MALAM KETIKA DIA DIKHIANATI

(THE NIGHT HE WAS BETRAYED)

 

Dr. W. A. Criswell 

03-04-77

1 Korintus 11:23

 

Tidak ada keistimewaan yang lebih tinggi yang dapat kami ketahui di dalam jemaat kami ini selain dari pada menyambut anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio KRLD, radio terbesar di Barat Daya, dan melalui radio KCBI, radio Bible Institut, FM, di kota Dallas ini. Jika anda memiliki permintaan doa, anda dapat menghubungi nomor ini di kota Dallas, yaitu, 742-3111.  Jika anda tinggal di Fort Worth, nomornya adalah 461-9761.  Di Dallas, 742-3111, dan di Fort Worth, 461-9761.  Jika ada sebuah beban di hati anda, dan jika anda ingin menghubungi kami, anda boleh melakukannya. Akan ada seorang pelayan injil di sana untuk menjawab panggilan anda dan untuk berdoa bersama dengan anda.

Sehubungan dengan Hari Minggu pertama bulan April, di mana kita akan melaksanakan Perjamuan Tuhan, saya telah memilih, dan semoga Tuhan menolong sana, supaya pada malam hari ini saya menyampaikan khotbah yang menjadi latar belakang mengapa Tuhan kita ditolak dengan sengit dan disalibkan dengan cepat. Dan teks yang akan menjadi latar belakang khotbah kita terdapat dalam 1 Korintus 11:23: “Pada malam waktu Ia diserahkan.” Dan saya akan membaca seluruh bagian itu bersama-sama ketika kita melaksanakan peringatan dari Perjamuan Tuhan.

“Pada malam waktu Ia diserahkan.” Bagi kita yang mengasihi Tuhan, hal itu melampaui imajinasi kita bahwa sebuah karakter yang sangat indah, yang sangat manis dan seorang pribadi yang lemah lembut, dan guru yang lembut, haruskah dihukum dan disalibkan dengan cepat dan tanpa ampun. Bagaimana mungkin hal seperti itu dapat terjadi?

Jika Allah menolong saya, saya berharap agar saya dapat melukiskan hal itu di dalam khotbah pada malam hari ini. Kita akan kembali dan mengikuti peristiwa-peristiwa, ketika Yesus tiba di bagian akhir pelayananNya selama tiga setengah tahun, Dia dengan setia mengarahkan wajahNya ke Yerusalem, mengumumkan kepada rasul-rasulNya bahwa Dia akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang berdosa dan akan disalibkan dan mati dan akan bangkit pada hari yang ketiga. Jadi, Dia pergi melalui Galilea, dan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang Yahudia, Dia menyeberang ke Perea, di bagian sisi Yordan, dan turun ke bawah menuju selatan.

Di dalam perjalanan melalui Perea, dia melewati pemimpin muda yang kaya. Dan ini adalah sesuatu yang harus kita ingat, yang bekerja dengan orang yang membutuhkan Tuhan. Tuhan tidak sukses sepanjang waktu. Dia juga tahu seperti apakah melihat seseorang yang berkata tidak dan pergi berlalu. Jadi, demikianlah dengan pemimpin muda yang kaya itu. Tuhan mengundang dia ke dalam hidup yang kekal. Tetapi dia menolak untuk membayar harga. Dia mengasihi dunia lebih dari pada dia mengasihi Tuhan, mengasihi kekayaan lebih dari pada dia mengasihi Kristus dan dia pergi.

Kemudian, Tuhan menyeberangi Yordan, tiba di Yerikho untuk menuju Yerusalem. Dan Di Yerikho kita memiliki kisah tentang penyembuhan orang buta, yang bernama Bartimeus, dan kemudian, Tuhan memanggil Zakheus untuk turun dari atas pohon dan mengumumkan bahwa Dia akan menumpang di rumah pemungut cukai itu. Dan duduk di sana di meja dengan pemungut cukai yang dipandang rendah, Tuhan mengumumkan kepadanya bahwa pada hari itu, keselamatan telah datang ke rumahnya. Dan, Zakheus berdiri sama tinggi dengan orang-orang yang bertubuh pendek, berkata, “Tuhan, pada hari ini, aku telah memberikan hatiku dan hidupku kepada iman, dan kepada Engkau. Dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat. Dan setengah bagian dari yang aku miliki, aku akan berikan di dalam pelayan bagi orang-orang yang membutuhkan.”

