HANYA OLEH ROH KUDUS

(ONLY BY THE HOLY SPIRIT)

 

Dr. W. A. Criswell

 

20-11-55

 

1 Korintus 12:3

 

Akhirnya kita telah tiba di suatu tempat di dalam Alkitab, yang merupakan salah satu pembicaraan yang tertinggi dari semua tulisan yang diinspirasikan. Kita telah berada di dalam surat 1 Korintus pasal dua belas. Dan ketika Paulus memulai: “Sekarang, tentang karunia-karunia Roh,” pasal dua belas, tiga belas dan pasal empat belas berkaitan dengan karunia-karunia Roh Kudus. Dan pasal lima belas merupakan pasal yang klimaks: tentang kebangkitan dari kematian. Dan, apakah saya dapat membuat hal itu bermakna bagi orang lain atau tidak, saya dapat mengatakan kepada anda hal yang sebenarnya bahwa ketika saya melihat ke depan, dan ketika saya sedang mempersiapkan khotbah ini, hal-hal ini sangat bermakna bagi jiwa saya sendiri.

Lalu, khotbah pada malam ini merupakan jenis sebuah khotbah pengantar, karena apa yang Paulus sampaikan di sini merupakan sebuah kata pengantar berkaitan dengan karunia-karunia: karunia-karunia ajaib dari Roh Kudus. Dan Minggu pagi berikutnya pada pukul sepuluh, dan Minggu malam berikutnya pada pukul tujuh, khotbah kita akan berkaitan dengan pasal dua belas ini dan karunia-karunia dari Roh Kudus.

Lalu, ini merupakan kata pengantar dari Paulus, di dalam 1 Korintus pasal dua belas:

Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya. … .

… bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu  … .

Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.

Dan kemudian, dia memulai diskusinya tentang keanekaragaman dari karunia-karunia Roh Kudus.

Lalu khotbah pada malam hari ini akan membahas tentang kalimat pengantar Paulus dalam pasal ini: “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Iēsous anathema!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Iēsous kurios’ selain oleh Roh Kudus.”

Dan di dalam bahasa Yunani, kedua kata itu merupakan dua kata yang sangat beertentangan:  Iēsous anathema: “Terkutuklah Yesus” dan ēIesous kurios: “Yesus adalah Tuhan.” Dan, Paulus berkata di sini:  Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Iēsous kurios”, selain oleh Roh Kudus.  Lalu, apa yang dia maksudkan di sini adalah hal ini. Ketika dia memulai pasal yang berkaitan dengan karunia-karunia Roh ini, apa yang dia sampaikan adalah hal ini: itu adalah tanda kunci, batu filsafat,  yang olehnya anda dapat menilai kesaksian manusia di dalam Allah—ketika dia berkata dia sedang berbicara tentang ungkapan dari Roh Allah, kunci tanda adalah: Seseorang yang sedang berbicara dengan kuasa Roh Tuhan akan selalu mengakui dan meninggikan Ketuhanan Yesus Kristus. Jika ia merupakan alat bagi perkataan Roh Allah, hal itu akan selalu menjadi pusat di dalam pesannya: Apakah dia meninggikan Kristus? 

Lalu, anda dapat menggunakan hal itu pada hari ini. Sebelum saya beranjak dengan khotbah ini, ketika paduan suara bernyanyi, apakah mereka meninggikan Kristus di dalam pujian itu? Apakah mereka mengagungkan Kristus? Ketika seseorang berkhotbah, apakah Dia meninggikan Kristus di dalam khotbahnya? Di dalam pelayanan sebuah gereja, apakah itu berpaling menuju tujuan yang kudus untuk meninggikan Tuhan Yesus di dalam seluruh pekerjaan kita?

Di dalam hidup, di dalam perbuatan-perbuatan kita dan di dalam kesaksian kita, apakah kita berkata, “Yesus adalah Tuhan? Dia adalah raja? Dia adalah Kristus?”  Lalu, Paulus berkata itu adalah kunci yang olehnya anda dapat menilai ucapan-ucapan dari orang-orang yang berkata bahwa mereka sedang berbicara oleh Roh Allah.

