BERKHOTBAH  (MENGAJAR)

[PREACHING (LECTURE)]

 

Dr. W. A. Criswell

 

1 Korintus 1:21

 

10-09-97

 

 

Saya telah memilih sebuah teks untuk khotbah—untuk pelajaran hari ini. 1 Korintus 1:21: “…Maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.”

“Oleh kebodohan”—moria—dan salah satu bentuk dari substansif itu adalah “moron.”  Dan “moron” merujuk kepada suatu kebodohan dan seseorang yang bodoh. Itulah yang telah dipilih oleh Allah untuk mempertobatkan dunia: pengkhotbah yang dungu dan bodoh dalam pandangan dunia.

Jadi hal itu tidak merujuk kepada subyek tetapi kepada metode: berkhotbah. Allah dapat memilih seorang malaikat dari surga untuk pergi ke dunia ini dan menghadirkan pesan dari Tuhan Yesus. Dia dapat menampilkan sebuah demonstrasi di langit untuk meyakinkan kita tentang pelayanan Tuhan kita yang luar biasa. Atau dia dapat memiliki sebuah jurang yang bernyala-nyala dan mengayunkan orang-orang yang tidak percaya di atas api itu. Tetapi malahan sebaliknya, Alkitab berkata bahwa Allah telah memilih pengkhotbah untuk menyelamatkan orang-orang yang terhilang.

Hal pertama yang akan kita diskusikan adalah tempat bagi pengkhotbah.  Merupakan sesuatu yang sangat melimpah ketika kita menyadari bahwa Allah hanya memiliki satu Putra dan membuat Dia menjadi seorang pengkhotbah.

Tragisnya, kita telah kehilangan pelayanan biblika dan pelayan ekspositori kita. Kita meninggikan penyembahan tetapi bukan khotbah. Ada seminar-seminar dan pelajaran-pelajaran tentang drama, tentang tarian dan penggunaan audio visual. Tetapi dengan pengecualian yang hebat, kita tidak melatih orang-orang untuk berkhotbah. Kita menciptakan sebuah atmosfer di mana khotbah hampir tidak dikembangkan.

Di dalam bukunya, Preaching and Preachers, Dr. Martyn Lloyd-Jones memperdengarkan  sebuah panggilan yang nyaring. Dia menulis: “Secara pokok, bagi saya, berkhotbah merupakan panggilan yang terhebat dan termulia serta hal yang terbesar bagi setiap orang yang pernah dipanggil. Di dalam hubungannya dengan hal itu, saya sampaikan bahwa kebutuhan utama di dalam jemaat Kristen adalah khotbah yang benar.” Dan itulah sebabnya mengapa anda di sini, di kelas ini.

Khotbah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalam setiap hati dan pikiran manusia: Mengapa saya di sini? Apakah nilai-nilai tertinggi di dalam hidup ini? Apa yang dapat saya lakukan? Bagaimana hubungan saya dengan orang lain? Apakah alam semesta? Bagaimanakah ia diciptakan dan mengapa? Jika saya mengetahui bahwa saya telah berdosa, bagaimana saya dapat menemukan kedamaian dan kebenaran? Siapa dan apa dan dimanakah Allah? Apakah tugas saya dihadapanNya? Apakah  maksudnya untuk menjadi harmonis dengan Tuhan Allah? Apakah yang menanti saya setelah kematian? Siapakah sebenarnya Yesus? Dan bagaimanakah seharusnya hubungan saya dengan Dia?  

Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan sebuah bagian dari sifat manusia. Dan bagi pengkhotbah, untuk berdiri di mimbar sana dan membawa jawaban-jawaban kepada pertanyaan-pertnyaan itu merupakan sebuah panggilan utama dari sorga itu sendiri.

Lalu, pendeta harus lebih cakap  dari koran Senin, lebih menarik dari pada sebuah pertandingan baseball, lebih atraktif dibandingkan dengan filem-filem, memiliki informasi yang lebih baik dibandingkan dengan buku yang terakhir, lebih menarik dan lebih memikat dari pada jendela toko obat yang dipenuhi dengan berbagai jenis aroma yang memikat. Saya katakan, anda memiliki sebuah panggilan di depannya.

Lalu, kita akan berbicara tentang pengkhotbah.  Hari ini, pengkhotbah menghadapi sebuah zaman dan menghadapi sebuah zaman yang menyerap materi kesenangan yang  lebih banyak dan peralatan mekanik yang lebih banyak dibandingkan dengan setiap generasi sebelumnya. Terperangkap di dalam minat terhadap  radio, kemewahan dalam dunia tanpa akhir, orang-orang terperangkap dalam :mencapai kekayaan dengan cepat,” dan  mereka memiliki sebuah prasangka terhadap agama. Mereka pikir iman sebagai oposisi bagi ilmu pengetahuan dan mereka memikirkan Alkitab sebagai sebuah koleksi dari takhyul dan legenda yang sukar untuk dipercayai.