Itu merupakan sebuah hal yang indah, sehubungan dengan apa yang telah saya khotbahkan pada malam hari ini: sebuah kesaksian pribadi, Tuhan pergi ke pohon tertentu itu, memandang kepada wajah orang berdosa itu dan berkata kepada dia bahwa Dia akan pergi untuk menumpang di rumah orang itu dan memenangkannya secara pribadi untuk Tuhan.

Cara yang terbaik di dunia ini untuk memenangkan orang kepada Kristus adalah satu demi satu. Demikian juga dengan Tuhan di dalam kisah yang indah tentang zakheus di Yerikho. Dan kemudian, setelah meninggalkan Yerikho, Dia tiba di kota kecil yaitu Bethani, yang berlokasi di lereng Gunung Zaitun. 

Hari berikutnya, adalah hari Minggu, Tuhan kita memasuki Yerusalem, pada saat yang sama kita telah diberitahu oleh malaikat Gabriel, kepada Daniel, nabi bangsawan, di dalam Kitab Daniel pasal sembilan. Di dalam cara yang sama persis seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia, Tuhan Yesus datang dengan mengendarai  seekor keledai, masuk ke Yerusalem. Dan orang-orang, kumpulan orang banyak, sangat gembira dalam pujian mereka kepada Allah, di dalam kedatangan Mesias mereka yang telah dijanjikan. 

Ini adalah kisah yang terbesar dari pertemuan Allah dengan umat pilihanNya, Israel. Hari yang besar, yang penuh kemenangan dan kejayaan telah datang. Israel telah digambarkan dengan raja mesianiknya. Dan Dia datang seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi, dengan mengendarai seekor keledai untuk masuk ke dalam kota. Dan orang-orang mengambil daun-daun palem dan melambaikannya di depan Dia. Mereka bahkan mengambil pakaian mereka untuk dijalani oleh binatang beban itu. Dan anak-anak berseru memuji Allah. Orang banyak berhamburan ke dalam pujian tentang kasih dan peninggian: “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Hosana bagi Anak Daud, Hosana di tempat yang mahatinggi.”

Kemudian orang banyak itu sangat bersukacita. Mereka sangat bahagia. Mereka dipenuhi dengan pujian. Tetapi para pemimpin bangsa dan para professor dari sekolah rabi dan seluruh pemimpin Bait Allah dan di antara orang banyak, mereka merasa diserang oleh apa yang dilakukan oleh orang banyak. Dan mereka berkata kepada Tuhan, raja yang telah datang: “Suruhlah mereka diam.” 

Dan Tuhan berkata: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.”

Ini merupakan hari besar yang agung bagi Israel. Rajanya telah datang. Hari  berikutnya, Tuhan kembali lagi ke Yerusalem dari Bethani di mana Dia menghabiskan waktu sepanjang malam dari minggu Paskah itu, minggu yang sekarang sedang kita tinggali: Paskah.

Dan ketika Tuhan turun dari gunung dan masuk ke dalam Yerusalem, Dia melewati sebuah pohon ara. Dan karena Dia lapar, dan karena pohon itu telah berdaun lebat dan menunjukkan dirinya seakan ia berbuah banyak—Tuhan mendatangi pohon itu, tetapi mandul. Tidak ada buah dari di pohon itu. Akan tetapi, daun-daun dari pohon itu adalah sebuah tanda dari buah yang melimpah. Dan Tuhan mengutuk pohon ara itu. Pohon itu menjadi kering dan tandus.

