KERAJAAN DALAM KUASA

(THE KINGDOM IN POWER)

 

Dr. W. A. Criswell

 

06-26-55

 

1 Korintus 4:20

 

Sekarang, pasal yang mulia ini: Yang akan menjadi teks kita, anda bisa melihatnya dalam Alkitab anda, di dalam surat 1 Korintus pasal empat ayat dua puluh. Kita akan mulai membacanya dari ayat empat belas hingga ayat dua puluh: 

 

Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.

Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.  Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!

 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.

Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu.

Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka.

Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.

 

Dan teks yang mulia itu: “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.” 

Di dalam ayat enam belas, Rasul berkata: “Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!”  Kemudian di dalam ayat sebelumnya, dia membuat seruan agar mereka mendengarkan dia sebab dia adalah bapa mereka di dalam Injil. Dia telah mendahului mereka di dalam Tuhan Yesus. 

Kemudian di dalam ayat tujuh belas, dia berkata: “Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.” Kemudian di dalam ayat delapan belas dan sembilan belas, dia berkata: “Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu, sebagaimana beberapa orang pengajar yang menyindir bahwa saya tidak akan berani datang—aku tidak akan menunjukkan kehadiranku.” Maka, katanya, “Aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka.”  Di dalam perkataan, pidato, retorika, mereka memiliki format yang hebat dan terlihat hebat. 

Sebab Kerajaan Allah bukanlah dalam format dan penampilan. Bukan dalam perkataan atau dalam bahasa. Bukan di dalam kefasihan atau pidato. Tetapi Kerajaan Allah di dalam kuasa Roh Kudus. 

Lalu, anda akan menemukan di dalam Paulus kontras yang konstan antara agama yang memiliki suara dan format yang kosong dengan kerajaan yang diregenerasikan oleh kuasa Allah. Sebagai contoh, di dalam surat 1 Tesalonika, pasal pertama ayat yang pertama, Paulus berkata: “Sebab injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus.” Dan sekali lagi dalam surat 2 Timotius pasal 3, rasul yang sama menulis tentang orang yang “menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mengingkari kekuatannya”—itu adalah kontras yang sama. Dan di dalam surat Roma, dia akan berkata lagi di dalam ayat tujuh belas: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”

Hal itu sangat menakjubkan, ketika anda mengambil sebuah konkordansi, dari kata Yunani, yaitu kata dunamis, yang merupakan asal kata bagi kita memperoleh kata  dinamit, dinamis, dynamo, yang diterjemahkan dengan “kuasa.” Sangat luar biasa bagaimana Paulus menggunakan kata itu di banyak tempat dalam merujuk kepada Kerajaan Allah. Sebagai contoh, di dalam Kitab Roma pasal pertama ayat enam belas, dia berkata: “Sebab aku tidak malu akan injil Kristus; karena injil adalah kekuatan Allah bagi keselamatan.”

Dan di dalam surat yang sedang saya khotbahkan, di dalam dua bagian yang akan saya lihat, dengarkanlah kepada Rasul ketika dia menulis dalam 1 Korintus 1:18: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”  Sekarang, lihat lagi dalam pasal yang sama, di dalam ayat dua pulum empat, ayat sesudahnya: “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.”  Lalu di dalam ayat dua puluh empat: “Tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” 

Lalu di dalam cara yang sama, di dalam pasal berikutnya. Di dalam surat 1 Korintus pasal dua ayat empat dan ayat lima: Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu memberitakan injil,

Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh. 

Dan kemudian, ayat selanjutnya: “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” 

Dan kita lihat di dalam pasal ini, dan di sana ada teks kita pagi ini: “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.” 

Saya katakan, anda menemukan hal itu secara konstan dikontraskan di dalam Firman, dan di dalam surat-surat Rasul Paulus. Mereka dikontraskan antara sebuah agama yang bersuara kosong dari format, dari penampilan, dari rhetorika, dari hikmat, dari filsafat, dari luar, dari intelektualisme, dan agama yang sejati, yang berasal dari Allah, yang dimanifestasikan di dalam kuasa Tuhan: Sebuah agama dari substansi, sebuah agama dari realitas, sebuah agama dari anugerah yang mengubahkan, sebuah agama dari kuasa yang melahir barukan. 

Lalu, itu adalah sebuah kontras yang lama. Hal itu sudah ada sejak permulaan umat manusia. Perbedaan antara sebuah agama dari perkataan, dari format, dari gerak tubuh, dari menekuk lutut, dari ritual, dari mantera, dari symbol, dari pekerjaaan voodoo, dari perayaan yang semarak, dari bisilika, dari kuil, dari pengorbanan—sebuah agama dari kondisi—sebuah agama dari kondisi dan perkataan dalam kontras terhadap sebuah agama yang disingkapkan, kuasa Allah yang dinamis.

