ROH YANG MEMBUKA HARTA ALLAH

(THE SPIRIT OPENS THE TREASURES OF GOD)

 

Dr. W. A. Criswell

 

11-08-81

 

1 Korintus 2:9-10

 

Ini adalah adalah salah satu khotbah dalam sebuah seri khotbah doktrinal tentang Peneumatologi, tentang doktrin Roh Kudus. Dan khotbah hari ini adalah sebuah eksposisi dari 1 Korintus pasal dua. Jika anda membuka Alkitab anda di dalam bagian ini, maka anda dapat mengikuti khotbah ini dengan mudah—1 Korintus, pasal dua, dimulai dari ayat 5:

Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, teleiois.

--Bukan bayi yang tidak dapat berbicara, kepada orang yang pesan dan wahyu ini tidak bermakna apa-apa, tetapi bagi kamu, kamu yang teleiois, diterjemahkan di sini dengan “matang,” kamu yang telah dewasa.

… Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang mustērion,

—sebuah rahasia hikmat yang diberitahukan kepada kita hanya oleh wahyu Allah. 

… yang tersembunyi, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan … .

Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah … . 

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. 

Dan karena kami menafsirkan

—Kita mengkhotbahkannya pada pagi hari ini-- 

yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh… .

Tetapi manusia psuchikos –diterjemahkan di sini “manusia duniawi”

psuchikos manusia.  Kata Yunani untuk keberadaan rasa manusia adalah jiwa, di dalam bahasa Yunani psuchē.  Bentuk kata sifat dari kata itu adalah psuchikos.  Untuk keberadaan manusia, sifat manusia, unsur manusia, lima indera perasa manusia,

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Tetapi manusia pneumatikos, diterjemahkan di sini dengan “manusia rohani”

pneuma, kata untuk roh, di dalam bentuk kata sifat pneumatikos.  Manusia rohani anakrinō, menilai segala sesuatu. Bagi dia, disingkapkan mustērion Allah.

Sekarang dasar dari teks kita:

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

Lalu, saya telah seringkali mengutip ayat itu, sama seperti orang lain juga melakukannyam tetapi saya selalu salah mengutipnya. Saya selalu mengutip ayat itu dengan pikiran bahwa ayat itu merujuk kepada dunia yang akan datang, Saya sering mengutipnya terutama dalam ibadah pemakaman: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Tuhan.”  

Lalu, tidak ada yang salah dengan hal itu. Hal itu benar secara rohani. Tetapi sekali-kali kita perlu melihatnya dari pendekatan sang Rasul. Dia tidak sedang berbicara tentang sebuah dunia yang akan datang, warisan yang lain. Dia sedang berbicara tentang dunia ini, di sini dan sekarang: “Apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak peranh di dengar telinga, yang tidak pernah timbul di dalam hati, tetapi Allah telah menyingkapkannya kepada kita oleh RohNya.”—di sini dan sekarang, di dunia yang sekarang ini, pada saat ini.

Pemisahan yang sedang dilukiskan oleh sang Rasul di dalam bagian ini adalah pemisahan antara hikmat manusia, hikmat dunia dan hikmat Allah, perbedaan antara kebenaran yang dapat dirasakan oleh kelima indera dari alat perasa manusia dan kebenaran yang diwahyukan,  mustērion yang dikenalkan kepada kita oleh Roh Allah. Pemisahan yang dia gambarkan di sini adalah antara sebuah dunia yang dapat kita lihat dan rasakan dan sentuh dan kecap serta yang dapat kita cium, antara dunia itu dan sebuah dunia yang disingkapkan bagi kita hanya oleh Roh Allah.  

Pemisahan yang dilukiskan di sini adalah perbedaan antara manusia psuchikos dan manusia  pneumatikos. Manusia psuchikos manusia materialis, manusia fisik, manusia dengan lima indera, dan dia mengakui bahwa manusia psuchikos manusia yang yang memiliki lima indera, yang tidak mengetahui wahyu. Dia oleh dirinya sendiri tidak dapat menemukan Allah. Telinga tidak dapat mendengarNya, mata tidak dapat melihatNya, hati tidak dapat membayangkanNya. Penglihatan, pendengaran dan bayangan kebenaran Allah hanya berada di dalam wahyu dalam Roh Kudus.

Tetapi dia berkata, manusia pneumatikos, manusia Roh, manusia yang memikirkan Allah, mampu untuk menerima mustērion, rahasia yang dalam, rahasia kebenaran dari wahyu Allah.

Jadi, itu adalah makna yang dimaksudkan oleh Rasul di bagian ini. Jadi mari kita melihatnya. Dia berkata di sini: “Mata tidak dapat melihatnya.” Tepat seperti itu, hal-hal rohani, kebenaran kekal tidak dapat ditemukan, dibedakan oleh pengamatan mata manusia. Hal itu tidak dapat dilihat. Apa yang dapat dilihat oleh mata bersifat temporal dan pasif serta sementara, bahkan simetrisnya dan keindahannya membawa sebuah kesedihan tertentu bagi hati kita. Sebab itu berlangsung sebentar, hanya bersifat sementara. Ia tidak bersifat kekal. 