Sesungguhnya, adalah benar bahwa pengkhotbah berhubungan dengan kehidupan yang pertama dan dia berhubungan secara langsung dengan jiwa manusia. Khotbah yang hebat lebih dari pada pertunjukan atau informasi, bahkan keadaan fisik yang baik, sebab hal itu mempertemukan seseorang kepada tujuan yang paling utama di dalam kehidupan batinnya.

Khotbah yang hebat selalu lahir dari sebuah keyakinan yang hebat tentang Allah. Khotbah yang hebat selalu membara dengan Tuhan yang hidup, yang pastinya berasal dari pembacaan Firman yang diisnpirasikan. Injil Kristus kembali kepada kita dan kita melihat orang Galilea yang hebat sama seperti Petrus dan Andreas telah melihatNya. Kita mengenalNya hari ini sebagai seseorang di mana “Belum pernah seorang manusia berkata-kata seperti Dia.”

Bishop Sanders dari Alabama, menulis tentang pentingnya untuk meningkatkan kuliatas dari prioritas khotbah menulis: “Di dalam tugas pendeta yang banyak, identitasnya sebagai seorang pengkhotbah dan prioritas kkhotbah mungkin hilang. Kualitas khotbah mungkin kering. Displin diperlukan untuk khotbah dan kepercayaan di dalam kemanjuran khotbah mungkin lenyap, sebagaimana kepentingan lain tampak terlihat untuk ditebus.”

“Sejarah membuktikan, bagaimanapun, bahwa gereja dapat bertahan tanpa liturgi, tanpa bangunan, tanpa paduan suara, tanpa sekolah Minggu, tanpa petugas gereja yang professional, tanpa kredo, bahkan tanpa asosiasi wanita. Tetapi gereja tidak dapat bertahan tanpa pemberitaan Firman.

“Khotbah memiliki kuasa yang lebih dari hal-hal lain yang dimiliki oleh gereja. Lebih dari pada itu, khotbah menjangkau orang lebih banyak dari pada segala sesuatu yang lain yang dapat dilakukan oleh pengkhotbah, apakah itu mengajar, mengunjungi, mengatur  sesuatu atau konseling. Waktunya telah datang untuk memperbaharui khotbah ke dalam tempatnya yang benar dan posisi yang paling dasar di dalam pekerjaan pelayanan.

“Di dalam khotbah ada kuasa, kuasa dari Roh, kuasa dari Firman. Ketika Firman diberitakan, Roh bekerja di dalam hati dan pikiran para pendengar.

“Bangkitlah, hai manusia Allah dan berkhotbahlah! Ada sesuatu untuk dikhotbahkan, tentang menempatkan jiwa manusia di dalam api; jika anda melacak melalui hal itu, itu adalah administrasi dari kebenaran Allah di dalam FirmanNya yang kudus, Alkitab yang hidup. Dan hal itu telah mengkonfrontasikan umat manusia pada masa  St. Francis, John Bunyan, Bapa-Bapa Pengembara, Abraham Lincoln, Gandhi dan banyak orang lainnya.

“Betapa merupakan sebuah keistimewaan dan sebuah tanggungjawab untuk menjadi seorang pengkhotbah! Pengkhotbah harus sadar akan tanggungjawab yang besar ini.”

Lalu, saya telah menulis di bawah sini, karakteristik dari seorang pengkhotbah yang baik. Hal pertama yang saya tulis di sini adalah kerendahan hati. Pengkhotbah yang sejati harus selalu memberikan bukti dari kerendahan hati.

Dengan mengutip Barclay: “Ia bukanlah seseorang yang mendekati sebuah tugas dengan sebuah getaran, yang mengerjakannya dengan baik. Adalah aktor yang ditempa dalam sebuah pertunjukan. Adalah seorang pengkhotbah yang jantungnya berdebar lebih kencang ketika dia menunggu untuk berbicara. Orang yang tidak menunjukkan tegangan di hadapan sebuah tugas yang memberikan sebuah tugas yang efektif  dan kompeten. Tetapi itu adalah seseorang yang memiliki intensitas dari ketertarikan yang mampu untuk menghasilkan kebenaran yang agung, yang tidak pernah dihasilkan oleh kompetensi.”

Dan jika saya dapat mengambil sebuah lembaran dari hidup saya sendiri: tidak kapan atau di mana, saya memiliki sebuah tugas untuk berkhotbah, saya secara sungguh-sungguh diliputi oleh ketakutan dan ketertarikan dan permohonan kepada Allah untuk menolong saya dan menjaga saya. Dan saya tidak peduli bagaimana saya bergumul terhadap hal itu, sebab selama 71 tahun saya telah menjadi pengkhotbah, saya tidak pernah beranjak dari rasa gentar itu sebelum saya berdiri untuk berbicara.

Di dalam hubungan ini, kita harus mengingat perkataan Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus: “Sebab itu terlebih aku suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9). Paulus mengerti bahwa ketika dia lemah dia dapat menjadi kuat. Karena itu, saya sampaikan bahwa karakteristik yang pertama dari seorang pengkhotbah yang baik adalah kerendahan hati.

Karakteristik yang kedua adalah kesederhaan. Kesederhanaan, tentu saja, merupakan karakteristik dari khotbah Juruselamat kita. Anda dapat membacanya melalui khotbah-khotbahNya di dalam Injil-Injil dan anda akan terkesan atas kesederhanaan dan kelangsungan bahasaNya.

