KESAMAAN AGAMA

(THE SAMENESS OF RELIGION)

Dr. W. A. Criswell

1 Korintus 12:7-13

04-12-55

 

 

Anda sedang mendengarkan ibadah dari Gereja First Baptis di pusat kota Dallas, dan ini adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pagi yang berjudul “Satu Agama Yang Sejati dari Satu Allah yang Sejati,” atau Kesamaan Agama. Dan jika anda berpaling ke dalam Alkitab anda ke dalam surat 1 Korintus pasal dua belas dan membiarkannya terbuka di sana, anda akan dapat mengikuti pelajaran khotbah ini. Di dalam seri khotbah kita melalui Firman. kita telah berada di dalam surat 1 Korintus pasal dua belas, dan ini adalah khotbah yang terakhir dari pasal ini.

Malam ini, khotbah akan diberi judul "Jalan yang semakin sempurna," di mana kita akan masuk ke pasal yang ketiga belas dari  surat 1 Korintus.

Lalu, perhatikanlah teks kita dalam ayat 13 di 1 Korintus pasal 12. Mari kita membaca konteksnya, dimulai dari ayat keempat dalam 1 Korintus 12, "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh." Sekarang ingat, saya sedang berbicara mengenai kesamaan agama, tesis yang tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah berubah. Agama yang sejati dari Allah yang selalu sama.

 

Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.

Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.

Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.

 

Inilah yang ia bicarakan mengenai keesaan iman.

 

Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu roh.

Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota tapi atas banyak anggota.

 

Tetapi mereka semua membuatnya satu. Kemudian, anda memiliki pelajaran dari pasal yang menyamakan tubuh Kristus kepada tubuh manusia, dengan banyak anggota yang membuatnya satu.

Lalu, jemaat Korintus, yang didirikan oleh Paulus, kepada jemaat yang menjadi tujuan suratnya, jemaat Korintus merupakan contoh yang merefleksikan kota Kosmopolitan yang di atasnya dia didirikan. Setiap jemaat atau gereja, setiap Gereja First Baptist yang berada di pusat kota akan melakukan hal itu—itu akan sama seperti kota itu sendiri; Anda akan menemukan berbagai jenis orang di jemaat itu: terpelajar dan tidak terpelajar, bijaksana dan bodoh, kaya dan miskin, pekerja dan profesional, pegawai dan buruh kasar.  Anda akan menemukan beragam orang dalam sebuah Gereja First Baptis yang berada di pusat kota.

Jemaat di Korintus itu, menggambarkan kota besar, warga negara dunia yang besar dengan beragam orang, juga dalam jemaat.   Ada warga Romawi, Yunani, Barbar, pelayan, budak yang telah bebas; ada orang bodoh dan bijaksana; terpelajar dan tidak terpelajar, ada juga orang-orang dalam status sosial tinggi dalam masyarakat.  Pejabat keuangan menjadi anggota gereja dan banyak orang seperti itu dalam gereja. Disana terdapat orang-orang tidak terpelajar dan pekerja-beragam orang berada di dalam jemaat.

Lalu ada banyak keanekaragaman karunia dalam gereja. Ada orang yang dikaruniai untuk melakukan ini dan dalam kesemuanya itu dilakukan dengan cara yang berbeda.  Dan ia menyebutkan mereka disini—semuanya diberi karunia yang berbeda.

Tetapi Paulus berkata, "Meskipun kamu berbeda kebangsaan dan bahasa dan latar belakang, tetapi kamu satu dalam Tuhan.  Dan meskipun talenta dan karuniamu sangat besar, beranekaragam, tetapi tetap satu di dalam Tuhan.” Sebab, kata Paulus, "walaupun kita berbeda bangsa, bahasa, zaman, generasi, kita diberkati, kita semua satu dalam Tuhan. Kita memiliki satu kepercayaan. hal ini dihasilkan," katanya, "dari Roh yang sama; semuanya datang dari Roh Kudus Tuhan yang sama."