Orang-orang yang menjadi tujuan surat ini tinggal di Korintus, salah satu kota besar yang hebat dari dunia kuno. Itu adalah sebuah kota dari seni, keindahan dan budaya. Tiang orang-orang Korintus, adalah salah satu tiang dengan hiasan yang paling indah dari seluruh tiang arsitektur yang pernah dibayangkan. 

Ketika Mummius, jenderal Roma, menghancurkan, dan meratakan Korintus pada tahun 146 B.C., dan sesudahnya Julius Kaisar membangunnya kembali—setelah Mummius meratakannya, ketika dia memberikan kemenangan bagi Roma, ada gerbong-gerbong kereta yang berisi seni dan patung-patung yang indah yang diciptakan oleh orang-orang Yunani penyembah berhala itu. Tetapi apa yang dilihat mata adalah terbatas. Hal itu dapat diukur oleh inci atau kaki atau yard. Dan sekalipun ia terbuat dari marmer, ia sedang binasa.

Dan seperti yang saya sampaikan, ada sebuah kesedihan dalam melihatnya. Ada sebuah melankolis yang menemaninya. Sunset atau pelangi atau bintang-bintang itu sendiri lenyap dan tentu saja manusia dan keindahan alam. Itulah sebabnya, sekali-sekali kita membaca tentang bintang Hollywood yang memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Dia tidak dapat menanggung rasa sakit dalam melihat bentuk yang dia sukai memudar melalui tahun-tahun yang datang.

Hanya kesukaan kekal yang tetap abadi: Hanya Raja, di dalam KeindahanNya. Itu adalah negeri yang dapat kita teliti dari jauh. Hanya keindahan dari kota Allah yang abdi. Apa yang dilihat mata, apa yang manusia psuchikos dapat amati, hanya bersifat luar. Tidak pernah bersifat batiniah. Hanya dapat dilihat disekeliling. Hal itu tidak pernah bersifat sentral atau dinamis. Lima indera, mata, tidak pernah membawa sebuah wahyu. Dengan pencarian, seseoarang tidak pernah dapat menemukan Allah. Apa yang dapat dilihat oleh mata dan apa yang mampu diamati manusia hanya bersifar luar, keadaan di sekelilingnya, yang mengarah kepada hal-hal yang fana, kepaha hal-hal keberadaan.

Kemudian sang Rasul memberikan sebuah pengakuan yang luar biasa: Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan apa yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia…Allah telah menyingkapkannya bagi kita oleh RohNya. Dan kita telah dibuatnya mengetahui hal-hal yang telah diberikan Allah secara cuma-cuma kepada Allah: mustērion, yang besar, dari hikmat Allah yang tersembuny, yang telah ditetapkan sebelum dunia, untuk kemuliaan kita, keselamatan kita, peninggian kita.

Lalu, sebuah adalah sebuah pengakuan yang luar biasa dari sang rasul. Dia berkata bahwa kita memiliki indera yang lain disamping lima indera ini. Kita memiliki indera yang lain. Kita memiliki alat perasa yang lain. Sang Rasul akan mengakui bahwa binatang-binatang,  anthropoid, memiliki lima indera seperti yang kita miliki, kita memiliki salah satu indera lain yang tidak dimiliki oleh binatang, yang tidak dimiliki anthropoid, kera besar, dan yang tidak dimiliki oleh ciptaan lain. Kita memiliki pemberian dari Allah  yaitu kita memiliki perasaan dari kehadiran Allah. Dan kita memiliki kemampuan untuk menerima mustērion, hikmat Allah—bukan hikmat dunia, hikmat yang dapat dirasakan yang dapat kita pelajari sendiri, tetapi sebuah hikmat yang disingkapkan bagi kita oleh Roh Kudus dari Allah. 

Dan Paulus menjelaskan dalam 1 Timotius 3:15 dan 16, tentang mustērion itu, hikmat yang tersembunyi itu. Dan hal itu adalah seperti ini: “Dan sesungguhnya agunglah mustērion ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia.” Tidak ada filsafat manusia atau deduksi manusia atau spekulasi dunia yang yang dapat menjangkau sebuah wahyu seperti itu.  Bayi ini, lahir dari seorang perawan, gadis Yahudi, yang terbaring di dalam sebuah palungan. Bayi ini adalah inkarnasi Allah yang Mahatinggi. Roh Allah harus menyingkapkan kebenaran kepada seseorang, jika tidak itu adalah sebuah kebodohan bagi dia. Di dalam Kristus kita memiliki seluruh kepenuhan Allah. Untuk mengasihi Yesus adalah untuk mengasihi Allah. Untuk bersujud di hadapan Tuhan Yesus adalah untuk bersujud di hadapan Allah. Dan untuk duduk di bawah kaki Yesus adalah untuk duduk di kaki Allah. Untuk menerima Tuhan Yesus adalah untuk menerima Allah. Untuk melayani Tuhan Yesus adalah untuk melayani Allah.

