YANG DIPECAH-PECAHKAN

(BROKEN THINGS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

06-05-84

 

1 Korintus 11:24

 

 

Hari ini merupakan minggu pertama dari bulan ini, di depan kita, kita memiliki elemen-elemen dari Perjamuan Tuhan. Dan khotbah yang disampaikan oleh pendeta berkaitan dengan memecahkan roti. Khotbah yang berjudul: Allah Dimuliakan Oleh Hal-Hal Yang Diremukkan.

Di dalam catatan Paulus tentang pelaksanaan dari peringatan yang kudus dan indah ini di dalam 1 Korintus 11:24, Paulus berkata:  

Bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" 

Hal-hal yang dipecahkan. Roti yang dipecahkan. HIdup yang dipecahkan. Hati yang patah. Pengharapan yang patah. Mimpi yang hancur. Visi yang hancur. Allah dimuliakan di dalah hal-hal yang dipecahkan. 

Hal itu ada di dalam batu karang yang dipukul di gunung Horeb sehingga air memancar keluar dan membawa kesegaran bagi orang Israel.  Ha itu ada  di dalam bejana yang dipecahkan dalam pasukan Gideon yang berjumlah 300 orang yang membawa kemenangan bagi orang Israel. Hal itu ada di dalam lima roti yang dipecahkan yang memberi makan orang banyak di pantai Galilea. Hal itu terdapat dalam minyak narwastu yang dipecahkan, yang membuat Tuhan sangat dibesarkan dan dikasihi, sehingga aroma minyak wangi memenuhi ruangan itu.       

Hal-hal yang dipecahkan. Allah dimuliakan dalam hal-hal yang dipecahkan.

Tidak kurang Allah begitu dimuliakan di dalam orang-orang yang patah: orang yang memiliki kehendak yang jalannya telah diremukkan dan mereka menunduk di dalam Tuhan dalam kerendahan hati yang dalam dan permohonan serta seruan yang sederhana. Orang-orang yang patah.

Nama Yakub diberikan karena dia memegang tumit saudara sulungnya, Esau. Dan namanya Yakub, penipu, menjadi luas ke dalam konotasi-konotasi dan nada tambahan dari nama: Yakub, pengganti, penipu. 

Dan hidupnya merupakan sebuah hal yang konstan dalam penipuan satu sama lain. Dia menipu saudaranya dan mengambil keuntungan dari kelemahan Esau, Yakub mencuri hak kesulungannya. Keselururuhan hidupnya merupakan sebuah penipuan.

Dan ketika dia pergi ke Haran di Mesopotamia, seterusnya dia mengikuti pola hidup yang sama dalam sebuah kehidupan dari kelicikan dan penipuan. Dan masanya tiba  ketika di bawah perlindungan Allah, dia membawa keluarganya dan hartanya dan kembali ke tanah Kanaan. Dan dalam perjalanan pulang, dia diberitahukan  bahwa Esau memiliki pedang untuk mengambil nyawanya, bahwa Esau datang untuk menemui dia dengan membawa 400 pasukan berkuda.

Hal itu membawa kepanikan di dalam hati Yakub, dan di dalam kelihaiannya—yang selalu disusun dan selalu direncanakan—di dalam caranya yang inovatif, Yakub membagi kawanannya dan gembalanya ke dalam kelompok-kelompok dan mengutus mereka mendahuluinya untuk bertemu dengan 400 pasukan berkuda dari Esau. Kemudian dia mengambil keluarganya dan membagi anak-anaknya berdasarkan ibu mereka, untuk bertemu dengan Esau, keluarga pada waktunya. Dan yang terakhir dari semuanya, dia merencanakan untuk bertemu dengan musuhnya yang sengit, yaitu saudaranya.   

Dan ketika kawanan domba dan gembala itu mendahului dia dan ketiga keluar dan anak-anaknya mendahului dia, Yakub tinggal sendirian di Sungai Yabok.  Dan malam itu, seorang malaikat bergulat dengan dia—dengan gigih dan usaha yang keras, malaikat itu tidak dapat mengalahkannya. Sepanjang malam Yakub bergulat dengan gigih dengan malaikat Allah. 