Dan akhir semuanya itu—sekalipun beraneka ragam—hal itu selamanya mengacu pada satu kekudusan akhir:  peneguhan iman kita semua, membangun dan memperkuat dan mendorong kita semua. Dan semuanya  berakibat pada satu kekudusan yang besar: pelayanan Tuhan dan pelayanan manusia, saudara-saudara kita. Hal itu berakibat di dalam sebuah koinōnia, dalam sebuah persekutuan, dalam sebuah komuni. Kita semua minum cawan yang sama. Kita memecahkan roti dari tubuh yang sama. Kita semua percaya di dalam Tuhan yang sama, dan bagaimana pun berbedanya kita, agama selalu sama.

Dia menekankan hal itu, “Sebab dalam satu Roh kita semua, telah dibaptis kepada Tuhan menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu roh.” Dalam pasal-pasal sebelumnya ia menekankan hal yang sama.  Dalam bagian ini, kita kembali pada zaman Musa “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama  dan mereka semua minum minuman rohani yang sama.”

 

Dan kemudian berpaling dalam bagian selanjutnya, dan dia berkata tentang hal yang sama lagi,

Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah koinōnia  dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah koinōnia dengan tubuh Kristus?

Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh.

 

Lalu saya ingin berbicara panjang lebar tentang hal itu dengan Alkitab di hadapan kita. Pernyataan yang pertama adalah hal ini: bagaimanapun kita di dalam kondisi luar kita, dalam jiwa dan dalam roh, di dalam iman yang benar dan dalam kepercayaan, kita selalu sama dan satu. Bagaimanapu kondisi luar kita yang mungkin terlihat, agama, agama yang sejati, selalu sama dalam setiap orang. Bagaimanapun kondisi luar kita, apakah saya dilahirkan dalam satu generasi seribu tahun lalu atau apakah kita anggota dari generasi ini, atau apakah kita merupakan anggota generasi yang akan lahir, melalui melalui seluruh generasi yang ditulis dalam sebuah buku sejarah Allah, agama selalu sama. Walaupun kita berbeda di bagian luar, kaya atau miskin, berpakaian compang camping atau berpakaian mahal, terpelajar atau tidak terpelajar, bagaimana pun  kita di dalam kebangsaan kita, melalui semua keanekaragaman jalan yang berliku, perubahan dan peruntungan hidup yang menimpa manusia, agama, jika itu adalah agama yang sejati dan asli, maka akan selalu sama dan selamanya sama.

Di dalam firdaus Allah, sungai firdaus memiliki banyak cabang. Sungai Kehidupan memiliki banyak aliran, tetapi airnya selalu sama. Dan ketika mereka minum air itu, yang merupakan Roh Allah, mereka minum dari Roh yang sama.

Kita tidak pernah berubah, Allah tidak pernah berubah, dan agama yang sejati tidak pernah berubah. Selamanya akan sama, melalui seluruh generasi dan dalam semua manifestasi kehidupan, jika itu murni, jika itu rohani, jika itu sejati, jika itu berasal dari Allah.

Seseorang mungkin berpakaian compang camping di luar, tetapi di dalamnya tetapi didalamnya ia dihiasi dengan pakaian kemuliaan dari Tuhan. Seseorang mungkin diagungkan dan ditinggikan pada suatu takhta, akan tetapi ia adalah seorang yang rendah hati dan lembut seperti Yesus. Ia mungkin seperti Raja Salomo atau Lazarus yang miskin yang memungut remah-remah dari bawah meja orang kaya.  Tapi agama adalah sama di dalam mereka semua, jika agama itu sejati, dan jika asli. Keadaan luar tidak membuat perbedaan jika itu murni.  