Dan pohon ara selalu menjadi sebuah tanda dari Israel. Dan ketika Tuhan mengutuk pohon ara itu, karena kemandulannya dan tidak memiliki buah serta steril, itu merupakan sebuah perumpamaan, sebuah gambaran, sebuah kepentingan dari apa yang dilakukan dengan bangsa itu yang menolak raja mesias mereka.

Kemudian Tuhan masuk ke dalam kota Yerusalem dan membersihkan bait Allah. Hal ini, kembali lagi merupakan sebuah serangan bagi perintah pertama dan ketetapan tertinggi bagi para pemimpin Yahudi. Anda lihat, tidak ada sesuatu yang paling menguntungkan dari pada lalu lintas perdagangan di Bait Allah. Mereka membeli. Mereka menjual. Mereka menukar uang. Dan bagi orang-orang Saduki ini, dan bagi imam besar dan keluarganya dan sindikat kelompoknya di Bait Allah, hal itu membawa kekayaan yang sukar untuk diungkapkan. 

Dan ketika seseorang menyentuh buku saku dari seseorang, dia menyentuh saraf yang paling penting di dalam hidupnya. Dan ketika Tuhan mengusir semua pedagang dan pembeli dan penukar uang itu, Dia menyebabkan sebuah kepahitan yang sukar dilukiskan yang timbul di dalam hati orang yang menjalankan perdagangan di bait Allah dan mengahsilkan uang seperti  sebuah permen. Ada sebuah kepahitan yang timbul di dalam hati mereka yang sama dalamnya dengan kehidupan itu sendiri.

Pada saat itu, datanglah bangsa-bangsa lain—orang-orang Yunani yang berkata: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Dan hal itu membawa sebuah penglihatan tentang salib ke dalam hati Tuhan kita, yang di atasnya Dia akan segera mati: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”—pesan dari keselamatan, tidak hanya bagi Israel, tetapi seluruh dunia akan termasuk di dalam keluarga Allah, yang memadang Dia dengan iman.

Kemudian Tuhan kembali ke Bethani dan berada di sana semalam-amalaman. Hari berikutnya, yaitu hari Selasa, hari berikutnya hari yang luar biasa dan konfrontasi yang keras antara Mesias Raja, Tuhan Yesus, dan pemimpin-pemimpin Bait Allah, imam-imam, dan semua orang yang dipuja sebagai pemimpin di antara orang Yahudi. 

Yang pertama dari semua adalah Sanhedrin. Ketika Tuhan muncul di Bait Allah, hari berikutnya, pada hari Selasa, Dia disapa oleh Sanhedrin. Dan mereka datang kepadaNya dan bertanya: “Dengan kuasa manakah Engklau melakukan hal-hal ini?”

Itu merupakan sebuah pertanyaan yang baik. Di sini ada seseorang, dengan aurora yang sederhana yang terlihat di dalam kepribadianNya, yang dapat membersihkan 26 akre dari Bait Allah. Dan mereka tidak berani menangkapNya, karena orang banyak itu.

Pasti ada sesuatu tentang Tuhan yang melampaui dari apa yang perbah diperkenalkan kepada kita. Apa yang dapat terjadi di hadapan kepribadian Anak Allah? Ketika orang mencela mujijat-mujijat dari Tuhan, hal itu karena mereka tidak menyadari apa yang mungkin di hadapan Allah. Sebagai contoh, ketika mereka berusaha intuk mendorongnya dari atas tebing di Nasaret, Alkitab berkata bahwa Tuhan berjalan di tengah-tengah mereka. 

Ada sebuah kegaungan dan sebuah kemuliaan tentang Yesus yang tidak kita ketahui atau yang dapat kita masuki, dan tidak pernah melihatNya. Itu yang terjadi ketika Dia membersihkan Bait Allah. Mengapa mereka tidak menangkapNya? Mengapa petugas Bait Allah tidak menangkap Dia dan memasukkan Dia ke dalam penjara atau kurungan?