Dan ketika fajar menyingsing, malaikat itu menyentuh pangkal pahanya. Dan Israel menjadi pincang. Dan Yakub bertaut kepada malaikat itu sambil berkata: “Jangan tinggalkan aku seperti ini. Tolonglah Allah, berkati aku. Tolong aku. Bermurah hatilah untukku.”

Dan malaikat itu membalasnya “Siapakah namamu?”       

Yakub berkata: “Namaku adalah Yakub ( penipu).”

           Dan malaikat itu menjawab: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

Dan, malaikat meninggalkan dia. Dan ketika matahari menyingsing saat pagi, dan Yakub menyusul kawanan ternak dan para gembala serta keluarganya, ia berjalan dengan paha yang pincang. Dia menjadi pincang. Dan dia berjalan pincang sambil tertatih-tatih. 

Dan ketika Esau dan empat ratus pasukan berkudanya untuk bertemu dengan saudaranya, Yakub—Israel, dengan paha yang pincang, terluka dan patah. Kejadian pasal pasal tiga puluh tiga dikatakan: “Ketika Esau melihatnya, dia berlari menghampirinya dan mendekapnya dan menciumnya, dan mereka menangis bersama-sama.” Orang yang patah. Remuk.

Kita memiliki sebuah kisah yang sama di dalam Daud. Anda tahu, apa yang tidak kita sadarai di dalam kehidupan Daud adalah: Seorang raja Timur dapat melakukan apa yang dia sukai. Bukanlah sebuah masalah bagi seorang raja Timur untuk membangun sebuah harem, untuk menambahkannya di samping yang lainnya. Bukan suatu masalah bagi seorang raja Timur untuk mengumumkan penghukuman dan eksekusi terhadap sebuah subyek di negerinya.

Daud, di dalam pandangan seluruh dunia dan masa ketika dia hidup, memiliki hak yang sempurna untuk melakukan apa yang menyenangkan dia. Dia adalah raja. Tetapi tidak demikian di dalam pandangan Allah.  Dan, Nathan mendakwanya dan mengkonfrontasikannya dengan sebuah pesan dari Allah: “Engkaulah orang itu,” dan kemudian memberitahukan sebuah penghukuman atas kehidupan Daud. 

Dan hal itu mematahkan hati penguasa itu. Dan dia berseru kepada telinga dan hati Yang Mahatinggi di dalam Mazmur 51:  “Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya ku persembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah.”  Hati yang patah. Orang yang remuk. 

Saya sangat terkejut ketika saya membaca 1 Petrus 5:6—dia berkata: “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikanNya pada waktunya.” Inilah Simon Petrus, seseorang yang sangat bersemangat dan sangat berani dan sangat vokal ketika Tuhan ditangkap di Getsemani. Simon Petruslah yang mencabut pedangnya untuk memotong kepala orang yang ingin mendekati Tuhan kita.   

Bagaimana dia memperoleh hal itu? Tiga kali dia bahkan menyangkal mengenal Tuhan. Dalam penyangkalan yang ketiga, Tuhan berpaling dan memandang Petrus, dan ayam berkokok. Dan dia mengingat perkataan Tuhan kita: Bahwa engkau akan menyangkal Aku sebanyak tiga kali. Alkitab berkata: “Simon Petrus keluar dan menangis dengan sedihnya.” Seseorang yang remuk. Sebuah hati yang patah. 

Saya membaca dalam Kitab Filipi pasal 3, Paulus sedang berbicara tentang dirinya sendiri, dan dia menyatakan: “Aku adalah seorang Ibrani asli, dari suku Benyamin, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi”—Dia menggunakan tiap-tiap suku kata dalam cara yang paling keras”—Berdasarkan semangat bagi umat Allah, menganiaya jemaat.” Kemudian, dia menambahkan: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang ku anggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu ku anggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Dia.” Betapa merupakan sebuah pernyataan yang luar biasa.   

Bagaimana dia mendapatkan hal itu? Di dalam surat 2 Korintus pasal dua belas, kita belajar bagaimana. Sang rasul menulis:

… Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku

Sebab itu kata rasul:

Aku senang—aku bersukacita…di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Seseorang yang patah.