Baiklah, pernyataan yang kedua: perbedaan dalam perangai, dalam sifat, tidak menghasilkan perbedaan di dalam agama yang murni dan sejati. Kita semua minum dari Roh yang sama dan kita semua dilahirkan ke dalam kerajaan yang sama, dan kita adalah semua dibaptis ke dalam tubuh Kristus yang sama, jika kita mempunyai iman dan agama yang sejati. Sekalipun kita berbeda di dalam sifat, kita selalu satu dan sama di dalam Tuhan.

Kita sungguh berbeda di dalam sifat kita, kita semuanya tidak sama. Salah satu kisah yang paling disingkapkan di dalam Alkitab bagi saya adalah hal ini: Maria Magdalena, menangis di kuburan dan melihat batu telah terguling, ia masuk ke dalam dan tubuh Yesus telah hilang.  Dalam kebingungannya, dengan berbagai pertanyaan, ia berlari menemui Petrus dan Yohanes dan berkata kepada mereka, "Batu telah terguling dan kubur telah kosong dan tubuh Tuhanku tidak ada lagi di sana."

Petrus dan Yohanes berlari bersama-sama menuju ke kubur itu. Dan orang yang lebih muda mendahului orang yang lebih tua—Yohanes berlari lebih cepat mendahului Simon Petrus dan ia tiba lebih dahulu dikubur, ketika ia tiba di depan kubur, ia berhenti dan hanya melongok ke dalam, tidak mau masuk ke dalam.  Ketika Simon Petrus tiba ia tidak berhenti di depan pintu kubur tapi ia masuk dan melihat sekeliling, mencari tubuh Tuhannya.  Yohanes murid yang dikasihi Tuhan hanya berdiri dan menatap dengan perasaan kagum tapi Simon Petrus yang emosional dan panik, berlari ke dalam kuburan dan melihat ke sekelilingnya dan mencari tubuh Tuhan.

Lalu, merupakan suatu hal yang aneh bagi saya: jika anda pergi ke seminari, jika anda pernah belajar teologia, anda akan diperkenalkan kepada generasi, yang saya maksudkan dari generasi para pengkritik Alkitab, kritik tinggi, yang telah mempelajari sumber-sumbernya dan penulisannya, mereka adalah generasi kritik, saya katakan, mereka telah mencoba untuk memanfaatkan perbedaan pada murid-murid Yesus.  Mereka adalah Injil Johannine  sangat berbeda dengan injil Pauline, mereka mengatakan surat Ibrani, teologi Ibrani sangat berbeda dari teologi lainnya dan pesan dalam Injil Yesus Kristus sangat berbeda dari Injil para rasul.

Tak ada satupun kebenaran didalamnya.  Apa yang anda temukan dalam Alkitab adalah hal ini: Simon Petrus memiliki temperamen tertentu, ketika ia berkhotbah, ia berkhotbah menurut cara tertentu, ketika ia berbicara, ia berbicara dengan cara tertentu, dan ketika ia menulis, ia menulis dengan cara tertentu. Dan Pauluspun memiliki temperamen yang berbeda.  Ketika ia berkhotbah, ia berkhotbah dengan cara tertentu, ketika ia berbicara, ia berbicara dengan cara tertentu dan ketika ia menulis, ia pun menulis dengan cara tertentu.

Dan Yohanes sama sekali berbeda dari semuanya.  Ketia ia berbicara mengenai Tuhannya, ia membicarakanNya dengan cara yang berbeda.  Setiap pribadi memiliki kepribadian tersendiri, memandang Yesus dan memuja Allah dan memberitakan Injil, dilakukan dengan kuasa Allah.  Tetapi, itu adalah kepercayaan yang sama, itu adalah Kristus yang sama, dan mereka minum dari  Roh yang sama.

Begitulah cara manusia dalam zaman ini. Apakah anda tidak bahagia karena mereka semua tidak seperti saya? Telinga setiap orang akan sakit jika mereka sama. Kita berbeda, kita tidak sama, berterimakasihlah kepada Tuhan atas hal itu.  Tapi saya tidak bisa seperti orang lain, dan saya tidak ingin setiap orang seperti saya.