Tidak heran Paulus memperingatkan pembacanya bahwa melalui kecerdikan, Iblis dapat merusak pikiran mereka dari kesederhanaan yang berada di dalam Kristus. Hal itu terdapat dalam 2 Korintus 11:3.  Saya tidak tahu kata-kata lainnya yang menjadi karakteristik Juruselamat kita: “kesederhanaan yang berada di dalam Kristus.”  

Kemudian karakteristik dari pengkhotbah yang luar biasa adalah kehadiran dan kuasa dari Roh Kudus. Rahasia dari kerendahan hatinya dan kesederhanaannya dan otoritasnya adalah: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu”—Kisah Rasul 1:8.  Ini adalah pengurapan Roh Kudus. Itu lebih dari pemenuhan, sebuah pengurapan yang memberikan kemampuan untuk menghargai, dan mengasihi firman Allah.

Hari ini, bahaya kita adalah berkhotbah atas kepala orang-orang. Ahli filsafat memiliki sebuah jargon dari miliknya sendiri. Dan ilmuwan fisika memiliki jargon dari miliknya sendiri. Akhirnya pengkhotbah memiliki sebuah merek dari dirinya sendiri.

Jika Allah yang memenangkan khotbah, maka ia harus disampaikan di dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang-orang dan perkataannya didiktekan oleh Roh Kudus. Hal ini ditunjukkan dalam pernyataan Rasul Paulus, di mana dia berkata dalan 1 Korintus 2:13: 

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.

Paulus melanjutkan:  

Baik perkataanku maupun pemberitaanku berada di dalam demonstrasi dari Roh dan kuasa.

            Kata “demostrasi” hanya digunakan sekali di sini. Hal itu secara literal menunjukkan “sebuah pertunjukan” dan memiliki kuasa yang meyakinkan yang dibawa oleh Roh Kudus. Betapa merupakan sebuah demonstrasi yang luar biasa dari otoritas Kristus!

            Di dalam Kitab Suci, selalu ada keseimbangan antara Firman dan Roh. Dimulai dari Kejadian pasal satu mereka dikerjakan bersamaan ketika Allah berfirman dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

            Kita harus benar terhadap Firman dan kemudian Roh akan membawa pulang pesanNya di dalam kehidupan individu. Itu sama dengan momen yang ada dalam Perjanjian Lama ketika Elia berhadapan dengan nabi-nabi palsu. Setelah dia menyiapkan  segala sesuatu yang diperlukan, dan setelah berdoa, api turun dari langit.  Membuat segala sesuatu yang dipersiapkan.

Hanya Allah yang dapat membawa api. Hanya kita yang dapat melakukan persiapan. Sebuah persiapan yang sakit tidak dapat mengharapkan api akan jatuh. Dan sebuah khotbah yang telah dipersiapkan dengan pembelajaran tanpa doa mungkin indah dan fasih tetapi mati. 

Lalu Paulus memberikan dorongan kepada Timotius, dengan sebuah tantangan: “Beritakanlah firman”—2 Timotius 4:2.  Perintah yang menyarankan sebuah komitmen yang pasti. Itu harus menjadi sebuah pelayanan yang berkelanjutan. Dia harus membuat hal itu sebagai pekerjaan yang berkelanjutan di dalam hidupnya.

Itu adalah salah satu kebutuhan utama pada hari ini. Tidak ada yang dapat menggantikan untuk pemberitaan yang dinamis dari kebenaran.

Pendeta harus merupakan seorang siswa yang sungguh-sungguh dalam mempelajari Firman Allah. Pelajarilah Firman! Pengkhotbah yang hebat, Lionel Abbott, tidak pernah mengunjungi sebuah seminari—nabi terkemuka, juga pengajar dan pengkhotbah yang hebat, di dalam merencanakan ibadah Minggu, hal pertama yang disampaikan adalah: memikirkan khotbah.

Perjanjian Lama, sama baiknya dengan yang baru, yang telah diterima tanpa salah, dan yang diinspirasikan, yang telah diterima oleh Yesus, oleh Augustinus, oleh Athanasius, oleh Tyndale, oleh Wycliff, oleh Hus, oleh Aquinas, oleh Luther, oleh Kalvin, oleh Knox, oleh Newton, oleh Tasker, oleh Wesley, oleh Spurgeon dan oleh banyak orang lainnya selama berabad-abad. Anda tidak perlu merasa bahwa anda berada di luar sana—yang bodoh dan tanpa pemahaman—ketika anda berdiri di  mimbar sana dan memberitakan Firman Tuhan yang tiada salah. Dan Roh Allah akan bekerja bersama dengan anda. 

Kemudian, saya memiliki sebuah perkataan di sini tentang pangggilan pengkhotbah. Pengkhotbah dipanggil untuk menjadi seorang ekspositor firman Allah yang hebat. Di sana, janji yang luar biasa dari Kitab Suci akan ditempatkan dalam konteks.