Dan ini adalah teladan yang kita temukan di dalam Tuhan kita: PengorbananNya di atas salib, ditandai, didramatisasikan di dalam roti yang dipecahkan, dagingNya yang terkoyak dan hidupNya yang dicurahkan bagi kitta. Sebuah jantung yang pecah.

Apakah anda pernah membaca, di dalam pembelajaran anda, sebuah respon ilmiah kepada fenomena yang disampaikan oleh Rasul Yohanes bahwa dia melihat ketika Tuhan mati di atas salib? Seorang prajurit Roma mengambil sebuah tombak dan menikam jantungnya. Dan segera saja, kata Yohanes, mengalir keluar darah dan air.

Apakah anda pernah membaca sebuah penjelasan ilmiah tentang hal itu? Itu sangat sederhana. Yaitu seperti ini: bahwa seluruh jantung kita, setiap jantung, berdetak dalam sebuah kantung. Kantung itu disebut pericardium. Berdetak dalam sebuah kantung. Ada sebuah membran sekitar jantung anda, yang mengelilinginya. Dan Yesus mati dengan sebuah jantung yang pecah. Dan darah akan mengalir ke dalam kantung selaput jantung itu. Dan darah yang kental berpisah dengan serum yang jernih. Dan ketika prajurit Roma menikamkan tombak itu ke jantung Yesus, air yang jernih mengalir keluar: cairan darah putih. Dan gumpalan darah merah keluar dari pembuluh darah. 

Jadi, ilmuwan berkata bahwa secara literal, Tuhan kita mati dengan sebuah jantung yang pecah. Hal-hal yang patah. TeguranNya, celaan mereka, telah meremukkan jantungNya. 

Dan Tuhan kita adalah teladan kita. Dia adalah gambar dari kasih dan kesempurnaan kita. Menjadi sama seperti Dia adalah doa kita di dalam setiap area kehidupan kita: Untuk menjadi sama seperti Yesus. Dan, jika kita berdoa seperti itu, itu bermakna kita belajar tentang hidup kita yang diremukkan di dalam makna yang digambarkan, disajikan, didefinisikan oleh Dia.

Remuk dalam penyakit: Saya melihat hal itu sepanjang waktu. Setiap hari dalam hidup saya, saya tinggal di dalam sebuah jenis dunia seperti itu. Remuk di dalam penyakit.

Di dalam salah satu ibadah pagi ini, dua orang yang berbeda, hanya dalam satu ibadah, datang kepada saya saat saya berada di sana dan berkata, “Pendeta, maukah anda berdoa untuk saya? Dan maukah anda berdoa untuk keluarga saya? kami sedang remuk dalam penyakit. Patah di dalam rasa sakit.” 

Suatu ketika, saya mendengar tentang seorang gadis remaja, yang sakit selama hidupnya. Dan dia mendengar sebuah nyanyian himne: 

 

Aku mendengar suara Yesus berkata,

“Datanglah kepadaKu dan beristirahatlah

Letakkanlah semua kekhawatiranmu

Baringkanlah kepalamu di atas dadaKu.”

Aku datang kepada Yesus

Sebagaimana adanya aku

Letih dan Lesu serta penuh kesedihan

Aku menemukan di dalam Dia

Sebuah tempat yang nyaman

Dan Dia membuatku lega.

 

Dia berpaling kepada perawatnya dan berkata, “Suster, apakah anda mengenal Yesus? Apakah anda telah menemukan tempat peristirahatan dalam himne itu?” Dan perawat Kristen itu membawa gadis remaja yang patah kepada sebuah peristirahatan di dalam Yesus.

Saya tidak tahu, secara literal saya tidak tahu, bagaimana orang melakukannya di hadapan penyakit yang tragis dan tidak ada seorang pun yang berdoa, tidak ada seorang pun yang pergi, tidak ada pertolongan dari sorga. Saya tidak melihat bagaimana mereka menanggungnya, remuk di dalam penyakit, kadang-kadang remuk di dalam kedukaaan. 

Saya telah sampai kepada sebuah keyakinan bahwa beban yang terberat di dalam hidup bukanlah beban kematian atau beban penyakit. Beban yang terbesar di dalam hidup adalah beban rati hati yang patah: Hal-hal inilah yang meremukkan anda, yang tampaknya berasal dari ketika anda tidak dapat menemukan kekuatan untuk bangkit.