Begitu juga dengan anda. Tuhan membuat anda dengan cara tertentu dan Anda kelihatan berbeda.  Itu baik, Tuhan membuat anda seperti itu.  Beberapa orang diantara anda sama seperti Yohanes, murid yang dikasihi: manis dan berharga. Dan beberapa diantara kita berjuang siang dan malam untuk menjadi orang Kristen yang penuh. Kita akan begitu marah sekali dengan berbagai hal yang menyedihkan, tetapi itu bukan berarti Allah tidak mengasihi kita. Dan itu bukan berarti kita tidak dapat mengasihi Allah.  Kita semua berbeda temperamen tapi satu kepercayaan dengan rasul-rasul ini. Dan ia menekankan hal itu di sana: bahwa apapun karunia kita, itu adalah Roh yang sama.

Sekarang mari kita lanjutkan. Di dalam dispensasi apa pun, di mana Allah menjadi pemerintah atas kerajaanNya di dunia, apa pun dispensasinya, agama tetap sama. Tidak akan pernah berubah.  Dispensasi Eden, dispensasi Air Bah, dispensasi Mosaik, dispensasi Kristen, dispensasi Bapa-Bapa Leluhur, apapun bentuknya Tuhanlah yang mengatur zaman dengan membentangkan rahmatNya, dengan banyaknya dispensasi dalam pemerintahan Allah terhadap umatNya, agama tetap sama.  Sebagaimana dispensasi demi dispensasi menurut perjanjian Allah berarti merubah kepercayaan. Seluruh Instrumen, perubahan metode tapi kepercayaan itu sendiri tidak dapat dirubah, selalu sama.  Anak-anak Allah yang hidup sebelum pencurahan Roh Kudus minum Roh yang sama seperti para Nabi Allah dan mereka diselamatkan hari ini.  Tidak ada yang berubah dari kepercayaan tersebut.

Mungkin ada perubahan dalam instrumen, mungkin akan ada perubahan dalam simbol-simbol, mungkin akan ada perubahan dalam metode-metode. Pada masa lalu, saya akan datang ke hadapan Tuhan dengan seekor anak domba dan mengorbankannya dan mencurahkan darahnya sebagai sebuah penebusan dalam iman untuk dosa-dosa keluarga saya, umat saya dan saya sendiri. Hari ini saya datang ke hadapan Tuhan, saya tidak memiliki anak domba yang sesungguhnya, saya tidak mencurahkan darah yang sesungguhnya. Tetapi iman dan kepercayaan dan penebusan merupakan tipikal, hal itu mrerupakan bayangan di Hari Penebusan dari Kovenan Musa, adalah iman yang sama dan penebusan yang sama, bahwa secara nyata dan secara realitas, hari ini saya memiliki makna dari pengampunan atas dosa-dosa saya di dalam darah Anak Domba Allah yang telah mencurahkan darahNya untuk dosa dunia. Kepercayaan yang berada di belakangnya, makna dari kepercayaan yang berada di belakangnya, metode yang ada di belakangnya selalu sama; hal itu tidak pernah berubah.  

Di dalam Injil Yohanes pasal 12, Yohnes berkata bahwa dalam Yesaya pasal 6, ketika Yesaya melihat Tuhan ditempat tinggi dan menjulang dan ujung jubahnya menyentuh baik suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"  Yohanes berkata dalam injilnya di pasal 12, ketika Yesaya melihat Tuhan ditempat tinggi dan menjulang, itu adalah Yesus. Yehova dalam Perjanjian Lama adalah Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru.  Allah tidak pernah berubah.  Roh Kudus tidak pernah berubah dan metode-metode dari kepercayaan, meskipun ada perubahan di bagian luarnya, kepercayaan itu sendiri tidak pernah berubah, akan tetap sama sampai selama-lamanya

