripan dan meletakkannya di setiap relung, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa Tuhan Allah telah menerima citra itu atau orang suci itu sebagai seorang perantara antara Dia dengan saudara-saudara. Tidak ada seorang perantara di dalam kebenaran, kecuali Yang telah dihunjuk serta ditahbiskan oleh Tuhan Allah. Dan pengarang itu di dalam epistel kepada bangsa Ibrani menggunakan sebagai sebuah contoh dari kependetaan dai Harun dari Perjanjian Bilangan.

 

Sekarang, jangan memikirkan kembali ke masa lalu itu di saat-saat Tuhan Allah memilih Harun, orang—orang tidak bercita-cita kepada jabatan tinggi itu. Putra-putranya sendiri, Nadab dan Abihu, berkata: “Kami tidak akan hanya memiliki Harus saja sebagai imam, kami juga akan memilih diri kami sendiri sebagai imam.” Dan ketika mereka mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, api datang dari Tuhan serta melahap Nadab dan Abihu. Mengapa? Karena Tuhan Allah berkata: “Hanya Harun yang akan menjadi imam-Ku.”

 

Kemudian saudara-saudara membuka kitab itu dari kitab Perjanjian Lama, dan saudara-saudara sampai pada pemberontakan yang dilakukan oleh Kora. Korah berkata: “Aku akan menjadi imam. Aku akan menjadi imam besar. Aku akan menjadi perantara antara Tuhan Allah dengan manusia dan manusia dengan Tuhan Allah.”

 

Dan Tuhan Allah berkata: “Bukan begitu!” Dan datanglah ke muka bumi ini sebuah retakan yang besar, dan retakan itu menelan Korah dan segenap keluarganya, dan mereka binasa di dalam kegelapan lubang besar di tanah itu. Sebab Tuhan Allah berkata: “Hanya ada satu perantara; hanya ada satu imam besar, dan Aku telah memilih dia di dalam bilangan perjanjian yaitu Harun dan hanya Harun saja.”

 

Demikianlah apa yang dikatakan di sini oleh Pengarang Epistel kepada Ibrani di dalam pasal yang kelima dari kitab ini: “Setiap imam besar dipilih dari antara manusia oleh Tuhan Allah.” Dia ditahbiskan pada jabatan tinggi itu oleh Tuhan Allah Yang Mahakuasa. “Dan tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun.”

 

Jadi Kristus telah dipilih di surga, di dalam kemuliaan, oleh Bapa, Allah Yang Mahatinggi, untuk menjadi perantara antara Allah dan manusia dan manusia dan Allah. Kita tidak dapat memilih yang lain; kita tidak dapat mengkuduskan yang lainnya; kita tidak dapat mentahbiskan atau membangkitkan yang lainnya lagi. Perantara itu haruslah dipilih oleh Tuhan Allah, dan Allah hanya akan memilih satu, manusia Kristus Yesus: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”

 

Sekarang, ada persyaratan yang kedua untuk jabatan perantara tersebut. Yang pertama ialah, dia haruslah ditahbiskan serta dipilih oleh Tuhan Allah. Dan Allah telah menunjuk satu orang - Kristus Yesus! Persyaratan yang lain dari seorang perantara ialah demikian: Dia harus mampu bersimpati kepada kedua belah pihak. Harus ada suatu pemahaman di dalam-Nya dari kedua belah pihak. Dengan tangan yang satu, Dia harus menyentuh Allah serta menahan Allah dan dengan tangan yang lain, Dia harus menyentuh pada kemanusiaan di dalam pemahaman serta di bersimpati kepada kemanusiaan.

 

Jadi, siapapun juga yang menjadi perantara antara Allah dan manusia haruslah kedua-duanya sebagai Tuhan dan manusia. Dia haruslah keilahian itu sendiri. Untuk menjadi di hadirat Tuhan, mengetahui Tuhan, menjadi Tuhan, memahami Tuhan, dan walaupun begitu, dia haruslah juga sebagai manusia – memahami manusia, bersimpati dengan manusia, menjaga manusia dan Tuhan bersama-sama. Dan demikianlah sebabnya mengapa di dalam Kitab Ibrani, ayat demi ayat sedemikian indahnya dituliskan di sini, membicarakan tentang pemahaman dan simpati yang ajaib dari Imam Tinggi kita yang Agung:

 

“Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah ia mengalami maut bagi semua manusia.