Hal itu karena kasih orang kepadaNya dan karena sesuatu yang tidak terukur yang menemani kepribadian Anak Allah. Tuhan Allah sendiri berkata:  “Engkau tidak berkuasa atas itu kecuali hal itu berada di dalam tujuan dan rencana Allah bahwa Aku harus mati bagi bangsa dan bagi dunia.” Jadi dalam konfrontasi yang pertama, anggota Sanhedrin datang kepada Tuhan Yesus dan mereka berkata: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?

Dan Tuhan membalas—dan anda akan mengikuti beberapa dialektik yang luar biasa yang pernah diperkenalkan ke dalam hidup anda. Bagaimana Anak Allah dapat berbicara! Dan Tuhan membalas: “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?"  

Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi."

Dan, kemudian Sanhedrin berkata kepada Tuhan: “Kami tidak tahu.  Kami tidak dapat menjawab Engkau.”

Dan Tuhan berkata: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Brilian! Kemudian konfrontasi yang kedua terjadi di bait Allah. Orang Herodian dan orang Farisi saling membenci satu sama lain. Orang Herodian membenci orang Farisi dan orang Farisi membenci orang Herodian.

Jadi, orang Herodian dan orang Farisi memiliki sebuah perangkap. Perangkap yang hebat. Hal itu sangat brilian seperti Iblis sendiri yang berkata: Aku adalah raja dari seluruh dunia ini dan kemuliaannya adalah milikku.”

Mereka memiliki sebuah perangkap. Tidak ada cara lain di dunia dalam memperoleh hal itu. Anda lihat, hal itu dibingkai seperti ini. Orang Yahudi membenci orang Roma. Mereka adalah umat pilihan Allah, tetapi mereka diperbudak oleh Roma. Dan Roma menanggungkan pajak yang sangat berat atas mereka. Dan mereka membenci Roma.

Lalu mereka mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah diperbolehkan untuk membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Betapa merupakan sebuah pertanyaan yang tanpa dosa! Hal itu telah diperdebatkan selama bertahun-tahun; Apakah benar untuk memberikan penghormatan kepada Kaisar?

Jika Tuhan menjawab ya, orang-orang akan membencinya, melempari Dia dengan batu, sebab mereka sakit hati dengan penindasan di bawah kuk perbudakan Roma. Tetapi jika Dia berkata tidak boleh memberikan penghormatan kepada kaisar, maka Dia akan bersalah sebagai seorang pemberontak. Dan mereka dapat mendakwa Dia di hadapan  wali negeri Roma dan segera saja Dia ditangkap karena pengkhianatan.

Pengkhianatan: Anda tidak dapat lepas dari perangkap yang seperti itu.

Betapa merupakan sebuah rencana yang sederhana dan pertanyaan yang penuh bahaya. Jadi mereka datang kepada Tuhan Yesus dan berkata: “Apakah kami diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?  Apa yang Engkau sampaikan?

Dan Tuhan berkata: “Tunjukkan kepadaku uang yang berlaku di negeri ini.” 

Dan mereka membawakan kepadanya satu keping mata uang. Dan Ia memegang satu dinar di tanganNya, dan Dia berkata: “Gambar dan tulisan siapakah ada padanya?"

Dan mereka berkata: “Kaisar.”

Dan Dia membalas: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”  Itu merupakan sebuah jawaban yang menakjubkan.

Tetapi mereka tidak selesai di dalam hari konfrontasi ini. Orang Saduki datang maju ke depan, untuk mentertawakanNya: “Engkau percaya tentang kebangkitan? Huh? Engkau percaya tentang kebangkitan dari kematian? Huh? Dan Engkau percaya tentang sebuah kehidupan yang akan datang? Huh?  “Kalau begitu, biar kami menanyakan sesuatu kepadaMu: Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.”  Sekarang, kata orang Saduki—dan mereka menyampaikan sebuah kisah lama yang sudah basi yang telah mereka tertawakan selama bertahun-tahun dari keberadaan mereka: “Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,  dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati.  Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.  Ha, ha, ha, ha.”

Mereka telah mencemooh dan membinasakan orang-orang yang percaya tentang kebangkitan selama berabad-abad dengan kisah basi yang sudah lama itu.  Ha, ha, ha.  Teman, kita telah menyudutkanNya. Mari kita mendengar jawabanNya sekarang.