Kita kembali ke zaman 1000 tahun sebelum Kristus, Daud datang di hadapan Tuhan, dan sama seperti kita semua, ia adalah manusia yang banyak pelanggaran dan dosa, "Tidak ada seorang manusiapun yang tidak berdosa." Dan agama yang sesungguhnya dimulai, seperti yang saya bicarakan sekarang, agama selalu dimulai dari suatu kesadaran akan kebutuhan: kita telah kehilangan kemuliaan.  Kita telah berdosa, kita telah memberontak, kita telah terhilang dari Tuhan.  Dan ketika kita berbalik kepada Tuhan, kapan saja seseorang kembali, kembali ke seribu tahun yang lalu atau hari ini atau kemarin, setiap orang datang kembali dengan kondisi yang sama, agama tidak pernah berubah.

Ketika Daud datang ke hadapan Tuhan, ia berkata, "Korban Engkau tidak indahkan, persembahan bakaran Engkau tidak berkenan.  Aku akan memberikannya, sudahkah Engkau menginginkannya?  Tapi Tuhan tidak menginginkannya, "Pengorbanan kepada Allah adalah jiwa yang hancur dan penuh penyesalan, O Tuhan Engkau tidak pernah pandang hina."

Kembali kepada dispensasi Musa ketika implementasi luar dan makna dari kepercayaan ada di dalam bait suci dan pengorbanan anak domba dan penumpahan darah, sehingga seseorang mendapatkan hak pembenaran dari Allah dengan tunduk di hadapan yang Maha Tinggi dan memohon kemurahan hati Tuhan. Di Kitab Mikha Pasal 6, merupakan salah satu bagian yang sangat luar biasa dari seluruh pelajaran profetik.  Mikha berkata,

 

Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?

Berkenankah Tuhan kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?"

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

 

Hal itu tidak akan pernah berubah. Ketika Simon Petrus sedang mengutuk Tuhan, menyangkal bahwa ia pernah melihatNya atau mengenalNya, Tuhan berpaling dan memandang Petrus, dan dia pergi keluar dan menangis dengan penuh penyesalan.  Dan ketika Tuhan kembali memandangnya, Ia berkata, "Simon, apakah engkau mengasihi Aku?"  Dan Simon menjawab, "Tuhan, Engkau mengenal hati dan jiwaku yang tidak seorangpun tahu selain Engkau.  Engkau tahu bahwa aku mengasihiMu."  Kepercayaan selalu sama, tidak akan berubah.

Sekarang boleh saya menjelaskannya secara rinci? Agama yang benar, selalu sama melewati setiap generasi dan diseluruh dispensasi, dimana tidak akan pernah berubah.  Selalu mengikuti setiap aspek kehidupan manusia.  Agama yang sejati dimulai dari kerendahan hati, penundukan diri dihadapan Tuhan, pengakuan dosa,: hal itu dimulai dari sebuah pengakuan dosa; hal itu dimulai dari sebuah perasaan dari keinginan, dari kekurangan dan dari kebutuhan.

Kekurangan diri manusia, ketidaklayakan jiwa tidak akan pernah dapat menemukan Allah, tidak membutuhkan Allah, tidak mencari Allah, tidak menangis di hadapan Allah.  Orang yang mencari Allah adalah orang yang merindukanNya seperti rusa yang merindukan air. Ia mencari Allah, ia memiliki sebuah perasaan dari kekurangan dan kebutuhan, dan ia  merendahkan diri dihadapan Yang Maha Tinggi.  Dan dari generasi ke generasi hal itu akan selalu sama selama berabad-abad.