Kita harus membangun di atas batu karang Firman Allah, karena dasar yang lain akan runtuh. Dan pusat dari seluruh penyembahan seharusnya menjadi pengajaran dan bernuansa Firman Tuhan, yang mana tapa hal itu maka ibadah cendrung menjadi sebuah pengulangan..

Hal lainnya berkaitan dengan kehadiran yang vital dari isinya. Apa yang menjadi bagian yang paling dasar di dalam khotbah adalah isinya. Inilah yang disebut Paulus dengan “kekayaan Kristus yang tidak terduga” di dalam Efesus  3:8. 

Itu adalah sebuah ayat yang memiliki makna yang banyak bagi saya secara pribadi, Paulus menyebut dirinya sendiri dan pengkhotbah lain pada abad pertama sebagai “para pelayan dari rahasia Allah”—1 Korintus 4:1. Dia melihat dirinya sendiri sebagai seseorang yang dipercayakan dengan sebuah deposit kebenaran, yang mana dia harus membagikannya bagi orang lain.

Kita ulangi: apa yang menjadi esensi dari khotbah, di atas semuanya adalah isinya, yang disebut Paulus dengan “kekayaan Kristus yang tidak terduga” di dalam Efesus 4:8. Di dalam 1 Korintus 4:1, Paulus berkata kita adalah “para pelayan dari rahasia Allah.” Pemgkhotbah adalah seseorang yang dipercayakan dengan sebuah deposito yang menakjubkan.

Kekaisaran Roma dikuburkan dalam kejahatan dan hal itu berganda di dalam kota-kotanya. Bagaimana Paulus dapat menjangkaunya? Bagaimana dia dapat mengubahnya? Hal itu tampaknya mustahil dan tidak dapat disangkal. 

Tetapi kemudian Paulus mengingat perkataan yang dia sampaikan, karakteristik injil di dalam 1 Korintus 2:4.  Anda tidak perlu takut atau merasa terhukum ketika anda berdiri untuk berkhotbah kepada generasi ini. Kuasa dari firman Allah adalah milik anda.

Ada tanda-tanda dari sebuah khotbah yang baik. Ia harus memiliki isi, ia harus memiliki sebuah pesan. Ia harus memiliki varitas. Ia harus memiliki sebuah teks. Ia harus memiliki sebuah pengantar yang baik. Ia harus memiliki sebuah garis besar logika. Ia harus imajinatif. Ia harus definit dan konkret. Ia harus rohani.

Itu merupakan sebuah hal yang luar biasa jika ia singkat. Tetapi ia juga jangan terlalu singkat. Khotbah harus membuat orang-orang sadar tentang Allah. Pengkhotbah harus membuat Allah nyata bagi orang-orang.

Khotbah ekspositori memperoleh isinya dari Kitab Suci itu sendiri. Mereka meminjam struktur mereka dan daya dorong dari sebuah bagian tertentu dan menerjemahkannya secara langsung dan kepentingan dengan kehidupan yang kontemporer.

Kebanyakan khotbah kekurangan isi biblika, menyebabkan mereka yang berada di barisan bangku tenggelam dalam kata-kata, sementara mereka kekurangan isi. Seorang professor di Calvin Seminary menempatkannya dengan sangat baik: “Pengkhotbah yang membolak-balikkan Alkitabnya untuk menggantungkan khotbahnya seringkali bersalah dalam mengabaikan Firman Allah. Hal ini seringkali dihasilkan oleh sikap yang remeh dari khotbah kita.” 

Saya tidak pernah melupakan pentahbisan saya dan Alkitab yang saya terima sebagai sebuah tanda dari otoritas di mana saya beroperasi dibawahnya. “Beritakanlah firman,” Paulus berkata dalam 2 Timotius 4:2.  Mengapa seorang pelayan akan berpaling dari hal itu, saya tidak tahu. Buatlah dasar khotbah itu dari hal itu. Dan berikan diri anda ke dalam eksposisinya—maknanya,  ketetapannya. Di dalam uraian dari apa yang harus anda sampaikan dan lakukan, dan tidak ada apapun yang dapat dibandingkan untuk memiliki dasar itu yang di atasnya anda berdiri ketika anda berkhotbah: yaitu, Firman Allah.

Sekarang saya berbicara tentang kebiasaan mimbar. Jika subjek materi sangat penting, demikian juga dengan kebiasaan mimbar. Martyn Lloyd-Jones menyatakan, “Seorang pengkhotbah yang membosankan adalah sebuah kontradiksi di dalam syarat-syarat,” tambahan dari hal itu, dalam sebuah kesempatan, dia menyaksikan seorang pengkhotbah sedang berbicara tentang Allah seolah-olah dia sedang duduk di atas sebuah lapisan gunung es.

Pengkhotbah harus mengetahui secara menyeluruh materi pokok yang dia percayai, yang dia percayai dalam tujuannya dan merasakannya dengan bebas. Yang digenggam oleh pesannya, dan dia diangkut oleh hal itu. Tinggal di dalamnya, dia tertawan olehnya, dengan sebuah penyerahan diri tanpa sadar—dari pikiran, roh, emosi dan tubuh—untuk memaksa kebenaran yang dia beritakan. 