Itu merupakan hal yang dikecam secara habis-habisan di dalam agama Yahudi kuno oleh nabi-nabi lama. Orang Yahudi memiliki kesaksian yang tidak dapat dielakkan dari kesalahan semua umat manusia tentang bayangan kepada substansi, tentang bentuk format kepada hal yang nyata.

Mikha, sebagai contoh—Dengarlah apa yang disampaikan Mikha ketika dia berkhotbah:

"Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?

Berkenankah Tuhan kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?"

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Agama yang sejati tidak penah merupakan sebuah materi dari sebuah korban bakaran atau sebuah persembahan atau sebuah jenis perayaan untuk menenangkan murka Allah. Tetapi agama yang sejati selalu berhubungan dengan jiwa dan hati:  “Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” 

Lalu, ketika anda berpaling ke dalam Kitab Yeremia, khotbah yang disampaikan oleh nabi adalah hal yang sama. Di dalam pesannya dalam pasal tujuh belas, dia mengutip firman Tuhan:

Beginilah firman Tuhan semesta alam, Allah Israel: "Tambah sajalah korban bakaranmu kepada korban sembelihanmu dan nikmatilah dagingnya!

Sungguh, pada waktu Aku membawa nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir Aku tidak mengatakan atau memerintahkan kepada mereka sesuatu tentang korban bakaran dan korban sembelihan;

Hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia! 

Dan salah satu contoh lainnya: hal yang sama di dalam pembukaan khotbah dari nabi Yesaya:

Dengarlah firman Tuhan… . 

Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman Tuhan; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

Basuhlah, bersihkanlah dirimu…; Berhentilah berbuat jahat  belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! Marilah, baiklah kita berperkara! --firman Tuhan--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. 

Agama yang sejati adalah sebuah pendekatan langsung kepada Allah dimana Tuhan Allah berbicara kepada jiwa, dan di mana pemohon berbicara langsung kepada Allah. Dan itulah hal yang dimaksudkan Paulus di dalam Kitab Roma pasal dua, ketika dia berkata:

Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah.

Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Dan pemisahan abadi antara agama dari bentuk dan ritual dan perayaan dan suaradan dari doa-doa dan melalui mantera-mantera—bahwa kontras antara agama dari suatra dan dari perkataan dan sebuah agama dari kuasa Allah, saya katakan merupakan kontras universal di dalam seluruh sejarah umat manusia. Ketika Paulus berjalan melalui jalanan Atena, ketika Paulus berjalan melalui jalan Korintus, ketika Paulus berjalan melalui jalanan ibukota Asia yaitu Efesus, dia melihat,  di mana-mana, gambaran yang semarak dari agama dunia jelas terlihat. Tidak ada pernah ada kuil yang dibangun kepada suatu Allah seperti tujuh keajaiban dunia, Kuil Artemis, Diana dari Efesus. Tidak ada kuil di dunia yang pernah dilihat di dunia yang tetap bertahan bahkan di reruntuhan, seperti Parthenon atau Akropolis di Atena. Dan seluruh semarak dan kemuliaan kota Korintus dipenuhi dengan kuil-kuil dari marmer. 

Jenis penyembahan seperti apakah yang berada di dalam kuil-kuil itu: Arak-arakan kebesaran, upacara agama yang paling mengesankan dari pemikiran Yunani—dan itu adalah pemikiran terbesar yang pernah dikarakteristik oleh sebuah ras—ritual yang paling megah yang pernah dikandung oleh pikiran. Dan orang Yunani tahu, bagaimana membangun sebuah bangunan untuk Allah. Dia melakukannya jauh lebih baik dari siapa pun juga di dunia ini. Dan orang Yunani tahu bagaimana menulis himne yang hebat. Dan dia melakukannya jauh lebih baik dari setiap orang di dunia. Dan orang Yunani tahu bagaimana membuat rhetorika yang megah yang ditujukan kepada dewa-dewa. Dan orang Yunani tahu bagaimana untuk membuat format yang indah dan arak-arakan kebesaran dengan seni dan semua budaya yang masuk ke dalam penyembahan. Mereka memiliki semuanya.

Dan ketika Paulus berjalan di antara hal itu, dia melihat kuil-kuil yang megah itu dan ritual yang luar biasa dan penyembahan yang indah itu. Semuanya itu ada pada masa Paulus.       