Ketika Abraham berbicara kepada Tuhan di dalam permohonan doanya, berdoa untuk Lot dan keluarganya, berdoa untuk kota dan dataran Yordan, apakah anda mengingat apa yang ia  katakan?  Abraham berkata, "Lihatlah sekarang, aku telah membawa diriku untuk berbicara dihadapan Allah yang Maha Tinggi, sebagaimananya aku hanyalah abu dan debu, aku diperkenankan untuk masuk halaman kemuliaanMu, aku tidak memiliki apapun hanya abu dan debu."  Itulah kepercayaan yang sejati.

Ketika Yakub berdoa di Sungai Yabok karena ketakutannya pada Esau saudaranya itu, ia mulai berdoa seperti ini "Ya Tuhan, Ya Allah, aku pelayanMu, aku tidak layak untuk menerima kemurahan hatiMu." Itulah kepercayaan sejati.

Ketika Yesaya melihat visi dari Tuhan yang baru saja saya bicarakan, ia menjerit kepada Tuhan, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.”

Kisah terbesar dari Ayub ditutup seperti ini,  "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”  Itu adalah kepercayaan yang sejati.

Hal itu tidak pernah berbeda, sama saja.  Ketika Daniel berdoa dihadapan Tuhan, ia mengaku dan berkata, "Kami telah berdosa, dan ada kebingungan dan rasa malu di wajah kami."

Ketika Simon Petrus melihat keagungan Tuhan yang disingkapkan kepadanya melalui pribadi Yesus Kristus, ia tersungkur di kaki Tuhan dan berkata, "Tuhan, pergilah dari padaku, aku adalah seorang manusia penuh dosa, aku tidaklah pantas atau cukup layak untuk berada di hadapan Tuhan yang maha mulia."

Rasul Paulus dalam menggambarkan karunia yang terindah yang telah Tuhan anugerahkan kepadanya—pendidikannya, latar belakangnya, semua hal termasuk menjadi anggota Sanhedrin dan seorang rabbi dan seorang pemimpin, diatas semuanya itu ia berkata, "semuanya itu tidak kunilai tapi kuanggap sampah, hingga aku mengenalNya dan intim dengan penderitaanNya." Itulah kepercayaan sejati.

Dunia mengajarkan untuk menjadi hebat dan sempurna, itulah dunia.  Yesus mengajarkan kerendahan hati, menjadi kecil dalam penghormatan, menghargai satu sama lain, dan hal ini "dan yang terbesar diantaramu biarlah menjadi hamba untuk semuanya" – merendahkan diri, bersujud, dan berbuah bagi Allah.

Agama selalu dimulai dari kerendahan hati, dalam buah roh.  Cita-cita agama besar adalah pengharapan dan sukacita, semuanya sama.  Mereka tidak pernah bervariasi, hati dan pengharapan kita, melalui semua generasi.  Agama yang sejati selalu menghadapkan wajahnya ke surga dan ke Tuhannya.

Lihatlah ke dalam Kitab Ibrani, kepada ahli pidato, dan pengkhotbah yang sedang menggambarkan tentang bapa-bapa leluhur, dan dia berkata,

Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.

Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.

Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. 

 

Seperti apakah kota itu? Seindah apakah kota itu? Penulis Ibrani mengatakan bahwa Abraham, Ishak dan Yakub adalah orang asing dan pengembara di bumi. Mereka mencari negeri yang lain, mereka mencari kota yang lain . Menurut penulis, Tuhan bangga dengan mereka, "Ia tidak malu untuk disebut sebagai Allah mereka, karena Ia telah menyiapkan mereka sebuah kota."  Kota apa? Itu adalah kota  dimana hati orang-orang Kristen berpaling dan ditebus. Itulah kota Yerusalem Baru, datang dari surga. Tidak pernah berubah.

Harapan dan cita-citanya adalah harapan hari ini, di dalam sebuah negeri di bagian lain dari pembagian yang besar: kesempurnaan dari kerajaan Allah, yang kelihatan dan terbuka, jawaban Allah bagi mereka yang memiliki iman di dalam Dia.