Dan Tuhan berkata: “Pada hari kebangkitan kita akan menjadi sama seperti malaikat—(seperti Gabriel, seperti Mikhael, seperti Allah)—Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Allah bukanlah Allah dari debu tanah dan orang mati, serta kuburan. Allah adalah Allah orang hidup. Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, dari orang-orang hidup.”

Biarkan saya menunjukkan sesuatu kepada anda di sana, berbicara tentang ketidasalahan dan isnpirasi Kitab Suci. Di dalam jawaban Tuhan kita, Dia sedang mendasarkan seluruh doktrin tentang kebangkitan dari kematian atas tenses dari sebuah kata kerja: “Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, Allah dari orang-orang yang hidup.”  Lalu, di dalam konfrontasi itu, Tuhan telah membungkam orang-orang Saduki itu yang tidak percaya kebangkitan. Orang-orang Farisi datang menemui Dia dan dalam sebuah cara untuk menjebak Dia kembali, salah satu ahli Taurat berdiri dan menanyakan sebuah pertanyaan yang telah mereka perdebatkan selama bertahun-tahun, dia bertanya: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 

Ini adalah sesuatu yang saya pelajari dari Tuhan untuk kita semua: Ada perbedaan di dalam hukum-hukum itu. Beberapa hukum lebih berat dari yang lainnya. Beberapa lebih vital dari yang lainnya. Beberapa lebih signifikan dari yang lainnya. Beberapa lebih penting dari yang lainnya.

Dan Tuhan menjawab: “Ada sebuah perintah yang paling utama di dalam hukum. Itu adalah—dan Dia mengutip shema, dari Kitab Ulangan pasal enam: Dengar—dengarlah, shema—Dengarlah hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Dan engkau harus menyembah Tuhan Allahmu”—bukan banyak dewa, hanya satu, satu Yehova, Yesus Allah—

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

 Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia sama seperti dirimu sendiri.

Dan ahli Taurat itu melihat ke arah Yesus: “Guru, jawabanMu sangat baik. Untuk mengasihi Tuhan Allah adalah perintah Tuhan yang paling utama. Dan untuk mengasihi sesama, untuk mengasihi orang lain, adalah sama seperti itu.

Betapa merupakan sebuah hari yang padat. Dan hari itu ditutup dengan kecaman Tuhan terhadap kuburan yang dikapur putih itu. Dan di dalam tangisan dan air mata, anda membaca Kitab Matius pasal dua puluh tiga, yang merupakan akhir dari konfrontasi itu, dan kecaman yang menyakitkan hati serta penghakiman dari Tuhan. Dan hari itu ditutup dengan kalimat ini: “Yerusalem, Yerusalem, berkali-kali aku rindu mengumpulkan engkau, tetapi engkau tidak mau. Lihatlah, rumahmu akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” 

Dan sebagaimana Tuhan berlalu, hal terakhir dalam pelayananNya di hadapan umum, Dia mengamati orang-orang yang memberikan persembahan mereka, dan melihat seorang janda yang miskin yang memasukkan semua yang dia miliki. Dan Dia berkata: “Dia memberi lebih dari mereka semua, karena mereka memberi dalam dari kelimpahan mereka, tetapi janda ini memberi seluruh nafkahnya.”

Lalu, hari terakhir di dalam hidupNya: saat pergi meninggalkan kota itu untuk terakhir kalinya, mereka menunjukkan kepadaNya bangunan-bangunan Bait Allah. Dan kemudian berjalan ke Bukit Zaitun dan duduk di atasnya dan memberikan diskusi yang luar biasa itu, yaitu diskusi tentang akhir zaman: “Guru, Engkau berkata bahwa batu-batu itu akan dihancurkan—Bait Allah ini akan diruntuhkan? Kapankah itu terjadi? Dan apakah tanda-tanda kedatanganMu?”—di dalam amanat dari wahyuNya tentang akhir zaman, dalam Matius 24 dan 25.