Khotbah bukanlah tempat untuk gunung es yang terapung. Jadi, kebiasaan pengkhotbah memiliki peranan yang banyak dengan bukti kuasa atau ketidakhadiran dari hal itu. Oh, untuk mengetahui kuasa Roh, yang membawa besertanya kerendahan hati, kesederhanaan dan otoritas saat dia berkhotbah. Sebab pengkhotbah yang berdiri di atas mimbar dan mati, bagi saya merupakan sesuatu yang sukar untuk dibayangkan. Menjadi hiduplah!  

Saya sering berkata di dalam pembicaraan dengan para pengkhotbah, jika anda ingin mengepal tinju anda, kepallah. Jika anda ingin memukul mimbar, pukullah. Jika anda ingin menghentakkan panggung dengan kuat, hentakkanlah. Jika anda ingin berlutut—jika anda ingin mengangkat tangan anda—jika anda ingin berjalan kepada jemaat, jangan ragu-ragu. Menjadi hiduplah di sana dan bergerak! Saya dapat memberitahukan anda, jika anda ingin melakukan hal itu, hal itu akan menambah kuasa dan kekuatan bagi khotbah anda.

Saya berbicara tentang efek dan pertolongan bagi orang banyak. Orang banyak—jemaat—memiliki sebuah efek psikologis atas seorang pembicara. Dengan mengabaikan jumlah pembelajaran dan persiapan, setiap pengkhotbah terbiasa dengan inspirasi yang cepat yang  menempatkan dia dengan bernyala-nyala ketika dia berada di atas mimbar. Pikirannya tiba-tiba bekerja seperti mesin yang baru diberi minyak. Lidahnya dan bibirnya memiliki artikulasi dengan suara sebuah terompet.  Ungkapan dan kata-katanya melejit seperti sebuah meteor. 

Kumpulan jemaat memiliki sebuah efek yang cukup untuk anda. Kata-kata yang telah anda gumulkan selama berjam-jam tiba-tiba mengkristal kedalam sebuah kalimat tunggal. Terima kasih Tuhan atas jemaaat! 

Lalu, apa yang ingin anda sampaikan? Apakan anda memiliki sebuah penilaian untuk dibuat atau suatu pertanyaan untuk ditanyakan?

Ya.  Semua yang harus anda lakukan adalah untuk memanggil sekertaris saya. Saya akan memberikan kepada anda namanya dan nomornya. Namanya adalah Elaine—E-L-A-I-N-E—dan nomornya adalah 969-2400.  Anda dapat menghubunginya dan saya akan mengirimkan kepada anda sebuah salinan dari pelajaran ini. Dan tentu saja, Dr Allah telah memvideokannya dari sana.

Baiklah, menjadi seorang pengkhotbah, saya pikir dia melewatkan sebuah kesempatan besar. Bernyanyi cukup baik. Pesan Allah adalah, seringkali, dengan tajam, bergerak membawa kita ke dalam sebuah jalan seperti itu. Dan seseorang yang bersaksi adalah baik. Tapi saya pikir tidak ada hal yang dapat mengambil tempat dari Firman Allah.

Saya sangat mengingat—anda berbicara tentang sebuah perkemaahan—saya sangat ingat, dalam sebuah perkemahan di negara bagian Oklahoma, disebut Fall’s Creek, tempat itu dihadiri oleh ribuan pengunjung yang berada di Fall’s Creek.  Dan di sana anda akan menemukan pemimpin eksekutif dari Konvensi, dan semua orang yang berada di sana dan semua orang yang menjadi pemimpin asosiasi itu—sebuah kelompok luar biasa dari orang-orang pilihan—sama baiknya dengan beberapa orang dewasa dan pemuda.

Saya telah berkhotbah di sana, di dalam tahun-tahun belakangan ini, beberapa kali. Dan saya ingat pada suatu kali, ketika saya berkhotbah di sana di Fall’s Creek—dan saya, selalu mengekspos Firman Allah—dan saya melakukannya pada pagi itu, pada pukul 11. Saya membuka Alkitab saya dan mengekspos Firman Tuhan.

Dan anda tidak akan percaya. Pada pukul 2:30, kami masih berada di sana, di dalam ibadah itu— pukul 2:30.  Roh Kudus turun. Dan di sana ada komitmen, pertobatan, kehadiran Yesus. Di sana ada air mata---oh saudara yang terkasih. Itu merupakan sebuah pengalaman yang tertinggi dalam hidup saya.

Saya memiliki sebuah perkataan singkat untuk disampaikan tentang kehadiran ibadah kita di dalam gereja. Di sana ada begitu banyak nyanyian, saya hampir kehilangan ibadah. Saya suka bernyanyi. Tetapi saya tidak menyukai ad infinitum.  Saya pikir kita pergi ke gereja untuk mendengar Firman Tuhan.

Bagaimana saya mempersiapkan sebuah khotbah?

Ketika saya berbicara tentang persiapan yang saya buat untuk pelayanan mimbar di sini—di dalam sesi terakhir di sini—saya katakan, inilah pikiran saya dan inilah keyakinan saya. Dan hal itu secara pribadi, tetapi saya sungguh percaya hal itu.