Adalah seorang penguasa yang berkata dalam Mazmur tujuh puluh tiga, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Adalah seorang raja yang berkata, “TongkatMu dan gadaMu itulah yang menghiburkan aku.” Adalah Paulus yang merupakan seorang yang cerdas yang berkata, “Semuanya itu kuanggap sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Cita-cita selalu sama.

Mr. Souther telah mengumumkan pada Selasa malam, saya pikir mereka akan menyanyikan lagu "The Messiah" disini.  Salah satu dari banyak cerita indah, banyak keindahan yang diceritakan mengenai penulis Handel ketika ia menyanyi dihadapan ratu Victoria. Dan mereka memberikan instruksi kepada Ratu, "Semua orang akan berdiri pada 'The Hallelujah Chorus, tapi Ratu tetaplah duduk." Dan ketika tiba pada "The Hallelujah Chorus" hadirin yang banyak itu berdiri dan Ratu tetap duduk. Tiba-tiba Ratu berdiri dan berkata, "Oh, aku dapat melepaskan mahkota ini dan meletakannya dibawah kakiNya."  Hadirin, raja, ratu, kepala keluarga, nabi, rasul, pengabar Injil, anda dan saya - cita-citanya selalu sama. Mengarah ke atas, ke bawah dan maju ke depan dan keluar dan mengarah ke surga; menghadapkan wajah kepada Tuhan. Itu adalah perkara mengasihi Allah dan mengasihi manusia, sesuatu yang kuat, sesuatu yang menyadarkan, sebuah hal yang nyata dan sebuah hal yang hidup.

Sekarang saya akan jelaskan secara singkat. Bolehkan saya menjelaskan dasar persamaan agama ini?  Dasar yang pertama adalah agama yang sama, sebab memiliki kesamaan ras manusia. Manusia alaminya tidak berubah.  Manusia kemarin, manusia hari ini dan manusia besok selalu satu dan sama,  ia tidak akan berubah.  Kealamian manusia selalu sama. Bagaimanapun anda boleh memakainya, bagaimanapun anda boleh memerintahnya, bagaimanapun anda bisa mendidiknya, bagaimana anda mencari untuk membentuk dan memutarnya. Itu merupakan kejatuhan, penuh dosa, manusia alami.

Ditinggikan diatas takhta tapi ia seorang manusia yang terhilang. Ditinggikan dalam sebuah dewan tapi ia seorang manusia yang terilang. Bersembunyi dalam sebuah gubuk tapi ia seorang manusia yang terhilang, Bertumbuh dewasa sebagai seorang anak kecil,  dosa Adam adalah suatu warisan yang diturunkan pada kita dan kita semua telah diselamatkan.

Kita semua adalah bagi Dia untuk diselamatkan.  Ibu saya mungkin seorang yang saleh dan seorang wanita Kristen tapi ia tidak bisa menyelamatkan saya.  Ayah saya adalah seorang Kristen, tapi ia tidak bisa mempercayai Tuhan untukku. Saya juga telah jatuh, harus mempercayaiNya secara pribadi. Dan inilah berkat bagi anak-anak kita, ketika mereka dewasa dalam tanggungjawab, bagaimanapun anda akan merindukan dan memohon kepada Allah, saya tidak dapat percaya bagi seseorang, ia harus melakukannya untuk dirinya sendiri.

Kita semua adalah telah jatuh dan telah diselamatkan.  Dan instrumen keselamatannya sama: peka dengan Roh Kudus.  Pada mulanya, "Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air," membawa terang dan cahaya agar keluar dari kekacauan. Demikianlah yang berlaku atas manusia.  Roh Kudus mencari yang hilang, dunia yang hilang dan Tuhan membela, Roh Kudus berbicara.  Ia berbicara di hati anda, ciptaan baru dan Ia berbicara di hati anda dan kuasaNya adalah kuasa pembaharuan dan itu adalah pekerjaan Allah.  Dan semuanya sama dalam segi dispensasi dan zaman dan dalam semua generasi:  kita semua diselamatkan oleh pembaharuan kuasa Roh Kudus.