Musterion agung yang telah disingkapkan kepada kita oleh Roh Allah: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia… . diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.”  Itu adalah sebuah mustērion.  Paulus menulis di dalam 1 Korintus: “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.”  Ini adalah sebuah mujijat dari Allah, sebuah mustērion dari Tuhan, di dalam khotbah, di dalam penyajian, yang terbaik dari yang diketahui pendeta, tentang kebenaran yang luar biasa tentang Tuhan kita, Roh Allah mengambil pesan dan Dia membawanya ke dalam hati seseorang yang percaya. Allah telah melakukan sesuatu ke dalam hatinya sebelum wahyu Allah diterima, sebelum percaya, sebelum ia memiliki makna yang dalam. Kalau tidak, itu adalah kebodohan, ia tidak memiliki makna.

Saya harus menutup. Waktu kita telah habis. Agunglah mustērion dari Allah. Dia tidak hanya bermanifestasi dalam daging dan Dia tidak hanya berkhotbah dan beberapa percaya kepada pekerjaan Roh Kudus. Tetapi di sini disebutkan analambanō—“diterima naik,” yang diterjemahkan—ditangkap ke atas, diambil, diangkat ke dalam kemuliaan. Dan, Alkitab dengan teguh menyampaikan hal itu, jika kita bersama dengan Dia, kita akan diangkat bersama dengan Dia. Alkitab menggunakan kata “Diangkat bersama dengan Dia.”

Kita diangkat bersama dengan Dia. Kita dibangkitkan bersama dengan Dia. Kita diterima bersama dengan Dia. Dia adalah Tuhan atas seluruh ciptaan dan kita adalah saudara dan saudarinya, untuk memerintah bersama dengan Dia sampai selama-lamanya. Dan itu adalah anugerah penebusan Allah yang sangat luar biasa yang dapat dibayangkan oleh pikiran: bahwa Allah menerima kita dan mengambil kita dan mengangkat kita serta mengambil kita bersama dengan Dia di dalam kemuliaan.

Hal itu seperti ini. Seorang pemburu sedang berdiri antara hutan dan ladang. Dan dia melihat, di dalam kejauhan, sesekor anak rusa, seekor kijang kecil, dikejar oleh anjing-anjing pemburu, Hewan kecil itu gemetaran, dan berpaling di dalam terror ke wajah anjing-anjing itu.

Tetapi saat binatang kecil itu berpaling, dia melihat pemburu berdiri di sana. Dan dengan sisa tenaga yang terakhir, rusa kecil itu lari kea rah pemburu itu dan tersungkur di kakinya. Pria itu sangat takjub. Dia mengambil hewan kecil itu ke dalam pangkuannya, mengusir anjing-anjing itu, membawanya ke rumah, mengasihinya, membuatnya menjadi binatang peliharaan dan memeliharanya sebagai sebuah peringatan tentang iman yang agung dan tanpa batas. 

Pemburu dari neraka. Melihat bahu anda. Lihat di belakang anda: Dosa dan kematian dan maut dan kehancuran dan penghakiman. Dan di dalam terror kita, ketika kita menghadapi musuh kita yang tidak dapat terhindarkan dan yang tidak dapat diacuhkan, kita melihat Yesus. Dan kita jatuh dibawah kakiNya: Tuhan, Tuhan, menghadapi musuh seperti itu, aku ridak memiliki kemampuan atau kuasa untuk melakukannya. Seorang pendosa, orang yang sekarat, menghadapi maut dan kekekalam untuk apa Tuhan—Tuhan, bermurah hatilah untukku, seorang yang pendosa. Allah berbelas-kasihanlah untukku ketika aku tersungkur di kakiMu.”

Dan jika saya dapat mempercayai janji Alkitab, dan jika saya mempercayai pengalaman yang manis dari ibu dan ayah dan 10,000 kali 10,000 dosa, Yesus akan mengambil saya dan memelihara saya dan menyelamatkan saya dan menghandirkan saya pada suatu hari di dalam kemuliaan—menerima kita ke dalam kemuliaan. Ini adalah wahyu Allah. Mata tidak dapat menemukannya. Telinga tidak dapat memahaminya. Panca indera manusia tidak dapat menjangkaunya. Itu adalah sesuatu yang dilakukan Allah bagi kita.

Oh, terberkatilah dan terpujilah namaNya yang mulia. Sekarang, bolehkah kita berdiri bersama-sama?

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.