Dan itu telah menjadi kutukan dari perkembangan sejarah kekristenan di dalam seluruh generasi sejak saat itu. Beberapa dari mereka mengambil bentuk  dari keberadaan yang intelektual—sebuah agama dunia. Kadang-kadang mengambil bentuk ini—persetujuan intelektual: “Percaya kepada Tuhan Yesus dan dibaptiskan dan anda akan selamat.”

Kadang-kadang hal itu berpaling ke dalam bentuk pola pikir yang menyesatkan dan bentuk filsafat: “Anda pergi ke jemaat dan anda mendengarkan seorang pelayan yang terpelajar yang mendiskusikan banyak masalah-masalah intelektual pada masa ini. Dia sangat pintar. Dia telah membaca banyak buku dan dia berbicara sebagai seorang yang terpelajar dan terdidik. Dan dia dipenuhi dengan segala macam pemikiran dan intelektual dan intuisi metafisik dan pengertian filsafat.”  

Dan kemudian, kadang-kadang, agama ini mengambil bentuk kebesaran yang telah dilihat dunia. Dalam masa modern, gereja-gereja dibangun dengan sangat indah dan luas dan megah dan bentuk yang luar biasa dari gereja-gereja di dunia. Setiap kali mereka membangun gereja, ada sebuah kecenderungan untk membangun seperti itu. Setiap kali sebuah denominasi bertumbuh dan bergerak di dekat sisi jalur kereta api, ia memiliki sebuah kecenderungan untuk memiliki ibadah seperti itu. Dan kapan saja kita memberi diri kita kedewasaan dan kita bertumbuh dan kita menjadi makmur, kita menyukai ritual-ritual yang indah itu dan pelayanan yang seperti itu dan ibadah yang seperti itu serta musik yang seperti itu. 

Seluruh agama memiliki sebuah kecenderungan untuk berkembang di dalam pengaturan seperti itu. Tetapi saya beritahukan anda kembali, seperti teriakan Yesaya, seperti teriakan Mikha, seperti teriakan Yeremia, seperti teriakan Paulus—agama tidak pernah ditemukan dalam basilica atau di dalam kuil atau di dalam format atau di dalam kebesaran atau di dalam mantera-mantera atau di dalam perayaan-perayaan. Tetapi, agama dari Allah Yang Mahatinggi ditemukan di dalam kuasa perubahan yang dinamis.

Dan jika hal itu tidak ditemukan dalam  hal itu, maka tempat bukanlah masalah. Elia berlutut pada saat pengorbanan di puncak Gunung Karmel. Dan di sisi yang lain terdapat nabi-nabi Baal, yang menjalankan mantera-mantera mereka dalam ritual persembahan mereka terhadap dewa matahari. 

Elia, sendirian, berlutut di atas tanah, di samping mezbah dan berdoa serta berkata: “Ya, Allah, untuk satu kali ini saja, dengarlah hambaMu dan kirimkanlah api.” Dan Tuhan mendengar. Dan Tuhan menjawab dengan mengirimkan api di ke atas puncak Gunung Karmel.

Saya tidak tahu di manakah itu, tetapi di suatu tempat di Yerusalem, murid-murid yang telah diburu atas hidup mereka, berkumpul bersama-sama dan berlutut serta berdoa akan Allah memberikan mereka kuasa dan urapan untuk bersaksi tentang kebesaran Anak Allah. Dan ketika mereka berdoa, tempat itu bergoyang, di mana mereka sedang berkumpul bersama-sama. Dan mereka dipenuhi oleh Roh Kudus. Tidak masalah di mana saja.  Sebuah dapur sama baiknya dengan katedral. Gereja ini sama baiknya dengan sebuah gudang. Atau sebuah gudang, sama baiknya dengan gereja ini. Setiap tempat adalah tempat yang baik. Perbedaannya terletak di dalam kuasa Allah. Setiap bentuk baik. Bentuk tidaklah membuat perbedaan. Setiap bentuk tidaklah menjadi masalah.

Kembali ke masa yang lampau, mereka berbaris di sekitar Yerikho. Betapa merupakan sebuah cara yang gila untuk mematuhi perintah Allah. Mereka berbaris mengelilingi kota itu. Tetapi Tuhan berada di barisan itu dan tembok itu runtuh. Setiap bentuk tidaklah menjadi masalah. 