(setiap orang dari kita yang mengalami pergumulan serta penderitaan, dan kegembiraan di dalam kematian mendapatkan rasa simpati serta pengertian daripada Tuhan kita, Dia sendiri menderita dan berjuang di dalam kematian itu)

Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah – yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan -, yaitu Allah yang mambawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

Kata-Nya, “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

Dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku,”

Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

Dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

 

Tuhan mengerti serta mengetahui: “sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

 

Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, Yaitu Yesu, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya.

 

Jadi perantara antara Allah dan manusia haruslah memahami Tuhan, dan dapat bersama-sama dengan Tuhan, serta berkuasa dengan Tuhan – Tuhan itu sendiri! Dan di saat yang sama, Dia harus memahami kita serta bersimpati kepada kita. Dia harus membukakan hati-Nya kepada kita, karena kemurkaan Allah akan membakar kita, akan tetapi belas kasih Yesus menahan, dan memahami serta turut merasakan untuk selamanya.

 

“…sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa:” Hal tersebut merupakan hal yang sukar untuk dipercaya. Setiap pencobaan yang saudara-saudara dapatkan, setiap godaan yang saudara-saudara hadapi, setiap pergumulan besar di dalam kehidupan saudara-saudara, setiap satu dari antaranya, Tuhan kita menahannya; Dia mengetahui; Dia mengerti; Dia adalah Perantara yang Agung antara kita dengan Tuhan Allah! Menjadi Tuhan, Dia mengenal Allah, telah bersama-sama dengan Allah selamanya, di saat permulaan dengan Allah – ialah Allah, dan meskipun Dia telah dicobai sama seperti kita, dan Dia memahami kita.

 

Sungguh suatu pengajaran yang mulia, pengajaran tak tertandingi yang berharga yang ada di dalam ayat yang sederhana ini. Apabila Perantara itu adalah Tuhan Allah dan hanya Tuhan Allah, maka kita tidak akan pernah menyentuh Dia. Kita tidak akan pernah menghampiri Dia – Kekudusan-Nya yang Mahatinggi, tidak terelakkan  serta tidak terjangkau oleh kita, jauh dan diatas. Kita tidak akan lebih baik daripada yang terdahulu itu. Itulah sebabnya, di Gereja Roma, saudara-saudara melihat seseorang perantara antara kita dengan Yesus. Mereka telah begitu di dorong, dikesampingkan, dan disuruh pergi lebih jauh lagi sebelum Tuhan Yesus Kristus, sampai dengan sekarang, mereka membutuhkan seseorang di antara mereka untuk bermohon dengan Yesus.

 

Di Roma, di halaman dari salah satu basilika itu, saya mengambil gambar dari Maria di kayu salib. Ketika saya berdiri serta memandangnya, saya mengatur kamera saya dan mengambil fotonya. Sejak saat itu saya telah berkali-kali melihat pada foto itu. Saya telah bertanya-tanya bagaimana manusia dapat begitu merebut Kitab Suci itu seperti “Tuhanku telah diambil orang, dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Pergi jauh, dan pergi jauh, dan pergi jauh – Jika Dia adalah Tuhan dan Tuhan itu sendiri, maka kemudian mereka benar adanya: Kita membutuhkan seorang perantara antara kita dengan Tuhan Allah. Akan tetapi, betapa indahnya dan betapa berharganya, dan betapa berartinya penyingkapan dari Firman Tuhan yang kudus bahwa Dia juga merupakan seorang manusia. Dan hal itulah mengapa penekanan di dalam nats itu: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus:” Yang mengetahui, Yang memahami, Yang turut merasakan, Yang dengan segala tujuan dicobai sama seperti kita. Datanglah dengan keberanian, datanglah kepada-Nya. Dia mengetahui dan Dia memahami! Posisi yang tertinggi di alam semesta ini ditempati oleh seorang manusia – manusia Kristus Yesus. Dan Manusia itu memegang posisi yang begitu tinggi itu hanya untuk kita: untuk saudara-saudara, untuk saya sendiri, untuk kita semua – Perantara Yang satu itu.