Lalu, tema utama dari Alkitab bahwa Yesus adalah Tuhan: kurios Iēsous. Yesus adalah Tuhan. Dia adalah Tuhan atas seluruh sorga dan bumi. 

Matius 28:18:  “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Dia adalah Tuhan atas seluruh ciptaan.

Yohanes 1:3:  “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Dia adalah Tuhan atas manusia sepanjang waktu.

Filipi 2:9 sampai 11: 

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama;

Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi;

Dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!  

Dia adalah Tuhan atas yang hidup dan yang mati.

Roma 14:8 dan 9: 

Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

Dia adalah Tuhan. Dia adalah Tuhan yang telah menang atas Setan, dan Dia adalah Tuhan bagi orang yang hidup dan yang mati. 

Dia adalah Tuhan atas sorga dan neraka. Dia adalah Tuhan atas hal ini dan hal itu, dari dunia ini dan dunia yang akan datang. Dalam Wahyu 1:18: “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Dan Yang Hidup…. lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.”

Dan Dia adalah Tuhan atas jemaat. Kolose 1:18: “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat…, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.”  Paulus berkata bahwa itu adalah kuci terhadap perkataan dari Roh, yaitu: ucapan-ucapan itu selalu meninggikan Tuhan Yesus Kristus, bahwa Dia adalah Tuhan.

Lalu di dalam teks kita: “Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya,” katanya, “bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Iēsous anathema!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Iēsous kurios’ selain oleh Roh Kudus.”  Lalu saya dapat melihat hal itu, pada masa penganiayaan yang mengerikan, tidak seorang pun yang meninggikan Yesus Kristus sebagai Tuhan selain oleh Roh Kudus, selain oleh kuasa Allah. Saya dapat melihat hal itu dalam hari-hari penganiayaan yang mengerikan itu.

Hanya sebagai contoh, mari kita lihat kembali ke dalam kehidupan jemaat mula-mula, ketika ia pertama kali diperkenalkan kepada dunia, kembali ke masa lampau, ada seorang gadis miskin yang sederhana yang dibawa ke hadapan tua-tua sinagog. Dan dia berdiri di sana, dan para saksi  mengumumkan kesalahannya karena menjadi seorang pengikut dari orang Nasaret itu. Dan gadis malang yang sederhana itu berdiri di hadapan pemimpin sinagog dan ujian mereka sangat pendek dan sangat sederhana. Mereka melihat gadis itu dan berkata: “Katakan, Yesus anathema—Katakanlah Yesus anathema atau katakanlah Yesus kurios.”  Dan mereka menunggu jawaban gadis itu.

Gadis malang itu melemah di hadapan sikap mereka yang gelap dan mengancam. Untuk berkata Yesus Tuhan, dia akan dilempari dengan batu sampai mati. Entah bagaimana dorongan datang ke dalam jiwanya. Mulutnya terlihat pucat, tetapi mereka tidak membingkai kata-kata kutukan itu. Dan dia memecahkan keheningan itu dengan sebuah seruan yang taat dan kudus—Iēsous, Iēsous, Iēsous kurios, Yesus adalah Tuhan—oleh kuasa Roh Kudus. Dan dia dibawa keluar dan dilempari dengan batu sampai mati.

Pada masa perkembangan gereja di Kekaisaran Roma, segera saja hal itu berubah menjadi:  Kurios Iēsous atau kurios Caesar?  Akankah anda berkata “Kaisar adalah Tuhan,” karena penyembahan terhadap kaisar menjadi universal, dan patungnya berada di tiap-tiap kuil di mana saja. Dan itu merupakan tanda patriotisme dan sebuah ketaatan kepada dewa-dewa dan penyembahan terhadap kekeramatan kaisar yang kudus. Jadi mereka membuat ujian:  Kurios Caesar atau kurios Iēsous?

Dan Paulus berkata: “Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus.”  Polikarpus merupakan seorang gembala yang telah berusia lanjut di Smirna. Dan mereka mengarak dia di hadapan penguasa Roma dan memberikan kepadanya pilihan itu: “Apakah engkau berkata Kuriae Caesar, ataukah kamu berkata Kuriae Jesus?” 