Paulus dan Silas berada di dalam penjara. Kaki mereka dibelenggu. Tangan mereka dibelenggu. Dan mereka berada di dalam penjara bagian tengah. Tetapi mereka berdoa dan menaikkan puji-pujian kepada Allah dan Tuhan menggoncang penjara itu dan terjadi gempa bumi. Setiap bentuk tidaklah menjadi masalah. Perbedaannya terletak di dalam kehadiran Allah.  

Yakub oleh dirinya sendiri, dengan sebuah batu sebagai bantal pada tengah malam, melihat sorga terbuka dan malaikat Allah turun naik melalui sebuah tangga. Dan ketika dia bangun, dia berkata: “Sesungguhnya ini adalah Betel—rumah Allah.” Setiap tempat adalah tempat yang baik, jika Allah ada di sana. Setiap bentuk adalah bentuk yang baik, jika kehadiran Allah berada di dalamnya. Kuasa Allah lah yang membuat perbedaan.

Dan di dalam Perjanjian Baru, mereka memandang ke sorga dan berdoa. Dan Roh Tuhan turun. Di rumah Kornelius, ketika mereka mendengarkan khotbah Simon Petrus, Roh Kudus turun atas mereka dan mereka menjadi percaya. Ketika dua orang murid berjalan ke Emaus, yang satu berkata kepada yang lain: “Bukanlah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Setiap tempat adalah tempat yang baik: Di atas sana, ruang kelas yang berada di lantai tujuh, di sebelah sana, di lantai bawah, tempat aktivitas, di gelanggang seluncur, di Coleman Hall, di auditorium ini, di salah satu rumah anda semua. Di mana saja adalah tempat yang baik. Itu adalah takhta Allah. Itu adalah gerbang kemuliaan. Itu adalah tangga Yakub. Itu adalah kehadiran bersama dengan Roh Kudus—Allahlah yang membuat perbedaan.

Dan agama yang sejati tidak pernah di dalam dunia. Tidak pernah di dalam perayaan. Tidak pernah di dalam frasa. Tidak pernah di dalam pidato. Tidak pernah di dalam bahasa. Hal itu ada di dalam demonstrasi dari Roh dan kuasa Allah.

Dan itulah yang kita serukan. Ya, Tuhan, bukan dari agama, bukan kami. Yang lain mungkin hanya berisi bentuk-bentuk. Yang lain mungkin berbahagia hanya dengan perayaan. Yang lain mungkin berbahagia di dalam kehormatan di dalam agama itu, tetapi bukan kami. Kami mencari gerakan Roh Allah. Kami mencari kuasa Roh Kudus. Kami mencari kehadiran yang meregenerasikan dari Tuhan Allah. 

Dimanakah Tuhan Allah Elia? Di manakah Tuhan Allah para nabi? Di manakah Tuhan Allah rasul-rasul? Di manakah hari pencurahan Pentakosta? Di manakah kemuliaan yang memenuhi kursi anugerah? Di manakah Shekinah kehadiran Yehova  Allah? Dimanakah itu: jiwa yang berkobar-kobar ketika Yesus berjalan bersama dengan mereka di tengah jalan? 

Itulah yang kami cari Tuhan, di dalam kelas ini—di dalam ibadah ini, di dalam auditorium ini, di dalam jam ini. Semoga Roh Allah memenuhi ruangan ini, bahwa sukar untuk dipercayai bahwa ada ruangan untuk kami—Allah telah lebih dahulu menduduki kursi-kursi dan setiap loorong bangku dan setiap tempat. 

Sekarang, Mr. Souther, mari kita menyanyikan lagu kita. Dan ketika kita menyanyikannya, seseorang dari anda, serahkanlah hati anda kepada Tuhan. Seseorang dari anda, letakkanlah hidup anda di dalam jemaat ini. Seseorang dari anda, jawablah panggilan Allah: “Pendeta, inilah saya, dan di sini saya datang. Hari ini, kami menerima Tuhan sebagai Juruselamat kami. Dan hari ini, kami meletakkan hidup kami di dalam persekutuan jemaat ini.”

Ketika kita menyanyikan lagu permohonan ini, yang kita nyanyikan dengan sungguh-sungguh, ketika kita menyanyikan seruan ini, berjalanlah melaui salah satu lorong bangku itu dan majulah ke depan dan berdiri di samping pendeta: “Pendeta, saya datang dan inilah saya. Ini seluruh keluarga saya. Kami semua datang. Seluruh keluarga—kami semua datang.”

Atau, seseorang dari anda. Ketika kita membuat permohonan ini, buatlah keputusan itu sekarang. Lakukanlah sekarang, saat kita berdiri dan saat kita bernyanyi.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.