 

Sekarang, dapatkah saya hanya mengucapkan beberapa kata, dengan cepatnya? Dapatkah saya mengatakan hanya dalam beberapa kata saja mengenai pekerjaan dari perantara ini? Apa pekerjaan dari Tuhan kita sebagai perantara? Apa pekerjaan-Nya di zaman sekarang ini? Apakah pekerjaan-Nya sekarang? Apakah pekerjaan-Nya saat ini juga? Pekerjaan dari Tuhan Yesus, perantara kita: Baiklah – ini adalah pekerjaan dari Tuhan Yesus, sekarang: Penggembalaan-Nya membuat kita diselamatkan. Menjadi diselamatkan – pekerjaan jabatan yang agung dari Perantara kita adalah untuk menyelamatkan kita selamanya, untuk menjaga kita supaya kita tidak terjatuh, untuk menyerahkan kita tanpa kesalahan dan tanpa noda di hadirat Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Dengarkanlah kepada firman yang luarbiasa dari Alkitab:

 

Apabila ketika kita adalah musuh, kita akan didamaikan kepada Allah (jabatan Perantara, Juru Damai) – kita akan didamaikan kepada Allah dengan kematian dari Anak-Nya, lebih membawa perdamaian, kita akan diselamatkan oleh hidup-Nya.

 

Di dalam kemuliaan di atas sana, di mana Yesus tinggal, menjaga kita selama-lamanya. Sekali lagi, dan, oh, saudara-saudara dapat mengalikan ayat-ayat ini:

 

Siapa yang akan meletakkan apapun ke atas beban dari pilihan Allah? Adalah Allah yang membenarkan.

Siapakah dia yang disalahkan? Adalah Kristus yang mati (untuk kita), ya, lebih baik dari, yang bangkit kembali (untuk kita), yang tetap di tangan kanan Allah (untuk kita) yang juga memanjatkan doa syafaat untuk kita.

 

Saudara-saudara dapat melipatgandakan yang tidak berakhir ini:

 

Di dalam 1 Yohannes 2:1: “Jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang perantara pada Bapa.”

 

Di dalam Yohannes 14:19: “Sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.”

 

Di dalam pasal yang pertama dari kitab Wahyu: “Dan Yang hidup, Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya.”

 

Apa yang dimaksud oleh Tuhan di dalam kitab ini adalah: Ketika aku diselamatkan, ketika aku berubah menjai percaya, semua dosa-dosaku telah dibersihkan. Lalu kemudian, aku berbuat dosa lagi, diselamatkan, dibersihkan - (hampir semua kita diselamatkan ketika kita masih kecil,  hampir semua dari dosa kita yang telah kita lakukan sejak kita telah diselamatkan) - baiklah, kemudian apa? Apakah kita jatuh dalam siksaan dan ke dalam neraka? Diselamatkan dan jubah kita telah dibersihkan dalam darah dari Anak Domba, kemudian kita menodai jubah kita – kemudian Apakah Tuhan Allah kemudian melemparkan kita keluar? Bagaimana bisa seorang manusia yang berdosa dapat diselamatkan? Dan walaupun begitu, inilah kita – diselamatkan, berubah, dibersihkan dalam darah dari Anak Domba! Dan kita tetap melakukan dosa. Bagaimana kemudian Tuhan Allah menyelamatkan kita? Mengapa kita tidak terjatuh ke dalam neraka? Demikianlah apa yang dibicarakan oleh Kitab Suci ini.

 

Ketika kita diselamatkan, ketika kita dibersihkan, ketika kita dicuci, ketika kita diubah, ketika kita telah diampuni – setiap hari setelahnya, Tuhan Yesus Kristus terus mengampuni kita; Dia terus membersihkan kita; Dia terus mencuci kita; Dia terus menjaga kita.

 

Alasan mengapa dia mampu menyelamatkan mereka sepenuhnya yang datang kepada Tuhan Allah melalui Dia, melihat Dia pernah hidup untuk memanjatakan doa syafaat untuk mereka.