Dan Polikarpus menjawab: “Delapan puluh tujuh tahun aku telah melayani Dia. Delapan puluh tujuh tahun. Dan haruskah aku menyangkal Dia yang tidak pernah melakukan kesalahan kepadaku?” Dan mereka membakar Polikarpus di tiang pembakaran.

 

Aku melihat martir di tiang pembakaran

Nyala api tidak dapat membuatnya gemetar

Bahkan kematian tidak dapat mengejutkan jiwanya

Aku bertanya kepadanya, dari manakah dia mendapat kekuatannya

Dia melihat dengan penuh kemenangan ke arah sorga dan menjawab:

“Kristus adalah semua.”

 

 

Kurios Iēsous: Yesus adalah Tuhan.

Di dalam masa hidup kita, Martin Niemoeller berdiri di depan hakim-hakim yang ditunjuk oleh Nazi Fuehre: Hitler sendiri. Dan dia didakwa oleh sebuah pengadilan Nazi. Dan ketika mereka menyuruh dia berdiri untuk menyangkal kesetiannya kepada Kristus, dia mengakhiri pembelaan yang terhormat itu dengan kalimat ini: “Yesus adalah Fuehrer saya.”  Yesus adalah pemimpin saya. Dan mereka mengirim dia selama bertahun-tahun ke kamp konsentrasi.

Di sini, di gereja yang kita kasihi ini, datanglah Henry Lin untuk mengunjungi kita, presiden dari Akademi Baptis kita di Sanghai—Henry Lin, seorang pria Cina yang sangat hebat, kaya, di dalam pemerintahan Nasionalis Cina. Dan ketika komunis mengambil alih Cina, Dia kembali pulang. Mengabaikan permohonan yang sangat mendesak dari sahabat-sahabatnya dari mana saja, dia kembali pulang sambil berkata: “Saya harus berdiri di samping masyarakat saya, di samping sahabat-sahabat Kristen saya. Saya akan kembali pulang.”

Dan dia kembali pulang. Dan selama tahun-tahun ini, dia telah menderita di sebuah penjara Komunis. Dan dia berada di sana pada malam hari ini, jika dia tetap hidup.

Paulus berkata: “Satu-satunya jenis sebuah kehidupan yang dapat ditinggali adalah oleh kuasa Roh Kudus. Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Iēsous kurios, selain oleh Roh Kudus.”

Lalu, bolehkah saya berbicara tentang kita yang hidup di kota ini dan yang menjadi anggota jemaat ini dan yang berjalan di jalanan kota ini. Bukankah itu merupakan sebuah hal yang aneh bagi Paulus untuk menulis hal itu “tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus?” Mengapa, karen ada ribuan orang yang dengan sembrono mengucapkan kata-kata itu. Mereka tidak bermaksud demikian. Iman bagi mereka merupakan sebuah fungsi hidup yang kebetulan, hanya untuk dikenakan di mana saja. Mereka dengan bersenandung, dengan ceroboh, hampir mengejek, mengulang-ulang hal itu.  

Tetapi Paulus berkata bahwa anda tidak dapat mengaku hal itu selain oleh Roh Kudus. Tampak jelas, dia memiliki maksud yang lain. Tampak jelas Paulus tidak sedang berbicara tentang sebuah rangkaian kata-kata atau kalimat yang tidak bermakna. Tentu saja, Sang Rasul sedang berbicara tentang dasar iman yang masuk kedalam pengalaman jiwa dan mengubah jalan hidup. Tampak jelas, dia sedang berbicara tentang hal yang sama, yang memiliki makna yang sama ketika Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga.”

Hal ini, iman yang sedang Paulus bicarakan—“Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus”—Tampak jelas, itu adalah sesuatu yang masuk ke dalam jiwa seseorang dan masuk ke dalam pengalaman hidupnya. Itu adalah sebuah iman yang mengubahkan.  

Lalu, bolehkan saya menggambarkan iman itu dalam sebuah waktu yang singkat. Apakah iman itu, yang sedang Paulus bicarakan di sini ketika dia berkata: “Kamu tidak dapat berkata bahwa Yesus adalah Tuhan saya selain adalah kuasa dan pengurapan dari Roh Kudus?” Jenis sebuah iman seperti apakah itu? 