Dan akhirnya, akhir yang kudus dari semua iman dan kasih dan permohonan doa, dan kekudusan berakhir sama, semuanya sama, apakah jangkauan pada masa lalu, apakah jangkauan kemarin, apakah jangkauan pada hari ini,  pencarian, pengharapan, doa atas kesudahan akhir dari semua penderitaan manusia, hari dari sebuah langit yang baru dan bumi yang baru, manusia yang baru akan hidup dan memerintah bersama Tuhan Juruselamat kita.  Abraham bersukacita melihat harinya Tuhan.  Abraham, dua ribu tahun sebelum Kristus, mengangkat mukanya dan lihat, lihat kemenangan kita.  Yesaya mengangkat wajahnya dan melihat. Di sana ada kemenangan kita dan kesukaan kita.  Bapa-bapa leluhur kita melihanya dan bersukacita.

Dan kita berdiri dimana mereka berdiri, dengan muka kita yang terangkat dan memploklamirkan iman yang sama, pengharapan yang sama dan akhir yang sama—kita semua telah  dari Roh yang sama, kita semua telah disadarkan dan hidup untuk pengharapan yang sama.

Mari kita berdoa. Tuhan, kami adalah sebuah bagian dari sebuah perjalanan yang luas, perjalanan dari anak-anak Tuhan yang kudus yang membuat jauh dari dunia ini dan dunia yang akan datang, denga puji-pujian di bibir kami dan dengan hati di tangan kami, dengan wajah kami menghadap ke tanah perjanjian, berbaris, berbaris.  Oh, siapa yang mau ikut dan pergi dengan kami menuju Yerusalem sorgawi, kepada Allah?

O Tuhan, semoga sinar pengharapan bersinar dalam jiwa kami seperti terang kemuliaan Tuhan yang bersinar diwajah Yesus. Dengan sederhana, dan ketika kita bertambah tua, semoga pengharapan itu terbakar dengan lebih terang ketika kita hampir menang.  Apakah dalam kemudaan dan kekuatan, apakah dalam umur dan kematian, pengharapan yang sama, iman yang sama, Allah yang sama, satu tubuh, satu roti, satu Roh? Hanya satu koinōnia, satu persekutuan, satu kemuliaan dalam Yesus.

Tuhan kami, ketika kami membuat perjalanan ini, semoga mereka yang ada di sini pada hari ini akan berkata, "Dan saya akan bergabung dengan orang banyak yang berbahagia.  Ini aku datang dan inilah aku, percaya pada Tuhan Yesus."  Dan kami bersyukur kepadaNya, yang menjawab doa, dalam pemeliharaanNya, dalam nama Yesus yang menyelamatkan. Amin.

Dan ketika kita menyanyikan pujian kita, ketika kita membuat seruan pada pagi hari ini, seseorang dari anda yang ingin menyerahkan hatinya kepada Yesus, maukah anda datang? Ke dalam lorong bangku itu, dan maju ke depan, “Pendeta, ini tangan saya, saya telah memberikan hati saya kepadaNya.  Dalam kerendahan hati, dalam pengakuan, saya mencari Yesus.” Maukah Anda datang, seseorang dari anda, ke dalam persekutuan jemaatNya?  "Surat saya, hidup saya, untuk bersama dengan anda, inilah keluarga saya, kami datang semua.”

            Seseorang dari anda, ketika kita menyanyikan lagu ini, maukah anda membuatnya sekarang? Bagi anda yang berada di atas balkon, disekitarnya, atau di mana saja, maukah anda datang, saat kita berdiri dan saat kita bernyanyi?

 

Alih Bahasa: Wisma Pandia, Th.M.