 

Jabatan Perantara yang agung di dalam Kristus, ketika Dia bekerja pada hari ini, untuk menyelamatkan mereka yang datang kepada Tuhan Allah melalui Dia untuk selama-lamanya – untuk membersihkan dosa, setiap dosa yang pernah saudara-saudara lakukan.

 

Bagaimana Dia melakukannya? Bagaimana pekerjaan tersebut terlaksana – pengampunan dosa-dosa kita itu? Sangat sederhana diterangkan di dalam Firman Tuhan. Ada dua sisi di sana, dua departemen, dua hal di dalam pengampunan dosa: Yang pertama, harus ada suatu pengorbanan; harus ada suatu tebusan, harus ada suatu perdamaian. Penebusan adalah sebuah persembahan yang menebus, yang yang mendamaikan, yang memulihkan. Suatu pemulihan. Penebusan adalah sesuatu yang menyingkirkan, yang untuk tebusan, yang memperbaiki untuk apa yang telah dilakukan. Jika saya telah merampok saudara-saudara, tebusannya adalah mengembalikan serta membuat penebusan untuk apa yang telah saya rampok dari saudara-saudara sekalian

 

Tebusan, menyingkirkan - Oh, perdamaian adalah membuat menyenangkan. Suatu keadaan yang menguntungkan – suatu hari yang menguntungkan, suatu hari yang menyenangkan. Perdamaian menghasilkan kegembiraan, melakukan kebaikan. Jadi, kedua hal tersebut di dalam sebuah persembahan: Adalah tebusan: yaitu membuat kepuasan, tebusan, perbaikan, penggantian, tebusan – dan perdamaian adalah melakukan kebaikan.

 

Sekarang, di dalam pengampunan dosa-dosa kita, pertama-tama ada tebusan, perdamaian, penebusan, persembahan kurban. Dan bagian yang kedua darinya adalah dasar dari berkat, dari pengorbanan itu, dari persembahan itu, dari penebusan itu, dari pertobatan itu – dari dasar itu, memanjatkan permohonan - meminta.

 

Sekarang, kedua hal tersebut digambarkan di dalam Perjanjian Lama di dalam contoh-contoh; dan kebalikan contoh itu adalah apa yang dilakukan Kristus sekarang ini. Di dalam Perjanjian Lama, telah dilakukan persembahan. Dan ketika Ishak berjalan bersama-sama bapanya, dia berkata: “Bapa, inilah kayu bakarnya, dan inilah apinya, akan tetapi, di manakah anak dombanya sebagai kurbannya?”

 

Dan Abraham menjawab: “Anakku, Tuhan akan memberikan Dirinya sendiri sebagai seekor anak domba.”

 

Demikianlah kurban yang pertama – anak domba. Kemudian berdasarkan pengorbanan itu, di sana ada jalan masuk menuju kekudusan yang kudus, dengan darah pengorbanan. Dan di sana untuk membuat doa syafaat kepada orang yang berdosa. Demikianlah caranya mereka melakukannya di dalam ritual dari Perjanjian Lama, Perjanjian Imamat, antitipe, hal yang merupakan gambaran yang ada di dalam Kristus. Persembahan itu adalah diri-Nya sendiri, tubuh-Nya, darah-Nya, nyawa-Nya, penderitaan tebusan-Nya – adalah Anak Domba Tuhan. Dan doa syafaat berada di dasar dari tebusan itu, dari penebusan itu, untuk memohon akan kasih, dan kemurahan serta pengampunan dari Allah.

 

Dapatkah saudara-saudara lihat? Dia tidak berdiri di hadapan takhta itu. Dia tidak masuk ke dalam kekudusan Yang Kudus itu serta memohon untuk pekerjaan yang baik: “Dia adalah anak yang baik, biarkanlah dia memulai terang. Sekarang, dia sedang mencoba untuk melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannya. Jadi, berbaiklah kepadanya, Tuhan. Lihatlah dia di sebelah sana. Dia sedang bergumul. Dia melakukannya cukup baik, untuk dirinya.”