Baiklah. Jika saya dapat menggambarkannya, maka hal itu adalah seperti ini: Itu adalah kemampuan dari seseorang, yang diberikan kepadanya oleh Allah, untuk melihat yang tidak kelihatan dibelakang yang kelihatan, untuk melihat dibelakang ide yang tidak terukur itu. Ada batu bata dan adukan semen dan batu-batu dalam sebuah rumah, dan materi di dunia, dan saya dapat melihat hal itu. Tetapi, Allah juga memberikan kepada seseorang untuk melihat bahwa dibalik hal yang kelihatan ini dan dibalik sebuah hal yang nyata ini merupakan realitas-realitas rohani yang besar. Dan akhirnya, realitas-realitas rohani itu menjangkau ke atas, hingga akhirnya diidentifikasikan dengan Alllah sendiri. Itu adalah langkah pertama di dalamnya.

Lalu, langkah yang kedua adalah hal ini: Ketika kita mampu, oleh kuasa Allah, untuk menyadari bahwa dibalik dunia yang kelihatan ini ada sebuah realitas yang tidak kelihatan, ada sebuah kuasa, ada sebuah prinsip, ada sebuah karya yang kreatif dibelakang semua hal yang saya lihat di dalam dunia ini. Lalu, langkah yang kedua adalah: Dan kita tiba untuk mengidentifikasikan bahwa kuasa yang tidak kelihatan itu merupakan pribadi dari Yesus Kristus. 

Apakah anda memperhatikan kata yang dia gunakan di sini: “Dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan.” Itu adalah sebuah jabatan: Kristus—bahwa “tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan.”  Itu adalah pribadi historikal dari Nasaret, lahir dari seorang anak dara, tumbuh besar di Nasaret—pergi melakukan kebaikan, memberitakan injil, disalibkan di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Itu adalah pribadi sejarah dari Yesus.

Dengan kemampuan dari Roh Allah, kita mengidentifikasi hal-hal besar yang tidak kelihatan itu dibelakang dunia yang kelihatan ini. Kita mengidentifikasikannya dengan pribadi sejarah dari Yesus: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”  Kita mengidentifikasikan Allah Yang Agung dibelakng dari dunia ini dan dibelakang kita di dalam Kristus Yesus dari Nazaret, Yesus historikal.

Kemudian, bagian ketiga dari iman itu merupakan langkah yang terakhir dari hal itu: Di dalam sebuah dunia yang sangat besar dan sangat kompleks, dan dalam sebuah takdir yang sangat tidak tentu dan sangat panjang dan sangat keras dan sangat kekal, kita merasakan kekurangan diri kita. Kita melihat diri kita dalam ketidakcukupan diri kita. Dan dengan sebuah usaha dan keinginan untuk kontak rohani dengan Pencipta Agung yang mengasihi kita dan yang telah menyerahkan diriNya untuk kita, kita bersujud dengan kerendahan hati di hadapanNya. Dengan sebuah perasaan kebutuhan di dalam jiwa kita, dari kekurangan di dalam diri kita, dari ketidakcukupan dan ketidaklayakan, kita bersujud dan berkata: “Tuhan Yesus, aku datang kepadaMu dengan seluruh keadaanku, hidupku, jiwaku, kematianku, takdirku, kekekalanku. Aku tidak mampu dengan diriku sendiri. Aku membawanya kepadaMu.” Itulah maksudnya ketika Paulus berkata untuk berkata: “Yesus adalah Tuhan oleh kuasa Roh Kudus.”

Lalu, bolehkah saya berbicara untuk sejenak tentang iman itu, oleh kuasa Roh Kudus? Paulus berkata bahwa anda tidak dapat memiliki iman itu oleh diri anda sendiri. Hal itu berasal dari Allah. Anda tidak menghasilkannya oleh diri anda sendiri. Anda dapat membaca dan membaca dan membaca, tetapi anda tidak akan pernah membaca hal itu. Anda dapat merenggut dan merenggut dan merenggut, tetapi anda tidak dapat merenggut hal itu. Anda dapat belajar dan belajar dan belajar, tetapi hal itu tidak dilakukan oleh kecerdasan seseorang, oleh kecerdasan pikiran seseorang. Dia tidak dapat tiba ke dalam institusi rohani yang besar itu oleh dirinya sendiri. Mereka harus datang dari Allah. Mereka adalah karunia Allah.