Ketika seorang pengkhotbah pergi ke sebuah gereja, hal pertama yang harus dia lakukan di dalam menyampaikan khotbahnya yang pertama, dia harus berkata, “Saya ingin ditinggalkan sendirian bersama dengan Allah setiap pagi.” Di sore hari, saya akan pergi ke sebuah jenis pertemuan. Di sore hari saya akan mengambil bagian di dalam sebuah program. Pada malam hari, saya akan memberikan kontribusi saya terhadap apa yang menjadi bagian dari gereja, dalam sebuah organisasi seperti ini.

Tetapi di pagi hari—setiap pagi—saya ingin sendirian. Saya tidak ingin siapa pun yang menelpon. Saya tidak ingin dihubungi oleh siapapun. Saya tidak ingin siapapun yang melihat saya atau ingin mengunjungi saya. Saya ingin sendirian. Saya ingin bersama dengan Allah.

Dan itulah saat ketika anda memohon dengan sungguh-sungguh, ketika anda berdoa untuk kuasa. Itulah saat bagi anda ketika membaca Kitab itu dan menjelaskan pesannya. Itulah saat ketika anda dan Allah berbicara bersama-sama. 

Baiklah, anda berkata, “Negeriku, lihatlah itu. Segala sesuatu yang dapat anda lakukan di luar sana sementara anda berada di dalam studi anda, pada pagi hari.” 

Tetapi saya dapat menyampaikan kepada anda hal ini. Jika anda akan melakukan hal itu, ketika anda berdiri untuk berkhotbah minnggu berikutnya, mereka akan tahu bahwa anda telah bersama dengan Allah. Itu merupakan sebuah jenis khotbah yang berbeda, Itu akan menjadi sebuah jenis pesan yang berbeda. Ia akan memiliki kuasa Allah di dalamnya.

Saya hidup, tentu saja dengan sebuah dunia yang berhubungan dengan banyak orang. Dan saya telah berada di dalam hal itu sangat lama: 71 tahun sebagai seorang pendeta dan pengkhotbah.

Inilah apa yang telah saya temukan. Rata-rata panjang dari sebuah tugas pengembalaan di selatan adalah sekitar dua tahun. Lalu inilah yang telah saya temukan: jika anda memberikan diri anda kepada pelayan seperti yang telah saya temukan—pada pagi hari, anda akan menghabiskan waktu anda bersama dengan Allah, di dalam Alkitab dan di atas lutut anda, Ya Allah, seandainya anda melakukan hal itu—melupakan tentang segala hal lainnya—jika anda melakukan hal itu—dan ini adalah pengalaman saya—mereka akn datang mengetuk pintu anda.

Saya tidak dapat memberitahukan kepada anda berapa banyak gereja yang telah mengundang saya datang dan menjadi gembal mereka. Institusi demi institusi telah mengundang saya untuk menjadi presiden mereka—dan saya tidak menginginkan hal lain di dunia ini.

Saya telah memberikan diri saya di pagi hari untuk Allah. Melupakan semua hal yang berada di luar sana. Ia akan menjaga dirinya sendiri. Jika anda berkobar-kobar untuk Allah, hal itu mengubah hidup anda, jika anda akan melakukan hal itu. Dan Allah memberkati anda. Selama anda menjaga pagi yang kudus itu di hadapan Tuhan.

Adakah orang lain yang ingin membuat sebuah penilaian atau bertanya?

 

Dr. Allen, apa yang akan anda sampaikan tentang hal itu?

 

Saya pikir anda benar di dalam hal itu. Saya akan mengambil ketegasan—dan saya minta Tuhan mengampuni saya, jika saya salah dalam hal ini—lihatlah ke dalam mimbar anda sendiri. Anda terlalu muda untuk mengingat Dr. George W. Truett.  Anda tidak pernah melihatnya.

Tetapi saya tumbuh secara praktis memuja Dr. Truett. Tidak ada seorang pun seperti dia di bumi ini. Dan dia adalah seorang pahlawan bagi setiap pengkhotbah dari generasi saya.

Saya seringkali mendengarnya berkhotbah. Truett sangat bersifat tetap. Dia berdiri di belakang mimbar itu dan tidak pernah bergerak. Dia tidak pernah menggerakkan tubuhnya. Dia memiliki sebuah suara yang luar biasa. Dan dia menggerakkan orang-orang dengan suaranya.

Saya mungkin membuat sebuah kebodohan dalam membuat sebuah penilaian seperti yang akan saya buat. Tetapi ketika saya datang kemari—hanya satu bulan setelah kematian Dr. Truett dan ketika mereka memanggil saya menjadi seorang gembala—ketika saya datang kemari, saya pikir salah satu alasan yang membuat saya sukses di dalam mengembalakan jemaat ini, dan sangat diberkati Allah di dalam mimbar itu, adalah karena, bahkan hingga hari ini, karena tidak seorang pun yang pernah membandingkan saya dengan Dr. Truett—tidak seorang pun.