 

Hal itu tidak pernah disinggung, tidak pernah disebutkan – pekerjaan kita yang baik. Akan tetapi, ketika Kristus masuk kedalam kekudusan yang kudus, sebagai perantara kita, Imam Besar kita, Dia berseru kepada Tuhan Allah dengan dasar dari darah, pengorbanan, penebusan untuk dosa-dosa: “Tuhan, ampunilah dia karena Aku. Aku mati untuk dia. Aku telah memberikan nyawa-Ku untuk dia.” Dan Dia memohon untuk keselamatan kita berdasar pada kurban tebusan, persembahan dari diri-Nya sendiri.

 

Mengapa, diberkatilah saudara-saudara. Demikianlah keseluruhan Alkitab itu dari awal hingga pada akhirnya. Ketika seseorang menerimanya – darah itu, pengorbanan itu, penebusan itu, perdamaian itu – ketika seorang manusia menerimanya, Yesus Kristus berdiri untuk selama-lamanya di hadapan takhta Allah memohon kepada saudara-saudara berdasarkan pada iman saudara-saudara di dalam Dia.

 

“Diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, yang bukan dari dirimu sendiri, hanya kasih dan kemurahan serta berkat dari Allah.” Dan Dia menyelamatkan kita, dan Dia menyelamatkan kita, dan Dia menyelamatkan kita sepenuhnya, sehari-hari memanjatkan doa syafaat untuk kita, Perantara kita, di hadapan takhta Allah.

 

            “Simon, Simon. Simon, Simon, Iblis telah berhasrat untuk memilikimu sehingga dia dapat mengayak engkau seperti gandum. Akan tetapi Aku telah berdoa untukmu, dan ketika engkau berpaling (ketika engkau kembali) dikuatkan oleh saudara-saudaramu.”  Hal itu untuk saudara-saudara. Iblis berkeinginan untuk mendapatkan saudara-saudara sehingga dia boleh menyaring saudara-saudara dan mengayak saudara-saudara. Akan tetapi Perantara kita: “Aku telah berdoa untukmu. Aku telah memanggil namamu.” Dan di sana berdiri Perantara kita, Perantara kita, manusia Kristus Yesus, Yang mengetahui serta turut merasakan dengan kita; dan Dia memohon untuk perkara kita. Dan, berdasar pada kayu salib yang menebus itu, Tuhan Allah mengampuni demi Yesus. Demikianlah Injil itu.!

 

Demikianlah Injil itu! Diselamatkan dengan cara melihat pada Yang disalibkan itu, diselamatkan dengan cara percaya dio dalam Dia; diselamatkan dengan melihat kepada-Nya, diselamatkan dengan memohon kepada-Nya. Diselamatkan di dalam nama-Nya, dibersihkan di dalam darah-Nya, di jaga di dalam perantaraan-Nya! Keseluruhannya itu, Tuhan Allah Yang Diurapi kita itu: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia (hanya satu) Kristus Yesus.”

 

Dan seruan kita: Bahwa saudara-saudara datang di dalam Iman dan di dalam kepercayaan kepada-Nya – maukah saudara-saudara melakukannya? Di dalam balkon ini dan di sekelilingnya, di bawah anak-anak tangga ini, yang di belakang, yang di depan, katakan: “Di sinio, pak Pendeta, malam hari ini, aku akan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Inilah aku. Aku datang.”

 

Di lantai yang lebih rendah ini: “Aku akan percaya di dalam Dia, dan inilah aku. Di dalam pertobatan, di dalam pengembalian, di dalam iman, aku memberikan hidupku, jiwaku kepada Dia. Aku memberikan tanganku kepadamu, pak Pendeta. Hatiku, Aku memberikannya kepada Tuhan Allah.”

 

Seseorang dari saudara-saudara, berikanlah hidupmu di dalam gereja ini. Ketika Tuhan akan berfirman, memipin di dalam perjalanan, membukakan pintu-pintu, maukah saudara-saudara datang? Maukah saudara-saudara melakukannya sekarang juga? Satu, seseorang dari saudara-saudara sekalian, engkau sekeluarga, sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.