Tidak seorang pun dapat memiliki iman itu, tidak seorangpun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan selain oleh Roh Kudus. Hal itu membutuhkan dua orang untuk melakukan hal itu: Anda dan Allah. Anda tidak dapat melakukan hal itu oleh diri anda sendiri. Tanpa Allah, anda tidak berarti apa-apa. Anda tidak berdaya. Tanpa kuasa untuk menjalankan sebuah mesin, mesin itu tidak dapat berjalan. Ia harus memiliki arus listrik dan dinamo serta bahan bakar di dalam motor, dari tenaga di dalam jet. Dan tanpa tenaga, mesin tidak dapat bekerja.

Sebuah pahat tidak dapat mengukir sebuah patung tanpa tangan Allah—tanpa tangan sang artis. Harus ada sebuah tangan yang memimpin pahat.

Bahkan Kristus sendiri bukanlah keseluruhan Kristus sendiri. Kehidupannya bukanlah sebuah keseluruhan tanpa Allah di dalam Dia. Dia berkata, bahwa Dia tidak dapat melakukan apa-apa tentang diriNya sendiri. Dia memiliki kuasa oleh Roh Kudus.

Demikian juga dengan kita. Kita lumpuh. Kita hanya memiliki separuh kehidupan, hanya sebuah potongan dari sebuah kehidupan. Hingga Allah datang ke dalam kita, kita bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita tidak mencapai takdir kita yang tertinggi di dalam diri kita dan oleh diri kita. Tetapi kita meraih takdir kita yang tertinggi oleh kuasa Roh Allah yang hidup yang tinggal di dalam diri kita. Tetapi ketika seseorang menerima Allah bersama dengan dia, ketika Dia membuka hatinya kepada Allah, dia menjadi seorang manusia yang penuh. Dia menjadi seorang manusia yang sempurna. Oleh kuasa dari Roh Allah dia berkata bahwa “Yesus adalah Tuhan,” dan ada kelimpahan di dalam dirinya seluruh kekayaan ucapan syukur yang berasal dari kemurahan dan tangan yang berbelas kasihan dari “Bapa kita yang ada di sorga.”

Ini adalah seseorang yang didakwa oleh Setan. Tetapi, dia berkata: “Yesus adalah Tuhanku.” Dan dia telah diampuni.

Ini adalah seseorang yang mendapat pencobaan. Tetapi dia berseru: “Yesus, Yesus Tuhan.” Dan Dia mendapat keberanian dan dorongan yang besar.

Ini adalah seseorang yang menghadapi tugas. Dan dia berseru: “Yesus adalah Tuhan.” Dan dia diteguhkan dan dimantapkan di dalam pengakuannya. 

Ini adalah seseorang yang telah  mendapat penderitaan yang hebat. Tetapi dia berkata: “Yesus, Yesus. Tuhan, Tuhan.” Dan dia memperoleh ketabahan di dalam penderitaannya.

Ini adalah seseorang yang kekurangan—dia kekurangan petunjuk. Dia mengalami kebingungan. Dan dia berseru dan berkata: “Yesus, Yesus. Tuhan.” Dan dia memiliki hidup dan petunjuk untuk jalan itu.

Kita sempurna di dalam Dia. Dan tanpa Dia, kita lumpuh. Kita hanya setengah jiwa. Kita tidak pernah sampai ke takdir kita yang terpisah dari Allah.

Kemudian seseorang berkata: “Ah, pendeta, seandainya saya dapat memiliki iman itu, seandainya saya dapat memiliki karunia itu. Seandainya saya dapat memiliki jalan itu dari Allah. Oh, seandainya saya dapat berkata bahwa Yesus adalah Tuhan, oleh kuasa Roh Kudus.”

Bagaimana saya dapat melakukannya? Apakah saya membelinya? Dapatkah saya membelinya?

Tidak, anda tidak perlu membelinya, karena hal itu cuma-cuma. Anda tidak perlu membeli hal-hal itu karena telah diberikan kepada anda. Hal itu cuma-cuma. Itu adalah sebuah karunia cuma-cuma dari Allah. Semua karunia Allah yang nyata, yang paling mungkin secara universal.