Negeriku! Saya berteriak dan menghentak dan memukul mimbar. Dan saya bergerak berkeliling, tidak untuk memberi perhatian ketika jemaat tidak mendengarkan apa yang anda sampaikan—tetapi mereka sedang melihat anda dan apa yang sedang anda sampaikan. Tetapi menekankan apa yang telah saya tempatkan di atas Firman Allah.

Dan ketika saya berbicara tentang hal itu, saya harus menyebutkan sesuatu yang telah saya sampaikan di dalam pelajaran saya sebelumnya. Ketika saya menjadi gembala di Muskogee, tepat sebelum saya datang kemari, saya mulai mengkhotbahkan Alkitab. Di mana saya telah tinggalkan pada hari Minggu malam, saya memulainya lagi Minggu pagi berikutnya. Ketika saya meninggalkannya paada hari Minggu pagi, saya mulai lagi Minggu malam itu. Dan saya menjelaskan Firman Allah—dan saya mengkhotbahkan Firman Tuhan.

Ketika saya datang ke Dallas ini—setelah saya berada sekitar satu tahun di sini, saya mengumumkan bahwa saya akan berkhotbah melalui kitab per kitab dalam Alkitab. Saya mulai dengan Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu.

Jemaat tidak pernah mendengar sesuatu seperti itu. Truett adalah seorang pengkhotbah topikal. Dia tidak pernah mengkhotbahkan khotbah ekspositoris di dalam hidupnya. Setiap khotbah yang dia sampaikan selamanya adalah topikal.

Ketika saya membuat pengumuman bahwa saya akan berkhotbah melalui kitab per kitab dalam Alkitab, para diaken berkumpul di sekitar saya. Dan anda tidak pernah mendengar sebuah ramalan seperti itu di dalam hari kelahiran anda. Mereka berkata kepada saya, “Anda akan membunuh jemaaat ini. Tidak seorang pun yang akan datang untuk mendengarkan seseorang yang mengekspos kitab Zefanya atau Zakharia atau Hagai atau Nahum. Mereka bahkan tidak tahu di mana letak kitab itu di dalam Alkitab.”

Tetapi saya telah mengkomitmenkan diri saya ke dalam hal seperti itu di atas mimbar sana. Jadi saya mulai hal itu di dalam gereja, mengekspos Firman Allah. Dan kami memiliki sebuah masalah, saya mengakuinya. Tetapi masalahnya adalah anda tidak dapat masuk ke dalam ruangan gereja.

Orang-orang memenuhi tempat itu. Dan itulah sebabnya beberapa tahun yang lalu, kami memulai dua ibadah di pagi hari, karena begitu banyak orang yang datang ke gereja. Untuk melakukan apa: hanya untuk mendengar sebuah eksposisi dari Firman Allah?

Jadi untuk menjawab pertanyaan anda, anda harus menjadi diri anda sendiri. Tetapi jangan menjadi orang yang menggelikan. Jangan membuat perhatian pada diri anda sendiri. Hanya berdiri di sana di dalam kuasa Roh Kudus. Dan jika Roh Allah memberitahu anda untuk mremukul mimbar, lakukanlah. Jika berasal dari Tuhan, lakukanlah. Tetapi jangan menjadi orang yang menggelikan. Jangan menjadi ekstrim, di mana mereka tidak mendengar lagi apa yang anda sampaikan, tetapi amatilah apa yang sedang anda lakukan.

Apakan ada seseorang di sini yang memiliki sebuah perkataan untuk disampaikan—sebuah komentar—sebuah kesaksian? Di belakang sana? 

Ya. Ya. Saya merasakan dan saya selalu memiliki, orang yang berkhotbah, berkhotbah  untuk sebuah keputusan. Ketika anda mengekspos Firman Tuhan, di sana harus ada seruan di dalamnya. Dan saya pikir Allah akan memberikan seruan itu kepada anda.

Biarkan saya memberitahukan sesuatu kepada anda yang merupakan sebuah mujijat. Saya telah berkhotbah di sana, di Gereja First Baptist itu, selama 53 tahun—53 tahun. Dan dalam tahun-tahun selama saya menjadi gembala, saya telah berkhotbah tiga kali setiap hari Minggu; dua kali pada hari Minggu pagi dan satu kali pada Minggu malam.

Saya telah berkhotbah di sana selama 53 tahun. Dan dalam 53 tahun itu, Allah selalu memberikan saya sebuah tuaian, selalu dan tidak pernah gagal.

Ketika saya berkhotbah, saya menghadirkan seruan itu. Dan tidak pernah gagal. Selalu ada respon setiap kali saya berkhotbah di gereja itu selama 53 tahun.

Dan saya sangat percaya, ketika seorang pengkhotbah berkhotbah, dia akan mengambil khotbahnya dan membuatnya sebagai sebuah dasar untuk komitmen kepada Allah—kepada Kristus.

Tidak. Bukankah itu aneh: bahwa saya tidak dapat mengingat mengapa? Gloria, kembali ke masa lampau, ketika saya masih remaja—kembali ke masa lalu ketika saya amsih remaja, saya sangat ingat bahwa saya membenamkan wajah saya, dan berlutut serta berkata kepada Allah: “Ya Allah, saya akan berkhotbah tanpa catatan. Dan Tuhan tolong untuk memberkati pikiran saya. Berkatilah memori saya. Ya Allah, lakukanlah hal itu. Saya akan berkhotbah tanpa catatan.”