Malam itu, Ia menjadi tamu di rumah Simon si kusta. Dan Maria mengurapiNya dengan minyak, dengan minyak narwastu. Dibutuhkan waktu satu tahun bekerja bagi seseorang untuk dapat membeli minyak wangi itu. Dan ketika Maria mengurapi Yesus, Yudas Iskariot, karena dia seorang pencuri, Yohanes berkata, bahwa dia adalah seorang bendahara, Yudas Iskariot berkata: “Lihatlah pemborosan ini. Lihatlah pemborosan ini. Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"”—karena itu berada di dalam tangannya, bahwa dia yang memegang kas—seandainya hal itu dijual dan uangnya diberikan kepadanya. Dan Tuhan berkata: “Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.”

Dan Yudas, tersengat oleh teguran itu dan melihat konfrontasi pada hari itu dan membuat dia menghilang, segera saja dia pergi untuk menemui imam besar dan membuat tawar menawar untuk mengkhianati Tuhan Yesus.

Dan pada hari Kamis, Dia mengutus Petrus dan Yohanes untuk mengatur makan Paskah di ruangan atas. Dan ketika murid-murid datang ke makan Paskah itu, untuk menunjukkan kepada anda betapa manusiawi dan kita semua memiliki sifat kedagingan, mereka mulai berdebat tentang siapakah yang terbesar di dalam Kerajaan: Siapa yang akan duduk di sebelah kananNya dan siapa yang akan duduk di sebelah kiriNya. Dan kemudian Yesus menanggalkan jubahNya, yang merupakan hal yang penuh kerendahan hati yang dapat dilakukan oleh seseorang, dan Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain, dan berkata: Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” Membasuh kaki, kerendahan hati.

Dan, kemudian, ketika mereka makan Paskah, Dia ditanya—Simon Petrus berkata kepada Yohanes: “Yohanes, tanyalah dia, siapakah yang akan mengkhinatiNya?” 

Dan Tuhan membalas: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah aku mencelupkannya.”—roti yang dicelupkan ke dalam kuah daging Anak Domba—dan menyerahkannya kepada Yudas Iskariot. Dan segera saja Yudas pergi keluar dan mengatur untuk pengkhianatan yang di lakukan kepadaNya pada malam itu.

Dan setelah dia pergi, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Lakukanlah ini, setiap kali kamu makan dan setiap kali kamu minum untuk mengingat akan Aku, hingga Aku datang kembali.

Oh, Juruselamat yang mulia. Bagaimana manusia memperlakukan Engkau! Dan menolak Engkau, meludahi Engkau, menarik jenggotMu, mengejek Engkau, menyalibkan Engkau. Tetapi, Tuhan bangkit dari kematian, setekah mati untuk dosa-dosa kita, kami mengasihi Engkau dan mempersembahkan kepadaMu bukti dari tangan kami dan dari hidup kami. Ini adalah malam waktu Ia dikhianati.   

Kita akan menyanyikan himne seruan kita sesaat lagi. Dan ketika kita menyanyikannya, sebauh keluarga, sebuah pasangan, atau hanya seseorang dari anda yang ingin menyerahkan dirinya kepada Tuhan atau untuk datang ke dalam persekutuan jemaat ini—ketika kita menyanyikan himne seruan ini, maukah anda melakukannya sekarang? Datanglah sekarang. Di baris yang pertama dari bait yang pertama, datanglah. Buatlah keputusan di dalam hati anda.

Dan, ketika anda berdiri untuk bernyanyi, turunlah melalui salah satu tangga itu atau datang menelusuri lorong bangku ini. Saya akan berada di samping meja perjamuan kita. Marilah dan lihatlah. “Pendeta, malam ini, saya membuat keputusan untuk Kristus dan saya datang. Saya memberikan tangan ini kepada anda. Saya telah menyerahkan hati saya kepada Allah dan inilah saya.”

Lakukanlah sekarang. Buatlah keputusan itu sekarang, saat kita berdiri dan saat kita bernyanyi.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.