Suatu ketika saya mendengar tentang seorang pengkhotbah yang merupakan seorang pengkhotbah yang luar biasa. Dan pada suatu hari, ada dua orang yang sedang berbicara tentang dia. Dan salah satu dari mereka berkata, “Betapa dia merupakan seorang pengkhotbah yang hebat dan luar biasa.” 

Dan yang lain berkata, “Kapan terakhir kali anda mendengarkan dia?” 

Dan dia berkata, “Oh, sekitar lima tahun yang lalu.” 

dan yang satunya lagi menjawab, “Sudaraku, anda harus mendengar dia sekarang. Anda harus mendengar dia sekarang.” Dia adalah seseorang yang telah patah, seseorang yang telah remuk. Itu sama seperti Tuhan kita. 

Dan akhirnya, kepatahan membawa kita kepada Yesus di dalam kebutauhan pengampunan kita. Tidak seorang pun dari kita yang tidak mengetahui bahwa kita telah kehilangan kekudusan dan kemuliaan yang diharapkan oleh Allah. Kita semuanya sama. Salah satu persamaan umum di dalam kehidupan manusia adalah hal ini: “Bahwa kita semua telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dan kita tidak hanya mengetahuinya dari Alkitab sekalipun Alkitab menyebutkannya. Saya mengetahuinya dari pengalaman manusia. Kita semuanya mungkin bukanlah pembunuh. Kita semuanya mungkin bukan perampok bank. Kita semuanya mungkin bukan teroris. Tetapi kita semuanya telah berdosa di hadapan Allah. Kita semuanya mendiami natur yang telah jatuh ini. Dan jauh dari berkat. Itulah sebabnya  dalam kebutuhan pengampunan kita, kita datang kepada Tuhan yang penuh berkat. Itulah sebabnya mengapa Dia telah mati di atas kayu salib: Supaya kita menemukan anugerah penebusan di dalam Dia. 

 

Penyamun yang disisiNya, dib’ri anugerah

Dan aku yang penuh cela, dibasuh darahNya

Dibasuh darahNya, dibasuh darahNya

Dan aku yang penuh cela, dibasuh darahNya

 

Sejak kupandang salibMu, dengan iman teguh

Aku masyhurkan kasihMu, seumur hidupku

Seumur hidupku, seumur hidupku

Aku masyhurkan kasihmu, seumur hidupku.

 (Nyanyian Pujian No. 186, “Tercurah Darah Yang Kudus”)

 

“Pendeta, roti yang dipecahkan ini, biarkan saya berbagi dengan anda. Saya juga datang Kepada Yesus untuk pengampunan. Pendeta, cawan anggur ini, biarkan saya berbagi dengan anda. Saya membutuhkan anugerah yang penuh kasih dari Juruselamat yang mulia.” Itulah tujuan dari peringatan Perjamuan Tuhan. 

Di dalam salah satu gereja pedesaan saya, saya memiliki seorang pengajar Alkitab yang sangat baik yang tidak pernah berbagi di dalam Perjamuan Tuhan. Dan ketika saya berbicara dengannya, dia berkata, “Saya tidak layak. Saya tidak layak.”

Itu adalah kebalikan dari makna Perjamuan Tuhan. Itu karena saya adalah orang berdosa yang terhilang. Dan itu karena Yesus telah mati bagi saya dan Dia mengundang saya untuk bersekutu di dalam pemecahan roti itu dan anngur yang diremukkan itu. Jika saya sempurna dan tanpa dosa, maka itu tidak akan bermakna apa-apa bagi saya. Hal itu karena saya adalah orang berdosa yang terhilang, yang sedang menghadapi hukuman kematian, bahwa saya datang kepada Juruselamat yang mulia dan bawah lencana itu dan bentuk dramatis dari roti yang dipecahkan dan air anggur yang diperaskan, yang saya makan dan saya minum dari tanganNya yang mulia dan penuh pengampunan. 

Tuhan yang mulia, bagaimana isi dari hidup saya harus mengalir di dalam keajaiban dan kasih dan ucapan syukur dan pujian dan penyembahan di dalam Engkau.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.