Jadi, ketika saya mulai pada usia 17 tahun, saya membuka Alkitab saya dan saya berkhotbah melalui Firman Allah. Saya tidak pernah menggunakan sebuah catatan. Dan selama 71 tahun, saya berkhotbah seperti itu, tidak pernah menggunakan catatan.

Dan sesekali—sekali dalam 20 tahun, pikiran saya mungkin tersandung dalam poin yang kedua. Tetapi saya tetap berkhotbah. Dan dalam sekejap akan kembali lagi kepada saya.

Saya akan memerintahkan hal itu kepada anda. Tetapi saya akan berhati-hati untuk berkata, “Anda tidak perlu berkhotbah seperti itu. Jika anda ingin mengambil sebuah catatan di atas sana, seperti O.S. Hawkins—setengah dari khotbah itu, dia letakkan di atas catatan itu—dan menyisakan setengah khotbah—jika anda ingin berkhotbah seperti itu, hal itu tetap baik. Allah memberkati anda.

Tetapi itu adalah sesuatu yang pasti bahwa saya secara pribadi telah memberikan hidup saya berkhotbah tanpa catatan. Dan itu adalah sebuah bagian—itu adalah sebuah bagian dari persiapan saya untuk khotbah. Saya menyampaikan hal itu di dalam pelajaran. Itu adalah sebuah bagian dari itu.

Sekitar setengah dari usaha—setengah waktu saya habiskan di dalam persiapan—membuat khotbah. Kemudian setengah lagi saya menghabiskannya untuk menanamkannya di dalam jiwa saya, di dalam hati saya—siap untuk berdiri di sana dan menyampaikan pesan Tuhan di dalam seluruh kuasa yang saya miliki.

Baiklah nak.

Saya telah melakukannya selama bertahun-tahun, hingga kami tiba di Kitab Wahyu. Dan ketika saya tiba di Kitab Wahyu—saya telah berkhotbah selama tiga tahun—hal itu setelah 16 tahun, di sana ada begitu banyak orang—di sana ada begitu banyak transfer—mereka akan datang dalam ibadah pukul 8:15 dan jika saya mengkhotbahkan khotbah yang lain dalam Kitab Wahyu, mereka juga datang dalam ibadah pukul 10:50. Jadi, ketika kami tiba di akhir Alkitab, saya telah mengkhotbahkan khotbah yang sama pada pukul  8:15 dan juga pada pukul  10:50.

Dan kemudian, saya telah belajar sesuatu. Cukup gila bagi saya, saya membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk mempelajarinya! Saya belajar: saya tidak butuh untuk mempersiapkan tiga khotbah. Saya hanya akan mempersiapkan satu khotbah dan mengkhotbahkan khotbah yang sama pada pukul 8:15 dan 10:50.

 

Hanya di dalam perasaan bahwa saya berkhotbah tanpa catatan.

 

Hal itu benar. Hal itu benar. Ketika saya berdiri di atas sana dan berkhotbah tanpa catatan, saya memiliki sebuah pesan yang saya sampaikan pada pukul 8:15 untuk orang banyak itu—bagaimana hal itu ada di dalam hati saya. Kemudian, ketika saya berkhotbah pada pukul 10:50—pukul11:00—entah mengapa, substansi yang besar, garis dari khotbah akan sama. Tetapi, saya yakin Gloria akan berada di sana dalam ibadah itu dan melihat perbedaan dalam penyampaiannya.

Gloria akan memberitahukan kepada anda bahwa seringkali, apa yang sangat mengganggu saya di dalam gereja adalah jam yang berada di sana. Saat saya berkhotbah, saya merasa waktu berlalu sangat cepat dan waktu saya untuk berkhotbah telah habis.

Jadi, saya berkata, di dalam millennium—dunia kemuliaan yang akan datang—Allah akan menciptakan kembali dunia ini. Dia berkata demikian. Dan ketika Dia melakukannya, saya ingin Allah memberikan saya sebuah planet yang menjadi milik saya sendiri. Milyaran planet yang berada di sana. Saya ingin Tuhan memberikan sebuah planet yang menjadi milik saya sendiri.

Dan saya akan mengambil sebuah kotak sabun. Dan saya akan berdiri di dalamnya. Dan saya akan berkhotbah. Dan di sana tidak akan ada sebuah jam. Bahkan tidak akan ada sebuah kalendar. Saya hanya akan berkhotbah selamanya tentang kabar baik yang mulia dari Tuhan Yesus.

Oh, anda semua, anak-anak yang manis! Baiklah Dr. Allen, saya akan mengembalikannya ke dalam tangan anda yang memiliki kemampuan dan karunia serta tangan yang berdedikasi. Dan saya akan bertemu dengan anda hari Senin berikutnya.

Amin.  Amin.  Anda adalah sahabat yang manis.

 

Alih Bahasa: Wisma Pandia, Th.M.