Allah tidak menuntut bayaran dari kita untuk hal-hal ini yang merupakan hal-hal yang terbaik dari hidup.

Sebuah musim panas yang mencurahkan keindahan, Dia memberikannya kepada orang-orang miskin yang datang. Sebuah hari yang sempurna pada bulan Juni, hal itu dimiliki oleh setiap orang. Itu adalah milik kita. Sunset yang indah, Allah melakukan hal itu tanpa apa-apa. Bintang-bintang yang bersinar cemerlang, Dia meletakkannya di langit tanpa menuntut harga. Pelangi yang bersinar dan awan-awan yang indah dan gerimis yang jatuh, Allah mereka mereka tanpa apa-apa. Mereka adalah karunia Allah.

Semua hal-hal yang luar biasa, yang kaya dan penuh berkat dan menopang hidup kita, Allah memberikan semuanya bagi kita. Dan yang terpenting dari semuanya, keselamatan kita: “Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

Tidak seorangpun yang dapat mengusahakannya, agar dia tidak berkata: “Lihat apa yang telah aku lakukan? Lihat apa yang telah aku beli? Aku menghasilkannya.” Tidak. Allah memberikannya kepada anda. Itu adalah karunia Allah.

Bagaimanakah seseorang berkata “Yesus adalah Tuhan?” Oleh Roh Kudus. Dan, bagaimana oleh Dia? Karena Allah memnberikan Dia kepada kita tanpa ukuran. Dia adalah milik kita yang kita minta: kepenuhan ini, kelimpahan ini, kekayaan hidup yang kita miliki dalam nama dan dalam kuasa Ketuhanan Yesus. Itulah pesanNya.

Dan itulah seruan kami bagi hati anda pada malam hari ini. Apakah di sana, di dalam hati anda sedang mencari Allah? 

“Pendeta, saya percaya. Saya percaya bahwa dibelakang hal-hal ini saya melihat hal-hal besar yang tidak kelihatan. Saya percaya itu. Ada sesuatu yang lebih tentang hal itu dari pada apa yang dapat dipegang oleh tangan saya. Saya percaya bahwa dibelakang hal itu merupakan hal-hal besar yang tidak kelihatan. Dan Pendeta, saya percaya bahwa hal-hal yang tidak terlihat itu yang terletak dibelakang semuanya itu—saya percaya itu adalah Allah. Dan oleh kuasa dan karunia Roh Kudus, saya telah siap dan berkehendak pada malam ini untuk mengakui Allah itu, di dalam Kristus dari Nazaret, yang telah mati untuk dosa-dosa kita, berdasarkan Firman; yang telah dikuburkan dan bangkit kembali dan yang berada di sebelah kanan Allah, berdasarkan kitab suci. Dan di dalam hati saya dan jiwa saya, saya tidak menemukan sebuah kelayakan dan sebuah kecukupan di dalam diri saya, dan saya sedang membawa diri saya di dalam iman kepada Yesus. Saya percaya Dia dapat menyembuhkan. Saya percaya Dia dapat memberikan kekuatan. Saya percaya Dia akan membimbing. Dan, saya akan menerima Dia pada malam hari ini sebagai Juruselamat saya, oleh kuasa Roh Kudus.” 

Itu adalah karunia Allah. Maukah anda melakukannya pada malam hari ini? Masuklah ke dalam salah satu lorong itu dan maju ke depan ke samping saya: “Pendeta, inilah saya. Malam ini, saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat saya. Dan saya akan melakukannya sekarang. Saya akan membuat keputusan itu sekarang.”

Dan yang lainnya: “Pendeta, kami datang ke dalam jemaat ini untuk bekerja bersama dengan anda, untuk menghadiri ibadah ini, untuk mengangkat tangan anda. Kami meminta Allah untuk memberkati hidup kita di kota ini, di dalam gereja yang ada di pusat kota ini. Inilah keluarga saya. Atau, inilah  saya yang sedang datang.”

Ketika Allah akan menyampaikan firman dan membuat seruan, ketika Dia meletakkannya di atas hati anda, maukah anda datang? Maukah anda melakukannya sekarang, saat kita berdiri dan saat kita bernyanyi?

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.